TROUBLE BOY vs TAEKWONDO GIRL : love is the hardest fight


 

Sinopsis

Di sekolah elit paling berkuasa di kota Garuda High School, nama Petra sudah seperti hukum yang tak tertulis. Anak pemilik yayasan sekolah itu terkenal sebagai biang onar, hobi balapan liar, tawuran, merokok di kantin, dan membuat masalah di mana pun dia berada. Bersama gengnya, Trouble Boy, Petra menjadi sosok yang ditakuti murid bahkan guru sekalipun. Tidak ada yang berani melawannya, karena semua tahu satu hal: Petra kebal hukum.

Keluarganya sendiri sudah angkat tangan menghadapi sifat brutalnya. Namun semua berubah saat seorang siswi pindahan bernama Hanin datang.

Cantik, dingin, dan sulit ditebak. Hanin bukan gadis biasa. Ia adalah atlet taekwondo Sabuk Hitam Dan 3 dengan kemampuan bela diri yang membuat siapa pun segan. Di balik wajah tenangnya, Hanin menyimpan rahasia besar, ia berasal dari keluarga konglomerat yang ternyata merupakan keluarga mafia paling berpengaruh di negeri ini.

Hanin datang bersama kakak keempatnya, Damian, siswa pindahan kelas 3 SMA. Sementara Hanin masuk kelas 2 SMA, tepat di sekolah yang selama ini dikuasai Petra.

Pertemuan pertama mereka di kantin menjadi awal kekacauan baru.

Saat Petra mencoba menggoda dan merangkul Hanin seenaknya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya… ada seseorang yang berani melawannya.

Dan dalam hitungan detik, Hanin melintir tangan Petra di depan seluruh anggota Trouble Boy.

Sejak saat itu, Petra sadar satu hal :
semua orang mungkin takut padanya… tapi dirinya mulai takut kehilangan Hanin.




Pembuka Cerita




Asap rokok memenuhi sudut kantin sekolah elit Garuda High School siang itu.

Suara tawa kasar bercampur bunyi korek api terdengar dari meja paling belakang, tempat yang sudah menjadi wilayah kekuasaan geng Trouble Boy.

“Anjir, guru BK tadi mukanya pucet banget pas liat Petra masuk,” celetuk Reno sambil tertawa.

“Ya iyalah,” sahut Petra santai sambil menyender di kursinya. “Dia juga tau siapa yang punya sekolah ini.”

Gelak tawa kembali pecah.

Petra duduk di tengah teman-temannya bak raja tanpa mahkota. Seragamnya berantakan, dasi entah ke mana, sementara rokok terselip santai di sela jarinya. Cowok itu memang terkenal tampan, terlalu tampan malah, sayangnya sifatnya jauh dari kata baik.

Tukang ribut.
Hobi tawuran.
Balapan liar tiap malam.
Dan nyaris gak punya prestasi selain bikin masalah.

Namun semua keburukannya seolah tertutupi oleh satu hal:
dia anak pemilik sekolah.

Tak ada yang berani melawan Petra.

Sampai siang itu…

Pintu kantin terbuka.

Suasana mendadak terasa berbeda ketika seorang gadis masuk dengan langkah tenang. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, wajahnya dingin, tapi cantiknya langsung mencuri perhatian seluruh isi kantin.

Petra yang sedang mengisap rokok langsung berhenti.

“Buset…” gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya, Petra mematung hanya karena melihat seorang cewek.

Di belakang gadis itu berjalan seorang cowok tinggi dengan tatapan tajam

Damian, kakaknya.

“Anak baru?” tanya salah satu anggota Trouble Boy.

Namun Petra sudah lebih dulu bangkit dari duduknya.

Dengan senyum percaya diri, ia berjalan menghampiri Hanin yang sedang mengambil minuman dingin.

“Hai,” sapa Petra santai. “Gue Petra. Kenalan yuk.”

Hanin bahkan tidak menoleh.

Diabaikan untuk pertama kalinya membuat ego Petra terusik.

“Wih, jual mahal?” Petra tertawa kecil lalu tanpa izin merangkul bahu Hanin. “Santai aja kali...”

BUGH!

Dalam satu gerakan cepat, Hanin langsung menangkap tangan Petra dan melintirnya ke belakang.

“ANJIRRR!” Petra refleks meringis kesakitan.

Seluruh kantin mendadak hening.

Anak-anak Trouble Boy melongo tak percaya melihat ketuanya dibuat tak berkutik oleh seorang cewek.

Sementara Hanin menatap Petra dingin tanpa rasa takut sedikit pun.

“Jangan sentuh gue sembarangan,” ucap Hanin tajam.

Petra membeku.

Bukan cuma karena sakit…

Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang mampu membuat Petra kalah dalam sekali gerakan.


Chapter 1





Damian hanya tersenyum kecil melihat tangan Petra yang masih dipelintir Hanin.

Bukannya panik atau berniat membantu, cowok itu malah memasukkan kedua tangannya ke saku celana dengan santai. Tatapannya tenang, seolah kejadian barusan adalah hal biasa.

Karena memang begitu kenyataannya.

Damian tahu betul adik bungsunya itu bukan tipe gadis lemah yang perlu dilindungi setiap saat. Justru orang lainlah yang biasanya perlu diselamatkan dari Hanin.

Dengan langkah santai, Damian memilih duduk di salah satu meja kantin yang kosong. Posisi duduknya sengaja menghadap ke arah Hanin dan Petra.

Jaga-jaga.

Kalau situasi berubah brutal, setidaknya dia masih bisa turun tangan.

Sementara itu Hanin melepaskan tangan Petra begitu saja tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.

Petra langsung menarik tangannya sambil meringis pelan.

“Gila…” gumam Reno pelan dari meja Trouble Boy. “Ketua dilipet cewek.”

“Mulut lo mau gue sobek?” sahut Petra kesal sambil memijat pergelangan tangannya.

Namun anehnya… Petra tidak marah sepenuhnya.

Tatapannya malah terus mengikuti Hanin.

Gadis itu terlihat biasa saja setelah kejadian tadi. Seolah melintir tangan Petra hanyalah aktivitas kecil yang tidak penting.

Hanin berjalan menuju meja pemesanan makanan. Dengan wajah datar ia memesan dua porsi makan dan beberapa minuman dingin.

“Pedes satu jangan banyak sambel,” ucap Hanin singkat pada penjaga kantin.

Setelah pesanannya selesai, Hanin membawa nampan makanan itu dan duduk di depan Damian.

“Kak, makan.”

Damian mengangguk kecil sambil mengambil minumannya.

“Lumayan juga sambutan sekolah barumu,” godanya pelan.

Hanin menatap datar.
“Cowok aneh.”

Damian terkekeh kecil.

Di sisi lain kantin, Petra kembali duduk bersama anggota Trouble Boy. Namun kali ini suasananya berubah total.

Tak ada lagi tawa.
Tak ada lagi candaan.

Semua anggota geng menatap ke arah meja Hanin dan Damian dengan sorot tajam.

Sementara beberapa murid lain mulai berbisik pelan.

“Itu anak baru berani banget…”

“Dia gak tau Petra siapa apa?”

“Kayaknya bakal ada perang…”

Udara kantin mendadak terasa berat.

Satu sisi adalah Trouble Boy, penguasa sekolah yang ditakuti semua murid.

Sisi lain adalah Hanin dan Damian, dua murid pindahan yang datang tanpa rasa takut sedikit pun.

Tatapan Petra dan Hanin sempat bertemu lagi.

Tidak ada senyum.
Tidak ada kata-kata.

Tapi seluruh isi kantin bisa merasakan satu hal…

Kalau dua kubu itu bertabrakan, sekolah ini tidak akan pernah tenang lagi.

Bel sekolah akhirnya berbunyi nyaring, memecah suasana tegang di kantin.

Satu per satu murid mulai keluar, meski sebagian masih melirik takut ke arah meja Trouble Boy dan meja Hanin.

Petra berdiri lebih dulu sambil memasukkan tangan ke saku celana. Tatapannya belum lepas dari Hanin sedetik pun.

“Ketua… fix tuh cewek nyari mati,” bisik salah satu anggota gengnya.

Petra malah menyeringai tipis.

“Enggak,” jawabnya pelan. “Dia menarik.”

Reno sampai melotot.
“HAH?”

Namun Petra sudah berjalan lebih dulu menuju kelas.

Di sisi lain, Hanin dan Damian sedang berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru untuk pembagian kelas.

“Lo yakin gak mau gue anter sampai kelas?” tanya Damian santai.

“Emang aku anak TK?” balas Hanin datar.

Damian terkekeh kecil.
“Yaudah. Kalau ada yang ganggu...”

“Mereka yang kasihan.”

Jawaban Hanin sukses bikin Damian ngakak kecil sambil mengacak rambut adiknya.

Begitu sampai di ruang guru, wali murid langsung memberikan jadwal dan informasi kelas.

“Damian kelas 3-A.”

Damian mengangguk santai.

Lalu guru itu melihat Hanin sambil tersenyum ramah.

“Dan Hanin… kamu di kelas 2-B.”

Hanin menerima kertas jadwalnya tanpa banyak respon.

Namun beberapa detik kemudian…

Damian yang membaca papan pembagian kelas mendadak diam.

“…Hah?”

“Ada apa?” tanya Hanin.

Damian menunjukkan daftar nama di papan.

Dan tepat di urutan paling atas kelas 2-B tertulis jelas :

PETRA WIJAYA.

Hanin menaikkan satu alis.

Sementara Damian langsung menahan tawa.

“Wah…” gumamnya pelan. “Kayaknya sekolah ini bakal hancur.”

Saat Hanin masuk ke kelas 2-B untuk pertama kalinya, suasana langsung berubah heboh.

“Anjir cewek kantin tadi!”

“Yang bikin Petra nyaris copot tangan?”

“Gila cantik banget…”

Namun langkah Hanin berhenti saat melihat satu sosok duduk santai di kursi paling belakang.

Petra.

Cowok itu yang awalnya rebahan di kursi langsung duduk tegak begitu melihat Hanin masuk.

Tatapan mereka kembali bertemu.

Dan sedetik kemudian…

“HAHAHAHAHA!”

Satu kelas kaget saat Petra malah tertawa keras sambil menepuk meja.

“Gue mimpi apa hari ini?” katanya sambil menyeringai lebar. “Ternyata kita sekelas.”

Hanin memalingkan wajah malas lalu memilih duduk di dekat jendela.

Petra terus memperhatikannya tanpa malu-malu.

“Nama lo Hanin, kan?”

Tidak dijawab.

“Lo jutek banget sih.”

Tetap diam.

“Gue suka.”

BUK!

Satu buku melayang tepat mengenai kepala Petra.

“WOY!” Petra refleks memegangi kepalanya.

Sementara Hanin masih menatap lurus ke depan dengan wajah datar.

“Berisik.”

Satu kelas langsung hening.

Lalu…

BRAK!

Tawa anggota kelas pecah seketika melihat Petra dipermalukan dua kali dalam sehari.

Dan anehnya…

Bukannya marah, Petra malah makin tertarik.

Hari-hari berikutnya, seluruh sekolah mulai mengenal siapa Hanin sebenarnya.

Bukan cuma cantik dan dingin.

Tapi juga mengerikan.

Hanin ternyata atlet taekwondo Sabuk Hitam Dan 3 yang sudah berkali-kali membawa pulang medali sejak SMP di kejuaraan Youth Olympic Games bahkan lulus seleksi olimpiade senior.

Tak hanya itu, dulu di sekolah lamanya Hanin juga merupakan pemain inti tim basket wanita.

Karena itu, tanpa ragu Hanin langsung mendaftar dua ekskul sekaligus di sekolah barunya:

🏀 Basket
🥋 Taekwondo

Dan sejak nama Hanin masuk daftar anggota kedua ekskul itu…

Semua murid sadar satu hal.

Cewek pindahan itu bukan karakter figuran biasa.

Dia adalah badai baru di sekolah Petra.

Hari-hari berlalu sejak kedatangan Hanin di Garuda High School.

Dan seperti yang diperkirakan banyak orang…

Sekolah itu mulai berubah jauh lebih “hidup”.

Entah karena Petra yang sekarang lebih sering memperhatikan kelas daripada bikin onar, atau karena keberadaan Hanin yang perlahan menjadi pusat perhatian baru.

Hari ini suasana sekolah jauh lebih ramai dari biasanya.

Karena setiap ekskul sedang mengadakan latihan rutin di zona masing-masing.

Lapangan basket penuh suara pantulan bola.
Ruang musik dipenuhi suara gitar.
Sementara area bela diri di gedung belakang sudah dipadati anggota taekwondo.

Hanin berjalan masuk ke area latihan dengan tas hitam di pundaknya. Rambutnya diikat tinggi sederhana, memperlihatkan wajah dingin yang tetap cantik bahkan tanpa usaha.

“Eh itu Hanin…”

“Katanya dia atlet nasional ya?”

“Yang bikin Petra kalah itu kan?”

Bisik-bisik langsung terdengar di mana-mana.

Namun Hanin tetap tenang.

Pelatih taekwondo yang melihat Hanin langsung menghampiri dengan wajah antusias.

“Kamu Hanin, kan? Saya dengar kamu Sabuk Hitam Dan 3?”

Hanin mengangguk kecil.
“Iya, Coach.”

“Wah… bagus. Hari ini latihan sparring ringan dulu.”

Beberapa anggota ekskul langsung saling pandang gugup.

Karena aura Hanin benar-benar beda.

Di sisi lain lapangan basket, Hanin juga sempat berkenalan dengan anggota tim basket wanita.

Berbeda dengan saat di kelas, kali ini Hanin sedikit lebih ramah.

Namanya cepat dikenal karena kemampuan shooting-nya yang luar biasa.

Bahkan saat pemanasan saja, hampir semua tembakannya masuk tanpa menyentuh ring.

“Gila… keren banget…”

“Dia beneran pindahan SMA biasa?”

Namun perhatian terbesar hari itu tetap tertuju pada latihan taekwondo.

Sore mulai turun ketika sesi sparring dimulai.

Banyak murid dari ekskul lain mulai berkumpul di sekitar area latihan hanya untuk menonton.

Termasuk anggota Trouble Boy.

Dan tentu saja…

Petra.

Cowok itu duduk santai di tribun kecil sambil memainkan korek api di tangannya.

“Ngapain kita nonton beginian sih?” protes Reno.

Petra tetap menatap lurus ke arena.

“Diam.”

Tak lama kemudian pelatih memanggil nama Hanin.

“Hanin, maju.”

Hanin melangkah ke tengah arena dengan tenang memakai seragam dobok putihnya.

Dan detik itu juga…

Suasana berubah.

Aura Hanin yang biasanya dingin mendadak terasa jauh lebih tajam.

Lawan sparring-nya adalah senior laki-laki tingkat sabuk merah yang terkenal kuat di sekolah itu.

Beberapa murid langsung tegang.

“Buset… lawannya senior?”

“Apa gak bahaya?”

Pelatih meniup peluit.

PRANG!

Dalam satu gerakan cepat, kaki Hanin langsung melayang tinggi.

DUAK!

Tendangan roundhouse-nya nyaris tak terlihat saking cepatnya.

Senior itu bahkan mundur dua langkah karena syok.

Sorakan langsung pecah.

Namun itu baru permulaan.

Gerakan Hanin benar-benar seperti air.

Cepat.
Presisi.
Dan mematikan.

Tendangan demi tendangan dilepaskan tanpa ragu.

BRAK!
DUAK!
BUGH!

Seluruh area latihan mulai hening.

Mereka bukan lagi menonton latihan…

Mereka sedang menyaksikan monster.

Bahkan beberapa anggota cowok mulai merinding melihat cara Hanin bertarung.

Sampai akhirnya...

DUAAK!

Hanin melompat memutar di udara dan melepaskan spinning kick sempurna tepat beberapa senti dari wajah lawannya.

Angin dari tendangan itu saja sudah cukup membuat senior tersebut membeku.

Pelatih langsung meniup peluit keras.

“STOP!”

Arena mendadak sunyi.

Senior tadi bahkan terlihat berkeringat dingin.

Sementara Hanin berdiri tegak tanpa napas terengah sedikit pun.

Tenang.

Dingin.

Seolah semua tadi hanyalah pemanasan biasa.

Dan untuk pertama kalinya…

Satu sekolah benar-benar memahami kenapa Petra bisa dibuat tak berkutik oleh Hanin.

Di tribun, Reno menelan ludah pelan.

“…Ketua.”

Petra tidak menjawab.

Tatapannya masih terkunci pada Hanin.

Lalu perlahan…

Cowok itu tersenyum kecil.

“Anjir…”

“Gue makin suka.”



Sorakan di area taekwondo belum juga mereda setelah kemenangan pertama Hanin.

Malah semakin banyak murid berdatangan.

Anak basket.
Anak futsal.
Anak musik.
Sampai ekskul dance pun mulai memenuhi pinggir lapangan hanya untuk melihat langsung siswi pindahan yang sedang jadi pembicaraan satu sekolah.

“Serius itu cewek masih kelas 2?”

“Gerakannya kayak atlet nasional…”

“Gila keren banget…”

Bahkan beberapa guru yang awalnya hanya lewat akhirnya ikut berhenti menonton.

Area latihan taekwondo yang biasanya sepi mendadak berubah seperti arena kejuaraan besar.

Riuh.
Penuh.
Dan menegangkan.

Pelatih sampai menghela napas melihat kerumunan yang makin tidak terkendali.

“Baik,” ucapnya sambil menatap Hanin. “Sparing kedua.”

Bisik-bisik langsung pecah lagi.

“Kedua?”

“Masih lanjut?”

Lalu pelatih memanggil salah satu senior terbaik ekskul.

Cowok tinggi dengan badan atletis maju ke arena sambil mengencangkan sabuk hitamnya.

Dan kali ini…

Suasana benar-benar berubah serius.

“Itu Kak Reza…”

“Woy dia juara provinsi tahun lalu…”

“Kalau lawan dia mah beda level.”

Beberapa orang mulai menatap Hanin khawatir.

Namun Hanin tetap tenang seperti biasa.

Ia melangkah ke tengah arena tanpa sedikit pun terlihat gugup.

Di pinggir lapangan, Damian bersandar santai di pagar besi sambil melipat tangan di dada.

Tatapannya penuh kebanggaan melihat adik bungsunya berdiri di tengah arena.

Sejak kecil, Hanin memang selalu seperti itu.

Kecil.
Tenang.
Tapi mematikan.

Peluit dibunyikan.

PRITTT!

Detik berikutnya...

BRAK!

Reza menyerang lebih dulu dengan tendangan cepat ke arah kepala.

Namun Hanin menghindar dengan gerakan ringan seolah sudah membaca arah serangan sejak awal.

“Cepet banget…” gumam seseorang kagum.

DUAK!

Hanin langsung membalas dengan side kick keras ke arah perut lawannya.

Reza menahan, tapi tubuhnya tetap terdorong mundur.

Sorakan penonton makin menggila.

“WOYYYY!”

“GILAAA!”

Namun sparing kali ini jauh lebih brutal.

Reza bukan lawan sembarangan.

Beberapa kali ia berhasil menyerang balik dan memaksa Hanin bertahan.

Suara benturan pelindung tubuh terus terdengar keras memenuhi lapangan.

BRAK!
DUAK!
BUGH!

Kerumunan makin padat.

Guru-guru sampai harus menyuruh murid mundur karena area sudah terlalu penuh.

Latihan ekskul lain benar-benar berhenti total.

Semua perhatian sekarang hanya tertuju pada satu tempat:

Arena taekwondo.

Petra yang berdiri paling depan sampai tak berkedip melihat pertarungan itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Ia melihat seseorang bertarung seindah itu.

Dan kemudian...

Hanin bergerak.

Satu langkah maju.
Putaran cepat.
Tubuhnya melayang ringan di udara.

DUAAAAK!

Spinning hook kick Hanin mendarat sempurna tepat di pelindung kepala Reza.

Arena langsung meledak.

“GILAAAAAA!”

Reza kehilangan keseimbangan dan jatuh satu lutut.

Pelatih meniup peluit keras.

“POINT! HANIN!”

Dan beberapa detik kemudian…

“PERTANDINGAN SELESAI!”

Hanin menang lagi.

Sunyi sesaat menyelimuti lapangan.

Sebelum akhirnya…

TEPUK TANGAN DAN SORAKAN PECAH DI SELURUH AREA.

Bahkan guru olahraga ikut bertepuk tangan kagum.

“Anak itu luar biasa…”

“HIGH SCHOOL LEVEL rasa nasional…”

“Hanin monster…”

Sementara Hanin hanya membungkuk hormat pada lawannya dengan napas tetap stabil.

Tidak sombong.
Tidak banyak bicara.

Justru sikap tenangnya itu yang membuat semua orang makin kagum.

Di pinggir lapangan, Damian tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.

“Bocah itu…” gumamnya bangga.

Sementara Petra masih diam menatap Hanin tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya…

Cowok paling berandalan di sekolah itu merasa jantungnya berdebar bukan karena tawuran.

Tapi karena seorang gadis bernama Hanin.

Riuh tepuk tangan masih memenuhi area taekwondo saat Hanin berdiri tegak di tengah arena.

Keringat tipis membasahi pelipisnya, namun napasnya tetap stabil. Tidak terlihat kelelahan berlebihan meski baru saja menghadapi dua sparing berat berturut-turut.

Pelatih berjalan mendekat sambil tersenyum bangga.

“Good job, Hanin.”

Hanin membungkuk hormat singkat.
“Terima kasih, Coach.”

Lalu tanpa ada sikap sombong sedikit pun, Hanin berjalan menghampiri lawan sparing pertamanya lebih dulu.

Cowok senior itu sempat terlihat canggung.

Namun Hanin mengulurkan tangan lebih dulu.

“Terima kasih untuk sparing-nya.”

Senior itu langsung tersenyum kagum lalu membalas jabat tangan Hanin.

“Gila… lo keren banget.”

Hanin hanya tersenyum tipis.

Tak berhenti sampai di situ, Hanin bahkan menepuk bahu senior tersebut sebelum mereka saling berpelukan singkat layaknya sesama atlet yang saling menghormati.

Sorakan kecil langsung terdengar dari penonton.

“Wahhhh…”

“Sportif banget…”

Setelah itu Hanin berjalan menuju Reza, lawan sparing keduanya.

Reza yang tadi sempat dibuat jatuh satu lutut malah tertawa kecil sambil menggeleng kagum.

“Serius deh,” katanya sambil menerima uluran tangan Hanin. “Lo cewek paling ngeri yang pernah gue lawan.”

Hanin terkekeh pelan untuk pertama kalinya hari itu.

“Maaf kalau terlalu keras.”

“TERLALU KERAS KATANYA!” teriak salah satu anggota taekwondo yang langsung mengundang tawa seisi lapangan.

Reza ikut tertawa lalu menarik Hanin ke pelukan singkat penuh respect.

Dan detik itu…

Banyak orang sadar kalau Hanin bukan cuma kuat.

Tapi juga punya attitude seorang atlet sejati.

Tidak arogan.
Tidak cari perhatian.
Dan tahu cara menghargai lawan.

Hal itu justru membuat orang-orang makin respek padanya.

Di pinggir lapangan, beberapa siswi mulai heboh sendiri.

“Anjir dia keren banget…”

“Cantik, kuat, sopan lagi…”

“Perfect banget gak sih?”

Sementara anggota Trouble Boy hanya bisa melongo.

Reno sampai menepuk pundak Petra pelan.

“Ketua…”

“Hm?”

“Kayaknya kali ini lo bukan jatuh cinta biasa.”

Petra masih menatap Hanin yang sedang berbicara santai dengan anggota ekskul taekwondo lain.

Lalu cowok itu menyeringai kecil.

“Ya gimana…”

“Dia keren banget.”


Chapter 2


Latihan ekskul akhirnya selesai menjelang sore.

Namun suasana sekolah masih belum benar-benar tenang setelah aksi Hanin di arena taekwondo tadi.

Namanya mendadak jadi topik utama satu sekolah.

Bahkan murid-murid yang tidak sempat menonton langsung mulai mencari video sparing Hanin yang sudah tersebar di grup sekolah.

Di dalam ruang ganti khusus ekskul taekwondo, Hanin selesai mandi dan mengganti pakaian latihannya.

Berbeda dari penampilannya saat memakai seragam sekolah, kali ini auranya terasa jauh lebih santai.

