TROUBLE BOY vs TAEKWONDO GIRL : love is the hardest fight
Sinopsis
Di sekolah elit paling berkuasa di kota Garuda High School, nama Petra sudah seperti hukum yang tak tertulis. Anak pemilik yayasan sekolah itu terkenal sebagai biang onar, hobi balapan liar, tawuran, merokok di kantin, dan membuat masalah di mana pun dia berada. Bersama gengnya, Trouble Boy, Petra menjadi sosok yang ditakuti murid bahkan guru sekalipun. Tidak ada yang berani melawannya, karena semua tahu satu hal: Petra kebal hukum.
Keluarganya sendiri sudah angkat tangan menghadapi sifat brutalnya. Namun semua berubah saat seorang siswi pindahan bernama Hanin datang.
Cantik, dingin, dan sulit ditebak. Hanin bukan gadis biasa. Ia adalah atlet taekwondo Sabuk Hitam Dan 3 dengan kemampuan bela diri yang membuat siapa pun segan. Di balik wajah tenangnya, Hanin menyimpan rahasia besar, ia berasal dari keluarga konglomerat yang ternyata merupakan keluarga mafia paling berpengaruh di negeri ini.
Hanin datang bersama kakak keempatnya, Damian, siswa pindahan kelas 3 SMA. Sementara Hanin masuk kelas 2 SMA, tepat di sekolah yang selama ini dikuasai Petra.
Pertemuan pertama mereka di kantin menjadi awal kekacauan baru.
Saat Petra mencoba menggoda dan merangkul Hanin seenaknya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ada seseorang yang berani melawannya.
Dan dalam hitungan detik, Hanin melintir tangan Petra di depan seluruh anggota Trouble Boy.
Sejak saat itu, Petra sadar satu hal :
semua orang mungkin takut padanya… tapi dirinya mulai takut kehilangan Hanin.
Pembuka Cerita
Asap rokok memenuhi sudut kantin sekolah elit Garuda High School siang itu.
Suara tawa kasar bercampur bunyi korek api terdengar dari meja paling belakang, tempat yang sudah menjadi wilayah kekuasaan geng Trouble Boy.
“Anjir, guru BK tadi mukanya pucet banget pas liat Petra masuk,” celetuk Reno sambil tertawa.
“Ya iyalah,” sahut Petra santai sambil menyender di kursinya. “Dia juga tau siapa yang punya sekolah ini.”
Gelak tawa kembali pecah.
Petra duduk di tengah teman-temannya bak raja tanpa mahkota. Seragamnya berantakan, dasi entah ke mana, sementara rokok terselip santai di sela jarinya. Cowok itu memang terkenal tampan, terlalu tampan malah, sayangnya sifatnya jauh dari kata baik.
Tukang ribut.
Hobi tawuran.
Balapan liar tiap malam.
Dan nyaris gak punya prestasi selain bikin masalah.
Namun semua keburukannya seolah tertutupi oleh satu hal:
dia anak pemilik sekolah.
Tak ada yang berani melawan Petra.
Sampai siang itu…
Pintu kantin terbuka.
Suasana mendadak terasa berbeda ketika seorang gadis masuk dengan langkah tenang. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, wajahnya dingin, tapi cantiknya langsung mencuri perhatian seluruh isi kantin.
Petra yang sedang mengisap rokok langsung berhenti.
“Buset…” gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya, Petra mematung hanya karena melihat seorang cewek.
Di belakang gadis itu berjalan seorang cowok tinggi dengan tatapan tajam
Damian, kakaknya.
“Anak baru?” tanya salah satu anggota Trouble Boy.
Namun Petra sudah lebih dulu bangkit dari duduknya.
Dengan senyum percaya diri, ia berjalan menghampiri Hanin yang sedang mengambil minuman dingin.
“Hai,” sapa Petra santai. “Gue Petra. Kenalan yuk.”
Hanin bahkan tidak menoleh.
Diabaikan untuk pertama kalinya membuat ego Petra terusik.
“Wih, jual mahal?” Petra tertawa kecil lalu tanpa izin merangkul bahu Hanin. “Santai aja kali...”
BUGH!
Dalam satu gerakan cepat, Hanin langsung menangkap tangan Petra dan melintirnya ke belakang.
“ANJIRRR!” Petra refleks meringis kesakitan.
Seluruh kantin mendadak hening.
Anak-anak Trouble Boy melongo tak percaya melihat ketuanya dibuat tak berkutik oleh seorang cewek.
Sementara Hanin menatap Petra dingin tanpa rasa takut sedikit pun.
“Jangan sentuh gue sembarangan,” ucap Hanin tajam.
Petra membeku.
Bukan cuma karena sakit…
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang mampu membuat Petra kalah dalam sekali gerakan.
Chapter 1
Damian hanya
tersenyum kecil melihat tangan Petra yang masih dipelintir Hanin.
Bukannya
panik atau berniat membantu, cowok itu malah memasukkan kedua tangannya ke saku
celana dengan santai. Tatapannya tenang, seolah kejadian barusan adalah hal
biasa.
Karena memang
begitu kenyataannya.
Damian tahu
betul adik bungsunya itu bukan tipe gadis lemah yang perlu dilindungi setiap
saat. Justru orang lainlah yang biasanya perlu diselamatkan dari Hanin.
Dengan
langkah santai, Damian memilih duduk di salah satu meja kantin yang kosong.
Posisi duduknya sengaja menghadap ke arah Hanin dan Petra.
Jaga-jaga.
Kalau situasi
berubah brutal, setidaknya dia masih bisa turun tangan.
Sementara itu
Hanin melepaskan tangan Petra begitu saja tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.
Petra
langsung menarik tangannya sambil meringis pelan.
“Gila…” gumam
Reno pelan dari meja Trouble Boy. “Ketua dilipet cewek.”
“Mulut lo mau
gue sobek?” sahut Petra kesal sambil memijat pergelangan tangannya.
Namun
anehnya… Petra tidak marah sepenuhnya.
Tatapannya
malah terus mengikuti Hanin.
Gadis itu
terlihat biasa saja setelah kejadian tadi. Seolah melintir tangan Petra
hanyalah aktivitas kecil yang tidak penting.
Hanin
berjalan menuju meja pemesanan makanan. Dengan wajah datar ia memesan dua porsi
makan dan beberapa minuman dingin.
“Pedes satu
jangan banyak sambel,” ucap Hanin singkat pada penjaga kantin.
Setelah
pesanannya selesai, Hanin membawa nampan makanan itu dan duduk di depan Damian.
“Kak, makan.”
Damian
mengangguk kecil sambil mengambil minumannya.
“Lumayan juga
sambutan sekolah barumu,” godanya pelan.
Hanin menatap
datar.
“Cowok aneh.”
Damian
terkekeh kecil.
Di sisi lain
kantin, Petra kembali duduk bersama anggota Trouble Boy. Namun kali ini
suasananya berubah total.
Tak ada lagi
tawa.
Tak ada lagi candaan.
Semua anggota
geng menatap ke arah meja Hanin dan Damian dengan sorot tajam.
Sementara
beberapa murid lain mulai berbisik pelan.
“Itu anak
baru berani banget…”
“Dia gak tau
Petra siapa apa?”
“Kayaknya
bakal ada perang…”
Udara kantin
mendadak terasa berat.
Satu sisi
adalah Trouble Boy, penguasa sekolah yang ditakuti semua murid.
Sisi lain
adalah Hanin dan Damian, dua murid pindahan yang datang tanpa rasa takut sedikit
pun.
Tatapan Petra
dan Hanin sempat bertemu lagi.
Tidak ada
senyum.
Tidak ada kata-kata.
Tapi seluruh
isi kantin bisa merasakan satu hal…
Kalau dua kubu itu bertabrakan, sekolah ini tidak akan pernah tenang lagi.
━
Bel sekolah
akhirnya berbunyi nyaring, memecah suasana tegang di kantin.
Satu per satu
murid mulai keluar, meski sebagian masih melirik takut ke arah meja Trouble
Boy dan meja Hanin.
Petra berdiri
lebih dulu sambil memasukkan tangan ke saku celana. Tatapannya belum lepas dari
Hanin sedetik pun.
“Ketua… fix
tuh cewek nyari mati,” bisik salah satu anggota gengnya.
Petra malah
menyeringai tipis.
“Enggak,”
jawabnya pelan. “Dia menarik.”
Reno sampai
melotot.
“HAH?”
Namun Petra
sudah berjalan lebih dulu menuju kelas.
━
Di sisi lain,
Hanin dan Damian sedang berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru
untuk pembagian kelas.
“Lo yakin gak
mau gue anter sampai kelas?” tanya Damian santai.
“Emang aku
anak TK?” balas Hanin datar.
Damian
terkekeh kecil.
“Yaudah. Kalau ada yang ganggu...”
“Mereka yang
kasihan.”
Jawaban Hanin
sukses bikin Damian ngakak kecil sambil mengacak rambut adiknya.
Begitu sampai
di ruang guru, wali murid langsung memberikan jadwal dan informasi kelas.
“Damian kelas
3-A.”
Damian
mengangguk santai.
Lalu guru itu
melihat Hanin sambil tersenyum ramah.
“Dan Hanin…
kamu di kelas 2-B.”
Hanin
menerima kertas jadwalnya tanpa banyak respon.
Namun
beberapa detik kemudian…
Damian yang
membaca papan pembagian kelas mendadak diam.
“…Hah?”
“Ada apa?”
tanya Hanin.
Damian
menunjukkan daftar nama di papan.
Dan tepat di
urutan paling atas kelas 2-B tertulis jelas :
PETRA
WIJAYA.
Hanin
menaikkan satu alis.
Sementara
Damian langsung menahan tawa.
“Wah…”
gumamnya pelan. “Kayaknya sekolah ini bakal hancur.”
━
Saat Hanin
masuk ke kelas 2-B untuk pertama kalinya, suasana langsung berubah heboh.
“Anjir cewek
kantin tadi!”
“Yang bikin
Petra nyaris copot tangan?”
“Gila cantik
banget…”
Namun langkah
Hanin berhenti saat melihat satu sosok duduk santai di kursi paling belakang.
Petra.
Cowok itu
yang awalnya rebahan di kursi langsung duduk tegak begitu melihat Hanin masuk.
Tatapan
mereka kembali bertemu.
Dan sedetik
kemudian…
“HAHAHAHAHA!”
Satu kelas
kaget saat Petra malah tertawa keras sambil menepuk meja.
“Gue mimpi
apa hari ini?” katanya sambil menyeringai lebar. “Ternyata kita sekelas.”
Hanin
memalingkan wajah malas lalu memilih duduk di dekat jendela.
Petra terus
memperhatikannya tanpa malu-malu.
“Nama lo
Hanin, kan?”
Tidak
dijawab.
“Lo jutek
banget sih.”
Tetap diam.
“Gue suka.”
BUK!
Satu buku
melayang tepat mengenai kepala Petra.
“WOY!” Petra
refleks memegangi kepalanya.
Sementara
Hanin masih menatap lurus ke depan dengan wajah datar.
“Berisik.”
Satu kelas
langsung hening.
Lalu…
BRAK!
Tawa anggota
kelas pecah seketika melihat Petra dipermalukan dua kali dalam sehari.
Dan anehnya…
Bukannya
marah, Petra malah makin tertarik.
━
Hari-hari
berikutnya, seluruh sekolah mulai mengenal siapa Hanin sebenarnya.
Bukan cuma
cantik dan dingin.
Tapi juga
mengerikan.
Hanin ternyata atlet taekwondo Sabuk Hitam Dan 3 yang sudah berkali-kali membawa pulang medali sejak SMP di kejuaraan Youth Olympic Games bahkan lulus seleksi olimpiade senior.
Tak hanya
itu, dulu di sekolah lamanya Hanin juga merupakan pemain inti tim basket
wanita.
Karena itu,
tanpa ragu Hanin langsung mendaftar dua ekskul sekaligus di sekolah barunya:
🏀 Basket
🥋
Taekwondo
Dan sejak
nama Hanin masuk daftar anggota kedua ekskul itu…
Semua murid
sadar satu hal.
Cewek
pindahan itu bukan karakter figuran biasa.
Dia adalah
badai baru di sekolah Petra.
━
Hari-hari
berlalu sejak kedatangan Hanin di Garuda High School.
Dan seperti
yang diperkirakan banyak orang…
Sekolah itu
mulai berubah jauh lebih “hidup”.
Entah karena
Petra yang sekarang lebih sering memperhatikan kelas daripada bikin onar, atau
karena keberadaan Hanin yang perlahan menjadi pusat perhatian baru.
Hari ini
suasana sekolah jauh lebih ramai dari biasanya.
Karena setiap
ekskul sedang mengadakan latihan rutin di zona masing-masing.
Lapangan
basket penuh suara pantulan bola.
Ruang musik dipenuhi suara gitar.
Sementara area bela diri di gedung belakang sudah dipadati anggota taekwondo.
Hanin
berjalan masuk ke area latihan dengan tas hitam di pundaknya. Rambutnya diikat
tinggi sederhana, memperlihatkan wajah dingin yang tetap cantik bahkan tanpa
usaha.
“Eh itu
Hanin…”
“Katanya dia
atlet nasional ya?”
“Yang bikin
Petra kalah itu kan?”
Bisik-bisik
langsung terdengar di mana-mana.
Namun Hanin
tetap tenang.
Pelatih
taekwondo yang melihat Hanin langsung menghampiri dengan wajah antusias.
“Kamu Hanin,
kan? Saya dengar kamu Sabuk Hitam Dan 3?”
Hanin
mengangguk kecil.
“Iya, Coach.”
“Wah… bagus.
Hari ini latihan sparring ringan dulu.”
Beberapa
anggota ekskul langsung saling pandang gugup.
Karena aura
Hanin benar-benar beda.
━
Di sisi lain
lapangan basket, Hanin juga sempat berkenalan dengan anggota tim basket wanita.
Berbeda
dengan saat di kelas, kali ini Hanin sedikit lebih ramah.
Namanya cepat
dikenal karena kemampuan shooting-nya yang luar biasa.
Bahkan saat
pemanasan saja, hampir semua tembakannya masuk tanpa menyentuh ring.
“Gila… keren
banget…”
“Dia beneran
pindahan SMA biasa?”
Namun
perhatian terbesar hari itu tetap tertuju pada latihan taekwondo.
━
Sore mulai
turun ketika sesi sparring dimulai.
Banyak murid
dari ekskul lain mulai berkumpul di sekitar area latihan hanya untuk menonton.
Termasuk
anggota Trouble Boy.
Dan tentu
saja…
Petra.
Cowok itu
duduk santai di tribun kecil sambil memainkan korek api di tangannya.
“Ngapain kita
nonton beginian sih?” protes Reno.
Petra tetap
menatap lurus ke arena.
“Diam.”
Tak lama
kemudian pelatih memanggil nama Hanin.
“Hanin,
maju.”
Hanin melangkah
ke tengah arena dengan tenang memakai seragam dobok putihnya.
Dan detik itu
juga…
Suasana
berubah.
Aura Hanin
yang biasanya dingin mendadak terasa jauh lebih tajam.
Lawan
sparring-nya adalah senior laki-laki tingkat sabuk merah yang terkenal kuat di
sekolah itu.
Beberapa
murid langsung tegang.
“Buset…
lawannya senior?”
“Apa gak
bahaya?”
Pelatih
meniup peluit.
PRANG!
Dalam satu
gerakan cepat, kaki Hanin langsung melayang tinggi.
DUAK!
Tendangan
roundhouse-nya nyaris tak terlihat saking cepatnya.
Senior itu
bahkan mundur dua langkah karena syok.
Sorakan
langsung pecah.
Namun itu
baru permulaan.
Gerakan Hanin
benar-benar seperti air.
Cepat.
Presisi.
Dan mematikan.
Tendangan
demi tendangan dilepaskan tanpa ragu.
BRAK!
DUAK!
BUGH!
Seluruh area
latihan mulai hening.
Mereka bukan
lagi menonton latihan…
Mereka sedang
menyaksikan monster.
Bahkan
beberapa anggota cowok mulai merinding melihat cara Hanin bertarung.
Sampai
akhirnya...
DUAAK!
Hanin
melompat memutar di udara dan melepaskan spinning kick sempurna tepat beberapa
senti dari wajah lawannya.
Angin dari
tendangan itu saja sudah cukup membuat senior tersebut membeku.
Pelatih
langsung meniup peluit keras.
“STOP!”
Arena
mendadak sunyi.
Senior tadi
bahkan terlihat berkeringat dingin.
Sementara
Hanin berdiri tegak tanpa napas terengah sedikit pun.
Tenang.
Dingin.
Seolah semua
tadi hanyalah pemanasan biasa.
Dan untuk
pertama kalinya…
Satu sekolah
benar-benar memahami kenapa Petra bisa dibuat tak berkutik oleh Hanin.
Di tribun,
Reno menelan ludah pelan.
“…Ketua.”
Petra tidak
menjawab.
Tatapannya
masih terkunci pada Hanin.
Lalu
perlahan…
Cowok itu
tersenyum kecil.
“Anjir…”
“Gue makin suka.”
━
Sorakan di
area taekwondo belum juga mereda setelah kemenangan pertama Hanin.
Malah semakin
banyak murid berdatangan.
Anak basket.
Anak futsal.
Anak musik.
Sampai ekskul dance pun mulai memenuhi pinggir lapangan hanya untuk melihat
langsung siswi pindahan yang sedang jadi pembicaraan satu sekolah.
“Serius itu
cewek masih kelas 2?”
“Gerakannya
kayak atlet nasional…”
“Gila keren
banget…”
Bahkan
beberapa guru yang awalnya hanya lewat akhirnya ikut berhenti menonton.
Area latihan
taekwondo yang biasanya sepi mendadak berubah seperti arena kejuaraan besar.
Riuh.
Penuh.
Dan menegangkan.
Pelatih
sampai menghela napas melihat kerumunan yang makin tidak terkendali.
“Baik,”
ucapnya sambil menatap Hanin. “Sparing kedua.”
Bisik-bisik
langsung pecah lagi.
“Kedua?”
“Masih
lanjut?”
Lalu pelatih
memanggil salah satu senior terbaik ekskul.
Cowok tinggi
dengan badan atletis maju ke arena sambil mengencangkan sabuk hitamnya.
Dan kali ini…
Suasana
benar-benar berubah serius.
“Itu Kak
Reza…”
“Woy dia
juara provinsi tahun lalu…”
“Kalau lawan
dia mah beda level.”
Beberapa
orang mulai menatap Hanin khawatir.
Namun Hanin
tetap tenang seperti biasa.
Ia melangkah
ke tengah arena tanpa sedikit pun terlihat gugup.
Di pinggir
lapangan, Damian bersandar santai di pagar besi sambil melipat tangan di dada.
Tatapannya
penuh kebanggaan melihat adik bungsunya berdiri di tengah arena.
Sejak kecil,
Hanin memang selalu seperti itu.
Kecil.
Tenang.
Tapi mematikan.
Peluit
dibunyikan.
PRITTT!
Detik
berikutnya...
BRAK!
Reza
menyerang lebih dulu dengan tendangan cepat ke arah kepala.
Namun Hanin
menghindar dengan gerakan ringan seolah sudah membaca arah serangan sejak awal.
“Cepet
banget…” gumam seseorang kagum.
DUAK!
Hanin
langsung membalas dengan side kick keras ke arah perut lawannya.
Reza menahan,
tapi tubuhnya tetap terdorong mundur.
Sorakan
penonton makin menggila.
“WOYYYY!”
“GILAAA!”
Namun sparing
kali ini jauh lebih brutal.
Reza bukan
lawan sembarangan.
Beberapa kali
ia berhasil menyerang balik dan memaksa Hanin bertahan.
Suara
benturan pelindung tubuh terus terdengar keras memenuhi lapangan.
BRAK!
DUAK!
BUGH!
Kerumunan
makin padat.
Guru-guru
sampai harus menyuruh murid mundur karena area sudah terlalu penuh.
Latihan
ekskul lain benar-benar berhenti total.
Semua
perhatian sekarang hanya tertuju pada satu tempat:
Arena
taekwondo.
Petra yang
berdiri paling depan sampai tak berkedip melihat pertarungan itu.
Untuk pertama
kalinya dalam hidupnya…
Ia melihat
seseorang bertarung seindah itu.
Dan kemudian...
Hanin
bergerak.
Satu langkah
maju.
Putaran cepat.
Tubuhnya melayang ringan di udara.
DUAAAAK!
Spinning hook
kick Hanin mendarat sempurna tepat di pelindung kepala Reza.
Arena
langsung meledak.
“GILAAAAAA!”
Reza
kehilangan keseimbangan dan jatuh satu lutut.
Pelatih
meniup peluit keras.
“POINT!
HANIN!”
Dan beberapa
detik kemudian…
“PERTANDINGAN
SELESAI!”
Hanin menang
lagi.
Sunyi sesaat
menyelimuti lapangan.
Sebelum
akhirnya…
TEPUK TANGAN
DAN SORAKAN PECAH DI SELURUH AREA.
Bahkan guru
olahraga ikut bertepuk tangan kagum.
“Anak itu
luar biasa…”
“HIGH SCHOOL
LEVEL rasa nasional…”
“Hanin
monster…”
Sementara
Hanin hanya membungkuk hormat pada lawannya dengan napas tetap stabil.
Tidak
sombong.
Tidak banyak bicara.
Justru sikap
tenangnya itu yang membuat semua orang makin kagum.
Di pinggir
lapangan, Damian tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.
“Bocah itu…”
gumamnya bangga.
Sementara
Petra masih diam menatap Hanin tanpa suara.
Dan untuk
pertama kalinya…
Cowok paling
berandalan di sekolah itu merasa jantungnya berdebar bukan karena tawuran.
Tapi karena
seorang gadis bernama Hanin.
━
Riuh tepuk
tangan masih memenuhi area taekwondo saat Hanin berdiri tegak di tengah arena.
Keringat
tipis membasahi pelipisnya, namun napasnya tetap stabil. Tidak terlihat
kelelahan berlebihan meski baru saja menghadapi dua sparing berat
berturut-turut.
Pelatih
berjalan mendekat sambil tersenyum bangga.
“Good job,
Hanin.”
Hanin
membungkuk hormat singkat.
“Terima kasih, Coach.”
Lalu tanpa
ada sikap sombong sedikit pun, Hanin berjalan menghampiri lawan sparing
pertamanya lebih dulu.
Cowok senior
itu sempat terlihat canggung.
Namun Hanin
mengulurkan tangan lebih dulu.
“Terima kasih
untuk sparing-nya.”
Senior itu
langsung tersenyum kagum lalu membalas jabat tangan Hanin.
“Gila… lo
keren banget.”
Hanin hanya
tersenyum tipis.
Tak berhenti
sampai di situ, Hanin bahkan menepuk bahu senior tersebut sebelum mereka saling
berpelukan singkat layaknya sesama atlet yang saling menghormati.
Sorakan kecil
langsung terdengar dari penonton.
“Wahhhh…”
“Sportif
banget…”
Setelah itu
Hanin berjalan menuju Reza, lawan sparing keduanya.
Reza yang
tadi sempat dibuat jatuh satu lutut malah tertawa kecil sambil menggeleng
kagum.
“Serius deh,”
katanya sambil menerima uluran tangan Hanin. “Lo cewek paling ngeri yang pernah
gue lawan.”
Hanin
terkekeh pelan untuk pertama kalinya hari itu.
“Maaf kalau
terlalu keras.”
“TERLALU
KERAS KATANYA!” teriak salah satu anggota taekwondo yang langsung mengundang
tawa seisi lapangan.
Reza ikut
tertawa lalu menarik Hanin ke pelukan singkat penuh respect.
Dan detik
itu…
Banyak orang
sadar kalau Hanin bukan cuma kuat.
Tapi juga
punya attitude seorang atlet sejati.
Tidak arogan.
Tidak cari perhatian.
Dan tahu cara menghargai lawan.
Hal itu
justru membuat orang-orang makin respek padanya.
Di pinggir
lapangan, beberapa siswi mulai heboh sendiri.
“Anjir dia
keren banget…”
“Cantik,
kuat, sopan lagi…”
“Perfect
banget gak sih?”
Sementara
anggota Trouble Boy hanya bisa melongo.
Reno sampai
menepuk pundak Petra pelan.
“Ketua…”
“Hm?”
“Kayaknya
kali ini lo bukan jatuh cinta biasa.”
Petra masih
menatap Hanin yang sedang berbicara santai dengan anggota ekskul taekwondo
lain.
Lalu cowok
itu menyeringai kecil.
“Ya gimana…”
“Dia keren
banget.”
Chapter 2
Latihan
ekskul akhirnya selesai menjelang sore.
Namun suasana
sekolah masih belum benar-benar tenang setelah aksi Hanin di arena taekwondo
tadi.
Namanya
mendadak jadi topik utama satu sekolah.
Bahkan
murid-murid yang tidak sempat menonton langsung mulai mencari video sparing
Hanin yang sudah tersebar di grup sekolah.
━
Di dalam
ruang ganti khusus ekskul taekwondo, Hanin selesai mandi dan mengganti pakaian
latihannya.
Berbeda dari
penampilannya saat memakai seragam sekolah, kali ini auranya terasa jauh lebih
santai.
Hoodie putih
oversized menutupi tubuhnya.
Celana abu-abu gombrang membuat penampilannya terlihat effortless tapi elegan.
Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, justru membuat wajah cantiknya
semakin menonjol.
Saat Hanin
keluar dari ruangan ekskul sambil membawa helm hitam di tangan, beberapa
anggota taekwondo langsung menoleh.
“Buset…”
“Dia cocok
jadi model…”
“Cantik
banget anjir…”
Namun Hanin
tetap berjalan santai tanpa terlalu peduli dengan tatapan orang-orang.
Tak lama
kemudian Damian datang menyusul dari arah parkiran gedung kelas.
Cowok itu juga sudah mengganti seragamnya dengan pakaian santai serba hitam. Tinggi badannya dan wajah dinginnya langsung menarik perhatian banyak siswi.
“Hanin,”
panggil Damian sambil memainkan kunci mobil di jarinya. “Pulang.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Mau ikut
gue?” tanya Damian santai.
Namun Hanin
langsung menggeleng.
“Enggak. Aku
bawa motor.”
Damian
tertawa kecil seolah sudah menduga jawaban itu.
“Oke. Jangan
ngebut.”
“Kak Damian
juga.”
Mereka lalu
berjalan berdampingan menuju area parkir depan sekolah.
Dan detik
berikutnya…
Satu area
parkiran langsung heboh.
Karena mobil
yang dibuka Damian bukan mobil biasa.
BMW hitam
doff dengan tampilan elegan dan aura mahal langsung membuat banyak siswa
melongo.
“Anjir BMW…”
“Itu mobil
harganya berapa…”
“Fix crazy
rich.”
Namun
keterkejutan mereka belum selesai.
Karena di
sisi lain, Hanin berjalan menuju motor sport merah hitam miliknya.
Motor itu
berdiri mencolok di antara kendaraan siswa yang lain.
Bahkan
beberapa cowok otomotif langsung refleks mendekat karena tidak percaya.
“WOY
DUCATI?!”
“Itu motor
impian gue jir…”
“Gak mungkin
anak SMA bawa beginian…”
Petra yang
baru keluar gedung bersama Trouble Boy langsung berhenti melangkah saat
melihat pemandangan itu.
Reno sampai
melongo.
“Ketua…”
“Apalagi
sekarang?”
“Cewek lo
ternyata sultan.”
Petra tidak
menjawab.
Tatapannya
justru fokus pada Hanin yang sedang memakai helm full face dengan santai.
Aura Hanin
sekarang benar-benar berbeda.
Cantik.
Elegan.
Dan mahal.
Sementara
Damian bersandar santai di pintu BMW-nya sambil memperhatikan adiknya.
Beberapa guru
bahkan ikut terdiam melihat kendaraan dua murid pindahan itu.
“Pantesan
auranya beda…”
“Mereka anak
keluarga besar kayaknya…”
Namun tak ada
satu pun yang tahu…
Bahwa
keluarga Hanin bukan sekadar konglomerat biasa.
Dan rahasia
itu akan perlahan mengubah seluruh hidup Petra.
━
Langit sore
mulai berubah jingga saat Hanin melajukan Ducati-nya membelah jalanan kota.
Suara mesin
motornya yang halus namun bertenaga sukses menarik perhatian banyak orang di
jalan.
Namun Hanin
terlihat santai.
Satu tangan
memegang gas, sementara playlist musik pelan mengalun dari headset kecil di
balik helmnya.
Berbeda
dengan yang dibayangkan banyak orang, Hanin tidak tinggal bersama orang tua
maupun kakak-kakaknya.
Bukan karena
hubungan mereka buruk.
Justru
sebaliknya.
Keluarga
Hanin terlalu besar… dan terlalu berbahaya.
Rumah utama
keluarga mereka hampir setiap hari dipenuhi tamu penting, pengusaha, pejabat,
hingga orang-orang berpengaruh lainnya. Keamanan di sana sangat ketat dan tidak
pernah benar-benar tenang.
Dan yang
paling penting...
Tak banyak
orang tahu kalau keluarga itu memiliki anak perempuan semata wayang.
Hanin sengaja
“disembunyikan” demi keamanan.
Karena itulah
Hanin memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah dekat pusat kota.
Apartemen
luas dengan keamanan tinggi dan privasi yang sulit ditembus siapa pun.
Damian
sendiri kadang datang menginap untuk memastikan adiknya baik-baik saja.
━
Sebelum
pulang, Hanin membelokkan motornya ke sebuah minimarket dekat apartemen.
Tempat itu
memang jadi langganannya karena suasananya lebih sepi dan nyaman dibanding
supermarket besar.
Hanin melepas
helmnya lalu masuk santai ke dalam minimarket.
Pendingin
ruangan langsung menyambut tubuhnya yang lelah setelah latihan.
Dengan
langkah ringan, Hanin mengambil beberapa barang favoritnya:
🍜 Ramen instan pedas
🍙
Onigiri tuna
🥤
Minuman soda dingin
“Besok stok
ramen habis lagi kayaknya…” gumam Hanin kecil sambil memasukkan beberapa cup
ramen ke keranjang.
Namun baru
saja ia berbelok ke lorong minuman...
“WOY KETUA
LIAT!”
Suara keras
itu membuat Hanin berhenti melangkah.
Dan saat
menoleh…
Hanin langsung
melihat segerombolan cowok berdiri tak jauh darinya.
Trouble
Boy.
Lengkap.
Termasuk
Petra yang berdiri paling depan sambil memegang kaleng kopi dingin.
Beberapa
detik suasana minimarket langsung terasa awkward.
Reno melongo.
“Anjir… ketemu lagi.”
Sementara
anggota geng lain saling sikut sambil menahan heboh.
Petra sendiri
terlihat sama terkejutnya.
Namun sedetik
kemudian cowok itu malah menyeringai kecil.
“Takdir
banget gak sih?”
Hanin
memalingkan wajah malas lalu kembali memilih minuman seolah tidak peduli.
Petra
langsung mendekat.
“Lo tinggal
sekitar sini?”
“Penasaran
banget hidup orang.” sahut Hanin.
“Ya siapa tau
tetanggaan.”
Hanin menutup
pintu kulkas minuman lalu menatap Petra datar.
“Kalau
tetanggaan juga gak penting buat gue.”
“Jahat amat.”
Reno dan
anggota Trouble Boy lain cuma bisa melongo melihat Petra yang biasanya
galak sekarang malah seperti anak anjing nyari perhatian.
Dan itu
pemandangan paling langka di sekolah.
Petra
memperhatikan isi keranjang Hanin lalu tertawa kecil.
“Ramen lagi?”
“Kenapa?”
“Gak sehat.”
Hanin
menaikkan satu alis.
“Rokok sehat?”
“…Yaudah itu
nyerang.”
Beberapa
anggota geng langsung ngakak kecil mendengar Petra dibalas mentah-mentah lagi.
Namun
anehnya…
Tidak ada
ketegangan seperti sebelumnya.
Suasana
minimarket justru terasa lebih ringan.
Meski Hanin
tetap dingin seperti biasa.
Dan tanpa
mereka sadari…
Pertemuan
kecil di minimarket dekat apartemen itu menjadi awal Petra mulai masuk perlahan
ke dunia Hanin.
━
Setelah
membayar semua belanjaannya, Hanin tidak langsung pulang.
Ia justru
berjalan ke area makan kecil di samping minimarket, tempat dengan meja kaca
sederhana yang menghadap langsung ke jalanan sore kota.
Daerah
sekitar apartemennya memang cenderung tenang.
Tidak terlalu
ramai.
Tidak terlalu bising.
Hanya suara
kendaraan sesekali lewat dan angin sore yang terasa nyaman.
Hanin
mengambil satu cup ramen pedas lalu meminta air panas pada penjaga minimarket.
Beberapa
menit kemudian aroma ramen hangat mulai memenuhi meja kecilnya.
Hanin membuka
helmnya sepenuhnya lalu duduk santai di kursi dekat jendela kaca.
Hoodie putih
oversized yang dipakainya membuat penampilannya terlihat jauh lebih lembut
dibanding saat berada di arena taekwondo tadi.
Rambutnya
yang masih sedikit lembap terikat asal, memberi kesan santai namun tetap
elegan.
Dengan tenang
Hanin mulai memakan ramen-nya.
Suapan
pertama langsung membuatnya menghela napas puas kecil.
“Ah… enak.”
Hari mulai
berubah semakin sore.
Langit jingga
memantul di kaca minimarket sementara jalanan depan terlihat damai dan cukup
sepi.
Bagi Hanin…
Momen seperti
ini adalah favoritnya.
Duduk
sendiri.
Makan makanan sederhana.
Menikmati suasana tenang tanpa keramaian keluarga besar atau penjagaan ketat.
Karena
sesibuk apa pun hidupnya…
Hanin tetap hanya seorang gadis SMA yang suka menikmati ketenangan kecil.
Namun
ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Karena dari
dalam minimarket, beberapa pasang mata masih memperhatikan Hanin diam-diam.
“Ketua…”
bisik Reno pelan sambil melirik ke arah luar kaca.
Petra
bersandar santai dekat rak snack sambil menatap Hanin yang sedang makan ramen.
Tatapannya
jauh lebih tenang dibanding biasanya.
“Hmm?”
“Lo serius
suka sama dia?”
Petra diam
beberapa detik.
Lalu sudut
bibirnya naik pelan.
“Kayaknya…”
“Gue udah
telat buat mundur.”
Reno langsung
menatap ketuanya tidak percaya.
Karena baru
kali ini mereka melihat Petra memandang seseorang dengan tatapan sehalus itu.
Sementara di
luar sana…
Hanin masih
menikmati ramen hangatnya tanpa sadar bahwa dirinya perlahan mulai menjadi
pusat dunia seseorang bernama Petra.
━
Cup ramen di
meja Hanin akhirnya kosong.
Ia merapikan
sampahnya sendiri lalu membuangnya ke tempat sampah dekat pintu minimarket
sebelum mengambil kantong belanja dan helmnya.
Angin sore
berhembus pelan saat Hanin berjalan menuju parkiran depan minimarket.
Jalanan mulai
lebih sepi.
Lampu-lampu kota perlahan menyala satu per satu.
Hanin
berhenti di depan Ducati miliknya lalu mulai memakai helm.
Namun baru
saja tangannya hendak menyalakan motor...
“Hanin.”
Suara itu
membuatnya berhenti.
Petra berdiri
beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan di saku hoodie hitamnya.
Anggota Trouble Boy lain masih berada di dekat pintu minimarket sambil
memperhatikan dari jauh.
Tatapan Petra
kali ini berbeda.
Tidak sejahil
biasanya.
Tidak main-main.
Hanin melepas
kembali helmnya lalu menoleh datar.
“Apa?”
Petra
berjalan mendekat pelan.
“Gue cuma mau
ngobrol.”
Hanin
langsung menatap tajam.
“Berhenti di
situ.”
Langkah Petra
otomatis terhenti.
Entah kenapa,
nada suara Hanin yang tenang justru terasa jauh lebih mengintimidasi dibanding
orang marah.
Lampu jalan
memantulkan sorot mata Hanin yang dingin… tapi anehnya tetap teduh.
Tidak
meledak-ledak.
Tidak kasar.
Namun cukup
membuat siapa pun sadar kalau dia serius.
“Kalau mau
selamat,” ucap Hanin pelan, “jangan macam-macam sama gue.”
Suasana
parkiran langsung hening.
Reno bahkan
refleks mundur setengah langkah.
Karena aura
Hanin benar-benar berubah.
Tenang…
tapi berbahaya.
Petra menatap
Hanin beberapa detik tanpa bicara.
Anehnya,
bukannya takut, cowok itu malah tersenyum kecil.
“Lo selalu
ngomong kayak mau bunuh orang ya?”
“Karena
banyak orang gak ngerti batas.” Sahut Hanin.
Petra
mengangguk pelan seolah memahami.
Untuk pertama
kalinya, dia tidak membalas dengan candaan.
Tatapan Petra
turun sesaat ke tangan Hanin yang memegang helm, lalu kembali ke wajah gadis
itu.
“Gue gak
bakal nyakitin lo.”
Jawaban itu
membuat Hanin diam sebentar.
Angin sore
kembali lewat di antara mereka.
Jalanan depan
minimarket tetap tenang, seolah dunia luar tidak peduli dengan ketegangan kecil
yang sedang terjadi.
Lalu Hanin
akhirnya memakai helmnya kembali.
“Bagus.”
BRUMMM...
Suara mesin
Ducati menyala halus.
Sebelum
pergi, Hanin sempat menoleh sebentar ke arah Petra.
“Jangan
ikutin gue.”
Dan detik
berikutnya motor sport itu melesat meninggalkan parkiran.
Petra tetap
berdiri diam memperhatikan lampu belakang Ducati Hanin yang perlahan menghilang
di ujung jalan.
Sampai Reno
berjalan mendekat sambil melongo.
“…Ketua.”
“Hm?”
“Itu cewek
auranya kayak villain utama.”
Petra
terkekeh kecil sambil memasukkan tangan ke saku.
“Iya.”
“Tapi
cantik.”
━
Pukul tujuh
malam.
Hanin
akhirnya sampai di apartemennya.
Lift privat
membawanya langsung menuju lantai atas tempat unitnya berada. Begitu pintu
apartemen terbuka, suasana hangat dan tenang langsung menyambutnya.
Apartemen
Hanin terlihat luas namun nyaman.
Interior
modern dominan abu dan putih, jendela kaca besar menghadap gemerlap kota malam,
serta pencahayaan hangat yang membuat tempat itu terasa damai.
Begitu masuk,
Hanin langsung meletakkan helm dan kunci motornya di meja dekat pintu.
“Huft…”
Ia melepas
hoodie putihnya lalu menggantungnya asal di kursi ruang tamu.
Kini Hanin
hanya memakai kaos hitam oversized dan celana training longgar.
Aura
dinginnya di sekolah langsung hilang.
Di apartemen
ini…
Hanin hanyalah gadis biasa yang ingin istirahat.
Ia mulai
merapikan belanjaannya ke kulkas kecil dan rak dapur.
Ramen masuk
lemari.
Onigiri masuk kulkas.
Soda dingin langsung dibuka satu.
PSSTT...
Hanin meneguk
minumannya sambil berjalan santai menuju sofa.
Televisi
dinyalakan.
Game console ikut menyala.
Tak lama
kemudian Hanin sudah duduk selonjoran di sofa sambil bermain game dengan
ekspresi santai.
Sesekali
suara ledakan game memenuhi ruang tamunya.
Namun
beberapa menit kemudian...
BZZZT
BZZZT
BZZZT
Ponselnya
yang tergeletak di meja terus bergetar tanpa henti.
Hanin
mengernyit lalu mengambil HP-nya.
Dan detik itu
juga matanya langsung menyipit kecil.
“Apaan ini…”
Notifikasi
benar-benar membludak.
📱 Anda ditambahkan ke Grup Kelas 2-B
📱
Anda ditambahkan ke Grup Basket Putri
📱
Anda ditambahkan ke Grup Taekwondo GHS
📱
Anda ditambahkan ke Grup Informasi Sekolah
Belum
selesai.
Puluhan chat
pribadi juga ikut masuk bersamaan.
💬 Hai Hanin salam kenal aku Nisa anak basket
💬
Keren banget tadi sparingnya!
💬
Hanin rumahnya mana?
💬
Boleh kenalan gak?
💬
Kak Hanin cantik banget…
Hanin
langsung menghela napas panjang sambil menyender ke sofa.
Nomornya
ternyata sudah tersebar ke satu sekolah.
Dan yang
paling parah…
Nama kontak
yang muncul berikutnya membuat Hanin memejamkan mata pelan.
💬 Petra
“Udah sampe
rumah?”
💬 Reno Trouble Boy
“WOI KETUA
MINTA DIBALES”
💬 Adit TB
“Salam kenal
calon kakak ipar ketua 🙏”
💬 Petra
“Ignore
temen-temen gue.”
💬 Petra
“Tapi bales
gue.”
Hanin: “…”
Belum sempat
ia membalas apa pun...
TING!
Grup kelas
mendadak heboh.
📱 Petra mengubah nama grup menjadi :
🔥
2-B ISI ORANG GILA 🔥
📱 Reno :
WOI ADA HANIN
WOI JAGA IMAGE
📱 Petra :
telat
📱 Siswa lain :
PETRA JANGAN
NAKUTIN ANAK BARU ANJIR
📱 Petra :
gue ramah
📱 Satu grup :
BOHONG
Untuk pertama
kalinya hari itu…
Hanin tertawa
kecil.
Pelan sekali.
Hampir tidak terdengar.
Lalu ia
menyandarkan kepala ke sofa sambil menatap langit malam kota dari balik jendela
apartemennya.
Sekolah
barunya benar-benar jauh lebih ribut dari yang ia bayangkan.
Dan entah
kenapa…
Pagi di
Garuda High School masih terasa sangat sepi.
Kabut tipis
pagi belum sepenuhnya hilang, sementara embun masih menempel di rumput lapangan
sekolah yang luas.
Biasanya jam
segini sekolah masih kosong.
Belum banyak
guru datang.
Belum ada keributan murid.
Dan koridor sekolah masih sunyi.
Namun satu
sosok sudah lebih dulu berada diarea lapangan.
Hanin.
Gadis itu
sudah terbiasa bangun pagi untuk olahraga sejak kecil. Bahkan sebelum sekolah
dimulai, tubuhnya sudah otomatis ingin bergerak.
Dengan
pakaian olahraga serba hitam dry-fit, fit body dan celana pendek di atas
lutut. Hanin berlari santai mengelilingi lapangan sekolah.
Rambut
panjangnya diikat tinggi, bergerak mengikuti langkahnya.
Napasnya
stabil.
Langkahnya ringan.
Udara pagi
yang dingin justru membuat Hanin terlihat semakin hidup.
Beberapa
petugas sekolah yang datang lebih awal sampai diam memperhatikan dari jauh.
“Anak baru
itu rajin banget…”
“Pantes
fisiknya kayak atlet.”
Sementara
Hanin tetap fokus pada larinya.
Earphone
kecil terpasang di telinganya.
Playlist musik pagi mengalun pelan menemani langkahnya.
Namun
ketenangan pagi itu mendadak berubah saat suara mesin mobil terdengar memasuki
area parkir sekolah.
GRRRR...
Sebuah jeep
hitam doff berhenti cukup kasar dekat lapangan.
Mobil yang
sangat familiar bagi satu sekolah.
Petra and The
Gang.
Aneh memang.
Biasanya
mereka selalu datang paling mepet bahkan sering terlambat.
Tapi pagi ini
justru muncul saat sekolah bahkan belum benar-benar buka.
Pintu jeep
terbuka satu per satu.
Reno turun
sambil menguap.
“Ngantuk anjir…”
“Makanya
jangan main PS sampe jam tiga,” sahut yang lain.
Namun Petra
yang turun paling akhir mendadak diam.
Tatapannya
langsung tertuju pada satu titik di lapangan.
“Hah?” gumam
Reno bingung melihat Petra berhenti jalan.
Lalu mereka
semua mengikuti arah pandangan Petra.
Dan di sana…
Hanin sedang
berlari santai di bawah cahaya matahari pagi.
Keringat
tipis di lehernya berkilau terkena sinar matahari.
Langkahnya stabil dan ringan seperti atlet profesional.
Aura Hanin
pagi itu benar-benar berbeda.
Tidak dingin
seperti di kelas.
Tidak menyeramkan seperti saat sparing.
Justru
terlihat tenang…
dan cantik dengan cara yang sederhana.
Reno sampai
melongo.
“Buset…”
“Dia manusia
apa AI sih?”
Sementara
Petra hanya diam memperhatikan Hanin berlari mengelilingi lapangan.
Untuk pertama
kalinya sejak lama…
Pagi Petra
terasa tenang.
Tanpa
tawuran.
Tanpa keributan.
Tanpa masalah.
Hanya suara
langkah kaki Hanin di lapangan dan udara pagi yang dingin.
Lalu sudut
bibir Petra naik pelan.
“Cantik
banget…” gumamnya lirih.
“Ketua mulai
kambuh,” celetuk Reno.
Namun Petra
bahkan tidak mendengar lagi ocehan teman-temannya.
Karena
matanya masih terpaku pada Hanin yang terus berlari di bawah langit pagi Garuda
High School.
━
Hanin terus
berlari memutari lapangan dengan ritme stabil.
Satu putaran.
Dua putaran.
Lima putaran.
Keringat
mulai membasahi leher dan pelipisnya, namun napasnya tetap teratur seolah
tubuhnya sudah terbiasa dengan latihan seperti itu.
Dari pinggir
lapangan, Petra dan Trouble Boy masih diam memperhatikan.
“Dia udah
lari berapa lama?” tanya Reno sambil melirik jam.
“Dari kita
dateng,” jawab Petra singkat.
“Anjir… gue
jalan ke kantin aja ngos-ngosan.”
Petra
terkekeh kecil tanpa mengalihkan pandangan.
Sementara
Hanin akhirnya memperlambat langkahnya setelah hampir tiga puluh menit berlari
nonstop.
Ia berhenti
di pinggir lapangan sambil mengatur napas pelan.
Embun pagi
masih terasa dingin, membuat uap tipis keluar dari napasnya.
Hanin
mengambil botol minum dari tas olahraga lalu meneguk air beberapa kali.
Keringat
tipis membuat wajahnya terlihat segar, bukan berantakan.
Malah justru
semakin cantik.
“Gila…” gumam
salah satu anggota Trouble Boy. “Dia keliatan kayak karakter utama
drakor.”
Petra refleks
menyikut temannya.
“Jangan liatin terus.”
“Lah lu dari
tadi juga...”
“Diam.”
━
Setelah
melakukan stretching ringan, Hanin mengambil tasnya lalu berjalan menuju gedung
sekolah.
Langkahnya
santai melewati dekat Petra dan gengnya.
Beberapa
detik suasana jadi canggung.
Reno bahkan
sampai salah tingkah mau nyapa atau enggak.
Namun Hanin
hanya melirik sekilas ke arah mereka.
“Pagi.”
Dan itu saja
sudah cukup membuat satu geng mendadak bengong.
“Dia… nyapa?”
bisik Reno tidak percaya.
Petra yang
paling depan malah otomatis membalas cepat.
“P-pagi.”
Hanin
mengangguk kecil lalu melanjutkan langkah menuju wash room khusus dekat area
olahraga.
Begitu pintu
tertutup…
Barulah Trouble
Boy langsung ribut.
“WOYYYY KETUA
DISAPA!”
“ANJIR GUE
DENGER SENDIRI!”
“Progress
ketua naik 1%!”
Petra memutar
mata malas tapi senyum kecil di wajahnya sulit disembunyikan.
—
Di dalam wash
room, Hanin mandi cepat menggunakan fasilitas khusus atlet sekolah.
Air dingin
langsung menyegarkan tubuhnya setelah olahraga pagi.
Beberapa
menit kemudian Hanin keluar dengan penampilan yang jauh berbeda.
Seragam
sekolahnya sudah rapi.
Kemeja putih bersih, Almamater hitam.
Rok hitam selutut.
Dasi terpasang rapi.
Rambutnya
yang tadi diikat tinggi kini dibiarkan terurai sedikit lembap.
Saat Hanin
berjalan keluar koridor pagi sekolah…
Beberapa
murid yang baru datang langsung menoleh.
Karena
auranya benar-benar berubah lagi.
Dari atlet
pagi hari…
menjadi siswi elegan yang sulit diabaikan siapa pun.
Dan dari
kejauhan, Petra yang masih berdiri dekat lapangan hanya bisa menghela napas
kecil sambil memperhatikan Hanin.
“Fix,”
gumamnya pelan.
“Gue tamat.”
━
Koridor
sekolah mulai ramai seiring matahari yang semakin naik.
Suara langkah
kaki murid, obrolan pagi, dan bunyi loker mulai memenuhi Garuda High School.
Sementara itu
Hanin berjalan santai menuju kelas 2-B sambil membawa tas hitamnya di satu
bahu.
Beberapa
murid yang berpapasan langsung melirik diam-diam.
Sebagian
karena kagum.
Sebagian lagi karena penasaran dengan rumor tentang dirinya yang makin menyebar
cepat.
Namun Hanin
tetap terlihat tenang seperti biasa.
Sesampainya
di kelas, Hanin meletakkan tasnya di kursi dekat jendela lalu mengeluarkan
headset dan botol minum kecil.
Karena jam
masuk masih lama, kelas belum terlalu ramai.
Hanin
kemudian keluar lagi menuju kantin untuk mencari sarapan.
Pagi itu
kantin sekolah masih jauh lebih sepi dibanding jam istirahat.
Hanya ada
beberapa siswa dan penjaga kantin yang sedang menyiapkan makanan.
Hanin memesan
roti panggang, telur, dan susu dingin sebelum duduk di meja dekat jendela
terbuka.
Angin pagi
masuk pelan membuat suasana terasa nyaman.
Untuk
beberapa menit…
akhirnya Hanin bisa menikmati pagi dengan damai.
Namun tentu
saja ketenangan itu tidak pernah bertahan lama.
“Heh.”
Suara berat
itu terdengar dari belakang.
Hanin bahkan
tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Damian datang
dengan tangan di saku celana sambil membawa dua cup kopi panas.
Cowok itu
duduk santai di pinggir Hanin, lalu meletakkan salah satu kopi di meja.
“Buat aku?”
tanya Hanin.
“Kalau bukan
buat lo, gue gak mungkin rela beli dua.”
Hanin
langsung mengambil kopi itu tanpa sungkan.
“Baik juga
hari ini.”
“Takut lo
ngambek.”
Hanin
mendengus kecil sambil mulai memakan sarapannya.
Damian
memperhatikan adiknya beberapa detik lalu tersenyum tipis.
“Betah?”
“Lumayan.”
“Lumayan
doang?”
Hanin diam
sebentar sebelum menjawab pendek.
“Sekolahnya
rame.”