Hoodie putih oversized menutupi tubuhnya.
Celana abu-abu gombrang membuat penampilannya terlihat effortless tapi elegan.
Rambut panjangnya diikat asal ke belakang, justru membuat wajah cantiknya semakin menonjol.

Saat Hanin keluar dari ruangan ekskul sambil membawa helm hitam di tangan, beberapa anggota taekwondo langsung menoleh.

“Buset…”

“Dia cocok jadi model…”

“Cantik banget anjir…”

Namun Hanin tetap berjalan santai tanpa terlalu peduli dengan tatapan orang-orang.

Tak lama kemudian Damian datang menyusul dari arah parkiran gedung kelas.

Cowok itu juga sudah mengganti seragamnya dengan pakaian santai serba hitam. Tinggi badannya dan wajah dinginnya langsung menarik perhatian banyak siswi.




“Hanin,” panggil Damian sambil memainkan kunci mobil di jarinya. “Pulang.”

Hanin mengangguk kecil.

“Mau ikut gue?” tanya Damian santai.

Namun Hanin langsung menggeleng.

“Enggak. Aku bawa motor.”

Damian tertawa kecil seolah sudah menduga jawaban itu.

“Oke. Jangan ngebut.”

“Kak Damian juga.”

Mereka lalu berjalan berdampingan menuju area parkir depan sekolah.

Dan detik berikutnya…

Satu area parkiran langsung heboh.

Karena mobil yang dibuka Damian bukan mobil biasa.

BMW hitam doff dengan tampilan elegan dan aura mahal langsung membuat banyak siswa melongo.

“Anjir BMW…”

“Itu mobil harganya berapa…”

“Fix crazy rich.”

Namun keterkejutan mereka belum selesai.




Karena di sisi lain, Hanin berjalan menuju motor sport merah hitam miliknya.

Ducati.

Motor itu berdiri mencolok di antara kendaraan siswa yang lain.

Bahkan beberapa cowok otomotif langsung refleks mendekat karena tidak percaya.

“WOY DUCATI?!”

“Itu motor impian gue jir…”

“Gak mungkin anak SMA bawa beginian…”




Petra yang baru keluar gedung bersama Trouble Boy langsung berhenti melangkah saat melihat pemandangan itu.

Reno sampai melongo.

“Ketua…”

“Apalagi sekarang?”

“Cewek lo ternyata sultan.”

Petra tidak menjawab.

Tatapannya justru fokus pada Hanin yang sedang memakai helm full face dengan santai.

Aura Hanin sekarang benar-benar berbeda.

Cantik.
Elegan.
Dan mahal.

Sementara Damian bersandar santai di pintu BMW-nya sambil memperhatikan adiknya.

Beberapa guru bahkan ikut terdiam melihat kendaraan dua murid pindahan itu.

“Pantesan auranya beda…”

“Mereka anak keluarga besar kayaknya…”

Namun tak ada satu pun yang tahu…

Bahwa keluarga Hanin bukan sekadar konglomerat biasa.

Dan rahasia itu akan perlahan mengubah seluruh hidup Petra.

Langit sore mulai berubah jingga saat Hanin melajukan Ducati-nya membelah jalanan kota.

Suara mesin motornya yang halus namun bertenaga sukses menarik perhatian banyak orang di jalan.

Namun Hanin terlihat santai.

Satu tangan memegang gas, sementara playlist musik pelan mengalun dari headset kecil di balik helmnya.

Berbeda dengan yang dibayangkan banyak orang, Hanin tidak tinggal bersama orang tua maupun kakak-kakaknya.

Bukan karena hubungan mereka buruk.

Justru sebaliknya.

Keluarga Hanin terlalu besar… dan terlalu berbahaya.

Rumah utama keluarga mereka hampir setiap hari dipenuhi tamu penting, pengusaha, pejabat, hingga orang-orang berpengaruh lainnya. Keamanan di sana sangat ketat dan tidak pernah benar-benar tenang.

Dan yang paling penting...

Tak banyak orang tahu kalau keluarga itu memiliki anak perempuan semata wayang.

Hanin sengaja “disembunyikan” demi keamanan.

Karena itulah Hanin memilih tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah dekat pusat kota.

Apartemen luas dengan keamanan tinggi dan privasi yang sulit ditembus siapa pun.

Damian sendiri kadang datang menginap untuk memastikan adiknya baik-baik saja.

Sebelum pulang, Hanin membelokkan motornya ke sebuah minimarket dekat apartemen.

Tempat itu memang jadi langganannya karena suasananya lebih sepi dan nyaman dibanding supermarket besar.

Hanin melepas helmnya lalu masuk santai ke dalam minimarket.

Pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang lelah setelah latihan.

Dengan langkah ringan, Hanin mengambil beberapa barang favoritnya:

🍜 Ramen instan pedas
🍙 Onigiri tuna
🥤 Minuman soda dingin

“Besok stok ramen habis lagi kayaknya…” gumam Hanin kecil sambil memasukkan beberapa cup ramen ke keranjang.

Namun baru saja ia berbelok ke lorong minuman...

“WOY KETUA LIAT!”

Suara keras itu membuat Hanin berhenti melangkah.

Dan saat menoleh…

Hanin langsung melihat segerombolan cowok berdiri tak jauh darinya.

Trouble Boy.

Lengkap.

Termasuk Petra yang berdiri paling depan sambil memegang kaleng kopi dingin.

Beberapa detik suasana minimarket langsung terasa awkward.

Reno melongo.
“Anjir… ketemu lagi.”

Sementara anggota geng lain saling sikut sambil menahan heboh.

Petra sendiri terlihat sama terkejutnya.

Namun sedetik kemudian cowok itu malah menyeringai kecil.

“Takdir banget gak sih?”

Hanin memalingkan wajah malas lalu kembali memilih minuman seolah tidak peduli.

Petra langsung mendekat.

“Lo tinggal sekitar sini?”

“Penasaran banget hidup orang.” sahut Hanin.

“Ya siapa tau tetanggaan.”

Hanin menutup pintu kulkas minuman lalu menatap Petra datar.

“Kalau tetanggaan juga gak penting buat gue.”

“Jahat amat.”

Reno dan anggota Trouble Boy lain cuma bisa melongo melihat Petra yang biasanya galak sekarang malah seperti anak anjing nyari perhatian.

Dan itu pemandangan paling langka di sekolah.

Petra memperhatikan isi keranjang Hanin lalu tertawa kecil.

“Ramen lagi?”

“Kenapa?”

“Gak sehat.”

Hanin menaikkan satu alis.
“Rokok sehat?”

“…Yaudah itu nyerang.”

Beberapa anggota geng langsung ngakak kecil mendengar Petra dibalas mentah-mentah lagi.

Namun anehnya…

Tidak ada ketegangan seperti sebelumnya.

Suasana minimarket justru terasa lebih ringan.

Meski Hanin tetap dingin seperti biasa.

Dan tanpa mereka sadari…

Pertemuan kecil di minimarket dekat apartemen itu menjadi awal Petra mulai masuk perlahan ke dunia Hanin.

Setelah membayar semua belanjaannya, Hanin tidak langsung pulang.

Ia justru berjalan ke area makan kecil di samping minimarket, tempat dengan meja kaca sederhana yang menghadap langsung ke jalanan sore kota.

Daerah sekitar apartemennya memang cenderung tenang.

Tidak terlalu ramai.
Tidak terlalu bising.

Hanya suara kendaraan sesekali lewat dan angin sore yang terasa nyaman.

Hanin mengambil satu cup ramen pedas lalu meminta air panas pada penjaga minimarket.

Beberapa menit kemudian aroma ramen hangat mulai memenuhi meja kecilnya.

Hanin membuka helmnya sepenuhnya lalu duduk santai di kursi dekat jendela kaca.

Hoodie putih oversized yang dipakainya membuat penampilannya terlihat jauh lebih lembut dibanding saat berada di arena taekwondo tadi.

Rambutnya yang masih sedikit lembap terikat asal, memberi kesan santai namun tetap elegan.

Dengan tenang Hanin mulai memakan ramen-nya.

Suapan pertama langsung membuatnya menghela napas puas kecil.

“Ah… enak.”

Hari mulai berubah semakin sore.

Langit jingga memantul di kaca minimarket sementara jalanan depan terlihat damai dan cukup sepi.

Bagi Hanin…

Momen seperti ini adalah favoritnya.

Duduk sendiri.
Makan makanan sederhana.
Menikmati suasana tenang tanpa keramaian keluarga besar atau penjagaan ketat.

Karena sesibuk apa pun hidupnya…
Hanin tetap hanya seorang gadis SMA yang suka menikmati ketenangan kecil.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Karena dari dalam minimarket, beberapa pasang mata masih memperhatikan Hanin diam-diam.

“Ketua…” bisik Reno pelan sambil melirik ke arah luar kaca.

Petra bersandar santai dekat rak snack sambil menatap Hanin yang sedang makan ramen.

Tatapannya jauh lebih tenang dibanding biasanya.

“Hmm?”

“Lo serius suka sama dia?”

Petra diam beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya naik pelan.

“Kayaknya…”

“Gue udah telat buat mundur.”

Reno langsung menatap ketuanya tidak percaya.

Karena baru kali ini mereka melihat Petra memandang seseorang dengan tatapan sehalus itu.

Sementara di luar sana…

Hanin masih menikmati ramen hangatnya tanpa sadar bahwa dirinya perlahan mulai menjadi pusat dunia seseorang bernama Petra.

Cup ramen di meja Hanin akhirnya kosong.

Ia merapikan sampahnya sendiri lalu membuangnya ke tempat sampah dekat pintu minimarket sebelum mengambil kantong belanja dan helmnya.

Angin sore berhembus pelan saat Hanin berjalan menuju parkiran depan minimarket.

Jalanan mulai lebih sepi.
Lampu-lampu kota perlahan menyala satu per satu.

Hanin berhenti di depan Ducati miliknya lalu mulai memakai helm.

Namun baru saja tangannya hendak menyalakan motor...

“Hanin.”

Suara itu membuatnya berhenti.

Petra berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan kedua tangan di saku hoodie hitamnya. Anggota Trouble Boy lain masih berada di dekat pintu minimarket sambil memperhatikan dari jauh.

Tatapan Petra kali ini berbeda.

Tidak sejahil biasanya.
Tidak main-main.

Hanin melepas kembali helmnya lalu menoleh datar.

“Apa?”

Petra berjalan mendekat pelan.

“Gue cuma mau ngobrol.”

Hanin langsung menatap tajam.

“Berhenti di situ.”

Langkah Petra otomatis terhenti.

Entah kenapa, nada suara Hanin yang tenang justru terasa jauh lebih mengintimidasi dibanding orang marah.

Lampu jalan memantulkan sorot mata Hanin yang dingin… tapi anehnya tetap teduh.

Tidak meledak-ledak.
Tidak kasar.

Namun cukup membuat siapa pun sadar kalau dia serius.

“Kalau mau selamat,” ucap Hanin pelan, “jangan macam-macam sama gue.”

Suasana parkiran langsung hening.

Reno bahkan refleks mundur setengah langkah.

Karena aura Hanin benar-benar berubah.

Tenang…
tapi berbahaya.

Petra menatap Hanin beberapa detik tanpa bicara.

Anehnya, bukannya takut, cowok itu malah tersenyum kecil.

“Lo selalu ngomong kayak mau bunuh orang ya?”

“Karena banyak orang gak ngerti batas.” Sahut Hanin.

Petra mengangguk pelan seolah memahami.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membalas dengan candaan.

Tatapan Petra turun sesaat ke tangan Hanin yang memegang helm, lalu kembali ke wajah gadis itu.

“Gue gak bakal nyakitin lo.”

Jawaban itu membuat Hanin diam sebentar.

Angin sore kembali lewat di antara mereka.

Jalanan depan minimarket tetap tenang, seolah dunia luar tidak peduli dengan ketegangan kecil yang sedang terjadi.

Lalu Hanin akhirnya memakai helmnya kembali.

“Bagus.”

BRUMMM...

Suara mesin Ducati menyala halus.

Sebelum pergi, Hanin sempat menoleh sebentar ke arah Petra.

“Jangan ikutin gue.”

Dan detik berikutnya motor sport itu melesat meninggalkan parkiran.

Petra tetap berdiri diam memperhatikan lampu belakang Ducati Hanin yang perlahan menghilang di ujung jalan.

Sampai Reno berjalan mendekat sambil melongo.

“…Ketua.”

“Hm?”

“Itu cewek auranya kayak villain utama.”

Petra terkekeh kecil sambil memasukkan tangan ke saku.

“Iya.”

“Tapi cantik.”

Pukul tujuh malam.

Hanin akhirnya sampai di apartemennya.

Lift privat membawanya langsung menuju lantai atas tempat unitnya berada. Begitu pintu apartemen terbuka, suasana hangat dan tenang langsung menyambutnya.

Apartemen Hanin terlihat luas namun nyaman.

Interior modern dominan abu dan putih, jendela kaca besar menghadap gemerlap kota malam, serta pencahayaan hangat yang membuat tempat itu terasa damai.

Begitu masuk, Hanin langsung meletakkan helm dan kunci motornya di meja dekat pintu.

“Huft…”

Ia melepas hoodie putihnya lalu menggantungnya asal di kursi ruang tamu.

Kini Hanin hanya memakai kaos hitam oversized dan celana training longgar.

Aura dinginnya di sekolah langsung hilang.

Di apartemen ini…
Hanin hanyalah gadis biasa yang ingin istirahat.

Ia mulai merapikan belanjaannya ke kulkas kecil dan rak dapur.

Ramen masuk lemari.
Onigiri masuk kulkas.
Soda dingin langsung dibuka satu.

PSSTT...

Hanin meneguk minumannya sambil berjalan santai menuju sofa.

Televisi dinyalakan.
Game console ikut menyala.

Tak lama kemudian Hanin sudah duduk selonjoran di sofa sambil bermain game dengan ekspresi santai.

Sesekali suara ledakan game memenuhi ruang tamunya.

Namun beberapa menit kemudian...

BZZZT
BZZZT
BZZZT

Ponselnya yang tergeletak di meja terus bergetar tanpa henti.

Hanin mengernyit lalu mengambil HP-nya.

Dan detik itu juga matanya langsung menyipit kecil.

“Apaan ini…”

Notifikasi benar-benar membludak.

📱 Anda ditambahkan ke Grup Kelas 2-B
📱 Anda ditambahkan ke Grup Basket Putri
📱 Anda ditambahkan ke Grup Taekwondo GHS
📱 Anda ditambahkan ke Grup Informasi Sekolah

Belum selesai.

Puluhan chat pribadi juga ikut masuk bersamaan.

💬 Hai Hanin salam kenal aku Nisa anak basket
💬 Keren banget tadi sparingnya!
💬 Hanin rumahnya mana?
💬 Boleh kenalan gak?
💬 Kak Hanin cantik banget…

Hanin langsung menghela napas panjang sambil menyender ke sofa.

Nomornya ternyata sudah tersebar ke satu sekolah.

Dan yang paling parah…

Nama kontak yang muncul berikutnya membuat Hanin memejamkan mata pelan.

💬 Petra

“Udah sampe rumah?”

💬 Reno Trouble Boy

“WOI KETUA MINTA DIBALES”

💬 Adit TB

“Salam kenal calon kakak ipar ketua 🙏

💬 Petra

“Ignore temen-temen gue.”

💬 Petra

“Tapi bales gue.”

Hanin: “…”

Belum sempat ia membalas apa pun...

TING!

Grup kelas mendadak heboh.

📱 Petra mengubah nama grup menjadi :
🔥 2-B ISI ORANG GILA 🔥

📱 Reno :

WOI ADA HANIN WOI JAGA IMAGE

📱 Petra :

telat

📱 Siswa lain :

PETRA JANGAN NAKUTIN ANAK BARU ANJIR

📱 Petra :

gue ramah

📱 Satu grup :

BOHONG

Untuk pertama kalinya hari itu…

Hanin tertawa kecil.

Pelan sekali.
Hampir tidak terdengar.

Lalu ia menyandarkan kepala ke sofa sambil menatap langit malam kota dari balik jendela apartemennya.

Sekolah barunya benar-benar jauh lebih ribut dari yang ia bayangkan.

Dan entah kenapa…

Itu tidak terlalu buruk.


Chapter 3



Pagi di Garuda High School masih terasa sangat sepi.

Kabut tipis pagi belum sepenuhnya hilang, sementara embun masih menempel di rumput lapangan sekolah yang luas.

Biasanya jam segini sekolah masih kosong.

Belum banyak guru datang.
Belum ada keributan murid.
Dan koridor sekolah masih sunyi.

Namun satu sosok sudah lebih dulu berada diarea lapangan.




Hanin.

Gadis itu sudah terbiasa bangun pagi untuk olahraga sejak kecil. Bahkan sebelum sekolah dimulai, tubuhnya sudah otomatis ingin bergerak.

Dengan pakaian olahraga serba hitam dry-fit, fit body dan celana pendek di atas lutut. Hanin berlari santai mengelilingi lapangan sekolah.

Rambut panjangnya diikat tinggi, bergerak mengikuti langkahnya.

Napasnya stabil.
Langkahnya ringan.

Udara pagi yang dingin justru membuat Hanin terlihat semakin hidup.

Beberapa petugas sekolah yang datang lebih awal sampai diam memperhatikan dari jauh.

“Anak baru itu rajin banget…”

“Pantes fisiknya kayak atlet.”

Sementara Hanin tetap fokus pada larinya.

Earphone kecil terpasang di telinganya.
Playlist musik pagi mengalun pelan menemani langkahnya.




Namun ketenangan pagi itu mendadak berubah saat suara mesin mobil terdengar memasuki area parkir sekolah.

GRRRR...

Sebuah jeep hitam doff berhenti cukup kasar dekat lapangan.

Mobil yang sangat familiar bagi satu sekolah.

Petra and The Gang.

Aneh memang.

Biasanya mereka selalu datang paling mepet bahkan sering terlambat.

Tapi pagi ini justru muncul saat sekolah bahkan belum benar-benar buka.

Pintu jeep terbuka satu per satu.

Reno turun sambil menguap.
“Ngantuk anjir…”

“Makanya jangan main PS sampe jam tiga,” sahut yang lain.

Namun Petra yang turun paling akhir mendadak diam.

Tatapannya langsung tertuju pada satu titik di lapangan.

“Hah?” gumam Reno bingung melihat Petra berhenti jalan.

Lalu mereka semua mengikuti arah pandangan Petra.

Dan di sana…

Hanin sedang berlari santai di bawah cahaya matahari pagi.

Keringat tipis di lehernya berkilau terkena sinar matahari.
Langkahnya stabil dan ringan seperti atlet profesional.

Aura Hanin pagi itu benar-benar berbeda.

Tidak dingin seperti di kelas.
Tidak menyeramkan seperti saat sparing.

Justru terlihat tenang…
dan cantik dengan cara yang sederhana.

Reno sampai melongo.

“Buset…”

“Dia manusia apa AI sih?”

Sementara Petra hanya diam memperhatikan Hanin berlari mengelilingi lapangan.

Untuk pertama kalinya sejak lama…

Pagi Petra terasa tenang.

Tanpa tawuran.
Tanpa keributan.
Tanpa masalah.

Hanya suara langkah kaki Hanin di lapangan dan udara pagi yang dingin.

Lalu sudut bibir Petra naik pelan.

“Cantik banget…” gumamnya lirih.

“Ketua mulai kambuh,” celetuk Reno.

Namun Petra bahkan tidak mendengar lagi ocehan teman-temannya.

Karena matanya masih terpaku pada Hanin yang terus berlari di bawah langit pagi Garuda High School.

Hanin terus berlari memutari lapangan dengan ritme stabil.

Satu putaran.
Dua putaran.
Lima putaran.

Keringat mulai membasahi leher dan pelipisnya, namun napasnya tetap teratur seolah tubuhnya sudah terbiasa dengan latihan seperti itu.

Dari pinggir lapangan, Petra dan Trouble Boy masih diam memperhatikan.

“Dia udah lari berapa lama?” tanya Reno sambil melirik jam.

“Dari kita dateng,” jawab Petra singkat.

“Anjir… gue jalan ke kantin aja ngos-ngosan.”

Petra terkekeh kecil tanpa mengalihkan pandangan.




Sementara Hanin akhirnya memperlambat langkahnya setelah hampir tiga puluh menit berlari nonstop.

Ia berhenti di pinggir lapangan sambil mengatur napas pelan.

Embun pagi masih terasa dingin, membuat uap tipis keluar dari napasnya.

Hanin mengambil botol minum dari tas olahraga lalu meneguk air beberapa kali.

Keringat tipis membuat wajahnya terlihat segar, bukan berantakan.

Malah justru semakin cantik.

“Gila…” gumam salah satu anggota Trouble Boy. “Dia keliatan kayak karakter utama drakor.”

Petra refleks menyikut temannya.
“Jangan liatin terus.”

“Lah lu dari tadi juga...”

“Diam.”

Setelah melakukan stretching ringan, Hanin mengambil tasnya lalu berjalan menuju gedung sekolah.

Langkahnya santai melewati dekat Petra dan gengnya.

Beberapa detik suasana jadi canggung.

Reno bahkan sampai salah tingkah mau nyapa atau enggak.

Namun Hanin hanya melirik sekilas ke arah mereka.

“Pagi.”

Dan itu saja sudah cukup membuat satu geng mendadak bengong.

“Dia… nyapa?” bisik Reno tidak percaya.

Petra yang paling depan malah otomatis membalas cepat.

“P-pagi.”

Hanin mengangguk kecil lalu melanjutkan langkah menuju wash room khusus dekat area olahraga.

Begitu pintu tertutup…

Barulah Trouble Boy langsung ribut.

“WOYYYY KETUA DISAPA!”

“ANJIR GUE DENGER SENDIRI!”

“Progress ketua naik 1%!”

Petra memutar mata malas tapi senyum kecil di wajahnya sulit disembunyikan.

Di dalam wash room, Hanin mandi cepat menggunakan fasilitas khusus atlet sekolah.

Air dingin langsung menyegarkan tubuhnya setelah olahraga pagi.

Beberapa menit kemudian Hanin keluar dengan penampilan yang jauh berbeda.

Seragam sekolahnya sudah rapi.
Kemeja putih bersih, Almamater hitam.
Rok hitam selutut.
Dasi terpasang rapi.

Rambutnya yang tadi diikat tinggi kini dibiarkan terurai sedikit lembap.

Saat Hanin berjalan keluar koridor pagi sekolah…

Beberapa murid yang baru datang langsung menoleh.

Karena auranya benar-benar berubah lagi.

Dari atlet pagi hari…
menjadi siswi elegan yang sulit diabaikan siapa pun.

Dan dari kejauhan, Petra yang masih berdiri dekat lapangan hanya bisa menghela napas kecil sambil memperhatikan Hanin.

“Fix,” gumamnya pelan.

“Gue tamat.”

Koridor sekolah mulai ramai seiring matahari yang semakin naik.

Suara langkah kaki murid, obrolan pagi, dan bunyi loker mulai memenuhi Garuda High School.

Sementara itu Hanin berjalan santai menuju kelas 2-B sambil membawa tas hitamnya di satu bahu.

Beberapa murid yang berpapasan langsung melirik diam-diam.

Sebagian karena kagum.
Sebagian lagi karena penasaran dengan rumor tentang dirinya yang makin menyebar cepat.

Namun Hanin tetap terlihat tenang seperti biasa.

Sesampainya di kelas, Hanin meletakkan tasnya di kursi dekat jendela lalu mengeluarkan headset dan botol minum kecil.

Karena jam masuk masih lama, kelas belum terlalu ramai.

Hanin kemudian keluar lagi menuju kantin untuk mencari sarapan.

Pagi itu kantin sekolah masih jauh lebih sepi dibanding jam istirahat.

Hanya ada beberapa siswa dan penjaga kantin yang sedang menyiapkan makanan.

Hanin memesan roti panggang, telur, dan susu dingin sebelum duduk di meja dekat jendela terbuka.

Angin pagi masuk pelan membuat suasana terasa nyaman.

Untuk beberapa menit…
akhirnya Hanin bisa menikmati pagi dengan damai.




Namun tentu saja ketenangan itu tidak pernah bertahan lama.

“Heh.”

Suara berat itu terdengar dari belakang.

Hanin bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.

Damian datang dengan tangan di saku celana sambil membawa dua cup kopi panas.

Cowok itu duduk santai di pinggir Hanin, lalu meletakkan salah satu kopi di meja.

“Buat aku?” tanya Hanin.

“Kalau bukan buat lo, gue gak mungkin rela beli dua.”

Hanin langsung mengambil kopi itu tanpa sungkan.

“Baik juga hari ini.”

“Takut lo ngambek.”

Hanin mendengus kecil sambil mulai memakan sarapannya.

Damian memperhatikan adiknya beberapa detik lalu tersenyum tipis.

“Betah?”

“Lumayan.”

“Lumayan doang?”

Hanin diam sebentar sebelum menjawab pendek.

“Sekolahnya rame.”

Damian langsung tertawa kecil karena tahu maksud “rame” versi Hanin jelas mengarah pada Petra dan segala kekacauannya.

Tak lama kemudian beberapa siswa yang masuk kantin mulai sadar siapa yang sedang duduk di sana.

Dan lagi-lagi suasana langsung heboh.

“Itu kakaknya Hanin…”

“Anjir visual keluarganya gak masuk akal.”

“Fix keluarga sultan.”

Damian yang sadar jadi perhatian malah santai menyeruput kopinya.

Berbeda dengan Hanin yang memilih mengabaikan semuanya.

Namun dari arah pintu kantin…

Sekelompok cowok baru saja masuk.

Dan begitu melihat Hanin duduk bersama Damian...

Reno langsung berbisik panik.

“Ketua.”

Petra yang baru masuk otomatis melihat ke arah meja Hanin.

Lalu berhenti berjalan.

Karena entah kenapa…

Pemandangan Hanin yang duduk santai sarapan bersama kakaknya di bawah cahaya pagi terasa terlalu indah untuk diabaikan.

Damian menopang dagunya sambil memperhatikan Hanin yang sedang fokus memakan roti panggangnya dengan wajah datar seperti biasa.

Padahal di luar sana…

Satu sekolah hampir heboh tiap kali nama Hanin disebut.

Mulai dari grup kelas, grup sekolah, sampai akun gosip siswa penuh dengan pembahasan tentang dirinya.

“Siswi pindahan cantik anak sultan.”
“Atlet taekwondo monster.”
“Cewek pertama yang bikin Petra gak berkutik.”

Namun lucunya…

Pusat dari semua keributan itu justru terlihat paling tenang.

Damian sampai tersenyum kecil sendiri.

“Lo tau gak sekarang lo viral satu sekolah?” tanyanya santai.

Hanin menyeruput susu dinginnya.
“Bodo amat.”

“Kasian anak-anak sana heboh sendiri.”

“Biarin.”

Damian tertawa kecil.

Memang seperti itulah Hanin.

Semakin orang ribut soal dirinya, semakin dia tidak peduli.

Sementara itu dari sisi lain kantin, Petra dan Trouble Boy akhirnya ikut duduk untuk sarapan.

Namun suasana kantin jelas berbeda sejak Hanin dan Damian ada di sana.

Banyak mata diam-diam memperhatikan dua bersaudara itu.

Dan bukan cuma Hanin yang jadi perhatian.

Damian pun mulai menjadi perbincangan baru.

Visualnya yang dingin dan dewasa sukses menarik perhatian banyak siswi.

Cowok tinggi dengan aura mahal, wajah tampan tajam, dan pembawaan santai itu benar-benar sulit diabaikan.

“Anjir kakaknya Hanin ganteng banget…”

“Vibesnya beda jir.”

“Kayak aktor.”

Namun berbeda dengan Hanin yang cenderung cuek…

Damian justru jauh lebih ramah.

Saat beberapa siswa cowok menyapanya di kantin, Damian langsung membalas santai.

“Pagi bro.”

“Latihan futsal nanti jadi gak?”

“Woi kopi gue mana?”

Dalam waktu singkat Damian malah sudah akrab dengan beberapa cowok kelas 3.

Bahkan sekarang ia duduk sambil ngobrol santai dengan geng barunya yang sama-sama absurd.

Suasana meja Damian penuh tawa.

Sementara meja Hanin tetap tenang dan damai.

Kontras sekali.

Reno sampai melirik Damian kagum.

“Ketua.”

“Hm?”

“Kakaknya Hanin ternyata gampang berbaur ya.”

Petra mengangguk kecil sambil menggigit rotinya.

“Beda sama adeknya.”

“Adiknya mah auranya kayak final boss.”

Petra terkekeh kecil.

Namun matanya kembali tanpa sadar mencari Hanin.

Gadis itu sedang memainkan sedotan minumannya sambil sesekali mendengar Damian mengobrol.

Tenang.
Kalem.
Dan tetap jadi pusat perhatian tanpa usaha apa pun.

Lalu salah satu anggota Trouble Boy nyeletuk pelan.

“Ketua… serius nanya.”

“Apa.”

“Kalau someday lo jadian sama Hanin…”

“Terus?”

“Kayaknya bukan lo yang dominan deh.”

Satu meja langsung pecah ketawa.

Sementara Petra hanya menyeringai sambil melirik Hanin dari jauh.

“Ya gapapa.”

“Sekali-sekali gue nurut orang.”

Di meja sebelah, suasana geng Damian semakin berisik.

Beberapa cowok kelas 3 terus melirik diam-diam ke arah Hanin yang masih duduk santai sambil meminum susu dinginnya.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka gak tahan lagi.

“Bro…” bisik seorang cowok bernama Arga sambil nyolek Damian. “Kenalin lah.”

Damian menaikkan alis.
“Siapa?”

“Itu adek lo lah anjir.”

Yang lain langsung ikut nimbrung.

“Serem sih… tapi cantik banget.”

“Gue takut disepak.”

“Justru itu menantang.”

Damian langsung ngakak kecil mendengar ocehan mereka.

Sementara Hanin masih fokus memainkan sedotan minumannya tanpa peduli kalau dirinya sedang jadi topik utama satu kantin.

“Yaudah,” kata Damian santai sambil berdiri. “Sini.”

Seketika satu geng langsung heboh sendiri merapikan rambut dan seragam.

“Woi jangan norak.”

“Gimana muka gue?”

“Kayak pengangguran.”

“Anjir.”

Damian geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju meja Hanin dengan beberapa temannya di belakang.

Melihat rombongan cowok mendekat, Hanin perlahan mengangkat pandangan.

Tatapannya datar seperti biasa.

Damian berhenti di samping meja adiknya.

“Hanin.”

“Hm?”

“Kenalan dulu.”

Hanin melirik satu per satu wajah asing di belakang Damian.

Cowok-cowok itu yang tadinya rame mendadak jadi jaim semua.

“Ini Arga,” kata Damian menunjuk cowok tinggi berambut belah tengah.

Arga langsung tersenyum canggung.
“H-hai.”

Hanin mengangguk kecil.
“Hai.”

“Ini Rafi.”

“Halo Hanin…”

“Dito.”

“Halo…”

“Bagas... eh bukan kakak lo, beda Bagas,” celetuk Damian yang langsung bikin semua ketawa.

Hanin sampai tersenyum tipis mendengarnya.

Dan itu sukses bikin satu geng Damian langsung melongo.

“ANJIR DIA BISA SENYUM?” bisik salah satu dari mereka terlalu keras.

Damian ngakak spontan.

Sementara Hanin kembali datar.

“Jangan lebay.”

“Maaf reflek,” jawab Arga cepat.

Tak lama suasana meja Hanin malah jadi cukup nyaman.

Meski Hanin tidak banyak bicara, setidaknya ia tidak mengusir mereka.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Dari kejauhan, meja Trouble Boy mulai memperhatikan situasi itu.

Reno langsung melirik Petra pelan.

“Ketua…”

“Apa lagi.”

“Itu… Hanin lagi dikerubungin cowok.”

Petra otomatis menoleh.

Dan benar saja.

Hanin sedang duduk dikelilingi geng Damian yang tertawa santai di meja kantin.

Petra langsung menyipitkan mata.

“Akrab banget.”

Reno menatap ketuanya curiga.
“…Lo cemburu?”

Petra langsung berdiri sambil mengambil minumannya.

“Enggak.”

“Terus mau kemana?”

“Sarapan pindah meja.”




Petra berjalan menjauh dari meja Trouble Boy sambil membawa kaleng kopinya.

Langkahnya santai, tapi wajahnya jelas tidak sesantai biasanya.

Reno dan yang lain hanya saling pandang menahan tawa.

“Fix cemburu,” bisik Reno pelan.

“Parah banget malah.”

“Padahal belum jadi apa-apa.”

Sementara Petra memilih duduk di meja paling ujung kantin yang agak jauh dari keramaian.

Posisinya membelakangi meja Hanin.

Seolah sengaja menghindari pandangannya sendiri.

Kalau biasanya Petra selalu jadi pusat suara paling ribut di kantin, kali ini cowok itu malah diam sambil memainkan kaleng minumannya.

Tatapannya kosong ke arah luar jendela kantin.

Namun samar-samar suara tawa dari meja Hanin masih terdengar.

Dan itu justru makin mengganggu pikirannya.

“…Ngapain sih gue begini,” gumam Petra pelan.

Untuk pertama kalinya, Petra merasa asing dengan dirinya sendiri.

Biasanya dia tidak pernah peduli siapa yang dekat dengan siapa.

Tapi sekarang…

Melihat Hanin dikelilingi cowok lain saja rasanya aneh.

Bukan marah.

Lebih tepatnya…
tidak suka.

Di sisi lain kantin, Damian yang tanpa sengaja melihat Petra pindah meja langsung menyeringai kecil.

Cowok itu cukup peka membaca situasi.

“Hmm…” gumam Damian pelan sambil melirik Hanin.

“Apa?” tanya Hanin datar.

“Kayaknya ada yang ngambek.”

Hanin mengikuti arah pandangan Damian.

Dan benar saja.

Petra duduk sendirian jauh dari gengnya.

Hanin menatap beberapa detik lalu kembali meminum susunya dengan santai.

“Bukan urusanku.”

Damian tertawa kecil.

“Dingin banget.”

“Memangnya harus peduli?”

“Enggak sih,” jawab Damian santai. “Tapi lucu aja.”

Sementara itu Petra masih diam di mejanya.

Sampai tiba-tiba satu bayangan muncul di depannya.

“Ketua.”

Petra mendongak malas.

Reno berdiri sambil menahan senyum jahil.

“Apa.” Sahut Petra.

“Lo tuh serem kalau lagi tawuran…”

Petra menyipitkan mata.
“Maksud?”

“Tapi lebih serem lagi pas cemburu.”

“Gue gak cemburu.”

“Terus kenapa pindah meja?”

Petra langsung melempar sedotan ke arah Reno.

“Pergi sana.”

TEEEETTTT—!

Suara bel masuk menggema nyaring di seluruh area sekolah.

Keramaian kantin perlahan bubar.

Siswa-siswi yang tadi masih santai sarapan mulai beranjak menuju kelas masing-masing sambil masih mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang Hanin dan Damian yang belakangan jadi pusat perhatian baru Garuda High School.

Kursi-kursi mulai kosong.
Suasana kantin kembali lebih tenang.

Damian berdiri lebih dulu sambil merapikan seragamnya.

“Yaudah gue duluan,” katanya pada geng barunya.

“Siap bos.”

“Titip salam buat adek lo,” celetuk Arga yang langsung membuat teman-temannya cekikikan.

Damian malah tertawa santai.
“Ngomong sendiri sana kalau berani.”

Cowok-cowok itu langsung kompak menggeleng cepat.

“Enggak dulu.”

“Nyawa mahal.”

Sementara Hanin sudah berdiri sambil membawa botol minum dan ponselnya.

“Duluan, Kak.”

Damian mengacak pelan kepala adiknya.
“Jangan bikin geger dulu sebelum jam pertama.”

“Aku gak pernah bikin geger.”

“Justru itu masalahnya,” jawab Damian sambil tertawa.

Karena tanpa Hanin sadari…

Keberadaannya saja sudah cukup bikin satu sekolah ribut.

Di sisi lain, Petra akhirnya berdiri dari meja pojoknya.

Wajahnya sudah kembali santai seperti biasa, meski Reno masih senyum-senyum sendiri melihat tingkah ketuanya tadi.

“Udah gak ngambek?” goda Reno.

Petra memasukkan tangan ke saku.
“Bacot.”

“Padahal dari tadi ngeliatin terus.”

“Reno.”

“Iya ketua cantik.”

Petra hampir melempar kaleng minumnya lagi kalau saja Hanin tidak kebetulan lewat di dekat mereka.

Dan anehnya…

Petra langsung diam.

Hanin berjalan melewati mereka dengan tenang.

Beberapa detik tatapan mereka bertemu.

“Permisi,” ucap Hanin singkat.

Petra otomatis minggir memberi jalan.

“…”

Reno sampai melotot melihat itu.

Ketua Trouble Boy yang biasanya gak pernah minggir buat siapa pun…
barusan nurut otomatis sama Hanin.

Begitu Hanin pergi menjauh menuju koridor kelas, Reno langsung menepuk pundak Petra pelan.

“Ketua.”

“Apa lagi.”

“Lo udah gak ketolong.”

Petra hanya mendecakkan lidah pelan, tapi sudut bibirnya terangkat kecil tanpa sadar.

Sementara di luar kelas, koridor sekolah mulai ramai oleh murid yang berjalan cepat sebelum guru datang.

Dan tanpa ada yang sadar…

Cerita Hanin dan Petra baru saja benar-benar dimulai.



Chapter 4


Jam pelajaran pertama dimulai.

Suasana kelas 2-B yang biasanya ribut perlahan mulai tenang saat guru matematika masuk membawa beberapa buku tebal.

“Pagi anak-anak.”

“Pagiii buu…”

Sebagian menjawab lesu, sebagian lagi masih sibuk ngobrol sendiri.

Petra sendiri duduk santai di kursi belakang sambil memutar pulpen di jarinya. Biasanya pelajaran matematika adalah waktu terbaik untuk tidur.




Namun hari ini berbeda.

Karena matanya sesekali melirik ke arah Hanin yang duduk dekat jendela.

Gadis itu terlihat fokus membuka buku catatan tanpa terganggu suasana kelas sedikit pun.

“Baik,” ujar guru sambil menulis besar di papan tulis.

KALKULUS

Seketika satu kelas langsung terdengar mengeluh.

“Ya ampun…”

“Baru pagi udah nyerah hidup.”

“Bu saya belum move on dari aljabar…”

Guru hanya tertawa kecil lalu mulai menjelaskan materi dasar limit dan turunan fungsi.

Namun baru beberapa menit menjelaskan, beliau tiba-tiba menulis satu soal cukup rumit di papan.

Bahkan beberapa siswa langsung bengong melihatnya.

“Siapa yang bisa coba kerjakan?” tanya guru.

Kelas langsung sunyi.

Beberapa murid pura-pura sibuk buka buku.
Yang lain malah menunduk menghindari kontak mata.

“Ini bahkan belum diajarin…” bisik seseorang pelan.

Guru tersenyum.
“Coba saja.”

Namun tak disangka...

Kursi dekat jendela bergerak.

Hanin berdiri.

Satu kelas otomatis menoleh.

Petra yang tadinya setengah ngantuk langsung duduk tegak.

Hanin berjalan tenang ke depan kelas mengambil spidol dari meja guru.

“Silakan,” kata guru sedikit penasaran.

Tanpa banyak bicara, Hanin mulai menulis langkah demi langkah penyelesaian soal di papan tulis.

Tulisan tangannya rapi.
Perhitungannya cepat.
Dan yang paling mengejutkan…

Tidak ada satu langkah pun yang salah.



Beberapa murid mulai melotot.

“Anjir…”

“Dia ngerti?”

“Padahal belum diajarin…”

Guru matematika sampai ikut diam memperhatikan.

Hanin menyelesaikan baris terakhir lalu menutup spidol.

“Sudah, Bu.”

Dan hasil akhirnya benar.

Kelas langsung hening beberapa detik.

Guru bahkan terlihat genuinely terkejut.

“Kamu sudah belajar kalkulus sebelumnya?”

Hanin menggeleng kecil.
“Belum terlalu.”

“Lalu ini?”

“Ayah saya suka ngajarin matematika.”

Satu kelas makin speechless.



Petra sampai terkekeh pelan di kursinya.

“Perfect banget sih…” gumamnya lirih.

Guru tersenyum kagum.
“Bagus sekali, Hanin. Cara berpikirmu cepat.”

Hanin hanya mengangguk sopan lalu kembali ke tempat duduknya.

Dan begitu ia duduk...

BRAK!

Reno tiba-tiba menjatuhkan bukunya sendiri karena terlalu syok.

“WOI DIA OTAKNYA ADA BERAPA?” bisiknya panik.

Sementara grup kelas langsung ramai diam-diam.

📱 2-B ISI ORANG GILA 🔥

💬 Nisa:

Hanin manusia apa 😭

💬 Reno:

atlet
cantik

kaya

pinter

ketua kita kalah saing
😔

💬 Petra:

diem lo

💬 Siswa lain:

PETRA PANIK WOY

Petra langsung mematikan layar HP-nya sambil menyender di kursi.

Namun senyum kecil di wajahnya tidak bisa hilang.

Karena makin lama mengenal Hanin…

Makin terasa kalau gadis itu memang berada di level yang berbeda dari siapa pun di sekolah ini.

Suasana kelas 2-B hari itu terasa aneh.

Aneh dalam arti… terlalu tenang.

Biasanya kelas paling berisik di angkatan itu tidak pernah benar-benar damai. Selalu ada suara lemparan kertas, candaan keras, atau Petra dan Trouble Boy yang bikin kekacauan kecil.

Namun sejak Hanin duduk di kelas itu…

Entah kenapa suasananya berubah jauh lebih tertata.

Bahkan Petra yang biasanya paling sulit diam pun hari ini terlihat lebih santai dan tidak mencari masalah.

Guru matematika keluar kelas dengan wajah masih kagum setelah melihat kemampuan Hanin tadi.

Dan beberapa menit kemudian, guru bahasa Inggris masuk membawa beberapa lembar kertas.

“Good morning, everyone.”

“Good morning, miss…”

Hari itu ternyata kelas akan mengadakan conversation test dadakan.

Sontak banyak siswa langsung panik.

“HAH TES?”

“Mati gue…”

“Bahasa Inggris gue mentok yes no thank you.”

Guru tersenyum geli melihat reaksi murid-muridnya.

“Tenang saja. Hari ini hanya percakapan biasa.”

Namun tetap saja satu kelas langsung tegang.

Tes dilakukan dengan siswa dipanggil satu per satu ke depan untuk berbicara langsung menggunakan bahasa Inggris.

Beberapa siswa masih terbata-bata.
Ada juga yang gugup sampai salah grammar.

Petra sendiri bahkan terlihat malas.

“Kalau gue ngomong bahasa Jaksel bisa gak?” bisiknya pada Reno.

“Lo ngomong bahasa manusia aja susah.”

Tak lama kemudian guru melihat daftar nama.

“Hanin.”

Beberapa siswa langsung menoleh.

Karena jujur saja…
setelah kejadian kalkulus tadi, ekspektasi mereka pada Hanin sudah tidak normal lagi.

Namun Hanin terlihat biasa saja.

Ia bahkan tampak baru sadar kalau hari itu ada tes.

Gadis itu berdiri tenang lalu berjalan ke depan kelas.

“Okay, Hanin,” ujar guru dalam bahasa Inggris. “Please introduce yourself and tell us about your hobbies.”

Dan tanpa ragu sedikit pun..



“Good morning, everyone. My name is Hanin Adreena. I moved here recently, and honestly this school is much louder than my previous one.”

Logatnya langsung membuat satu kelas menoleh.

Fluent.
Natural.
Dan sangat jelas.

Beberapa siswa sampai melotot.

“Anjir…”

“Pronunciation-nya…”

Guru pun terlihat terkejut senang.

“Oh! Your English is very good.”

“Thank you, Miss.”

Percakapan mereka berlanjut cukup panjang.

Dan Hanin menjawab semuanya dengan santai tanpa terlihat berpikir keras sedikit pun.

Namun puncaknya adalah saat guru bercanda bertanya,

“How many languages can you speak?”

Hanin menjawab dengan tenang,

“Five.”

Kelas langsung sunyi.

Guru tertawa kecil mengira Hanin bercanda.

“Really?”

Hanin mengangguk.

“I can speak English, Japanese, Mandarin, French, and German.”

Satu kelas:
“…”

Petra:
“…”

Reno sampai memegang kepala sendiri.

“Gue baru nguasain bahasa Sunda sama marah-marah.”

Guru bahkan tampak genuinely syok.

“Can you demonstrate one of them?”

Hanin berpikir sebentar lalu menjawab santai menggunakan bahasa Jepang dengan pelafalan yang sangat natural.

はじめまして、よろしくお願いします。”( Senang bertemu dengan Anda, mohon kerjasamanya )

Beberapa siswa langsung heboh.

“WOYYYYY!”

“Itu anime keluar dunia nyata!”

Belum selesai.

Guru malah makin penasaran dan mencoba mengajaknya sedikit conversation bahasa Prancis sederhana.

Dan Hanin membalas dengan lancar.

Kini satu kelas benar-benar kehilangan akal sehat.

Petra sampai tertawa tidak percaya sambil menyender di kursinya.

“Gue yakin dia NPC cheat.”

Sementara Hanin tetap tenang seperti semua itu hal biasa.

Padahal tanpa sadar…

Satu kelas sedang melihat seseorang yang benar-benar berbeda level dari mereka.

Suasana kelas sudah benar-benar tidak terkendali.

Bukan ribut karena berisik…

Tapi karena terlalu kagum.

Bahkan beberapa siswa sekarang duduk dengan posisi maju ke depan meja masing-masing hanya untuk mendengar Hanin bicara.

Guru bahasa Inggris sendiri terlihat makin antusias.

“Well then,” katanya sambil tersenyum. “Let’s have a real conversation.”

Hanin mengangguk kecil.
“Sure.”




Dan sejak detik itu…

Kelas 2-B berubah seperti ruang interview internasional.

Guru mulai mengajak Hanin berbicara penuh menggunakan bahasa Inggris tanpa campuran bahasa Indonesia sedikit pun.

Tentang sekolah lama.
Hobi.
Olahraga.
Musik.
Sampai kehidupan sehari-hari.

Dan Hanin menjawab semuanya dengan sangat natural.

Bukan sekadar lancar…

Tapi benar-benar seperti native speaker.

Logatnya halus.
Pelafalannya bersih.
Intonasinya tenang dan elegan.

“Honestly, I prefer peaceful places,” ucap Hanin santai. “That’s why I usually spend my evenings alone after training.”

Satu kelas langsung bengong.

“ANJIR…”

“Itu subtitle mana subtitle…”

“Gue cuma ngerti honestly doang.”

Petra yang duduk di belakang bahkan sampai menatap Hanin tanpa berkedip.



Biasanya dia paling malas pelajaran.

Tapi sekarang?

Cowok itu benar-benar fokus mendengarkan suara Hanin bicara.

Dan anehnya…

Cara Hanin berbicara terdengar sangat nyaman didengar.

Tenang.
Lembut.
Tapi tetap elegan.

Guru sampai tertawa kagum di tengah percakapan mereka.

“You sound like you lived abroad for years.”

Hanin menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

“Not really. I just like learning languages.”

“Your accent is impressive.”

“Thank you, Miss.”

Sementara itu satu kelas sudah kehilangan harapan untuk terlihat keren lagi di depan Hanin.

Reno bahkan menoleh ke Petra dengan wajah pasrah.

“Ketua.”

“Hm?”

“Lo saingannya berat banget.”

Petra masih menatap Hanin di depan kelas.

Lalu tersenyum kecil tanpa sadar.

“Makanya menarik.”

Di depan kelas, guru akhirnya menutup conversation mereka dengan tepuk tangan kecil.

Dan secara spontan…

Satu kelas ikut bertepuk tangan heboh.

“GILAAA!”

“KEREN BANGET!”

“Hanin nikah sama kamus aja sana!”

Hanin yang tiba-tiba ditepuki satu kelas malah terlihat sedikit bingung.

Ia hanya membungkuk kecil sopan sebelum kembali ke tempat duduknya.

Dan saat Hanin berjalan melewati bangku belakang…

Petra tiba-tiba bicara pelan.

“Lo beneran manusia?”

Hanin berhenti sebentar lalu melirik Petra datar.

“Kadang enggak.”

Jawaban itu sukses bikin satu kelas pecah ketawa.

TEETTT—!

Bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring.

Satu kelas langsung berubah ricuh dalam hitungan detik.