Damian
langsung tertawa kecil karena tahu maksud “rame” versi Hanin jelas mengarah
pada Petra dan segala kekacauannya.
Tak lama
kemudian beberapa siswa yang masuk kantin mulai sadar siapa yang sedang duduk
di sana.
Dan lagi-lagi
suasana langsung heboh.
“Itu kakaknya
Hanin…”
“Anjir visual
keluarganya gak masuk akal.”
“Fix keluarga
sultan.”
Damian yang
sadar jadi perhatian malah santai menyeruput kopinya.
Berbeda
dengan Hanin yang memilih mengabaikan semuanya.
Namun dari
arah pintu kantin…
Sekelompok
cowok baru saja masuk.
Dan begitu
melihat Hanin duduk bersama Damian...
Reno langsung
berbisik panik.
“Ketua.”
Petra yang
baru masuk otomatis melihat ke arah meja Hanin.
Lalu berhenti
berjalan.
Karena entah
kenapa…
Pemandangan Hanin yang duduk santai sarapan bersama kakaknya di bawah cahaya pagi terasa terlalu indah untuk diabaikan.
━
Damian
menopang dagunya sambil memperhatikan Hanin yang sedang fokus memakan roti
panggangnya dengan wajah datar seperti biasa.
Padahal di
luar sana…
Satu sekolah
hampir heboh tiap kali nama Hanin disebut.
Mulai dari
grup kelas, grup sekolah, sampai akun gosip siswa penuh dengan pembahasan
tentang dirinya.
✨
“Siswi pindahan cantik anak sultan.”
✨ “Atlet
taekwondo monster.”
✨ “Cewek
pertama yang bikin Petra gak berkutik.”
Namun
lucunya…
Pusat dari
semua keributan itu justru terlihat paling tenang.
Damian sampai
tersenyum kecil sendiri.
“Lo tau gak
sekarang lo viral satu sekolah?” tanyanya santai.
Hanin
menyeruput susu dinginnya.
“Bodo amat.”
“Kasian
anak-anak sana heboh sendiri.”
“Biarin.”
Damian
tertawa kecil.
Memang
seperti itulah Hanin.
Semakin orang
ribut soal dirinya, semakin dia tidak peduli.
━
Sementara itu
dari sisi lain kantin, Petra dan Trouble Boy akhirnya ikut duduk untuk
sarapan.
Namun suasana
kantin jelas berbeda sejak Hanin dan Damian ada di sana.
Banyak mata
diam-diam memperhatikan dua bersaudara itu.
Dan bukan
cuma Hanin yang jadi perhatian.
Damian pun
mulai menjadi perbincangan baru.
Visualnya
yang dingin dan dewasa sukses menarik perhatian banyak siswi.
Cowok tinggi
dengan aura mahal, wajah tampan tajam, dan pembawaan santai itu benar-benar
sulit diabaikan.
“Anjir
kakaknya Hanin ganteng banget…”
“Vibesnya
beda jir.”
“Kayak
aktor.”
Namun berbeda
dengan Hanin yang cenderung cuek…
Damian justru
jauh lebih ramah.
Saat beberapa
siswa cowok menyapanya di kantin, Damian langsung membalas santai.
“Pagi bro.”
“Latihan
futsal nanti jadi gak?”
“Woi kopi gue
mana?”
Dalam waktu singkat
Damian malah sudah akrab dengan beberapa cowok kelas 3.
Bahkan
sekarang ia duduk sambil ngobrol santai dengan geng barunya yang sama-sama
absurd.
Suasana meja
Damian penuh tawa.
Sementara
meja Hanin tetap tenang dan damai.
Kontras
sekali.
Reno sampai
melirik Damian kagum.
“Ketua.”
“Hm?”
“Kakaknya
Hanin ternyata gampang berbaur ya.”
Petra
mengangguk kecil sambil menggigit rotinya.
“Beda sama
adeknya.”
“Adiknya mah
auranya kayak final boss.”
Petra
terkekeh kecil.
Namun matanya
kembali tanpa sadar mencari Hanin.
Gadis itu
sedang memainkan sedotan minumannya sambil sesekali mendengar Damian mengobrol.
Tenang.
Kalem.
Dan tetap jadi pusat perhatian tanpa usaha apa pun.
Lalu salah
satu anggota Trouble Boy nyeletuk pelan.
“Ketua…
serius nanya.”
“Apa.”
“Kalau
someday lo jadian sama Hanin…”
“Terus?”
“Kayaknya
bukan lo yang dominan deh.”
Satu meja
langsung pecah ketawa.
Sementara
Petra hanya menyeringai sambil melirik Hanin dari jauh.
“Ya gapapa.”
“Sekali-sekali
gue nurut orang.”
━
Di meja
sebelah, suasana geng Damian semakin berisik.
Beberapa
cowok kelas 3 terus melirik diam-diam ke arah Hanin yang masih duduk santai
sambil meminum susu dinginnya.
Sampai
akhirnya salah satu dari mereka gak tahan lagi.
“Bro…” bisik
seorang cowok bernama Arga sambil nyolek Damian. “Kenalin lah.”
Damian
menaikkan alis.
“Siapa?”
“Itu adek lo
lah anjir.”
Yang lain
langsung ikut nimbrung.
“Serem sih…
tapi cantik banget.”
“Gue takut
disepak.”
“Justru itu
menantang.”
Damian
langsung ngakak kecil mendengar ocehan mereka.
Sementara
Hanin masih fokus memainkan sedotan minumannya tanpa peduli kalau dirinya
sedang jadi topik utama satu kantin.
“Yaudah,”
kata Damian santai sambil berdiri. “Sini.”
Seketika satu
geng langsung heboh sendiri merapikan rambut dan seragam.
“Woi jangan
norak.”
“Gimana muka
gue?”
“Kayak
pengangguran.”
“Anjir.”
Damian
geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju meja Hanin dengan beberapa temannya
di belakang.
Melihat
rombongan cowok mendekat, Hanin perlahan mengangkat pandangan.
Tatapannya
datar seperti biasa.
Damian
berhenti di samping meja adiknya.
“Hanin.”
“Hm?”
“Kenalan
dulu.”
Hanin melirik
satu per satu wajah asing di belakang Damian.
Cowok-cowok
itu yang tadinya rame mendadak jadi jaim semua.
“Ini Arga,”
kata Damian menunjuk cowok tinggi berambut belah tengah.
Arga langsung
tersenyum canggung.
“H-hai.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Hai.”
“Ini Rafi.”
“Halo Hanin…”
“Dito.”
“Halo…”
“Bagas... eh
bukan kakak lo, beda Bagas,” celetuk Damian yang langsung bikin semua ketawa.
Hanin sampai
tersenyum tipis mendengarnya.
Dan itu
sukses bikin satu geng Damian langsung melongo.
“ANJIR DIA
BISA SENYUM?” bisik salah satu dari mereka terlalu keras.
Damian ngakak
spontan.
Sementara
Hanin kembali datar.
“Jangan
lebay.”
“Maaf
reflek,” jawab Arga cepat.
Tak lama
suasana meja Hanin malah jadi cukup nyaman.
Meski Hanin
tidak banyak bicara, setidaknya ia tidak mengusir mereka.
Dan itu sudah
lebih dari cukup.
Dari
kejauhan, meja Trouble Boy mulai memperhatikan situasi itu.
Reno langsung
melirik Petra pelan.
“Ketua…”
“Apa lagi.”
“Itu… Hanin
lagi dikerubungin cowok.”
Petra
otomatis menoleh.
Dan benar
saja.
Hanin sedang
duduk dikelilingi geng Damian yang tertawa santai di meja kantin.
Petra
langsung menyipitkan mata.
“Akrab
banget.”
Reno menatap
ketuanya curiga.
“…Lo cemburu?”
Petra
langsung berdiri sambil mengambil minumannya.
“Enggak.”
“Terus mau
kemana?”
“Sarapan
pindah meja.”
━
Petra
berjalan menjauh dari meja Trouble Boy sambil membawa kaleng kopinya.
Langkahnya
santai, tapi wajahnya jelas tidak sesantai biasanya.
Reno dan yang
lain hanya saling pandang menahan tawa.
“Fix
cemburu,” bisik Reno pelan.
“Parah banget
malah.”
“Padahal
belum jadi apa-apa.”
Sementara
Petra memilih duduk di meja paling ujung kantin yang agak jauh dari keramaian.
Posisinya
membelakangi meja Hanin.
Seolah
sengaja menghindari pandangannya sendiri.
Kalau
biasanya Petra selalu jadi pusat suara paling ribut di kantin, kali ini cowok
itu malah diam sambil memainkan kaleng minumannya.
Tatapannya
kosong ke arah luar jendela kantin.
Namun
samar-samar suara tawa dari meja Hanin masih terdengar.
Dan itu
justru makin mengganggu pikirannya.
“…Ngapain sih
gue begini,” gumam Petra pelan.
Untuk pertama
kalinya, Petra merasa asing dengan dirinya sendiri.
Biasanya dia
tidak pernah peduli siapa yang dekat dengan siapa.
Tapi
sekarang…
Melihat Hanin
dikelilingi cowok lain saja rasanya aneh.
Bukan marah.
Lebih
tepatnya…
tidak suka.
Di sisi lain
kantin, Damian yang tanpa sengaja melihat Petra pindah meja langsung
menyeringai kecil.
Cowok itu
cukup peka membaca situasi.
“Hmm…” gumam
Damian pelan sambil melirik Hanin.
“Apa?” tanya
Hanin datar.
“Kayaknya ada
yang ngambek.”
Hanin
mengikuti arah pandangan Damian.
Dan benar
saja.
Petra duduk
sendirian jauh dari gengnya.
Hanin menatap
beberapa detik lalu kembali meminum susunya dengan santai.
“Bukan
urusanku.”
Damian
tertawa kecil.
“Dingin
banget.”
“Memangnya
harus peduli?”
“Enggak sih,”
jawab Damian santai. “Tapi lucu aja.”
Sementara itu
Petra masih diam di mejanya.
Sampai
tiba-tiba satu bayangan muncul di depannya.
“Ketua.”
Petra
mendongak malas.
Reno berdiri
sambil menahan senyum jahil.
“Apa.” Sahut Petra.
“Lo tuh serem
kalau lagi tawuran…”
Petra
menyipitkan mata.
“Maksud?”
“Tapi lebih
serem lagi pas cemburu.”
“Gue gak
cemburu.”
“Terus kenapa
pindah meja?”
Petra
langsung melempar sedotan ke arah Reno.
“Pergi sana.”
━
TEEEETTTT—!
Suara bel
masuk menggema nyaring di seluruh area sekolah.
Keramaian
kantin perlahan bubar.
Siswa-siswi
yang tadi masih santai sarapan mulai beranjak menuju kelas masing-masing sambil
masih mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang Hanin dan Damian yang
belakangan jadi pusat perhatian baru Garuda High School.
Kursi-kursi
mulai kosong.
Suasana kantin kembali lebih tenang.
Damian
berdiri lebih dulu sambil merapikan seragamnya.
“Yaudah gue
duluan,” katanya pada geng barunya.
“Siap bos.”
“Titip salam
buat adek lo,” celetuk Arga yang langsung membuat teman-temannya cekikikan.
Damian malah
tertawa santai.
“Ngomong sendiri sana kalau berani.”
Cowok-cowok
itu langsung kompak menggeleng cepat.
“Enggak
dulu.”
“Nyawa
mahal.”
Sementara
Hanin sudah berdiri sambil membawa botol minum dan ponselnya.
“Duluan,
Kak.”
Damian
mengacak pelan kepala adiknya.
“Jangan bikin geger dulu sebelum jam pertama.”
“Aku gak
pernah bikin geger.”
“Justru itu
masalahnya,” jawab Damian sambil tertawa.
Karena tanpa
Hanin sadari…
Keberadaannya
saja sudah cukup bikin satu sekolah ribut.
━
Di sisi lain,
Petra akhirnya berdiri dari meja pojoknya.
Wajahnya
sudah kembali santai seperti biasa, meski Reno masih senyum-senyum sendiri
melihat tingkah ketuanya tadi.
“Udah gak
ngambek?” goda Reno.
Petra
memasukkan tangan ke saku.
“Bacot.”
“Padahal dari
tadi ngeliatin terus.”
“Reno.”
“Iya ketua
cantik.”
Petra hampir
melempar kaleng minumnya lagi kalau saja Hanin tidak kebetulan lewat di dekat
mereka.
Dan anehnya…
Petra
langsung diam.
Hanin
berjalan melewati mereka dengan tenang.
Beberapa
detik tatapan mereka bertemu.
“Permisi,”
ucap Hanin singkat.
Petra
otomatis minggir memberi jalan.
“…”
Reno sampai
melotot melihat itu.
Ketua Trouble
Boy yang biasanya gak pernah minggir buat siapa pun…
barusan nurut otomatis sama Hanin.
Begitu Hanin
pergi menjauh menuju koridor kelas, Reno langsung menepuk pundak Petra pelan.
“Ketua.”
“Apa lagi.”
“Lo udah gak
ketolong.”
Petra hanya
mendecakkan lidah pelan, tapi sudut bibirnya terangkat kecil tanpa sadar.
Sementara di
luar kelas, koridor sekolah mulai ramai oleh murid yang berjalan cepat sebelum
guru datang.
Dan tanpa ada
yang sadar…
Cerita Hanin
dan Petra baru saja benar-benar dimulai.
Chapter 4
Jam pelajaran
pertama dimulai.
Suasana kelas
2-B yang biasanya ribut perlahan mulai tenang saat guru matematika masuk
membawa beberapa buku tebal.
“Pagi
anak-anak.”
“Pagiii buu…”
Sebagian
menjawab lesu, sebagian lagi masih sibuk ngobrol sendiri.
Petra sendiri
duduk santai di kursi belakang sambil memutar pulpen di jarinya. Biasanya
pelajaran matematika adalah waktu terbaik untuk tidur.
Namun hari
ini berbeda.
Karena
matanya sesekali melirik ke arah Hanin yang duduk dekat jendela.
Gadis itu
terlihat fokus membuka buku catatan tanpa terganggu suasana kelas sedikit pun.
“Baik,” ujar
guru sambil menulis besar di papan tulis.
KALKULUS
Seketika satu
kelas langsung terdengar mengeluh.
“Ya ampun…”
“Baru pagi
udah nyerah hidup.”
“Bu saya
belum move on dari aljabar…”
Guru hanya
tertawa kecil lalu mulai menjelaskan materi dasar limit dan turunan fungsi.
Namun baru
beberapa menit menjelaskan, beliau tiba-tiba menulis satu soal cukup rumit di
papan.
Bahkan
beberapa siswa langsung bengong melihatnya.
“Siapa yang
bisa coba kerjakan?” tanya guru.
Kelas
langsung sunyi.
Beberapa
murid pura-pura sibuk buka buku.
Yang lain malah menunduk menghindari kontak mata.
“Ini bahkan
belum diajarin…” bisik seseorang pelan.
Guru
tersenyum.
“Coba saja.”
Namun tak
disangka...
Kursi dekat
jendela bergerak.
Hanin
berdiri.
Satu kelas
otomatis menoleh.
Petra yang
tadinya setengah ngantuk langsung duduk tegak.
Hanin
berjalan tenang ke depan kelas mengambil spidol dari meja guru.
“Silakan,”
kata guru sedikit penasaran.
Tanpa banyak
bicara, Hanin mulai menulis langkah demi langkah penyelesaian soal di papan
tulis.
Tulisan
tangannya rapi.
Perhitungannya cepat.
Dan yang paling mengejutkan…
Tidak ada
satu langkah pun yang salah.
Beberapa
murid mulai melotot.
“Anjir…”
“Dia ngerti?”
“Padahal
belum diajarin…”
Guru
matematika sampai ikut diam memperhatikan.
Hanin
menyelesaikan baris terakhir lalu menutup spidol.
“Sudah, Bu.”
Dan hasil
akhirnya benar.
Kelas
langsung hening beberapa detik.
Guru bahkan
terlihat genuinely terkejut.
“Kamu sudah belajar
kalkulus sebelumnya?”
Hanin
menggeleng kecil.
“Belum terlalu.”
“Lalu ini?”
“Ayah saya
suka ngajarin matematika.”
Satu kelas
makin speechless.
Petra sampai
terkekeh pelan di kursinya.
“Perfect
banget sih…” gumamnya lirih.
Guru
tersenyum kagum.
“Bagus sekali, Hanin. Cara berpikirmu cepat.”
Hanin hanya
mengangguk sopan lalu kembali ke tempat duduknya.
Dan begitu ia
duduk...
BRAK!
Reno
tiba-tiba menjatuhkan bukunya sendiri karena terlalu syok.
“WOI DIA
OTAKNYA ADA BERAPA?” bisiknya panik.
Sementara
grup kelas langsung ramai diam-diam.
📱 2-B ISI ORANG GILA 🔥
💬 Nisa:
Hanin manusia
apa 😭
💬 Reno:
atlet ✔
cantik ✔
kaya ✔
pinter ✔
ketua kita kalah saing 😔
💬 Petra:
diem lo
💬 Siswa lain:
PETRA PANIK
WOY
Petra
langsung mematikan layar HP-nya sambil menyender di kursi.
Namun senyum
kecil di wajahnya tidak bisa hilang.
Karena makin
lama mengenal Hanin…
Makin terasa
kalau gadis itu memang berada di level yang berbeda dari siapa pun di sekolah
ini.
━
Suasana kelas
2-B hari itu terasa aneh.
Aneh dalam
arti… terlalu tenang.
Biasanya
kelas paling berisik di angkatan itu tidak pernah benar-benar damai. Selalu ada
suara lemparan kertas, candaan keras, atau Petra dan Trouble Boy yang
bikin kekacauan kecil.
Namun sejak
Hanin duduk di kelas itu…
Entah kenapa
suasananya berubah jauh lebih tertata.
Bahkan Petra
yang biasanya paling sulit diam pun hari ini terlihat lebih santai dan tidak
mencari masalah.
Guru
matematika keluar kelas dengan wajah masih kagum setelah melihat kemampuan
Hanin tadi.
Dan beberapa
menit kemudian, guru bahasa Inggris masuk membawa beberapa lembar kertas.
“Good
morning, everyone.”
“Good
morning, miss…”
Hari itu
ternyata kelas akan mengadakan conversation test dadakan.
Sontak banyak
siswa langsung panik.
“HAH TES?”
“Mati gue…”
“Bahasa
Inggris gue mentok yes no thank you.”
Guru
tersenyum geli melihat reaksi murid-muridnya.
“Tenang saja.
Hari ini hanya percakapan biasa.”
Namun tetap
saja satu kelas langsung tegang.
Tes dilakukan
dengan siswa dipanggil satu per satu ke depan untuk berbicara langsung
menggunakan bahasa Inggris.
Beberapa
siswa masih terbata-bata.
Ada juga yang gugup sampai salah grammar.
Petra sendiri
bahkan terlihat malas.
“Kalau gue
ngomong bahasa Jaksel bisa gak?” bisiknya pada Reno.
“Lo ngomong
bahasa manusia aja susah.”
Tak lama
kemudian guru melihat daftar nama.
“Hanin.”
Beberapa
siswa langsung menoleh.
Karena jujur
saja…
setelah kejadian kalkulus tadi, ekspektasi mereka pada Hanin sudah tidak normal
lagi.
Namun Hanin
terlihat biasa saja.
Ia bahkan
tampak baru sadar kalau hari itu ada tes.
Gadis itu
berdiri tenang lalu berjalan ke depan kelas.
“Okay,
Hanin,” ujar guru dalam bahasa Inggris. “Please introduce yourself and tell us
about your hobbies.”
Dan tanpa
ragu sedikit pun..
“Good
morning, everyone. My name is Hanin Adreena. I moved here recently, and
honestly this school is much louder than my previous one.”
Logatnya
langsung membuat satu kelas menoleh.
Fluent.
Natural.
Dan sangat jelas.
Beberapa
siswa sampai melotot.
“Anjir…”
“Pronunciation-nya…”
Guru pun
terlihat terkejut senang.
“Oh! Your
English is very good.”
“Thank you,
Miss.”
Percakapan
mereka berlanjut cukup panjang.
Dan Hanin
menjawab semuanya dengan santai tanpa terlihat berpikir keras sedikit pun.
Namun
puncaknya adalah saat guru bercanda bertanya,
“How many
languages can you speak?”
Hanin
menjawab dengan tenang,
“Five.”
Kelas
langsung sunyi.
Guru tertawa
kecil mengira Hanin bercanda.
“Really?”
Hanin
mengangguk.
“I can speak
English, Japanese, Mandarin, French, and German.”
Satu kelas:
“…”
Petra:
“…”
Reno sampai
memegang kepala sendiri.
“Gue baru
nguasain bahasa Sunda sama marah-marah.”
Guru bahkan
tampak genuinely syok.
“Can you
demonstrate one of them?”
Hanin
berpikir sebentar lalu menjawab santai menggunakan bahasa Jepang dengan
pelafalan yang sangat natural.
“はじめまして、よろしくお願いします。”(
Beberapa
siswa langsung heboh.
“WOYYYYY!”
“Itu anime
keluar dunia nyata!”
Belum
selesai.
Guru malah
makin penasaran dan mencoba mengajaknya sedikit conversation bahasa Prancis
sederhana.
Dan Hanin
membalas dengan lancar.
Kini satu
kelas benar-benar kehilangan akal sehat.
Petra sampai
tertawa tidak percaya sambil menyender di kursinya.
“Gue yakin
dia NPC cheat.”
Sementara
Hanin tetap tenang seperti semua itu hal biasa.
Padahal tanpa
sadar…
Satu kelas
sedang melihat seseorang yang benar-benar berbeda level dari mereka.
━
Suasana kelas
sudah benar-benar tidak terkendali.
Bukan ribut
karena berisik…
Tapi karena
terlalu kagum.
Bahkan
beberapa siswa sekarang duduk dengan posisi maju ke depan meja masing-masing
hanya untuk mendengar Hanin bicara.
Guru bahasa
Inggris sendiri terlihat makin antusias.
“Well then,”
katanya sambil tersenyum. “Let’s have a real conversation.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Sure.”
Dan sejak
detik itu…
Kelas 2-B
berubah seperti ruang interview internasional.
Guru mulai
mengajak Hanin berbicara penuh menggunakan bahasa Inggris tanpa campuran bahasa
Indonesia sedikit pun.
Tentang
sekolah lama.
Hobi.
Olahraga.
Musik.
Sampai kehidupan sehari-hari.
Dan Hanin
menjawab semuanya dengan sangat natural.
Bukan sekadar
lancar…
Tapi
benar-benar seperti native speaker.
Logatnya
halus.
Pelafalannya bersih.
Intonasinya tenang dan elegan.
“Honestly, I
prefer peaceful places,” ucap Hanin santai. “That’s why I usually spend my
evenings alone after training.”
Satu kelas
langsung bengong.
“ANJIR…”
“Itu subtitle
mana subtitle…”
“Gue cuma
ngerti honestly doang.”
Petra yang
duduk di belakang bahkan sampai menatap Hanin tanpa berkedip.
Biasanya dia
paling malas pelajaran.
Tapi
sekarang?
Cowok itu
benar-benar fokus mendengarkan suara Hanin bicara.
Dan anehnya…
Cara Hanin
berbicara terdengar sangat nyaman didengar.
Tenang.
Lembut.
Tapi tetap elegan.
Guru sampai
tertawa kagum di tengah percakapan mereka.
“You sound
like you lived abroad for years.”
Hanin
menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
“Not really.
I just like learning languages.”
“Your accent
is impressive.”
“Thank you,
Miss.”
Sementara itu
satu kelas sudah kehilangan harapan untuk terlihat keren lagi di depan Hanin.
Reno bahkan
menoleh ke Petra dengan wajah pasrah.
“Ketua.”
“Hm?”
“Lo
saingannya berat banget.”
Petra masih
menatap Hanin di depan kelas.
Lalu
tersenyum kecil tanpa sadar.
“Makanya
menarik.”
Di depan
kelas, guru akhirnya menutup conversation mereka dengan tepuk tangan kecil.
Dan secara
spontan…
Satu kelas
ikut bertepuk tangan heboh.
“GILAAA!”
“KEREN
BANGET!”
“Hanin nikah
sama kamus aja sana!”
Hanin yang
tiba-tiba ditepuki satu kelas malah terlihat sedikit bingung.
Ia hanya
membungkuk kecil sopan sebelum kembali ke tempat duduknya.
Dan saat
Hanin berjalan melewati bangku belakang…
Petra
tiba-tiba bicara pelan.
“Lo beneran
manusia?”
Hanin
berhenti sebentar lalu melirik Petra datar.
“Kadang
enggak.”
Jawaban itu
sukses bikin satu kelas pecah ketawa.
━
TEETTT—!
Bel istirahat
akhirnya berbunyi nyaring.
Satu kelas
langsung berubah ricuh dalam hitungan detik.
Kursi
bergeser.
Suara obrolan pecah di mana-mana.
Beberapa siswa langsung keluar kelas seolah baru bebas dari penjara akademik.
“Gue lapar.”
“Ke kantin
woy!”
“Petra
traktir!”
“Ogah.”
Sementara itu
Hanin tetap duduk tenang beberapa detik sambil mengecek ponselnya.
📱 Basket Putri GHS 🏀
💬 Nisa:
Hanin jadi
kan ke lapang?
💬 Aurel:
Main santai
aja sebelum latihan resmi nanti sore
💬 Hanin:
Oke.
Hanin
memasukkan HP-nya ke saku lalu berdiri mengambil botol minumnya.
“Pergi dulu,”
ucapnya singkat pada beberapa teman kelas di dekatnya.
Dan lagi-lagi
satu kelas otomatis memperhatikan pergerakannya.
Entah kenapa…
setiap Hanin bergerak, auranya selalu mencuri perhatian.
Saat Hanin
keluar kelas, Petra yang tadinya rebahan di kursi langsung membuka mata.
“Mau kemana
dia?”
Reno refleks
menjawab,
“Kayaknya ke basket.”
Petra
mendecakkan lidah kecil lalu berdiri juga.
“Ngapain?”
“Liat
bentar.”
“ALASAN.”
Petra
melempar penghapus ke arah Reno sebelum keluar kelas.
━
Lapangan
basket sekolah siang itu cukup ramai.
Beberapa
anggota tim basket putri sudah berkumpul sambil melakukan pemanasan ringan.
Begitu Hanin
datang membawa bola basket yang dipinjam dari gudang olahraga, suasana langsung
berubah lebih hidup.
“Hanin sini!”
“Main tiga
lawan tiga dulu!”
“Kita pengen
liat skill mantan atlet.”
Hanin
tersenyum tipis lalu mengikat rambutnya lebih tinggi.
“Jangan
nyesel kalau kalah.”
“WOYYYY dia
mulai.”
Beberapa
siswi langsung tertawa heboh.
Dan beberapa
menit kemudian permainan dimulai.
Awalnya semua
mengira Hanin hanya bagus di taekwondo.
Sampai...
DUK DUK DUK
Hanin
menggiring bola dengan gerakan cepat dan ringan.
Satu orang
dilewati.
Dua orang tertinggal.
SWISH!
Shoot
pertamanya masuk bersih tanpa menyentuh ring.
“ANJIRRR!”
“BERSIH
BANGET!”
Belum
selesai.
Gerakan Hanin
di lapangan benar-benar berbeda.
Cepat.
Tenang.
Dan sangat presisi.
Bahkan
footwork-nya terlihat seperti atlet profesional.
Tak butuh
waktu lama sampai area sekitar lapangan mulai dipenuhi murid lain lagi.
“Katanya
Hanin jago basket juga…”
“WOY CEPET
SINI!”
Dan tentu
saja…
Di tribun
pinggir lapangan, Petra dan Trouble Boy kembali muncul.
Reno sampai
memegang kepala sendiri melihat Hanin yang baru saja melakukan three point
sempurna.
“Ketua…”
“Hm?”
“Cewek lo
overpowered.”
Petra hanya
tersenyum kecil sambil memperhatikan Hanin yang tertawa tipis bersama tim
basketnya.
Untuk pertama
kalinya…
Petra melihat
sisi Hanin yang lebih ringan.
Dan entah
kenapa…
itu jauh lebih mematikan daripada tendangannya.
━
Awalnya hanya
beberapa anggota basket putri yang bermain santai saat jam istirahat.
Namun dalam
waktu kurang dari lima belas menit…
Lapangan
basket Garuda High School berubah total seperti arena pertandingan besar.
Semakin
banyak siswa berdatangan.
Tribun kecil mulai penuh.
Bahkan koridor lantai dua yang menghadap lapangan ikut dipadati murid yang
penasaran.
Semua karena
satu orang.
Hanin.
DUK!
DUK!
DUK!
Suara
pantulan bola menggema cepat di lapangan.
Hanin
bergerak lincah melewati lawan-lawannya dengan dribble yang bersih dan ringan.
Gerakannya benar-benar enak dilihat, tidak berlebihan, tapi efektif dan elegan.
“OPER! OPER!”
“WOY JAGA
HANIN!”
Namun menjaga
Hanin ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.
BRUKK!
Satu fake
move sukses membuat lawannya salah arah.
Dan...
SWISH!
Three point
lagi.
Lapangan
langsung pecah.
“GILAAAA!”
“MASUK LAGI
WOYYY!”
“ITU CEWEK
APA CHEAT CODE?!”
Beberapa
cowok tim basket putra yang ikut menonton sampai melongo tidak percaya.
“Footwork-nya
bagus banget…”
“Release
shoot-nya bersih jir…”
“Dia beneran
atlet.”
Hanin sendiri
tetap bermain santai.
Sesekali
senyum kecil muncul saat teman setimnya heboh sendiri merayakan poin.
Dan justru
senyum kecil itulah yang makin membuat orang susah mengalihkan pandangan
darinya.
━
Tak lama
kemudian, Damian datang bersama geng cowok kelas 3-nya.
Mereka
langsung berhenti begitu melihat keramaian luar biasa di lapangan.
“Anjir rame
banget…”
“Pertandingan
siapa?”
Damian
melirik ke tengah lapangan.
Dan di sana…
Adiknya
sedang melakukan crossover bersih sebelum mencetak layup sempurna.
DUK!
SWISH!
Sorakan
kembali pecah.
Damian
langsung tertawa kecil sambil memasukkan tangan ke saku.
“Pantes.”
Gengnya ikut
ngakak.
“Bro… adek lo
beneran populer banget.”
“Dia tiap
muncul langsung jadi event sekolah.”
Damian hanya
tersenyum bangga lalu ikut berdiri di pinggir lapangan bersama yang lain.
Sementara itu
di sisi tribun lain, Trouble Boy juga sudah memenuhi area.
Petra duduk
paling depan dengan siku bertumpu di lutut, matanya tidak pernah lepas dari
Hanin sedetik pun.
Reno sampai
geleng-geleng kepala.
“Ketua…”
“Hm?”
“Tatapan lo
kayak penonton final NBA.”
Petra
terkekeh kecil tanpa membantah.
Karena jujur
saja…
Ia
benar-benar menikmati melihat Hanin bermain.
Dan lapangan
siang itu terasa hidup bukan karena pertandingan basketnya.
Tapi karena
semua orang sedang menyaksikan seorang gadis yang terlalu sempurna untuk ukuran
anak SMA biasa.
Chapter 5
Sorakan di
lapangan basket masih terus menggema.
Suasana
istirahat yang awalnya santai kini benar-benar berubah seperti pertandingan
antar sekolah.
Banyak murid
berdiri di pinggir lapangan sambil merekam.
Bahkan beberapa guru olahraga ikut memperhatikan dari jauh karena keramaian
yang terlalu mencolok.
Namun suasana
mendadak berubah saat terdengar suara tepukan tangan pelan dari arah belakang
tribun.
CLAP.
CLAP.
CLAP.
Kerumunan
otomatis menoleh.
Enam siswi
kelas 3 berjalan memasuki area lapangan dengan aura yang langsung membuat
suasana sedikit menegang.
Di depan
mereka berdiri seorang cewek tinggi berambut coklat gelap dengan tatapan tajam.
Clara.
Nama yang
cukup terkenal di Garuda High School.
Dulu Clara
adalah kapten tim basket putri sekolah sebelum akhirnya dikeluarkan bersama
gengnya karena sebuah insiden besar yang tidak pernah dijelaskan detail ke
publik.
Meski sudah
keluar dari club resmi…
Nama mereka
masih disegani.
Dan jujur
saja...
cukup ditakuti.
Clara
memasukkan tangan ke saku jaketnya sambil menatap ke arah Hanin yang sedang
memegang bola basket.
“Jadi lo
Hanin?”
Lapangan
langsung sunyi.
Teman-teman
basket Hanin mulai saling pandang gugup.
Karena semua
tahu…
kalau Clara bukan tipe orang yang datang untuk basa-basi.
Hanin
memantulkan bola pelan sekali lalu menatap balik tanpa gentar.
“Iya.”
Clara
menyeringai tipis.
“Katanya jago.”
Reno yang
nonton dari tribun langsung berbisik,
“Wah mulai…”
Petra
menyipitkan mata kecil.
Sementara
Damian yang berdiri di pinggir lapangan langsung memperhatikan lebih serius.
Aura Clara
jelas bukan aura orang iseng.
Lalu Clara
menunjuk lapangan dengan dagunya.
“Tanding.”
Suasana
langsung pecah.
“WOYYYY!”
“SERIUS
NIH?!”
“CLARA TURUN
LAPANG?!”
Bahkan
anggota basket putra mulai ikut mendekat karena sadar sesuatu besar akan
terjadi.
Teman Hanin
terlihat ragu.
“Hanin…
serius?”
Namun Hanin
justru terlihat santai.
“Main biasa
aja kan?”
Jawaban itu
sukses membuat Clara tertawa kecil tidak percaya.
“Lo menarik.”
Tak butuh
waktu lama.
Lapangan
langsung dikosongkan sebagian.
Penonton makin membludak.
Suasana berubah panas dalam hitungan menit.
Dan tepat
siang itu…
Lapangan
basket sekolah resmi berubah menjadi arena pertandingan sengit.
━
Peluit
dibunyikan.
PRITTT!
Dan dalam
sekejap suasana lapangan berubah panas.
Pertandingan
persahabatan itu tidak lagi terasa seperti permainan anak sekolah biasa.
Aura kedua
tim terlalu serius.
Di satu sisi
ada Clara dan gengnya, mantan pemain inti basket putri yang dulu terkenal kuat
dan agresif.
Di sisi lain
ada Hanin bersama tim basket sekarang yang meski belum terlalu solid, memiliki
satu pemain yang benar-benar berbeda level.
Sorakan
penonton menggema di seluruh area sekolah.
“WOYYYYY!”
“CLARA LAWAN
HANIN!”
“INI GILA
SIH!”
Bahkan
beberapa siswa naik ke tribun atas demi mendapat view lebih jelas.
Di pinggir lapangan, Damian kini berdiri lebih dekat dengan tangan terlipat di dada.
Tatapannya
fokus ke arah pertandingan.
Bukan karena
meragukan Hanin.
Tapi karena
ia cukup tahu…
kalau pertandingan bisa berubah brutal kapan saja.
Meski begitu,
Damian tetap tenang.
Karena kalau
ada satu hal yang ia yakini di dunia ini...
Hanin bisa
melindungi dirinya sendiri.
━
Awal
pertandingan berjalan cukup panas.
Clara
benar-benar bermain agresif sejak awal.
DUK!
DUK!
“Jaga dia!”
Dua pemain
langsung menutup pergerakan Hanin.
Namun Clara
justru menyeringai kecil sambil meledek,
“Kirain
sehebat apa.”
Beberapa
gengnya ikut tertawa kecil.
“Baru segini
doang?”
“Viral banget
padahal.”
Hanin masih
diam.
Ia tetap
bermain santai tanpa emosi.
Bahkan
beberapa kali ia memilih mengoper bola dibanding menyerang sendiri.
Namun justru
itu membuat Clara mulai kesal.
Karena
sesantai apa pun Hanin terlihat…
Pergerakannya
tetap sulit dibaca.
Dan lama-lama
Clara sadar satu hal.
Hanin belum
serius.
━
DUK!
Clara
berhasil merebut bola lalu mencetak poin cepat.
Sorakan kecil
terdengar dari pendukungnya.
Clara
berjalan mundur sambil tersenyum miring.
“Ayo dong
Hanin.”
“Masa segini
aja?”
Lapangan
makin panas.
Beberapa
teman Hanin mulai terlihat tegang.
Namun tepat
saat itu…
Hanin
mengambil bola perlahan.
Tatapannya
berubah.
Tenang…
tapi tajam.
Dan Damian
yang melihat itu langsung tersenyum kecil.
“Nah…”
“Itu baru
Hanin.”
Hanin menoleh
singkat pada teman setimnya lalu memberi kode kecil dengan tangannya.
Main serius.
Detik
berikutnya...
Suasana
pertandingan berubah total.
DUK!
DUK!
DUK!
Gerakan Hanin
tiba-tiba jauh lebih cepat.
Satu
crossover bersih langsung membuat lawannya kehilangan keseimbangan.
“WOAH!”
SWISH!
Three point.
Sorakan
penonton meledak.
Namun Hanin
belum berhenti.
Permainannya
sekarang benar-benar berbeda.
Cepat.
Presisi.
Dan dingin.
Ia membaca
arah lawan seperti sudah tahu gerakan mereka sebelum terjadi.
Operannya
akurat.
Defense-nya rapat.
Dan shooting-nya nyaris sempurna.
Clara mulai
panik.
Untuk pertama
kalinya sejak pertandingan dimulai…
Ia tertekan.
“JAGA HANIN!”
Namun
semuanya terlambat.
DUK!
SPIN MOVE!
Hanin memutar
tubuhnya melewati dua pemain sekaligus lalu melompat ringan...
SWISH!
Layup bersih
masuk.
Lapangan
langsung pecah.
“GILAAAAAA!”
“ANJIR KEREN
BANGET!”
“ITU ANAK SMA
APA PEMAIN NASIONAL?!”
Bahkan Petra
yang biasanya santai sampai berdiri dari duduknya tanpa sadar.
Tatapannya
benar-benar terpaku pada Hanin.
Dan di tengah
riuh sorakan…
Clara mulai
menyadari sesuatu.
Gadis yang
tadi ia remehkan…
ternyata
monster sebenarnya.
━
Beberapa
menit kemudian peluit panjang dibunyikan.
PRITTTT!
Pertandingan
selesai.
Dan hasil
akhirnya jelas.
Tim Hanin
menang.
Lapangan
langsung gempar.
Teman-teman
Hanin langsung memeluknya heboh sambil berteriak senang.
“HANIN
GILAAAA!”
“KITA MENANG
WOYYY!”
Sementara
Clara berdiri diam sambil mengatur napas.
Keringat
membasahi wajahnya.
Tatapannya
tertuju pada Hanin yang masih terlihat tenang meski baru bermain serius.
Lalu
perlahan…
Clara tertawa
kecil tidak percaya.
“Anjir…”
“Lo serem
juga.”
━
Sorakan
kemenangan masih menggema di seluruh lapangan basket.
Teman-teman
Hanin masih heboh sendiri merayakan kemenangan mereka, sementara penonton belum
berhenti membicarakan permainan Hanin yang benar-benar di luar ekspektasi.
Namun di
tengah keramaian itu…
Hanin justru
berjalan mendekati Clara.
Langkahnya
tenang.
Tidak ada ekspresi sombong.
Tidak ada tatapan merendahkan.
Clara yang
masih sedikit terengah menatap Hanin bingung.
Beberapa
anggota geng Clara bahkan terlihat waspada, mengira Hanin akan membalas semua
ejekan tadi.
Namun yang
dilakukan Hanin justru sebaliknya.
Ia
mengulurkan tangan lebih dulu.
“Good game.”
Lapangan
mendadak sedikit hening.
Karena tidak
ada yang menyangka Hanin akan bersikap setenang itu setelah tadi diremehkan
sejak awal.
Clara menatap
uluran tangan Hanin beberapa detik.
Lalu
perlahan…
sudut bibirnya naik kecil.
“Heh…” Clara
terkekeh pelan sambil menerima jabat tangan Hanin. “Lo ternyata gak nyebelin.”
Hanin
mengangkat satu alis tipis.
“Itu pujian?”
“Sedikit.”
Beberapa
penonton langsung heboh lagi melihat suasana mulai mencair.
“WAAHH
SALAMAN!”
“SPORTIF
BANGET WOY!”
“FIX HANIN MC
UTAMA!”
Clara lalu
mendekat sedikit sambil menatap Hanin serius.
“Denger ya,”
katanya pelan. “Gue gak gampang respect sama orang.”
Hanin diam
mendengar.
“Tapi lo
emang hebat.”
Dan untuk
pertama kalinya sejak datang ke lapangan…
Tatapan Clara
benar-benar berubah.
Bukan lagi
meremehkan.
Tapi
mengakui.
Hanin hanya
tersenyum kecil tipis.
“Thanks.”
Tak lama
kemudian Clara malah menarik Hanin ke pelukan singkat layaknya sesama atlet.
Sorakan
penonton kembali pecah.
“WOYYYY!”
“KEREN BANGET
ANJIR!”
Bahkan Damian
yang melihat dari pinggir lapangan ikut tersenyum bangga.
Karena itu
memang Hanin.
Sehebat apa
pun dirinya…
ia tidak pernah haus pengakuan.
Dan justru
sikap itulah yang membuat orang makin menghormatinya.
Sementara di
tribun, Petra hanya memperhatikan Hanin tanpa suara.
Reno melirik
ketuanya pelan.
“Ketua.”
“Hm?”
“Kayaknya
semua orang bakal jatuh suka sama Hanin.”
Petra
tersenyum kecil sambil tetap menatap gadis itu.
“Sayangnya…”
“Gue duluan.”
━
Keramaian
lapangan perlahan mulai mereda setelah pertandingan selesai.
Meski begitu,
obrolan tentang Hanin masih terdengar di mana-mana.
Tentang
skill-nya.
Tentang sikap tenangnya.
Dan tentang bagaimana ia berhasil membuat Clara yang terkenal galak akhirnya
mengakui kemampuan seseorang.
Di tengah
suasana itu, Damian berjalan santai dari pinggir lapangan sambil membawa dua
botol minuman dingin.
Cowok itu
melempar salah satunya ke arah Hanin.
“Reflek.”
TAP!
Hanin
menangkap botol itu dengan satu tangan tanpa kesulitan.
“Thanks,
Kak.”
Damian hanya
mengangguk kecil lalu membuka minumannya sendiri.
Aura cowok
itu tetap santai seperti biasa. Tinggi, rapi, dan terlalu tampan untuk ukuran
siswa SMA biasa.
Dan tanpa
sadar…
Tatapan Clara
langsung tertuju padanya.
Hanin yang sedang
membuka tutup botolnya sempat melirik Clara sekilas.
Dan ia
langsung paham.
Karena
tatapan Clara berbeda.
Tidak tajam
seperti saat di lapangan tadi.
Justru
melembut.
Seolah tanpa
sadar terlalu lama memperhatikan Damian.
Sementara
Damian sendiri tampak tidak menyadari apa-apa.
Atau mungkin…
Memilih
pura-pura tidak sadar.
Salah satu
teman Clara langsung menyenggol pelan bahu ketuanya sambil menahan senyum
jahil.
“Dilihat mulu
tuh.”
“Diam lo.”
“Masih suka
ya?”
Clara
langsung mendelik kecil.
“Berisik.”
Namun pipinya
sedikit memerah.
Hanin yang
melihat itu malah meneguk minumannya santai sambil menahan senyum tipis.
Damian
akhirnya menoleh ke arah Clara karena merasa diperhatikan.
Dan seperti
biasa…
Cowok itu
tetap ramah.
“Main bagus
tadi.”
Kalimat
sederhana itu sukses bikin teman-teman Clara langsung heboh sendiri.
“WOYYYY
DITEGUR!”
“CLARA NAPAS
DULU!”
Clara refleks
melempar handuk kecil ke arah mereka.
“Bacot.”
Namun saat
kembali melihat Damian…
Ekspresinya
sedikit berubah lebih lembut.
“Thanks.”
Sayangnya…
Damian tetap
terlihat biasa saja.
Tidak memberi
harapan.
Tidak juga bersikap dingin.
Itulah yang
paling menyebalkan sekaligus membuat Clara terus suka diam-diam.
Karena Damian
memang tipe cowok yang baik ke semua orang.
Dan sulit
ditebak siapa yang benar-benar spesial baginya.
Sementara
Hanin yang berdiri di samping kakaknya hanya berpikir satu hal dalam hati:
Pantes Kak
Clara masih belum move on.
━
TEETTTT—!
Suara bel
masuk kembali menggema nyaring di seluruh area sekolah.
Siswa-siswi
yang tadi memenuhi lapangan basket langsung bubar perlahan sambil masih ramai
membicarakan pertandingan Hanin dan Clara.
“Anjir keren
banget tadi…”
“Video Hanin
udah masuk FYP sekolah fix.”
“Clara aja
ngakuin dia…”
Lapangan yang
tadi seperti arena turnamen perlahan kembali normal.
Hanin
memasang kembali ikatan rambutnya sambil menghela napas kecil setelah
pertandingan.
“Kamu capek?”
tanya Damian santai.
“Lumayan.”
“Masih kuat
belajar?”
Hanin menatap
kakaknya datar.
“Aku bukan Petra.”
Damian
langsung ngakak keras.
Sementara
beberapa meter dari sana, Petra yang kebetulan mendengar langsung menoleh tidak
terima.
“WOI.”
Reno dan yang
lain langsung pecah ketawa.
“Ketua kena
stray bullet.”
Petra
mendecakkan lidah malas tapi ujung bibirnya tetap naik kecil.
━
Koridor sekolah
kembali dipenuhi langkah kaki murid yang buru-buru masuk kelas sebelum guru
datang.
Hanin
berjalan santai menuju kelas 2-B sambil membawa botol minumnya.
Dan seperti
biasa…
Banyak mata
otomatis mengikuti kepergiannya.
Entah kenapa,
keberadaan Hanin selalu berhasil meninggalkan suasana berbeda di mana pun ia
lewat.
Sesampainya
di kelas, suasana masih cukup ramai.
Beberapa
siswa langsung heboh begitu Hanin masuk.
“HANIN GILA
TADI!”
“LO KEREN
BANGET ANJIR!”
“Ajari gue
basket pls 😭”
Hanin hanya
duduk di kursinya sambil membuka buku pelajaran berikutnya.
“Lebay.”
Namun respon
dinginnya justru membuat satu kelas makin ribut.
Petra datang
beberapa detik kemudian bersama Trouble Boy.
Begitu masuk
kelas, Reno langsung drama memegangi dada.
“Permisi
calon atlet NBA masuk.”
“Diam lo,”
jawab Hanin tanpa menoleh.
“WAAH
DIBALES.”
Petra hanya
tertawa kecil lalu duduk di kursi belakangnya.
Dan anehnya…
Suasana kelas
kembali tenang dengan sendirinya.
Guru
pelajaran ketiga masuk tak lama setelah itu.
Pelajaran
berlangsung cukup normal, meski beberapa siswa masih diam-diam melirik Hanin
karena terlalu kagum dengan semua yang ia lakukan hari ini.
Dan tentu
saja…
Hanin tetap
aktif.
Baik saat
menjawab pertanyaan, berdiskusi, maupun saat guru meminta pendapat.
Tidak
berlebihan.
Tapi selalu tepat.
Sampai
akhirnya jam pelajaran keempat pun berjalan.
Waktu terasa
lebih cepat dari biasanya.
Dan tanpa
sadar…
Hanin
perlahan mulai menjadi warna baru di kehidupan seluruh siswa Garuda High
School.
━
TEETTTTT—!
Bel pulang akhirnya
berbunyi.
Seketika
suasana sekolah kembali ramai.
Suara kursi
bergeser, obrolan siswa, dan langkah kaki memenuhi koridor Garuda High School.
Beberapa murid langsung menuju parkiran, sementara yang lain masih nongkrong di
depan kelas.
Hanin sedang
merapikan bukunya dengan tenang ketika Damian menghampiri pintu kelas.
“Hanin.”
“Hm?”
“Kita
langsung pergi nanti.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Kakek masih di rumah sakit?”
“Iya.”
Wajah Hanin
sedikit berubah lebih serius.
Meski
keluarganya terkenal besar dan kuat, Hanin sangat dekat dengan kakeknya.
Dan itu salah
satu sedikit hal yang benar-benar bisa mempengaruhi emosinya.
━
Beberapa
menit kemudian mereka berjalan menuju area parkiran sekolah.
Namun baru
sampai depan gedung…
Suasana
mendadak berubah heboh lagi.
Karena dua
mobil hitam mewah baru saja masuk ke area sekolah.
Mobil pertama
berhenti pelan di depan lobby.
Disusul mobil kedua tepat di belakangnya.
Pintu
terbuka.
Dan beberapa
pria berpakaian jas hitam turun lebih dulu dengan aura yang langsung membuat
area sekitar otomatis sunyi.
“Anjir…”
“Itu
bodyguard?”
“Siapa yang
dateng…?”
Lalu dari
mobil depan turun seorang pria tinggi dengan wajah tampan dingin dan aura
dewasa yang sangat kuat.
Prince.
Di sisi lain,
pria kedua keluar sambil melepas kacamata hitamnya dengan santai.
Leon.
Dan dalam
hitungan detik…
Satu sekolah
langsung geger.
“WOYYYYY!”
“KAKAKNYA
HANIN?!”
“GILA VISUAL
KELUARGANYA!”
“INI KELUARGA
APA CASTING DRAMA?!”
Bahkan Petra
yang sedang berjalan bersama Trouble Boy otomatis berhenti melihat
pemandangan itu.
Reno sampai
melongo tidak percaya.
“Ketua…”
“Hm?”
“Kayaknya
keluarga Hanin emang bukan manusia biasa.”
Sementara itu
Hanin berjalan mendekat ke arah kedua kakaknya.
Prince
langsung membuka tangan sedikit.
“Hanin.”
Hanin
menghampiri lalu dipeluk singkat oleh kakak tertuanya itu.
“Capek?”
tanya Prince pelan.
“Enggak.”
Leon ikut
mengacak rambut Hanin pelan sambil tersenyum tipis.
“Katanya sekolah baru bikin geger terus?”
“Itu mereka
yang lebay.”
Leon dan
Damian langsung tertawa kecil kompak.
━
Tak lama
kemudian Hanin melirik motornya yang masih terparkir.
“Aku bawa motor.”
“Nanti aja
diambil,” jawab Damian santai.
Hanin
langsung menggeleng.
“Enggak. Aku naik motor aja.”
Namun Prince
langsung menatap adiknya dengan tatapan khas kakak tertua yang sulit dibantah.
“Hanin.”
“…Apa.”
“Titipkan
saja ke penjaga sekolah.”
“Aku bisa
nyusul sendiri.”
“Kita mau ke
rumah sakit,” ujar Prince lebih lembut. “Dan kita pergi bareng.”