Kursi bergeser.
Suara obrolan pecah di mana-mana.
Beberapa siswa langsung keluar kelas seolah baru bebas dari penjara akademik.

“Gue lapar.”

“Ke kantin woy!”

“Petra traktir!”

“Ogah.”

Sementara itu Hanin tetap duduk tenang beberapa detik sambil mengecek ponselnya.

📱 Basket Putri GHS 🏀

💬 Nisa:

Hanin jadi kan ke lapang?

💬 Aurel:

Main santai aja sebelum latihan resmi nanti sore

💬 Hanin:

Oke.

Hanin memasukkan HP-nya ke saku lalu berdiri mengambil botol minumnya.

“Pergi dulu,” ucapnya singkat pada beberapa teman kelas di dekatnya.

Dan lagi-lagi satu kelas otomatis memperhatikan pergerakannya.

Entah kenapa…
setiap Hanin bergerak, auranya selalu mencuri perhatian.

Saat Hanin keluar kelas, Petra yang tadinya rebahan di kursi langsung membuka mata.

“Mau kemana dia?”

Reno refleks menjawab,
“Kayaknya ke basket.”

Petra mendecakkan lidah kecil lalu berdiri juga.

“Ngapain?”

“Liat bentar.”

“ALASAN.”

Petra melempar penghapus ke arah Reno sebelum keluar kelas.

Lapangan basket sekolah siang itu cukup ramai.

Beberapa anggota tim basket putri sudah berkumpul sambil melakukan pemanasan ringan.

Begitu Hanin datang membawa bola basket yang dipinjam dari gudang olahraga, suasana langsung berubah lebih hidup.

“Hanin sini!”

“Main tiga lawan tiga dulu!”

“Kita pengen liat skill mantan atlet.”

Hanin tersenyum tipis lalu mengikat rambutnya lebih tinggi.

“Jangan nyesel kalau kalah.”

“WOYYYY dia mulai.”

Beberapa siswi langsung tertawa heboh.

Dan beberapa menit kemudian permainan dimulai.

Awalnya semua mengira Hanin hanya bagus di taekwondo.

Sampai...



DUK DUK DUK

Hanin menggiring bola dengan gerakan cepat dan ringan.

Satu orang dilewati.
Dua orang tertinggal.

SWISH!

Shoot pertamanya masuk bersih tanpa menyentuh ring.

“ANJIRRR!”

“BERSIH BANGET!”

Belum selesai.

Gerakan Hanin di lapangan benar-benar berbeda.

Cepat.
Tenang.
Dan sangat presisi.

Bahkan footwork-nya terlihat seperti atlet profesional.

Tak butuh waktu lama sampai area sekitar lapangan mulai dipenuhi murid lain lagi.

“Katanya Hanin jago basket juga…”

“WOY CEPET SINI!”

Dan tentu saja…

Di tribun pinggir lapangan, Petra dan Trouble Boy kembali muncul.

Reno sampai memegang kepala sendiri melihat Hanin yang baru saja melakukan three point sempurna.

“Ketua…”

“Hm?”

“Cewek lo overpowered.”

Petra hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan Hanin yang tertawa tipis bersama tim basketnya.

Untuk pertama kalinya…

Petra melihat sisi Hanin yang lebih ringan.

Dan entah kenapa…
itu jauh lebih mematikan daripada tendangannya.

Awalnya hanya beberapa anggota basket putri yang bermain santai saat jam istirahat.

Namun dalam waktu kurang dari lima belas menit…

Lapangan basket Garuda High School berubah total seperti arena pertandingan besar.

Semakin banyak siswa berdatangan.
Tribun kecil mulai penuh.
Bahkan koridor lantai dua yang menghadap lapangan ikut dipadati murid yang penasaran.

Semua karena satu orang.

Hanin.

DUK!
DUK!
DUK!

Suara pantulan bola menggema cepat di lapangan.

Hanin bergerak lincah melewati lawan-lawannya dengan dribble yang bersih dan ringan. Gerakannya benar-benar enak dilihat, tidak berlebihan, tapi efektif dan elegan.

“OPER! OPER!”

“WOY JAGA HANIN!”

Namun menjaga Hanin ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

BRUKK!

Satu fake move sukses membuat lawannya salah arah.

Dan...

SWISH!

Three point lagi.

Lapangan langsung pecah.

“GILAAAA!”

“MASUK LAGI WOYYY!”

“ITU CEWEK APA CHEAT CODE?!”

Beberapa cowok tim basket putra yang ikut menonton sampai melongo tidak percaya.

“Footwork-nya bagus banget…”

“Release shoot-nya bersih jir…”

“Dia beneran atlet.”

Hanin sendiri tetap bermain santai.

Sesekali senyum kecil muncul saat teman setimnya heboh sendiri merayakan poin.

Dan justru senyum kecil itulah yang makin membuat orang susah mengalihkan pandangan darinya.

Tak lama kemudian, Damian datang bersama geng cowok kelas 3-nya.

Mereka langsung berhenti begitu melihat keramaian luar biasa di lapangan.

“Anjir rame banget…”

“Pertandingan siapa?”

Damian melirik ke tengah lapangan.

Dan di sana…

Adiknya sedang melakukan crossover bersih sebelum mencetak layup sempurna.




DUK!
SWISH!

Sorakan kembali pecah.

Damian langsung tertawa kecil sambil memasukkan tangan ke saku.

“Pantes.”

Gengnya ikut ngakak.

“Bro… adek lo beneran populer banget.”

“Dia tiap muncul langsung jadi event sekolah.”

Damian hanya tersenyum bangga lalu ikut berdiri di pinggir lapangan bersama yang lain.

Sementara itu di sisi tribun lain, Trouble Boy juga sudah memenuhi area.

Petra duduk paling depan dengan siku bertumpu di lutut, matanya tidak pernah lepas dari Hanin sedetik pun.

Reno sampai geleng-geleng kepala.

“Ketua…”

“Hm?”

“Tatapan lo kayak penonton final NBA.”

Petra terkekeh kecil tanpa membantah.

Karena jujur saja…

Ia benar-benar menikmati melihat Hanin bermain.

Dan lapangan siang itu terasa hidup bukan karena pertandingan basketnya.

Tapi karena semua orang sedang menyaksikan seorang gadis yang terlalu sempurna untuk ukuran anak SMA biasa.


Chapter 5


Sorakan di lapangan basket masih terus menggema.

Suasana istirahat yang awalnya santai kini benar-benar berubah seperti pertandingan antar sekolah.

Banyak murid berdiri di pinggir lapangan sambil merekam.
Bahkan beberapa guru olahraga ikut memperhatikan dari jauh karena keramaian yang terlalu mencolok.

Namun suasana mendadak berubah saat terdengar suara tepukan tangan pelan dari arah belakang tribun.

CLAP.
CLAP.
CLAP.

Kerumunan otomatis menoleh.

Enam siswi kelas 3 berjalan memasuki area lapangan dengan aura yang langsung membuat suasana sedikit menegang.

Di depan mereka berdiri seorang cewek tinggi berambut coklat gelap dengan tatapan tajam.

Clara.

Nama yang cukup terkenal di Garuda High School.

Dulu Clara adalah kapten tim basket putri sekolah sebelum akhirnya dikeluarkan bersama gengnya karena sebuah insiden besar yang tidak pernah dijelaskan detail ke publik.

Meski sudah keluar dari club resmi…

Nama mereka masih disegani.

Dan jujur saja...
cukup ditakuti.

Clara memasukkan tangan ke saku jaketnya sambil menatap ke arah Hanin yang sedang memegang bola basket.

“Jadi lo Hanin?”

Lapangan langsung sunyi.

Teman-teman basket Hanin mulai saling pandang gugup.

Karena semua tahu…
kalau Clara bukan tipe orang yang datang untuk basa-basi.

Hanin memantulkan bola pelan sekali lalu menatap balik tanpa gentar.

“Iya.”

Clara menyeringai tipis.
“Katanya jago.”

Reno yang nonton dari tribun langsung berbisik,
“Wah mulai…”

Petra menyipitkan mata kecil.

Sementara Damian yang berdiri di pinggir lapangan langsung memperhatikan lebih serius.

Aura Clara jelas bukan aura orang iseng.

Lalu Clara menunjuk lapangan dengan dagunya.

“Tanding.”

Suasana langsung pecah.

“WOYYYY!”

“SERIUS NIH?!”

“CLARA TURUN LAPANG?!”

Bahkan anggota basket putra mulai ikut mendekat karena sadar sesuatu besar akan terjadi.

Teman Hanin terlihat ragu.

“Hanin… serius?”

Namun Hanin justru terlihat santai.

“Main biasa aja kan?”

Jawaban itu sukses membuat Clara tertawa kecil tidak percaya.

“Lo menarik.”

Tak butuh waktu lama.

Lapangan langsung dikosongkan sebagian.
Penonton makin membludak.
Suasana berubah panas dalam hitungan menit.

Dan tepat siang itu…

Lapangan basket sekolah resmi berubah menjadi arena pertandingan sengit.

Peluit dibunyikan.

PRITTT!

Dan dalam sekejap suasana lapangan berubah panas.

Pertandingan persahabatan itu tidak lagi terasa seperti permainan anak sekolah biasa.

Aura kedua tim terlalu serius.

Di satu sisi ada Clara dan gengnya, mantan pemain inti basket putri yang dulu terkenal kuat dan agresif.

Di sisi lain ada Hanin bersama tim basket sekarang yang meski belum terlalu solid, memiliki satu pemain yang benar-benar berbeda level.

Sorakan penonton menggema di seluruh area sekolah.

“WOYYYYY!”

“CLARA LAWAN HANIN!”

“INI GILA SIH!”

Bahkan beberapa siswa naik ke tribun atas demi mendapat view lebih jelas.

Di pinggir lapangan, Damian kini berdiri lebih dekat dengan tangan terlipat di dada.



Tatapannya fokus ke arah pertandingan.

Bukan karena meragukan Hanin.

Tapi karena ia cukup tahu…
kalau pertandingan bisa berubah brutal kapan saja.

Meski begitu, Damian tetap tenang.

Karena kalau ada satu hal yang ia yakini di dunia ini...

Hanin bisa melindungi dirinya sendiri.

Awal pertandingan berjalan cukup panas.

Clara benar-benar bermain agresif sejak awal.

DUK!
DUK!

“Jaga dia!”

Dua pemain langsung menutup pergerakan Hanin.

Namun Clara justru menyeringai kecil sambil meledek,

“Kirain sehebat apa.”

Beberapa gengnya ikut tertawa kecil.

“Baru segini doang?”

“Viral banget padahal.”

Hanin masih diam.

Ia tetap bermain santai tanpa emosi.

Bahkan beberapa kali ia memilih mengoper bola dibanding menyerang sendiri.

Namun justru itu membuat Clara mulai kesal.

Karena sesantai apa pun Hanin terlihat…

Pergerakannya tetap sulit dibaca.

Dan lama-lama Clara sadar satu hal.

Hanin belum serius.

DUK!

Clara berhasil merebut bola lalu mencetak poin cepat.

Sorakan kecil terdengar dari pendukungnya.

Clara berjalan mundur sambil tersenyum miring.

“Ayo dong Hanin.”

“Masa segini aja?”

Lapangan makin panas.

Beberapa teman Hanin mulai terlihat tegang.

Namun tepat saat itu…

Hanin mengambil bola perlahan.

Tatapannya berubah.

Tenang…
tapi tajam.

Dan Damian yang melihat itu langsung tersenyum kecil.

“Nah…”

“Itu baru Hanin.”

Hanin menoleh singkat pada teman setimnya lalu memberi kode kecil dengan tangannya.

Main serius.

Detik berikutnya...

Suasana pertandingan berubah total.

DUK!
DUK!
DUK!

Gerakan Hanin tiba-tiba jauh lebih cepat.

Satu crossover bersih langsung membuat lawannya kehilangan keseimbangan.

“WOAH!”

SWISH!

Three point.

Sorakan penonton meledak.

Namun Hanin belum berhenti.

Permainannya sekarang benar-benar berbeda.

Cepat.
Presisi.
Dan dingin.

Ia membaca arah lawan seperti sudah tahu gerakan mereka sebelum terjadi.

Operannya akurat.
Defense-nya rapat.
Dan shooting-nya nyaris sempurna.

Clara mulai panik.

Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai…

Ia tertekan.

“JAGA HANIN!”

Namun semuanya terlambat.

DUK!
SPIN MOVE!

Hanin memutar tubuhnya melewati dua pemain sekaligus lalu melompat ringan...

SWISH!

Layup bersih masuk.

Lapangan langsung pecah.

“GILAAAAAA!”

“ANJIR KEREN BANGET!”

“ITU ANAK SMA APA PEMAIN NASIONAL?!”

Bahkan Petra yang biasanya santai sampai berdiri dari duduknya tanpa sadar.

Tatapannya benar-benar terpaku pada Hanin.

Dan di tengah riuh sorakan…

Clara mulai menyadari sesuatu.

Gadis yang tadi ia remehkan…

ternyata monster sebenarnya.

Beberapa menit kemudian peluit panjang dibunyikan.

PRITTTT!

Pertandingan selesai.

Dan hasil akhirnya jelas.

Tim Hanin menang.

Lapangan langsung gempar.

Teman-teman Hanin langsung memeluknya heboh sambil berteriak senang.

“HANIN GILAAAA!”

“KITA MENANG WOYYY!”

Sementara Clara berdiri diam sambil mengatur napas.

Keringat membasahi wajahnya.

Tatapannya tertuju pada Hanin yang masih terlihat tenang meski baru bermain serius.

Lalu perlahan…

Clara tertawa kecil tidak percaya.

“Anjir…”

“Lo serem juga.”

Sorakan kemenangan masih menggema di seluruh lapangan basket.

Teman-teman Hanin masih heboh sendiri merayakan kemenangan mereka, sementara penonton belum berhenti membicarakan permainan Hanin yang benar-benar di luar ekspektasi.

Namun di tengah keramaian itu…

Hanin justru berjalan mendekati Clara.

Langkahnya tenang.
Tidak ada ekspresi sombong.
Tidak ada tatapan merendahkan.

Clara yang masih sedikit terengah menatap Hanin bingung.

Beberapa anggota geng Clara bahkan terlihat waspada, mengira Hanin akan membalas semua ejekan tadi.

Namun yang dilakukan Hanin justru sebaliknya.

Ia mengulurkan tangan lebih dulu.

“Good game.”

Lapangan mendadak sedikit hening.

Karena tidak ada yang menyangka Hanin akan bersikap setenang itu setelah tadi diremehkan sejak awal.

Clara menatap uluran tangan Hanin beberapa detik.

Lalu perlahan…
sudut bibirnya naik kecil.

“Heh…” Clara terkekeh pelan sambil menerima jabat tangan Hanin. “Lo ternyata gak nyebelin.”

Hanin mengangkat satu alis tipis.
“Itu pujian?”

“Sedikit.”

Beberapa penonton langsung heboh lagi melihat suasana mulai mencair.

“WAAHH SALAMAN!”

“SPORTIF BANGET WOY!”

“FIX HANIN MC UTAMA!”

Clara lalu mendekat sedikit sambil menatap Hanin serius.

“Denger ya,” katanya pelan. “Gue gak gampang respect sama orang.”

Hanin diam mendengar.

“Tapi lo emang hebat.”

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke lapangan…

Tatapan Clara benar-benar berubah.

Bukan lagi meremehkan.

Tapi mengakui.

Hanin hanya tersenyum kecil tipis.
“Thanks.”

Tak lama kemudian Clara malah menarik Hanin ke pelukan singkat layaknya sesama atlet.

Sorakan penonton kembali pecah.

“WOYYYY!”

“KEREN BANGET ANJIR!”

Bahkan Damian yang melihat dari pinggir lapangan ikut tersenyum bangga.

Karena itu memang Hanin.

Sehebat apa pun dirinya…
ia tidak pernah haus pengakuan.

Dan justru sikap itulah yang membuat orang makin menghormatinya.

Sementara di tribun, Petra hanya memperhatikan Hanin tanpa suara.

Reno melirik ketuanya pelan.

“Ketua.”

“Hm?”

“Kayaknya semua orang bakal jatuh suka sama Hanin.”

Petra tersenyum kecil sambil tetap menatap gadis itu.

“Sayangnya…”

“Gue duluan.”

Keramaian lapangan perlahan mulai mereda setelah pertandingan selesai.

Meski begitu, obrolan tentang Hanin masih terdengar di mana-mana.

Tentang skill-nya.
Tentang sikap tenangnya.
Dan tentang bagaimana ia berhasil membuat Clara yang terkenal galak akhirnya mengakui kemampuan seseorang.

Di tengah suasana itu, Damian berjalan santai dari pinggir lapangan sambil membawa dua botol minuman dingin.

Cowok itu melempar salah satunya ke arah Hanin.

“Reflek.”

TAP!

Hanin menangkap botol itu dengan satu tangan tanpa kesulitan.

“Thanks, Kak.”

Damian hanya mengangguk kecil lalu membuka minumannya sendiri.

Aura cowok itu tetap santai seperti biasa. Tinggi, rapi, dan terlalu tampan untuk ukuran siswa SMA biasa.

Dan tanpa sadar…

Tatapan Clara langsung tertuju padanya.

Hanin yang sedang membuka tutup botolnya sempat melirik Clara sekilas.

Dan ia langsung paham.

Karena tatapan Clara berbeda.

Tidak tajam seperti saat di lapangan tadi.

Justru melembut.

Seolah tanpa sadar terlalu lama memperhatikan Damian.

Sementara Damian sendiri tampak tidak menyadari apa-apa.

Atau mungkin…

Memilih pura-pura tidak sadar.

Salah satu teman Clara langsung menyenggol pelan bahu ketuanya sambil menahan senyum jahil.

“Dilihat mulu tuh.”

“Diam lo.”

“Masih suka ya?”

Clara langsung mendelik kecil.
“Berisik.”

Namun pipinya sedikit memerah.

Hanin yang melihat itu malah meneguk minumannya santai sambil menahan senyum tipis.

Damian akhirnya menoleh ke arah Clara karena merasa diperhatikan.

Dan seperti biasa…

Cowok itu tetap ramah.

“Main bagus tadi.”

Kalimat sederhana itu sukses bikin teman-teman Clara langsung heboh sendiri.

“WOYYYY DITEGUR!”

“CLARA NAPAS DULU!”

Clara refleks melempar handuk kecil ke arah mereka.

“Bacot.”

Namun saat kembali melihat Damian…

Ekspresinya sedikit berubah lebih lembut.

“Thanks.”

Sayangnya…

Damian tetap terlihat biasa saja.

Tidak memberi harapan.
Tidak juga bersikap dingin.

Itulah yang paling menyebalkan sekaligus membuat Clara terus suka diam-diam.

Karena Damian memang tipe cowok yang baik ke semua orang.

Dan sulit ditebak siapa yang benar-benar spesial baginya.

Sementara Hanin yang berdiri di samping kakaknya hanya berpikir satu hal dalam hati:

Pantes Kak Clara masih belum move on.

TEETTTT—!

Suara bel masuk kembali menggema nyaring di seluruh area sekolah.

Siswa-siswi yang tadi memenuhi lapangan basket langsung bubar perlahan sambil masih ramai membicarakan pertandingan Hanin dan Clara.

“Anjir keren banget tadi…”

“Video Hanin udah masuk FYP sekolah fix.”

“Clara aja ngakuin dia…”

Lapangan yang tadi seperti arena turnamen perlahan kembali normal.

Hanin memasang kembali ikatan rambutnya sambil menghela napas kecil setelah pertandingan.

“Kamu capek?” tanya Damian santai.

“Lumayan.”

“Masih kuat belajar?”

Hanin menatap kakaknya datar.
“Aku bukan Petra.”

Damian langsung ngakak keras.

Sementara beberapa meter dari sana, Petra yang kebetulan mendengar langsung menoleh tidak terima.

“WOI.”

Reno dan yang lain langsung pecah ketawa.

“Ketua kena stray bullet.”

Petra mendecakkan lidah malas tapi ujung bibirnya tetap naik kecil.

Koridor sekolah kembali dipenuhi langkah kaki murid yang buru-buru masuk kelas sebelum guru datang.

Hanin berjalan santai menuju kelas 2-B sambil membawa botol minumnya.

Dan seperti biasa…

Banyak mata otomatis mengikuti kepergiannya.

Entah kenapa, keberadaan Hanin selalu berhasil meninggalkan suasana berbeda di mana pun ia lewat.

Sesampainya di kelas, suasana masih cukup ramai.

Beberapa siswa langsung heboh begitu Hanin masuk.

“HANIN GILA TADI!”

“LO KEREN BANGET ANJIR!”

“Ajari gue basket pls 😭

Hanin hanya duduk di kursinya sambil membuka buku pelajaran berikutnya.

“Lebay.”

Namun respon dinginnya justru membuat satu kelas makin ribut.

Petra datang beberapa detik kemudian bersama Trouble Boy.

Begitu masuk kelas, Reno langsung drama memegangi dada.

“Permisi calon atlet NBA masuk.”

“Diam lo,” jawab Hanin tanpa menoleh.

“WAAH DIBALES.”

Petra hanya tertawa kecil lalu duduk di kursi belakangnya.

Dan anehnya…

Suasana kelas kembali tenang dengan sendirinya.

Guru pelajaran ketiga masuk tak lama setelah itu.

Pelajaran berlangsung cukup normal, meski beberapa siswa masih diam-diam melirik Hanin karena terlalu kagum dengan semua yang ia lakukan hari ini.

Dan tentu saja…

Hanin tetap aktif.

Baik saat menjawab pertanyaan, berdiskusi, maupun saat guru meminta pendapat.

Tidak berlebihan.
Tapi selalu tepat.

Sampai akhirnya jam pelajaran keempat pun berjalan.

Waktu terasa lebih cepat dari biasanya.

Dan tanpa sadar…

Hanin perlahan mulai menjadi warna baru di kehidupan seluruh siswa Garuda High School.

TEETTTTT—!

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Seketika suasana sekolah kembali ramai.

Suara kursi bergeser, obrolan siswa, dan langkah kaki memenuhi koridor Garuda High School. Beberapa murid langsung menuju parkiran, sementara yang lain masih nongkrong di depan kelas.

Hanin sedang merapikan bukunya dengan tenang ketika Damian menghampiri pintu kelas.

“Hanin.”

“Hm?”

“Kita langsung pergi nanti.”

Hanin mengangguk kecil.
“Kakek masih di rumah sakit?”

“Iya.”

Wajah Hanin sedikit berubah lebih serius.

Meski keluarganya terkenal besar dan kuat, Hanin sangat dekat dengan kakeknya.

Dan itu salah satu sedikit hal yang benar-benar bisa mempengaruhi emosinya.

Beberapa menit kemudian mereka berjalan menuju area parkiran sekolah.

Namun baru sampai depan gedung…

Suasana mendadak berubah heboh lagi.

Karena dua mobil hitam mewah baru saja masuk ke area sekolah.

Mobil pertama berhenti pelan di depan lobby.
Disusul mobil kedua tepat di belakangnya.

Pintu terbuka.

Dan beberapa pria berpakaian jas hitam turun lebih dulu dengan aura yang langsung membuat area sekitar otomatis sunyi.

“Anjir…”

“Itu bodyguard?”

“Siapa yang dateng…?”

Lalu dari mobil depan turun seorang pria tinggi dengan wajah tampan dingin dan aura dewasa yang sangat kuat.

Prince.

Di sisi lain, pria kedua keluar sambil melepas kacamata hitamnya dengan santai.

Leon.



Dan dalam hitungan detik…

Satu sekolah langsung geger.

“WOYYYYY!”

“KAKAKNYA HANIN?!”

“GILA VISUAL KELUARGANYA!”

“INI KELUARGA APA CASTING DRAMA?!”

Bahkan Petra yang sedang berjalan bersama Trouble Boy otomatis berhenti melihat pemandangan itu.

Reno sampai melongo tidak percaya.

“Ketua…”

“Hm?”

“Kayaknya keluarga Hanin emang bukan manusia biasa.”

Sementara itu Hanin berjalan mendekat ke arah kedua kakaknya.

Prince langsung membuka tangan sedikit.

“Hanin.”

Hanin menghampiri lalu dipeluk singkat oleh kakak tertuanya itu.

“Capek?” tanya Prince pelan.

“Enggak.”

Leon ikut mengacak rambut Hanin pelan sambil tersenyum tipis.
“Katanya sekolah baru bikin geger terus?”