Hanin diam
beberapa detik.
Jujur saja…
di keluarga mereka, Prince memang paling sulit dilawan.
Bahkan Hanin
sekalipun.
Akhirnya
Hanin menghela napas kecil menyerah.
“…Yaudah.”
Damian
langsung menyeringai kecil.
“Anak kesayangan kalah.”
“Diam.”
Leon tertawa
pelan sambil mengambil helm Hanin.
Sementara
dari kejauhan…
Seluruh siswa
Garuda High School hanya bisa mematung melihat interaksi keluarga itu.
Aura mereka
terlalu berbeda.
Elegan.
Mahal.
Dan berbahaya dalam waktu bersamaan.
Bahkan Petra
yang biasanya paling santai pun kini memperhatikan mereka dengan lebih serius.
Karena untuk
pertama kalinya…
Ia mulai
sadar kalau dunia Hanin jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
━
Keramaian di
area parkiran sekolah bukannya mereda…
Malah semakin
tidak terkendali.
Siswa-siswi
yang tadinya sudah hendak pulang sekarang malah berhenti semua hanya untuk
melihat keluarga Hanin lebih dekat.
Aura mereka
benar-benar terlalu mencolok.
Prince dengan
tatapan dingin dan wibawa khas kakak tertua.
Leon yang santai tapi elegan.
Damian yang ramah dan gampang berbaur.
Dan sekarang…
Pintu mobil kedua
kembali terbuka.
BRAK.
Satu kaki
panjang keluar dari dalam mobil sebelum sosok pria lain turun sambil menghela
napas malas.
“Ribut banget
sih…”
Cowok itu
memakai kemeja hitam dengan lengan digulung setengah, rambut sedikit berantakan
tapi justru membuat visualnya semakin gila.
Bagas.
Dan detik itu
juga...
“ANJIR ADA
LAGI?!”
“GUE CAPEK
KAGET!”
“INI KELUARGA
ISINYA VISUAL SEMUA APA GIMANA?!”
Bahkan
beberapa siswi sampai refleks menutup mulut karena terlalu syok.
Bagas melirik
sekeliling sekolah yang penuh tatapan heboh lalu mengernyit.
“Kenapa
mereka liatin kita semua?”
Leon langsung
nyengir.
“Karena keluarga kita gak ada obat.”
“Najis.”
Damian ngakak
keras.
Sementara
Hanin hanya memijat pelipis kecil seolah sudah terbiasa dengan kekacauan ini.
Bagas
kemudian berjalan mendekat ke arah Hanin sambil membawa satu paper bag kecil.
“Nih.”
Hanin
menerima paper bag itu bingung.
“Apa?”
“Mochi
favorit lo.”
Hanin
langsung diam beberapa detik sebelum membuka sedikit isi kantongnya.
Dan untuk
pertama kalinya hari itu…
Ekspresi
Hanin benar-benar berubah cerah.
“…Kak Bagas
baik banget hari ini.”
“Tumben?”
sahut Bagas santai.
“Biasanya
nyebelin.”
“Kurang
ajar.”
Damian dan
Leon langsung tertawa melihat interaksi mereka.
Sementara
Prince hanya menggeleng kecil sambil membuka pintu mobil untuk Hanin.
Di sisi lain
parkiran…
Petra dan Trouble
Boy masih berdiri seperti penonton konser.
Reno bahkan
sudah speechless.
“Ketua…”
“Hm.”
“Gue ngerti
sekarang kenapa Hanin auranya beda.”
Petra tidak
menjawab.
Tatapannya
justru fokus memperhatikan Hanin yang sedang tertawa kecil bersama
kakak-kakaknya.
Dan entah
kenapa…
Melihat Hanin
tersenyum nyaman bersama keluarganya terasa sangat indah.
Namun di saat
yang sama…
Petra sadar
satu hal penting.
Untuk bisa
mendekati Hanin…
Ia bukan cuma
harus menghadapi Hanin sendiri.
Tapi juga
empat kakak laki-laki overprotective yang auranya saja sudah seperti bos mafia.
Chapter 6
Mesin mobil
mulai menyala satu per satu di area parkiran Garuda High School.
Prince duduk
di kursi depan mobil utama.
Leon menyetir mobil kedua.
Damian dan Bagas masuk bergantian sambil masih bercanda kecil.
Sementara
Hanin akhirnya masuk ke mobil setelah menitipkan motor miliknya pada penjaga
sekolah.
Begitu pintu
mobil tertutup…
Suasana di
luar masih penuh tatapan penasaran.
Banyak siswa
diam-diam merekam.
Sebagian lagi hanya bisa melongo melihat keluarga Hanin yang benar-benar
seperti keluar dari dunia lain.
Dan tak lama
kemudian...
Dua mobil
hitam itu perlahan keluar dari gerbang sekolah.
Namun tepat
beberapa detik setelahnya…
Tiga mobil
SUV hitam lain tiba-tiba menyusul dari arah luar sekolah.
Mobil-mobil
itu langsung membentuk posisi mengiringi.
Satu di
depan.
Dua di belakang.
Gerakannya
rapi.
Terlatih.
Dan terlalu profesional untuk sekadar pengawalan biasa.
Seketika suasana
depan sekolah langsung berubah hening.
“…”
“…”
Beberapa
siswa sampai otomatis mundur sedikit saat mobil iring-iringan itu lewat.
Aura yang
muncul benar-benar mencekam.
Bukan karena
ribut.
Justru karena
terlalu tenang.
Di dalam
mobil paling belakang bahkan terlihat beberapa pria berbadan besar memakai jas
hitam dan earpiece.
Reno yang
baru saja keluar gerbang bersama Trouble Boy langsung melotot.
“ANJIR.”
Petra yang
duduk di jeep pun menyipitkan mata memperhatikan iring-iringan itu.
Sementara
anggota geng lain sudah mulai panik sendiri.
“Ketua…”
“Itu
bodyguard beneran?”
“Gue kira
cuma di drama.”
“INI MAH
PRESIDEN KALI DIKAWALNYA.”
Jeep Trouble
Boy yang kebetulan keluar di belakang rombongan itu akhirnya ikut melambat.
Karena jujur
saja…
Atmosfernya
membuat mereka tidak berani terlalu dekat.
Salah satu
bodyguard di mobil belakang bahkan sempat melirik lewat kaca spion hitam pekat.
Tatapan
singkat itu saja sudah cukup bikin Reno merinding.
“Buset…”
“Tatapannya
kayak mau ngubur orang hidup-hidup.”
Petra tetap
diam memperhatikan.
Dan makin
lama…
Perasaan aneh
mulai muncul di kepalanya.
Keluarga
Hanin jelas bukan sekadar keluarga konglomerat biasa.
Cara mereka
bergerak.
Cara bodyguard itu menjaga.
Dan aura mencekam yang muncul secara alami…
Semuanya
terasa terlalu berbeda.
“Ketua…”
bisik Reno pelan. “Menurut lo keluarga Hanin sebenarnya keluarga apaan?”
Petra
menyender pelan di kursinya sambil tetap menatap mobil hitam yang perlahan
menjauh di jalan raya.
Lalu menjawab
singkat,
“Yang jelas…”
“Bukan orang
biasa.”
━
Iring-iringan
mobil hitam akhirnya memasuki area rumah sakit pusat kota.
Lampu sore
mulai menyala satu per satu saat rombongan keluarga Hanin berhenti tepat di
area VIP entrance.
Suasana rumah
sakit yang biasanya ramai mendadak terasa berbeda begitu mobil mereka datang.
Beberapa
petugas keamanan langsung sigap membuka jalan.
Perawat dan staff rumah sakit pun refleks menundukkan kepala sopan saat melihat
rombongan itu turun.
Aura mereka
terlalu kuat untuk diabaikan.
Prince turun
lebih dulu dengan wajah tenang namun dingin seperti biasa.
Leon berjalan
di sampingnya sambil menerima telepon singkat dari seseorang.
Damian
meregangkan bahu santai, sementara Bagas membawa paper bag dan beberapa barang
Hanin.
Dan terakhir…
Hanin keluar
dari mobil sambil merapikan hoodie abu-abunya.
Begitu Hanin
turun, salah satu bodyguard langsung mendekat sedikit.
“Non..”
“Aku bisa
jalan sendiri,” jawab Hanin santai.
Bodyguard itu
langsung mundur hormat.
Di rumah
sakit ini, keluarga mereka memang cukup dikenal.
Bukan hanya
karena kekayaan mereka…
Tapi juga
karena nama keluarga itu sendiri punya pengaruh besar.
━
Mereka
berjalan melewati lorong VIP rumah sakit yang jauh lebih tenang dibanding area
umum.
Sepanjang
jalan, beberapa dokter dan perawat terlihat menyapa hormat.
“Selamat
sore, Tuan Prince.”
“Selamat
datang.”
Prince hanya
mengangguk tipis membalas.
Sementara
Hanin berjalan paling dekat dengan Damian.
“Keadaan
kakek gimana?” tanyanya pelan.
Damian
melirik adiknya sekilas.
“Lebih baik dari kemarin.”
Hanin sedikit
lega mendengarnya.
Karena di
keluarga mereka…
Kakeknya
adalah pusat semuanya.
Orang yang
paling dihormati.
Paling ditakuti.
Dan paling disayangi.
Tak lama
kemudian mereka sampai di depan ruang rawat VIP paling ujung.
Dua bodyguard
berdiri menjaga di depan pintu.
Dan itu
langsung menjelaskan betapa pentingnya orang di dalam ruangan tersebut.
Prince
membuka pintu perlahan.
Di dalam
ruangan VIP luas itu, seorang pria tua berambut putih sedang duduk setengah
bersandar di ranjang rumah sakit sambil membaca koran.
Meski sudah
tua…
Aura
wibawanya masih sangat terasa.
Tatapan
tajamnya bahkan masih cukup membuat orang segan.
Begitu
melihat cucu-cucunya masuk…
Wajah pria
tua itu langsung sedikit melembut.
“Hm.”
“Kalian
datang juga.”
Leon langsung
tersenyum kecil.
“Kakek malah baca koran, bukannya istirahat.”
“Kakek
bosan.”
Damian
terkekeh pelan sambil duduk di sofa dekat jendela.
Sementara
Hanin berjalan paling akhir mendekati ranjang.
Dan berbeda
dengan sikap dinginnya di sekolah…
Tatapan Hanin
pada kakeknya terlihat jauh lebih hangat.
“Kakek.”
Pria tua itu
menatap Hanin beberapa detik.
Lalu
tersenyum tipis kecil, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya.
“Nona kecil
kakek datang.”
Bagas
langsung mengeluh dramatis.
“Nah kan.”
“Kita semua cucu,
tapi favorit tetep Hanin.”
Ruangan
langsung dipenuhi tawa kecil keluarga itu.
Dan untuk
pertama kalinya hari itu…
Aura mencekam
keluarga Hanin menghilang sementara, tergantikan suasana hangat yang hanya
muncul saat mereka bersama orang yang paling mereka sayangi.
━
Malam mulai
turun saat keluarga Hanin akhirnya selesai menjenguk kakek mereka.
Suasana ruang
VIP yang tadi hangat perlahan kembali tenang.
Prince masih
berbicara sebentar dengan dokter pribadi keluarga mereka di luar ruangan,
sementara Leon menerima beberapa telepon pekerjaan.
Bagas sibuk
bercanda dengan Damian sampai membuat Hanin geleng-geleng kepala sendiri.
“Udah gede
masih kayak bocah,” celetuk Hanin sambil memakai kembali hoodienya.
“Ini namanya
menjaga jiwa muda,” jawab Bagas santai.
“Namanya
berisik.”
Damian
langsung ngakak.
Tak lama
kemudian mereka semua berpamitan pada sang kakek.
“Kakek
istirahat ya,” ujar Hanin pelan sambil menggenggam tangan pria tua itu
sebentar.
Kakeknya
mengangguk kecil.
“Hati-hati di
jalan.”
Tatapan
beliau sedikit lebih lembut saat melihat Hanin pergi keluar ruangan.
Dan seperti
biasa…
Empat cucu
laki-lakinya langsung protes karena Hanin selalu dapat perhatian paling
spesial.
━
Beberapa
menit kemudian rombongan keluar dari rumah sakit.
Udara malam
kota terasa lebih dingin dibanding sore tadi.
Lampu-lampu
jalan mulai menyala terang, memantul di permukaan mobil hitam keluarga mereka.
Prince
melirik Hanin.
“Langsung pulang?”
“Iya.”
“Aku anter,”
ujar Damian santai.
Leon langsung
menoleh curiga.
“Tumben baik.”
“Takut dia
nyasar.”
Hanin
mendelik kecil.
“Apartemenku bukan hutan.”
Bagas tertawa
sambil masuk ke mobilnya.
“Udah sana. Besok sekolah juga bareng sekalian.”
Dan akhirnya
diputuskan Damian akan mengantar Hanin pulang sekaligus menginap di
apartemennya malam ini.
Prince sempat
mengingatkan singkat sebelum mereka berpisah.
“Kalau ada
apa-apa langsung telepon.”
“Iya Prince,”
jawab Hanin malas karena sudah hafal.
Tak lama
kemudian mobil Damian melaju meninggalkan area rumah sakit menuju apartemen
Hanin.
━
Perjalanan
malam terasa cukup tenang.
Damian
menyetir santai sambil memutar musik pelan.
Sementara Hanin duduk di kursi samping sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela.
“Sekolah baru
seru?” tanya Damian tiba-tiba.
“Lumayan.”
“Petra?”
Hanin
langsung melirik kakaknya datar.
“Kenapa bawa-bawa dia?”
Damian
tertawa kecil.
“Wah sensitif.”
“Enggak.”
“Dia suka
sama lo tuh.”
“Bukan
urusanku.”
Damian hanya
tersenyum geli.
Jawaban Hanin
memang terdengar dingin…
Tapi Damian
cukup tahu adiknya.
Kalau Hanin
benar-benar tidak peduli, biasanya ia bahkan malas membahas orang itu sama
sekali.
━
Tak lama
kemudian mereka sampai di apartemen Hanin.
Mobil masuk
ke basement privat sebelum lift membawa mereka langsung ke lantai unit Hanin.
Begitu pintu
apartemen terbuka, Damian langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang ruang
tamu.
“Ah enak…”
Hanin melepas
sepatunya lalu berjalan ke dapur kecil.
“Mau makan?”
“Mau.”
“Kamu tadi
bilang kenyang.”
“Sekarang
laper lagi.”
“Rakus.”
Damian
tertawa kecil sambil melihat adiknya mulai membuka kulkas.
Suasana
apartemen malam itu terasa hangat dan santai.
Tidak ada
aura dingin keluarga besar mereka.
Tidak ada bodyguard.
Tidak ada tekanan.
Hanya dua
saudara yang akhirnya bisa menikmati malam dengan tenang setelah hari yang
sangat panjang.
━
Suasana
apartemen Hanin malam itu terasa nyaman dan hangat.
Lampu dapur
menyala lembut sementara aroma makanan mulai memenuhi ruangan.
Hanin berdiri
di depan kompor memasak ramen dan rice bowl sederhana untuk makan malam mereka.
Rambutnya
kini diikat asal.
Lengan hoodie-nya digulung sedikit.
Dan wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di sekolah.
Sementara itu Damian rebahan di sofa sambil memainkan HP.
Namun sejak
tadi...
BZZZT
BZZZT
BZZZT
Ponselnya
terus bergetar tanpa henti.
Damian
mengernyit.
“Ini anak sekolah gak tidur apa…”
Di dapur, HP
Hanin pun bernasib sama.
Notifikasi
masuk terus menerus seperti hujan.
📱 Basket Putri GHS
📱
Taekwondo GHS
📱
2-B ISI ORANG GILA 🔥
📱
Info Sekolah GHS
📱
Cowok GHS
📱
Cewek GHS
Semuanya
ramai membahas hal yang sama.
Hari ini.
Lebih
tepatnya…
Hanin.
Damian
membuka salah satu grup sekolah dan langsung tertawa keras.
“HAHAHAHA.”
“Apa?” tanya
Hanin tanpa menoleh.
“Lo
trending.”
“Hah?”
Damian duduk
tegak lalu memperlihatkan layar HP-nya.
📱 TOP HIGHLIGHT GHS TODAY 🔥
1️⃣ HANIN VS CLARA BASKET MATCH 🏀
2️⃣ SISWI
BARU JAGO 5 BAHASA?!
3️⃣ HANIN
BIKIN PETRA DIEM
4️⃣ KAKAK-KAKAK
HANIN VIRAL
Dan yang
paling parah…
Ada foto
candid Hanin saat main basket tadi yang entah siapa upload.
Caption-nya:
✨
“Garuda High School finally found its main character.”
Hanin:
“…”
Damian malah
makin ngakak.
“Lo jadi
artis sekolah.”
“Ganggu
banget.”
BZZZT
HP Damian
kembali bunyi.
📱 Arga:
BRO ADEK LO
LAGI HEBOH SATU SEKOLAH 😭
📱 Reno:
Ketua kita
tumbang.
📱 Siswa lain:
Bang Damian
izin kenalan sama Hanin dong 🙏
Damian
langsung nyengir jahil.
“Wih banyak yang mau daftar.”
“Blok.”
“Jahat
banget.”
Sementara itu
HP Hanin sendiri bahkan lebih parah.
Puluhan DM
masuk tanpa henti.
💬 Hai Hanin salam kenal
💬
Keren banget tadi basketnya
💬
Tutor bahasa Inggris dong 😭
💬
Lo beneran manusia?
Dan tentu
saja…
Nama yang
paling sering muncul tetap:
💬 Petra
Hanin membuka
chat itu sebentar.
“Lo capek?”
Lalu masuk
lagi chat berikutnya.
“Tadi keren.”
Dan beberapa
menit setelahnya...
“Jangan lupa
makan.”
Damian yang
diam-diam mengintip langsung senyum lebar.
“Oalah.”
Hanin
langsung menjauhkan HP-nya.
“Ngapain lihat-lihat.”
“Petra
perhatian banget ternyata.”
“Berisik.”
Damian
tertawa sambil menyandarkan kepala ke sofa.
Sementara
Hanin kembali fokus memasak walau ujung telinganya sedikit memerah samar.
Dan malam
itu…
Di seluruh
Garuda High School...
Nama Hanin
benar-benar sedang berada di puncak pembicaraan.
━
Namun
ternyata…
Kehebohan
malam itu belum selesai.
Damian yang
masih santai rebahan sambil scrolling grup sekolah tiba-tiba berhenti.
“Loh?”
“Apa lagi…”
jawab Hanin malas dari dapur.
Damian
perlahan menunjukkan layar HP-nya dengan ekspresi tidak percaya campur geli.
📱 TOP HIGHLIGHT GHS UPDATED 🔥
1️⃣ HANIN VS CLARA BASKET MATCH 🏀
2️⃣ WHO
IS DAMIAN ADREENA?! 👀
3️⃣ SISWI
BARU JAGO 5 BAHASA?!
4️⃣ KAKAK-KAKAK
HANIN VIRAL
5️⃣ PETRA
RESMI JATUH?
Damian
langsung ngakak keras.
“Anjir nama
gue naik juga.”
Hanin menoleh
sekilas lalu kembali mengaduk ramen.
“Makanya jangan sok ramah.”
“Lah gue cuma
nyapa orang.”
“Justru itu
masalahnya.”
Damian makin
tertawa.
Sementara isi
grup sekolah sekarang mulai absurd.
📱 Cewek GHS 💅
💬 DAMIAN SENYUM KE GUE TADI
💬
ENGGAK KE LO DOANG KE SEMUA ORANG 😭
💬
Cowok ganteng + ramah tuh bahaya banget
💬
Fix tipe green flag
Di grup lain:
📱 Cowok GHS 🗿
💬 Keluarga Hanin visual semua anjir
💬
Gue minder jadi laki-laki
💬
Damian gampang akrab lagi… nyebelin
Dan yang
paling heboh tentu saja akun highlight sekolah.
Mereka bahkan
mengupload foto Damian yang sedang tertawa di pinggir lapangan basket tadi
sore.
Caption:
✨
“Golden retriever energy but rich version.”
Damian:
“…”
Hanin
langsung ketawa kecil membaca caption itu.
“Kocak.”
“Apaan golden
retriever.”
“Mirip...”
“Kurang
ajar.”
BZZZT
HP Damian
kembali berbunyi tanpa ampun.
DM terus
masuk.
💬 Hai kak Damian
💬
Besok ke kantin lagi gak?
💬
Kakaknya Hanin ternyata ramah banget…
💬
Tutor ganteng dong kak 😭
Damian sampai
menutup wajah pakai bantal sofa.
“Sekolah lo
serem juga.”
“Sekarang
tau.”
Namun
beberapa detik kemudian Damian malah melirik Hanin jahil.
“Tapi…”
“Apa.”
“Yang paling
viral tetep lo.”
Hanin
mendecakkan lidah kecil.
Dan tepat
saat itu...
HP Damian
bunyi lagi.
📱 Clara
Damian
mengangkat alis.
“Hm.”
Hanin
langsung menyipitkan mata kecil penuh arti.
“Oalah…”
Damian
cepat-cepat mengunci layar HP.
“Jangan
senyum begitu.”
“Kak Clara
cantik.”
“Bukan itu
masalahnya.”
“Terus?”
Damian
terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas kecil.
“…Ribet.”
Hanin malah
tertawa kecil sambil membagi ramen ke dua mangkuk.
Dan malam
itu…
Dua
bersaudara itu benar-benar tidak bisa hidup tenang karena satu sekolah sedang
sibuk membicarakan mereka.
━
Malam semakin
larut.
Lampu kota di
balik jendela apartemen masih bersinar terang, memantul indah di kaca besar
ruang tamu Hanin.
Jam sudah
menunjukkan hampir tengah malam.
Namun
apartemen itu masih hidup oleh suara tawa kecil dan obrolan santai dua
bersaudara.
Setelah makan
malam selesai, Hanin dan Damian kini duduk lesehan di depan TV sambil bermain
PS.
Game balapan
yang awalnya santai berubah jadi penuh keributan.
“WOI CURANG.”
“Itu skill.”
“Kamu nabrak
aku.”
“Namanya
strategi.”
Damian
langsung ngakak saat mobil Hanin kembali menabrak mobilnya sampai keluar
lintasan.
“Anak mafia
banget mainnya.”
“Belajar dari
kalian.”
“Fitnah.”
Hanin tertawa
kecil sambil tetap fokus pada controller di tangannya.
Di sekolah,
orang-orang mungkin melihat Hanin sebagai gadis dingin, tenang, dan sempurna.
Tapi di depan
keluarganya…
Ia jauh lebih
hidup.
Jauh lebih
santai.
Dan Damian
paling suka melihat sisi itu.
━
Setelah
beberapa ronde bermain, mereka akhirnya menyerah karena terlalu capek tertawa
sendiri.
Damian
menjatuhkan tubuh ke sofa sambil meminum soda dingin.
Sementara
Hanin duduk selonjoran di karpet sambil memeluk bantal kecil.
Suasana
mendadak lebih tenang.
TV masih
menyala pelan sebagai background noise.
Lalu obrolan
mereka mulai berubah membahas keluarga.
“Prince tadi
keliatan capek,” ujar Hanin pelan.
Damian
mengangguk.
“Kerjaan lagi banyak.”
“Leon juga.”
“Yang paling
santai cuma Bagas.”
Hanin
terkekeh kecil.
“Bagas mah hidupnya bercanda terus.”
Damian ikut
tersenyum.
Meski
keluarga mereka besar dan penuh tekanan…
Saat
berkumpul seperti tadi di rumah sakit, semuanya terasa normal.
Dan itu momen
yang jarang mereka dapat.
Hanin kemudian
menatap langit malam dari balik jendela apartemen.
“Aku takut
kakek kenapa-kenapa.”
Nada suaranya
jauh lebih pelan dari biasanya.
Damian
langsung menoleh.
Karena Hanin
jarang menunjukkan kekhawatiran secara terang-terangan.
Cowok itu
lalu mengacak pelan rambut adiknya.
“Kakek kuat.”
Hanin diam.
“Kakek masih
mau lihat kamu lulus dulu,” lanjut Damian santai.
“Masa cuma
aku.”
“Ya soalnya
cucu kesayangan.”
Hanin
mendelik kecil.
“Mulai lagi.”
Damian
tertawa kecil.
Lalu suasana
kembali tenang beberapa saat.
Mereka hanya
duduk menikmati malam sambil sesekali membahas masa kecil, tingkah absurd
Bagas, kebiasaan overprotective Prince, dan Leon yang diam-diam paling
perhatian.
Jam perlahan
menunjukkan pukul dua belas malam.
Namun
anehnya…
Tidak ada
rasa lelah yang mengganggu.
Karena bagi
Hanin dan Damian…
Momen
sederhana seperti ini jauh lebih berharga dibanding semua kemewahan yang mereka
miliki.
━
Pagi hari di
apartemen Hanin terasa jauh lebih ramai dari biasanya.
Alarm
berbunyi hampir bersamaan dari dua kamar berbeda.
Dan beberapa
menit kemudian...
“Damian
bangun.”
“Lima menit
lagi…”
“Hari ini
sekolah.”
“Makanya lima
menit.”
Hanin
langsung membuka pintu kamar kakaknya tanpa izin lalu melempar bantal ke wajah
Damian.
BUGH.
“WOI.”
“Bangun.”
Damian mengerang
malas sambil menutup wajah dengan selimut.
“Lo galak banget pagi-pagi.”
“Kalau telat
aku tinggal.”
Kalimat itu
sukses membuat Damian langsung bangun.
“Jahat.”
Hanin hanya
menyeringai tipis sebelum keluar kamar.
—
Tak lama
kemudian aroma roti panggang dan kopi mulai memenuhi apartemen.
Hanin yang
sudah rapi dengan seragam sekolah sedang menyiapkan sarapan sederhana di dapur.
Sementara
Damian keluar kamar sambil masih setengah ngantuk namun tetap terlihat terlalu
tampan untuk ukuran manusia normal.
“Kenapa hidup
lo estetik banget sih pagi-pagi,” gumam Damian sambil duduk di meja makan.
“Karena aku
gak tidur jam tiga kayak kamu.”
“Menyerang
sekali.”
Mereka
sarapan sambil sesekali bercanda kecil sebelum akhirnya bersiap berangkat.
Hari itu
Damian memilih memakai mobilnya lagi.
Sedangkan
Hanin yang awalnya ingin membawa motor akhirnya ikut naik mobil bersama Damian
karena malas ribet.
Chapter 7
Perjalanan
menuju sekolah terasa santai.
Musik diputar
pelan.
Jalanan pagi kota mulai ramai.
Dan Hanin duduk di kursi penumpang sambil mengecek ponselnya yang lagi-lagi
penuh notifikasi grup sekolah.
📱 2-B ISI ORANG GILA 🔥
💬 Reno:
hari ini
ketua akan menyatakan cinta 🙏
💬 Petra:
gue tendang
lo
💬 Nisa:
WOY HANIN
ONLINE
Hanin
langsung keluar grup chat tanpa membalas apa pun.
Damian yang
melihat itu malah tertawa.
“Kasian
mereka.”
“Berisik.”
━
Tak lama
kemudian mobil Damian memasuki gerbang Garuda High School.
Dan seperti
biasa…
Kedatangan
mereka langsung menarik perhatian.
“WOI DATENG!”
“Itu Hanin
sama Damian!”
“Gila
pagi-pagi udah visual attack.”
BMW hitam itu
berhenti pelan di area parkir.
Damian turun
lebih dulu lalu berjalan memutar membuka pintu untuk Hanin.
“Silakan
nona.”
Hanin melirik
datar.
“Norak.”
“Biar
aesthetic.”
Hanin keluar
sambil membawa tasnya.
Dan
lagi-lagi…
seluruh area parkir seperti otomatis memperhatikan mereka.
Sementara
dari sisi lain parkiran...
Jeep hitam Trouble
Boy baru saja masuk.
Petra yang
turun dari mobil langsung berhenti begitu melihat Hanin datang bersama Damian.
Reno refleks
menyenggol ketuanya pelan.
“Pagi-pagi
langsung dikasih cobaan.”
━
Pagi di
Garuda High School terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Area parkir,
koridor, bahkan taman sekolah sudah dipenuhi murid yang diam-diam memperhatikan
Hanin dan Damian berjalan berdampingan menuju gedung utama.
Dan tentu
saja…
Berbeda
dengan Hanin yang cenderung cuek dan dingin, Damian justru terlalu ramah.
“Pagi bang!”
“Yo pagi.”
“Kak Damian!”
“Hm? Pagi.”
“Bro nanti
nongkrong kantin?”
“Gas aja.”
Sepanjang
jalan hampir selalu ada yang menyapa Damian.
Dan parahnya…
Cowok itu
membalas semuanya.
Senyum.
Anggukan.
Sapaan santai.
Benar-benar
seperti selebriti sekolah.
Sementara
Hanin berjalan di sampingnya sambil memegang tali tas dengan wajah makin datar.
Risih.
Bukan karena
diperhatikan…
Tapi karena
terlalu banyak orang mendadak mendekat hanya gara-gara Damian.
“Kak.”
“Hm?”
“Kamu terlalu
humble.”
Damian
langsung menoleh sambil menahan tawa.
“Ini salah gue?”
“Iya.”
“Mereka
nyapa, masa gue cuekin.”
“Capek
dengernya.”
Damian ngakak
kecil.
Hanin
mendesah pelan sambil mempercepat langkah sedikit.
Namun baru
beberapa meter...
“HANIN PAGI!”
“Kak Damian
ganteng banget hari ini 😭”
“WOY ADA
MEREKA!”
Hanin
memejamkan mata sebentar.
“Lihat kan.”
Damian malah
makin senyum geli.
Jujur saja…
mengganggu Hanin seperti ini cukup menyenangkan.
Karena
biasanya adiknya terlalu tenang untuk ukuran manusia.
━
Saat mereka
melewati koridor utama, beberapa siswi bahkan sengaja berdiri hanya untuk
melihat Damian lebih dekat.
Dan tentu
saja…
Cowok itu
masih sempat menyapa santai.
“Pagi.”
Seketika satu
kelompok siswi langsung heboh sendiri setelah Damian lewat.
“ANJIR DIA
NYAPA.”
“SUARANYA
BAGUS BANGET.”
“GUE MAU
PINDAH JURUSAN.”
Hanin:
“…”
“Kak.”
“Iya?”
“Besok aku
berangkat sendiri.”
Damian
langsung tertawa keras.
“Segitunya?”
“Berisik.”
Namun di
balik wajah datarnya…
Sudut bibir
Hanin sempat naik tipis kecil.
Karena
sebenarnya ia tidak benar-benar terganggu.
Ia hanya
belum terbiasa.
Dan di sisi
lain koridor…
Petra yang
baru datang bersama Trouble Boy memperhatikan semuanya dari jauh.
Tatapannya
berhenti cukup lama pada Damian yang berjalan santai di samping Hanin.
Reno melirik
pelan.
“Ketua.”
“Hm.”
“Saingan lo
bukan cuma cowok sekolah ternyata.”
Petra
memasukkan tangan ke saku sambil tetap menatap Hanin.
Lalu
tersenyum kecil penuh arti.
“Gapapa.”
“Yang penting
Haninnya belum punya siapa-siapa.”
━
Koridor
sekolah masih ramai oleh siswa yang berlalu-lalang.
Damian dan
Hanin baru saja sampai dekat tangga menuju gedung kelas ketika seseorang
memanggil dari arah belakang.
“BROOO!”
Seorang cowok
kelas 3 berlari kecil menghampiri mereka sambil membawa dua cup minuman dingin
di tangannya.
Arga.
Teman satu
geng Damian yang paling heboh.
“Pagi manusia
viral,” katanya santai pada Damian.
“Pagi manusia
kurang kerjaan,” balas Damian.
Arga langsung
nyengir lalu menoleh ke arah Hanin yang berdiri di samping Damian.
Dan mendadak
cowok itu jadi lebih jaim.
“Eh… pagi
Hanin.”
“Pagi.”
Arga terlihat
salah tingkah beberapa detik sebelum akhirnya mengulurkan satu cup kopi dingin
ke arah Hanin.
“Ini buat
lo.”
Hanin sedikit
bingung.
“Buat aku?”
“Iya… eh
maksudnya sekalian tadi beli.”
Damian
langsung menaikkan alis curiga.
“Sekalian
katanya.”
“DIEM LO.”
Hanin
menerima kopi itu pelan.
“Thanks.”
Dan itu saja
sudah cukup membuat Arga langsung senyum lebar seperti habis menang undian.
“Anjir
dibales…”
Damian ngakak
melihat temannya sendiri hampir malfunction.
Sementara
Hanin membuka sedotan kopi itu tanpa banyak pikir.
Namun
beberapa meter dari mereka...
Aura mendadak
berubah dingin.
Petra yang
baru saja berjalan mendekat bersama Trouble Boy otomatis berhenti saat
melihat pemandangan itu.
Tatapannya
langsung tertuju pada kopi di tangan Hanin.
Lalu ke Arga.
Lalu balik
lagi ke Hanin.
Reno yang
sadar situasi langsung berbisik pelan,
“Waduh…”
Petra
menyipitkan mata kecil.
“Dia siapa.”
“Temennya
Damian.” Sahut Reno.
“Kenapa
ngasih kopi.”
“Karena hidup
penuh kejutan?”
Petra
mendecakkan lidah pelan.
Sementara
Hanin yang tidak sadar ada Petra di belakang masih berbicara santai dengan
Damian dan Arga.
“Enak?”
“Lumayan,”
jawab Hanin setelah mencoba sedikit.
Arga langsung
sumringah.
“Syukur.”
Dan entah
kenapa…
Kalimat
sederhana itu sukses membuat Petra makin tidak tenang.
Ketua Trouble
Boy itu akhirnya berjalan mendekat dengan tangan di saku celana.
“Ada kopi
gratis ternyata.”
Suasana
langsung sedikit awkward.
Arga refleks
menelan ludah.
“Eh… ketua.”
Petra melirik
cup kopi di tangan Hanin lalu menatap Arga.
“Baik banget
pagi-pagi.”
Nada suaranya
santai.
Tapi Reno
yang paling kenal Petra tahu persis...
Itu nada
cemburu.
━
Suasana
koridor mendadak terasa aneh.
Bukan karena
ribut…
Tapi karena
aura Petra yang tiba-tiba berubah sedikit dingin meski wajahnya masih santai.
Arga yang
berdiri paling dekat bahkan mulai salah tingkah sendiri.
Sementara
Hanin?
Tetap biasa
saja.
Gadis itu
masih memegang kopi dinginnya sambil menyeruput pelan tanpa merasa ada yang
aneh.
Dan justru
itu yang membuat Damian hampir tertawa.
Cowok itu
menoleh ke Petra lalu ke Arga, sebelum akhirnya terkekeh pelan melihat situasi
yang sangat jelas di matanya.
“Heh…”
Petra melirik
Damian tipis.
“Kenapa ketawa.”
“Enggak,”
jawab Damian santai sambil menahan senyum. “Lucu aja.”
“Apanya.”
Damian tidak
langsung menjawab.
Karena
ekspresi Petra sekarang terlalu mudah dibaca.
Tatapan ke
kopi.
Tatapan ke Arga.
Tatapan balik ke Hanin.
Benar-benar
seperti orang yang sedang territorial.
Reno sampai
menunduk menahan tawa.
“Ketua…
santai ketua…”
“Gue santai.”
“Urat leher
lo beda pendapat.”
Petra
langsung menyikut Reno tanpa mengalihkan pandangan dari Arga.
Sementara
Hanin akhirnya menoleh ke Petra.
“Ada apa?”
“Nggak ada.” Sahut Petra.
“Terus?”
Petra diam
sebentar sebelum akhirnya menjawab asal.
“Pagi.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Pagi.”
Lalu kembali
meminum kopinya dengan tenang.
Dan entah
kenapa…
Respon sesingkat
itu langsung membuat Petra sedikit membaik.
Damian yang
melihat semuanya dari samping benar-benar sudah hampir ketawa keras.
“Kasian
banget,” bisiknya pelan pada Hanin.
Hanin
mengernyit kecil.
“Siapa?”
“Dia.”
Petra
langsung melirik tajam.
“Gue denger.”
“Syukurlah.”
Arga yang
sadar dirinya berada di tengah-tengah situasi berbahaya mulai mundur perlahan.
“Oke… gue
cabut ya…”
“Lari sana,”
celetuk Reno cepat.
Dan begitu
Arga pergi...
Petra
otomatis berdiri di posisi dekat Hanin tanpa sadar.
Seolah
menggantikan tempat tadi.
Reno sampai
melongo melihat perubahan posisi itu.
“WOY…”
Damian
akhirnya benar-benar tertawa kecil kali ini.
Karena makin
lama…
Petra makin
transparan kalau urusannya menyangkut Hanin.
━
Koridor
sekolah mulai semakin ramai seiring bel masuk yang sebentar lagi berbunyi.
Damian masih
tertawa kecil sambil menggeleng melihat Petra yang jelas-jelas berubah posesif
hanya karena segelas kopi.
Namun tak
lama kemudian mereka sampai di persimpangan koridor menuju gedung kelas
masing-masing.
“Kelas gue
duluan,” ujar Damian santai sambil menepuk pelan kepala Hanin.
“Hm.”
“Nanti
istirahat jangan bikin satu sekolah geger lagi.”
“Itu bukan
salahku.”
“Iya iya
paling innocent.”
Hanin
mendelik tipis.
Damian lalu
melirik Petra sebentar dengan senyum kecil penuh arti.
“Titip.”
Petra
mengangkat alis.
“Apaan.”
“Adik gue.”
Reno yang
mendengar langsung menahan tawa keras.
Sementara
Petra malah menjawab santai,
“Gak usah
disuruh juga.”
Hanin:
“…”
Damian:
“…”
Reno langsung
menepuk dada dramatis.
“WOY TERANG-TERANGAN.”
Damian ngakak
puas sebelum akhirnya berjalan pergi menuju kelas 3 bersama gengnya.
Dan kini…
Koridor itu
hanya menyisakan Hanin, Petra, dan Trouble Boy yang berjalan beberapa
langkah di belakang mereka.
Suasananya
cukup aneh.
Karena
biasanya Petra selalu jadi pusat keributan.
Tapi sekarang
cowok itu justru berjalan santai di samping Hanin tanpa membuat masalah sedikit
pun.
Beberapa
siswa yang berpapasan sampai melirik bingung.
“Petra diem?”
“Mustahil…”
“Fix Hanin
jinakkin dia.”
Sementara
Hanin berjalan sambil memegang kopi dinginnya.
“Aku gak
perlu dititipin.”
Petra melirik
kecil.
“Tau.”
“Terus kenapa
jawab begitu.”
“Reflek.”
Hanin
menghela napas kecil.
Dan anehnya…
Percakapan
pendek seperti itu justru terasa nyaman.
Di belakang
mereka, Trouble Boy berjalan sambil bisik-bisik sendiri.
Reno sampai
hampir gila melihat situasi di depannya.
“Anjir…”
“Ketua jalan
kayak cowok normal.”
“Gue
merinding.”
Petra menoleh
sedikit ke belakang.
“Gue tendang satu-satu ya.”
“Wah galak
demi cewek.”
“DIEM.”
Hanin yang
mendengar itu akhirnya tertawa kecil samar.
Sangat kecil…
Tapi cukup
membuat Petra otomatis menoleh padanya.
Karena jujur
saja...
Suara tawa
Hanin masih jadi hal langka.
Dan setiap
kali itu muncul…
Petra selalu
merasa menang tanpa alasan jelas.
━
Koridor kelas
2-B sudah mulai ramai saat Hanin dan Petra akhirnya sampai.
Namun begitu
keduanya muncul bersamaan di ujung koridor…
Suasana
langsung berubah.
Beberapa
siswa yang sedang ngobrol otomatis berhenti.
Tatapan
langsung mengarah pada mereka.
Lebih
tepatnya...
pada Petra yang berjalan santai di samping Hanin seperti itu hal paling normal
di dunia.
“WOY…”
“Gue gak
salah lihat kan?”
“Petra
nganter Hanin?”
“Ketua
Trouble Boy berubah jadi bodyguard.”
Di belakang
mereka, Reno dan anggota geng lain sudah hampir mati menahan tawa.
“Ketua soft
launching.”
“Gue pengen
muntah liat romantisnya.”
Petra
langsung menendang ringan kaki Reno dari belakang.
“Banyak
bacot.”
Namun meski
begitu…
Sudut bibir
Petra tetap naik kecil.
Sementara
Hanin tetap setenang biasa seolah tidak peduli dengan bisikan satu kelas yang
mulai heboh.
Begitu masuk
kelas, beberapa teman Hanin langsung menyapa heboh.
“HANIN PAGI!”
“Kopi dari
siapa tuh 👀”
“Nah kan nah
kan.”
Hanin duduk
di kursinya dekat jendela sambil meletakkan tas.
“Dari Arga.”
Dan satu
kelas langsung:
“OOOOHHHHH.”
Petra yang
baru saja duduk di kursi belakang otomatis menoleh cepat.
“Kenapa pada
heboh.”
Reno langsung
nyengir.
“Cemburu lagi nih.”
“Gue gak
cemburu.”
“Terus kenapa
mukanya asem.”
Petra
melempar buku tipis ke arah Reno.
Sementara
Hanin membuka bukunya santai lalu meminum kopi dinginnya lagi.
Dan tanpa
sadar…
Tatapan Petra
kembali jatuh ke arah Hanin.
Pagi itu
cahaya matahari masuk dari jendela tepat di samping meja Hanin, membuat rambut
hitamnya terlihat lebih lembut terkena cahaya.
Cantik.
Petra sampai
diam beberapa detik terlalu lama.
Reno yang
melihat itu langsung geleng-geleng kepala.
“Ketua…”
“Hm.”
“Lo udah
hopeless.”
Petra
terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursinya.
━
Suasana
sekolah hari itu berjalan cukup normal.
Pelajaran
demi pelajaran berlangsung seperti biasa, meski nama Hanin masih terus jadi
bahan obrolan hampir di setiap sudut sekolah.
Dan sekarang…
Jam olahraga
akhirnya dimulai.
Satu angkatan
berkumpul di lapangan dengan seragam olahraga sekolah.
Kaos putih
dengan strip hitam di lengan.
Celana training hitam strip putih.
Suasana
lapangan langsung ramai oleh suara siswa yang mengeluh begitu guru olahraga
menjelaskan materi hari itu.
“Tes lari?”
“BU KITA
MASIH MUDA JANGAN DIAKHIRI SEKARANG 😭”
“Aku baru
makan gorengan…”
Guru olahraga
hanya tertawa sambil meniup peluit.
“Lima
putaran. Yang terbaik dapat nilai tambahan.”
Seketika
semua langsung heboh.
Sementara
Hanin berdiri tenang sambil mengikat rambutnya lebih tinggi.
Petra yang
berdiri beberapa meter dari Hanin melirik sekilas lalu mendecakkan lidah kecil.
“Dia pasti
menang lagi.”
Reno
mengangguk pasrah.
“Kalau Hanin ikut, kita cuma figuran.”
PRITTT!
Peluit
dibunyikan.
Dan seluruh
siswa mulai berlari.
Awalnya masih
santai.
Namun tak
butuh waktu lama sampai Hanin mulai meninggalkan yang lain.
Langkahnya
stabil.
Napasnya teratur.
Gerakannya ringan seperti sudah terbiasa latihan fisik berat setiap hari.
“ANJIR CEPET
BANGET!”
“ITU MANUSIA
APA MOTOR?!”
Bahkan beberapa
cowok mulai ngos-ngosan di putaran kedua sementara Hanin masih terlihat tenang.
Petra yang
biasanya cukup unggul dalam olahraga pun akhirnya tertawa kecil menyerah.
“Gila…”
Dan seperti
yang sudah diprediksi semua orang...
Hanin finish
paling pertama.
Waktunya
bahkan jauh di atas rata-rata siswa lain.
Guru olahraga
sampai mengangguk kagum.
“Bagus sekali
Hanin.”
Teman-temannya
langsung heboh lagi.
“HANIN
MONSTER FISIK!”
“LO MAKAN
APAAA?”
Hanin hanya
tersenyum tipis kecil sambil mengatur napas.
Namun…
Entah kenapa
tubuhnya terasa sedikit lebih berat hari ini.
Mungkin
karena terlalu capek beberapa hari terakhir.
Kurang tidur.
Atau jadwalnya yang terlalu padat.
Ia tetap diam
dan tidak mengatakan apa pun.
━
Setelah
pelajaran olahraga selesai, para siswi mulai masuk ke ruang ganti untuk
berganti seragam sekolah kembali.
Suasana ruang
ganti cukup ramai oleh suara obrolan santai.
Sementara
Hanin berdiri di dekat loker sambil membuka ikatan rambutnya perlahan.
Namun
beberapa detik kemudian...
Pandangan
Hanin mulai sedikit buram.
Napasnya
terasa aneh.
Dan tubuhnya
mendadak kehilangan keseimbangan.
“Hanin?”
Salah satu
siswi menoleh bingung saat melihat Hanin memegang loker pelan.
Namun sebelum
siapa pun sempat mendekat...
BRUK.
Tubuh Hanin
jatuh lemas ke lantai ruang ganti.
Seketika
seluruh ruangan panik.
“HANIN?!”
“YA ALLAH!”
“CEPET
PANGGIL GURU!”
Suasana
mendadak ricuh total.
Chapter 8
Kepanikan
langsung menyebar cepat ke seluruh area olahraga.
Beberapa
siswi membantu menopang tubuh Hanin yang tidak sadarkan diri, sementara guru
olahraga langsung meminta UKS disiapkan.
“Cepat bawa
ke UKS!”
Suasana yang
tadi penuh candaan mendadak berubah tegang.
Hanin yang
biasanya selalu terlihat kuat dan tenang kini terbaring lemas tanpa respon.
Bahkan
beberapa siswi terlihat benar-benar panik karena tidak pernah melihat Hanin
selemah ini.
—
Di sisi lain
gedung sekolah…
Damian yang
sedang berada di kelas, tiba-tiba mendengar keributan di koridor.
“Hanin
pingsan!”
“Di ruang
ganti olahraga!”
Seketika
kursi Damian bergeser keras.
BRAK!!
Satu kelas
langsung menoleh kaget.
Wajah Damian
yang biasanya santai berubah serius dalam sekejap.
“Apa?”
Tanpa
menunggu penjelasan lagi, Damian langsung keluar kelas begitu saja.
“WOY DAM...”
Namun cowok
itu sudah berlari cepat menyusuri koridor sekolah.
Aura ramah
dan santainya benar-benar hilang.
Dan itu cukup
membuat teman-temannya ikut tegang.
Karena Damian
jarang sekali terlihat panik seperti itu.
—
Saat Damian
sampai di depan UKS…
Ruangan itu
sudah cukup ramai.
Beberapa guru
berdiri di luar.
Teman-teman Hanin terlihat cemas.
Dan Petra bersama Trouble Boy ternyata sudah lebih dulu ada di sana.
Petra berdiri
dekat pintu UKS dengan rahang menegang.
Begitu
melihat Damian datang…
Suasana
langsung terasa makin serius.
Damian
membuka pintu UKS cepat.
Dan di sana…
Hanin sedang
terbaring di kasur UKS dengan wajah sedikit pucat.
Rambutnya
masih sedikit berantakan habis olahraga.
Dokter
sekolah sedang memeriksa kondisinya sementara guru UKS menyiapkan air dan obat.
Damian
langsung mendekat.
“Hanin.”
Tidak ada
respon.
Tatapan
Damian langsung berubah khawatir.
Cowok itu
duduk di samping ranjang sambil menggenggam pelan tangan adiknya yang terasa
sedikit dingin.
“Dia kenapa?”
tanya Damian pada dokter sekolah.
“Kemungkinan
kelelahan dan kurang istirahat,” jawab dokter pelan. “Tubuhnya terlalu
diforsir.”
Damian
langsung menghela napas berat.
Karena ia
tahu…
Hanin memang
sering memaksakan diri diam-diam.
Latihan.
Sekolah.
Aktivitas lain.
Dan tetap bertindak seolah semuanya baik-baik saja.
—
Di luar UKS…
Suasana
koridor masih ramai.
Satu sekolah
benar-benar geger mendengar Hanin pingsan.
“Serius Hanin
pingsan?”
“Dia keliatan
kuat banget padahal…”
“Kasian…”
Petra berdiri
diam sambil terus melihat ke arah dalam UKS lewat kaca pintu.
Untuk pertama
kalinya…
Ia melihat
Hanin dalam keadaan yang terlihat rapuh.
Dan anehnya...
Dadanya terasa tidak nyaman melihat itu.
—
Suasana UKS
masih terasa tegang.
Mesin kipas
berputar pelan di sudut ruangan sementara beberapa guru berdiri cemas
memperhatikan kondisi Hanin yang masih belum sepenuhnya sadar.
Wajah gadis
itu terlihat pucat.
Jauh berbeda dari biasanya yang selalu tenang dan kuat.
Damian duduk
di samping ranjang sambil menggenggam tangan adiknya erat.
Tatapannya
turun perlahan ke wajah Hanin.
Dan di balik
ekspresi tenangnya sekarang…
Ada
kekhawatiran yang sangat dalam.
Karena Damian
tahu persis apa penyebab Hanin bisa tiba-tiba tumbang seperti ini.
Cowok itu
akhirnya menghela napas kecil sebelum merogoh saku celananya.
Lalu
mengeluarkan satu botol obat kecil.
Dokter
sekolah yang melihat itu langsung sedikit terdiam.
Tatapannya
berubah memahami.
Damian
membuka botol itu dengan hati-hati lalu mengambil satu tablet.
“Nanti
setelah dia sadar penuh, bantu kasih air,” ucap Damian pelan pada dokter
sekolah.
Dokter itu
mengangguk kecil.
Sementara
guru UKS terlihat bingung.
“Itu obat
apa?”
Damian
terdiam sesaat.
Namun sebelum
ia menjawab, dokter sekolah lebih dulu berbicara pelan.
“Nilotinib.”
Suasana
ruangan mendadak hening.
Nama obat itu
terdengar asing bagi sebagian besar orang.
Namun dokter
sekolah tahu persis obat itu digunakan untuk apa.
Tatapannya
kembali jatuh pada Hanin yang masih tertidur lemah di ranjang UKS.
Dan untuk
pertama kalinya…
Beliau
memahami kenapa Hanin terlihat terlalu disiplin menjaga tubuhnya.
Kenapa
staminanya luar biasa.
Kenapa ia seolah memaksakan dirinya selalu terlihat kuat.
Karena gadis
itu sedang melawan sesuatu di dalam tubuhnya sendiri.
Damian
menatap Hanin beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,
“Dia punya
leukemia kronis.”
Kalimat itu
membuat suasana langsung semakin sunyi.
Bahkan Petra
yang berdiri di dekat pintu UKS ikut membeku mendengarnya.
Leukemia.
Kata itu
terasa terlalu berat untuk dikaitkan dengan Hanin.
Gadis yang
selalu terlihat sempurna.
Kuat.
Dan sulit dikalahkan.
Damian
menundukkan pandangannya sebentar.
“Masih tahap
awal,” lanjutnya pelan. “Fase kronis.”
“Tapi dia gak
suka orang lain tahu.”
Dokter
sekolah mengangguk mengerti.
Dan kini
beliau paham kenapa Damian begitu sigap membawa obat sendiri.
Karena
keluarga mereka sudah hidup berdampingan dengan kondisi itu sejak lama.
—
Di depan pintu UKS…
Petra berdiri
diam tanpa suara.
Biasanya ia
selalu punya sesuatu untuk dikomentari.
Namun
sekarang…
Tidak ada
satu pun kata yang keluar.
Karena untuk
pertama kalinya…
Ia sadar
Hanin ternyata tidak sekuat yang semua orang lihat.
—
Suasana di
dalam UKS terasa sangat hening.
Tidak ada
lagi keramaian seperti tadi.
Kini di
ruangan itu hanya ada Damian, Petra, dokter sekolah, guru olahraga, dan wali
kelas Hanin.
Pintu UKS
bahkan sengaja ditutup rapat agar tidak ada siswa lain masuk.
Damian masih
duduk di samping ranjang Hanin sambil memegang botol obat kecil di tangannya.
Tatapannya
perlahan beralih pada orang-orang di ruangan itu.
Lalu dengan
suara tenang namun serius, Damian berkata,
“Tolongan…
jangan ada yang kasih tahu siapa pun soal ini.”
Guru olahraga
dan wali kelas saling berpandangan sebentar.
Damian
melanjutkan pelan,
“Hanin paling
gak suka dikasihani.”
Tatapannya
turun pada adiknya yang masih terbaring lemah.
“Kalau satu
sekolah tahu…”
“Dia bakal
benci itu.”
Dokter
sekolah mengangguk memahami.
Beliau cukup
bisa membaca seperti apa karakter Hanin.
Gadis itu
terlalu menjaga harga dirinya.
Terlalu kuat untuk mau dipandang lemah.
“Tenang,”
jawab wali kelas lembut. “Kami akan jaga rahasia ini.”
Petra yang
sejak tadi diam akhirnya bicara pelan,
“Gue juga gak
bakal ngomong.”
Damian
menoleh sekilas pada Petra.
Tatapan
mereka bertemu beberapa detik.
Dan Damian
bisa melihat dengan jelas...
cowok itu benar-benar khawatir.
Bukan
penasaran.
Bukan sekadar simpati.
Tapi khawatir
sungguhan.
Damian
akhirnya mengangguk kecil.
—
Beberapa
menit kemudian…
Jari Hanin
bergerak pelan.
Damian
langsung refleks mendekat.
“Hanin?”
Kelopak mata
Hanin perlahan terbuka.
Pandangan
gadis itu masih sedikit buram sebelum akhirnya fokus pada langit-langit UKS.
Ia mengernyit
kecil.
“…Aku
pingsan?”
“Hmm,” jawab
Damian pelan.
Hanin
langsung mencoba bangun namun Damian cepat menahan bahunya pelan.
“Pelan-pelan.”
Dokter
sekolah ikut mendekat memeriksa kondisi Hanin sebentar.
“Pusing?”
tanyanya lembut.
“Sedikit.”
Damian segera
membuka botol air mineral lalu membantu Hanin duduk lebih nyaman.
“Nih minum
dulu.”
Hanin
menerima gelas kecil itu perlahan.
Tangannya
masih sedikit lemas.
Dan untuk
pertama kalinya…
Petra melihat
sisi Hanin yang sama sekali berbeda dari biasanya.
Bukan Hanin
yang dingin.
Bukan Hanin yang kuat.
Bukan Hanin yang selalu menang.
Tapi Hanin
yang ternyata juga bisa rapuh.
Namun bahkan
dalam kondisi seperti itu…
Tatapan Hanin
tetap tenang.
Seolah ia sudah terbiasa menghadapi semua ini sendirian.
—
Hanin duduk
bersandar pelan di ranjang UKS sambil memegang botol air mineral yang diberikan
Damian.
Wajahnya
memang masih sedikit pucat, tapi tatapannya mulai kembali fokus seperti biasa.
Ruangan tetap
tenang.
Sampai
beberapa detik kemudian Hanin sedikit mengernyit.
Lidahnya
menyentuh bagian dalam rongga mulutnya pelan seolah merasakan sesuatu.
Lalu Hanin
menoleh ke Damian.
“…Kak.”
“Hm?”
“Aku minum
obat?”
Damian diam
sebentar.
Karena Hanin
cukup peka terhadap tubuhnya sendiri.
Sekecil apa
pun perubahan rasa di mulutnya pasti langsung sadar.
Hanin menatap
kakaknya lebih serius.
“Ini Nilotinib ya?”
Suasana
ruangan kembali hening.
Dokter
sekolah langsung memahami bahwa Hanin memang sudah sangat terbiasa dengan
pengobatannya sendiri.
Damian
akhirnya mengangguk kecil.
“Iya.”
Hanin
menghela napas pelan lalu menyender kembali ke ranjang.
“Aku pingsan
berapa lama?”
“Gak lama.” Sahut Damian.
“Kamu panik?”
Damian
terkekeh kecil meski jelas terdengar lega karena Hanin sudah sadar penuh.
“Sedikit.”
“Bohong.”
“Kali ini
iya.”
Sudut bibir
Hanin naik tipis kecil.
Meski
tubuhnya masih lemas, ekspresinya tetap setenang biasa seolah tidak ingin
membuat situasi makin berat.
Lalu Hanin
melirik satu per satu orang di ruangan itu.
Tatapannya
berhenti pada Petra yang berdiri diam dekat pintu sejak tadi.
Dan dalam
hitungan detik…
Hanin
langsung paham.
“…Dia tahu?”
Damian
mengusap tengkuknya kecil.
“Terpaksa.”
Hanin terdiam
beberapa saat.
Petra refleks
merasa sedikit bersalah karena tatapan Hanin terlalu tenang untuk situasi
seperti ini.
Namun di luar
dugaan…
Hanin tidak
marah.
Ia hanya
berkata pelan,
“Jangan kasih
tahu siapa-siapa.”
Petra
langsung menjawab tanpa ragu,
“Gue gak bakal ngomong.”
Tatapan
mereka bertemu beberapa detik.
Dan untuk
pertama kalinya…
Petra melihat
sesuatu yang berbeda di mata Hanin.
Bukan
ketakutan.
Bukan
kesedihan.
Melainkan
kelelahan yang selama ini disembunyikan sangat rapi.
—
Hanin masih
duduk bersandar di ranjang UKS sambil memegang botol air mineralnya.
Wajahnya
mulai membaik meski masih sedikit pucat.
Namun begitu
suasana mulai tenang…
Hanin
langsung menoleh ke Damian dengan tatapan serius.
“Kak.”
“Hm?”
“Jangan
bilang Mama sama Papa.”
Damian diam.
Hanin
menghela napas kecil sebelum melanjutkan,
“Kalau mereka
tahu pasti panik.”
Dan itu
benar.
Di keluarga
mereka, Hanin adalah satu-satunya anak perempuan.
Anak paling bungsu.
Dan paling dijaga.
Sedikit saja
Hanin sakit…
Rumah bisa
langsung berubah kacau.
Damian
mengusap tengkuk pelan sambil menghindari tatapan adiknya.
Hanin
langsung menyipitkan mata kecil.
“…Kak
Damian.”
“Hmm…”
“Kamu bilang
siapa.”
Damian
terkekeh kecil penuh dosa.
“Sedikit
orang.”
“Hah?”
Belum sempat
Hanin bertanya lagi...
BRAK!
Pintu UKS
terbuka cukup keras.
Semua orang
langsung menoleh.
Dan dalam
sekejap…
Aura ruangan
langsung berubah tegang.
Prince masuk
paling depan dengan wajah dingin yang jelas menyimpan kepanikan besar.
Di
belakangnya ada Leon yang napasnya masih sedikit tidak beraturan seolah
buru-buru datang.
Dan Bagas...
yang biasanya
paling santai,
kini terlihat
paling panik.
“Hanin?!”
Suasana UKS
langsung terasa penuh.
Bahkan guru
olahraga sampai refleks mundur sedikit karena aura tiga kakak Hanin terlalu
kuat saat bersamaan.
Prince
langsung berjalan cepat menghampiri ranjang Hanin.
Tatapannya
menyapu wajah adiknya dari atas sampai bawah memastikan Hanin benar-benar
sadar.
“Kamu sakit
di mana?”
“Ada yang
pusing?”
“Mual?”
“Sesak?”
Pertanyaan
datang bertubi-tubi.
Bagas bahkan
sudah jongkok di depan ranjang sambil memegang tangan Hanin.
“Anjir lo
bikin jantung gue copot tau gak.”
Leon menghela
napas lega begitu melihat Hanin masih bisa duduk normal.
Sementara
Hanin hanya mematung tidak percaya.
Lalu perlahan
menoleh pada Damian.
“…Sedikit
orang?”
Damian
langsung pura-pura melihat langit-langit.
Petra dan
guru-guru sampai hampir menahan senyum melihat reaksi Hanin.
Karena jelas
sekali…
Di keluarga
ini, Hanin benar-benar diperlakukan seperti putri paling berharga.
Prince masih
memeriksa kondisi Hanin dengan wajah tegang.
“Kamu dipaksa
latihan terlalu berat?”
“Enggak.”
“Udah makan?”
“…Udah.”
“Tidur berapa
jam.”
Hanin mulai
pusing sendiri ditanyai terus.
“Aku cuma
pingsan bentar…”
“Bentar
menurut kamu beda sama menurut kita,” jawab Prince tegas.
Dan itu
langsung membuat Hanin diam.
Karena di
antara semua kakaknya…
Prince memang
paling sulit dibantah saat serius seperti ini.
Bagas lalu
mendesah sambil menyandarkan kepala ke ranjang Hanin dramatis.
“Gue kira mau
kehilangan adek.”
“Lebay.”
“Diam.” Sahut Bagas.
Meski mulut
mereka masih bisa bercanda sedikit…
Tatapan panik
ketiga kakaknya jelas belum benar-benar hilang.
Karena bagi
mereka...
Melihat Hanin
tumbang adalah hal yang paling tidak ingin mereka lihat.
—
Begitu
Prince, Leon, dan Bagas masuk…
Pintu UKS
langsung kembali ditutup rapat.
Suasana di
dalam ruangan terasa jauh lebih serius sekarang.
Aura ketiga
kakak Hanin benar-benar berbeda saat menyangkut keselamatan adik bungsu mereka.
Prince
berdiri paling depan dengan wajah tenang namun tegas.
Tatapannya
beralih pada wali kelas dan guru olahraga Hanin.
“Maaf kalau
sedikit merepotkan.”
Nada
bicaranya sopan.
Tapi tetap terasa penuh wibawa.
Guru olahraga
langsung menggeleng cepat.
“Tidak, kami justru khawatir dengan kondisi Hanin.”
Prince
mengangguk kecil sebelum akhirnya berkata pelan,
“Untuk
masalah penyakit Hanin…”
“Tolong
jangan sampai keluar dari ruangan ini.”
Wali kelas
Hanin mengangguk memahami.
“Kami mengerti.”
Prince
melanjutkan,
“Hanin paling
tidak suka dipandang lemah.”
“Kalau
teman-temannya tahu…”
“Dia akan
merasa tidak nyaman.”
Di atas
ranjang UKS, Hanin hanya menutup wajah dengan tangan kecil karena merasa
pembicaraan tentang dirinya terlalu serius.
Bagas
langsung melirik.
“Tuh kan malu.”
“Berisik.”
Leon terkekeh
kecil tipis untuk pertama kalinya sejak datang.
Namun berbeda
dengan mereka…
Prince masih
terlihat sangat fokus.
Cowok itu
lalu mengeluarkan sebuah map hitam tipis dari tas kecil yang dibawanya.
Ia berjalan
mendekati dokter sekolah lalu menyerahkan map tersebut dengan hati-hati.
“Ini rekam
medis Hanin.”
Dokter
sekolah menerimanya sedikit terkejut.
Prince
berbicara lebih pelan kali ini.
“Kalau
sewaktu-waktu Hanin relaps…”
“Di situ ada
semua riwayat pengobatan, obat rutin, alergi, dan nomor dokter pribadinya.”
Ruangan
kembali hening beberapa detik.
Karena baru
sekarang semua orang benar-benar sadar…
Keluarga
Hanin sudah hidup dengan rasa khawatir itu cukup lama.
Dokter
sekolah membuka map sedikit lalu mengangguk serius.
“Saya
mengerti.”
“Kami akan
jaga kondisi Hanin sebaik mungkin selama di sekolah.”
Prince
membungkukkan kepala kecil sebagai bentuk terima kasih.
Dan itu cukup
membuat wali kelas Hanin sedikit tersentuh.
Karena di
balik aura dingin keluarga itu…
Mereka
ternyata hanya keluarga yang sangat menjaga satu sama lain.
—
Sementara itu
Petra masih berdiri dekat pintu UKS tanpa banyak bicara.
Tatapannya
sesekali jatuh pada Hanin yang kini terlihat jauh lebih diam dari biasanya.
Dan anehnya…
Melihat Hanin
duduk lemah seperti itu membuat dadanya terasa sesak.
Karena
sekarang Petra tahu...
Di balik
semua kekuatan Hanin…
Ada sesuatu
yang diam-diam terus ia lawan sendirian.
—
Suasana di
dalam UKS perlahan mulai lebih tenang setelah Hanin sadar sepenuhnya.
Namun ketiga
kakaknya masih terlihat sulit benar-benar rileks.
Terutama
Prince.
Cowok itu
berdiri di dekat ranjang Hanin sambil memperhatikan wajah adiknya beberapa
detik sebelum akhirnya mengambil keputusan.
“Kami izin
bawa Hanin pulang.”
Wali kelas
Hanin langsung mengangguk.
“Tentu. Kondisinya juga lebih baik kalau istirahat di rumah.”
Guru olahraga
ikut menyetujui.
Prince lalu
menoleh pada Hanin.
“Kamu gak
usah lanjut kelas hari ini.”
“Aku bisa...”
“Tidak.”
Jawaban
Prince langsung memotong tanpa memberi ruang bantahan.
Hanin
menghela napas kecil pasrah.
Karena kalau
Prince sudah memakai nada seperti itu…
Artinya
keputusan sudah final.
—
Damian yang
sejak tadi duduk dekat Hanin langsung berdiri.
“Gue ikut
pulang.”
Namun Prince
langsung menatap adiknya datar.
“Enggak.”
Damian
mengernyit.
“Kenapa?”
“Lo tetap di
sekolah.”
“Hah?”
Bagas dan
Leon langsung diam karena mereka tahu arah pembicaraan ini akan panjang.
Damian
melipat tangan.
“Hanin baru pingsan.”
“Dan sekarang
dia udah sama gue.”
“Ya terus?” Sahut Prince.
Prince
menghela napas kecil sebelum menjawab tenang,
“Kalau
semuanya pulang…”
“Orang sekolah
bakal makin curiga.”
Damian
terdiam.
Dan
sebenarnya…
ia tahu Prince benar.
Tadi saja
kedatangan mereka bertiga sudah cukup bikin suasana sekolah heboh.
Kalau Damian
ikut menghilang juga, gosip akan makin liar.
“Tapi...”
“Damian.”
Nada suara
Prince turun sedikit lebih tegas.
“Sekolah
sampai selesai.”
Ruangan
kembali hening.
Hanin yang
melihat Damian mulai kesal akhirnya bicara pelan,
“Aku gapapa.”
Damian
menoleh cepat.
“Lo tadi pingsan.”
“Aku cuma
kecapekan.”
“Bagi lo itu
bukan cuma.”
Hanin diam
beberapa detik.
Lalu perlahan
tersenyum kecil tipis mencoba menenangkan kakaknya.
“Aku bakal
istirahat.”
Tatapan
Damian akhirnya sedikit melunak.
Karena
sesibuk apa pun mereka bertengkar kecil…
Damian paling
sulit kalau Hanin sudah bicara selembut itu.
Leon akhirnya
menepuk bahu Damian santai.
“Udah.”
“Biar Prince
yang bawa pulang.”
Bagas ikut
menambahkan,
“Nanti malem kita video call kalau lo masih panik.”
Damian
mendecakkan lidah kecil namun akhirnya menyerah.
“Fine.”
Prince lalu
membantu Hanin berdiri perlahan dari ranjang UKS.
Refleks semua
orang langsung memperhatikan khawatir.
Namun Hanin
berhasil berdiri dengan cukup stabil meski masih sedikit lemas.
Prince
otomatis menahan siku Hanin pelan.
“Pelan.”
“Aku bisa
jalan sendiri.”
“Biarkan
saja.”
Dan untuk
pertama kalinya…
Hanin
benar-benar menurut tanpa protes banyak.
—
Saat pintu
UKS dibuka kembali…
Koridor luar
ternyata masih cukup ramai.
Beberapa
siswa langsung menoleh penasaran begitu melihat Hanin keluar bersama tiga
kakaknya.
Suasana
otomatis hening.
Karena aura
Prince, Leon, dan Bagas benar-benar terlalu kuat saat berjalan berdampingan
mengelilingi Hanin seperti itu.
Dan di
belakang…
Petra hanya
berdiri diam memperhatikan Hanin pergi.
Tatapannya
jauh lebih serius dibanding biasanya.
Karena
sekarang...
Ia tidak bisa
lagi melihat Hanin dengan cara yang sama seperti dulu.
Chapter 9
Koridor
sekolah terasa jauh lebih sunyi setelah Hanin dibawa pulang.
Meski siswa
lain masih ramai membicarakan kejadian tadi…
Bagi Petra,
suara-suara itu seperti terdengar samar.
Cowok itu
berjalan menuju kelas dengan langkah pelan.
Tangannya
masuk ke saku celana.
Tatapannya kosong lurus ke depan.
Reno dan
anggota Trouble Boy lain sampai saling pandang bingung.
Karena baru
kali ini mereka melihat Petra benar-benar diam selama itu.
Tidak marah.
Tidak bercanda.
Tidak juga membuat keributan.
Kosong.
Dan itu
justru lebih menyeramkan.
“Ketua…”
panggil Reno pelan.
Namun Petra
tidak menjawab.
Isi kepalanya
masih penuh dengan satu hal.
Leukemia.
Kata itu
terus terngiang.
Sulit
dipercaya gadis sekuat Hanin ternyata sedang melawan penyakit seperti itu.
Dan lebih
sulit lagi membayangkan…
Hanin
menjalani semuanya sambil tetap terlihat baik-baik saja setiap hari.
—
Tak lama
kemudian langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.
Damian.
Cowok itu
akhirnya berhasil menyusul Petra di koridor yang mulai sepi.
“Petra.”
Petra
berhenti berjalan namun tidak langsung menoleh.
Damian
berdiri di sampingnya beberapa detik dalam diam.
Lalu berkata
pelan,
“Jangan
pasang muka kayak orang mau perang.”
Petra tertawa
hambar kecil.
“Gue cuma…”
Kalimatnya
menggantung.
Karena bahkan
Petra sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sekarang.
Kesal.
Kaget.
Takut.
Semuanya
campur jadi satu.
Damian
menatap lurus ke depan koridor sebelum akhirnya berkata,
“Hanin udah
biasa.”
Petra
langsung menoleh.
“Apa?”
“Dia udah
hidup sama itu cukup lama.”
Nada suara
Damian tenang.
Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.
Cowok itu
memasukkan tangan ke saku sambil tersenyum tipis kecil.
“Makanya dia
keras kepala.”
“Makanya dia
selalu maksa dirinya keliatan kuat.”
Petra diam
mendengarkan.
Dan semakin
mendengar…
dadanya makin terasa sesak.
Damian lalu
melirik Petra sekilas.
“Dia benci
dikasihani.”
“Jadi jangan
tatap dia kayak orang sakit.”
Petra
langsung menjawab cepat,
“Gue gak bakal begitu.”
Damian
tersenyum kecil.
“Aku tahu.”
Beberapa
detik suasana kembali sunyi.
Lalu Damian
akhirnya berkata pelan,
“Kalau lo
memang suka sama Hanin…”
“Jangan cuma
suka versi kuatnya aja.”
Petra membeku
sesaat.
Karena itu
pertama kalinya seseorang bicara begitu terang padanya soal Hanin.
Damian lalu
menepuk pelan bahu Petra.
“Dia
kelihatannya kuat banget.”
“Tapi
sebenarnya…”
“Dia juga
capek.”
Dan setelah
mengatakan itu, Damian berjalan lebih dulu meninggalkan koridor.
Menyisakan
Petra yang masih berdiri diam memikirkan semua ucapan tadi.
Untuk pertama
kalinya dalam hidupnya…
Petra merasa
takut kehilangan seseorang yang bahkan belum benar-benar ia miliki.
—
Mobil hitam
milik Prince melaju tenang meninggalkan area sekolah.
Di kursi
belakang, Hanin duduk bersandar sambil memegang botol air mineralnya.
Tubuhnya
memang sudah lebih baik…
tapi wajahnya masih sedikit pucat.
Prince
beberapa kali melirik ke kaca spion memastikan kondisi adiknya tetap stabil.
Sementara
Leon duduk di samping Hanin sambil sesekali mengecek ponselnya.
Dan Bagas...
yang sedari
tadi paling ribut,
akhirnya
membuka suara.
“Kita
langsung ke apartemen?”
“Jangan,”
jawab Hanin cepat.
Prince
langsung mengerti maksud adiknya bahkan sebelum Hanin menjelaskan.
Kalau Hanin
pulang ke apartemen…
Damian pasti
akan datang malam ini dan bisa saja tanpa sadar membocorkan semuanya ke orang
tua mereka.
Dan itu
berbahaya.
Sangat
berbahaya.
Karena begitu
Mama dan Papa mereka tahu Hanin pingsan...
Rumah utama
pasti langsung chaos.
Dokter
pribadi datang.
Bodyguard ditambah.
Semua aktivitas Hanin dihentikan.
Dan kemungkinan besar…
Hanin
dilarang sekolah.
Leon sampai
terkekeh kecil membayangkannya.
“Kalau Tante
tahu…”
Bagas
langsung menyambung dramatis,
“Bisa perang dunia ketiga.”
Hanin menutup
wajah dengan tangan.
“Nah itu.”
Prince
menghela napas kecil namun sudut bibirnya samar naik tipis.
Karena jujur
saja…
Semua orang
di keluarga mereka memang terlalu protektif terhadap Hanin.
“Ke rumah gue
aja,” ujar Bagas akhirnya.
“Paling
aman.”
Prince
langsung setuju.
“Hmm.”
Hanin pun
mengangguk kecil pasrah.
Dan keputusan
langsung dibuat.
Hari ini
Hanin akan tinggal sementara di rumah Bagas.
Bukan
apartemen.
Bukan rumah utama keluarga mereka.
Tempat paling
aman untuk menyembunyikan kejadian hari ini.
—
Tak lama
kemudian mobil memasuki kawasan elite pusat kota.
Rumah Bagas
berada di area private residence yang jauh lebih tenang dibanding rumah utama
keluarga mereka.
Begitu mobil
berhenti di depan rumah modern bernuansa hitam abu itu, Hanin langsung turun
perlahan.

Bagas membuka
pintu rumah sambil berceloteh,
“Welcome to
rumah paling damai sedunia.”
Leon langsung
nyeletuk,
“Karena gak ada lo pas kerja.”
“Kurang
ajar.”
Hanin
akhirnya tertawa kecil samar.
Dan melihat
Hanin masih bisa tertawa seperti itu…
Sedikit
membuat ketiga kakaknya lega.
Karena sejak
mendengar Hanin pingsan tadi,
Jujur saja…
Mereka semua
hampir kehilangan akal.
—
Suasana rumah
Bagas terasa jauh lebih tenang dibanding rumah utama keluarga mereka.
Tidak terlalu
banyak penjaga.
Tidak terlalu formal.
Dan jauh lebih santai.
Begitu masuk,
Hanin langsung dibawa duduk di sofa ruang tengah oleh ketiga kakaknya seolah ia
terbuat dari kaca.

“Aku cuma
pingsan bentar…” gumam Hanin lelah.
“Dan itu
cukup bikin kita mau mati jantung,” balas Bagas cepat.
Leon terkekeh
kecil sambil mengambil selimut tipis lalu menyampirkannya ke bahu Hanin.
“Tidur dulu.”
Prince yang
sedari tadi paling diam akhirnya bicara,
“Nanti malam
minum obat lagi tepat waktu.”
“Iya Prince.”
“Jangan
bohong.”
Hanin
mendesah kecil.
“Iya…”
Baru kali ini
Hanin terlihat benar-benar nurut tanpa banyak bantahan.
Karena bahkan
ia sadar…
hari ini memang sedikit terlalu berat untuk tubuhnya.
—
Tak lama
kemudian Prince menerima telepon dari rumah utama.
Tatapannya
langsung berubah kecil penuh arti.
“Mama.”
Leon langsung
menoleh.
“Nanya?”
“Kenapa kita
belum pulang.”
Bagas refleks
menunjuk Hanin cepat.
“Jangan speaker.”
Hanin
langsung menutup wajah dengan bantal.
Prince
menghela napas kecil lalu menjawab telepon dengan wajah setenang biasanya.
“Iya Ma.”
Suasana rumah
langsung hening mendengarkan sisi percakapan Prince.
“Iya tadi ada
urusan.”
“…Hanin?”
Ketiga
saudaranya langsung otomatis melihat Hanin bersamaan.
Hanin:
“…”
Prince tetap
tenang.
“Hanin di apartemen.”
Bagas sampai
refleks mengacungkan jempol kecil.
“Pintar.”
Prince
melanjutkan dengan suara datar khasnya,
“Iya Ma. Dia
baik-baik aja.”
Dan
untungnya…
Ibunya tidak
terlalu curiga.
Karena kalau
sampai tahu Hanin pingsan di sekolah,
Malam ini
kemungkinan besar seluruh keluarga besar sudah berkumpul panik.
Setelah
telepon selesai, Leon langsung menghela napas lega.
“Hampir
ketahuan.”
Bagas rebahan
dramatis di karpet.
“Gue belum siap dimarahin Tante.”
Hanin tertawa
kecil lemah melihat tingkah mereka.
—
Beberapa saat
kemudian Prince berdiri sambil merapikan jas hitamnya.
“Aku sama
Leon balik dulu.”
Bagas
mengangguk.
“Tenang, Hanin gue jagain.”
Prince
berjalan mendekati sofa lalu mengusap pelan kepala Hanin.
“Istirahat.”
“Iya.”
“Kalau badan
gak enak langsung telepon.”
“Prince…”
“Hm?”
“Aku gak
sekarat.”
Prince
menatap Hanin datar beberapa detik sebelum akhirnya menjawab singkat,
“Menurut gue
iya.”
Leon langsung
ngakak kecil.
Sementara
Hanin hanya menyerah pasrah.
—
Tak lama
kemudian Prince dan Leon pergi meninggalkan rumah Bagas menuju rumah utama
keluarga mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Kini rumah
itu tinggal menyisakan Hanin dan Bagas.
Dan untuk
pertama kalinya sejak kejadian di sekolah tadi…
Suasana
akhirnya terasa benar-benar tenang.
—
Malam mulai
semakin larut.
Rumah Bagas
kini terasa jauh lebih tenang setelah Prince dan Leon kembali ke rumah utama.
Hanin sudah
tertidur di kamar tamu lantai atas setelah dipaksa istirahat oleh kedua
kakaknya tadi.
Sementara
Bagas duduk santai di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.
Namun di sisi
lain kota…
Leon yang
sedang dalam perjalanan bersama Prince menuju rumah utama tiba-tiba mendapat
panggilan masuk.
Nama di layar
membuat Leon langsung duduk lebih tegak.
📞 Alexandra.
Prince yang
menyetir langsung melirik sekilas.
“Siapa?”
Leon menghela
napas kecil.
“Tante Alexandra.”
Prince
langsung diam beberapa detik.
Karena di
keluarga mereka…
Ada satu
orang yang protektif terhadap Hanin bahkan melebihi ibu kandungnya sendiri.
Alexandra.
Kakak dari
ibu Hanin.
Wanita
elegan, dingin, dan sangat disegani keluarga besar mereka.
Namun kalau
urusannya Hanin…
Ia bisa
berubah jadi orang paling overprotective sedunia.
Dulu saat
orang tua Hanin sering bolak-balik luar negeri mengurus bisnis keluarga…
Alexandra lah
yang paling banyak menjaga Hanin kecil.
Mengantar
tidur.
Menemani sekolah.
Bahkan mengurus Hanin saat sakit.
Dan mungkin
karena Alexandra hanya memiliki anak laki-laki…
Ia
benar-benar menyayangi Hanin seperti anak perempuan yang sangat ia dambakan.
Apalagi
setelah ia tidak bisa memiliki anak lagi karena harus kehilangan rahimnya
beberapa tahun lalu.
Sejak saat
itu…
Kasih
sayangnya pada Hanin menjadi sesuatu yang sangat besar.
Leon akhirnya
mengangkat telepon itu.
“Halo Tante.”
Namun belum
sempat Leon bicara panjang,
Suara
Alexandra langsung terdengar dari seberang sana.
“Hanin
kenapa?”
Leon membeku.
Prince
langsung menoleh cepat.
Karena mereka
bahkan belum mengatakan apa pun.
Leon mencoba
terdengar santai.
“Enggak kenapa-napa.”
“Leon.”
Nada suara Alexandra
turun pelan.
Dan itu jauh
lebih mengintimidasi dibanding bentakan.
“Aku kenal
kalian dari kecil.”
“Ada apa sama
Hanin?”
Mobil
langsung hening.
Prince sampai
memijat pelipis kecil.
Karena mereka
semua tahu…
Alexandra
punya semacam insting aneh kalau menyangkut Hanin.
Seolah
benar-benar ada ikatan batin kuat antara mereka.
Leon akhirnya
menghela napas pelan menyerah.
“…Dia tadi
pingsan di sekolah.”
Dan detik itu
juga...
Suasana di
ujung telepon berubah sangat sunyi.
Sangat sunyi
sampai membuat Leon ikut tegang.
Lalu suara
Alexandra terdengar lagi.
Jauh lebih pelan.
“Sekarang
Hanin di mana.”
“Di rumah
Bagas.”
“Aku ke
sana.”
“Tante gak
usah panik, Hanin udah sadar...”
“Leon.”
“Iya…”
“Alamat.”
Prince
langsung menutup mata sebentar sambil menggeleng kecil.
Karena mereka
tahu…
Begitu
Alexandra mendengar Hanin sakit,
Tidak ada
siapa pun yang bisa menghentikannya datang.
—
Di dalam
mobil, Leon langsung bisa membayangkan situasi yang akan terjadi kalau
Alexandra benar-benar datang ke rumah Bagas malam ini.
Dan itu tidak
akan bagus.
Sangat tidak
bagus.
Karena Bagas
tadi sudah hampir stres sendiri membayangkan harus menghadapi Alexandra
sendirian.
Wanita itu
memang sangat elegan dan tenang…
Tapi kalau
menyangkut Hanin...
auranya bisa jauh lebih menyeramkan dibanding siapa pun di keluarga mereka.
Leon menghela
napas kecil lalu mencoba bicara setenang mungkin.
“Tante… Hanin
beneran udah gapapa.”
Di ujung
telepon Alexandra masih diam.
Dan diamnya
itu justru bikin tegang.
Leon
melanjutkan cepat sebelum tantenya keburu berangkat.
“Dia cuma
kecapekan.”
“Sekarang
lagi tidur.”
“Tadi dokter
sekolah juga bilang kondisinya stabil.”
Prince yang
menyetir ikut menambahkan dari samping dengan suara cukup keras agar terdengar
di telepon,
“Kami udah
tangani, Tante.”
Beberapa
detik tidak ada jawaban.
Lalu akhirnya
Alexandra bertanya pelan,
“Dia makan?”
Leon langsung
menjawab cepat.
“Udah.”
“Obat?”
“Udah juga.”
“Sekarang
sama siapa.”
“Bagas.”
Mendadak
hening lagi.
Leon langsung
refleks memejamkan mata.
Karena ia
tahu…
nama Bagas bukan jawaban paling menenangkan untuk situasi begini.
Benar saja...
“Bagas?”
ulang Alexandra penuh keraguan.
Prince sampai
hampir tertawa kecil melihat ekspresi Leon yang mulai putus asa.
“Tante… Bagas
bisa jagain Hanin.”
“Dia
sendiri.”
“Ada pembantu
rumah juga…”
“Leon.”
“Iya…”
“Terakhir
kali Bagas jagain Hanin, mereka makan ramen jam dua pagi.”
Prince
langsung batuk menahan tawa.
Karena itu
memang benar.
Leon
cepat-cepat membela.
“Tapi
sekarang beda.”
“Bagas lagi
serius.”
“Dia panik
tadi.”
Di sisi lain
telepon akhirnya terdengar helaan napas panjang Alexandra.
Dan itu
pertanda emosinya mulai sedikit turun.
Leon langsung
memanfaatkan kesempatan itu.
“Tante kalau
datang sekarang…”
“Hanin malah
bakal sadar semua orang panik.”
Kalimat itu
berhasil membuat Alexandra terdiam.
Karena ia
paling tahu sifat Hanin.
Hanin tidak
suka merepotkan orang.
Tidak suka diperlakukan rapuh.
Dan paling benci kalau semua orang terlalu khawatir padanya.
Beberapa
detik kemudian akhirnya Alexandra bicara lebih pelan.
“…Besok pagi
video call aku.”
Leon langsung
lega setengah mati.
“Iya Tante.”
“Kalau Hanin
kenapa-kenapa lagi…”
“Kami
langsung kasih tahu.”
“Hm.”
Dan telepon
akhirnya terputus.
Begitu
sambungan mati...
Leon langsung
menjatuhkan kepala ke kursi mobil.
“Anjir
selamat.”
Prince
terkekeh kecil sambil tetap fokus menyetir.
“Bagas
harusnya traktir kita.”
Sementara di
rumah Bagas…
Cowok itu
yang sama sekali tidak tahu dirinya baru saja hampir didatangi Alexandra masih
santai duduk sambil makan keripik di ruang tengah.
—
Di dalam
mobil, Leon akhirnya membuka chat pribadi Bagas sambil menghela napas lega.
Lalu mengetik
cepat.
Tante hampir mau ke rumah kamu tadi.
Tak butuh
waktu lama...
Balasan Bagas
langsung masuk.
HAH?!
Lalu lanjut
lagi beberapa detik kemudian.
GUE BELUM SIAP MATI.
Leon langsung
tertawa kecil membaca reaksinya.
Prince yang
melirik sekilas sampai menggeleng geli.
“Lebay.”
“Lo gak liat
sendiri tadi Tante Alexandra nadanya kayak mau sidang keluarga,” balas Leon.
Sementara di
rumah Bagas…
Cowok itu
langsung duduk tegak di sofa sambil melihat ke arah tangga tempat Hanin tidur.
Wajahnya
mendadak serius.
“Anjir…”
Bagas refleks
merapikan posisi duduknya sendiri seolah Alexandra bisa muncul kapan saja.
Padahal
beberapa detik lalu dia masih makan keripik sambil selonjoran.
Lalu HP-nya
kembali berbunyi.
Leon mengirim
pesan lagi.
Untung gue sama Prince bisa nenangin.
Bagas
langsung menghela napas panjang penuh syukur.
Alhamdulillah.
Beberapa
detik kemudian Bagas menambahkan lagi.
Kalau Tante dateng gue fix disuruh pindah server.
Leon langsung
ngakak kecil di mobil.
Karena itu
memang sangat mungkin terjadi.
Chapter 10
Malam semakin
larut saat mobil Prince akhirnya memasuki gerbang rumah utama keluarga mereka.
Rumah besar
bergaya modern klasik itu masih terlihat hidup meski jam sudah cukup malam.

Lampu taman
menyala hangat.
Beberapa bodyguard berjaga seperti biasa.
Dan suasana rumah tetap terasa elegan sekaligus menegangkan dalam waktu
bersamaan.
Prince
memarkirkan mobil dengan tenang sementara Leon meregangkan tubuhnya kecil
setelah perjalanan.
“Kita harus
keliatan normal,” ujar Leon pelan.
Prince hanya
mengangguk singkat.
Karena di
rumah ini…
Perubahan
ekspresi sekecil apa pun bisa langsung disadari orang tua mereka.
Dan malam ini
mereka tidak boleh sampai curiga soal Hanin.
—
Begitu masuk
ke dalam rumah…
Suasana
langsung terasa hangat.
Mama mereka
sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca tablet, sementara sang ayah masih
sibuk dengan beberapa dokumen kerja di meja panjang dekat ruang tengah.
Prince dan
Leon langsung berjalan mendekat seperti biasa.
“Malam, Pa.
Ma,” sapa Leon santai.
“Malam,”
jawab ayah mereka singkat tanpa mengalihkan fokus terlalu lama.
Sementara ibu
mereka langsung menoleh pada kedua anaknya.
“Kalian baru
pulang?”
“Iya Ma,”
jawab Prince tenang.
“Udah makan?”
“Udah.”
Semua
terdengar normal.
Tenang.
Tidak ada yang mencurigakan.
Padahal
beberapa jam lalu mereka hampir kehilangan akal karena Hanin pingsan di
sekolah.
Ibu mereka
kemudian bertanya santai,
“Hanin di
apartemen?”
Leon refleks
hampir keselek napas sendiri namun Prince langsung menjawab lebih dulu dengan
wajah datar khasnya.
“Hmm.”
“Damian?”
“Masih di
apart Hanin.”
Dan
untungnya…
Jawaban itu
cukup membuat ibu mereka percaya.
“Besok suruh
Hanin makan teratur,” ucap ibunya lagi. “Belakangan dia keliatan capek.”
Kalimat itu
sukses membuat Leon dan Prince saling pandang sepersekian detik.
Karena
ternyata…
insting seorang ibu tetap sulit dibohongi.
Namun Prince
tetap menjawab tenang,
“Iya Ma.”
—
Setelah
obrolan singkat itu selesai…
Kebiasaan
mereka kembali berjalan seperti biasa.
Leon naik ke
lantai atas sambil memainkan ponselnya.
Prince
berjalan menuju kamar kerjanya dengan langkah tenang.
Semua
terlihat normal.
Padahal
diam-diam…
Masing-masing
dari mereka masih memikirkan Hanin malam ini.
Dan jauh di
dalam hati,
Mereka semua
tahu…
Ketakutan
kehilangan Hanin adalah satu-satunya hal yang paling tidak siap mereka hadapi.
Pagi hari
datang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding kemarin.
Rumah Bagas
masih terasa sunyi saat Hanin membuka mata perlahan.
Cahaya
matahari masuk dari sela tirai kamar tamu tempatnya tidur semalam.
Tubuhnya
sudah jauh lebih baik.
Sedikit lemas
memang masih ada…
tapi tidak separah kemarin.
Dan seperti
biasa...
Hanin memilih
bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
—
Karena Bagas
harus berangkat kerja sangat pagi, cowok itu sudah meninggalkan rumah sebelum
Hanin bangun.
Namun di meja
dapur sudah ada sarapan lengkap dengan sticky note kecil.
Tulisan khas
Bagas yang berantakan:
MAKAN.
JANGAN NGEYEL.
OBAT JAM 7.
KALO PINGSAN LAGI GUE YANG MATI.
Hanin sampai
terkekeh kecil membaca itu.
Tak lama
kemudian ponselnya berbunyi.
📱 Bagas
Damian jemput lo bentar lagi.
Hanin
membalas singkat.
Oke.
—
Sekitar tiga
puluh menit kemudian…
Mobil BMW
hitam milik Damian berhenti di depan rumah Bagas.
Damian turun
sambil masih memegang kopi dingin di tangannya.
Begitu Hanin
keluar rumah dengan seragam sekolah lengkap dan rambut terikat rapi.
Damian
langsung memperhatikan wajah adiknya cukup lama.
“Masih
pusing?”
“Enggak.”
“Bohong dikit
gapapa.”
“Aku beneran
mendingan.”
Damian
menghela napas kecil namun akhirnya mengangguk.
“Kalau badan
gak enak langsung bilang.”
“Iya ayah.”
“Kurang
ajar.”
Hanin tertawa
kecil samar sebelum masuk ke mobil.
—
Perjalanan
menuju sekolah berlangsung santai.
Hari itu
Damian sengaja memutar musik pelan dan tidak banyak bercanda seperti biasanya.
Sesekali ia
melirik Hanin diam-diam memastikan kondisi adiknya benar-benar stabil.
Sementara
Hanin duduk sambil melihat keluar jendela.
Hari ini
langit terlihat cerah.
Dan entah
kenapa…
Ia merasa
sekolah akan jauh lebih ribut begitu dirinya muncul lagi setelah kemarin
pingsan.
Benar saja.
Begitu mobil
Damian memasuki area parkir sekolah...
Beberapa
siswa langsung menoleh heboh.
“ITU HANIN!”
“Dia masuk?!”
“Kemarin
katanya sakit!”
“Hanin
baik-baik aja ternyata…”
Dan dari sisi
lain parkiran...
Petra yang
baru turun dari jeep hitam Trouble Boy otomatis langsung mencari sosok
Hanin begitu mendengar keributan itu.
Tatapan
mereka bertemu beberapa detik.
Dan untuk
pertama kalinya…
Tatapan Petra
pada Hanin terlihat jauh lebih hati-hati dibanding biasanya.
Pagi itu
suasana sekolah kembali ramai seperti biasanya.
Meski
kejadian Hanin pingsan kemarin masih jadi bahan obrolan banyak siswa…
Tidak ada
yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan itu
memang sesuai keinginan Hanin.
—
Begitu turun
dari mobil Damian, Hanin berjalan santai seperti biasa.
Tas di bahu.
Wajah tenang.
Langkah stabil.
Tidak
terlihat seperti seseorang yang baru saja pingsan kemarin.
Damian pun
bersikap normal.
Cowok itu
tetap menyapa beberapa orang di parkiran dengan senyum santainya seolah tidak
ada hal besar yang terjadi sehari sebelumnya.
“Pagi bro.”
“Pagi.”
“Kak Damian!”
“Hm? Pagi.”
Hanin sampai
melirik kecil.
“Kamu gak capek disapa terus?”
“Enggak.”
“Aneh.”
Damian
terkekeh kecil.
Namun
sebenarnya…
Baik Damian
maupun Hanin sedang melakukan hal yang sama.
Berpura-pura
semuanya baik-baik saja.
—
Di sisi lain
parkiran…
Petra berdiri
dekat jeep hitamnya sambil memperhatikan Hanin dari jauh.
Dan saat mata
mereka bertemu...
Petra tetap
memasang ekspresi santai seperti biasa.
“Hm.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Pagi.”
“Udah sehat?”
“Masih
hidup.”
Petra
terkekeh kecil mendengar jawaban itu.
Percakapannya
terdengar normal.
Ringan.
Seolah tidak ada apa pun yang berubah.
Namun jauh di
dalam pikirannya…
Petra justru
sedang menahan banyak hal.
Ia
memperhatikan wajah Hanin lebih lama dari biasanya.
Memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja.
Dan setiap
kali Hanin terlihat sedikit pucat…
Dadanya
langsung terasa tidak tenang.
Tapi Petra
memilih menyembunyikan semuanya.
Karena ia
ingat jelas ucapan Damian kemarin.
“Dia benci
dikasihani.”
Jadi Petra
tidak bertanya terlalu jauh.
Tidak bersikap berlebihan.
Tidak menatap Hanin seperti orang sakit.
Ia
memperlakukan Hanin tetap sama seperti biasanya.
Meski
sebenarnya…
Sekarang
Petra jadi jauh lebih memperhatikan Hanin dalam diam.
—
Reno yang
berdiri di belakang Petra sampai menyipitkan mata curiga.
“Ketua.”
“Hm.”
“Lo sekarang
ngawasin Hanin mulu ya.”
Petra
langsung menjawab santai,
“Biasa aja.”
“Biasa
apanya.”
“Mulut lo
pengen gue lakban?”
Reno langsung
tertawa.
Namun
beberapa detik kemudian ekspresinya sedikit melunak.
Karena untuk
pertama kalinya…
Ia melihat
Petra benar-benar khawatir terhadap seseorang.
—
Hari-hari
setelah kejadian di UKS berjalan cukup normal.
Atau
setidaknya…
Hanin berusaha membuat semuanya terlihat normal.
Ia tetap
masuk sekolah seperti biasa.
Tetap aktif di kelas.
Tetap ikut latihan basket dan taekwondo.
Namun kali
ini Hanin jauh lebih mengontrol tubuhnya.
Tidak terlalu
memforsir diri.
Tidak terlalu keras saat latihan.
Karena minggu
depan sekolah mereka akan mengikuti tournament besar, dan Hanin tahu ia harus
menjaga kondisinya tetap stabil.
Pelatih
basket bahkan beberapa kali memperhatikan Hanin lebih lama dari biasanya.
Namun gadis
itu tetap menunjukkan permainan yang luar biasa.
Cepat.
Fokus.
Tenang.
Seolah
kejadian kemarin tidak pernah terjadi.
—
Sore itu
latihan basket baru saja selesai.
Lapangan
sekolah masih cukup ramai oleh siswa yang belum pulang.
Angin sore
bertiup pelan melewati area lapangan.
Dan untuk
pertama kalinya sejak latihan selesai…
Hanin memilih
menyendiri.
Gadis itu
duduk di kursi panjang kayu di bawah pohon besar dekat pinggir lapangan basket.
Masih memakai
jersey latihan putih.
Rambut terikat seadanya.
Earphone menggantung di leher.
Hanin duduk
tenang sambil meminum air dinginnya perlahan.
Momen langka.
Karena
biasanya Hanin selalu dikelilingi orang.
Namun hari
ini ia memilih diam sendiri menikmati suasana sore.
—
Dari
kejauhan…
Petra
memperhatikan itu cukup lama.
Cowok itu
berdiri dekat tribun lapangan bersama Trouble Boy, namun tatapannya
terus kembali pada Hanin.
Reno yang
sadar langsung melirik jahil.
“Pergi sana.”
Petra
mendecakkan lidah.
“Berisik.”
“Kesempatan
langka ketua.”
“Diam gak.”
Namun
beberapa detik kemudian…
Petra
akhirnya benar-benar berjalan turun dari tribun.
Dan detik itu
juga...
Satu area
lapangan mulai sadar.
“WOY.”
“Petra
turun.”
“Dia mau ke
siapa?”
Lalu mereka
melihat arah langkah Petra.
Menuju Hanin.
Seketika
suasana langsung heboh.
“ANJIRRR.”
“PETRA
NYAMPERIN HANIN?!”
“GILA GILA
GILA.”
Bahkan
beberapa anak basket sampai berhenti minum hanya buat memperhatikan.
Karena selama
ini…
Petra memang
selalu mendekati Hanin dalam situasi ramai.
Tapi sekarang
berbeda.
Untuk pertama
kalinya…
Petra datang
menghampiri Hanin saat gadis itu sedang sendirian.
Dan entah
kenapa...
Itu terasa
jauh lebih serius.
—
Petra
akhirnya berhenti tepat di depan Hanin.
Bayangan
tubuhnya menutupi cahaya sore sedikit.
Hanin yang
tadi menatap lapangan perlahan mengangkat wajah.
Tatapan
mereka bertemu.
Dan sekitar
lapangan…
Satu sekolah
seperti berhenti bernapas menunggu apa yang akan terjadi.
—
Suasana
lapangan benar-benar terasa aneh.
Puluhan
pasang mata diam-diam memperhatikan dari berbagai arah.
Anak basket.
Anak taekwondo.
Sampai siswa yang sebenarnya sudah mau pulang pun mendadak batal pergi hanya
karena melihat Petra menghampiri Hanin.
Dan di tengah
semua perhatian itu…
Hanin tetap
terlihat santai.
Gadis itu
menatap Petra beberapa detik sebelum akhirnya sedikit menggeser posisi duduknya
di kursi panjang.
“Mau duduk?”
Kalimat
sederhana itu langsung membuat satu lapangan membeku.
Petra sendiri
bahkan sedikit terdiam seolah tidak menyangka akan dipersilakan.
Namun Hanin
benar-benar menggeser tempat untuknya.
“Duduk aja.”
DETIK ITU
JUGA...
“WOYYYYY!”
“PETRA DUDUK
DI SAMPING HANIN 😭”
“AKHIRNYA ADA PROGRESS!”
Satu area
lapangan langsung pecah heboh.
Bahkan
beberapa siswa refleks bertepuk tangan heboh seperti baru melihat final
pertandingan nasional.
PRAP PRAP
PRAP.
Petra sampai
menoleh bingung.
“Anjir apaan
sih mereka.”
Hanin melirik
sekilas ke arah keramaian lalu kembali santai meminum airnya.
“Abaikan.”
Petra
akhirnya duduk di samping Hanin.
Dan itu
mungkin pertama kalinya…
cowok paling ditakuti satu sekolah duduk diam tanpa membuat keributan.
Suasana di
sekitar mereka perlahan kembali tenang meski bisik-bisik masih terdengar di
mana-mana.
Lalu Hanin
menoleh sedikit pada Petra.
“Jadi?”
“Hm?”
“Ada perlu
apa?”
Petra
mengernyit kecil.
“Harus ada perlu?”
“Biasanya
iya.”
Petra
terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi.
“Mau
nyamperin aja.”
Hanin diam
beberapa detik memperhatikan Petra.
Lalu bertanya
lagi dengan nada tenang khasnya,
“Dan mau apa?”
Kalimat itu
terdengar biasa.
Namun entah
kenapa…
Satu lapangan
kembali heboh sendiri.
“AAAAAAK.”
“INTEROGASI
LANGSUNG 😭”
“PETRA SEMOGA
SELAMAT.”
Di sisi lain
lapangan...
Damian yang
sedari tadi memperhatikan dari jauh hanya tersenyum kecil sambil melipat
tangan.
Teman-temannya
sampai bingung melihat reaksinya yang terlalu santai.
“Lo gak
khawatir?”
Damian
terkekeh pelan.
“Enggak.”
Karena bagi
Damian…
Ini sudah
luar biasa.
Hanin yang
biasanya dingin dan sulit menerima orang…
sekarang membiarkan Petra duduk di sampingnya.
Bahkan
berbicara senormal itu.
Dan itu bukan
hal kecil.
Karena sampai
sekarang...
Belum pernah
ada cowok yang benar-benar berani mendekati Hanin.
Sebagian
takut pada Hanin sendiri.
Sebagian lagi takut pada empat kakaknya yang auranya seperti mafia sungguhan.
Ditambah
Hanin memang selalu terlihat sulit disentuh.
Terlalu
tenang.
Terlalu kuat.
Dan sedikit menakutkan.