“Itu mereka yang lebay.”

Leon dan Damian langsung tertawa kecil kompak.

Tak lama kemudian Hanin melirik motornya yang masih terparkir.

“Aku bawa motor.”

“Nanti aja diambil,” jawab Damian santai.

Hanin langsung menggeleng.
“Enggak. Aku naik motor aja.”

Namun Prince langsung menatap adiknya dengan tatapan khas kakak tertua yang sulit dibantah.

“Hanin.”

“…Apa.”

“Titipkan saja ke penjaga sekolah.”

“Aku bisa nyusul sendiri.”

“Kita mau ke rumah sakit,” ujar Prince lebih lembut. “Dan kita pergi bareng.”

Hanin diam beberapa detik.

Jujur saja…
di keluarga mereka, Prince memang paling sulit dilawan.

Bahkan Hanin sekalipun.

Akhirnya Hanin menghela napas kecil menyerah.

“…Yaudah.”

Damian langsung menyeringai kecil.
“Anak kesayangan kalah.”

“Diam.”

Leon tertawa pelan sambil mengambil helm Hanin.

Sementara dari kejauhan…

Seluruh siswa Garuda High School hanya bisa mematung melihat interaksi keluarga itu.

Aura mereka terlalu berbeda.

Elegan.
Mahal.
Dan berbahaya dalam waktu bersamaan.

Bahkan Petra yang biasanya paling santai pun kini memperhatikan mereka dengan lebih serius.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia mulai sadar kalau dunia Hanin jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

Keramaian di area parkiran sekolah bukannya mereda…

Malah semakin tidak terkendali.

Siswa-siswi yang tadinya sudah hendak pulang sekarang malah berhenti semua hanya untuk melihat keluarga Hanin lebih dekat.

Aura mereka benar-benar terlalu mencolok.

Prince dengan tatapan dingin dan wibawa khas kakak tertua.
Leon yang santai tapi elegan.
Damian yang ramah dan gampang berbaur.

Dan sekarang…

Pintu mobil kedua kembali terbuka.

BRAK.

Satu kaki panjang keluar dari dalam mobil sebelum sosok pria lain turun sambil menghela napas malas.

“Ribut banget sih…”

Cowok itu memakai kemeja hitam dengan lengan digulung setengah, rambut sedikit berantakan tapi justru membuat visualnya semakin gila.

Bagas.



Dan detik itu juga...

“ANJIR ADA LAGI?!”

“GUE CAPEK KAGET!”

“INI KELUARGA ISINYA VISUAL SEMUA APA GIMANA?!”

Bahkan beberapa siswi sampai refleks menutup mulut karena terlalu syok.

Bagas melirik sekeliling sekolah yang penuh tatapan heboh lalu mengernyit.

“Kenapa mereka liatin kita semua?”

Leon langsung nyengir.
“Karena keluarga kita gak ada obat.”

“Najis.”

Damian ngakak keras.

Sementara Hanin hanya memijat pelipis kecil seolah sudah terbiasa dengan kekacauan ini.

Bagas kemudian berjalan mendekat ke arah Hanin sambil membawa satu paper bag kecil.

“Nih.”

Hanin menerima paper bag itu bingung.
“Apa?”

“Mochi favorit lo.”

Hanin langsung diam beberapa detik sebelum membuka sedikit isi kantongnya.

Dan untuk pertama kalinya hari itu…

Ekspresi Hanin benar-benar berubah cerah.

“…Kak Bagas baik banget hari ini.”

“Tumben?” sahut Bagas santai.

“Biasanya nyebelin.”

“Kurang ajar.”

Damian dan Leon langsung tertawa melihat interaksi mereka.

Sementara Prince hanya menggeleng kecil sambil membuka pintu mobil untuk Hanin.

Di sisi lain parkiran…

Petra dan Trouble Boy masih berdiri seperti penonton konser.

Reno bahkan sudah speechless.

“Ketua…”

“Hm.”

“Gue ngerti sekarang kenapa Hanin auranya beda.”

Petra tidak menjawab.

Tatapannya justru fokus memperhatikan Hanin yang sedang tertawa kecil bersama kakak-kakaknya.

Dan entah kenapa…

Melihat Hanin tersenyum nyaman bersama keluarganya terasa sangat indah.

Namun di saat yang sama…

Petra sadar satu hal penting.

Untuk bisa mendekati Hanin…

Ia bukan cuma harus menghadapi Hanin sendiri.

Tapi juga empat kakak laki-laki overprotective yang auranya saja sudah seperti bos mafia.



Chapter 6


Mesin mobil mulai menyala satu per satu di area parkiran Garuda High School.

Prince duduk di kursi depan mobil utama.
Leon menyetir mobil kedua.
Damian dan Bagas masuk bergantian sambil masih bercanda kecil.

Sementara Hanin akhirnya masuk ke mobil setelah menitipkan motor miliknya pada penjaga sekolah.

Begitu pintu mobil tertutup…

Suasana di luar masih penuh tatapan penasaran.

Banyak siswa diam-diam merekam.
Sebagian lagi hanya bisa melongo melihat keluarga Hanin yang benar-benar seperti keluar dari dunia lain.

Dan tak lama kemudian...

Dua mobil hitam itu perlahan keluar dari gerbang sekolah.

Namun tepat beberapa detik setelahnya…

Tiga mobil SUV hitam lain tiba-tiba menyusul dari arah luar sekolah.

Mobil-mobil itu langsung membentuk posisi mengiringi.

Satu di depan.
Dua di belakang.

Gerakannya rapi.
Terlatih.
Dan terlalu profesional untuk sekadar pengawalan biasa.

Seketika suasana depan sekolah langsung berubah hening.

“…”

“…”

Beberapa siswa sampai otomatis mundur sedikit saat mobil iring-iringan itu lewat.

Aura yang muncul benar-benar mencekam.

Bukan karena ribut.

Justru karena terlalu tenang.

Di dalam mobil paling belakang bahkan terlihat beberapa pria berbadan besar memakai jas hitam dan earpiece.

Reno yang baru saja keluar gerbang bersama Trouble Boy langsung melotot.

“ANJIR.”

Petra yang duduk di jeep pun menyipitkan mata memperhatikan iring-iringan itu.

Sementara anggota geng lain sudah mulai panik sendiri.

“Ketua…”

“Itu bodyguard beneran?”

“Gue kira cuma di drama.”

“INI MAH PRESIDEN KALI DIKAWALNYA.”

Jeep Trouble Boy yang kebetulan keluar di belakang rombongan itu akhirnya ikut melambat.

Karena jujur saja…

Atmosfernya membuat mereka tidak berani terlalu dekat.

Salah satu bodyguard di mobil belakang bahkan sempat melirik lewat kaca spion hitam pekat.

Tatapan singkat itu saja sudah cukup bikin Reno merinding.

“Buset…”

“Tatapannya kayak mau ngubur orang hidup-hidup.”

Petra tetap diam memperhatikan.

Dan makin lama…

Perasaan aneh mulai muncul di kepalanya.

Keluarga Hanin jelas bukan sekadar keluarga konglomerat biasa.

Cara mereka bergerak.
Cara bodyguard itu menjaga.
Dan aura mencekam yang muncul secara alami…

Semuanya terasa terlalu berbeda.

“Ketua…” bisik Reno pelan. “Menurut lo keluarga Hanin sebenarnya keluarga apaan?”

Petra menyender pelan di kursinya sambil tetap menatap mobil hitam yang perlahan menjauh di jalan raya.

Lalu menjawab singkat,

“Yang jelas…”

“Bukan orang biasa.”

Iring-iringan mobil hitam akhirnya memasuki area rumah sakit pusat kota.

Lampu sore mulai menyala satu per satu saat rombongan keluarga Hanin berhenti tepat di area VIP entrance.

Suasana rumah sakit yang biasanya ramai mendadak terasa berbeda begitu mobil mereka datang.

Beberapa petugas keamanan langsung sigap membuka jalan.
Perawat dan staff rumah sakit pun refleks menundukkan kepala sopan saat melihat rombongan itu turun.

Aura mereka terlalu kuat untuk diabaikan.

Prince turun lebih dulu dengan wajah tenang namun dingin seperti biasa.

Leon berjalan di sampingnya sambil menerima telepon singkat dari seseorang.

Damian meregangkan bahu santai, sementara Bagas membawa paper bag dan beberapa barang Hanin.

Dan terakhir…

Hanin keluar dari mobil sambil merapikan hoodie abu-abunya.

Begitu Hanin turun, salah satu bodyguard langsung mendekat sedikit.

“Non..”

“Aku bisa jalan sendiri,” jawab Hanin santai.

Bodyguard itu langsung mundur hormat.

Di rumah sakit ini, keluarga mereka memang cukup dikenal.

Bukan hanya karena kekayaan mereka…

Tapi juga karena nama keluarga itu sendiri punya pengaruh besar.

Mereka berjalan melewati lorong VIP rumah sakit yang jauh lebih tenang dibanding area umum.

Sepanjang jalan, beberapa dokter dan perawat terlihat menyapa hormat.

“Selamat sore, Tuan Prince.”

“Selamat datang.”

Prince hanya mengangguk tipis membalas.

Sementara Hanin berjalan paling dekat dengan Damian.

“Keadaan kakek gimana?” tanyanya pelan.

Damian melirik adiknya sekilas.
“Lebih baik dari kemarin.”

Hanin sedikit lega mendengarnya.

Karena di keluarga mereka…

Kakeknya adalah pusat semuanya.

Orang yang paling dihormati.
Paling ditakuti.
Dan paling disayangi.

Tak lama kemudian mereka sampai di depan ruang rawat VIP paling ujung.

Dua bodyguard berdiri menjaga di depan pintu.

Dan itu langsung menjelaskan betapa pentingnya orang di dalam ruangan tersebut.

Prince membuka pintu perlahan.

Di dalam ruangan VIP luas itu, seorang pria tua berambut putih sedang duduk setengah bersandar di ranjang rumah sakit sambil membaca koran.

Meski sudah tua…

Aura wibawanya masih sangat terasa.

Tatapan tajamnya bahkan masih cukup membuat orang segan.

Begitu melihat cucu-cucunya masuk…

Wajah pria tua itu langsung sedikit melembut.

“Hm.”

“Kalian datang juga.”

Leon langsung tersenyum kecil.
“Kakek malah baca koran, bukannya istirahat.”

“Kakek bosan.”

Damian terkekeh pelan sambil duduk di sofa dekat jendela.

Sementara Hanin berjalan paling akhir mendekati ranjang.

Dan berbeda dengan sikap dinginnya di sekolah…

Tatapan Hanin pada kakeknya terlihat jauh lebih hangat.

“Kakek.”

Pria tua itu menatap Hanin beberapa detik.

Lalu tersenyum tipis kecil, senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya.

“Nona kecil kakek datang.”

Bagas langsung mengeluh dramatis.

“Nah kan.”

“Kita semua cucu, tapi favorit tetep Hanin.”

Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil keluarga itu.

Dan untuk pertama kalinya hari itu…

Aura mencekam keluarga Hanin menghilang sementara, tergantikan suasana hangat yang hanya muncul saat mereka bersama orang yang paling mereka sayangi.

Malam mulai turun saat keluarga Hanin akhirnya selesai menjenguk kakek mereka.

Suasana ruang VIP yang tadi hangat perlahan kembali tenang.

Prince masih berbicara sebentar dengan dokter pribadi keluarga mereka di luar ruangan, sementara Leon menerima beberapa telepon pekerjaan.

Bagas sibuk bercanda dengan Damian sampai membuat Hanin geleng-geleng kepala sendiri.

“Udah gede masih kayak bocah,” celetuk Hanin sambil memakai kembali hoodienya.

“Ini namanya menjaga jiwa muda,” jawab Bagas santai.

“Namanya berisik.”

Damian langsung ngakak.

Tak lama kemudian mereka semua berpamitan pada sang kakek.

“Kakek istirahat ya,” ujar Hanin pelan sambil menggenggam tangan pria tua itu sebentar.

Kakeknya mengangguk kecil.

“Hati-hati di jalan.”

Tatapan beliau sedikit lebih lembut saat melihat Hanin pergi keluar ruangan.

Dan seperti biasa…

Empat cucu laki-lakinya langsung protes karena Hanin selalu dapat perhatian paling spesial.

Beberapa menit kemudian rombongan keluar dari rumah sakit.

Udara malam kota terasa lebih dingin dibanding sore tadi.

Lampu-lampu jalan mulai menyala terang, memantul di permukaan mobil hitam keluarga mereka.

Prince melirik Hanin.
“Langsung pulang?”

“Iya.”

“Aku anter,” ujar Damian santai.

Leon langsung menoleh curiga.
“Tumben baik.”

“Takut dia nyasar.”

Hanin mendelik kecil.
“Apartemenku bukan hutan.”

Bagas tertawa sambil masuk ke mobilnya.
“Udah sana. Besok sekolah juga bareng sekalian.”

Dan akhirnya diputuskan Damian akan mengantar Hanin pulang sekaligus menginap di apartemennya malam ini.

Prince sempat mengingatkan singkat sebelum mereka berpisah.

“Kalau ada apa-apa langsung telepon.”

“Iya Prince,” jawab Hanin malas karena sudah hafal.

Tak lama kemudian mobil Damian melaju meninggalkan area rumah sakit menuju apartemen Hanin.

Perjalanan malam terasa cukup tenang.

Damian menyetir santai sambil memutar musik pelan.

Sementara Hanin duduk di kursi samping sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela.



“Sekolah baru seru?” tanya Damian tiba-tiba.

“Lumayan.”

“Petra?”

Hanin langsung melirik kakaknya datar.
“Kenapa bawa-bawa dia?”

Damian tertawa kecil.
“Wah sensitif.”

“Enggak.”

“Dia suka sama lo tuh.”

“Bukan urusanku.”

Damian hanya tersenyum geli.

Jawaban Hanin memang terdengar dingin…

Tapi Damian cukup tahu adiknya.

Kalau Hanin benar-benar tidak peduli, biasanya ia bahkan malas membahas orang itu sama sekali.

Tak lama kemudian mereka sampai di apartemen Hanin.

Mobil masuk ke basement privat sebelum lift membawa mereka langsung ke lantai unit Hanin.

Begitu pintu apartemen terbuka, Damian langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang ruang tamu.



“Ah enak…”

Hanin melepas sepatunya lalu berjalan ke dapur kecil.

“Mau makan?”

“Mau.”

“Kamu tadi bilang kenyang.”

“Sekarang laper lagi.”

“Rakus.”

Damian tertawa kecil sambil melihat adiknya mulai membuka kulkas.

Suasana apartemen malam itu terasa hangat dan santai.

Tidak ada aura dingin keluarga besar mereka.
Tidak ada bodyguard.
Tidak ada tekanan.

Hanya dua saudara yang akhirnya bisa menikmati malam dengan tenang setelah hari yang sangat panjang.

Suasana apartemen Hanin malam itu terasa nyaman dan hangat.

Lampu dapur menyala lembut sementara aroma makanan mulai memenuhi ruangan.

Hanin berdiri di depan kompor memasak ramen dan rice bowl sederhana untuk makan malam mereka.

Rambutnya kini diikat asal.
Lengan hoodie-nya digulung sedikit.
Dan wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding saat di sekolah.

Sementara itu Damian rebahan di sofa sambil memainkan HP.



Namun sejak tadi...

BZZZT
BZZZT
BZZZT

Ponselnya terus bergetar tanpa henti.

Damian mengernyit.
“Ini anak sekolah gak tidur apa…”

Di dapur, HP Hanin pun bernasib sama.

Notifikasi masuk terus menerus seperti hujan.

📱 Basket Putri GHS
📱 Taekwondo GHS
📱 2-B ISI ORANG GILA 🔥
📱 Info Sekolah GHS
📱 Cowok GHS
📱 Cewek GHS

Semuanya ramai membahas hal yang sama.

Hari ini.

Lebih tepatnya…

Hanin.

Damian membuka salah satu grup sekolah dan langsung tertawa keras.

“HAHAHAHA.”

“Apa?” tanya Hanin tanpa menoleh.

“Lo trending.”

“Hah?”

Damian duduk tegak lalu memperlihatkan layar HP-nya.

📱 TOP HIGHLIGHT GHS TODAY 🔥

1️⃣ HANIN VS CLARA BASKET MATCH 🏀
2️⃣ SISWI BARU JAGO 5 BAHASA?!
3️⃣ HANIN BIKIN PETRA DIEM
4️⃣ KAKAK-KAKAK HANIN VIRAL

Dan yang paling parah…

Ada foto candid Hanin saat main basket tadi yang entah siapa upload.

Caption-nya:

“Garuda High School finally found its main character.”

Hanin:
“…”

Damian malah makin ngakak.

“Lo jadi artis sekolah.”

“Ganggu banget.”

BZZZT

HP Damian kembali bunyi.

📱 Arga:

BRO ADEK LO LAGI HEBOH SATU SEKOLAH 😭

📱 Reno:

Ketua kita tumbang.

📱 Siswa lain:

Bang Damian izin kenalan sama Hanin dong 🙏

Damian langsung nyengir jahil.
“Wih banyak yang mau daftar.”

“Blok.”

“Jahat banget.”

Sementara itu HP Hanin sendiri bahkan lebih parah.

Puluhan DM masuk tanpa henti.

💬 Hai Hanin salam kenal
💬 Keren banget tadi basketnya
💬 Tutor bahasa Inggris dong 😭
💬 Lo beneran manusia?

Dan tentu saja…

Nama yang paling sering muncul tetap:

💬 Petra

Hanin membuka chat itu sebentar.

“Lo capek?”

Lalu masuk lagi chat berikutnya.

“Tadi keren.”

Dan beberapa menit setelahnya...

“Jangan lupa makan.”


Damian yang diam-diam mengintip langsung senyum lebar.

“Oalah.”

Hanin langsung menjauhkan HP-nya.
“Ngapain lihat-lihat.”

“Petra perhatian banget ternyata.”

“Berisik.”

Damian tertawa sambil menyandarkan kepala ke sofa.

Sementara Hanin kembali fokus memasak walau ujung telinganya sedikit memerah samar.

Dan malam itu…

Di seluruh Garuda High School...

Nama Hanin benar-benar sedang berada di puncak pembicaraan.

Namun ternyata…

Kehebohan malam itu belum selesai.

Damian yang masih santai rebahan sambil scrolling grup sekolah tiba-tiba berhenti.

“Loh?”

“Apa lagi…” jawab Hanin malas dari dapur.

Damian perlahan menunjukkan layar HP-nya dengan ekspresi tidak percaya campur geli.

📱 TOP HIGHLIGHT GHS UPDATED 🔥

1️⃣ HANIN VS CLARA BASKET MATCH 🏀
2️⃣ WHO IS DAMIAN ADREENA?! 👀
3️⃣ SISWI BARU JAGO 5 BAHASA?!
4️⃣ KAKAK-KAKAK HANIN VIRAL
5️⃣ PETRA RESMI JATUH?

Damian langsung ngakak keras.

“Anjir nama gue naik juga.”

Hanin menoleh sekilas lalu kembali mengaduk ramen.
“Makanya jangan sok ramah.”

“Lah gue cuma nyapa orang.”

“Justru itu masalahnya.”

Damian makin tertawa.

Sementara isi grup sekolah sekarang mulai absurd.

📱 Cewek GHS 💅

💬 DAMIAN SENYUM KE GUE TADI
💬 ENGGAK KE LO DOANG KE SEMUA ORANG 😭
💬 Cowok ganteng + ramah tuh bahaya banget
💬 Fix tipe green flag

Di grup lain:

📱 Cowok GHS 🗿

💬 Keluarga Hanin visual semua anjir
💬 Gue minder jadi laki-laki
💬 Damian gampang akrab lagi… nyebelin

Dan yang paling heboh tentu saja akun highlight sekolah.

Mereka bahkan mengupload foto Damian yang sedang tertawa di pinggir lapangan basket tadi sore.

Caption:

“Golden retriever energy but rich version.”

Damian:
“…”

Hanin langsung ketawa kecil membaca caption itu.

“Kocak.”

“Apaan golden retriever.”

“Mirip...”

“Kurang ajar.”

BZZZT

HP Damian kembali berbunyi tanpa ampun.

DM terus masuk.

💬 Hai kak Damian
💬 Besok ke kantin lagi gak?
💬 Kakaknya Hanin ternyata ramah banget…
💬 Tutor ganteng dong kak 😭

Damian sampai menutup wajah pakai bantal sofa.



“Sekolah lo serem juga.”

“Sekarang tau.”

Namun beberapa detik kemudian Damian malah melirik Hanin jahil.

“Tapi…”

“Apa.”

“Yang paling viral tetep lo.”

Hanin mendecakkan lidah kecil.

Dan tepat saat itu...

HP Damian bunyi lagi.

📱 Clara

Damian mengangkat alis.
“Hm.”

Hanin langsung menyipitkan mata kecil penuh arti.

“Oalah…”

Damian cepat-cepat mengunci layar HP.

“Jangan senyum begitu.”

“Kak Clara cantik.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus?”

Damian terdiam sebentar sebelum akhirnya menghela napas kecil.

“…Ribet.”

Hanin malah tertawa kecil sambil membagi ramen ke dua mangkuk.

Dan malam itu…

Dua bersaudara itu benar-benar tidak bisa hidup tenang karena satu sekolah sedang sibuk membicarakan mereka.

Malam semakin larut.

Lampu kota di balik jendela apartemen masih bersinar terang, memantul indah di kaca besar ruang tamu Hanin.

Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.

Namun apartemen itu masih hidup oleh suara tawa kecil dan obrolan santai dua bersaudara.

Setelah makan malam selesai, Hanin dan Damian kini duduk lesehan di depan TV sambil bermain PS.

Game balapan yang awalnya santai berubah jadi penuh keributan.

“WOI CURANG.”

“Itu skill.”

“Kamu nabrak aku.”

“Namanya strategi.”

Damian langsung ngakak saat mobil Hanin kembali menabrak mobilnya sampai keluar lintasan.

“Anak mafia banget mainnya.”

“Belajar dari kalian.”

“Fitnah.”

Hanin tertawa kecil sambil tetap fokus pada controller di tangannya.

Di sekolah, orang-orang mungkin melihat Hanin sebagai gadis dingin, tenang, dan sempurna.

Tapi di depan keluarganya…

Ia jauh lebih hidup.

Jauh lebih santai.

Dan Damian paling suka melihat sisi itu.

Setelah beberapa ronde bermain, mereka akhirnya menyerah karena terlalu capek tertawa sendiri.

Damian menjatuhkan tubuh ke sofa sambil meminum soda dingin.

Sementara Hanin duduk selonjoran di karpet sambil memeluk bantal kecil.

Suasana mendadak lebih tenang.

TV masih menyala pelan sebagai background noise.

Lalu obrolan mereka mulai berubah membahas keluarga.

“Prince tadi keliatan capek,” ujar Hanin pelan.

Damian mengangguk.
“Kerjaan lagi banyak.”

“Leon juga.”

“Yang paling santai cuma Bagas.”

Hanin terkekeh kecil.
“Bagas mah hidupnya bercanda terus.”

Damian ikut tersenyum.

Meski keluarga mereka besar dan penuh tekanan…

Saat berkumpul seperti tadi di rumah sakit, semuanya terasa normal.

Dan itu momen yang jarang mereka dapat.

Hanin kemudian menatap langit malam dari balik jendela apartemen.

“Aku takut kakek kenapa-kenapa.”

Nada suaranya jauh lebih pelan dari biasanya.

Damian langsung menoleh.

Karena Hanin jarang menunjukkan kekhawatiran secara terang-terangan.

Cowok itu lalu mengacak pelan rambut adiknya.

“Kakek kuat.”

Hanin diam.

“Kakek masih mau lihat kamu lulus dulu,” lanjut Damian santai.

“Masa cuma aku.”

“Ya soalnya cucu kesayangan.”

Hanin mendelik kecil.
“Mulai lagi.”

Damian tertawa kecil.

Lalu suasana kembali tenang beberapa saat.

Mereka hanya duduk menikmati malam sambil sesekali membahas masa kecil, tingkah absurd Bagas, kebiasaan overprotective Prince, dan Leon yang diam-diam paling perhatian.

Jam perlahan menunjukkan pukul dua belas malam.

Namun anehnya…

Tidak ada rasa lelah yang mengganggu.

Karena bagi Hanin dan Damian…

Momen sederhana seperti ini jauh lebih berharga dibanding semua kemewahan yang mereka miliki.

Pagi hari di apartemen Hanin terasa jauh lebih ramai dari biasanya.

Alarm berbunyi hampir bersamaan dari dua kamar berbeda.

Dan beberapa menit kemudian...

“Damian bangun.”

“Lima menit lagi…”

“Hari ini sekolah.”

“Makanya lima menit.”

Hanin langsung membuka pintu kamar kakaknya tanpa izin lalu melempar bantal ke wajah Damian.

BUGH.

“WOI.”

“Bangun.”

Damian mengerang malas sambil menutup wajah dengan selimut.
“Lo galak banget pagi-pagi.”

“Kalau telat aku tinggal.”

Kalimat itu sukses membuat Damian langsung bangun.

“Jahat.”

Hanin hanya menyeringai tipis sebelum keluar kamar.

Tak lama kemudian aroma roti panggang dan kopi mulai memenuhi apartemen.



Hanin yang sudah rapi dengan seragam sekolah sedang menyiapkan sarapan sederhana di dapur.

Sementara Damian keluar kamar sambil masih setengah ngantuk namun tetap terlihat terlalu tampan untuk ukuran manusia normal.

“Kenapa hidup lo estetik banget sih pagi-pagi,” gumam Damian sambil duduk di meja makan.

“Karena aku gak tidur jam tiga kayak kamu.”

“Menyerang sekali.”

Mereka sarapan sambil sesekali bercanda kecil sebelum akhirnya bersiap berangkat.

Hari itu Damian memilih memakai mobilnya lagi.

Sedangkan Hanin yang awalnya ingin membawa motor akhirnya ikut naik mobil bersama Damian karena malas ribet.


Chapter 7


Perjalanan menuju sekolah terasa santai.

Musik diputar pelan.
Jalanan pagi kota mulai ramai.
Dan Hanin duduk di kursi penumpang sambil mengecek ponselnya yang lagi-lagi penuh notifikasi grup sekolah.

📱 2-B ISI ORANG GILA 🔥

💬 Reno:

hari ini ketua akan menyatakan cinta 🙏

💬 Petra:

gue tendang lo

💬 Nisa:

WOY HANIN ONLINE

Hanin langsung keluar grup chat tanpa membalas apa pun.

Damian yang melihat itu malah tertawa.

“Kasian mereka.”

“Berisik.”

Tak lama kemudian mobil Damian memasuki gerbang Garuda High School.

Dan seperti biasa…

Kedatangan mereka langsung menarik perhatian.

“WOI DATENG!”

“Itu Hanin sama Damian!”

“Gila pagi-pagi udah visual attack.”

BMW hitam itu berhenti pelan di area parkir.

Damian turun lebih dulu lalu berjalan memutar membuka pintu untuk Hanin.



“Silakan nona.”

Hanin melirik datar.
“Norak.”

“Biar aesthetic.”

Hanin keluar sambil membawa tasnya.

Dan lagi-lagi…
seluruh area parkir seperti otomatis memperhatikan mereka.

Sementara dari sisi lain parkiran...

Jeep hitam Trouble Boy baru saja masuk.

Petra yang turun dari mobil langsung berhenti begitu melihat Hanin datang bersama Damian.

Reno refleks menyenggol ketuanya pelan.

“Pagi-pagi langsung dikasih cobaan.”

Pagi di Garuda High School terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.

Area parkir, koridor, bahkan taman sekolah sudah dipenuhi murid yang diam-diam memperhatikan Hanin dan Damian berjalan berdampingan menuju gedung utama.

Dan tentu saja…

Berbeda dengan Hanin yang cenderung cuek dan dingin, Damian justru terlalu ramah.

“Pagi bang!”

“Yo pagi.”

“Kak Damian!”

“Hm? Pagi.”

“Bro nanti nongkrong kantin?”

“Gas aja.”

Sepanjang jalan hampir selalu ada yang menyapa Damian.

Dan parahnya…

Cowok itu membalas semuanya.

Senyum.
Anggukan.
Sapaan santai.

Benar-benar seperti selebriti sekolah.

Sementara Hanin berjalan di sampingnya sambil memegang tali tas dengan wajah makin datar.

Risih.

Bukan karena diperhatikan…

Tapi karena terlalu banyak orang mendadak mendekat hanya gara-gara Damian.

“Kak.”

“Hm?”

“Kamu terlalu humble.”

Damian langsung menoleh sambil menahan tawa.
“Ini salah gue?”

“Iya.”

“Mereka nyapa, masa gue cuekin.”

“Capek dengernya.”

Damian ngakak kecil.

Hanin mendesah pelan sambil mempercepat langkah sedikit.

Namun baru beberapa meter...

“HANIN PAGI!”

“Kak Damian ganteng banget hari ini 😭

“WOY ADA MEREKA!”

Hanin memejamkan mata sebentar.

“Lihat kan.”

Damian malah makin senyum geli.

Jujur saja…
mengganggu Hanin seperti ini cukup menyenangkan.

Karena biasanya adiknya terlalu tenang untuk ukuran manusia.

Saat mereka melewati koridor utama, beberapa siswi bahkan sengaja berdiri hanya untuk melihat Damian lebih dekat.

Dan tentu saja…

Cowok itu masih sempat menyapa santai.

“Pagi.”

Seketika satu kelompok siswi langsung heboh sendiri setelah Damian lewat.

“ANJIR DIA NYAPA.”

“SUARANYA BAGUS BANGET.”

“GUE MAU PINDAH JURUSAN.”

Hanin:
“…”

“Kak.”

“Iya?”

“Besok aku berangkat sendiri.”

Damian langsung tertawa keras.

“Segitunya?”

“Berisik.”

Namun di balik wajah datarnya…

Sudut bibir Hanin sempat naik tipis kecil.

Karena sebenarnya ia tidak benar-benar terganggu.

Ia hanya belum terbiasa.

Dan di sisi lain koridor…

Petra yang baru datang bersama Trouble Boy memperhatikan semuanya dari jauh.

Tatapannya berhenti cukup lama pada Damian yang berjalan santai di samping Hanin.

Reno melirik pelan.
“Ketua.”

“Hm.”

“Saingan lo bukan cuma cowok sekolah ternyata.”

Petra memasukkan tangan ke saku sambil tetap menatap Hanin.

Lalu tersenyum kecil penuh arti.

“Gapapa.”

“Yang penting Haninnya belum punya siapa-siapa.”

Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang berlalu-lalang.

Damian dan Hanin baru saja sampai dekat tangga menuju gedung kelas ketika seseorang memanggil dari arah belakang.

“BROOO!”

Seorang cowok kelas 3 berlari kecil menghampiri mereka sambil membawa dua cup minuman dingin di tangannya.

Arga.



Teman satu geng Damian yang paling heboh.

“Pagi manusia viral,” katanya santai pada Damian.

“Pagi manusia kurang kerjaan,” balas Damian.

Arga langsung nyengir lalu menoleh ke arah Hanin yang berdiri di samping Damian.

Dan mendadak cowok itu jadi lebih jaim.

“Eh… pagi Hanin.”

“Pagi.”

Arga terlihat salah tingkah beberapa detik sebelum akhirnya mengulurkan satu cup kopi dingin ke arah Hanin.

“Ini buat lo.”

Hanin sedikit bingung.
“Buat aku?”

“Iya… eh maksudnya sekalian tadi beli.”

Damian langsung menaikkan alis curiga.

“Sekalian katanya.”

“DIEM LO.”

Hanin menerima kopi itu pelan.
“Thanks.”

Dan itu saja sudah cukup membuat Arga langsung senyum lebar seperti habis menang undian.

“Anjir dibales…”

Damian ngakak melihat temannya sendiri hampir malfunction.

Sementara Hanin membuka sedotan kopi itu tanpa banyak pikir.

Namun beberapa meter dari mereka...

Aura mendadak berubah dingin.

Petra yang baru saja berjalan mendekat bersama Trouble Boy otomatis berhenti saat melihat pemandangan itu.

Tatapannya langsung tertuju pada kopi di tangan Hanin.

Lalu ke Arga.

Lalu balik lagi ke Hanin.

Reno yang sadar situasi langsung berbisik pelan,
“Waduh…”

Petra menyipitkan mata kecil.
“Dia siapa.”

“Temennya Damian.” Sahut Reno.

“Kenapa ngasih kopi.”

“Karena hidup penuh kejutan?”

Petra mendecakkan lidah pelan.

Sementara Hanin yang tidak sadar ada Petra di belakang masih berbicara santai dengan Damian dan Arga.

“Enak?”

“Lumayan,” jawab Hanin setelah mencoba sedikit.

Arga langsung sumringah.
“Syukur.”

Dan entah kenapa…

Kalimat sederhana itu sukses membuat Petra makin tidak tenang.

Ketua Trouble Boy itu akhirnya berjalan mendekat dengan tangan di saku celana.

“Ada kopi gratis ternyata.”

Suasana langsung sedikit awkward.

Arga refleks menelan ludah.
“Eh… ketua.”

Petra melirik cup kopi di tangan Hanin lalu menatap Arga.

“Baik banget pagi-pagi.”

Nada suaranya santai.

Tapi Reno yang paling kenal Petra tahu persis...

Itu nada cemburu.

Suasana koridor mendadak terasa aneh.

Bukan karena ribut…

Tapi karena aura Petra yang tiba-tiba berubah sedikit dingin meski wajahnya masih santai.

Arga yang berdiri paling dekat bahkan mulai salah tingkah sendiri.

Sementara Hanin?

Tetap biasa saja.

Gadis itu masih memegang kopi dinginnya sambil menyeruput pelan tanpa merasa ada yang aneh.

Dan justru itu yang membuat Damian hampir tertawa.

Cowok itu menoleh ke Petra lalu ke Arga, sebelum akhirnya terkekeh pelan melihat situasi yang sangat jelas di matanya.

“Heh…”

Petra melirik Damian tipis.
“Kenapa ketawa.”

“Enggak,” jawab Damian santai sambil menahan senyum. “Lucu aja.”

“Apanya.”

Damian tidak langsung menjawab.

Karena ekspresi Petra sekarang terlalu mudah dibaca.

Tatapan ke kopi.
Tatapan ke Arga.
Tatapan balik ke Hanin.

Benar-benar seperti orang yang sedang territorial.

Reno sampai menunduk menahan tawa.

“Ketua… santai ketua…”

“Gue santai.”

“Urat leher lo beda pendapat.”

Petra langsung menyikut Reno tanpa mengalihkan pandangan dari Arga.

Sementara Hanin akhirnya menoleh ke Petra.

“Ada apa?”

“Nggak ada.” Sahut Petra.

“Terus?”

Petra diam sebentar sebelum akhirnya menjawab asal.

“Pagi.”

Hanin mengangguk kecil.
“Pagi.”

Lalu kembali meminum kopinya dengan tenang.

Dan entah kenapa…

Respon sesingkat itu langsung membuat Petra sedikit membaik.

Damian yang melihat semuanya dari samping benar-benar sudah hampir ketawa keras.

“Kasian banget,” bisiknya pelan pada Hanin.

Hanin mengernyit kecil.
“Siapa?”

“Dia.”

Petra langsung melirik tajam.
“Gue denger.”

“Syukurlah.”

Arga yang sadar dirinya berada di tengah-tengah situasi berbahaya mulai mundur perlahan.

“Oke… gue cabut ya…”

“Lari sana,” celetuk Reno cepat.

Dan begitu Arga pergi...

Petra otomatis berdiri di posisi dekat Hanin tanpa sadar.

Seolah menggantikan tempat tadi.

Reno sampai melongo melihat perubahan posisi itu.

“WOY…”

Damian akhirnya benar-benar tertawa kecil kali ini.

Karena makin lama…

Petra makin transparan kalau urusannya menyangkut Hanin.

Koridor sekolah mulai semakin ramai seiring bel masuk yang sebentar lagi berbunyi.

Damian masih tertawa kecil sambil menggeleng melihat Petra yang jelas-jelas berubah posesif hanya karena segelas kopi.

Namun tak lama kemudian mereka sampai di persimpangan koridor menuju gedung kelas masing-masing.

“Kelas gue duluan,” ujar Damian santai sambil menepuk pelan kepala Hanin.

“Hm.”

“Nanti istirahat jangan bikin satu sekolah geger lagi.”

“Itu bukan salahku.”

“Iya iya paling innocent.”

Hanin mendelik tipis.

Damian lalu melirik Petra sebentar dengan senyum kecil penuh arti.

“Titip.”

Petra mengangkat alis.
“Apaan.”

“Adik gue.”

Reno yang mendengar langsung menahan tawa keras.

Sementara Petra malah menjawab santai,

“Gak usah disuruh juga.”

Hanin:
“…”

Damian:
“…”

Reno langsung menepuk dada dramatis.
“WOY TERANG-TERANGAN.”

Damian ngakak puas sebelum akhirnya berjalan pergi menuju kelas 3 bersama gengnya.

Dan kini…

Koridor itu hanya menyisakan Hanin, Petra, dan Trouble Boy yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

Suasananya cukup aneh.

Karena biasanya Petra selalu jadi pusat keributan.

Tapi sekarang cowok itu justru berjalan santai di samping Hanin tanpa membuat masalah sedikit pun.

Beberapa siswa yang berpapasan sampai melirik bingung.

“Petra diem?”

“Mustahil…”    

“Fix Hanin jinakkin dia.”

Sementara Hanin berjalan sambil memegang kopi dinginnya.

“Aku gak perlu dititipin.”

Petra melirik kecil.
“Tau.”

“Terus kenapa jawab begitu.”

“Reflek.”

Hanin menghela napas kecil.

Dan anehnya…

Percakapan pendek seperti itu justru terasa nyaman.

Di belakang mereka, Trouble Boy berjalan sambil bisik-bisik sendiri.

Reno sampai hampir gila melihat situasi di depannya.

“Anjir…”

“Ketua jalan kayak cowok normal.”

“Gue merinding.”

Petra menoleh sedikit ke belakang.
“Gue tendang satu-satu ya.”

“Wah galak demi cewek.”

“DIEM.”

Hanin yang mendengar itu akhirnya tertawa kecil samar.

Sangat kecil…

Tapi cukup membuat Petra otomatis menoleh padanya.

Karena jujur saja...

Suara tawa Hanin masih jadi hal langka.

Dan setiap kali itu muncul…

Petra selalu merasa menang tanpa alasan jelas.

Koridor kelas 2-B sudah mulai ramai saat Hanin dan Petra akhirnya sampai.

Namun begitu keduanya muncul bersamaan di ujung koridor…

Suasana langsung berubah.

Beberapa siswa yang sedang ngobrol otomatis berhenti.

Tatapan langsung mengarah pada mereka.

Lebih tepatnya...
pada Petra yang berjalan santai di samping Hanin seperti itu hal paling normal di dunia.

“WOY…”

“Gue gak salah lihat kan?”

“Petra nganter Hanin?”

“Ketua Trouble Boy berubah jadi bodyguard.”

Di belakang mereka, Reno dan anggota geng lain sudah hampir mati menahan tawa.

“Ketua soft launching.”

“Gue pengen muntah liat romantisnya.”

Petra langsung menendang ringan kaki Reno dari belakang.

“Banyak bacot.”

Namun meski begitu…

Sudut bibir Petra tetap naik kecil.

Sementara Hanin tetap setenang biasa seolah tidak peduli dengan bisikan satu kelas yang mulai heboh.

Begitu masuk kelas, beberapa teman Hanin langsung menyapa heboh.

“HANIN PAGI!”

“Kopi dari siapa tuh 👀

“Nah kan nah kan.”

Hanin duduk di kursinya dekat jendela sambil meletakkan tas.

“Dari Arga.”

Dan satu kelas langsung:
“OOOOHHHHH.”

Petra yang baru saja duduk di kursi belakang otomatis menoleh cepat.

“Kenapa pada heboh.”

Reno langsung nyengir.
“Cemburu lagi nih.”

“Gue gak cemburu.”

“Terus kenapa mukanya asem.”

Petra melempar buku tipis ke arah Reno.

Sementara Hanin membuka bukunya santai lalu meminum kopi dinginnya lagi.

Dan tanpa sadar…

Tatapan Petra kembali jatuh ke arah Hanin.

Pagi itu cahaya matahari masuk dari jendela tepat di samping meja Hanin, membuat rambut hitamnya terlihat lebih lembut terkena cahaya.

Cantik.

Petra sampai diam beberapa detik terlalu lama.

Reno yang melihat itu langsung geleng-geleng kepala.

“Ketua…”

“Hm.”

“Lo udah hopeless.”

Petra terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursinya.

Suasana sekolah hari itu berjalan cukup normal.

Pelajaran demi pelajaran berlangsung seperti biasa, meski nama Hanin masih terus jadi bahan obrolan hampir di setiap sudut sekolah.

Dan sekarang…

Jam olahraga akhirnya dimulai.

Satu angkatan berkumpul di lapangan dengan seragam olahraga sekolah.

Kaos putih dengan strip hitam di lengan.
Celana training hitam strip putih.

Suasana lapangan langsung ramai oleh suara siswa yang mengeluh begitu guru olahraga menjelaskan materi hari itu.

“Tes lari?”

“BU KITA MASIH MUDA JANGAN DIAKHIRI SEKARANG 😭

“Aku baru makan gorengan…”

Guru olahraga hanya tertawa sambil meniup peluit.

“Lima putaran. Yang terbaik dapat nilai tambahan.”

Seketika semua langsung heboh.

Sementara Hanin berdiri tenang sambil mengikat rambutnya lebih tinggi.

Petra yang berdiri beberapa meter dari Hanin melirik sekilas lalu mendecakkan lidah kecil.

“Dia pasti menang lagi.”

Reno mengangguk pasrah.
“Kalau Hanin ikut, kita cuma figuran.”


PRITTT!

Peluit dibunyikan.

Dan seluruh siswa mulai berlari.

Awalnya masih santai.

Namun tak butuh waktu lama sampai Hanin mulai meninggalkan yang lain.

Langkahnya stabil.
Napasnya teratur.
Gerakannya ringan seperti sudah terbiasa latihan fisik berat setiap hari.

“ANJIR CEPET BANGET!”

“ITU MANUSIA APA MOTOR?!”

Bahkan beberapa cowok mulai ngos-ngosan di putaran kedua sementara Hanin masih terlihat tenang.

Petra yang biasanya cukup unggul dalam olahraga pun akhirnya tertawa kecil menyerah.

“Gila…”

Dan seperti yang sudah diprediksi semua orang...

Hanin finish paling pertama.

Waktunya bahkan jauh di atas rata-rata siswa lain.

Guru olahraga sampai mengangguk kagum.

“Bagus sekali Hanin.”

Teman-temannya langsung heboh lagi.

“HANIN MONSTER FISIK!”

“LO MAKAN APAAA?”

Hanin hanya tersenyum tipis kecil sambil mengatur napas.

Namun…

Entah kenapa tubuhnya terasa sedikit lebih berat hari ini.

Mungkin karena terlalu capek beberapa hari terakhir.
Kurang tidur.
Atau jadwalnya yang terlalu padat.

Ia tetap diam dan tidak mengatakan apa pun.

Setelah pelajaran olahraga selesai, para siswi mulai masuk ke ruang ganti untuk berganti seragam sekolah kembali.

Suasana ruang ganti cukup ramai oleh suara obrolan santai.

Sementara Hanin berdiri di dekat loker sambil membuka ikatan rambutnya perlahan.

Namun beberapa detik kemudian...

Pandangan Hanin mulai sedikit buram.

Napasnya terasa aneh.

Dan tubuhnya mendadak kehilangan keseimbangan.

“Hanin?”

Salah satu siswi menoleh bingung saat melihat Hanin memegang loker pelan.

Namun sebelum siapa pun sempat mendekat...

BRUK.


Tubuh Hanin jatuh lemas ke lantai ruang ganti.

Seketika seluruh ruangan panik.

“HANIN?!”

“YA ALLAH!”

“CEPET PANGGIL GURU!”

Suasana mendadak ricuh total.


Chapter 8


Kepanikan langsung menyebar cepat ke seluruh area olahraga.

Beberapa siswi membantu menopang tubuh Hanin yang tidak sadarkan diri, sementara guru olahraga langsung meminta UKS disiapkan.

“Cepat bawa ke UKS!”

Suasana yang tadi penuh candaan mendadak berubah tegang.

Hanin yang biasanya selalu terlihat kuat dan tenang kini terbaring lemas tanpa respon.

Bahkan beberapa siswi terlihat benar-benar panik karena tidak pernah melihat Hanin selemah ini.

Di sisi lain gedung sekolah…

Damian yang sedang berada di kelas, tiba-tiba mendengar keributan di koridor.

“Hanin pingsan!”

“Di ruang ganti olahraga!”

Seketika kursi Damian bergeser keras.

BRAK!!



Satu kelas langsung menoleh kaget.

Wajah Damian yang biasanya santai berubah serius dalam sekejap.

“Apa?”

Tanpa menunggu penjelasan lagi, Damian langsung keluar kelas begitu saja.

“WOY DAM...”

Namun cowok itu sudah berlari cepat menyusuri koridor sekolah.

Aura ramah dan santainya benar-benar hilang.

Dan itu cukup membuat teman-temannya ikut tegang.

Karena Damian jarang sekali terlihat panik seperti itu.

Saat Damian sampai di depan UKS…

Ruangan itu sudah cukup ramai.

Beberapa guru berdiri di luar.
Teman-teman Hanin terlihat cemas.
Dan Petra bersama Trouble Boy ternyata sudah lebih dulu ada di sana.

Petra berdiri dekat pintu UKS dengan rahang menegang.

Begitu melihat Damian datang…

Suasana langsung terasa makin serius.

Damian membuka pintu UKS cepat.

Dan di sana…

Hanin sedang terbaring di kasur UKS dengan wajah sedikit pucat.

Rambutnya masih sedikit berantakan habis olahraga.



Dokter sekolah sedang memeriksa kondisinya sementara guru UKS menyiapkan air dan obat.

Damian langsung mendekat.

“Hanin.”

Tidak ada respon.

Tatapan Damian langsung berubah khawatir.

Cowok itu duduk di samping ranjang sambil menggenggam pelan tangan adiknya yang terasa sedikit dingin.

“Dia kenapa?” tanya Damian pada dokter sekolah.

“Kemungkinan kelelahan dan kurang istirahat,” jawab dokter pelan. “Tubuhnya terlalu diforsir.”

Damian langsung menghela napas berat.

Karena ia tahu…

Hanin memang sering memaksakan diri diam-diam.

Latihan.
Sekolah.
Aktivitas lain.
Dan tetap bertindak seolah semuanya baik-baik saja.

Di luar UKS…

Suasana koridor masih ramai.

Satu sekolah benar-benar geger mendengar Hanin pingsan.

“Serius Hanin pingsan?”

“Dia keliatan kuat banget padahal…”

“Kasian…”

Petra berdiri diam sambil terus melihat ke arah dalam UKS lewat kaca pintu.

Untuk pertama kalinya…

Ia melihat Hanin dalam keadaan yang terlihat rapuh.

Dan anehnya...

Dadanya terasa tidak nyaman melihat itu.



Suasana UKS masih terasa tegang.

Mesin kipas berputar pelan di sudut ruangan sementara beberapa guru berdiri cemas memperhatikan kondisi Hanin yang masih belum sepenuhnya sadar.

Wajah gadis itu terlihat pucat.
Jauh berbeda dari biasanya yang selalu tenang dan kuat.

Damian duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan adiknya erat.

Tatapannya turun perlahan ke wajah Hanin.

Dan di balik ekspresi tenangnya sekarang…

Ada kekhawatiran yang sangat dalam.

Karena Damian tahu persis apa penyebab Hanin bisa tiba-tiba tumbang seperti ini.

Cowok itu akhirnya menghela napas kecil sebelum merogoh saku celananya.

Lalu mengeluarkan satu botol obat kecil.

Dokter sekolah yang melihat itu langsung sedikit terdiam.

Tatapannya berubah memahami.

Damian membuka botol itu dengan hati-hati lalu mengambil satu tablet.

“Nanti setelah dia sadar penuh, bantu kasih air,” ucap Damian pelan pada dokter sekolah.

Dokter itu mengangguk kecil.

Sementara guru UKS terlihat bingung.

“Itu obat apa?”

Damian terdiam sesaat.

Namun sebelum ia menjawab, dokter sekolah lebih dulu berbicara pelan.