Namun
sekarang…
Untuk pertama
kalinya…
Ada seseorang
yang perlahan berhasil masuk ke ruang nyaman Hanin.
Dan Damian
bisa melihat itu dengan jelas.
—
Petra duduk
santai di samping Hanin sambil sesekali melihat ke arag lain di depan
mereka.
Awalnya
suasana terasa sedikit canggung.
Karena
biasanya setiap kali mereka bertemu…
selalu ada keributan, tantangan, atau saling sindir.
Namun kali
ini berbeda.
Jauh lebih
tenang.
Petra
akhirnya membuka obrolan ringan.
“Lo latihan
gak terlalu barbar hari ini.”
Hanin meminum
airnya pelan.
“Lagi hemat tenaga.”
“Tumben.”
“Minggu depan
tournament.”
Petra
mengangguk kecil.
Lalu beberapa
menit berikutnya…
obrolan mereka berjalan surprisingly normal.
Petra mulai
bercanda soal anak basket yang tadi jatuh sendiri saat latihan.
Tentang Reno yang salah passing sampai kena kepala pelatih.
Sampai cerita absurd Trouble Boy pagi tadi.
Dan anehnya…
Hanin
menanggapi.
Bukan sekadar
jawaban singkat.
Kadang
membalas.
Kadang menyindir balik pelan.
Sampai
akhirnya...
Sudut bibir
Hanin perlahan naik kecil.
Senyum tipis.
Sangat tipis.
Tapi nyata.
Dan DETIK ITU
JUGA...
“WOYYYYY
HANIN SENYUM 😭😭😭”
“PETRA APA
YANG LO LAKUKAN?!”
“GUE
MERINDING ANJIR.”
Satu area
lapangan langsung kembali heboh luar biasa.
Beberapa anak
basket bahkan sampai berdiri dari tribun karena tidak percaya melihatnya.
Karena Hanin
memang jarang tersenyum di sekolah.
Apalagi saat
sedang berdua santai seperti ini.
Petra sendiri
sempat diam beberapa detik melihat senyum kecil itu.
Jujur saja…
Cowok itu
hampir lupa cara bernapas.
Dan di sisi
lain lapangan...
Damian yang
sedari tadi memperhatikan dari jauh akhirnya menghela napas lega kecil.
Senyum tipis
ikut muncul di wajahnya.
Temannya
sampai melirik heran.
“Kenapa
senyum sendiri?”
Damian tetap
menatap Hanin dari jauh.
“Gapapa.”
Namun
sebenarnya…
Ia lega.
Sangat lega.
Karena sejak
kejadian Hanin pingsan kemarin…
Damian tahu
adiknya diam-diam sedikit kelelahan secara mental.
Dan sekarang…
Melihat Hanin
masih bisa tersenyum seperti itu membuatnya tenang.
Setidaknya
Hanin benar-benar baik-baik saja.
—
Sementara di
tribun...
Trouble
Boy sudah hampir
kehilangan akal.
Reno sampai
mencengkram kepala sendiri dramatis.
“GUE GAK KUAT
LIAT KETUA JADI MANUSIA NORMAL.”
“Dia tadi
bikin Hanin senyum anjir…”
“Ini sejarah
sekolah.”
Petra
langsung melirik tajam ke arah mereka.
“Berisik
banget sih.”
Namun justru
itu membuat satu lapangan makin ribut.
Karena untuk
pertama kalinya…
Petra
terlihat benar-benar nyaman hanya duduk dan mengobrol dengan seseorang tanpa
membuat masalah sedikit pun.
—
Langit sore
perlahan berubah gelap.
Lampu-lampu
lapangan basket mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang
memudar.
Area sekolah
yang tadi ramai perlahan mulai sepi.
Beberapa
siswa sudah pulang.
Anak-anak ekskul juga mulai membereskan barang masing-masing.
Namun obrolan
tentang Hanin dan Petra masih belum berhenti.
Karena sampai
detik terakhir…
banyak yang masih tidak percaya melihat Petra bisa duduk santai begitu lama
tanpa membuat keributan.
—
Di bawah
pohon dekat pinggir lapangan, Hanin akhirnya berdiri sambil mengambil tasnya.
“Pulang?”
Petra yang
masih duduk di kursi panjang menoleh kecil.
“Hmm.”
Hanin
merapikan hoodie tipisnya lalu berkata tenang,
“Duluan.”
Petra
mengangguk kecil.
Dan
lagi-lagi…
hal sederhana itu sukses membuat beberapa siswa yang masih ada di sekitar
lapangan heboh sendiri.
“ANJIR DIA
PAMIT.”
“ITU PAMIT KE
PETRA 😭”
“GUE MERASA
LIAT DRAMA LIVE.”
Petra sampai
menutup wajah sebentar karena berisiknya satu sekolah.
Sementara
Hanin hanya terlihat biasa saja.
Sebelum
pergi, gadis itu sempat menoleh sedikit lagi pada Petra.
“Jangan bikin
masalah.”
Petra
terkekeh kecil.
“Liat nanti.”
“Petra.”
“Iya iya.”
Hanin
akhirnya berjalan meninggalkan area lapangan dengan langkah santai.
Dan entah
kenapa…
Tatapan Petra
terus mengikuti Hanin sampai gadis itu benar-benar jauh.
—
Di sisi lain,
Damian yang baru selesai membereskan barang basket langsung menghampiri Hanin
di area parkiran.
“Pulang
bareng.”
Namun Hanin
langsung menggeleng kecil.
“Aku bawa
motor.”
“Capek gak?”
“Enggak.”
Damian masih
terlihat ragu.
Karena
setelah kejadian kemarin…
ia jadi jauh lebih waspada soal kondisi Hanin.
Namun Hanin
hanya memasang helmnya sambil menatap kakaknya kecil.
“Aku gak
selemah itu.”
Damian
menghela napas kecil menyerah.
“Iya nona
kuat.”
Hanin
terkekeh samar.
Beberapa
meter dari sana…
Petra yang
baru keluar dari area lapangan otomatis berhenti melihat Hanin berdiri di
samping motor hitamnya.
Lampu
parkiran memantul di bodi motor itu membuat suasananya terlihat seperti adegan
film.
Hanin
memasang helm fullface hitamnya pelan.
Lalu naik ke
motornya dengan gerakan santai dan elegan.
Dan seperti
biasa...
Satu area
parkiran langsung kembali heboh.
“GILA KEREN
BANGET.”
“CEWEK APA
TOKOH UTAMA 😭”
Petra hanya
berdiri diam memperhatikan.
Lalu sudut
bibirnya naik kecil sendiri.
Karena makin
lama…
Hanin
benar-benar terlihat seperti seseorang yang mustahil untuk tidak disukai.
Chapter 11
Malam mulai
turun perlahan saat Hanin meninggalkan area sekolah dengan motor hitamnya.
Suara mesin
motornya membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.
Namun seperti
biasa…
Hanin tidak
langsung pulang.
Gadis itu
justru berhenti di sebuah toko kue premium yang cukup terkenal dekat pusat
kota.
Tempat itu
tidak terlalu ramai malam ini.
Suasananya hangat dan tenang.
Hanin melepas
helmnya lalu masuk santai ke dalam toko.
Beberapa
pegawai langsung mengenalinya karena Hanin memang cukup sering datang diam-diam
hanya untuk membeli dessert favoritnya.
“Seperti
biasa kak?”
Hanin
mengangguk kecil.
“Red velvet satu.”
“Chewy Dubai
juga?”
“Iya.”
Tak lama
kemudian Hanin berjalan menuju kasir sambil membawa cake kecil favoritnya dan
beberapa kotak Chewy Dubai.
Hari itu ia
memang sedang ingin makan manis.
Mungkin untuk
memperbaiki mood.
Mungkin juga karena tubuhnya memang lebih cepat lelah akhir-akhir ini.
—
Setelah
selesai membayar…
Hanin baru
saja menerima paper bag pesanannya ketika seseorang tiba-tiba memanggil
namanya.
“Hanin?”
Langkah Hanin
langsung berhenti.
Gadis itu
menoleh.
Dan untuk
pertama kalinya malam itu…
ekspresinya benar-benar terlihat kaget.
“…Axel?”
Seorang cowok
tinggi dengan hoodie abu gelap berdiri beberapa langkah darinya sambil
tersenyum tidak percaya.
Axel.
Sahabat Hanin
dari sekolah lamanya.
Orang yang
dulu selalu ada di masa-masa Hanin paling sibuk latihan dan sekolah.
Dan mungkin…
Satu-satunya
cowok yang pernah benar-benar dekat dengan Hanin sebelum pindah sekolah.
Axel tertawa
kecil masih tidak percaya.
“Gila…”
“Lo pindah
tanpa pamit panjang.”
Hanin
akhirnya tersenyum kecil samar.
“Dadakan.”
“Parah sih.”
Mereka akhirnya berdiri mengobrol santai dekat area depan toko kue.
Membahas
sekolah lama.
Teman-teman lama.
Dan kehidupan masing-masing setelah Hanin pindah.
Hanin
terlihat jauh lebih santai karena Axel memang salah satu orang yang sudah
mengenalnya cukup lama.
Namun berbeda
dengan Hanin…
Axel
diam-diam selalu menyimpan rasa lebih.
Sayangnya ia
tidak pernah berani mengungkapkan itu.
Karena Axel
terlalu takut kehilangan Hanin bahkan sebagai sahabat.
Jadi selama
ini…
ia memilih tetap tinggal di posisi “teman terdekat.”
—
Dan tepat di
saat itu...
Sebuah jeep
hitam melintas di jalan depan toko.
Petra dan Trouble
Boy.
Awalnya
mereka hanya lewat biasa setelah nongkrong.
Namun Reno
yang duduk di depan tiba-tiba melotot.
“WOY WOY
WOY.”
Petra
mengernyit.
“Apaan.”
“Itu Hanin
gak sih?!”
Seketika
Petra langsung menoleh ke arah toko kue.
Dan benar
saja.
Di dalam toko yang terang…
Hanin sedang
berdiri mengobrol santai dengan seorang cowok yang jelas bukan teman sekolah
mereka.
Cowok itu
bahkan terlihat terlalu nyaman berdiri dekat Hanin.
Dan yang
paling parah...
Hanin
tersenyum.
Petra
langsung menginjak rem.
CIIIT.
Jeep hitam
itu berhenti mendadak di pinggir jalan.
“Anjir,”
gumam Reno pelan.
Karena aura
Petra berubah dalam hitungan detik.
Tatapannya
lurus ke arah Axel.
Dingin.
Sangat
dingin.
—
Dari dalam
jeep hitam, suasana mendadak berubah sunyi.
Tidak ada
lagi suara Reno.
Tidak ada lagi candaan Trouble Boy.
Karena semua
mata sekarang tertuju pada Hanin dan cowok asing itu.
Petra masih
diam memperhatikan dari balik kaca mobil.
Tatapannya
sulit dibaca.
Namun jelas…
ia tidak suka apa yang sedang dilihatnya.
—
Di depan toko
kue, Hanin dan Axel masih mengobrol santai.
Sesekali
tertawa kecil mengingat masa sekolah lama mereka.
Axel lalu
mengeluarkan ponselnya.
“Nomor lo
masih yang lama?”
Hanin
menggeleng kecil.
“Udah ganti.”
“Pantes chat
gue gak pernah masuk.”
Hanin
akhirnya menyebutkan nomor barunya lalu Axel langsung menyimpannya cepat.
“Jangan ilang
lagi kali ini,” ujar Axel sambil tersenyum kecil.
Hanin
terkekeh samar.
“Lihat nanti.”
Obrolan
mereka terasa sangat natural.
Terlalu
natural.
Dan itu
justru membuat Petra makin diam.
Karena untuk
pertama kalinya…
Ia melihat
Hanin terlihat senyaman itu dengan cowok lain.
—
Tak lama
kemudian Axel melihat jam di tangannya.
“Gue harus
pergi.”
“Hm.”
Namun sebelum
benar-benar pergi…
Axel membuka
kedua tangannya sedikit.
Dan Hanin...
tanpa ragu...
membalas pelukan itu.
Singkat.
Hangat.
Seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu lagi.
Namun dari
dalam jeep
Petra
langsung membeku.
“…Hah?”
Reno sampai
refleks menutup mulut sendiri.
“ANJIR.”
“Dipeluk…”
“Haninnya
ngebales…”
Satu mobil
langsung tegang.
Karena mereka
semua tahu...
Selama ini
Hanin hampir tidak pernah membiarkan orang terlalu dekat secara fisik.
Dan sekarang…
Ia memeluk
cowok lain dengan santai.
Petra bahkan
sampai tidak sadar rahangnya menegang sendiri.
Tatapannya
masih lurus pada Axel.
Dan keadaan
makin parah ketika beberapa detik kemudian...
Sebuah SUV
doff hitam besar menyala di parkiran depan toko.
Mobil itu
terlihat mahal.
Gagah.
Dan auranya tidak kalah intimidating dibanding kendaraan keluarga Hanin.
Axel membuka
pintu mobil itu lalu menoleh sekali lagi pada Hanin.
“Jangan
ngilang lagi.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Hati-hati.”
Dan SUV itu
akhirnya pergi meninggalkan area toko.
Namun Petra
masih diam.
Tatapannya
kosong beberapa detik.
Reno bahkan
mulai takut bicara.
Karena untuk
pertama kalinya…
Petra
terlihat benar-benar tidak tenang.
—
Sementara itu
Hanin terlihat santai saja.
Gadis itu
malah memilih duduk di kursi kecil area depan toko sambil membuka paper bag
pesanannya.
Ia mengambil
satu Dubai Chewy Cookies lalu menggigitnya kecil.
Malam terasa
cukup tenang.
Lampu jalan
menyala hangat.
Angin malam bertiup pelan.
Dan Hanin
sama sekali tidak sadar…
Ada satu jeep
hitam di seberang jalan yang sekarang sedang dipenuhi aura cemburu tingkat
tinggi.
Di dalam jeep
hitam, suasana masih terasa tegang.
Petra terus
memperhatikan Hanin yang duduk santai di depan toko kue sambil menikmati Dubai
Chewy Cookies seolah tidak ada apa-apa.
Padahal
barusan…
Ia baru saja
bertukar nomor dan berpelukan dengan cowok lain.
Dan entah
kenapa...
Pemandangan
itu terus terulang di kepala Petra.
Rahangnya
masih sedikit menegang.
Tangannya
mengetuk setir pelan.
Sampai
akhirnya...
CKLEK.
Petra membuka
pintu mobil.
“WOY.”
Reno langsung
refleks menarik lengan jaket Petra cepat.
“Mau ngapain
lo?!”
Petra tetap
menatap lurus ke arah Hanin.
“Nyamperin.”
“Dengan muka
kayak gitu?!”
“Kenapa emang
muka gue.”
“Kayak mau
nyulik orang.”
Anak-anak Trouble
Boy lain langsung mengangguk setuju.
“Iya ketua…
aura lo serem banget sekarang.”
Petra
mendecakkan lidah kecil.
Namun tetap
mencoba turun dari mobil.
Dan Reno
makin panik.
“PETRA STOP.”
“Apa sih.”
“Lo lagi
cemburu.”
Petra
langsung menoleh tajam.
“Enggak.”
“BOHONG.”
“Gue cuma
pengen ngobrol.”
“Ngobrol
apaan?!”
Reno
menirukan ekspresi Petra dramatis.
“Halo Hanin
siapa cowok tadi”
“Kenapa pelukan”
“Kenapa tukeran nomor”
“Aku siapa bagimu”
“DIEM LO.”
Petra
langsung menyikut Reno keras sampai satu mobil ngakak menahan tawa.
Namun Reno
masih belum melepas jaket Petra.
“Dengerin gue
baik-baik.”
“Apa.”
“Kalau lo
turun sekarang…”
“Lo bakal
keliatan posesif.”
Petra diam.
Dan sialnya…
Ucapan Reno
ada benarnya.
Karena
sekarang emosinya memang sedang berantakan.
Ia sendiri
bingung kenapa dadanya terasa sesak melihat Hanin sedekat itu dengan cowok
lain.
Padahal Hanin
bukan siapa-siapanya.
Belum.
—
Di luar sana…
Hanin masih
duduk santai sambil menggigit cookies-nya kecil.
Lampu toko
memantulkan cahaya hangat di wajahnya.
Dan Petra
kembali diam memperhatikan itu.
Kesal.
Cemburu.
Penasaran.
Semuanya
campur jadi satu.
Reno akhirnya
menghela napas kecil lalu menepuk bahu ketuanya.
“Tenang
dulu.”
“Besok juga
ketemu lagi di sekolah.”
Petra
bersandar kembali ke kursinya pelan.
Tatapannya
masih belum lepas dari Hanin.
Lalu bergumam
kecil,
“…Cowok tadi
siapa sih.”
Dan untuk
pertama kalinya…
Trouble
Boy melihat Petra
benar-benar terusik oleh seseorang.
—
Hanin
menghabiskan gigitan terakhir Dubai Chewy Cookies-nya dengan santai.
Malam di
depan toko kue terasa tenang.
Setelah itu
gadis itu berdiri perlahan sambil membawa paper bag berisi cake dan sisa
cookies miliknya.
Helm hitamnya
kembali dipakai.
Lalu tanpa
buru-buru Hanin berjalan menuju motor hitamnya yang terparkir tidak jauh dari
sana.
Mesin motor
menyala halus.
Dan beberapa
detik kemudian...
BRUMM.
Hanin melaju
meninggalkan toko kue membelah jalanan malam kota.
—
Di sisi lain
jalan…
Tatapan Petra
otomatis mengikuti motor itu pergi.
Dan tanpa
banyak berpikir...
Tangannya
langsung memutar setir.
Jeep hitam Trouble
Boy mulai bergerak perlahan mengikuti arah Hanin.
Awalnya Reno
masih santai.
Namun lima
menit kemudian…
Cowok itu
mulai menyadari sesuatu.
“Ketua.”
“Hm.”
“Kita mau ke
mana?”
Petra tetap
fokus melihat motor Hanin di kejauhan.
“Gatau.”
“…Hah?”
Anak-anak
lain mulai saling pandang bingung.
Karena ini
jelas bukan arah pulang Petra.
Bahkan mereka
sekarang sudah melewati area tongkrongan biasa mereka.
Reno akhirnya
menoleh curiga.
“Lo lagi…”
Namun
kalimatnya langsung berhenti sendiri.
Karena
sekarang semuanya sadar.
Petra sedang mengikuti
Hanin.
Dan yang
paling parah...
Petra bahkan
tidak sadar sedang melakukannya.
—
Jeep hitam
itu terus bergerak mengikuti Ducati Hanin dengan jarak cukup jauh.
Lampu-lampu
kota memantul di jalan malam.
Hanin
terlihat santai mengendarai motornya.
Tidak terburu-buru.
Tidak terlihat menyadari dirinya sedang diikuti.
Sementara di
dalam jeep…
Trouble
Boy sudah mulai
kehilangan akal.
“Anjir
ketua…”
“Lo sadar gak
sih kita lagi ngikutin cewek?”
“Ini udah
level bahaya.”
Petra masih
diam.
Tatapannya
lurus ke depan.
Entah kenapa
ia hanya ingin memastikan Hanin sampai dengan aman.
Terutama
setelah kejadian pingsan kemarin.
Dan juga…
Setelah cowok
bernama Axel tadi muncul begitu saja.
Dadanya masih
terasa tidak nyaman memikirkan itu.
—
Tak lama
kemudian Ducati Hanin memasuki kawasan apartemen elite pusat kota.
Dan detik itu
juga...
Satu mobil Trouble
Boy langsung terdiam.
“…”
“…”
“…GILA.”
Bangunan
apartemen mewah itu menjulang tinggi dengan area lobby yang terlihat sangat
eksklusif.
Bodyguard
berjaga.
Valet.
Dan sistem keamanan super ketat.
Reno sampai
melotot.
“Dia tinggal
di sini?!”
Petra pun
sedikit terdiam.
Meski ia tahu
keluarga Hanin kaya…
Tetap saja
melihat langsung kehidupan Hanin terasa berbeda.
Sementara itu
Hanin dengan santai memasukkan motornya ke area parkir private residence lalu
menghilang masuk ke dalam gedung apartemen.
Dan jeep
Petra masih berhenti cukup jauh di pinggir jalan.
Sunyi
beberapa detik.
Lalu Reno
perlahan menoleh ke arah Petra.
“Ketua.”
“Hm.”
“Lo fix udah
jatuh cinta.”
—
Jeep hitam
itu masih terparkir di pinggir jalan depan apartemen mewah Hanin.
Lampu kota
memantul di kaca gedung tinggi yang menjulang megah di depan mereka.
Sementara
motor Hanin sudah lama menghilang masuk ke area private parking.
Namun Petra
masih belum pergi.
Cowok itu
duduk diam sambil memandang lurus ke arah lobby apartemen.
Entah sedang
berpikir.
Entah sedang melawan pikirannya sendiri.
Di dalam
mobil suasana sunyi beberapa detik.
Sampai
akhirnya Petra membuka suara pelan tanpa mengalihkan pandangan.
“…Menurut
kalian gue perlu masuk gak?”
DETIK ITU
JUGA...
“HAH?!”
Satu mobil
langsung menoleh serempak ke arah Petra seperti baru mendengar kiamat
diumumkan.
Reno sampai
melotot tidak percaya.
“MASUK KE
MANA?!”
“Ya
apartemennya.”
“PETRA LO
WARAS?!”
Anak-anak Trouble
Boy langsung ribut bersamaan.
“Anjir ini
udah gawat.”
“Ketua udah
hilang arah.”
“Besok apa
lagi?”
“Nganter sarapan?!”
Petra
langsung mendecakkan lidah.
“Berisik.”
Namun justru
itu membuat Reno makin heboh.
“LO MAU
NGAPAIN MASUK?”
Petra
akhirnya bersandar sambil mengacak rambutnya kasar.
“Gatau.”
Dan jawaban
itu…
Malah
terdengar jauh lebih berbahaya.
Karena
artinya Petra benar-benar hanya mengikuti perasaannya sekarang.
Reno memegang
dada dramatis.
“Ya Allah…”
“Ketua kita
udah bucin.”
“Diam gak
sih.”
Petra
sebenarnya sendiri bingung.
Ia hanya
merasa tidak tenang membiarkan Hanin pulang sendiri malam-malam setelah
kejadian kemarin.
Ditambah
munculnya Axel tadi sukses membuat pikirannya kacau.
Namun masuk
ke apartemen Hanin jelas terdengar terlalu jauh.
Apalagi
mereka bahkan belum sedekat itu.
—
Reno akhirnya
menatap Petra lebih serius.
“Dengerin
gue.”
“Apa.”
“Kalau lo
masuk sekarang…”
“Lo bakal
keliatan kayak stalker.”
Petra
langsung terdiam.
Dan sialnya…
Itu memang
benar.
Cowok itu
menghela napas panjang sambil menatap kembali gedung apartemen Hanin.
Lampu-lampu
lobby masih menyala terang.
Dan untuk
pertama kalinya dalam hidupnya…
Petra
benar-benar tidak tahu harus melakukan apa terhadap seseorang.
—
Beberapa
detik kemudian Reno menepuk pundak Petra kecil.
“Pulang aja.”
“…”
“Besok ketemu
lagi.”
Petra
akhirnya bersandar pasrah di kursinya.
Tatapannya
masih belum lepas dari apartemen itu.
Lalu bergumam
pelan hampir tidak terdengar,
“…Gue cuma
pengen dia aman.”
Dan satu
mobil langsung hening.
Karena mereka
tahu...
Petra sudah
jatuh terlalu dalam.
—
Malam itu
rumah Petra justru lebih ramai dari biasanya.
Jeep hitam Trouble
Boy satu per satu masuk ke halaman rumah besar milik keluarga Petra.
Biasanya
mereka nongkrong sampai larut sambil ribut sendiri.
Namun malam
ini berbeda.
Mereka datang
karena satu alasan penting:
Takut Petra jadi gila.
—
Begitu masuk
rumah, Petra langsung menjatuhkan tubuh ke sofa ruang tengah sambil melempar
ponselnya ke meja.
Reno
memperhatikan curiga.
“Lo kenapa
diem banget sih.”
Petra
mengacak rambutnya frustrasi.
“Ganggu.”
“Apa yang
ganggu?”
Petra tidak
menjawab.
Namun semua
orang di ruangan sudah tahu jawabannya.
Hanin.
—
Beberapa
menit kemudian Petra kembali mengambil ponselnya.
Membuka
kontak Hanin yang entah sejak kapan sudah tersimpan paling atas.
Lalu mulai
mengetik.
"Udah sampai?"
Petra menatap
layar beberapa detik.
Lalu…
DELETE.
Reno:
“…”
Petra
mengetik lagi.
"Tadi cowok
itu siapa?"
Hening.
DELETE lagi.
Reno mulai
memijat pelipis.
“Ya Allah…”
Anak-anak Trouble
Boy lain sudah mulai ngakak melihat ketuanya panik sendiri.
Namun Petra
masih lanjut.
Ketik.
Hapus.
Ketik lagi.
"Jangan sering
pulang malam sendirian."
Petra menatap
tulisan itu cukup lama.
Jempolnya
bahkan sempat hover di tombol kirim.
Namun
beberapa detik kemudian...
DELETE lagi.
“PETRAAAA.”
Reno akhirnya
hampir frustrasi sendiri.
“LO TUH
MAUNYA APA SIH?!”
Petra
menjatuhkan kepala ke sandaran sofa dengan kesal.
“Gatau.”
“Ya kirim
aja!”
“Nanti aneh.”
“YA EMANG LO
DARI TADI UDAH ANEH.”
Satu ruangan
langsung pecah ketawa.
Namun Petra
benar-benar terlihat stres.
Karena seumur
hidup…
Ia tidak
pernah sepanik ini cuma untuk mengirim pesan ke seseorang.
Biasanya
Petra tinggal chat.
Tinggal datang.
Tinggal ngomong.
Selesai.
Tapi kalau
urusannya Hanin...
Semua terasa
berbeda.
Ia takut
terlalu berlebihan.
Takut Hanin risih.
Takut Hanin menjauh.
Dan itu baru
pertama kali Petra rasakan.
—
Reno akhirnya
duduk di sebelah Petra sambil merebut ponselnya.
“Sini gue aja
yang kirim.”
Petra
langsung merebut lagi cepat.
“Jangan sembarang.”
“NAH KAN.”
“Gue cuma…”
Kalimat Petra
menggantung.
Lalu akhirnya
bergumam pelan sambil melihat layar kontak Hanin.
“…Gue pengen
chat dia.”
Reno langsung
menunjuk Petra dramatis ke anak-anak lain.
“FIX.”
“Ketua kita
tamat.”
Chapter 12
Suasana ruang
tengah rumah Petra masih penuh kekacauan.
Reno dan
anak-anak Trouble Boy masih sibuk mengolok Petra yang dari tadi tidak
berani mengirim pesan ke Hanin.
Sementara
Petra sendiri duduk sambil memegang ponsel dengan wajah frustasi.

Dan tepat di
saat itu
TING.
Notifikasi
Instagram muncul di layar ponselnya.
📸 hanin uploaded a story.
Refleks Petra
langsung membuka.
Dan detik
berikutnya…
Satu ruangan
mendadak hening.
Di layar
terlihat foto aesthetic khas Hanin.
Potongan red
velvet cake dan Dubai Chewy Cookies di atas meja apartemennya.
Lampu hangat.
Sudut foto rapi.
Dan caption singkat:
🍰🤍
Cuma itu.
Tapi entah
kenapa…
buat Petra rasanya mematikan.
“Anjir…”
gumam Reno pelan sambil ikut mengintip.
Petra terus
memperhatikan story itu tanpa berkedip.
Karena itu
berarti...
Hanin sudah
sampai rumah dengan aman.
Dan anehnya…
dadanya langsung terasa jauh lebih tenang.
Namun masalah
baru muncul beberapa detik kemudian.
Petra membuka
kolom reply story.
Jempolnya
langsung diam di keyboard.
Reno yang
melihat langsung panik lagi.
“NO.”
Petra
mengetik.
"Enak?"
Reno:
“…”
“SERIUS CUMA
GITU?!”
Petra melirik
kesal.
“Kenapa emang.”
“YA KAYAK
OM-OM.”
Anak-anak
lain langsung ngakak brutal.
Petra
menghapus lagi.
Lalu mengetik
ulang.
"Cake favorit
lo?"
Hening.
Petra membaca
ulang.
DELETE lagi.
Reno sampai
rebahan di lantai frustrasi.
“GUE YANG
CAPEK.”
“Lo diem
deh.”
Namun sebelum
Petra sempat mengetik lagi...
Notifikasi
story Hanin berikutnya muncul.
Video pendek.
Hanin sedang
duduk santai di sofa apartemennya memakai hoodie hitam oversized sambil makan Dubai
Chewy Cookies kecil-kecil.
TV menyala di
background.
Suasana malam terasa tenang.
Dan tanpa
sadar di video itu…
Hanin sedikit
tersenyum tipis saat menggigit cookies-nya.
Petra
langsung diam total.
Reno menoleh perlahan.
“…Wah.”
Karena
ekspresi Petra sekarang benar-benar terlihat hopeless.
Cowok itu
akhirnya menjatuhkan kepala ke sofa sambil menutup wajah dengan tangan.
Sementara
satu rumah langsung pecah ketawa.
“UDAH FIX.”
“KETUA KITA
HILANG.”
—
Ruang tengah
rumah Petra yang tadi penuh tawa perlahan kembali tenang.
Namun
ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik.
Karena Petra
yang masih memperhatikan postingan terbaru Hanin tiba-tiba menyipitkan mata.
“…”
Reno yang
duduk di sampingnya langsung curiga.
“Kenapa
lagi.”
Petra tidak
menjawab.
Tatapannya
lurus ke kolom komentar postingan Hanin.
Dan di sana…
Ada satu
komentar baru.
Axel.
“Selera
kue lo masih sama kayak dulu ternyata.”
Sunyi.
Satu ruangan
langsung ikut membaca.
Lalu perlahan
semua kepala menoleh ke Petra bersamaan.
Karena aura
cowok itu berubah drastis.
Panas.
Sangat panas.
Rahangnya
kembali menegang.
Tatapannya
masih diam di nama Axel seolah sedang menghafal seluruh identitas cowok itu
lewat layar.
Reno sampai
refleks menjauh sedikit.
“Waduh.”
Anak-anak Trouble
Boy lain mulai panik sendiri.
“Anjir ini
bahaya.”
“Ketua udah
overheat.”
Petra
akhirnya membuka profil Axel.
Dan keadaan
makin parah.
Karena feed
cowok itu dipenuhi foto mobil SUV doff hitamnya, basket, gym, dan beberapa foto
lama bersama teman-teman sekolah.
Termasuk...
Foto grup
lama sekolah Hanin.
Meski Hanin
tidak berdiri dekat Axel di foto itu…
Tetap saja
cukup membuat Petra makin tidak tenang.
Reno
mengintip pelan.
“Oh dia anak
basket juga.”
Petra
langsung menatap tajam.
“Lo kagum?”
“Enggak
anjir.”
Petra kembali
melihat komentar tadi.
“Selera
kue lo masih sama kayak dulu ternyata.”
KALIMAT ITU
YANG BIKIN PANAS.
Karena
artinya Axel mengenal Hanin sejak lama.
Tahu
kebiasaan Hanin.
Tahu makanan favorit Hanin.
Dan jelas pernah berada cukup dekat dengan hidup Hanin.
Hal-hal yang
Petra bahkan baru mulai pelajari sekarang.
—
Petra
akhirnya menjatuhkan ponselnya ke sofa dengan kesal.
“Ganggu
banget.”
Reno mencoba
menahan tawa.
“Si Axel?”
“Iya.”
“Lah emang
salah dia apa.”
Petra
terdiam.
Karena
sebenarnya…
Axel tidak melakukan kesalahan apa pun.
Tapi justru
itu masalahnya.
Cowok itu
terlihat terlalu sempurna untuk dijadikan alasan dibenci.
Dan itu
membuat Petra makin kesal sendiri.
—
Tak lama
kemudian notifikasi baru muncul lagi.
Hanin
membalas komentar Axel.
“HAHAHA
masih dong 😭”
DETIK ITU
JUGA...
“WOOOOOO.”
Satu rumah
langsung heboh brutal.
Petra menutup
wajah dengan tangan sambil menghembuskan napas panjang.
Reno sampai
ngakak hampir jatuh dari sofa.
“PETRA GUE
MOHON BERTAHAN.”
“Diam.”
“Lo cemburu
banget anjir 😭”
Petra menatap
layar sekali lagi.
Lalu bergumam
kecil penuh kekesalan,
“…Kenapa dia
pake emoji nangis ke dia.”
—
Petra masih
duduk di sofa sambil menatap postingan Hanin dengan ekspresi penuh kekesalan
terhadap Axel.
Sementara Trouble
Boy sudah sibuk menertawakan ketuanya sendiri.
Namun
beberapa detik kemudian...
TING.
DM Instagram
masuk.
Nama akun
yang muncul langsung membuat Petra membeku.
📩 @itshanin
Reno yang
duduk paling dekat langsung melotot.
“WOY.”
“WOYYYY.”
Petra buru-buru
membuka chat itu.
Dan di sana
cuma ada satu pesan singkat.
"kepo tuh."
Sunyi.
Lalu satu
rumah MELEDAK.
“ANJIRRRR.”
“HANIN DULUAN
YANG CHAT?!”
“PETRA
SELAMAT LO 😭”
Reno sampai
berdiri sambil memegang kepala sendiri.
Sementara
Petra…
Masih diam
menatap layar.
Untuk pertama
kalinya malam itu...
Cowok itu
terlihat benar-benar kehilangan sistem.
Karena
ternyata…
Hanin sadar
Petra melihat story-nya dari tadi.
Dan lebih
parahnya lagi...
Hanin sengaja
ngechat duluan.
—
Petra membaca
ulang pesan itu berkali-kali.
"kepo tuh."
Pendek.
Santai.
Tapi sukses bikin jantungnya kacau.
Reno langsung
duduk di sebelah Petra paksa.
“BALAS
CEPET.”
Petra mulai
mengetik.
"Enggak."
Reno:
“…”
“PETRA
GOBLOK.”
Satu rumah
langsung protes brutal.
“ITU JAWABAN
APAAN.”
Petra
langsung menghapus.
Ketik lagi.
"Iya dikit."
Petra menatap
layar lama.
Dan untuk
pertama kalinya…
Cowok paling
barbar satu sekolah terlihat gugup cuma gara-gara satu DM dari Hanin.
Begitu Petra
akhirnya mengirim balasan itu...
Iya dikit.
Satu rumah
langsung pecah.
“HAHAHAHAHA.”
“DIKIT
KATANYA 😭”
“LO NGIKUTIN
DIA SAMPE APARTEMEN WOY.”
Reno sampai
ngakak brutal sambil mukul sofa.
Anak-anak Trouble
Boy lain juga sudah hampir jatuh satu-satu karena terlalu tidak percaya
melihat Petra jadi sejujur ini.
Petra
langsung melempar bantal ke arah mereka.
“Berisik
banget anjir.”
Namun mukanya
sendiri mulai sedikit merah karena malu.
Dan itu
justru membuat mereka makin heboh.
“ANJIR KETUA
MALU 😭”
“GUE REKAM
YA.”
“MATI LO
SEMUA.”
—
Sementara itu
di apartemen…
Hanin sedang
duduk santai di sofa ruang tengah apartemennya.
TV masih
menyala pelan di background.
Cake red velvet favoritnya masih setengah habis di meja.
Dan di
tangannya...
ponsel dengan chat Petra terbuka.
Begitu
membaca balasan Petra:
"Iya dikit."
Sudut bibir
Hanin perlahan naik kecil.
Senyum tipis.
Sangat tipis.
Namun kali
ini lebih jelas dibanding biasanya.
Karena entah
kenapa…
Membayangkan
Petra yang terkenal paling barbar satu sekolah sekarang panik sendiri gara-gara
dirinya terasa lucu.
Hanin bahkan
bisa membayangkan wajah Petra saat mengetik balasan itu.
Dan lebih
lucu lagi...
Pasti
sekarang gengnya sedang menertawakan Petra habis-habisan.
—
Hanin
akhirnya mengetik lagi santai.
"Dikitnya
sampai ngeliatin tiap story?"
SEND.
Dan di rumah
Petra
“WOYYYYY.”
“DIA NGEH 😭😭😭”
Petra
langsung membeku total melihat pesan baru itu.
Reno sampai
rebahan di lantai sambil ngakak tanpa suara.
Karena
sekarang…
Hanin jelas
sedang menggoda Petra balik.
—
Petra masih
menatap DM terakhir dari Hanin dengan ekspresi campur aduk.
"Dikitnya sampai ngeliatin tiap story?"
Dan sialnya…
Itu benar.
Reno yang
dari tadi mengintip langsung hampir pingsan karena ngakak.
“GUE GAK KUAT
😭”
“Ketua
ketahuan stalking.”
Petra menutup
wajah sebentar dengan tangan.
Namun kali
ini…
Bukannya
panik, sudut bibirnya justru sedikit naik.
Karena untuk
pertama kalinya...
obrolannya dengan Hanin terasa ringan.
Santai.
Dan Hanin
terlihat nyaman membalasnya.
—
Beberapa
menit kemudian Petra menarik napas kecil.
Lalu membuka
profil Instagram Hanin lagi.
Matanya
berhenti pada bio akun @itshanin.
Nomor
WhatsApp Hanin yang tadi diberikan ke Axel otomatis sudah tersimpan di kepala
Petra sejak di toko kue.
Dan entah
keberanian datang dari mana...
Petra
akhirnya membuka WhatsApp.
Reno langsung
menoleh cepat.
“WOY.”
Petra mulai
mengetik.
“Lo mau
ngapain.”
“Chat.”
“DI WA?!”
Anak-anak Trouble
Boy langsung heboh lagi.
Karena pindah
dari DM Instagram ke WhatsApp itu terasa jauh lebih personal.
Petra
mengetik cukup lama.
Hapus.
Ketik lagi.
Hapus lagi.
Sampai
akhirnya...
"Tidur jangan
malam-malam."
Petra menatap
layar beberapa detik.
Lalu…
SEND.
Centang satu.
Dan detik itu
juga Petra langsung menjatuhkan ponselnya ke sofa seperti habis melempar bom.
“ANJIR.”
Reno langsung
teriak brutal.
“PETRA CHAT
DULUAN DI WA 😭”
Satu rumah
kembali chaos.
Sementara
Petra sendiri pura-pura santai sambil mengambil minum.
Padahal
jantungnya hampir copot menunggu balasan Hanin.
—
Di sisi lain…
Ponsel Hanin
yang sedang tergeletak di meja sofa tiba-tiba menyala.
📩 Petra.
Hanin sedikit
mengangkat alis.
Karena Petra
benar-benar pindah chat ke WhatsApp.
Dan entah
kenapa…
Itu membuat
Hanin tersenyum kecil lagi sebelum akhirnya membuka pesannya.
—
Tak lama
setelah pesan Petra terkirim…
Ponselnya
akhirnya bergetar.
📩 Hanin.
Petra
langsung refleks mengambil HP-nya terlalu cepat sampai hampir jatuh.
Reno yang
melihat langsung menatap jijik dramatis.
“Najis
cinta.”
Petra
mengabaikannya dan membuka chat.
Iya ibu
petra.
Petra
langsung terkekeh kecil sendiri.
Dan itu
sukses membuat satu rumah mendadak hening.
Karena…
Petra.
Tertawa.
Sendiri.
Karena chat.
Reno sampai
menatap langit-langit rumah pasrah.
“Ya Allah…
ketua gue gone.”
—
Percakapan
mereka akhirnya berlanjut ringan.
Awalnya cuma
saling bercanda kecil.
Tentang Petra
yang ketahuan lihat story berkali-kali.
Tentang cake favorit Hanin.
Sampai bahasan random soal anak basket sekolah.
Dan anehnya…
Chat mereka
nyambung.
Sangat
nyambung.
Petra bahkan
mulai lupa kalau beberapa menit lalu dia masih kesal gara-gara Axel.
Sekarang
fokusnya cuma satu.
Balasan
Hanin.
—
Sementara di
ruang tengah…
Anak-anak Trouble
Boy awalnya masih main game bareng.
Namun
lama-lama mereka sadar sesuatu.
Petra tidak
ikut main.
Padahal
biasanya cowok itu paling barbar kalau mabar.
Reno akhirnya
melirik.
Dan benar
saja...
Petra duduk
sendiri di sofa sambil terus mengetik chat dengan wajah yang jauh lebih hidup
dibanding main game.
“ANJIR.”
“Dia milih
chat Hanin daripada mabar 😭”
Anak-anak
lain langsung ikut melihat.
“Ketua udah
berubah.”
“Cinta emang
menakutkan.”
Petra melirik
tajam.
“Ribut banget sih.”
Namun bahkan
sambil ngomel…
Tangannya
tetap lanjut balas chat Hanin.
—
Di
apartemennya, Hanin pun terlihat jauh lebih santai malam ini.
Duduk
selonjoran di sofa sambil sesekali membalas chat Petra.
Dan untuk
pertama kalinya setelah pindah sekolah…
Hanin merasa
nyaman mengobrol lama dengan seseorang selain keluarganya.
Sementara
jauh di sisi lain kota…
Dua orang itu
tidak sadar...
Mereka
sama-sama sedang tersenyum kecil di depan layar masing-masing.
—
Malam itu
suasana rumah Petra masih ramai.
Namun fokus
Petra sekarang benar-benar cuma satu:
Chat Hanin.
Cowok itu
bahkan sampai mengabaikan suara game dan keributan Trouble Boy yang
biasanya paling dia nikmati.
Sampai
akhirnya...
TING.
Notifikasi
chat baru masuk.
Petra refleks
membuka karena mengira itu Hanin lagi.
Namun senyum
kecil di wajahnya langsung hilang begitu melihat nama di layar.
📩 Claudia.
Reno yang
duduk di samping langsung menyipitkan mata.
“Si mantan?”
Petra
langsung menghela napas kecil malas.
Claudia.
Mantan Petra.
Cewek cantik,
populer, dan satu sekolah dengan mereka meski beda kelas.
Hubungan
mereka dulu cukup lama.
Dan hampir semua orang mengira Petra benar-benar serius dengan Claudia.
Sampai
akhirnya hubungan itu hancur karena Claudia selingkuh.
Sejak saat
itu Petra berubah jauh lebih dingin.
Dan Claudia…
Tidak pernah
benar-benar bisa move on.
—
Petra membuka
chat itu singkat.
"Kamu lagi
sama anak-anak?"
Petra membaca
sekilas tanpa ekspresi.
Tak lama
masuk lagi chat berikutnya.
"Aku tadi
lihat kamu di sekolah."
Dan terakhir
"Sekarang
dingin banget sama aku ya."
Sunyi.
Petra
langsung mengunci layar ponselnya tanpa membalas.
Reno
memperhatikan itu sambil makan keripik.
“Balas gak?”
“Ngapain.”
Jawabannya
datar.
Sangat datar.
Dan itu
berbeda jauh dibanding cara Petra membalas Hanin tadi.
Tidak ada
gugup.
Tidak ada senyum.
Tidak ada ketertarikan sedikit pun.
Hanya dingin.
—
Sementara
itu…
Di kamarnya
sendiri, Claudia duduk sambil menatap layar ponselnya.
Ia sebenarnya
sudah memperhatikan perubahan Petra sejak Hanin datang ke sekolah.
Tatapan
Petra.
Cara Petra memperhatikan Hanin.
Sampai bagaimana Petra mulai kehilangan fokus kalau Hanin ada.
Dan itu
membuat Claudia gelisah.
Karena dulu...
Tatapan itu
pernah Petra berikan padanya.
Namun
sekarang…
semuanya terasa berbeda.
Petra memang
masih bersikap biasa di sekolah.
Tetap santai.
Tetap cuek.
Tapi Claudia
cukup mengenal Petra untuk sadar...
Cowok itu
perlahan berubah karena Hanin.
Dan hal itu
membuatnya takut kehilangan Petra sepenuhnya.
—
Keesokan
paginya sekolah kembali ramai seperti biasa.
Area parkiran
sudah dipenuhi siswa yang baru datang.
Suara obrolan bercampur dengan bunyi motor dan mobil yang keluar masuk halaman
sekolah.
Namun pagi
ini…
Ada satu hal
yang berbeda.
Petra datang
lebih pagi dari biasanya.
Dan itu
langsung membuat Trouble Boy curiga.
Reno sampai
menatap ketuanya sambil menyipitkan mata.
“Lo nyari
siapa?”
Petra turun
dari jeep hitamnya sambil memasukkan tangan ke saku hoodie.
“Siapa
emang.”
“Jangan
pura-pura.”
Petra tidak
menjawab.
Namun matanya
beberapa kali otomatis melihat ke arah gerbang masuk sekolah.
Dan tentu
saja…
Itu tidak
lolos dari pengamatan gengnya.
“Anjir.”
“Dia nungguin
Hanin 😭”
Petra
langsung melirik tajam.
“Berisik.”
—
Tak lama
kemudian…
BMW hitam
milik Damian masuk ke area parkiran.
Dan seketika
perhatian siswa langsung teralihkan.
“Damian!”
“Hanin
datang!”
Petra refleks
menoleh.
Mobil
berhenti dengan halus sebelum Damian turun lebih dulu sambil membawa kopi
dingin di tangannya.
Lalu dari
sisi lain pintu mobil…
Hanin keluar.
Seragam
sekolah rapi.
Rambut diikat rendah.
Wajah masih setenang biasanya.
Namun pagi
ini Hanin terlihat sedikit lebih fresh dibanding kemarin malam.
Dan tanpa
sadar...
Sudut bibir
Petra sedikit naik melihatnya.
Reno langsung
menatap jijik.
“Najis.”
“Mulut lo
pengen gue jahit?”
—
Hanin yang
sedang berjalan bersama Damian tiba-tiba menangkap sosok Petra dari kejauhan.
Tatapan
mereka bertemu beberapa detik.
Lalu…
Untuk pertama
kalinya pagi itu...
Hanin sedikit
mengangkat ponselnya kecil ke arah Petra.
Menunjukkan
layar chat WhatsApp mereka semalam.
Isinya masih
terbuka.
Dan Hanin
tersenyum tipis jahil.
Petra
langsung membeku.
Sementara
satu geng di belakangnya mulai ribut brutal.
“WOYYYY.”
“DIPAMERIN
CHAT 😭”
“PETRA MENANG
BANYAK.”
Damian yang
melihat interaksi kecil itu hanya melirik Hanin sebentar.
Lalu terkekeh
pelan.
Karena
sekarang semuanya mulai terlihat jelas.
Adiknya…
perlahan mulai membuka diri pada seseorang.
—
Di tengah
keramaian parkiran sekolah, suasana masih dipenuhi suara heboh siswa yang
melihat interaksi kecil Hanin dan Petra.
Petra sendiri
masih berdiri mematung setelah Hanin dengan santainya memamerkan layar chat
mereka semalam.
Sementara Trouble
Boy sudah ribut tidak jelas di belakangnya.
Namun di sisi
lain parkiran…
Ada seseorang
yang memperhatikan semuanya dalam diam.
Claudia.
Cewek itu
berdiri dekat mobil sahabatnya sambil memegang tali tasnya pelan.
Tatapannya
tertuju lurus pada Petra.
Lebih
tepatnya...
pada cara Petra melihat Hanin.
Dan itu
membuat dada Claudia terasa tidak nyaman.
Karena ia
belum pernah melihat Petra seperti itu lagi sejak hubungan mereka berakhir.
Tatapan Petra
yang biasanya dingin sekarang terlihat jauh lebih hidup saat Hanin ada.
Dan Claudia
sadar itu.
Sangat sadar.
—
Namun tanpa
Claudia ketahui…
Seseorang
juga memperhatikannya.
Damian.
Cowok itu
yang sedari tadi berjalan di samping Hanin perlahan menyadari ada tatapan yang
terus mengarah ke mereka.
Atau lebih
tepatnya…
Ke Petra dan
Hanin.
Damian
akhirnya melirik sekilas ke arah Claudia.
Tatapan
mereka sempat bertemu beberapa detik.
Dan Damian
langsung bisa membaca situasinya cukup cepat.
“Hmm…”
Hanin yang
mendengar gumaman kecil kakaknya menoleh.
“Kenapa?”
Damian hanya
tersenyum tipis.
“Gapapa.”
Namun matanya
kembali melirik Claudia sebentar.
Aura cewek
itu terlihat rumit.
Bukan sekadar
penasaran.
Ada rasa
cemburu.
Tidak rela.
Dan sedikit terluka.
Dan Damian
cukup pintar untuk memahami itu.
—
Di sisi lain…
Claudia
perlahan mengalihkan pandangannya saat sadar Damian memperhatikannya.
Namun sebelum
pergi…
Tatapannya
sempat kembali pada Hanin.
Dan untuk
pertama kalinya…
Claudia
benar-benar merasa terancam oleh seseorang.
Karena Hanin
bukan cuma cantik.
Bukan cuma
pintar.
Atau populer.
Tapi Hanin
berhasil membuat Petra berubah.
Dan itu yang
paling membuat Claudia takut.
Chapter 13
Jam pelajaran
pagi berjalan cukup normal.
Guru
menjelaskan materi.
Suasana kelas tenang.
Dan seperti biasa Hanin tetap menjadi pusat perhatian tanpa perlu melakukan apa
pun.
Sementara
Petra…
Dari tadi
sama sekali tidak fokus belajar.
Tatapannya
beberapa kali otomatis mengarah ke Hanin.
Dan itu
sukses membuat Reno hampir mati menahan tawa.
“Ketua…”
“Hm.”
“Lo kalau
nengok Hanin lagi satu kali, sumpah gue foto.”
Petra langsung
menyenggol meja Reno pelan.
“Belajar sana.”
Padahal
dirinya sendiri bahkan tidak mendengar guru menjelaskan apa.
—
Tak lama
kemudian…
TING TONGGG!!
Bel istirahat
berbunyi.
Satu kelas
langsung ramai.
Dan sebelum
Petra sempat kehilangan keberanian…
Cowok itu
akhirnya berdiri lalu berjalan menuju meja Hanin.
Detik itu
juga satu kelas mulai ribut pelan.
“WOY.”
“Petra jalan
ke Hanin.”
“Anjir tiap
hari makin terang-terangan.”
Petra
berhenti tepat di samping meja Hanin.
“Hanin.”
Gadis itu
mendongak tenang.
“Hm?”
“Kantin?”
Singkat.
Padat.
Namun cukup membuat setengah kelas menahan napas.
Karena Petra…
mengajak seseorang ke kantin dengan cara normal.
Dan yang
lebih mengejutkan...
Hanin
mengangguk santai.
“Boleh.”
BOOM!!
Satu kelas
langsung pecah heboh.
“ANJIR DIA
MAU 😭”
“PETRA
DITERIMA NEGARA.”