“Nilotinib.”

Suasana ruangan mendadak hening.

Nama obat itu terdengar asing bagi sebagian besar orang.

Namun dokter sekolah tahu persis obat itu digunakan untuk apa.

Tatapannya kembali jatuh pada Hanin yang masih tertidur lemah di ranjang UKS.

Dan untuk pertama kalinya…

Beliau memahami kenapa Hanin terlihat terlalu disiplin menjaga tubuhnya.

Kenapa staminanya luar biasa.
Kenapa ia seolah memaksakan dirinya selalu terlihat kuat.

Karena gadis itu sedang melawan sesuatu di dalam tubuhnya sendiri.

Damian menatap Hanin beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Dia punya leukemia kronis.”

Kalimat itu membuat suasana langsung semakin sunyi.

Bahkan Petra yang berdiri di dekat pintu UKS ikut membeku mendengarnya.

Leukemia.



Kata itu terasa terlalu berat untuk dikaitkan dengan Hanin.

Gadis yang selalu terlihat sempurna.
Kuat.
Dan sulit dikalahkan.

Damian menundukkan pandangannya sebentar.

“Masih tahap awal,” lanjutnya pelan. “Fase kronis.”

“Tapi dia gak suka orang lain tahu.”

Dokter sekolah mengangguk mengerti.

Dan kini beliau paham kenapa Damian begitu sigap membawa obat sendiri.

Karena keluarga mereka sudah hidup berdampingan dengan kondisi itu sejak lama.

Di depan pintu UKS…

Petra berdiri diam tanpa suara.

Biasanya ia selalu punya sesuatu untuk dikomentari.

Namun sekarang…

Tidak ada satu pun kata yang keluar.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia sadar Hanin ternyata tidak sekuat yang semua orang lihat.



Suasana di dalam UKS terasa sangat hening.

Tidak ada lagi keramaian seperti tadi.

Kini di ruangan itu hanya ada Damian, Petra, dokter sekolah, guru olahraga, dan wali kelas Hanin.

Pintu UKS bahkan sengaja ditutup rapat agar tidak ada siswa lain masuk.

Damian masih duduk di samping ranjang Hanin sambil memegang botol obat kecil di tangannya.

Tatapannya perlahan beralih pada orang-orang di ruangan itu.

Lalu dengan suara tenang namun serius, Damian berkata,

“Tolongan… jangan ada yang kasih tahu siapa pun soal ini.”

Guru olahraga dan wali kelas saling berpandangan sebentar.

Damian melanjutkan pelan,

“Hanin paling gak suka dikasihani.”

Tatapannya turun pada adiknya yang masih terbaring lemah.

“Kalau satu sekolah tahu…”

“Dia bakal benci itu.”

Dokter sekolah mengangguk memahami.

Beliau cukup bisa membaca seperti apa karakter Hanin.

Gadis itu terlalu menjaga harga dirinya.
Terlalu kuat untuk mau dipandang lemah.

“Tenang,” jawab wali kelas lembut. “Kami akan jaga rahasia ini.”

Petra yang sejak tadi diam akhirnya bicara pelan,

“Gue juga gak bakal ngomong.”

Damian menoleh sekilas pada Petra.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Dan Damian bisa melihat dengan jelas...
cowok itu benar-benar khawatir.

Bukan penasaran.
Bukan sekadar simpati.

Tapi khawatir sungguhan.

Damian akhirnya mengangguk kecil.

Beberapa menit kemudian…

Jari Hanin bergerak pelan.

Damian langsung refleks mendekat.

“Hanin?”

Kelopak mata Hanin perlahan terbuka.

Pandangan gadis itu masih sedikit buram sebelum akhirnya fokus pada langit-langit UKS.

Ia mengernyit kecil.

“…Aku pingsan?”

“Hmm,” jawab Damian pelan.

Hanin langsung mencoba bangun namun Damian cepat menahan bahunya pelan.

“Pelan-pelan.”

Dokter sekolah ikut mendekat memeriksa kondisi Hanin sebentar.

“Pusing?” tanyanya lembut.

“Sedikit.”

Damian segera membuka botol air mineral lalu membantu Hanin duduk lebih nyaman.

“Nih minum dulu.”

Hanin menerima gelas kecil itu perlahan.

Tangannya masih sedikit lemas.

Dan untuk pertama kalinya…

Petra melihat sisi Hanin yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Bukan Hanin yang dingin.
Bukan Hanin yang kuat.
Bukan Hanin yang selalu menang.

Tapi Hanin yang ternyata juga bisa rapuh.

Namun bahkan dalam kondisi seperti itu…

Tatapan Hanin tetap tenang.

Seolah ia sudah terbiasa menghadapi semua ini sendirian.

Hanin duduk bersandar pelan di ranjang UKS sambil memegang botol air mineral yang diberikan Damian.

Wajahnya memang masih sedikit pucat, tapi tatapannya mulai kembali fokus seperti biasa.

Ruangan tetap tenang.

Sampai beberapa detik kemudian Hanin sedikit mengernyit.

Lidahnya menyentuh bagian dalam rongga mulutnya pelan seolah merasakan sesuatu.

Lalu Hanin menoleh ke Damian.

“…Kak.”

“Hm?”

“Aku minum obat?”

Damian diam sebentar.

Karena Hanin cukup peka terhadap tubuhnya sendiri.

Sekecil apa pun perubahan rasa di mulutnya pasti langsung sadar.

Hanin menatap kakaknya lebih serius.

“Ini Nilotinib ya?”

Suasana ruangan kembali hening.

Dokter sekolah langsung memahami bahwa Hanin memang sudah sangat terbiasa dengan pengobatannya sendiri.

Damian akhirnya mengangguk kecil.

“Iya.”

Hanin menghela napas pelan lalu menyender kembali ke ranjang.

“Aku pingsan berapa lama?”

“Gak lama.” Sahut Damian.

“Kamu panik?”

Damian terkekeh kecil meski jelas terdengar lega karena Hanin sudah sadar penuh.

“Sedikit.”

“Bohong.”

“Kali ini iya.”

Sudut bibir Hanin naik tipis kecil.

Meski tubuhnya masih lemas, ekspresinya tetap setenang biasa seolah tidak ingin membuat situasi makin berat.

Lalu Hanin melirik satu per satu orang di ruangan itu.

Tatapannya berhenti pada Petra yang berdiri diam dekat pintu sejak tadi.

Dan dalam hitungan detik…

Hanin langsung paham.

“…Dia tahu?”

Damian mengusap tengkuknya kecil.
“Terpaksa.”

Hanin terdiam beberapa saat.

Petra refleks merasa sedikit bersalah karena tatapan Hanin terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

Namun di luar dugaan…

Hanin tidak marah.

Ia hanya berkata pelan,

“Jangan kasih tahu siapa-siapa.”

Petra langsung menjawab tanpa ragu,
“Gue gak bakal ngomong.”

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Dan untuk pertama kalinya…

Petra melihat sesuatu yang berbeda di mata Hanin.

Bukan ketakutan.

Bukan kesedihan.

Melainkan kelelahan yang selama ini disembunyikan sangat rapi.



Hanin masih duduk bersandar di ranjang UKS sambil memegang botol air mineralnya.

Wajahnya mulai membaik meski masih sedikit pucat.

Namun begitu suasana mulai tenang…

Hanin langsung menoleh ke Damian dengan tatapan serius.

“Kak.”

“Hm?”

“Jangan bilang Mama sama Papa.”

Damian diam.

Hanin menghela napas kecil sebelum melanjutkan,

“Kalau mereka tahu pasti panik.”

Dan itu benar.

Di keluarga mereka, Hanin adalah satu-satunya anak perempuan.
Anak paling bungsu.
Dan paling dijaga.

Sedikit saja Hanin sakit…

Rumah bisa langsung berubah kacau.

Damian mengusap tengkuk pelan sambil menghindari tatapan adiknya.

Hanin langsung menyipitkan mata kecil.

“…Kak Damian.”

“Hmm…”

“Kamu bilang siapa.”

Damian terkekeh kecil penuh dosa.

“Sedikit orang.”

“Hah?”

Belum sempat Hanin bertanya lagi...

BRAK!

Pintu UKS terbuka cukup keras.

Semua orang langsung menoleh.

Dan dalam sekejap…

Aura ruangan langsung berubah tegang.

Prince masuk paling depan dengan wajah dingin yang jelas menyimpan kepanikan besar.

Di belakangnya ada Leon yang napasnya masih sedikit tidak beraturan seolah buru-buru datang.

Dan Bagas...

yang biasanya paling santai,

kini terlihat paling panik.

“Hanin?!”

Suasana UKS langsung terasa penuh.

Bahkan guru olahraga sampai refleks mundur sedikit karena aura tiga kakak Hanin terlalu kuat saat bersamaan.

Prince langsung berjalan cepat menghampiri ranjang Hanin.

Tatapannya menyapu wajah adiknya dari atas sampai bawah memastikan Hanin benar-benar sadar.

“Kamu sakit di mana?”

“Ada yang pusing?”

“Mual?”

“Sesak?”

Pertanyaan datang bertubi-tubi.

Bagas bahkan sudah jongkok di depan ranjang sambil memegang tangan Hanin.

“Anjir lo bikin jantung gue copot tau gak.”

Leon menghela napas lega begitu melihat Hanin masih bisa duduk normal.

Sementara Hanin hanya mematung tidak percaya.

Lalu perlahan menoleh pada Damian.

“…Sedikit orang?”

Damian langsung pura-pura melihat langit-langit.

Petra dan guru-guru sampai hampir menahan senyum melihat reaksi Hanin.

Karena jelas sekali…

Di keluarga ini, Hanin benar-benar diperlakukan seperti putri paling berharga.

Prince masih memeriksa kondisi Hanin dengan wajah tegang.

“Kamu dipaksa latihan terlalu berat?”

“Enggak.”

“Udah makan?”

“…Udah.”

“Tidur berapa jam.”

Hanin mulai pusing sendiri ditanyai terus.

“Aku cuma pingsan bentar…”

“Bentar menurut kamu beda sama menurut kita,” jawab Prince tegas.

Dan itu langsung membuat Hanin diam.

Karena di antara semua kakaknya…

Prince memang paling sulit dibantah saat serius seperti ini.

Bagas lalu mendesah sambil menyandarkan kepala ke ranjang Hanin dramatis.

“Gue kira mau kehilangan adek.”

“Lebay.”

“Diam.” Sahut Bagas.

Meski mulut mereka masih bisa bercanda sedikit…

Tatapan panik ketiga kakaknya jelas belum benar-benar hilang.

Karena bagi mereka...

Melihat Hanin tumbang adalah hal yang paling tidak ingin mereka lihat.



Begitu Prince, Leon, dan Bagas masuk…

Pintu UKS langsung kembali ditutup rapat.

Suasana di dalam ruangan terasa jauh lebih serius sekarang.

Aura ketiga kakak Hanin benar-benar berbeda saat menyangkut keselamatan adik bungsu mereka.

Prince berdiri paling depan dengan wajah tenang namun tegas.

Tatapannya beralih pada wali kelas dan guru olahraga Hanin.

“Maaf kalau sedikit merepotkan.”

Nada bicaranya sopan.
Tapi tetap terasa penuh wibawa.

Guru olahraga langsung menggeleng cepat.
“Tidak, kami justru khawatir dengan kondisi Hanin.”

Prince mengangguk kecil sebelum akhirnya berkata pelan,

“Untuk masalah penyakit Hanin…”

“Tolong jangan sampai keluar dari ruangan ini.”

Wali kelas Hanin mengangguk memahami.
“Kami mengerti.”

Prince melanjutkan,

“Hanin paling tidak suka dipandang lemah.”

“Kalau teman-temannya tahu…”

“Dia akan merasa tidak nyaman.”

Di atas ranjang UKS, Hanin hanya menutup wajah dengan tangan kecil karena merasa pembicaraan tentang dirinya terlalu serius.

Bagas langsung melirik.
“Tuh kan malu.”

“Berisik.”

Leon terkekeh kecil tipis untuk pertama kalinya sejak datang.

Namun berbeda dengan mereka…

Prince masih terlihat sangat fokus.

Cowok itu lalu mengeluarkan sebuah map hitam tipis dari tas kecil yang dibawanya.

Ia berjalan mendekati dokter sekolah lalu menyerahkan map tersebut dengan hati-hati.

“Ini rekam medis Hanin.”

Dokter sekolah menerimanya sedikit terkejut.

Prince berbicara lebih pelan kali ini.

“Kalau sewaktu-waktu Hanin relaps…”

“Di situ ada semua riwayat pengobatan, obat rutin, alergi, dan nomor dokter pribadinya.”

Ruangan kembali hening beberapa detik.

Karena baru sekarang semua orang benar-benar sadar…

Keluarga Hanin sudah hidup dengan rasa khawatir itu cukup lama.

Dokter sekolah membuka map sedikit lalu mengangguk serius.

“Saya mengerti.”

“Kami akan jaga kondisi Hanin sebaik mungkin selama di sekolah.”

Prince membungkukkan kepala kecil sebagai bentuk terima kasih.

Dan itu cukup membuat wali kelas Hanin sedikit tersentuh.

Karena di balik aura dingin keluarga itu…

Mereka ternyata hanya keluarga yang sangat menjaga satu sama lain.

Sementara itu Petra masih berdiri dekat pintu UKS tanpa banyak bicara.

Tatapannya sesekali jatuh pada Hanin yang kini terlihat jauh lebih diam dari biasanya.

Dan anehnya…

Melihat Hanin duduk lemah seperti itu membuat dadanya terasa sesak.

Karena sekarang Petra tahu...

Di balik semua kekuatan Hanin…

Ada sesuatu yang diam-diam terus ia lawan sendirian.

 


Suasana di dalam UKS perlahan mulai lebih tenang setelah Hanin sadar sepenuhnya.

Namun ketiga kakaknya masih terlihat sulit benar-benar rileks.

Terutama Prince.

Cowok itu berdiri di dekat ranjang Hanin sambil memperhatikan wajah adiknya beberapa detik sebelum akhirnya mengambil keputusan.

“Kami izin bawa Hanin pulang.”

Wali kelas Hanin langsung mengangguk.
“Tentu. Kondisinya juga lebih baik kalau istirahat di rumah.”

Guru olahraga ikut menyetujui.

Prince lalu menoleh pada Hanin.

“Kamu gak usah lanjut kelas hari ini.”

“Aku bisa...”

“Tidak.”

Jawaban Prince langsung memotong tanpa memberi ruang bantahan.

Hanin menghela napas kecil pasrah.

Karena kalau Prince sudah memakai nada seperti itu…

Artinya keputusan sudah final.

Damian yang sejak tadi duduk dekat Hanin langsung berdiri.

“Gue ikut pulang.”

Namun Prince langsung menatap adiknya datar.

“Enggak.”

Damian mengernyit.
“Kenapa?”

“Lo tetap di sekolah.”

“Hah?”

Bagas dan Leon langsung diam karena mereka tahu arah pembicaraan ini akan panjang.

Damian melipat tangan.
“Hanin baru pingsan.”

“Dan sekarang dia udah sama gue.”

“Ya terus?” Sahut Prince.

Prince menghela napas kecil sebelum menjawab tenang,

“Kalau semuanya pulang…”

“Orang sekolah bakal makin curiga.”

Damian terdiam.

Dan sebenarnya…
ia tahu Prince benar.

Tadi saja kedatangan mereka bertiga sudah cukup bikin suasana sekolah heboh.

Kalau Damian ikut menghilang juga, gosip akan makin liar.

“Tapi...”

“Damian.”

Nada suara Prince turun sedikit lebih tegas.

“Sekolah sampai selesai.”

Ruangan kembali hening.

Hanin yang melihat Damian mulai kesal akhirnya bicara pelan,

“Aku gapapa.”

Damian menoleh cepat.
“Lo tadi pingsan.”

“Aku cuma kecapekan.”

“Bagi lo itu bukan cuma.”

Hanin diam beberapa detik.

Lalu perlahan tersenyum kecil tipis mencoba menenangkan kakaknya.

“Aku bakal istirahat.”

Tatapan Damian akhirnya sedikit melunak.

Karena sesibuk apa pun mereka bertengkar kecil…

Damian paling sulit kalau Hanin sudah bicara selembut itu.

Leon akhirnya menepuk bahu Damian santai.

“Udah.”

“Biar Prince yang bawa pulang.”

Bagas ikut menambahkan,
“Nanti malem kita video call kalau lo masih panik.”

Damian mendecakkan lidah kecil namun akhirnya menyerah.

“Fine.”

Prince lalu membantu Hanin berdiri perlahan dari ranjang UKS.

Refleks semua orang langsung memperhatikan khawatir.

Namun Hanin berhasil berdiri dengan cukup stabil meski masih sedikit lemas.

Prince otomatis menahan siku Hanin pelan.
“Pelan.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Biarkan saja.”

Dan untuk pertama kalinya…

Hanin benar-benar menurut tanpa protes banyak.

Saat pintu UKS dibuka kembali…

Koridor luar ternyata masih cukup ramai.

Beberapa siswa langsung menoleh penasaran begitu melihat Hanin keluar bersama tiga kakaknya.

Suasana otomatis hening.

Karena aura Prince, Leon, dan Bagas benar-benar terlalu kuat saat berjalan berdampingan mengelilingi Hanin seperti itu.

Dan di belakang…

Petra hanya berdiri diam memperhatikan Hanin pergi.

Tatapannya jauh lebih serius dibanding biasanya.



Karena sekarang...

Ia tidak bisa lagi melihat Hanin dengan cara yang sama seperti dulu.


Chapter 9


Koridor sekolah terasa jauh lebih sunyi setelah Hanin dibawa pulang.

Meski siswa lain masih ramai membicarakan kejadian tadi…

Bagi Petra, suara-suara itu seperti terdengar samar.

Cowok itu berjalan menuju kelas dengan langkah pelan.

Tangannya masuk ke saku celana.
Tatapannya kosong lurus ke depan.

Reno dan anggota Trouble Boy lain sampai saling pandang bingung.

Karena baru kali ini mereka melihat Petra benar-benar diam selama itu.

Tidak marah.
Tidak bercanda.
Tidak juga membuat keributan.

Kosong.

Dan itu justru lebih menyeramkan.

“Ketua…” panggil Reno pelan.

Namun Petra tidak menjawab.

Isi kepalanya masih penuh dengan satu hal.

Leukemia.

Kata itu terus terngiang.

Sulit dipercaya gadis sekuat Hanin ternyata sedang melawan penyakit seperti itu.

Dan lebih sulit lagi membayangkan…

Hanin menjalani semuanya sambil tetap terlihat baik-baik saja setiap hari.

Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat dari belakang.

Damian.

Cowok itu akhirnya berhasil menyusul Petra di koridor yang mulai sepi.

“Petra.”

Petra berhenti berjalan namun tidak langsung menoleh.

Damian berdiri di sampingnya beberapa detik dalam diam.

Lalu berkata pelan,

“Jangan pasang muka kayak orang mau perang.”

Petra tertawa hambar kecil.

“Gue cuma…”

Kalimatnya menggantung.

Karena bahkan Petra sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya sekarang.

Kesal.
Kaget.
Takut.

Semuanya campur jadi satu.

Damian menatap lurus ke depan koridor sebelum akhirnya berkata,

“Hanin udah biasa.”

Petra langsung menoleh.

“Apa?”

“Dia udah hidup sama itu cukup lama.”

Nada suara Damian tenang.
Tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Cowok itu memasukkan tangan ke saku sambil tersenyum tipis kecil.

“Makanya dia keras kepala.”

“Makanya dia selalu maksa dirinya keliatan kuat.”

Petra diam mendengarkan.

Dan semakin mendengar…
dadanya makin terasa sesak.

Damian lalu melirik Petra sekilas.

“Dia benci dikasihani.”

“Jadi jangan tatap dia kayak orang sakit.”

Petra langsung menjawab cepat,
“Gue gak bakal begitu.”

Damian tersenyum kecil.

“Aku tahu.”

Beberapa detik suasana kembali sunyi.

Lalu Damian akhirnya berkata pelan,

“Kalau lo memang suka sama Hanin…”

“Jangan cuma suka versi kuatnya aja.”

Petra membeku sesaat.

Karena itu pertama kalinya seseorang bicara begitu terang padanya soal Hanin.

Damian lalu menepuk pelan bahu Petra.

“Dia kelihatannya kuat banget.”

“Tapi sebenarnya…”

“Dia juga capek.”

Dan setelah mengatakan itu, Damian berjalan lebih dulu meninggalkan koridor.

Menyisakan Petra yang masih berdiri diam memikirkan semua ucapan tadi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Petra merasa takut kehilangan seseorang yang bahkan belum benar-benar ia miliki.



Mobil hitam milik Prince melaju tenang meninggalkan area sekolah.

Di kursi belakang, Hanin duduk bersandar sambil memegang botol air mineralnya.

Tubuhnya memang sudah lebih baik…
tapi wajahnya masih sedikit pucat.

Prince beberapa kali melirik ke kaca spion memastikan kondisi adiknya tetap stabil.

Sementara Leon duduk di samping Hanin sambil sesekali mengecek ponselnya.

Dan Bagas...

yang sedari tadi paling ribut,

akhirnya membuka suara.

“Kita langsung ke apartemen?”

“Jangan,” jawab Hanin cepat.

Prince langsung mengerti maksud adiknya bahkan sebelum Hanin menjelaskan.

Kalau Hanin pulang ke apartemen…

Damian pasti akan datang malam ini dan bisa saja tanpa sadar membocorkan semuanya ke orang tua mereka.

Dan itu berbahaya.

Sangat berbahaya.

Karena begitu Mama dan Papa mereka tahu Hanin pingsan...

Rumah utama pasti langsung chaos.

Dokter pribadi datang.
Bodyguard ditambah.
Semua aktivitas Hanin dihentikan.
Dan kemungkinan besar…

Hanin dilarang sekolah.

Leon sampai terkekeh kecil membayangkannya.

“Kalau Tante tahu…”

Bagas langsung menyambung dramatis,
“Bisa perang dunia ketiga.”

Hanin menutup wajah dengan tangan.
“Nah itu.”

Prince menghela napas kecil namun sudut bibirnya samar naik tipis.

Karena jujur saja…

Semua orang di keluarga mereka memang terlalu protektif terhadap Hanin.

“Ke rumah gue aja,” ujar Bagas akhirnya.

“Paling aman.”

Prince langsung setuju.
“Hmm.”

Hanin pun mengangguk kecil pasrah.

Dan keputusan langsung dibuat.

Hari ini Hanin akan tinggal sementara di rumah Bagas.

Bukan apartemen.
Bukan rumah utama keluarga mereka.

Tempat paling aman untuk menyembunyikan kejadian hari ini.

Tak lama kemudian mobil memasuki kawasan elite pusat kota.

Rumah Bagas berada di area private residence yang jauh lebih tenang dibanding rumah utama keluarga mereka.

Begitu mobil berhenti di depan rumah modern bernuansa hitam abu itu, Hanin langsung turun perlahan.



Bagas membuka pintu rumah sambil berceloteh,

“Welcome to rumah paling damai sedunia.”

Leon langsung nyeletuk,
“Karena gak ada lo pas kerja.”

“Kurang ajar.”

Hanin akhirnya tertawa kecil samar.

Dan melihat Hanin masih bisa tertawa seperti itu…

Sedikit membuat ketiga kakaknya lega.

Karena sejak mendengar Hanin pingsan tadi,

Jujur saja…

Mereka semua hampir kehilangan akal.



Suasana rumah Bagas terasa jauh lebih tenang dibanding rumah utama keluarga mereka.

Tidak terlalu banyak penjaga.
Tidak terlalu formal.
Dan jauh lebih santai.

Begitu masuk, Hanin langsung dibawa duduk di sofa ruang tengah oleh ketiga kakaknya seolah ia terbuat dari kaca.



“Aku cuma pingsan bentar…” gumam Hanin lelah.

“Dan itu cukup bikin kita mau mati jantung,” balas Bagas cepat.

Leon terkekeh kecil sambil mengambil selimut tipis lalu menyampirkannya ke bahu Hanin.

“Tidur dulu.”

Prince yang sedari tadi paling diam akhirnya bicara,

“Nanti malam minum obat lagi tepat waktu.”

“Iya Prince.”

“Jangan bohong.”

Hanin mendesah kecil.
“Iya…”

Baru kali ini Hanin terlihat benar-benar nurut tanpa banyak bantahan.