Petra
langsung menatap sekelas datar.
“Ribut banget.”
Namun sudut
bibirnya sedikit naik.
Sementara
Hanin hanya berdiri santai sambil membawa ponselnya.
—
Mereka
akhirnya berjalan berdampingan menuju kantin.
Dan seperti
biasa…
Lorong
sekolah langsung berubah heboh.
Siswa-siswi
yang lewat otomatis menoleh.
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana.
Karena
kombinasi Petra dan Hanin benar-benar terlalu mencolok.
—
Di tengah
perjalanan…
Mereka sempat
berpapasan dengan Claudia.
Cewek itu
berhenti beberapa langkah sambil menatap Petra dan Hanin.
Hanin sendiri
tidak terlalu memperhatikan.
Ia hanya
lewat biasa saja.
Namun Petra
menyadari keberadaan Claudia.
Tatapan
mereka sempat bertemu singkat.
Dan seperti
beberapa hari terakhir…
Petra tetap
bersikap dingin.
Tidak ada
senyum.
Tidak ada sapaan khusus.
Hanya sekilas
pandangan lalu berjalan lagi bersama Hanin.
Itu membuat
Claudia diam membeku beberapa detik.
Karena untuk
pertama kalinya…
ia benar-benar merasa Petra sudah mulai pergi jauh darinya.
—
Namun Claudia
akhirnya berjalan mengikuti arah mereka menuju kantin.
Bersama
beberapa teman gengnya.
Dan tanpa
Claudia sadari…
Ada seseorang
yang memperhatikan dari belakang.
Damian.
Cowok itu
berjalan santai bersama geng cowok kelas 3-nya sambil memegang kopi dingin.
Tatapannya
sempat melihat Claudia yang mengikuti Hanin dan Petra cukup lama.
Lalu Damian
melirik salah satu temannya kecil.
“Kayaknya
bakal rame.”
Temannya
langsung menoleh penasaran.
“Hah?”
Damian hanya
tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai di belakang mereka semua.
Namun matanya
tetap awas memperhatikan situasi.
—
Kantin
sekolah siang itu kembali penuh.
Suara obrolan
bercampur dengan keributan siswa yang masih diam-diam memperhatikan Petra dan
Hanin duduk satu meja bersama.

Bahkan
beberapa anak sampai sengaja membeli makanan lebih lama hanya untuk melihat
mereka.
Sementara
Hanin terlihat santai seperti biasa.
Sedangkan
Petra…
Meski
terlihat tenang, sebenarnya cukup menikmati suasana duduk berdua dengan Hanin
seperti ini.
—
Namun
beberapa meja dari sana…
Claudia dan
gengnya juga duduk sambil terus memperhatikan ke arah mereka.
Tatapan
Claudia sesekali jatuh pada Petra.
Dan itu tidak
lolos dari pengamatan Damian.
Cowok itu
yang tadi masuk kantin bersama geng kelas 3 akhirnya berhenti berjalan.
Tatapannya
lurus ke arah meja Claudia.
Lalu tanpa
banyak bicara…
Damian
melangkah mendekat.
Teman-teman
Claudia langsung saling pandang bingung saat Damian tiba-tiba berdiri di dekat
meja mereka.
Karena aura
cowok itu terlalu tenang.
Tapi justru
terasa menekan.
“Damian?”
ujar salah satu dari mereka pelan.
Damian
tersenyum tipis sopan.
Namun matanya
tetap dingin.
Lalu ia
sedikit membungkuk mendekat ke arah Claudia dan berbisik pelan...
Cukup pelan
supaya hanya meja itu yang mendengar.
“Gak usah
macem-macem sama adek gue.”
Nada suaranya
santai.
Sangat
santai.
Namun justru
itu yang membuat bulu kuduk merinding.
Karena tidak
terdengar seperti ancaman kosong.
Claudia
langsung diam.
Tatapannya
sedikit membeku menatap Damian.
Sementara
teman-temannya juga ikut terdiam karena aura Damian berubah sangat berbeda dari
biasanya.
Tidak lagi
ramah seperti senior populer sekolah.
Melainkan…
Seseorang
yang benar-benar protectif.
—
Di sisi lain
kantin…
Hanin
memperhatikan semua itu dari jauh.
Gadis itu
langsung tahu.
Damian sedang
masuk mode kakak overprotective.
Petra pun
ikut memperhatikan Damian dengan sedikit bingung.
“Kakak lo serem
juga ya.”
Hanin meminum
airnya santai.
“Biasanya enggak.”
“Biasanya?”
“Kalau
nyangkut aku, beda cerita.” Dengan santai Hanin sambil mengikat rambutnya setengah dan merapihkan dasinya.
Petra
langsung diam beberapa detik.
Entah kenapa
kalimat itu membuatnya sadar...
Seberapa
besar keluarga Hanin menjaga gadis itu.
—
Tak lama
kemudian Damian berjalan meninggalkan meja Claudia.
Ekspresinya
langsung kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Cowok itu
lalu menghampiri meja Hanin dan Petra sambil menarik kursi kosong.
“Ganggu gak?”
Petra
menggeleng kecil.
“Duduk aja.”
Damian duduk
santai di samping Hanin lalu menatap adiknya sebentar memastikan semuanya aman.
Dan Petra
yang melihat itu akhirnya sadar satu hal :
Damian
mungkin ramah.
Namun kalau
urusannya Hanin…
Cowok itu
bisa jadi sangat mengintimidasi.
—
Damian baru
saja duduk santai di samping Hanin sambil meminum kopi dinginnya.
Aura dingin
yang tadi sempat muncul di meja Claudia perlahan menghilang begitu saja.
Sekarang
ekspresinya kembali santai seperti biasa.
Namun Hanin
yang sedari tadi memperhatikan jelas tahu kakaknya baru melakukan sesuatu.
Gadis itu
menyipitkan mata kecil.
“Kamu ngapain
di meja sana?”
Damian
langsung menoleh polos.
“Meja mana?”
Hanin menatap
datar.
“Damian.”
Petra yang
duduk di depan mereka langsung menahan senyum kecil karena tahu Damian
ketahuan.
Sementara
beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan lagi.
Karena
kombinasi Hanin dan Damian memang selalu menarik perhatian.
Damian
akhirnya terkekeh pelan sambil bersandar santai.
“Cuma
ngobrol.”
“Ngobrol
apa.”
“Biasa.”
Hanin
langsung tahu itu bohong.
Tatapannya
makin tajam sedikit.
“Kamu ngancem
orang lagi?”
“Enggak lah.”
Petra hampir
tersedak minumnya sendiri mendengar nada Damian yang terlalu santai.
Karena
jelas-jelas cowok itu tadi mengintimidasi satu meja hanya dengan satu kalimat.
—
Damian
akhirnya menghela napas kecil lalu menatap Hanin.
“Aku cuma gak
suka ada yang ngeliatin kamu aneh-aneh.”
Nada suaranya
tetap ringan.
Namun jelas
terdengar protectif.
Hanin terdiam
beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil pasrah.
“Kebiasaan.”
Damian
tersenyum kecil.
“Iya.”
Petra yang
melihat interaksi kakak-adik itu tiba-tiba merasa lucu sendiri.
Karena Hanin
yang dikenal dingin ternyata cukup berbeda saat bersama keluarganya.
Jauh lebih
lembut.
Lebih santai.
Dan Damian…
Benar-benar
memperlakukan Hanin seperti sesuatu yang harus dijaga sepenuhnya.
—
Tak lama
kemudian Reno dan Trouble Boy datang membawa makanan mereka.
Namun baru
beberapa langkah mendekat...
Reno langsung
berbisik pelan ke Petra.
“Ketua.”
“Hm.”
“Gue takut
sama kakaknya Hanin.”
Petra melirik
Damian yang sedang ngobrol santai dengan Hanin.
Lalu menjawab
pendek,
“…Gue juga
dikit.”
—
Reno dan
anak-anak Trouble Boy awalnya masih berdiri ragu sambil membawa nampan
makanan mereka.
Karena meski
Damian terlihat santai sekarang…
Mereka masih
ingat aura mengintimidasi beberapa menit lalu di meja Claudia.
Dan jujur
saja...
itu cukup bikin merinding.
Petra yang
melihat gengnya bengong langsung mengernyit.
“Ngapain
berdiri.”
“Takut salah
duduk,” bisik Reno.
Petra hampir
ketawa sendiri.
Namun sebelum
mereka sempat memutuskan...
Damian justru
menoleh ke arah mereka lebih dulu.
Cowok itu
menyandarkan tubuh santai lalu mengangkat dagunya kecil ke kursi kosong di
sekitar meja.
“Duduk aja.”
Satu geng
langsung membeku.
“Hah?”
Damian
terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.
“Masa gue
seserem itu.”
Reno refleks
menjawab jujur,
“Iya dikit kak.”
Petra
langsung menendang kaki Reno pelan di bawah meja.
Namun justru
Damian tertawa kecil.
“Parah.”
Suasana yang
tadi sedikit tegang akhirnya mencair.
Dan beberapa
detik kemudian…
Trouble
Boy benar-benar duduk
gabung di meja Hanin.
Sontak satu
kantin kembali heboh.
“ANJIR.”
“FULL TEAM.”
“PETRA +
HANIN + DAMIAN + TROUBLE BOY 😭”
Beberapa
siswa bahkan mulai merekam diam-diam karena pemandangan itu terasa terlalu
langka.
Karena
biasanya Trouble Boy identik dengan keributan.
Namun
sekarang mereka malah duduk santai satu meja bersama Hanin.
Dan lebih
aneh lagi...
Damian
terlihat cukup nyambung dengan mereka.
—
Reno akhirnya
mulai berani ngobrol.
“Kak Damian
ternyata asik juga.”
Damian
mengangguk kecil sambil minum.
“Kirain?”
“Kirain bakal
dibunuh.”
“Mulut lo.” Sahut Damian.
Satu meja
langsung ketawa.
Bahkan Hanin
sampai sedikit menggeleng kecil melihat tingkah mereka.
Dan Petra…
Diam-diam
memperhatikan Hanin yang terlihat jauh lebih nyaman sekarang.
Sesekali ikut
tersenyum tipis.
Sesekali menimpali obrolan.
Suasana meja
mereka terasa surprisingly hangat.
—
Namun di sisi
lain kantin…
Claudia
memperhatikan semuanya dalam diam.
Dan untuk
pertama kalinya…
Ia merasa
benar-benar berada di luar dunia Petra sekarang.
—
Sejak
kejadian Hanin pingsan di UKS hari itu…
Ada banyak
hal yang perlahan berubah.
Salah satunya
adalah hubungan Damian dengan Petra dan Trouble Boy.
Awalnya
Damian memang cukup menjaga jarak.
Namun karena
Petra sudah mengetahui rahasia tentang kondisi Hanin...
dan memilih menjaga itu baik-baik.
Damian mulai
percaya pada Petra.
Setidaknya…
lebih dibanding orang lain.
—
Dan anehnya…
Petra juga
berubah cukup banyak sejak dekat dengan Hanin.
Cowok itu
memang masih sama:
masih suka bikin onar,
masih brutal,
masih hobi balapan dan berantem.
Namun
sekarang ada satu hal baru :
Ia jadi lebih
sering menghilang dari tongkrongan hanya untuk chat Hanin.
Dan itu
selalu jadi bahan bully satu geng.
—
Lama-lama
hubungan dua geng itu juga makin dekat.
Geng Damian
yang isinya anak-anak kelas 3 terkenal dan cukup disegani…
mulai sering nongkrong bareng Trouble Boy.
Kadang di
cafe.
Kadang di rooftop rumah Petra.
Awalnya
suasana cukup canggung.
Karena aura
mereka sama-sama kuat.
Namun
lama-lama malah nyambung.
Reno bahkan
jadi cukup dekat dengan beberapa teman Damian.
Sementara
Damian sendiri surprisingly cocok ngobrol dengan Petra.
Meski sering
berakhir saling roasting.
—
Malam itu
misalnya.
Mereka semua
sedang nongkrong santai di rooftop rumah Petra.
Lampu kota
terlihat indah dari atas.
Musik diputar pelan.
Makanan dan minuman berserakan di meja.
Hanin duduk
santai di kursi sofa outdoor sambil memakai hoodie oversized hitam.
Sementara
Petra duduk tidak jauh darinya.
Dan seperti
biasa…
Mata Petra
otomatis sering melihat Hanin.
Damian yang
sadar itu akhirnya terkekeh kecil.
“Petra.”
“Hm.”
“Lo tuh halus
dikit kalau liatin ade gue.”
Satu rooftop
langsung pecah ketawa brutal.
Petra
langsung tersedak minumnya sendiri.
“Apaan sih.”
Reno langsung
menunjuk Petra.
“NAH KAN KETAHUAN.”
Hanin sendiri
hanya melirik kecil ke arah Petra sebelum kembali santai meminum sodanya.
Namun sudut
bibirnya terlihat sedikit naik.
—
Damian
akhirnya bersandar santai sambil melihat Petra.
Dan untuk
pertama kalinya…
Cowok itu
benar-benar merasa tenang membiarkan Petra ada dekat Hanin.
Karena di
balik semua sifat barbar Petra…
Damian tahu
satu hal pasti :
Petra
benar-benar menjaga Hanin dengan tulus.
—
Malam di
rooftop rumah Petra masih ramai.
Angin malam
berhembus pelan ditemani suara musik santai dan obrolan dua geng yang sekarang
mulai akrab satu sama lain.
Reno dan
beberapa anak lain masih sibuk bercanda.
Sementara Damian duduk santai sambil sesekali memperhatikan Hanin.
Dan saat
melihat jam di ponselnya...
Damian
langsung mengernyit kecil.
Baru jam 8 malam.
Namun bagi
Damian…
Itu sudah
cukup malam untuk Hanin berada di luar terlalu lama.
Apalagi
kondisi Hanin akhir-akhir ini masih belum benar-benar stabil.
Cowok itu
akhirnya bersandar sambil berkata santai,
“Pindah
nongkrong aja yuk.”
Reno langsung
menoleh.
“Ke mana?”
Damian
menjawab ringan seolah bukan hal besar.
“Apart
Hanin.”
SUNYI.
Satu rooftop
langsung membeku.
“Hah?!”
“APARTEMEN
HANIN?!”
“SERIUS?!”
Bahkan Petra
yang biasanya paling santai pun ikut terdiam beberapa detik.
Karena itu
berarti…
Masuk ke tempat
pribadi Hanin.
Dan itu jelas
bukan sesuatu yang biasa.
—
Damian lalu
menoleh ke arah Hanin.
“Nin.”
“Hm?”
“Boleh gak?”
Semua mata
langsung tertuju pada Hanin sekarang.
Karena
keputusan sepenuhnya ada di tangan gadis itu.
Dan
mengejutkannya...
Hanin
terlihat santai saja.
“Boleh.”
BOOM.
Satu rooftop
langsung chaos.
“ANJIRRRR.”
“GUE MASUK
APART HANIN 😭”
“INI LEVEL
PERTEMANAN APA.”
Petra sendiri
masih sedikit tidak percaya.
Karena selama
ini Hanin selalu menjaga ruang pribadinya cukup ketat.
Dan sekarang…
Hanin
mengizinkan mereka datang.
—
Hanin berdiri
santai sambil mengambil helm motornya.
“Kalau
berisik keluar.”
Reno langsung
mengangguk cepat.
“Kami anak baik.”
“Pembohong.” Sahut Hanin.
Satu geng
langsung ngakak.
—
Beberapa
menit kemudian mereka semua akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.
Mobil Damian
di depan.
Jeep Petra di belakang.
Beberapa motor ikut menyusul.
Dan sepanjang
perjalanan…
Petra
diam-diam masih memikirkan satu hal :
Hanin
benar-benar mulai mempercayai mereka.
—
Area parkiran mulai ramai saat semuanya bersiap pindah menuju apartemen Hanin.
Suara mesin
mobil dan motor mulai terdengar bergantian.
Hanin yang
tadi berdiri santai akhirnya berjalan menuju motor hitamnya sambil memutar
kunci motor di jarinya pelan.
Reno yang
melihat motor itu langsung mendekat dengan mata berbinar.
“Motor impian
gue banget…”
Hanin melirik
kecil.
“Mau bawa?”
Reno langsung
membeku.
“…Hah?”
Dan sebelum
otaknya selesai mencerna...
Hanin
benar-benar melempar kunci motornya ke arah Reno.
Refleks Reno
menangkapnya cepat.
DETIK ITU
JUGA!!
“WOYYYYYY.”
“RENO
DIPERCAYA BAWA DUCATI HANIN 😭”
“NAIK DERAJAT
LO.”
Reno sampai
menatap kunci motor itu seperti benda suci.
“Gue takut
jatoh…”
Hanin malah
santai memasukkan tangan ke hoodie-nya.
“Kalau lecet
gue bunuh.”
“NAH KAN 😭”
Satu geng
langsung ngakak brutal.
Namun Reno
tetap terlihat bangga setengah mati.
Karena jelas…
Hanin mulai nyaman dengan mereka.
Dan itu bukan
hal kecil.
—
Sementara itu
Damian sudah membuka pintu mobilnya.
“Nin.”
Hanin
langsung berjalan santai menuju mobil kakaknya.
Petra yang
sedari tadi memperhatikan akhirnya mengernyit kecil.
“Lo gak naik
motor?”
“Capek.”
Jawaban Hanin
pendek seperti biasa.
Lalu tanpa
banyak drama gadis itu masuk ke kursi penumpang depan mobil Damian.
Dan entah
kenapa…
Petra sedikit
merasa kosong melihat itu.
Karena
biasanya Hanin selalu terlihat cocok dengan motornya.
Namun di sisi
lain…
Ia juga lega
Hanin memilih istirahat.
—
Reno yang
masih memegang kunci motor langsung mendekat ke Petra sambil super excited.
“Ketua…”
“Hm.”
“Gue
dipercaya Hanin.”
Petra melirik
datar.
“Jangan jatoh.”
“LO IRI YA.”
Petra
langsung mendorong kepala Reno pelan sampai satu geng kembali ketawa.
—
Tak lama
kemudian rombongan mereka akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.
BMW Damian
melaju di depan.
Jeep Petra mengikuti di belakang.
Sementara Reno membawa Ducati Hanin dengan ekspresi paling bangga sedunia.
Dan malam
itu…
Untuk pertama
kalinya dua geng besar sekolah pergi nongkrong bersama menuju tempat paling
private milik Hanin.
Chapter 14
Rombongan
akhirnya sampai di kawasan apartemen Hanin.
Bangunan
tinggi itu berdiri megah dengan lampu-lampu hangat yang menyala di setiap
lantai, penjagaan ketat, dan suasana yang jauh lebih tenang dibanding luar.
Begitu mobil Damian berhenti di lobby private, Hanin turun lebih dulu.
Lalu diikuti
Petra, Trouble Boy, dan geng Damian yang masih agak kagok melihat tempat
itu.
“Anjir…”
bisik Reno pelan sambil menatap sekitar.
“Ini apartemen apa hotel bintang lima?”
Petra juga
sempat melirik bangunan itu sekilas.
Bukan pertama
kali ia melihat tempat mewah, tapi ini berbeda.
Ini terasa…
personal.
Milik Hanin.
—
Damian
berjalan santai di samping Hanin.
“Masuk.”
Hanin hanya
mengangguk kecil lalu berjalan menuju lift khusus resident.
Semua ikut
menyusul.
Beberapa
security sempat melirik, tapi langsung menunduk sopan saat melihat Damian dan
Hanin.
Jelas mereka
sudah familiar.
—
Di dalam
lift, suasana sedikit sunyi.
Angka lantai
naik pelan.
Reno masih
memegang kunci motor Hanin dengan hati-hati seperti barang mahal negara.
Petra berdiri
di sudut, bersandar santai tapi matanya sesekali melirik Hanin.
Hanin sendiri
terlihat tenang seperti biasa, tidak terganggu dengan banyaknya orang di
sekitarnya.
—
“Berapa
lantai apart lo?” tanya salah satu teman Damian pelan.
“Cukup,”
jawab Hanin santai.
Damian
langsung terkekeh kecil.
“Jawaban paling Hanin banget.”
Hanin
meliriknya sebentar.
“Kalau aku bilang tinggi kamu juga gak bakal ngerti.”
Satu lift
langsung ketawa pelan.
—
DING!
Lift terbuka
di lantai privat Hanin.
Begitu pintu
terbuka...
Ruangannya
langsung membuat semua orang diam sebentar.
Interior
modern, hangat, luas, dengan jendela besar menghadap lampu kota.
“Gila…” Reno
berbisik lagi.
“Ini bukan apartemen ini istana.”
Hanin
langsung melepas hoodie-nya santai lalu masuk lebih dulu.
“Masuk aja.”
—
Semua mulai
masuk pelan-pelan, masih kagum.
Damian
berjalan ke arah dapur membuka kulkas seperti sudah biasa.
“Minum
sendiri ambil.”
“Siap,” jawab
gengnya langsung serempak.
Petra duduk
di sofa tanpa banyak bicara, matanya mengamati sekitar.
Hanin
berjalan ke area dapur, membuka beberapa lemari.
Sementara suasana mulai berubah jadi lebih santai.
Dan untuk
pertama kalinya malam itu…
Dua geng
besar sekolah itu benar-benar berkumpul di satu tempat.
Bukan karena
keributan.
Bukan karena
masalah.
Tapi karena
Hanin membiarkan mereka masuk ke dunianya.
—
Damian
membantu Hanin dari dapur tanpa banyak bicara.
Satu per satu
minuman dikeluarkan dari kulkas, lalu disusun di meja pantry panjang yang
menyatu dengan ruang tengah.
Hanin berdiri
di sebelahnya sambil membuka beberapa lemari lain.
“Seadanya ya,
gak ada apa-apa,” ucap Hanin santai.
Damian
langsung melirik sekilas ke arah meja, menatap stock makanan Hanin.
Dan beberapa
detik kemudian…
“…Seadanya?” Damian tersenyum tipis.
Di atas meja
sudah tertata rapi:
Minuman soda
berbagai rasa, jus dingin, air mineral premium, snack, biskuit coklat, buah
potong, permen, sampai makanan ringan impor yang bahkan Reno belum pernah lihat
sebelumnya.
Reno yang
kebetulan ikut mendekat langsung melotot.
“INI
SEADANYA?!”
“GUE DI RUMAH
GAK ADA BEGINI.”
Satu geng
langsung heboh.
“Anjir Hanin
stok snacknya kayak minimarket pribadi.”
Petra yang
berdiri agak belakang hanya melirik sekilas, lalu menghela napas kecil.
“…Pantes aja
kalem.”
—
Hanin
berjalan ke arah meja sambil menunjuk satu sisi kecil di pojok dapur.
“Kalau mau
makan ambil sendiri.”
Lalu ia
menunjuk ke arah balkon besar dengan pintu kaca geser.
“Kalau mau
ngerokok di luar. Jangan di dalam.”
Nada suaranya
tetap tenang, tidak keras.
Tapi cukup
jelas.
Reno langsung mengangguk.
“Siap.”
Beberapa
teman geng langsung refleks:
“Siap bu bos 😭”
—
Reno yang
masih memegang kunci motor tiba-tiba melirik meja, lalu melirik balkon.
“Wah… ini
apartemen plus aturan juga.”
Petra
menimpali datar.
“Normal.”
Reno langsung
menatap Petra.
“Normal apanya?”
“Dia yang
punya apart.”
—
Hanin sendiri
sudah duduk santai di sofa, mengambil minuman soda, lalu membuka ponselnya
seperti tidak terlalu peduli dengan hebohnya semua orang di ruang itu.
Damian
mengambil beberapa snack lalu duduk di sebelah Hanin.
“Capek gak?”
“Enggak.”
Damian
mengangguk pelan, lalu tetap memperhatikan adiknya sebentar, memastikan Hanin
benar-benar baik.
Sementara di
belakang…
Trouble
Boy sudah mulai
menyerbu snack seperti tidak makan seminggu.
“GILA ENAK
BANGET INI.”
“INI PERMEN
APA SURGA?”
Petra hanya
duduk sambil sesekali mengambil minum, matanya lebih sering mengarah ke Hanin
yang terlihat paling tenang di ruangan itu.
Dan malam
itu…
Apartemen
Hanin benar-benar berubah jadi tempat paling santai, paling absurd, dan paling
tidak terduga bagi dua geng sekolah yang biasanya penuh ribut.
—
Suasana
apartemen Hanin benar-benar berubah jadi seperti basecamp dadakan.
Di ruang
tengah, geng Damian dan Trouble Boy sudah heboh sendiri di depan TV
besar.
“WOY PASS
PASS!”
“DEFENSE
GOBLOK, DEFENSE!”
“ANJIR GOL LU
GAK MASUK AKAL!”
Satu geng
langsung campur jadi satu tanpa sekat, yang penting kompetisi di layar PS.
Damian duduk
santai di lantai dekat sofa sambil sesekali kasih arahan ringan, sementara
Petra lebih banyak diam tapi fokus, tangannya cepat banget di stik.
Reno di
sampingnya udah teriak-teriak dari tadi.
“INI CHEAT
ATAU SKILL?!”
“SKILL.”
jawab Petra singkat tanpa menoleh.
Langsung kena
pelototan satu ruangan.
“BRUTAL.”
—
Di sisi lain
ruang tamu…
Hanin justru
terlihat paling tenang.
Gadis itu tiduran
santai di sofa panjang, satu kaki ditekuk, hoodie sedikit menutupi tubuhnya.
Ponsel di
tangan, scroll Instagram tanpa banyak ekspresi.
Kadang senyum
kecil.
Kadang cuma diam.
Lampu ruangan
yang hangat bikin suasana terasa jauh lebih nyaman.
Dari sudut
sana, Damian sempat melirik sebentar.
Melihat Hanin
yang benar-benar santai di tengah keramaian itu.
Dan itu cukup
bikin dia tenang.
—
Petra juga
sempat melirik sekilas ke arah sofa.
Hanin masih
di sana, aman, tidak terganggu, bahkan terlihat nyaman dengan kehadiran mereka
semua.
Dan anehnya…
Petra jadi
ikut tenang.
Tangannya
yang tadi cepat di PS sedikit melambat, tapi fokusnya tetap kuat.
“Woy Petra
jangan meleng!” teriak Reno.
“Diam.”
“NYAUR GUE
NIH ORANG.”
—
Hanin
menggeser posisi sedikit, lalu menggulir layar IG lagi.
Story, reels,
lalu berhenti sebentar di postingan random kue.
Sudut
bibirnya naik kecil.
Sederhana.
Tapi cukup buat bikin Damian yang tak sengaja melihatnya dari jauh tersenyum tipis juga.
Di ruangan
itu, semuanya sibuk dengan dunia masing-masing.
Tapi entah
kenapa…
Tetap terasa
seperti satu tempat yang sama.
Hanin yang
tadi masih tiduran di sofa akhirnya melirik jam di layar ponselnya.
22.00.
Ia duduk
pelan lalu menguap kecil, kemudian menoleh ke arah ruang tengah yang masih
ramai dengan teriakan PS.
“Damian.”
Suara Hanin
tidak keras, tapi cukup membuat Damian langsung menoleh.
“Hm?”
Hanin berdiri
santai, masih memegang ponselnya.
“Mau pada
nginep atau pulang?”
Seketika
suara PS mengecil.
Reno langsung
menoleh panik kecil.
“NGINEP?!”
“DI APART
HANIN?!”
Satu ruangan
langsung heboh lagi.
Petra melirik
sekilas ke Hanin, lalu ke Damian, tetap diam.
—
Damian
memutar badan sedikit ke arah semua orang.
“Gimana?
Kalian mau pulang atau nginep?”
Reno langsung
angkat tangan.
“NGINEP!”
“100%
NGINEP!”
“GUE GAK MAU
PULANG KE DUNIA NYATA.”
Satu geng
langsung setuju tanpa pikir panjang.
Geng Damian
pun lebih santai.
“Kalau boleh
ya nginep aja sih.”
“Lumayan.”
—
Damian lalu
menoleh ke Hanin, ekspresinya sedikit lebih serius tapi tetap tenang.
“Nin.”
“Hm?”
“Boleh mereka
nginep?”
Semua
langsung menunggu jawaban Hanin.
Karena
walaupun Damian yang nanya…
tetap saja
ini apartemen Hanin.
Hanin
menghela napas kecil, lalu melirik sekilas ke ruang tengah yang berantakan tapi
hidup.
Diam beberapa
detik…
lalu
mengangguk santai.
“Boleh.”
BOOM!!
Reno langsung
lompat kecil.
“YESSSSS.”
“GUE NGINEP
DI ISTANA 😭”
Petra hanya
menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Damian
sendiri terlihat lega.
“Thanks.”
Hanin hanya
menjawab santai.
“Jangan
berisik.”
“Siap.”
Satu ruangan
langsung jawab bareng:
“SIAP BOSS HANIN.”
Malam itu
akhirnya diputuskan.
Apartemen
Hanin bukan cuma jadi tempat nongkrong…
tapi berubah
jadi tempat nginep dadakan dua geng paling ribut satu sekolah.
—
Hanin yang
masih duduk santai di sofa akhirnya menoleh ke arah Damian yang baru selesai
mengecek kamar-kamar di apartemen.
“Damian.”
“Hm?”
Hanin berdiri
pelan, lalu menunjuk ke arah lorong kamar.
“Kamar kosong, kalau gak cukup, gelar kasur lipat di ruang tengah.”
Reno langsung
nyelutuk dari jauh.
“GUE SIH MAU
TIDUR DI SOFA AJA, SERASA HOTEL 😭”
Hanin
melanjutkan santai tanpa peduli keributan.
“Kalau butuh
baju ganti, di lemari ada.”
Seketika
beberapa kepala langsung menoleh.
“HAH?”
Damian hanya tersenyum.
Hanin
berjalan pelan ke salah satu lemari di dekat lorong kamar, lalu membukanya.
Dan benar
saja
Di dalamnya
sudah tersusun rapi beberapa pakaian baru, masih dalam plastik.
Kaos polos
berbagai warna.
Celana pendek.
Semua terlihat baru dan belum dipakai.
“Stock
jaga-jaga,” kata Hanin datar.
“Kalau kakak-kakak aku nginep gak bawa baju.”
Satu ruangan
langsung hening sebentar.
Lalu…
“INI BUKAN
APARTEMEN.”
“INI BASECAMP KELUARGA 😭”
Reno sampai
memegang kepala sendiri.
Petra yang
sedari tadi diam akhirnya melirik sekilas ke lemari itu.
“…Lo emang
selalu siap ya.”
Hanin
mengangkat bahu kecil.
“Biasa.”
Damian hanya
menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
“Pantes rumah
ini gak pernah chaos kalau kita nginep.”
Hanin
langsung menatapnya datar.
“Chaos tetap
ada. Kalian aja yang gak sadar.”
Satu geng
langsung protes bareng.
“HEH?!”
Dan malam
itu, apartemen Hanin resmi berubah jadi tempat nginep paling “siap tempur” yang
pernah ada, lengkap dengan kamar, kasur lipat, dan lemari darurat untuk seluruh
pasukan yang tiba-tiba jadi tamu tetap.
—
Setelah
suasana agak mulai tenang dan semua orang sudah sibuk milih kamar atau ngatur
tempat tidur di ruang tengah, Hanin berdiri pelan.
“Aku masuk
kamar dulu.”
Semua
langsung menoleh sekilas.
Reno masih
setengah rebahan di sofa.
“SIAP BOSS.”
Petra cuma
melirik sebentar, lalu kembali duduk santai.
Damian yang
lagi duduk di dekat meja langsung mengangguk kecil.
Hanin
berjalan ke arah lorong kamar sambil berhenti sebentar di tengah.
“Oh iya.”
Suara itu
bikin semua kembali diam.
Hanin
menunjuk pelan ke arah beberapa pintu kamar.
“Di tiap
kamar ada kamar mandi sendiri. Terus di luar juga ada dua kamar mandi
tambahan.”
Reno langsung
angkat tangan.
“GUE CATAT LOKASI STRATEGIS.”
“Lo diem aja
bisa gak sih,” sahut Petra datar.
Hanin lanjut
santai, tanpa menghiraukan keributan kecil itu.
“Jangan
rebutan.”
Lalu ia
menoleh ke Damian.
“Damian.”
“Hm?”
Hanin
menunjuk salah satu kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.
“Kamu mau
tidur di kamar aku, atau di kamar lain?”
Seketika…
SUNYI.
Bukan sunyi
biasa.
Ini sunyi
tipe “semua orang langsung berhenti bergerak”.
Reno sampai
hampir jatuh dari sofa.
“ANJIRR KAMAR
HANIN?!”
“ITU KAKAKNYA
TAPI KENAPA TERDENGAR BERAT 😭”
Petra
langsung menatap Damian, ekspresinya datar tapi jelas memperhatikan jawabannya.
Damian
sendiri hanya terdiam sebentar.
Bukan karena
canggung.
Tapi karena
ini Hanin yang nanya langsung didepan teman-temannya, santai, tanpa beban.
Cowok itu
lalu tersenyum tipis.
“Gue di kamar
lain aja.”
Hanin
mengangguk kecil.
“Oke.”
Selesai.
Se-simple
itu.
Tapi entah
kenapa…
Beberapa
orang di ruangan itu baru sadar...
kedekatan
Hanin dan Damian itu bukan sekadar kakak-adik biasa.
Tapi sudah
seperti sistem yang sangat natural, sangat aman, dan sangat saling percaya.
Hanin lalu
melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.
Sebelum pintu
tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh lagi.
“Jangan
ribut.”
Klik.
Pintu
tertutup.
Dan dalam
hitungan detik...
ruangan luar
langsung pecah lagi.
“GUE GAK BISA
HIDUP NORMAL DI SINI 😭”
Damian
sebenarnya sempat melirik kamar Hanin tadi.
Secara jujur,
dia paling nyaman kalau dekat Hanin, itu sudah kebiasaan dari kecil.
Tapi kondisi
sekarang beda.
Ada Petra.
Ada Trouble Boy.
Ada gengnya sendiri.
Dan kalau dia
terlalu “kelihatan” clingy sama Hanin…
besok satu
sekolah bisa bikin versi cerita yang lebih liar dari kenyataan.
Reno aja
sudah cukup bahaya kalau mulai ngomong.
Damian
menghela napas pelan, lalu menutup topik dengan santai.
“Gue kamar
lain aja.”
Hanin
mengangguk tanpa banyak reaksi.
“Oke.”
Selesai.
Natural
banget.
Tapi di
kepala Damian, justru itu yang bikin aman.
—
Beberapa
menit kemudian, setelah Hanin benar-benar masuk kamar dan pintu tertutup,
suasana ruang tengah kembali hidup.
Reno langsung
rebahan di sofa.
“Gue masih
shock dia nawarin kamar dia sendiri kayak nawarin snack.”
Damian melirik
datar.
“Dia emang gitu.”
Lalu Damian duduk
di kursi dekat meja, santai.
Tapi dalam
hati…
dia sudah
mulai mikir langkah kedua.
Kalau dia
sekamar sama Petra...
setidaknya
dia bisa kontrol situasi.
Terutama satu
orang :
Petra.
Cowok itu
kelihatan santai, tapi Damian tahu…
Petra punya
kebiasaan “jalan sendiri” kalau lagi kepikiran Hanin.
Dan itu
berbahaya kalau apartemen ini lagi full chaos.
—
Damian
menoleh ke Petra.
“Pet.”
“Hm?”
“Kita satu kamar.”
Satu ruangan
langsung hening sebentar.
“HAH?!” Reno
langsung duduk tegak.
“ANJIR KOK
MALAH KAMAR BERDUA?!”
Petra sendiri
mengernyit.
“…Kenapa
gue?”
Damian
santai.
“Biar gak ada
yang nyasar.”
“Nyasar
apaan?”
Damian hanya
melirik sekilas ke arah lorong kamar Hanin, lalu balik lagi.
“Lo ngerti.”
Petra diam
beberapa detik.
Lalu akhirnya
berdiri.
“…Oke.”
Reno langsung
menunjuk mereka berdua.
“INI KENAPA
SEMAKIN AJAIB MALAM INI 😭”
—
Malam itu
akhirnya terbagi rapi :
Hanin di
kamar sendiri.
Damian dan
Petra satu kamar (dengan alasan “strategis” versi Damian).
Dan geng
lainnya tersebar di kamar kosong atau ruang tengah.
Tapi di balik
semua itu…
Damian cuma
punya satu pikiran santai tapi serius :
jaga rumah
ini tetap aman…
dan pastikan
Petra gak tiba-tiba muncul di kamar Hanin tengah malam.
—
Apartemen
sudah benar-benar sunyi.
Lampu-lampu
utama diredupkan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lorong dan dapur yang
masih menyala tipis.
Di ruang
tengah, Trouble Boy dan geng Damian sudah tergeletak acak, ada yang tidur
di sofa, ada yang di kasur lipat, bahkan ada yang masih setengah posisi duduk
tapi sudah ketiduran.
Damian dan
Petra di kamar juga sudah tidak terdengar suara.
Hening.
Di dalam
kamar Hanin, jam menunjukkan lewat tengah malam.
Hanin
terbangun pelan.
Haus.
Gadis itu
duduk sebentar di tepi kasur, lalu berdiri tanpa suara.
Hoodie tipis masih dipakai, rambut sedikit berantakan, dan langkahnya pelan menuju dapur.
Begitu sampai
dapur, Hanin menyalakan lampu kecil di bawah kabinet.
Cahaya hangat
langsung menyapu ruangan.
Ia membuka
kulkas, mengambil botol air dingin, lalu menutupnya kembali pelan.
Tidak ada
suara.
Hanya bunyi
kecil air saat dituangkan ke gelas.
—
Namun saat
Hanin meneguk airnya…
Dari arah
lorong kamar, terdengar suara pintu kamar sedikit terbuka.
KREEK…
Hanin
berhenti sebentar.
Matanya
melirik ke arah sumber suara.
Langkah pelan
terdengar.
Seseorang
keluar dari kamar.
Dan beberapa
detik kemudian...
Damian muncul
dengan rambut sedikit acak-acakan, memakai kaos polos dan celana pendek.
Matanya masih
setengah mengantuk.
“…Nin?”
Hanin
menoleh.
“Kamu kenapa
bangun?”
Damian
berjalan pelan ke arah dapur, mengusap lehernya.
“Gue
kebangun.”
Hanin
mengangguk kecil lalu kembali minum.
Suasana
kembali hening beberapa detik.
—
Damian
bersandar di meja dapur, melirik adiknya.
“Kamu gak
boleh sendirian tengah malam gini.”
Hanin melirik
sekilas.
“Cuma minum.”
“Gue tau.”
Jawabannya
datar, tapi tetap jelas...
itu bentuk
kebiasaan protektif yang gak pernah hilang.
—
Beberapa
detik kemudian Damian menatap ke arah lorong lagi, memastikan semua masih
tidur.
Lalu pelan
berkata,
“Petra tidur?”
Hanin
mengangguk kecil.
“Harusnya.”
Damian
menghela napas pelan, karena petra tidak ada dikamar bersamanya.
“Bagus.”
Hanin
menatapnya sebentar.
“…Kamu
overthinking.”
Damian
langsung melirik.
“Gue realistis.”
Hanin tidak
membantah, hanya menutup botol airnya.
Lalu berjalan
kembali ke arah kamar.
—
Sebelum
masuk, Hanin berhenti sebentar.
“Damian.”
“Hm?”
“Jangan jaga
aku berlebihan.”
Damian diam.
Hanin lanjut
pelan tapi tenang.
“Aku gak
apa-apa.”
Lalu ia masuk
kamar dan menutup pintu perlahan.
Klik.
—
Damian
berdiri di dapur beberapa detik dalam sunyi.
Lalu hanya
menghela napas pelan.
“…Gue tau.”
Tapi tetap
aja...
dia tidak
bergerak langsung ke kamar.
Berdiri
sebentar di sana, memastikan rumah itu tetap aman.
Baru kemudian
ia kembali berjalan pelan ke kamar, di tengah malam yang sudah benar-benar
tenang.
Chapter 15
Sejak Hanin
kembali ke kamar dan pintu tertutup rapat, Damian masih berdiri cukup lama di
dapur.
Tangannya
memegang meja pelan, tapi pikirannya sudah tidak lagi di situ.
Justru jauh
ke belakang.
Ke satu
kejadian yang tidak pernah benar-benar hilang.
—
Waktu itu
Hanin masih lebih muda.
Dan semuanya
terjadi terlalu cepat.
Penculikan
itu bukan sekadar ancaman biasa.
Itu momen
yang mengubah cara keluarga mereka memperlakukan Hanin sampai sekarang.
Damian masih
ingat jelas...
bagaimana
rumah utama berubah jadi kacau dalam hitungan menit.
Bagaimana kakak-kakaknya panik.
Bagaimana semua koneksi keluarga bergerak cepat.
Dan yang paling
dia ingat…
Hanin
ditemukan dalam keadaan tidak baik, dan efeknya tidak pernah benar-benar hilang dari
keluarga mereka.
—
Sejak saat
itu, keputusan besar diambil.
Hanin tidak
lagi tinggal penuh di rumah utama.
Ia
“dipindahkan” ke tempat yang lebih aman.
Apartemen
ini.
Tertutup.
Terpantau.
Tenang.
Dan jauh dari sorotan langsung.
Bukan karena
Hanin lemah.
Justru
sebaliknya.
Karena Hanin
terlalu berharga untuk dibiarkan terlalu terbuka.
—
Damian
menghela napas pelan sambil menunduk sedikit.
“…”
Suara air di
gelas tadi masih terasa di telinganya.
Kebiasaan
sederhana Hanin, bangun tengah malam cuma buat minum...
selalu
membuat Damian otomatis waspada.
Bukan karena
Hanin tidak bisa menjaga diri.
Tapi karena trauma itu sudah terlalu dalam di kepalanya.
Ia berjalan
pelan ke arah lorong kamar, berhenti sebentar di depan pintu kamar Hanin.
Tidak
mengetuk.
Hanya berdiri
beberapa detik.
Lalu berbisik
pelan, hampir tidak terdengar.
“…Gue cuma
gak mau kejadian itu keulang lagi.”
Setelah itu
Damian berbalik.
Masuk ke kamarnya sendiri.
Di dalam
kamar, Petra sudah kembali dan ntah darimana tadi.
Atau
setidaknya terlihat tidur.
Tapi Damian
tahu...
di dunia
mereka sekarang, tidak ada yang bisa benar-benar tenang sepenuhnya.
Terutama
kalau menyangkut Hanin.
—
Pagi datang
lebih cepat di apartemen Hanin.
Jam masih
menunjukkan sekitar 05.00, tapi Hanin sudah bangun lebih dulu seperti biasa.
Langkahnya
pelan menuju dapur tanpa suara berlebihan, hoodie tipis masih menempel di
tubuhnya.
Rutinitasnya
tetap sama, tenang, rapi, tanpa banyak ekspresi.
Ia menyalakan
kompor, membuka kulkas, lalu mulai menyiapkan sarapan.
Hari ini
porsinya jauh lebih besar dari biasanya.
Roti
panggang.
Omelet.
Kopi.
Plus beberapa buah yang sudah dipotong rapi.
Karena
sekarang bukan cuma untuk dirinya.
Tapi untuk
dua geng sekaligus, total hampir dua belas orang yang menginap di apartemennya.
—
Aroma masakan
pelan-pelan memenuhi ruangan.
Dan satu per
satu mulai ada yang bangun.
Reno pertama
kali muncul dari ruang tengah sambil mengucek mata.
“…Gue mimpi
apa dapur bau enak.”
Begitu lihat
Hanin di dapur...
dia langsung
terdiam.
“…”
“Ini real
atau surga?”
Hanin melirik
sekilas tanpa menoleh penuh.
“Real.”
Reno langsung
jatuh terduduk di sofa lagi.
“Gue mau pindah sini.”
Tidak lama
kemudian Petra keluar dari kamar, masih dengan wajah setengah sadar.
Matanya
langsung menangkap Hanin di dapur.
“…Lo bangun
jam segini?”
“Biasanya.”
Petra
menghela napas kecil.
“Gak heran lo kayak robot.”
Hanin hanya
menaruh piring satu per satu di meja makan.
“Biar gak
telat.”
—
Damian
menyusul setelahnya, lebih rapi dibanding yang lain.
Begitu
melihat meja sudah penuh makanan, dia hanya mengangguk kecil.
“Lo masak
lagi sebanyak ini?”
Hanin minum
sedikit kopi.
“Biar cukup.”
Damian
tersenyum tipis.
“Masih aja
gak berubah.”
—
Satu per satu
anggota geng lain ikut bangun, dan suasana apartemen yang tadinya sunyi berubah
jadi ramai lagi.
“ANJIR INI
ENAK BANGET.”
“INI BUAT
KITA SEMUA?!”
“GUE MAU
PINDAH KE SINI SELAMANYA.”
Hanin hanya
duduk santai di kursi makan, memperhatikan mereka makan tanpa banyak komentar.
Di sela
keramaian itu, Damian melirik Hanin sebentar.
Melihat
adiknya yang duduk tenang di tengah semua orang yang berisik itu.
Dan seperti
biasa...
Hanin tetap
terlihat paling tenang di ruangan yang paling berisik.
Setelah
sarapan selesai dan suasana apartemen kembali ramai oleh obrolan serta suara
beres-beres, Hanin berdiri dari kursinya dengan tenang.
Ia merapikan
ujung bajunya sedikit, lalu melirik ke arah semua orang yang masih sibuk
sendiri-sendiri.
“Aku mandi
dulu.”
Tidak ada tambahan
penjelasan.
Seperti
biasa, singkat, jelas.
Reno yang
masih setengah kenyang langsung mengangkat tangan.
“SIAP BOSS
HANIN.”
Petra hanya
melirik sekilas, lalu kembali minum kopinya.
Damian
mengangguk kecil dari meja.
“Jangan
kelamaan.”
Hanin hanya
menjawab pelan.
“Enggak.”
Gadis itu
berjalan ke arah kamar, melewati lorong apartemen yang masih sedikit berantakan
oleh barang-barang semalam.
Begitu sampai
di kamar, ia menutup pintu pelan.
Klik.
Di luar,
suasana kembali hidup.
Reno langsung
rebahan lagi di sofa.
“Gue beneran
gak mau pulang sih hari ini.”
“Lo diem aja
di sini juga udah ganggu,” sahut Petra datar.
“EH?”
Damian hanya
tersenyum kecil sambil membereskan gelas di meja.
Namun matanya
sempat melirik ke arah lorong kamar Hanin sebentar.
Sebentar
saja.
Lalu kembali
fokus.
Di balik
pintu kamar, Hanin mulai menyiapkan pakaian ganti.
Semuanya
sudah rapi, seragam sekolah, handuk, dan perlengkapan sederhana.
Tidak ada
yang terburu-buru.
Tidak ada
yang berlebihan.
Hanya
rutinitas pagi seperti biasa.
Namun di luar
kamar itu…
hari sudah
kembali dimulai dengan cara yang jauh dari “biasa” bagi semua orang di
apartemen tersebut.
Suasana
apartemen Hanin pelan-pelan berubah dari berantakan jadi rapi lagi.
Sisa sarapan
sudah mulai dibereskan satu per satu tanpa perlu disuruh.
Reno yang
paling berisik tadi justru sekarang yang pertama kali angkat piring.
“Gue cuci
piring ya, biar gak dikutuk Hanin.”
“Lo emang
udah dikutuk dari lahir,” sahut Petra datar sambil merapikan bantal sofa.
Reno langsung
lempar tatapan.
“Anjir
pedes.”
Di sisi lain,
geng Damian juga ikut bergerak tanpa banyak drama.
Ada yang
nyapu ruang tengah.
Ada yang ngepel lantai dapur.
Ada yang merapikan meja dan kursi.
Tidak ada
yang benar-benar disuruh, tapi semua tahu aturan tidak tertulis di tempat ini:
kalau nginep
di apartemen Hanin, harus beresin sebelum pergi.
Damian
sendiri membantu mengecek area kecil, memastikan tidak ada yang tertinggal atau
berantakan.
“Jangan
ninggal sampah,” ucapnya santai.
“Siap ketua,”
jawab salah satu temannya.
Beberapa
menit kemudian, suasana apartemen sudah jauh lebih rapi.
Ruang TV
kembali bersih.
Dapur tidak lagi penuh gelas.
Sofa ditata ulang seperti semula.
Dan di tengah
semua itu, suasana tetap terasa santai, bukan seperti “kerja paksa”, tapi lebih
seperti kebiasaan yang otomatis terjadi.
Sementara
itu, Hanin masih di dalam kamar, bersiap mandi.
Di luar,
Damian berdiri di dekat meja makan sambil melipat lengan.
Petra
mendekat sambil mengikat ulang hoodie-nya.
“Gue mandi
terakhir aja,” kata Petra pelan.
Damian
melirik sekilas.
“Jangan lama.”
Petra
mendengus kecil.
“Lo kira gue Hanin apa.”
Damian tidak
menjawab, hanya tersenyum tipis.
Tak lama,
satu per satu mulai bergantian menuju kamar mandi.
Ada yang
membawa handuk.
Ada yang masih setengah mengantuk.
Ada yang masih ribut kecil di lorong.
Tapi semuanya
bergerak ke arah yang sama:
bersiap untuk
sekolah.
Dan di tengah
semua itu…
apartemen
Hanin kembali ke bentuk awalnya, rapi, tenang, seolah tidak pernah jadi markas
ribut dua geng besar semalaman.
Setelah semua
selesai mandi, ganti pakaian, dan merapikan diri, suasana apartemen Hanin
kembali rapi seperti semula.
Tidak ada
lagi piring di meja.
Tidak ada lagi kasur berantakan di ruang tengah.
Semuanya sudah kembali ke tempatnya.
Di dekat
pintu keluar, satu per satu sudah siap dengan seragam sekolah.
Reno yang
paling pertama berdiri langsung ngecek penampilan sendiri di kaca.
“Gue keliatan
kayak murid teladan gak?”
Petra melirik
sekilas.
“Kayak orang gak tidur.”
“BEDA SEDIKIT
AJA ANJIR.”
Damian
berdiri santai di dekat Hanin yang sudah siap lebih dulu, seragam rapi seperti
biasa.
Ia memastikan
semua sudah siap sebelum pergi.
“Udah semua?”
Satu per satu
mengangguk.
“Udah.”
“Siap.”
“Berangkat
aja.”
Hanin yang
berdiri di dekat pintu memegang tasnya, lalu melirik sebentar ke semua orang.
“Jangan
berantakan lagi.”
Reno langsung
mengangkat tangan.
“SIAP BOS HANIN.”
Petra hanya
menghela napas kecil.
“Lo bukan kapten kita.”
“DI SINI DIA
KAPTEN.”
Damian terkekeh pelan, lalu menekan lift utama apartemen.
“Berangkat.”
Satu per satu
mereka mulai keluar dari apartemen Hanin.
Rombongan
kecil itu kembali jadi perhatian tersendiri saat turun ke lobby, lalu menuju
kendaraan masing-masing.
Di depan
lift, Hanin berdiri paling tenang di antara semuanya.
Damian di
sampingnya.
Petra tidak jauh di belakang.
Dan geng lainnya berisik di sekitar.
Namun sebelum
benar-benar pergi…
tidak ada
yang sadar bahwa rutinitas sederhana itu sudah berubah jadi sesuatu yang baru
bagi mereka semua :
kebiasaan
pulang-pergi sekolah dari satu tempat yang sama.
Apartemen
Hanin.
Rombongan
menuju sekolah berjalan seperti biasa pagi itu.
Mobil Damian
di depan, Hanin di kursi penumpang, diikuti jeep Petra, lalu beberapa mobil dan motor geng Damian juga Reno yang masih santai sambil nyanyi-nyanyi gak jelas didalam mobil Petra.
Jalanan masih
cukup lengang.
Suasana juga
tenang.
Sampai...
SKRRRT.
Dua mobil
hitam tiba-tiba memotong laju di depan mobil Damian.
Ban berhenti
mendadak tepat di tengah jalan.
Damian
langsung menginjak rem.
“…”
Hanin yang
duduk di samping hanya menoleh pelan ke depan.
Tidak kaget
berlebihan.
Tapi matanya
langsung lebih fokus.
Di belakang,
jeep Petra hampir ikut berhenti mendadak.
Reno dari dalam mobil Petra langsung teriak.
“WOY APAAN
ITU?!”
Beberapa
motor ikut melambat, kebingungan.
Suasana yang
tadi santai langsung berubah tegang.
Di mobil, Damian menghela napas pelan.
Tangannya
tetap di setir, tapi tatapannya mengeras sedikit.
“…Bukan orang
sekolah.”
Hanin melirik
sekilas.
“Tau.”
Damian
menatap ke depan lebih lama.
Dua mobil itu
tidak bergerak.
Kaca gelap.
Tidak
terlihat siapa di dalamnya.
Di belakang,
Petra sudah turun dari jeepnya setengah badan.
“Damian.”
“Gue lihat.”
Damian belum
keluar mobil, tapi aura santainya sudah berubah.
Lebih dingin.
Lebih
waspada.
Beberapa
detik kemudian…
pintu mobil
di depan akhirnya terbuka perlahan.
Dan satu
orang turun.
Diikuti satu
lagi dari mobil sebelah.
Langkah
mereka pelan, teratur.
Bukan orang
sembarangan.
Hanin
akhirnya bersuara pelan di dalam mobil.
“…Bukan anak
sekolah kita.”
Damian
mengangguk kecil.
“Gue tau.”
Tangannya
sedikit mengencang di setir.
Bukan panik.
Tapi refleks.
Di belakang,
geng Damian dan geng Petra sudah mulai turun dari kendaraan masing-masing.
Reno langsung
berbisik.
“Ini siapa
lagi anjir…”
Petra tidak
menjawab.
Matanya sudah fokus ke depan.
Damian
akhirnya membuka pintu mobilnya perlahan.
Dan saat
kakinya menginjak aspal...
suasana di
jalan itu langsung berubah jadi jauh lebih berat.
Karena semua
orang di situ sekarang sadar:
ini bukan
gangguan biasa.
Dan target
mereka...
jelas bukan
sembarangan.
—
Damian masih
setengah keluar mobil saat suasana di depan benar-benar berubah tegang.
Dua mobil
hitam itu kini sudah berhenti total, menutup jalan.
Beberapa
orang turun.
Gerakannya
rapi, terlatih.
Bukan preman
jalanan.
Ini orang
yang memang tahu apa yang mereka lakukan.
Hanin menatap
ke depan dengan tenang, tapi sorot matanya sedikit mengeras.
Damian di
sampingnya langsung paham satu hal...
ini bukan
insiden biasa.
Ini sengaja.
Sebelum
benar-benar membuka pintu mobil, Damian diam sepersekian detik.
Tangannya
bergerak pelan ke ponsel.
Tanpa banyak
gerakan mencolok, ia mengirim satu pesan cepat.
"SOS!"
Singkat.
Ke kontak
khusus di rumah utama.
Ke
kakak-kakaknya.
Ke tim keamanan keluarga.
Tanpa kata
tambahan.
Karena mereka
semua sudah tahu arti pesan itu.
Di belakang,
Petra sudah turun dari jeep.
“Damian.”
“Aku tau.”
Jawabannya
cepat, dingin.
Reno dan geng
lain mulai turun juga, tapi kali ini tidak ada candaan sama sekali.
Hanin tetap
duduk di dalam mobil.
Tenang.
Terlalu
tenang.
Matanya hanya
mengikuti gerakan orang-orang di depan.
Damian
melirik sekilas ke arah adiknya.
“Jangan
keluar dulu.”
Hanin tidak
menjawab, hanya mengangguk kecil.
Salah satu dari
orang di depan akhirnya melangkah maju.
Suara langkah
sepatu mereka terdengar jelas di jalan yang mulai sepi.
Dan saat itu
Damian sudah turun sepenuhnya dari mobil.
Tatapannya
langsung bertemu dengan orang di depan.
Hening
beberapa detik.
Lalu Damian
berbicara pelan, tapi jelas.
“…Rival lama
kakek.”
Hanin menoleh
sedikit dari dalam mobil.
“Dari jalur
itu?”
Damian
mengangguk kecil.
“Ya.”
Petra yang
mendengar itu langsung mengernyit.
“Masalah
lama?”
Damian tidak
menjawab langsung.
Matanya tetap
fokus ke depan.
Karena dia
tahu...
kalau mereka
sampai turun langsung ke sini…
itu artinya
ini bukan sekadar peringatan.
Dari arah
belakang, suara motor dan mobil lain mulai berhenti berurutan.
Dan di
kejauhan, beberapa kendaraan lain terlihat mendekat cepat.
Damian
menarik napas pelan.
Pesan SOS-nya
sudah terkirim.
Sekarang
tinggal menunggu
berapa cepat
keluarga mereka sampai di lokasi.
Di dalam
mobil, Hanin akhirnya membuka sabuk pengaman sedikit.
Damian
langsung melirik tajam.
“Gue bilang
jangan keluar.”
Hanin
menatapnya datar.
“…Aku gak
keluar.”
Tapi
tangannya sudah siap.
Dan itu cukup
untuk membuat Damian paham...
Hanin tidak
akan diam kalau situasi ini makin maju.
Chapter 16
Satu orang
dari kelompok itu akhirnya bergerak lebih dulu.
Cepat.
Langsung
menargetkan Damian tanpa banyak basa-basi.
Damian sempat
menghela napas kecil, bukan kaget, tapi seperti sudah mengantisipasi.
Begitu
serangan masuk…
Tubuhnya
langsung bergerak.
Langkah kecil
ke samping, tangkisan cepat, lalu satu gerakan balik yang rapi dan terkontrol.
Tidak
berlebihan.
Tapi jelas
terlatih.
Orang itu
terpental mundur beberapa langkah.
Satu sisi
geng Petra dan geng Damian yang melihat langsung membeku.
“…Anjir,”
bisik Reno pelan.
“Ketua kita bisa gitu?”
Namun lawan
tidak berhenti.
Dua orang
lain ikut maju bersamaan.
Situasi mulai
tidak seimbang.
Damian masih
bertahan, tapi jelas ini bukan pertarungan satu lawan satu lagi.
Dan saat
salah satu serangan hampir masuk dari sisi blind spot
BRUK!
Damian
berhasil menahan, tapi posisinya sedikit terdorong.
Di dalam
mobil, Hanin yang dari tadi diam akhirnya membuka pintu.
Klik.
“Han...” Damian
sempat menoleh cepat.
Tapi Hanin
sudah turun.
Tatapannya
langsung tajam ke arah situasi.
Bukan panik.
Lebih ke
keputusan cepat.
“Berhenti.”
Suara Hanin
tidak keras.
Tapi langsung
membuat sebagian orang di sekitar refleks berhenti sejenak.
Hanin
melangkah maju sedikit, berdiri di antara Damian dan gengnya.
Lalu tanpa
menoleh, ia berkata pelan tapi tegas :
“Petra, dan kalian semua... Jangan ikut campur.”
Petra
langsung mengernyit.
“Hanin...”
Hanin
memotong cepat, kali ini lebih dingin.
“Kalau kalian
ikut campur, nyawa taruhannya.”
Sunyi.
Bukan karena
dramatis.
Tapi karena
semua orang tahu...
Hanin tidak
pernah bicara sembarangan soal hal seperti ini.
Reno langsung
refleks melihat Petra.
“Ketua…”
Petra
mengepalkan tangan, tapi tidak bergerak.
Matanya tetap ke depan.
Damian
melirik ke arah Hanin.
“Balik ke
mobil.”
Hanin tidak
menoleh.
“…Aku gak
bisa biarin kamu sendiri.”
Situasi makin
menegang.
Orang-orang
di depan juga berhenti sejenak, seperti menilai ulang.
Karena
sekarang…
bukan cuma
Damian yang jadi target.
Tapi Hanin
juga sudah turun.
Dan itu
mengubah semuanya.
Damian
menarik napas pelan.
Lalu
langkahnya sedikit maju ke depan, tetap menjaga jarak antara Hanin dan lawan.
Suaranya
rendah, hanya untuk Hanin.
“…Lo harus
tetap di belakang gue.”
Hanin
menatapnya.
Dan untuk
pertama kalinya di situasi itu...
dia tidak
langsung membantah.
Tapi juga
tidak mundur.
Dan di tengah
jalan yang mulai sepi itu…
ketegangan di
antara dua pihak benar-benar mencapai titik paling tinggi.
Damian dan
Hanin akhirnya bergerak bersamaan.
Tidak lagi
sekadar bertahan.
Kali ini
keduanya benar-benar masuk ke mode serius.
Orang-orang
di depan mulai maju lagi, tapi kali ini ritmenya berbeda.
Lebih rapat.
Lebih terorganisir.
Damian
bergerak duluan, menahan satu serangan dan langsung membalas dengan teknik yang
lebih cepat dari sebelumnya.
Gerakannya
bersih, terukur, tidak boros tenaga.
Satu orang
berhasil ditahan, lalu didorong mundur.
Namun
langsung disusul dua lainnya.
Situasi mulai
menekan lagi.
Di sisi lain,
Hanin akhirnya ikut masuk.
Gerakannya
tidak kalah cepat.
Justru lebih
ringan.
Langkahnya
kecil tapi tepat, menghindari satu serangan lalu langsung memutus momentum
lawan dengan teknik yang membuat mereka kehilangan keseimbangan.
Dalam
beberapa detik saja...
dua orang
sudah terdorong mundur tanpa Hanin terlihat “menghajar” berlebihan.
Tapi efeknya
jelas.
Petra yang
berdiri beberapa meter dari situ mengepalkan tangan.
Reno di
belakangnya sudah tidak bisa diam.
“GUE MAU
BANTU, TAPI KEPALA GUE KETAHAN PESAN HANIN 😭”
“Diam,” Petra
berkata pelan, tapi tegang.
Mereka semua
bisa lihat satu hal :
ini bukan
pertarungan biasa.
Ini level
yang berbeda.
Damian dan
Hanin saling bergerak tanpa banyak komunikasi.
Tapi setiap
posisi mereka saling menutup celah.
Damian
menahan depan.
Hanin menutup
sisi.
Seolah sudah terbiasa bekerja dalam satu ritme.
Salah satu
lawan mencoba menerobos ke arah Hanin.
Damian
langsung bergerak cepat menutup.
“Jangan
sentuh dia.”
Nada suaranya
turun.
Lebih dingin
dari sebelumnya.
Hanin melirik
sekilas ke Damian, lalu kembali fokus.
“…Fokus.”
Singkat.
Tapi cukup.
Di belakang,
geng Petra dan geng Damian hanya bisa menahan diri.
Karena satu
kalimat Hanin masih tertanam jelas :
“Kalau kalian
ikut campur, nyawa taruhannya.”
Dan mereka
tahu...
ini bukan
ancaman kosong.
Situasi makin
intens.
Lawan mulai
mundur sedikit, bukan karena kalah, tapi karena menilai ulang situasi.
Dua orang
ini, Damian dan Hanin...
tidak seperti
target biasa.
Damian
berdiri sedikit di depan Hanin, napasnya sedikit lebih berat.
Hanin juga
berhenti sejenak, matanya tetap waspada.
Jalanan itu sunyi.
Hanya suara
langkah dan napas yang tersisa.
Dan di tengah
ketegangan itu…
mereka semua
sadar satu hal :
ini baru
awal.
Dan pihak
lawan belum mengeluarkan semuanya.
Situasi di
jalan itu sudah berubah jadi benar-benar tidak terkendali.
Dari dua
mobil hitam tadi, total sekitar dua belas orang kini sudah turun dan mengepung
area.
Damian dan
Hanin masih bergerak, tapi jelas...
ini bukan
lagi pertarungan yang seimbang.
Damian
menahan satu serangan, lalu bergeser cepat untuk menutup celah di samping
Hanin.
Hanin sendiri
menghindar dengan cepat, tapi napasnya mulai lebih teratur dan fokusnya makin
tajam.
Mereka masih
bisa mengontrol situasi…
tapi mulai
kewalahan.
“Gue bilang
jangan remehin mereka…” gumam Damian pelan.
Hanin tidak
menjawab, hanya mengatur posisi.
“…Tetap di
samping aku.” Ucap Damian
“Udah.”
Singkat.
Tapi ritmenya
masih sama, mereka saling back up.
Di belakang,
geng Petra dan geng Damian hanya bisa berdiri di pinggir jalan.
Reno sudah
hampir tidak bisa diam.
“Ini gila
sih…”
Petra
mengatupkan rahangnya.
Tapi dia
tetap di tempat.
Karena pesan
Hanin masih berlaku.
Dan tepat di
saat tekanan makin berat…
dari kejauhan
terdengar suara mesin mobil yang semakin dekat.
Banyak.
Cepat.
Satu per satu
SUV hitam muncul dari ujung jalan.
Diikuti mobil
lain dengan pelat yang sama.
Dan beberapa
detik kemudian...
suara ban
berhenti serentak memenuhi area.
Pintu mobil
terbuka.
Orang-orang
turun dengan cepat, terorganisir.
Aura mereka
langsung berbeda.
Lebih
terlatih.
Lebih dingin.
Lebih “siap”.
Dan di antara
mereka...
terlihat
sosok yang langsung dikenali oleh semua pihak di lokasi.
Kakak-kakak
Hanin.
Prince, Leon,
Bagas dan beberapa tim keamanan keluarga.
Seketika
suasana berubah total.
Orang-orang
yang tadi mengepung langsung mulai mundur beberapa langkah.
Bukan panik.
Tapi sadar...
backup yang
datang bukan main-main.
Damian
menurunkan sedikit posisinya, napasnya masih stabil tapi fokusnya berubah.
Hanin juga
melirik ke arah kedatangan mereka.
“…Akhirnya,”
gumamnya pelan.
Di pinggir
jalan, geng Petra dan geng Damian langsung refleks mundur lebih jauh.
Reno sampai
berbisik,
“Gue baru
pertama kali ngerasa pengen jadi tembok.”
Petra tidak
menjawab.
Tapi matanya
jelas mengikuti situasi dengan serius.
Prince
melangkah lebih dulu ke depan.
Tatapannya
langsung menyapu area.
“Siapa yang
mulai?”
Suara itu
tenang.
Tapi cukup bikin tekanan di udara naik lagi.
Dan di saat
itu...
posisi di
jalan berubah sepenuhnya.
Bukan lagi
Damian dan Hanin yang “terisolasi”.
Tapi dua belas orang itu yang sekarang mulai terhimpit.
Hanin
akhirnya melangkah sedikit ke samping Damian.
“Udah.”
Damian
menoleh.
“…Udah aman sekarang.”
Dan untuk
pertama kalinya sejak awal kejadian...
ritme
pertempuran itu mulai berhenti bergerak maju.
Prince
melangkah ke depan tanpa tergesa.
Langkahnya
stabil, tapi setiap jejak kakinya di aspal terasa berat, bukan karena panik,
tapi karena tekanan situasi yang sudah berubah total.
Di
belakangnya, Leon dan Bagas berdiri dengan posisi siap, bersama tim keamanan
keluarga yang sudah mengepung area secara tak terlihat tapi rapat.
Prince
menatap lurus ke arah dua belas orang di depan.
Tidak marah.
Tidak
berteriak.
Tapi justru
itu yang paling menekan.
“Cukup.”
Suara Prince
terdengar tenang, tapi tajam.
Beberapa dari
lawan yang tadi masih berdiri agresif mulai saling pandang.
Prince
melangkah satu langkah lagi.
Matanya
menyapu situasi Damian sedikit di depan Hanin, Hanin sendiri masih berdiri
tenang tapi waspada.
Lalu
pandangannya berhenti di Hanin sesaat.
“…Hanin.”
Nada suaranya
lebih rendah sekarang.
Bukan
perintah.
Lebih seperti
memastikan.
Hanin hanya
mengangguk kecil.
“Aku gak
apa-apa.”
Prince
menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke depan.
Kali ini
sorot matanya berubah dingin.
“Ini jalan
umum. Bukan tempat kalian bikin kekacauan.”
Salah satu
dari pihak lawan maju sedikit, tapi langsung berhenti saat dua orang dari tim
Prince ikut bergerak setengah langkah maju.
Tekanannya langsung terasa.
Leon di
belakang berbisik pelan ke salah satu tim.
“Amankan
perimeter. Jangan ada yang lolos.”
Bagas hanya
diam, tapi posisinya jelas menutup sisi lain jalan.
Prince
akhirnya berhenti tepat di garis depan, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk
membuat semua orang fokus padanya.
“Terakhir gue
bilang baik-baik.”
Hening.
“Siapa yang
nyentuh keluarga gue di sini…”
Ia berhenti
sebentar.
“…akan
tanggung akibatnya.”
Nada suaranya
tetap tenang.
Tapi kali ini
tidak ada ruang untuk salah paham.
Beberapa dari
dua belas orang itu mulai mundur perlahan.
Bukan karena
kalah bertarung.
Tapi karena
sadar...
mereka bukan
lagi melawan dua orang.
Mereka
berhadapan dengan satu sistem penuh.
Damian
akhirnya sedikit menurunkan bahunya, napasnya mulai stabil.
Hanin tetap
di sampingnya, tapi ekspresinya sudah jauh lebih tenang sekarang.
Petra dan
gengnya di pinggir jalan hanya bisa diam melihat perubahan situasi yang begitu
cepat.
Reno berbisik
pelan.
“…Ini baru
keluarga?”
Petra tidak
menjawab.
Tapi matanya
tidak lepas dari Hanin.
Prince
melirik sekali lagi ke arah lawan yang tersisa.
“Pergi.”
Singkat.
Tegas.
Dan untuk
pertama kalinya sejak insiden itu dimulai...
tidak ada
yang berani maju lagi.
Setelah
tekanan di jalan benar-benar mereda, dua mobil hitam yang tadi menghadang
akhirnya perlahan mundur.
Tidak ada
lagi gerakan agresif.
Tidak ada
lagi yang mencoba bertahan.
Lalu dalam
beberapa detik, mereka pergi meninggalkan lokasi.
Sunyi.
Hanya suara
mesin mobil yang menjauh.
Prince
berdiri di tengah jalan, memastikan semuanya benar-benar aman sebelum akhirnya
menoleh ke arah Hanin dan Damian.
Sorot matanya
masih tegas, tapi sudah lebih stabil.
“Hanin.
Damian.”
Keduanya
menoleh.
“Pulang dulu
ke rumah utama.”
Damian
mengernyit kecil.
“Rapat darurat?”
Prince
mengangguk singkat.
“Iya.”
Leon dan
Bagas sudah mulai mengatur tim untuk memastikan area bersih.
Sementara
Prince melangkah sedikit ke depan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Petra,
Reno, dan seluruh geng yang masih berdiri di pinggir jalan.
Nada suaranya
berubah lebih formal.
“Semua yang
ada di sini.”
Hening.
“Gue minta
ini gak keluar dari lingkaran kalian.”
Reno langsung
refleks menelan ludah.
“…Siap.”
Petra
mengangguk pelan tanpa banyak bicara.
Prince
melanjutkan dengan nada tenang tapi jelas :
“Ini bukan
urusan sekolah, bukan urusan kalian, lebih baik kalian pulang sekarang.”
Tidak
terdengar mengusir.
Tapi sangat
tegas.
Dan semua
orang paham maksudnya.
Damian
melirik ke arah Petra dan gengnya sebentar.
Lalu menghela
napas pelan.
“Pulang aja.”
Petra menatap
Damian beberapa detik.
“…Lo aman?”
Damian
mengangguk kecil.
“Udah.”
Singkat.
Hanin berdiri
di samping Damian, lalu menatap semua orang sebentar.
“Jangan
banyak mikir.”
Kalimatnya
sederhana.
Tapi cukup
untuk membuat suasana sedikit lebih tenang.
Satu per satu
kendaraan mulai bergerak lagi.
Petra masuk
ke jeepnya.
Reno dan
gengnya naik motor masing-masing.
Geng Damian
juga mulai bergerak pulang sesuai instruksi.
Tidak ada
yang banyak bicara.
Beberapa
menit kemudian, jalan itu kembali kosong.
Tinggal SUV
keluarga Hanin dan Damian yang masih standby.
Prince
menoleh ke Hanin dan Damian.
“Masuk mobil.
Kita pulang sekarang.”
Damian
mengangguk.
Hanin hanya
menjawab pelan.
“Oke.”
Dan tanpa
banyak kata lagi...
mereka berdua
kembali ke mobil, menuju rumah utama untuk rapat darurat yang sudah menunggu.
yang memperhatikan dari belakang.
Damian.
Cowok itu berjalan santai bersama geng cowok kelas 3-nya sambil memegang kopi dingin.
Tatapannya sempat melihat Claudia yang mengikuti Hanin dan Petra cukup lama.
Lalu Damian melirik salah satu temannya kecil.
“Kayaknya bakal rame.”
Temannya langsung menoleh penasaran.
“Hah?”
Damian hanya tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai di belakang mereka semua.
Namun matanya tetap awas memperhatikan situasi.
—
Kantin sekolah siang itu kembali penuh.
Suara obrolan bercampur dengan keributan siswa yang masih diam-diam memperhatikan Petra dan Hanin duduk satu meja bersama.

Bahkan beberapa anak sampai sengaja membeli makanan lebih lama hanya untuk melihat mereka.
Sementara Hanin terlihat santai seperti biasa.
Sedangkan Petra…
Meski terlihat tenang, sebenarnya cukup menikmati suasana duduk berdua dengan Hanin seperti ini.
—
Namun beberapa meja dari sana…
Claudia dan gengnya juga duduk sambil terus memperhatikan ke arah mereka.
Tatapan Claudia sesekali jatuh pada Petra.
Dan itu tidak lolos dari pengamatan Damian.
Cowok itu yang tadi masuk kantin bersama geng kelas 3 akhirnya berhenti berjalan.
Tatapannya lurus ke arah meja Claudia.
Lalu tanpa banyak bicara…
Damian melangkah mendekat.
Teman-teman Claudia langsung saling pandang bingung saat Damian tiba-tiba berdiri di dekat meja mereka.
Karena aura cowok itu terlalu tenang.
Tapi justru terasa menekan.
“Damian?” ujar salah satu dari mereka pelan.
Damian tersenyum tipis sopan.
Namun matanya tetap dingin.
Lalu ia sedikit membungkuk mendekat ke arah Claudia dan berbisik pelan...
Cukup pelan supaya hanya meja itu yang mendengar.
“Gak usah macem-macem sama adek gue.”
Nada suaranya santai.
Sangat santai.
Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding.
Karena tidak terdengar seperti ancaman kosong.
Claudia langsung diam.
Tatapannya sedikit membeku menatap Damian.
Sementara teman-temannya juga ikut terdiam karena aura Damian berubah sangat berbeda dari biasanya.
Tidak lagi ramah seperti senior populer sekolah.
Melainkan…
Seseorang yang benar-benar protectif.
—
Di sisi lain kantin…
Hanin memperhatikan semua itu dari jauh.
Gadis itu langsung tahu.
Damian sedang masuk mode kakak overprotective.
Petra pun ikut memperhatikan Damian dengan sedikit bingung.
“Kakak lo serem juga ya.”
Hanin meminum airnya santai.
“Biasanya enggak.”
“Biasanya?”
“Kalau nyangkut aku, beda cerita.” Dengan santai Hanin sambil mengikat rambutnya setengah dan merapihkan dasinya.
Petra langsung diam beberapa detik.
Entah kenapa kalimat itu membuatnya sadar...
Seberapa besar keluarga Hanin menjaga gadis itu.
—
Tak lama kemudian Damian berjalan meninggalkan meja Claudia.
Ekspresinya langsung kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Cowok itu lalu menghampiri meja Hanin dan Petra sambil menarik kursi kosong.
“Ganggu gak?”
Petra menggeleng kecil.
“Duduk aja.”
Damian duduk santai di samping Hanin lalu menatap adiknya sebentar memastikan semuanya aman.
Dan Petra yang melihat itu akhirnya sadar satu hal :
Damian mungkin ramah.
Namun kalau urusannya Hanin…
Cowok itu bisa jadi sangat mengintimidasi.
—
Damian baru saja duduk santai di samping Hanin sambil meminum kopi dinginnya.
Aura dingin yang tadi sempat muncul di meja Claudia perlahan menghilang begitu saja.
Sekarang ekspresinya kembali santai seperti biasa.
Namun Hanin yang sedari tadi memperhatikan jelas tahu kakaknya baru melakukan sesuatu.
Gadis itu menyipitkan mata kecil.
“Kamu ngapain di meja sana?”
Damian langsung menoleh polos.
“Meja mana?”
Hanin menatap datar.
“Damian.”
Petra yang duduk di depan mereka langsung menahan senyum kecil karena tahu Damian ketahuan.
Sementara beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan lagi.
Karena kombinasi Hanin dan Damian memang selalu menarik perhatian.
Damian akhirnya terkekeh pelan sambil bersandar santai.
“Cuma ngobrol.”
“Ngobrol apa.”
“Biasa.”
Hanin langsung tahu itu bohong.
Tatapannya makin tajam sedikit.
“Kamu ngancem orang lagi?”
“Enggak lah.”
Petra hampir tersedak minumnya sendiri mendengar nada Damian yang terlalu santai.
Karena jelas-jelas cowok itu tadi mengintimidasi satu meja hanya dengan satu kalimat.
—
Damian akhirnya menghela napas kecil lalu menatap Hanin.
“Aku cuma gak suka ada yang ngeliatin kamu aneh-aneh.”
Nada suaranya tetap ringan.
Namun jelas terdengar protectif.
Hanin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil pasrah.
“Kebiasaan.”
Damian tersenyum kecil.
“Iya.”
Petra yang melihat interaksi kakak-adik itu tiba-tiba merasa lucu sendiri.
Karena Hanin yang dikenal dingin ternyata cukup berbeda saat bersama keluarganya.
Jauh lebih lembut.
Lebih santai.
Dan Damian…
Benar-benar memperlakukan Hanin seperti sesuatu yang harus dijaga sepenuhnya.
—
Tak lama kemudian Reno dan Trouble Boy datang membawa makanan mereka.
Namun baru beberapa langkah mendekat...
Reno langsung berbisik pelan ke Petra.
“Ketua.”
“Hm.”
“Gue takut sama kakaknya Hanin.”
Petra melirik Damian yang sedang ngobrol santai dengan Hanin.
Lalu menjawab pendek,
“…Gue juga dikit.”
—
Reno dan anak-anak Trouble Boy awalnya masih berdiri ragu sambil membawa nampan makanan mereka.
Karena meski Damian terlihat santai sekarang…
Mereka masih ingat aura mengintimidasi beberapa menit lalu di meja Claudia.
Dan jujur saja...
itu cukup bikin merinding.
Petra yang melihat gengnya bengong langsung mengernyit.
“Ngapain berdiri.”
“Takut salah duduk,” bisik Reno.
Petra hampir ketawa sendiri.
Namun sebelum mereka sempat memutuskan...
Damian justru menoleh ke arah mereka lebih dulu.
Cowok itu menyandarkan tubuh santai lalu mengangkat dagunya kecil ke kursi kosong di sekitar meja.
“Duduk aja.”
Satu geng langsung membeku.
“Hah?”
Damian terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.
“Masa gue seserem itu.”
Reno refleks menjawab jujur,
“Iya dikit kak.”
Petra langsung menendang kaki Reno pelan di bawah meja.
Namun justru Damian tertawa kecil.
“Parah.”
Suasana yang tadi sedikit tegang akhirnya mencair.
Dan beberapa detik kemudian…
Trouble Boy benar-benar duduk gabung di meja Hanin.
Sontak satu kantin kembali heboh.
“ANJIR.”
“FULL TEAM.”
“PETRA + HANIN + DAMIAN + TROUBLE BOY 😭”
Beberapa siswa bahkan mulai merekam diam-diam karena pemandangan itu terasa terlalu langka.
Karena biasanya Trouble Boy identik dengan keributan.
Namun sekarang mereka malah duduk santai satu meja bersama Hanin.
Dan lebih aneh lagi...
Damian terlihat cukup nyambung dengan mereka.
—
Reno akhirnya mulai berani ngobrol.
“Kak Damian ternyata asik juga.”
Damian mengangguk kecil sambil minum.
“Kirain?”
“Kirain bakal dibunuh.”
“Mulut lo.” Sahut Damian.
Satu meja langsung ketawa.
Bahkan Hanin sampai sedikit menggeleng kecil melihat tingkah mereka.
Dan Petra…
Diam-diam memperhatikan Hanin yang terlihat jauh lebih nyaman sekarang.
Sesekali ikut tersenyum tipis.
Sesekali menimpali obrolan.
Suasana meja mereka terasa surprisingly hangat.
—
Namun di sisi lain kantin…
Claudia memperhatikan semuanya dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia merasa benar-benar berada di luar dunia Petra sekarang.
—
Sejak kejadian Hanin pingsan di UKS hari itu…
Ada banyak hal yang perlahan berubah.
Salah satunya adalah hubungan Damian dengan Petra dan Trouble Boy.
Awalnya Damian memang cukup menjaga jarak.
Namun karena Petra sudah mengetahui rahasia tentang kondisi Hanin...
dan memilih menjaga itu baik-baik.
Damian mulai percaya pada Petra.
Setidaknya…
lebih dibanding orang lain.
—
Dan anehnya…
Petra juga berubah cukup banyak sejak dekat dengan Hanin.
Cowok itu memang masih sama:
masih suka bikin onar,
masih brutal,
masih hobi balapan dan berantem.
Namun sekarang ada satu hal baru :
Ia jadi lebih sering menghilang dari tongkrongan hanya untuk chat Hanin.
Dan itu selalu jadi bahan bully satu geng.
—
Lama-lama hubungan dua geng itu juga makin dekat.
Geng Damian yang isinya anak-anak kelas 3 terkenal dan cukup disegani…
mulai sering nongkrong bareng Trouble Boy.
Kadang di cafe.
Kadang di rooftop rumah Petra.
Awalnya suasana cukup canggung.
Karena aura mereka sama-sama kuat.
Namun lama-lama malah nyambung.
Reno bahkan jadi cukup dekat dengan beberapa teman Damian.
Sementara Damian sendiri surprisingly cocok ngobrol dengan Petra.
Meski sering berakhir saling roasting.
—
Malam itu misalnya.
Mereka semua sedang nongkrong santai di rooftop rumah Petra.
Lampu kota terlihat indah dari atas.
Musik diputar pelan.
Makanan dan minuman berserakan di meja.
Hanin duduk santai di kursi sofa outdoor sambil memakai hoodie oversized hitam.
Sementara Petra duduk tidak jauh darinya.
Dan seperti biasa…
Mata Petra otomatis sering melihat Hanin.
Damian yang sadar itu akhirnya terkekeh kecil.
“Petra.”
“Hm.”
“Lo tuh halus dikit kalau liatin ade gue.”
Satu rooftop langsung pecah ketawa brutal.
Petra langsung tersedak minumnya sendiri.
“Apaan sih.”
Reno langsung menunjuk Petra.
“NAH KAN KETAHUAN.”
Hanin sendiri hanya melirik kecil ke arah Petra sebelum kembali santai meminum sodanya.
Namun sudut bibirnya terlihat sedikit naik.
—
Damian akhirnya bersandar santai sambil melihat Petra.
Dan untuk pertama kalinya…
Cowok itu benar-benar merasa tenang membiarkan Petra ada dekat Hanin.
Karena di balik semua sifat barbar Petra…
Damian tahu satu hal pasti :
Petra benar-benar menjaga Hanin dengan tulus.
—
Malam di rooftop rumah Petra masih ramai.
Angin malam berhembus pelan ditemani suara musik santai dan obrolan dua geng yang sekarang mulai akrab satu sama lain.
Reno dan beberapa anak lain masih sibuk bercanda.
Sementara Damian duduk santai sambil sesekali memperhatikan Hanin.
Dan saat melihat jam di ponselnya...
Damian langsung mengernyit kecil.
Baru jam 8 malam.
Namun bagi Damian…
Itu sudah cukup malam untuk Hanin berada di luar terlalu lama.
Apalagi kondisi Hanin akhir-akhir ini masih belum benar-benar stabil.
Cowok itu akhirnya bersandar sambil berkata santai,
“Pindah nongkrong aja yuk.”
Reno langsung menoleh.
“Ke mana?”
Damian menjawab ringan seolah bukan hal besar.
“Apart Hanin.”
SUNYI.
Satu rooftop langsung membeku.
“Hah?!”
“APARTEMEN HANIN?!”
“SERIUS?!”
Bahkan Petra yang biasanya paling santai pun ikut terdiam beberapa detik.
Karena itu berarti…
Masuk ke tempat pribadi Hanin.
Dan itu jelas bukan sesuatu yang biasa.
—
Damian lalu menoleh ke arah Hanin.
“Nin.”
“Hm?”
“Boleh gak?”
Semua mata langsung tertuju pada Hanin sekarang.
Karena keputusan sepenuhnya ada di tangan gadis itu.
Dan mengejutkannya...
Hanin terlihat santai saja.
“Boleh.”
BOOM.
Satu rooftop langsung chaos.
“ANJIRRRR.”
“GUE MASUK APART HANIN 😭”
“INI LEVEL PERTEMANAN APA.”
Petra sendiri masih sedikit tidak percaya.
Karena selama ini Hanin selalu menjaga ruang pribadinya cukup ketat.
Dan sekarang…
Hanin mengizinkan mereka datang.
—
Hanin berdiri santai sambil mengambil helm motornya.
“Kalau berisik keluar.”
Reno langsung mengangguk cepat.
“Kami anak baik.”
“Pembohong.” Sahut Hanin.
Satu geng langsung ngakak.
—
Beberapa menit kemudian mereka semua akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.
Mobil Damian di depan.
Jeep Petra di belakang.
Beberapa motor ikut menyusul.
Dan sepanjang perjalanan…
Petra diam-diam masih memikirkan satu hal :
Hanin benar-benar mulai mempercayai mereka.
—
Area parkiran mulai ramai saat semuanya bersiap pindah menuju apartemen Hanin.
Suara mesin mobil dan motor mulai terdengar bergantian.
Hanin yang tadi berdiri santai akhirnya berjalan menuju motor hitamnya sambil memutar kunci motor di jarinya pelan.
Reno yang melihat motor itu langsung mendekat dengan mata berbinar.
“Motor impian gue banget…”
Hanin melirik kecil.
“Mau bawa?”
Reno langsung membeku.
“…Hah?”
Dan sebelum otaknya selesai mencerna...
Hanin benar-benar melempar kunci motornya ke arah Reno.
Refleks Reno menangkapnya cepat.
DETIK ITU JUGA!!
“WOYYYYYY.”
“RENO DIPERCAYA BAWA DUCATI HANIN 😭”
“NAIK DERAJAT LO.”
Reno sampai menatap kunci motor itu seperti benda suci.
“Gue takut jatoh…”
Hanin malah santai memasukkan tangan ke hoodie-nya.
“Kalau lecet gue bunuh.”
“NAH KAN 😭”
Satu geng langsung ngakak brutal.
Namun Reno tetap terlihat bangga setengah mati.
Karena jelas…
Hanin mulai nyaman dengan mereka.
Dan itu bukan hal kecil.
—
Sementara itu Damian sudah membuka pintu mobilnya.
“Nin.”
Hanin langsung berjalan santai menuju mobil kakaknya.
Petra yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mengernyit kecil.
“Lo gak naik motor?”
“Capek.”
Jawaban Hanin pendek seperti biasa.
Lalu tanpa banyak drama gadis itu masuk ke kursi penumpang depan mobil Damian.
Dan entah kenapa…
Petra sedikit merasa kosong melihat itu.
Karena biasanya Hanin selalu terlihat cocok dengan motornya.
Namun di sisi lain…
Ia juga lega Hanin memilih istirahat.
—
Reno yang masih memegang kunci motor langsung mendekat ke Petra sambil super excited.
“Ketua…”
“Hm.”
“Gue dipercaya Hanin.”
Petra melirik datar.
“Jangan jatoh.”
“LO IRI YA.”
Petra langsung mendorong kepala Reno pelan sampai satu geng kembali ketawa.
—
Tak lama kemudian rombongan mereka akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.
BMW Damian melaju di depan.
Jeep Petra mengikuti di belakang.
Sementara Reno membawa Ducati Hanin dengan ekspresi paling bangga sedunia.
Dan malam itu…
Untuk pertama kalinya dua geng besar sekolah pergi nongkrong bersama menuju tempat paling private milik Hanin.
Chapter 14
Rombongan akhirnya sampai di kawasan apartemen Hanin.
Bangunan tinggi itu berdiri megah dengan lampu-lampu hangat yang menyala di setiap lantai, penjagaan ketat, dan suasana yang jauh lebih tenang dibanding luar.
Begitu mobil Damian berhenti di lobby private, Hanin turun lebih dulu.
Lalu diikuti Petra, Trouble Boy, dan geng Damian yang masih agak kagok melihat tempat itu.
“Anjir…” bisik Reno pelan sambil menatap sekitar.
“Ini apartemen apa hotel bintang lima?”
Petra juga sempat melirik bangunan itu sekilas.
Bukan pertama kali ia melihat tempat mewah, tapi ini berbeda.
Ini terasa… personal.
Milik Hanin.
—
Damian berjalan santai di samping Hanin.
“Masuk.”
Hanin hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju lift khusus resident.
Semua ikut menyusul.
Beberapa security sempat melirik, tapi langsung menunduk sopan saat melihat Damian dan Hanin.
Jelas mereka sudah familiar.
—
Di dalam lift, suasana sedikit sunyi.
Angka lantai naik pelan.
Reno masih memegang kunci motor Hanin dengan hati-hati seperti barang mahal negara.
Petra berdiri di sudut, bersandar santai tapi matanya sesekali melirik Hanin.
Hanin sendiri terlihat tenang seperti biasa, tidak terganggu dengan banyaknya orang di sekitarnya.
—
“Berapa lantai apart lo?” tanya salah satu teman Damian pelan.
“Cukup,” jawab Hanin santai.
Damian langsung terkekeh kecil.
“Jawaban paling Hanin banget.”
Hanin meliriknya sebentar.
“Kalau aku bilang tinggi kamu juga gak bakal ngerti.”
Satu lift langsung ketawa pelan.
—
DING!
Lift terbuka di lantai privat Hanin.
Begitu pintu terbuka...
Ruangannya langsung membuat semua orang diam sebentar.
Interior modern, hangat, luas, dengan jendela besar menghadap lampu kota.
“Gila…” Reno berbisik lagi.
“Ini bukan apartemen ini istana.”
Hanin langsung melepas hoodie-nya santai lalu masuk lebih dulu.
“Masuk aja.”
—
Semua mulai masuk pelan-pelan, masih kagum.
Damian berjalan ke arah dapur membuka kulkas seperti sudah biasa.
“Minum sendiri ambil.”
“Siap,” jawab gengnya langsung serempak.
Petra duduk di sofa tanpa banyak bicara, matanya mengamati sekitar.
Hanin berjalan ke area dapur, membuka beberapa lemari.
Sementara suasana mulai berubah jadi lebih santai.
Dan untuk pertama kalinya malam itu…
Dua geng besar sekolah itu benar-benar berkumpul di satu tempat.
Bukan karena keributan.
Bukan karena masalah.
Tapi karena Hanin membiarkan mereka masuk ke dunianya.
—
Damian membantu Hanin dari dapur tanpa banyak bicara.
Satu per satu minuman dikeluarkan dari kulkas, lalu disusun di meja pantry panjang yang menyatu dengan ruang tengah.
Hanin berdiri di sebelahnya sambil membuka beberapa lemari lain.
“Seadanya ya, gak ada apa-apa,” ucap Hanin santai.
Damian langsung melirik sekilas ke arah meja, menatap stock makanan Hanin.
Dan beberapa detik kemudian…
“…Seadanya?” Damian tersenyum tipis.
Di atas meja sudah tertata rapi:
Minuman soda berbagai rasa, jus dingin, air mineral premium, snack, biskuit coklat, buah potong, permen, sampai makanan ringan impor yang bahkan Reno belum pernah lihat sebelumnya.
Reno yang kebetulan ikut mendekat langsung melotot.
“INI SEADANYA?!”
“GUE DI RUMAH GAK ADA BEGINI.”
Satu geng langsung heboh.
“Anjir Hanin stok snacknya kayak minimarket pribadi.”
Petra yang berdiri agak belakang hanya melirik sekilas, lalu menghela napas kecil.
“…Pantes aja kalem.”
—
Hanin berjalan ke arah meja sambil menunjuk satu sisi kecil di pojok dapur.
“Kalau mau makan ambil sendiri.”
Lalu ia menunjuk ke arah balkon besar dengan pintu kaca geser.
“Kalau mau ngerokok di luar. Jangan di dalam.”
Nada suaranya tetap tenang, tidak keras.
Tapi cukup jelas.
Reno langsung mengangguk.
“Siap.”
Beberapa teman geng langsung refleks:
“Siap bu bos 😭”
—
Reno yang masih memegang kunci motor tiba-tiba melirik meja, lalu melirik balkon.
“Wah… ini apartemen plus aturan juga.”
Petra menimpali datar.
“Normal.”
Reno langsung menatap Petra.
“Normal apanya?”
“Dia yang punya apart.”
—
Hanin sendiri sudah duduk santai di sofa, mengambil minuman soda, lalu membuka ponselnya seperti tidak terlalu peduli dengan hebohnya semua orang di ruang itu.
Damian mengambil beberapa snack lalu duduk di sebelah Hanin.
“Capek gak?”
“Enggak.”
Damian mengangguk pelan, lalu tetap memperhatikan adiknya sebentar, memastikan Hanin benar-benar baik.
Sementara di belakang…
Trouble Boy sudah mulai menyerbu snack seperti tidak makan seminggu.
“GILA ENAK BANGET INI.”
“INI PERMEN APA SURGA?”
Petra hanya duduk sambil sesekali mengambil minum, matanya lebih sering mengarah ke Hanin yang terlihat paling tenang di ruangan itu.
Dan malam itu…
Apartemen Hanin benar-benar berubah jadi tempat paling santai, paling absurd, dan paling tidak terduga bagi dua geng sekolah yang biasanya penuh ribut.
—
Suasana apartemen Hanin benar-benar berubah jadi seperti basecamp dadakan.
Di ruang tengah, geng Damian dan Trouble Boy sudah heboh sendiri di depan TV besar.
“WOY PASS PASS!”
“DEFENSE GOBLOK, DEFENSE!”
“ANJIR GOL LU GAK MASUK AKAL!”
Satu geng langsung campur jadi satu tanpa sekat, yang penting kompetisi di layar PS.
Damian duduk santai di lantai dekat sofa sambil sesekali kasih arahan ringan, sementara Petra lebih banyak diam tapi fokus, tangannya cepat banget di stik.
Reno di sampingnya udah teriak-teriak dari tadi.
“INI CHEAT ATAU SKILL?!”
“SKILL.” jawab Petra singkat tanpa menoleh.
Langsung kena pelototan satu ruangan.
“BRUTAL.”
—
Di sisi lain ruang tamu…
Hanin justru terlihat paling tenang.
Gadis itu tiduran santai di sofa panjang, satu kaki ditekuk, hoodie sedikit menutupi tubuhnya.
Ponsel di tangan, scroll Instagram tanpa banyak ekspresi.
Kadang senyum kecil.
Kadang cuma diam.
Lampu ruangan yang hangat bikin suasana terasa jauh lebih nyaman.
Dari sudut sana, Damian sempat melirik sebentar.
Melihat Hanin yang benar-benar santai di tengah keramaian itu.
Dan itu cukup bikin dia tenang.
—
Petra juga sempat melirik sekilas ke arah sofa.
Hanin masih di sana, aman, tidak terganggu, bahkan terlihat nyaman dengan kehadiran mereka semua.
Dan anehnya…
Petra jadi ikut tenang.
Tangannya yang tadi cepat di PS sedikit melambat, tapi fokusnya tetap kuat.
“Woy Petra jangan meleng!” teriak Reno.
“Diam.”
“NYAUR GUE NIH ORANG.”
—
Hanin menggeser posisi sedikit, lalu menggulir layar IG lagi.
Story, reels, lalu berhenti sebentar di postingan random kue.
Sudut bibirnya naik kecil.
Sederhana.
Tapi cukup buat bikin Damian yang tak sengaja melihatnya dari jauh tersenyum tipis juga.
Di ruangan itu, semuanya sibuk dengan dunia masing-masing.
Tapi entah kenapa…
Tetap terasa seperti satu tempat yang sama.
—
Hanin yang tadi masih tiduran di sofa akhirnya melirik jam di layar ponselnya.
22.00.
Ia duduk pelan lalu menguap kecil, kemudian menoleh ke arah ruang tengah yang masih ramai dengan teriakan PS.
“Damian.”
Suara Hanin tidak keras, tapi cukup membuat Damian langsung menoleh.
“Hm?”
Hanin berdiri santai, masih memegang ponselnya.
“Mau pada nginep atau pulang?”
Seketika suara PS mengecil.
Reno langsung menoleh panik kecil.
“NGINEP?!”
“DI APART HANIN?!”
Satu ruangan langsung heboh lagi.
Petra melirik sekilas ke Hanin, lalu ke Damian, tetap diam.
—
Damian memutar badan sedikit ke arah semua orang.
“Gimana? Kalian mau pulang atau nginep?”
Reno langsung angkat tangan.
“NGINEP!”
“100% NGINEP!”
“GUE GAK MAU PULANG KE DUNIA NYATA.”
Satu geng langsung setuju tanpa pikir panjang.
Geng Damian pun lebih santai.
“Kalau boleh ya nginep aja sih.”
“Lumayan.”
—
Damian lalu menoleh ke Hanin, ekspresinya sedikit lebih serius tapi tetap tenang.
“Nin.”
“Hm?”
“Boleh mereka nginep?”
Semua langsung menunggu jawaban Hanin.
Karena walaupun Damian yang nanya…
tetap saja ini apartemen Hanin.
Hanin menghela napas kecil, lalu melirik sekilas ke ruang tengah yang berantakan tapi hidup.
Diam beberapa detik…
lalu mengangguk santai.
“Boleh.”
BOOM!!
Reno langsung lompat kecil.
“YESSSSS.”
“GUE NGINEP DI ISTANA 😭”
Petra hanya menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya naik sedikit.
Damian sendiri terlihat lega.
“Thanks.”
Hanin hanya menjawab santai.
“Jangan berisik.”
“Siap.”
Satu ruangan langsung jawab bareng:
“SIAP BOSS HANIN.”
Malam itu akhirnya diputuskan.
Apartemen Hanin bukan cuma jadi tempat nongkrong…
tapi berubah jadi tempat nginep dadakan dua geng paling ribut satu sekolah.
—
Hanin yang masih duduk santai di sofa akhirnya menoleh ke arah Damian yang baru selesai mengecek kamar-kamar di apartemen.
“Damian.”
“Hm?”
Hanin berdiri pelan, lalu menunjuk ke arah lorong kamar.
“Kamar kosong, kalau gak cukup, gelar kasur lipat di ruang tengah.”
Reno langsung nyelutuk dari jauh.
“GUE SIH MAU TIDUR DI SOFA AJA, SERASA HOTEL 😭”
Hanin melanjutkan santai tanpa peduli keributan.
“Kalau butuh baju ganti, di lemari ada.”
Seketika beberapa kepala langsung menoleh.
“HAH?”
Damian hanya tersenyum.
Hanin berjalan pelan ke salah satu lemari di dekat lorong kamar, lalu membukanya.
Dan benar saja
Di dalamnya sudah tersusun rapi beberapa pakaian baru, masih dalam plastik.
Kaos polos berbagai warna.
Celana pendek.
Semua terlihat baru dan belum dipakai.
“Stock jaga-jaga,” kata Hanin datar.
“Kalau kakak-kakak aku nginep gak bawa baju.”
Satu ruangan langsung hening sebentar.
Lalu…
“INI BUKAN APARTEMEN.”
“INI BASECAMP KELUARGA 😭”
Reno sampai memegang kepala sendiri.
Petra yang sedari tadi diam akhirnya melirik sekilas ke lemari itu.
“…Lo emang selalu siap ya.”
Hanin mengangkat bahu kecil.
“Biasa.”
Damian hanya menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
“Pantes rumah ini gak pernah chaos kalau kita nginep.”
Hanin langsung menatapnya datar.
“Chaos tetap ada. Kalian aja yang gak sadar.”
Satu geng langsung protes bareng.
“HEH?!”
Dan malam itu, apartemen Hanin resmi berubah jadi tempat nginep paling “siap tempur” yang pernah ada, lengkap dengan kamar, kasur lipat, dan lemari darurat untuk seluruh pasukan yang tiba-tiba jadi tamu tetap.
—
Setelah suasana agak mulai tenang dan semua orang sudah sibuk milih kamar atau ngatur tempat tidur di ruang tengah, Hanin berdiri pelan.
“Aku masuk kamar dulu.”
Semua langsung menoleh sekilas.
Reno masih setengah rebahan di sofa.
“SIAP BOSS.”
Petra cuma melirik sebentar, lalu kembali duduk santai.
Damian yang lagi duduk di dekat meja langsung mengangguk kecil.
Hanin berjalan ke arah lorong kamar sambil berhenti sebentar di tengah.
“Oh iya.”
Suara itu bikin semua kembali diam.
Hanin menunjuk pelan ke arah beberapa pintu kamar.
“Di tiap kamar ada kamar mandi sendiri. Terus di luar juga ada dua kamar mandi tambahan.”
Reno langsung angkat tangan.
“GUE CATAT LOKASI STRATEGIS.”
“Lo diem aja bisa gak sih,” sahut Petra datar.
Hanin lanjut santai, tanpa menghiraukan keributan kecil itu.
“Jangan rebutan.”
Lalu ia menoleh ke Damian.
“Damian.”
“Hm?”
Hanin menunjuk salah satu kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.
“Kamu mau tidur di kamar aku, atau di kamar lain?”
Seketika…
SUNYI.
Bukan sunyi biasa.
Ini sunyi tipe “semua orang langsung berhenti bergerak”.
Reno sampai hampir jatuh dari sofa.
“ANJIRR KAMAR HANIN?!”
“ITU KAKAKNYA TAPI KENAPA TERDENGAR BERAT 😭”
Petra langsung menatap Damian, ekspresinya datar tapi jelas memperhatikan jawabannya.
Damian sendiri hanya terdiam sebentar.
Bukan karena canggung.
Tapi karena ini Hanin yang nanya langsung didepan teman-temannya, santai, tanpa beban.
Cowok itu lalu tersenyum tipis.
“Gue di kamar lain aja.”
Hanin mengangguk kecil.
“Oke.”
Selesai.
Se-simple itu.
Tapi entah kenapa…
Beberapa orang di ruangan itu baru sadar...
kedekatan Hanin dan Damian itu bukan sekadar kakak-adik biasa.
Tapi sudah seperti sistem yang sangat natural, sangat aman, dan sangat saling percaya.
Hanin lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.
Sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh lagi.
“Jangan ribut.”
Klik.
Pintu tertutup.
Dan dalam hitungan detik...
ruangan luar langsung pecah lagi.
“GUE GAK BISA HIDUP NORMAL DI SINI 😭”
Damian sebenarnya sempat melirik kamar Hanin tadi.
Secara jujur, dia paling nyaman kalau dekat Hanin, itu sudah kebiasaan dari kecil.
Tapi kondisi sekarang beda.
Ada Petra.
Ada Trouble Boy.
Ada gengnya sendiri.
Dan kalau dia terlalu “kelihatan” clingy sama Hanin…
besok satu sekolah bisa bikin versi cerita yang lebih liar dari kenyataan.
Reno aja sudah cukup bahaya kalau mulai ngomong.
Damian menghela napas pelan, lalu menutup topik dengan santai.
“Gue kamar lain aja.”
Hanin mengangguk tanpa banyak reaksi.
“Oke.”
Selesai.
Natural banget.
Tapi di kepala Damian, justru itu yang bikin aman.
—
Beberapa menit kemudian, setelah Hanin benar-benar masuk kamar dan pintu tertutup, suasana ruang tengah kembali hidup.
Reno langsung rebahan di sofa.
“Gue masih shock dia nawarin kamar dia sendiri kayak nawarin snack.”
Damian melirik datar.
“Dia emang gitu.”
Lalu Damian duduk di kursi dekat meja, santai.
Tapi dalam hati…
dia sudah mulai mikir langkah kedua.
Kalau dia sekamar sama Petra...
setidaknya dia bisa kontrol situasi.
Terutama satu orang :
Petra.
Cowok itu kelihatan santai, tapi Damian tahu…
Petra punya kebiasaan “jalan sendiri” kalau lagi kepikiran Hanin.
Dan itu berbahaya kalau apartemen ini lagi full chaos.
—
Damian menoleh ke Petra.
“Pet.”
“Hm?”
“Kita satu kamar.”
Satu ruangan langsung hening sebentar.
“HAH?!” Reno langsung duduk tegak.
“ANJIR KOK MALAH KAMAR BERDUA?!”
Petra sendiri mengernyit.
“…Kenapa gue?”
Damian santai.
“Biar gak ada yang nyasar.”
“Nyasar apaan?”
Damian hanya melirik sekilas ke arah lorong kamar Hanin, lalu balik lagi.
“Lo ngerti.”
Petra diam beberapa detik.
Lalu akhirnya berdiri.
“…Oke.”
Reno langsung menunjuk mereka berdua.
“INI KENAPA SEMAKIN AJAIB MALAM INI 😭”
—
Malam itu akhirnya terbagi rapi :
Hanin di kamar sendiri.
Damian dan Petra satu kamar (dengan alasan “strategis” versi Damian).
Dan geng lainnya tersebar di kamar kosong atau ruang tengah.
Tapi di balik semua itu…
Damian cuma punya satu pikiran santai tapi serius :
jaga rumah ini tetap aman…
dan pastikan Petra gak tiba-tiba muncul di kamar Hanin tengah malam.
—
Apartemen sudah benar-benar sunyi.
Lampu-lampu utama diredupkan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lorong dan dapur yang masih menyala tipis.
Di ruang tengah, Trouble Boy dan geng Damian sudah tergeletak acak, ada yang tidur di sofa, ada yang di kasur lipat, bahkan ada yang masih setengah posisi duduk tapi sudah ketiduran.
Damian dan Petra di kamar juga sudah tidak terdengar suara.
Hening.
Di dalam kamar Hanin, jam menunjukkan lewat tengah malam.
Hanin terbangun pelan.
Haus.
Gadis itu duduk sebentar di tepi kasur, lalu berdiri tanpa suara.
Hoodie tipis masih dipakai, rambut sedikit berantakan, dan langkahnya pelan menuju dapur.
Begitu sampai dapur, Hanin menyalakan lampu kecil di bawah kabinet.
Cahaya hangat langsung menyapu ruangan.
Ia membuka kulkas, mengambil botol air dingin, lalu menutupnya kembali pelan.
Tidak ada suara.
Hanya bunyi kecil air saat dituangkan ke gelas.
—
Namun saat Hanin meneguk airnya…
Dari arah lorong kamar, terdengar suara pintu kamar sedikit terbuka.
KREEK…
Hanin berhenti sebentar.
Matanya melirik ke arah sumber suara.
Langkah pelan terdengar.
Seseorang keluar dari kamar.
Dan beberapa detik kemudian...
Damian muncul dengan rambut sedikit acak-acakan, memakai kaos polos dan celana pendek.
Matanya masih setengah mengantuk.
“…Nin?”
Hanin menoleh.
“Kamu kenapa bangun?”
Damian berjalan pelan ke arah dapur, mengusap lehernya.
“Gue kebangun.”
Hanin mengangguk kecil lalu kembali minum.
Suasana kembali hening beberapa detik.
—
Damian bersandar di meja dapur, melirik adiknya.
“Kamu gak boleh sendirian tengah malam gini.”
Hanin melirik sekilas.
“Cuma minum.”
“Gue tau.”
Jawabannya datar, tapi tetap jelas...
itu bentuk kebiasaan protektif yang gak pernah hilang.
—
Beberapa detik kemudian Damian menatap ke arah lorong lagi, memastikan semua masih tidur.
Lalu pelan berkata,
“Petra tidur?”
Hanin mengangguk kecil.
“Harusnya.”
Damian menghela napas pelan, karena petra tidak ada dikamar bersamanya.
“Bagus.”
Hanin menatapnya sebentar.
“…Kamu overthinking.”
Damian langsung melirik.
“Gue realistis.”
Hanin tidak membantah, hanya menutup botol airnya.
Lalu berjalan kembali ke arah kamar.
—
Sebelum masuk, Hanin berhenti sebentar.
“Damian.”
“Hm?”
“Jangan jaga aku berlebihan.”
Damian diam.
Hanin lanjut pelan tapi tenang.
“Aku gak apa-apa.”
Lalu ia masuk kamar dan menutup pintu perlahan.
Klik.
—
Damian berdiri di dapur beberapa detik dalam sunyi.
Lalu hanya menghela napas pelan.
“…Gue tau.”
Tapi tetap aja...
dia tidak bergerak langsung ke kamar.
Berdiri sebentar di sana, memastikan rumah itu tetap aman.
Baru kemudian ia kembali berjalan pelan ke kamar, di tengah malam yang sudah benar-benar tenang.
Chapter 17
Setibanya di
rumah utama, suasana langsung berubah jadi jauh lebih serius dibanding
sebelumnya.
Tidak ada
lagi nada santai, tidak ada obrolan ringan.
Semua sudah
menunggu.
Ruang rapat
keluarga besar sudah terisi. Para paman, bibi, beberapa orang kepercayaan
keluarga, tim keamanan, dan kakak-kakak Hanin dan Damian.
Begitu Hanin
dan Damian masuk, semua perhatian langsung tertuju ke mereka.
Prince
berdiri paling depan, lalu menutup pintu ruang rapat.
Klik.
Hening.
Hanin duduk
di sisi Damian, tenang seperti biasa, tapi jelas terlihat kelelahan tipis dari
perjalanan tadi.
Damian duduk
tegak, matanya fokus ke meja.
Prince
membuka rapat tanpa basa-basi.
“Insiden tadi
pagi bukan kebetulan.”
Semua langsung diam.
Leon membuka
layar di depan, menampilkan data singkat hasil analisis cepat tim.
“Identifikasi
awal sudah masuk. Mereka dari jalur lama musuh kakek.”
Bagas
menambahkan, suaranya datar tapi berat.
“Ini bukan
peringatan. Ini uji coba.”
Suasana ruang
rapat makin tegang.
Salah satu
orang kepercayaan keluarga berbicara pelan.
“Targetnya
siapa?”
Jawabannya
sudah jelas di ruangan itu, tapi tetap harus diucapkan.
Prince
menatap lurus.
“Hanin.”
Hening.
Lalu lanjut,
“Dan Damian
sebagai akses terdekat.”
Hanin hanya
menunduk sedikit, tidak bereaksi berlebihan.
Damian justru mengepalkan tangan pelan di bawah meja.
Prince
melanjutkan dengan nada lebih dingin.
“Mulai
sekarang, keamanan diperketat dua kali lipat.”
Leon
mengangguk.
“Rute sekolah
diubah. Pergerakan publik dibatasi.”
Bagas menatap
Hanin dan Damian sekilas.
“Tidak ada
pergi sendiri. Tidak ada keluar tanpa pengawalan.”
Salah satu
paman keluarga menghela napas.
“Kalau mereka
mulai bergerak lagi?”
Prince
menjawab tanpa ragu.
“Mereka sudah
salah langkah.”
Kalimat itu
tidak panjang.
Tapi cukup untuk membuat semua orang paham arah keputusan keluarga ini.
Hanin
akhirnya bersuara pelan.
“Aku masih
sekolah.”
Semua
langsung menoleh.
Prince
menatapnya.
“Iya. Tapi
dengan pengamanan penuh.”
Damian
menambahkan singkat.
“Gue juga ikut.”
Prince
mengangguk.
“Tidak ada perubahan
sekolah.”
Lalu menatap
semua orang lagi.
“Tapi semua
pergerakan diawasi.”
Suasana ruang
rapat tetap tegang, tapi sudah lebih terkontrol.
Tidak ada
kepanikan.
Hanya
keputusan.
Dan sistem yang langsung bergerak.
Di akhir
rapat, Prince berdiri.
“Ini selesai
sementara.”
Lalu menatap
Hanin dan Damian.
“Mulai
sekarang, kalian berdua jangan lengah.”
Hanin
mengangguk kecil.
Damian hanya
menjawab singkat.
“Siap.”
Rapat darurat
keluarga besar itu pun berakhir.
tapi semua
orang di ruangan itu tahu,
ini bukan
akhir masalah.
Hanya awal
dari sesuatu yang lebih besar.
Setelah rapat
darurat itu, keputusan keluarga langsung diterapkan tanpa ditunda.
Hanin tetap
tinggal di apartemen.
Tapi kali ini
tidak lagi sendirian seperti sebelumnya.
Damian ikut tinggal
bersamanya.
Dan dua pengawal keluarga ditugaskan bergantian menjaga apartemen 24 jam, tanpa mengganggu ruang pribadi, tapi selalu siap di titik pengawasan.
Apartemen
yang biasanya terasa “bebas” sekarang punya ritme baru.
Lebih
teratur.
Lebih terkontrol.
Namun tetap
dibuat senormal mungkin agar Hanin tidak merasa seperti sedang diawasi
berlebihan.
Damian
sendiri tetap bersikap seperti biasa di dalam apartemen.
Hanya saja sekarang dia lebih sering memastikan pintu, jadwal, dan kondisi sekitar.
Pagi hari ke
sekolah juga berubah.
Tidak ada
lagi motor.
Tidak ada
lagi konvoi kecil seperti sebelumnya.
Hanin dan
Damian berangkat dengan SUV hitam keluarga, dikawal dua bodyguard.
Di dalam
mobil, suasana tetap dibuat santai.
Hanin duduk
di kursi penumpang, melihat ponselnya seperti biasa.
Damian di
sebelahnya, lebih banyak diam tapi tetap waspada.
Di sekolah,
perubahan itu juga langsung terasa.
SUV berhenti
di parkiran khusus.
Dua bodyguard
tetap berada di area parkir, tidak masuk ke lingkungan sekolah, tapi selalu
standby.
Hanin dan Damian turun seperti biasa, tanpa drama.
Sebelumnya,
Prince sudah mengurus langsung izin ke pihak sekolah.
Pihak sekolah
akhirnya mengizinkan dengan alasan keamanan internal keluarga, dengan catatan
tidak mengganggu kegiatan belajar.
Dan
permintaan khusus juga disampaikan:
“jaga
kerahasiaan situasi ini.”
Di ruang
kepala sekolah, kepala sekolah hanya mengangguk serius.
“Kami akan
menjaga privasi siswa.”
Tidak ada
pertanyaan lebih jauh.
Tidak ada
publikasi.
Semua dijaga tetap
internal.
Di luar,
kehidupan sekolah tetap berjalan seperti biasa.
Namun
orang-orang yang dekat dengan Hanin dan Damian mulai menyadari perubahan itu.
Mobil
berbeda.
Pengawalan berbeda.
Ritme kedatangan dan kepulangan berbeda.
Tapi tidak
ada yang diberi penjelasan.
Di dalam
sekolah, Hanin tetap bersikap normal.
Damian juga.
Seolah tidak
ada yang berubah.
Namun Petra
dan gengnya mulai menangkap pola baru itu, walau memilih tidak bertanya terlalu
jauh.
Reno hanya
berbisik pelan suatu hari.
“…Ini kayak
levelnya naik ya.”
Petra
menjawab singkat.
“Diam.”
Tapi matanya
tetap memperhatikan Hanin dari kejauhan.
Dan di balik
semua itu,
Hanin masih
tetap Hanin.
Hanya saja
sekarang dunia di sekelilingnya jauh lebih dijaga,
lebih ketat,
lebih sunyi,
dan lebih
berat dari sebelumnya.
Setelah sesi
latihan basket selesai, lapangan mulai sepi satu per satu.
Suara sepatu
yang tadi ramai di lantai kini berganti jadi angin sore yang pelan.
Hanin
berjalan keluar dari lapangan dengan langkah santai, masih memakai jersey
latihan, rambut sedikit basah oleh keringat tipis.
Tanpa banyak
bicara, ia langsung menuju bangku panjang di pinggir lapangan.
Lalu duduk.
Dan beberapa
detik kemudian...
Hanin
merebahkan diri di kursi panjang itu, menatap langit yang mulai berubah warna.
Napasnya naik
turun pelan.
Capek, tapi
bukan kelelahan yang berlebihan.
Lebih ke
“habis mengeluarkan energi tapi masih bisa tenang”.
Dari
kejauhan, beberapa siswa masih melirik diam-diam.
Bukan karena
hal aneh.
Tapi karena
Hanin memang selalu jadi pusat perhatian tanpa usaha.
Petra yang
baru selesai latihan ringan juga berjalan mendekat.
Ia berhenti
beberapa langkah dari bangku itu.
“…Lo gak
kelelahan?”
Hanin tidak
langsung menjawab.
Matanya masih
menatap langit.
“Sedikit.”
Singkat.
Petra duduk
di ujung bangku, tidak terlalu dekat.
“Latihan lo
gak pernah santai ya.”
Hanin
mengangkat bahu kecil.
“Biasa aja.”
Tidak lama,
Damian juga muncul dari arah lapangan lain.
Ia melihat
Hanin yang sedang berbaring, lalu mendekat dengan ekspresi yang lebih tenang
dibanding biasanya.
“Minum.”
Ia melempar
botol air ke arah Hanin.
Hanin
menangkapnya tanpa melihat.
“Thanks.”
Damian
berdiri sebentar, lalu melirik ke arah Petra.
Petra juga
balas tatapan singkat.
Tidak ada
kata-kata.
Tapi ada pemahaman kecil di antara mereka, bahwa Hanin sekarang tidak boleh terlalu dipaksa, bahkan oleh dirinya sendiri.
Hanin
akhirnya duduk sedikit, membuka botol air, lalu minum perlahan.
Angin sore
lewat pelan.
Lapangan
mulai kosong.
Dan untuk
sesaat...
tidak ada
ancaman, tidak ada tekanan, tidak ada keributan.
Hanya Hanin
yang beristirahat di tengah dunia yang biasanya selalu bergerak terlalu cepat
di sekelilingnya.
Suasana
sekolah yang sebelumnya tenang langsung sedikit berubah ketika sebuah mobil
hitam berhenti di area utama sekolah.
Beberapa guru
yang melihat langsung refleks berdiri lebih rapi dari biasanya.
Pintu mobil
terbuka.
Dan seorang
pria turun dengan wibawa tenang, langkahnya teratur tanpa tergesa.
Itu adalah ayah Petra, pemilik yayasan sekolah.
Kedatangannya
tidak diumumkan besar-besaran, tapi cukup untuk membuat staf sekolah langsung
siaga.
Kepala
sekolah bahkan segera keluar menyambut.
“Selamat
siang, Pak.”
Ayah Petra
hanya mengangguk singkat.
“Tidak perlu
formalitas. Saya hanya ingin melihat kondisi sekolah.”
Di sisi lain
lapangan, Hanin masih duduk di bangku panjang setelah latihan, sementara Damian
dan Petra ada tidak jauh darinya.
Petra yang
melihat sosok itu dari kejauhan langsung mengernyit kecil.
“…Bokap gue?”
Damian ikut
menoleh.
“Dia jarang
ke sini.”
Ayah Petra
berjalan pelan menyusuri area sekolah, ditemani kepala sekolah dan beberapa
staf.
Namun matanya
beberapa kali tampak memperhatikan lingkungan sekitar, bukan sekadar inspeksi
biasa, tapi seperti memastikan sesuatu.
Ketika
pandangannya melewati lapangan basket…
ia berhenti
sejenak.
Melihat
Hanin.
Lalu juga
melihat Damian di dekatnya.
Tatapannya
tidak berubah banyak, tapi ada sedikit ketertarikan yang tersirat.
Petra berdiri
dari bangku.
“Gue ke
sana.”
Damian
mengangguk kecil.
“Gue ikut.”
Hanin masih
duduk santai, minum air, ketika Petra dan Damian mendekat.
Belum sempat
mereka sampai, ayah Petra sudah lebih dulu berjalan ke arah mereka.
Langkahnya
tenang, tapi jelas menuju satu titik.
Begitu
sampai, ia berhenti beberapa meter dari Hanin, Damian, dan Petra.
“Petra.”
Suara itu
datar, tapi tegas.
Petra
langsung menjawab.
“Ya, Pak.”
Ayah Petra
melirik sekilas ke Hanin dan Damian.
“Lingkungan
sekolah belakangan ini cukup ramai.”
Kepala
sekolah yang ikut di belakang terlihat sedikit tegang.
Petra hanya
diam.
Damian juga
tidak banyak bicara.
Hanin tetap
duduk, memperhatikan dengan tenang.
Lalu ayah
Petra melanjutkan, kali ini lebih pelan:
“Saya hanya
ingin memastikan sekolah ini tetap aman untuk semua siswa.”
Pandangan itu
berhenti sebentar di Hanin.
Bukan
menilai.
Lebih seperti
mengamati.
Hening
sebentar.
Angin sore
lewat di antara mereka.
Dan di tengah
momen itu, semua orang di sekitar sadar...
kedatangan
ayah Petra bukan sekadar kunjungan biasa,
tapi awal
dari perhatian yang lebih besar terhadap apa yang sebenarnya sedang terjadi di
sekolah itu.
Ayah Petra
berdiri beberapa detik di depan mereka, pandangannya masih tenang tapi
dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan.
Lalu ia
menghela napas pelan.
“Petra.”
“Ya, Pak.”
Pria itu
menoleh sedikit, lalu pandangannya bergeser ke Hanin dan Damian.
Dan untuk
pertama kalinya, nada suaranya berubah lebih personal.
“…Kalian
berdua tidak tahu ya.”
Hening.
Petra
mengernyit kecil.
“Tidak tahu apa?”
Ayah Petra
tidak langsung menjawab. Ia justru melirik ke arah kepala sekolah, lalu memberi
isyarat kecil.
“Ini sudah
saatnya dijelaskan secara internal saja.”
Kepala
sekolah mengangguk dan memberi ruang.
Lalu pria itu
kembali menatap Hanin.
Sorot matanya
lebih lembut sekarang, tapi tetap serius.
“Hanin…”
Gadis itu
menoleh, masih tenang.
“Iya?”
Ayah Petra
akhirnya berkata:
“Kakekmu
adalah kerabat lama kami.”
Kalimat itu
membuat udara di sekitar terasa sedikit berubah.
Damian
langsung menoleh.
Petra juga
ikut menegang sedikit.
Ayah Petra
melanjutkan, pelan tapi jelas.
“Dulu saat
keluarga kami jatuh, keluarga besar kalian yang membantu kami bangkit.”
Pandangan itu
tidak lepas dari Hanin.
“Dan sebagai
bentuk kepercayaan… kamu dan Petra dititipkan ke sini untuk sementara waktu.”
Hening.
Bukan hening
biasa.
Tapi hening
yang menahan banyak hal sekaligus.
Hanin tidak
langsung bereaksi besar.
Tapi matanya
sedikit mengeras, seperti mencoba menyusun ulang informasi yang baru saja ia
dengar.
“…Dititipkan?”
Damian ikut
menatap ayah Petra.
“Selama ini?”
Ayah Petra
mengangguk pelan.
“Ya. Dan
kalian ditempatkan di sini karena sekolah ini adalah salah satu lingkungan
paling aman yang bisa kami kontrol.”
Ia berhenti
sebentar.
“Tanpa kalian
sadari.”
Petra
mengepalkan tangan kecil.
“…Gue gak
pernah dikasih tahu.”
Ayahnya
menatapnya sebentar.
“Karena waktu
itu bukan informasi yang perlu kamu bebankan.”
Hanin
akhirnya menatap Damian sekilas.
Ekspresinya
masih tenang, tapi jelas ada perubahan kecil di dalamnya—bukan kaget
berlebihan, lebih seperti baru mengerti potongan besar yang selama ini
hilang.
Ayah Petra
menutup penjelasannya dengan nada lebih tegas namun hangat:
“Sekarang
situasinya berbeda. Kalian sudah cukup dewasa untuk tahu sebagian
kebenarannya.”
“Dan karena
itu, sekolah ini bukan hanya tempat kalian belajar.”
“Ini bagian
dari perlindungan yang sudah lama disiapkan keluarga kalian.”
Angin sore
kembali lewat.
Tapi kali
ini...
semuanya
terasa sedikit lebih berat, sedikit lebih jelas.
Dan Damian,
Hanin, serta Petra akhirnya mulai menyadari satu hal:
hidup mereka
dari awal memang tidak pernah benar-benar “kebetulan berada di sini”.
Hanin berdiri
lebih dulu, lalu Damian mengikuti.
Tidak ada
kata panjang.
Hanya gerakan
kecil yang terasa lebih formal dari biasanya.
Ayah Petra
menatap mereka berdua sebentar, lalu mengangguk pelan, seolah ada sesuatu yang
akhirnya “kembali pada tempatnya”.
Hanin
mengulurkan tangan.
“Terima kasih
sudah menjaga kami selama ini.”
Suaranya
tenang, tapi kali ini ada nada yang sedikit lebih hangat.
Ayah Petra
menerima salaman itu.
“Sudah tugas
kami.”
Damian
kemudian ikut maju.
Tatapannya
lebih serius, tapi tidak lagi tegang seperti sebelumnya.
“Terima
kasih.”
Ayah Petra
menatapnya sebentar, lalu menjawab singkat.
“Jangan hanya
berterima kasih. Tetap jaga satu sama lain.”
Damian
mengangguk.
“Siap.”
Saat tangan
mereka terlepas, suasana yang tadinya berat perlahan melunak.
Bukan berubah
jadi ringan sepenuhnya...
tapi lebih
seperti ketegangan yang akhirnya menemukan bentuk yang bisa dipahami.
Petra yang
berdiri tidak jauh hanya diam, memperhatikan semuanya.
Ada sesuatu
di wajahnya yang sulit dijelaskan... Campuran antara baru tahu, lega, dan sedikit
kesal karena “selama ini tidak diberi tahu”.
Tapi ia tidak
memotong momen itu.
Di sekitar
lapangan, siswa-siswa yang tadi hanya mengamati dari jauh mulai berbisik pelan.
Bukan gosip
liar, lebih ke rasa penasaran yang tertahan.
“Siapa itu
sebenarnya…”
“Kenapa kepala sekolah juga ada di sana…”
“Kayaknya bukan orang biasa…”
Kepala
sekolah berdiri sedikit di belakang, menjaga sikap formalnya, tapi jelas ikut
mengamati interaksi itu dengan hati-hati.
Ayah Petra
akhirnya melangkah sedikit mundur.
Sorot matanya
kembali netral, tapi kali ini lebih tenang.
“Saya tidak
akan mengganggu lagi. Lanjutkan kegiatan kalian.”
Ia berhenti
sebentar, lalu menatap Hanin dan Damian sekali lagi.
“Kalau ada
apa-apa, kalian tahu harus ke mana.”
Setelah itu,
ia berbalik.
Dan pergi seperti datangnya...
Tenang, tanpa banyak keributan.
Hanin
perlahan menghela napas kecil.
Damian
berdiri di sebelahnya, lalu menoleh.
“…Lo oke?”
Hanin
mengangguk pelan.
“Lebih ngerti
sekarang.”
Petra
akhirnya berjalan mendekat.
“Gue masih
kesel sih gak dikasih tahu dari dulu.”
Damian
meliriknya sebentar.
“Tapi
sekarang lo tahu.”
Petra
mendengus kecil.
“…Iya.”
Tapi untuk
pertama kalinya hari itu, ekspresinya sedikit lebih ringan.
Dan di bawah
langit sore sekolah itu,
yang tersisa
bukan lagi kebingungan...
tapi
kesadaran baru bahwa hubungan mereka bertiga ternyata sudah ditata jauh sebelum
mereka menyadarinya.
Petra
tiba-tiba berbalik.
Langkahnya
cepat.
Bukan
panik, lebih ke keputusan yang sudah ia tahan sejak tadi dan akhirnya tidak bisa
lagi disimpan.
“Bokap.”
Suaranya
cukup keras untuk membuat ayahnya berhenti.
Ayah Petra
menoleh perlahan.
Petra sudah
berdiri beberapa langkah di belakangnya, napasnya sedikit naik karena habis
berlari kecil.
“…Saya mau
bicara.”
Ayahnya
menatapnya sebentar, lalu melirik ke arah kepala sekolah yang masih ada di
dekat situ.
Kepala
sekolah langsung paham dan memberi isyarat kecil.
“Ruang tamu
khusus saja, Pak.”
Beberapa
menit kemudian, mereka masuk ke ruang khusus sekolah—ruangan yang biasa dipakai
untuk pembicaraan internal yayasan.
Pintu
tertutup.
Klik.
Di dalam,
suasana langsung lebih sunyi.
Petra berdiri
di depan meja, sementara ayahnya duduk dengan tenang di kursi seberang.
Tidak ada
pembukaan panjang.
Petra
langsung bicara.
“…Kenapa gue
gak pernah dikasih tahu soal Hanin?”
Diam.
Ayahnya tidak
langsung menjawab.
Ia menatap
Petra cukup lama, seperti memastikan emosi anaknya sudah cukup stabil untuk
menerima jawaban.
Lalu ia
menghela napas pelan.
“Karena saat
itu kamu masih terlalu muda untuk memikul informasi itu.”
Petra
langsung menatap tajam.
“Gue bukan
anak kecil lagi.”
Ayahnya
mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
Tapi nadanya
tetap tenang.
“Dan justru
karena itu sekarang kamu mulai dilibatkan.”
Petra
mengepalkan tangan.
“…Jadi selama
ini Hanin itu ditaruh di sekolah ini bukan cuma kebetulan?”
Ayahnya
menggeleng.
“Bukan
kebetulan.”
Ia berhenti
sebentar.
“Ini bagian
dari kesepakatan lama antara keluargamu dan keluarga Hanin.”
Petra
terdiam.
Bukan karena
tidak paham.
Tapi karena
potongan-potongan yang selama ini terasa “aneh” mulai tersambung.
“Jadi… gue
sama Hanin dari awal memang…”
Ayahnya
menyela pelan.
“Bukan orang
asing.”
Tegas, tapi
tidak memaksa.
Petra
menunduk sebentar, menarik napas.
“…Kenapa gak
pernah bilang?”
Ayahnya
menjawab lebih pelan kali ini.
“Karena kami
ingin kalian tumbuh tanpa beban sejarah dulu.”
“Dan menilai
satu sama lain sebagai manusia, bukan sebagai peran.”
Hening lagi.
Tapi kali ini
berbeda.
Bukan hening
tegang.
Lebih ke
hening yang penuh pemahaman yang baru saja dipaksa lahir.
Petra
akhirnya menghela napas panjang.
“…Gue gak
suka caranya.”
Ayahnya
mengangguk.
“Aku
mengerti.”
Petra
menatapnya lagi.
“…Tapi
sekarang gue gak bisa pura-pura gak tahu lagi.”
Ayahnya
berdiri perlahan.
“Dan itu
memang tujuannya.”
Ia berjalan
melewati Petra, lalu berhenti sebentar di sampingnya.
“Sekarang
kamu sudah cukup besar untuk memutuskan sendiri posisi kamu.”
Setelah itu,
ia membuka pintu dan keluar.
Meninggalkan
Petra di ruang khusus itu sendirian...
dengan semua
informasi baru yang baru saja mengubah cara dia melihat Hanin sepenuhnya.
Chapter 18
Ayah Petra
berhenti di ambang pintu sebelum benar-benar keluar.
Tangannya
masih menyentuh gagang pintu, lalu ia menoleh sedikit ke arah Petra.
Nada suaranya
tetap rendah, tapi kali ini lebih serius dari sebelumnya.
Ayah Petra berbicara
pelan:
“Dan satu hal
lagi yang harus kamu pahami.”
Petra
langsung menatap.
—
“Keluarga
Hanin adalah keluarga terhormat.”
Ia berhenti
sejenak.
“Di dunia
mereka… mereka dikenal sebagai salah satu keluarga mafia terbesar yang disegani
banyak orang penting.”
—
Ruangan itu
langsung terasa lebih berat.
Petra tidak
langsung bereaksi.
Tapi sorot
matanya berubah—bukan kaget sepenuhnya, lebih ke konfirmasi atas hal yang
sebenarnya sudah lama ia rasakan tapi tidak pernah diucapkan.
—
Ayahnya
melanjutkan, kali ini lebih tegas:
“Tapi kamu
juga harus tahu… semakin besar pengaruh sebuah keluarga, semakin banyak pula
musuh yang mengikuti di belakangnya.”
—
Ia menatap
Petra lebih lama.
“Dan Hanin
berada di pusat itu sejak awal.”
—
Hening.
Tidak ada
suara tambahan.
Hanya
kata-kata itu yang menggantung di udara.
—
Petra
mengepalkan tangannya pelan.
“…Jadi selama
ini dia hidup di situasi kayak gitu?”
Ayahnya
mengangguk singkat.
“Dan karena
itu dia ditempatkan di sini. Untuk perlindungan.”
—
Petra
menunduk sebentar.
Bukan takut.
Tapi seperti
baru benar-benar memahami kenapa Hanin selalu terlihat tenang di tengah hal-hal
yang tidak normal.
—
Ayahnya
akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.
“Sekarang
kamu sudah tahu cukup banyak.”
“Gunakan itu
dengan bijak.”
—
Lalu ia
pergi.
Langkahnya
menghilang di koridor sekolah.
Dan Petra
tetap berdiri di ruang itu, diam cukup lama—
dengan satu
kesadaran baru yang tidak bisa ia tarik kembali:
Hanin bukan
hanya seseorang yang “kuat”.
Tapi bagian
dari dunia yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang ia bayangkan.
Petra keluar
dari ruang khusus dengan langkah pelan.
Berbeda dari
biasanya.
Tidak ada
ekspresi sinis, tidak ada komentar sarkastik, tidak ada aura santai yang biasa
ia bawa.
Hanya tatapan
kosong.
Petra
berjalan menyusuri koridor sekolah tanpa banyak arah.
—
Beberapa
siswa yang melihatnya langsung merasa ada yang “berbeda”, tapi tidak ada yang
berani bertanya.
Suasana
koridor terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah semua orang tanpa sadar
memberi ruang.
—
Tidak lama
kemudian, geng Petra muncul dari arah belakang.
Reno yang
paling duluan melihatnya langsung melambatkan langkah.
“…Ketua?”
Petra tidak
langsung menjawab.
—
Gengnya
berhenti beberapa langkah di belakang, saling pandang.
Biasanya
Petra yang paling duluan bercanda atau menyuruh mereka berhenti ribut.
Tapi sekarang
dia hanya terus berjalan.
—
Reno akhirnya
mendekat sedikit.
“Lo kenapa?
Tadi abis ketemu bokap lo kan?”
Masih tidak
ada jawaban.
—
Sampai
akhirnya Petra berhenti.
Pelan.
Lalu menarik
napas panjang.
“…Gue baru
tau banyak hal.”
Suaranya
datar.
Terlalu
datar.
—
Gengnya
langsung fokus.
Reno
mengernyit.
“Hal apa?”
Petra tidak
langsung menjawab.
Matanya
sedikit menurun, seperti memproses ulang semua informasi yang baru saja ia
terima.
—
“…Tentang
Hanin.”
Nama itu
membuat semua langsung diam.
—
Petra
akhirnya menoleh sedikit ke arah mereka.
“Dia bukan
cuma siswa biasa.”
Hening.
—
Reno menelan
ludah pelan.
“…Terus?”
Petra
menghela napas.
“…Dan kita
selama ini cuma lihat permukaannya aja.”
—
Gengnya
saling pandang lagi.
Tidak ada
yang bercanda kali ini.
—
Petra
melanjutkan, lebih pelan.
“Gue gak bisa
cerita semuanya sekarang.”
“Tapi mulai
sekarang… kita harus lebih paham situasi sekitar kita.”
—
Reno
mengangguk kecil, meski masih bingung.
“Siap…”
—
Petra kembali
berjalan.
Kali ini
tidak lagi kosong sepenuhnya, tapi jelas—
pikirannya
sudah jauh ke tempat lain.
Dan satu hal
yang mulai berubah di dalam dirinya adalah cara dia melihat Hanin.
Bukan lagi
sekadar teman sekolah.
Tapi
seseorang yang berada di tengah dunia yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
Langkah Petra
akhirnya berhenti saat melewati koridor samping yang mengarah ke lapangan
basket.
Dari kejauhan
terdengar suara bola memantul pelan.
Duk.
Duk.
Duk.
Petra
menoleh.
Dan di tengah
lapangan yang mulai sepi sore itu—
ada Hanin.
Sendirian.
—
Hanin masih
memakai jersey latihan hitam, rambut terikat seadanya.
Tidak ada
teman tim.
Tidak ada pelatih.
Tidak ada keramaian.
Hanya dirinya
dan bola basket.
—
Gerakannya
tetap tenang.
Dribble.
Pivot.
Shoot.
Bola masuk
bersih ke ring.
Swish.
—
Petra berdiri
diam di pinggir lapangan.
Tatapannya
mengikuti Hanin tanpa sadar.
Dan entah
kenapa…
semua
perkataan ayahnya tadi terus muncul di kepala.
“Keluarga
mafia terbesar…”
“Musuhnya banyak…”
“Dia hidup di situasi itu sejak awal…”
—
Namun yang
Petra lihat sekarang justru bukan sosok “menakutkan”.
Bukan juga
seseorang yang hidup mewah atau penuh pengawal.
Yang ia lihat
cuma Hanin—
cewek yang
lagi latihan basket sendirian di sore hari dengan wajah setenang biasanya.
—
Hanin
akhirnya menangkap keberadaan Petra dari sudut matanya.
Ia
menghentikan dribble sebentar, lalu menoleh.
Tatapan
mereka bertemu.
Dan seperti
biasa—
Hanin tidak
terlihat canggung.
“Ngapain diem
di situ?”
Nada suaranya
santai.
—
Petra
melangkah masuk ke area lapangan perlahan.
“…Liatin lo.”
Jawabannya
jujur banget sampai Hanin sedikit mengangkat alis.
—
Petra
berhenti beberapa meter darinya.
Masih dengan
tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.
Lebih dalam.
Lebih banyak pikiran.
—
Hanin
memegang bola di pinggangnya lalu menatap Petra beberapa detik.
“Kamu
kenapa?”
Petra diam
sebentar.
Lalu akhirnya
menghela napas kecil.
“…Gue baru
ngerti ternyata hidup lo ribet banget.”
Hanin tidak
langsung menjawab.
Hanya memutar
bola basket pelan di tangannya.
—
Angin sore
lewat di antara mereka.
Lapangan
kosong.
Langit mulai berubah jingga.
Dan untuk
pertama kalinya…
Petra tidak
melihat Hanin sebagai seseorang yang “sulit didekati”.
Tapi sebagai
seseorang yang sudah terlalu lama menanggung banyak hal sendirian.
hanya diam
beberapa detik setelah mendengar ucapan Petra.
Bola basket
masih berputar pelan di ujung jarinya.
Lalu…
sudut
bibirnya naik kecil.
Senyum tipis
khas Hanin.
Bukan senyum
lebar.
Tapi cukup hangat
untuk membuat suasana sore itu terasa lebih ringan.
—
“Namanya juga
hidup.”
Jawabannya
santai banget.
Seolah semua
hal besar yang baru Petra ketahui tadi hanyalah bagian biasa dari harinya.
—
Petra
langsung mengernyit kecil.
“…Lo
ngomongnya gampang banget.”
Hanin
memantulkan bola sekali ke lantai.
Duk.
“Kalau
dipikirin terus juga gak selesai.”
—
Petra menatap
Hanin cukup lama.
Dan makin
lama…
dia makin
sadar kenapa Hanin selalu terlihat tenang dalam situasi apa pun.
Bukan karena
hidupnya mudah.
Tapi mungkin
karena dia sudah terlalu terbiasa menghadapi hal-hal berat.
—
Hanin
akhirnya berjalan mendekat sedikit sambil membawa bola basketnya.
“Kamu terlalu
banyak mikir.”
Petra
terkekeh kecil tanpa sadar.
“…Gara-gara
lo.”
“Bukan salah
aku.”
Nada Hanin
tetap santai.
—
Beberapa
detik mereka hanya berdiri diam di tengah lapangan yang mulai kosong.
Lalu Hanin
melempar bola pelan ke arah Petra.
“Nih.”
Petra refleks
menangkapnya.
“Mau main?”
—
Dan entah
kenapa…
kalimat
sederhana itu langsung menghapus sebagian berat di kepala Petra.
Karena di
tengah semua rahasia besar dan dunia rumit di belakang Hanin—
gadis itu
tetap Hanin yang sama di depan dirinya sekarang.
Lapangan
basket sore itu yang tadinya hampir kosong mendadak kembali hidup.
Bukan karena
pertandingan besar.
Bukan juga
karena latihan resmi.
Tapi karena
dua orang yang sekarang ada di tengah lapangan:
Hanin dan
Petra.
—
Awalnya cuma
lempar-lempar bola santai.
Tapi
lama-lama berubah jadi adu skill kecil.
Hanin
bergerak cepat melewati Petra.
Petra balas blocking sambil ketawa kecil.
Sesekali mereka saling sindir ringan.
Dan untuk
pertama kalinya…
Petra
terlihat benar-benar menikmati sesuatu tanpa aura rusuh khasnya.
—
Di pinggir
lapangan—
geng Petra
sudah heboh luar biasa.
Reno sampai
berdiri di tribun sambil memegang kepala.
“GUE MERASA
LIAT DRAMA ROMANCE SPORTS 😭”
“ANJIR MEREKA
COCOK BANGET.”
“PETRA KETAWA
MULU WOY.”
Satu tribun
langsung ribut sendiri.
—
Petra yang
dengar langsung menoleh tajam.
“DIEM GAK SIH
LO SEMUA.”
Namun justru
itu membuat mereka makin heboh.
Karena jelas
banget—
mood Petra
berubah drastis kalau lagi sama Hanin.
—
Di sisi lain
lapangan, Damian datang bersama gengnya sambil membawa minuman dingin.
Cowok itu
berhenti beberapa langkah lalu memperhatikan lapangan.
Dan beberapa
detik kemudian…
ia terkekeh
kecil sendiri.
Temannya
langsung melirik.
“Kenapa?”
Damian
mengangguk kecil ke arah lapangan.
“Liat tuh.”
—
Di tengah
lapangan, Hanin baru saja berhasil merebut bola dari Petra lalu melakukan
lay-up bersih.
Swish.
Petra
langsung mendecakkan lidah kecil.
“Curang.”
Hanin
tersenyum tipis.
“Kamu
lambat.”
“Anjir.”
—
Damian hanya
menggeleng kecil melihat itu.
Dan entah
kenapa…
untuk pertama
kalinya sejak semua masalah besar muncul,
ia bisa
melihat Hanin terlihat benar-benar santai lagi.
Bukan Hanin
yang dijaga.
Bukan Hanin yang jadi target.
Bukan Hanin yang harus waspada terus.
Cuma Hanin—
cewek yang
lagi main basket sore bareng orang yang dia nyamanin.
—
Angin sore
lewat pelan.
Langit mulai
berubah jingga.
Dan di tengah
lapangan itu…
semua
keributan besar dunia mereka terasa sedikit menjauh untuk sementara waktu.
Langit sore
perlahan berubah gelap.
Lampu
lapangan basket mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di
lantai lapangan yang mulai sepi.
Hanin dan
Petra akhirnya berhenti bermain setelah hampir satu jam lebih menghabiskan
waktu di lapangan.
Napas mereka
sedikit berat, keringat tipis terlihat jelas, tapi suasana di antara mereka
terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.
—
Petra
memegang bola basket sambil menghela napas.
“…Lo
stamina-nya gak manusiawi.”
Hanin
mengambil handuk kecil dari bangku pinggir lapangan.
“Kamu aja
yang kurang latihan.”
Petra
langsung tertawa kecil.
“Mulai lagi.”
—
Di pinggir
lapangan, geng Petra masih ribut sendiri membahas pertandingan kecil mereka
tadi.
Sementara
Damian sudah berdiri dekat bangku sambil membawa tas Hanin di satu tangan dan
minuman dingin di tangan lain.
Begitu Hanin
mendekat, Damian langsung menyerahkan botol minum.
“Minum dulu.”
Hanin
menerimanya santai lalu minum beberapa teguk.
—
Damian
memperhatikan wajah adiknya sebentar.
“Kecapekan
gak?”
“Enggak.”
Jawabannya
otomatis banget sampai Damian langsung menyipitkan mata.
“Hanin.”
Gadis itu
menghela napas kecil pasrah.
“…Sedikit.”
“Nah.”
—
Damian membuka
tas Hanin lalu mengeluarkan kotak obat kecil.
Gerakannya
sudah terlalu terbiasa.
“Obat.”
Petra yang
berdiri tidak jauh langsung diam memperhatikan.
Dan seperti
biasa…
ia masih
belum terbiasa melihat sisi rapuh Hanin yang hanya terlihat di depan
keluarganya.
—
Hanin
mengambil obat itu tanpa protes.
“Udah minum
tadi siang belum?”
“Belum lupa.”
Damian
langsung menatap datar.
“Hanin.”
“Aku minum
sekarang ini.”
—
Geng Petra
yang melihat interaksi itu langsung otomatis lebih diam.
Karena mereka
semua tahu—
momen seperti
ini bukan sesuatu yang main-main.
—
Setelah
memastikan Hanin benar-benar minum obatnya, Damian akhirnya sedikit lebih
tenang.
“Oke.”
Lalu ia
menyerahkan tas Hanin.
“Pulang?”
Hanin
mengangguk kecil.
—
Petra berdiri
beberapa langkah dari mereka, memperhatikan Hanin yang kini terlihat jauh lebih
tenang setelah duduk sebentar di bangku lapangan.
Dan di tengah
suasana malam yang mulai turun itu…
Petra sadar
satu hal:
di balik
semua kekuatan Hanin,
ada Damian
dan keluarganya yang selalu memastikan Hanin tetap baik-baik saja setiap hari.
Saat mereka
semua berjalan menuju area parkiran sekolah, suasana sudah jauh lebih tenang.
Sebagian
besar siswa sudah pulang.
Lampu taman sekolah mulai menyala.
Udara malam terasa lebih dingin.
Di kejauhan,
SUV hitam pengawal Hanin dan Damian sudah terlihat terparkir seperti biasa.
Namun begitu
mendekat…
Hanin
langsung berhenti sebentar.
Lalu menatap
datar ke arah pos satpam.
—
Di sana—
dua bodyguard
mereka justru sedang duduk santai bersama satpam sekolah.
Main kartu.
Dan lebih
parahnya lagi…
mereka
terlihat terlalu serius.
“ANJIR TURUN
KING 😭”
“Eh eh jangan
curang.”
“Mana curang
orang gue jujur.”
—
Damian
langsung menutup wajah sebentar sambil menghela napas panjang.
“…Ya Tuhan.”
Petra dan
gengnya yang melihat langsung bengong.
“Hah?”
—
Salah satu
satpam sekolah akhirnya sadar Hanin dan Damian sudah berdiri di depan pos.
Cowok paruh
baya itu langsung terkekeh kecil sambil buru-buru menyimpan kartu.
“Eh non
muda.”
Salah satu
bodyguard ikut menoleh lalu langsung salah tingkah kecil.
“Ah… udah
selesai sekolahnya?”
—
Hanin melipat
tangan sambil menatap datar.
“Kalian kerja
apa ronda gaple?”
Seketika satu
pos satpam langsung ketawa.
—
Dan gongnya—
ternyata
satpam sekolah itu dulunya memang berasal dari yayasan pengawalan yang sama
dengan bodyguard keluarga Hanin.
Mereka pernah
berada di organisasi pengamanan yang sama bertahun-tahun lalu.
Jadi begitu
ketemu…
langsung
akrab seperti reuni bapak-bapak veteran.
—
Damian sampai
geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.
“Pantes dari
tadi gak keliatan.”
Bodyguard
yang satu lagi langsung membela diri.
“Kami
ngawasin kok.”
Satpam
sekolah ikut nimbrung santai.
“Sekalian
nostalgia dikit.”
—
Petra dan
gengnya cuma bisa bengong melihat situasi absurd itu.
Reno bahkan
sampai berbisik pelan,
“Gue kira
bodyguard tuh selalu berdiri keren pake headset…”
Petra
langsung nyengir kecil.
“…Ternyata
main kartu.”
—
Hanin
akhirnya menghela napas kecil pasrah.
Namun sudut
bibirnya tetap naik tipis.
Karena jujur
saja—
ini pertama kalinya
dalam beberapa hari terakhir dia melihat suasana pengawalan terasa normal dan
lucu.
—
Damian
membuka pintu SUV sambil masih terkekeh kecil.
“Ayo pulang
sebelum mereka mulai taruhan motor.”
Ucapan Damian
tadi langsung membuat kedua bodyguard dan satpam sekolah tertawa kecil.
“Taruhan
motor katanya 😭”
“Wah jangan,
nanti kalah sama anak muda.”
Suasana di
depan pos satpam sempat terasa sangat santai.
Namun begitu
Hanin dan Damian mulai berjalan menuju SUV—
kedua
bodyguard itu langsung otomatis berubah mode.
Satu berdiri
lebih dulu membuka pintu mobil.
Satu lagi langsung menyapu area sekitar dengan tatapan tajam.
Perubahannya
cepat sekali.
Dari
bapak-bapak main kartu…
jadi sosok
pengawal profesional dalam hitungan detik.
—
Petra yang
memperhatikan dari jauh sampai menyipitkan mata kecil.
“…Cepet juga
berubahnya.”
Damian
mendengar itu lalu tersenyum tipis.
“Mereka emang
begitu.”
—
Kedua
bodyguard itu bukan orang baru dalam hidup keluarga Hanin.
Mereka sudah
bekerja bersama keluarga itu sejak Hanin masih kecil.
Sudah melihat
Hanin tumbuh.
Sudah menjaga rumah utama bertahun-tahun.
Dan sudah berkali-kali menghadapi situasi berbahaya bersama keluarga mereka.
Jadi meski
suasananya santai…
hubungan
mereka sudah lebih seperti keluarga sendiri.
—
Salah satu bodyguard
bahkan sempat menepuk kepala Hanin pelan waktu dia kecil dulu.
Dan sampai
sekarang masih sering memanggilnya:
“non muda.”
—
Namun di
balik sikap santai itu…
semua orang
yang benar-benar mengenal mereka tahu satu hal:
mereka sangat
berbahaya kalau situasi berubah serius.
—
Mereka bukan
sekadar pengawal biasa.
Setiap orang
dalam tim keamanan keluarga Hanin punya kemampuan masing-masing.
Ada yang ahli
strategi lapangan.
Ada yang spesialis senjata.
Ada yang fokus pengawalan jarak dekat.
Ada juga yang terkenal karena kemampuan bela dirinya yang brutal.
Dan semuanya
punya satu tujuan yang sama:
melindungi
keluarga Hanin apa pun yang terjadi.
—
Hanin masuk
ke dalam mobil lebih dulu, diikuti Damian.
Sementara
salah satu bodyguard menutup pintu lalu menoleh sebentar ke arah Petra dan
gengnya.
“Pulang juga
kalian. Jangan keluyuran.”
Reno langsung
refleks jawab sopan.
“Siap om.”
Petra sampai
melirik heran.
“Tumben
sopan.”
“Takut gue.”
Satu geng
langsung ketawa.
—
Mesin SUV
akhirnya menyala.
Dan sebelum
mobil bergerak, Hanin sempat membuka kaca sedikit lalu menoleh ke arah Petra.
“Hati-hati di
jalan.”
Petra
otomatis mengangguk kecil.
“…Lo juga.”
—
SUV hitam itu
akhirnya pergi meninggalkan area sekolah.
Lampu
belakangnya perlahan menghilang di jalan malam.
Dan Petra
masih berdiri beberapa detik memperhatikan arah mobil itu pergi—
dengan
perasaan yang makin sulit dijelaskan.
Chapter 18 berakhir
To Be Continued...
✦✧✦
✦✧✦












































































Komentar
Posting Komentar