Karena bahkan ia sadar…
hari ini memang sedikit terlalu berat untuk tubuhnya.

Tak lama kemudian Prince menerima telepon dari rumah utama.

Tatapannya langsung berubah kecil penuh arti.

“Mama.”

Leon langsung menoleh.
“Nanya?”

“Kenapa kita belum pulang.”

Bagas refleks menunjuk Hanin cepat.
“Jangan speaker.”

Hanin langsung menutup wajah dengan bantal.

Prince menghela napas kecil lalu menjawab telepon dengan wajah setenang biasanya.

“Iya Ma.”

Suasana rumah langsung hening mendengarkan sisi percakapan Prince.

“Iya tadi ada urusan.”

“…Hanin?”

Ketiga saudaranya langsung otomatis melihat Hanin bersamaan.

Hanin:
“…”

Prince tetap tenang.
“Hanin di apartemen.”

Bagas sampai refleks mengacungkan jempol kecil.

“Pintar.”

Prince melanjutkan dengan suara datar khasnya,

“Iya Ma. Dia baik-baik aja.”

Dan untungnya…

Ibunya tidak terlalu curiga.

Karena kalau sampai tahu Hanin pingsan di sekolah,

Malam ini kemungkinan besar seluruh keluarga besar sudah berkumpul panik.

Setelah telepon selesai, Leon langsung menghela napas lega.

“Hampir ketahuan.”

Bagas rebahan dramatis di karpet.
“Gue belum siap dimarahin Tante.”

Hanin tertawa kecil lemah melihat tingkah mereka.

Beberapa saat kemudian Prince berdiri sambil merapikan jas hitamnya.

“Aku sama Leon balik dulu.”

Bagas mengangguk.
“Tenang, Hanin gue jagain.”

Prince berjalan mendekati sofa lalu mengusap pelan kepala Hanin.

“Istirahat.”

“Iya.”

“Kalau badan gak enak langsung telepon.”

“Prince…”

“Hm?”

“Aku gak sekarat.”

Prince menatap Hanin datar beberapa detik sebelum akhirnya menjawab singkat,

“Menurut gue iya.”

Leon langsung ngakak kecil.

Sementara Hanin hanya menyerah pasrah.

Tak lama kemudian Prince dan Leon pergi meninggalkan rumah Bagas menuju rumah utama keluarga mereka agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Kini rumah itu tinggal menyisakan Hanin dan Bagas.

Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian di sekolah tadi…

Suasana akhirnya terasa benar-benar tenang.

 


Malam mulai semakin larut.

Rumah Bagas kini terasa jauh lebih tenang setelah Prince dan Leon kembali ke rumah utama.

Hanin sudah tertidur di kamar tamu lantai atas setelah dipaksa istirahat oleh kedua kakaknya tadi.




Sementara Bagas duduk santai di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.



Namun di sisi lain kota…

Leon yang sedang dalam perjalanan bersama Prince menuju rumah utama tiba-tiba mendapat panggilan masuk.

Nama di layar membuat Leon langsung duduk lebih tegak.

📞 Alexandra.

Prince yang menyetir langsung melirik sekilas.
“Siapa?”

Leon menghela napas kecil.
“Tante Alexandra.”

Prince langsung diam beberapa detik.

Karena di keluarga mereka…

Ada satu orang yang protektif terhadap Hanin bahkan melebihi ibu kandungnya sendiri.

Alexandra.

Kakak dari ibu Hanin.

Wanita elegan, dingin, dan sangat disegani keluarga besar mereka.

Namun kalau urusannya Hanin…

Ia bisa berubah jadi orang paling overprotective sedunia.

Dulu saat orang tua Hanin sering bolak-balik luar negeri mengurus bisnis keluarga…

Alexandra lah yang paling banyak menjaga Hanin kecil.

Mengantar tidur.
Menemani sekolah.
Bahkan mengurus Hanin saat sakit.

Dan mungkin karena Alexandra hanya memiliki anak laki-laki…

Ia benar-benar menyayangi Hanin seperti anak perempuan yang sangat ia dambakan.

Apalagi setelah ia tidak bisa memiliki anak lagi karena harus kehilangan rahimnya beberapa tahun lalu.

Sejak saat itu…

Kasih sayangnya pada Hanin menjadi sesuatu yang sangat besar.

Leon akhirnya mengangkat telepon itu.



“Halo Tante.”

Namun belum sempat Leon bicara panjang,

Suara Alexandra langsung terdengar dari seberang sana.

“Hanin kenapa?”

Leon membeku.

Prince langsung menoleh cepat.

Karena mereka bahkan belum mengatakan apa pun.

Leon mencoba terdengar santai.
“Enggak kenapa-napa.”

“Leon.”

Nada suara Alexandra turun pelan.

Dan itu jauh lebih mengintimidasi dibanding bentakan.

“Aku kenal kalian dari kecil.”

“Ada apa sama Hanin?”

Mobil langsung hening.

Prince sampai memijat pelipis kecil.

Karena mereka semua tahu…

Alexandra punya semacam insting aneh kalau menyangkut Hanin.

Seolah benar-benar ada ikatan batin kuat antara mereka.

Leon akhirnya menghela napas pelan menyerah.

“…Dia tadi pingsan di sekolah.”

Dan detik itu juga...

Suasana di ujung telepon berubah sangat sunyi.

Sangat sunyi sampai membuat Leon ikut tegang.

Lalu suara Alexandra terdengar lagi.
Jauh lebih pelan.

“Sekarang Hanin di mana.”

“Di rumah Bagas.”

“Aku ke sana.”

“Tante gak usah panik, Hanin udah sadar...”

“Leon.”

“Iya…”

“Alamat.”

Prince langsung menutup mata sebentar sambil menggeleng kecil.

Karena mereka tahu…

Begitu Alexandra mendengar Hanin sakit,

Tidak ada siapa pun yang bisa menghentikannya datang.

 

Di dalam mobil, Leon langsung bisa membayangkan situasi yang akan terjadi kalau Alexandra benar-benar datang ke rumah Bagas malam ini.

Dan itu tidak akan bagus.

Sangat tidak bagus.

Karena Bagas tadi sudah hampir stres sendiri membayangkan harus menghadapi Alexandra sendirian.

Wanita itu memang sangat elegan dan tenang…

Tapi kalau menyangkut Hanin...
auranya bisa jauh lebih menyeramkan dibanding siapa pun di keluarga mereka.



Leon menghela napas kecil lalu mencoba bicara setenang mungkin.

“Tante… Hanin beneran udah gapapa.”

Di ujung telepon Alexandra masih diam.

Dan diamnya itu justru bikin tegang.

Leon melanjutkan cepat sebelum tantenya keburu berangkat.

“Dia cuma kecapekan.”

“Sekarang lagi tidur.”

“Tadi dokter sekolah juga bilang kondisinya stabil.”

Prince yang menyetir ikut menambahkan dari samping dengan suara cukup keras agar terdengar di telepon,

“Kami udah tangani, Tante.”

Beberapa detik tidak ada jawaban.

Lalu akhirnya Alexandra bertanya pelan,

“Dia makan?”

Leon langsung menjawab cepat.
“Udah.”

“Obat?”

“Udah juga.”

“Sekarang sama siapa.”

“Bagas.”

Mendadak hening lagi.

Leon langsung refleks memejamkan mata.

Karena ia tahu…
nama Bagas bukan jawaban paling menenangkan untuk situasi begini.

Benar saja...

“Bagas?” ulang Alexandra penuh keraguan.

Prince sampai hampir tertawa kecil melihat ekspresi Leon yang mulai putus asa.

“Tante… Bagas bisa jagain Hanin.”

“Dia sendiri.”

“Ada pembantu rumah juga…”

“Leon.”

“Iya…”

“Terakhir kali Bagas jagain Hanin, mereka makan ramen jam dua pagi.”

Prince langsung batuk menahan tawa.

Karena itu memang benar.

Leon cepat-cepat membela.

“Tapi sekarang beda.”

“Bagas lagi serius.”

“Dia panik tadi.”

Di sisi lain telepon akhirnya terdengar helaan napas panjang Alexandra.

Dan itu pertanda emosinya mulai sedikit turun.

Leon langsung memanfaatkan kesempatan itu.

“Tante kalau datang sekarang…”

“Hanin malah bakal sadar semua orang panik.”

Kalimat itu berhasil membuat Alexandra terdiam.

Karena ia paling tahu sifat Hanin.

Hanin tidak suka merepotkan orang.
Tidak suka diperlakukan rapuh.
Dan paling benci kalau semua orang terlalu khawatir padanya.

Beberapa detik kemudian akhirnya Alexandra bicara lebih pelan.

“…Besok pagi video call aku.”

Leon langsung lega setengah mati.

“Iya Tante.”

“Kalau Hanin kenapa-kenapa lagi…”

“Kami langsung kasih tahu.”

“Hm.”

Dan telepon akhirnya terputus.

Begitu sambungan mati...

Leon langsung menjatuhkan kepala ke kursi mobil.

“Anjir selamat.”

Prince terkekeh kecil sambil tetap fokus menyetir.

“Bagas harusnya traktir kita.”

Sementara di rumah Bagas…

Cowok itu yang sama sekali tidak tahu dirinya baru saja hampir didatangi Alexandra masih santai duduk sambil makan keripik di ruang tengah.

 

Di dalam mobil, Leon akhirnya membuka chat pribadi Bagas sambil menghela napas lega.

Lalu mengetik cepat.

Tante hampir mau ke rumah kamu tadi.

Tak butuh waktu lama...

Balasan Bagas langsung masuk.

HAH?!

Lalu lanjut lagi beberapa detik kemudian.

GUE BELUM SIAP MATI.

Leon langsung tertawa kecil membaca reaksinya.

Prince yang melirik sekilas sampai menggeleng geli.

“Lebay.”

“Lo gak liat sendiri tadi Tante Alexandra nadanya kayak mau sidang keluarga,” balas Leon.

Sementara di rumah Bagas…

Cowok itu langsung duduk tegak di sofa sambil melihat ke arah tangga tempat Hanin tidur.

Wajahnya mendadak serius.

“Anjir…”

Bagas refleks merapikan posisi duduknya sendiri seolah Alexandra bisa muncul kapan saja.

Padahal beberapa detik lalu dia masih makan keripik sambil selonjoran.

Lalu HP-nya kembali berbunyi.

Leon mengirim pesan lagi.

Untung gue sama Prince bisa nenangin.

Bagas langsung menghela napas panjang penuh syukur.

Alhamdulillah.

Beberapa detik kemudian Bagas menambahkan lagi.

Kalau Tante dateng gue fix disuruh pindah server.

Leon langsung ngakak kecil di mobil.

Karena itu memang sangat mungkin terjadi.


Chapter 10

Malam semakin larut saat mobil Prince akhirnya memasuki gerbang rumah utama keluarga mereka.

Rumah besar bergaya modern klasik itu masih terlihat hidup meski jam sudah cukup malam.



Lampu taman menyala hangat.
Beberapa bodyguard berjaga seperti biasa.
Dan suasana rumah tetap terasa elegan sekaligus menegangkan dalam waktu bersamaan.

Prince memarkirkan mobil dengan tenang sementara Leon meregangkan tubuhnya kecil setelah perjalanan.

“Kita harus keliatan normal,” ujar Leon pelan.

Prince hanya mengangguk singkat.

Karena di rumah ini…

Perubahan ekspresi sekecil apa pun bisa langsung disadari orang tua mereka.

Dan malam ini mereka tidak boleh sampai curiga soal Hanin.

Begitu masuk ke dalam rumah…

Suasana langsung terasa hangat.

Mama mereka sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca tablet, sementara sang ayah masih sibuk dengan beberapa dokumen kerja di meja panjang dekat ruang tengah.

Prince dan Leon langsung berjalan mendekat seperti biasa.

“Malam, Pa. Ma,” sapa Leon santai.

“Malam,” jawab ayah mereka singkat tanpa mengalihkan fokus terlalu lama.

Sementara ibu mereka langsung menoleh pada kedua anaknya.

“Kalian baru pulang?”

“Iya Ma,” jawab Prince tenang.

“Udah makan?”

“Udah.”

Semua terdengar normal.
Tenang.
Tidak ada yang mencurigakan.

Padahal beberapa jam lalu mereka hampir kehilangan akal karena Hanin pingsan di sekolah.

Ibu mereka kemudian bertanya santai,

“Hanin di apartemen?”

Leon refleks hampir keselek napas sendiri namun Prince langsung menjawab lebih dulu dengan wajah datar khasnya.

“Hmm.”

“Damian?”

“Masih di apart Hanin.”

Dan untungnya…

Jawaban itu cukup membuat ibu mereka percaya.

“Besok suruh Hanin makan teratur,” ucap ibunya lagi. “Belakangan dia keliatan capek.”

Kalimat itu sukses membuat Leon dan Prince saling pandang sepersekian detik.

Karena ternyata…
insting seorang ibu tetap sulit dibohongi.

Namun Prince tetap menjawab tenang,

“Iya Ma.”

Setelah obrolan singkat itu selesai…

Kebiasaan mereka kembali berjalan seperti biasa.

Leon naik ke lantai atas sambil memainkan ponselnya.

Prince berjalan menuju kamar kerjanya dengan langkah tenang.

Semua terlihat normal.

Padahal diam-diam…

Masing-masing dari mereka masih memikirkan Hanin malam ini.

Dan jauh di dalam hati,

Mereka semua tahu…

Ketakutan kehilangan Hanin adalah satu-satunya hal yang paling tidak siap mereka hadapi.

 

Pagi hari datang dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding kemarin.

Rumah Bagas masih terasa sunyi saat Hanin membuka mata perlahan.

Cahaya matahari masuk dari sela tirai kamar tamu tempatnya tidur semalam.

Tubuhnya sudah jauh lebih baik.

Sedikit lemas memang masih ada…
tapi tidak separah kemarin.

Dan seperti biasa...

Hanin memilih bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Karena Bagas harus berangkat kerja sangat pagi, cowok itu sudah meninggalkan rumah sebelum Hanin bangun.

Namun di meja dapur sudah ada sarapan lengkap dengan sticky note kecil.

Tulisan khas Bagas yang berantakan:

MAKAN.
JANGAN NGEYEL.
OBAT JAM 7.
KALO PINGSAN LAGI GUE YANG MATI.


Hanin sampai terkekeh kecil membaca itu.

Tak lama kemudian ponselnya berbunyi.

📱 Bagas

Damian jemput lo bentar lagi.

Hanin membalas singkat.

Oke.

Sekitar tiga puluh menit kemudian…

Mobil BMW hitam milik Damian berhenti di depan rumah Bagas.

Damian turun sambil masih memegang kopi dingin di tangannya.

Begitu Hanin keluar rumah dengan seragam sekolah lengkap dan rambut terikat rapi.

Damian langsung memperhatikan wajah adiknya cukup lama.

“Masih pusing?”

“Enggak.”

“Bohong dikit gapapa.”

“Aku beneran mendingan.”

Damian menghela napas kecil namun akhirnya mengangguk.

“Kalau badan gak enak langsung bilang.”

“Iya ayah.”

“Kurang ajar.”

Hanin tertawa kecil samar sebelum masuk ke mobil.

Perjalanan menuju sekolah berlangsung santai.

Hari itu Damian sengaja memutar musik pelan dan tidak banyak bercanda seperti biasanya.

Sesekali ia melirik Hanin diam-diam memastikan kondisi adiknya benar-benar stabil.

Sementara Hanin duduk sambil melihat keluar jendela.

Hari ini langit terlihat cerah.

Dan entah kenapa…

Ia merasa sekolah akan jauh lebih ribut begitu dirinya muncul lagi setelah kemarin pingsan.

Benar saja.

Begitu mobil Damian memasuki area parkir sekolah...

Beberapa siswa langsung menoleh heboh.

“ITU HANIN!”

“Dia masuk?!”

“Kemarin katanya sakit!”

“Hanin baik-baik aja ternyata…”

Dan dari sisi lain parkiran...

Petra yang baru turun dari jeep hitam Trouble Boy otomatis langsung mencari sosok Hanin begitu mendengar keributan itu.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Dan untuk pertama kalinya…

Tatapan Petra pada Hanin terlihat jauh lebih hati-hati dibanding biasanya.

 

Pagi itu suasana sekolah kembali ramai seperti biasanya.

Meski kejadian Hanin pingsan kemarin masih jadi bahan obrolan banyak siswa…

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan itu memang sesuai keinginan Hanin.

Begitu turun dari mobil Damian, Hanin berjalan santai seperti biasa.

Tas di bahu.
Wajah tenang.
Langkah stabil.

Tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja pingsan kemarin.

Damian pun bersikap normal.

Cowok itu tetap menyapa beberapa orang di parkiran dengan senyum santainya seolah tidak ada hal besar yang terjadi sehari sebelumnya.

“Pagi bro.”

“Pagi.”

“Kak Damian!”

“Hm? Pagi.”

Hanin sampai melirik kecil.
“Kamu gak capek disapa terus?”

“Enggak.”

“Aneh.”

Damian terkekeh kecil.

Namun sebenarnya…

Baik Damian maupun Hanin sedang melakukan hal yang sama.

Berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Di sisi lain parkiran…

Petra berdiri dekat jeep hitamnya sambil memperhatikan Hanin dari jauh.

Dan saat mata mereka bertemu...

Petra tetap memasang ekspresi santai seperti biasa.

“Hm.”

Hanin mengangguk kecil.
“Pagi.”

“Udah sehat?”

“Masih hidup.”

Petra terkekeh kecil mendengar jawaban itu.

Percakapannya terdengar normal.
Ringan.
Seolah tidak ada apa pun yang berubah.

Namun jauh di dalam pikirannya…

Petra justru sedang menahan banyak hal.

Ia memperhatikan wajah Hanin lebih lama dari biasanya.
Memastikan gadis itu benar-benar baik-baik saja.

Dan setiap kali Hanin terlihat sedikit pucat…

Dadanya langsung terasa tidak tenang.

Tapi Petra memilih menyembunyikan semuanya.

Karena ia ingat jelas ucapan Damian kemarin.

“Dia benci dikasihani.”

Jadi Petra tidak bertanya terlalu jauh.
Tidak bersikap berlebihan.
Tidak menatap Hanin seperti orang sakit.

Ia memperlakukan Hanin tetap sama seperti biasanya.

Meski sebenarnya…

Sekarang Petra jadi jauh lebih memperhatikan Hanin dalam diam.

Reno yang berdiri di belakang Petra sampai menyipitkan mata curiga.

“Ketua.”

“Hm.”

“Lo sekarang ngawasin Hanin mulu ya.”

Petra langsung menjawab santai,
“Biasa aja.”

“Biasa apanya.”

“Mulut lo pengen gue lakban?”

Reno langsung tertawa.

Namun beberapa detik kemudian ekspresinya sedikit melunak.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia melihat Petra benar-benar khawatir terhadap seseorang.

Hari-hari setelah kejadian di UKS berjalan cukup normal.

Atau setidaknya…
Hanin berusaha membuat semuanya terlihat normal.

Ia tetap masuk sekolah seperti biasa.
Tetap aktif di kelas.
Tetap ikut latihan basket dan taekwondo.

Namun kali ini Hanin jauh lebih mengontrol tubuhnya.

Tidak terlalu memforsir diri.
Tidak terlalu keras saat latihan.

Karena minggu depan sekolah mereka akan mengikuti tournament besar, dan Hanin tahu ia harus menjaga kondisinya tetap stabil.



Pelatih basket bahkan beberapa kali memperhatikan Hanin lebih lama dari biasanya.

Namun gadis itu tetap menunjukkan permainan yang luar biasa.

Cepat.
Fokus.
Tenang.

Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi.

Sore itu latihan basket baru saja selesai.

Lapangan sekolah masih cukup ramai oleh siswa yang belum pulang.

Angin sore bertiup pelan melewati area lapangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak latihan selesai…

Hanin memilih menyendiri.

Gadis itu duduk di kursi panjang kayu di bawah pohon besar dekat pinggir lapangan basket.

Masih memakai jersey latihan putih.
Rambut terikat seadanya.
Earphone menggantung di leher.



Hanin duduk tenang sambil meminum air dinginnya perlahan.

Momen langka.

Karena biasanya Hanin selalu dikelilingi orang.

Namun hari ini ia memilih diam sendiri menikmati suasana sore.

Dari kejauhan…

Petra memperhatikan itu cukup lama.

Cowok itu berdiri dekat tribun lapangan bersama Trouble Boy, namun tatapannya terus kembali pada Hanin.

Reno yang sadar langsung melirik jahil.

“Pergi sana.”

Petra mendecakkan lidah.
“Berisik.”

“Kesempatan langka ketua.”

“Diam gak.”

Namun beberapa detik kemudian…

Petra akhirnya benar-benar berjalan turun dari tribun.

Dan detik itu juga...

Satu area lapangan mulai sadar.

“WOY.”

“Petra turun.”

“Dia mau ke siapa?”

Lalu mereka melihat arah langkah Petra.

Menuju Hanin.

Seketika suasana langsung heboh.

“ANJIRRR.”

“PETRA NYAMPERIN HANIN?!”

“GILA GILA GILA.”

Bahkan beberapa anak basket sampai berhenti minum hanya buat memperhatikan.

Karena selama ini…

Petra memang selalu mendekati Hanin dalam situasi ramai.

Tapi sekarang berbeda.

Untuk pertama kalinya…

Petra datang menghampiri Hanin saat gadis itu sedang sendirian.

Dan entah kenapa...

Itu terasa jauh lebih serius.

Petra akhirnya berhenti tepat di depan Hanin.

Bayangan tubuhnya menutupi cahaya sore sedikit.

Hanin yang tadi menatap lapangan perlahan mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Dan sekitar lapangan…

Satu sekolah seperti berhenti bernapas menunggu apa yang akan terjadi.

Suasana lapangan benar-benar terasa aneh.

Puluhan pasang mata diam-diam memperhatikan dari berbagai arah.

Anak basket.
Anak taekwondo.
Sampai siswa yang sebenarnya sudah mau pulang pun mendadak batal pergi hanya karena melihat Petra menghampiri Hanin.

Dan di tengah semua perhatian itu…

Hanin tetap terlihat santai.

Gadis itu menatap Petra beberapa detik sebelum akhirnya sedikit menggeser posisi duduknya di kursi panjang.

“Mau duduk?”

Kalimat sederhana itu langsung membuat satu lapangan membeku.

Petra sendiri bahkan sedikit terdiam seolah tidak menyangka akan dipersilakan.

Namun Hanin benar-benar menggeser tempat untuknya.

“Duduk aja.”

DETIK ITU JUGA...

“WOYYYYY!”

“PETRA DUDUK DI SAMPING HANIN 😭

“AKHIRNYA ADA PROGRESS!”

Satu area lapangan langsung pecah heboh.

Bahkan beberapa siswa refleks bertepuk tangan heboh seperti baru melihat final pertandingan nasional.

PRAP PRAP PRAP.

Petra sampai menoleh bingung.

“Anjir apaan sih mereka.”

Hanin melirik sekilas ke arah keramaian lalu kembali santai meminum airnya.

“Abaikan.”

Petra akhirnya duduk di samping Hanin.

Dan itu mungkin pertama kalinya…
cowok paling ditakuti satu sekolah duduk diam tanpa membuat keributan.

Suasana di sekitar mereka perlahan kembali tenang meski bisik-bisik masih terdengar di mana-mana.

Lalu Hanin menoleh sedikit pada Petra.

“Jadi?”

“Hm?”

“Ada perlu apa?”

Petra mengernyit kecil.
“Harus ada perlu?”

“Biasanya iya.”

Petra terkekeh kecil sambil menyandarkan tubuh ke kursi.

“Mau nyamperin aja.”

Hanin diam beberapa detik memperhatikan Petra.

Lalu bertanya lagi dengan nada tenang khasnya,

“Dan mau apa?”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun entah kenapa…

Satu lapangan kembali heboh sendiri.

“AAAAAAK.”

“INTEROGASI LANGSUNG 😭

“PETRA SEMOGA SELAMAT.”

Di sisi lain lapangan...

Damian yang sedari tadi memperhatikan dari jauh hanya tersenyum kecil sambil melipat tangan.

Teman-temannya sampai bingung melihat reaksinya yang terlalu santai.



“Lo gak khawatir?”

Damian terkekeh pelan.

“Enggak.”

Karena bagi Damian…

Ini sudah luar biasa.

Hanin yang biasanya dingin dan sulit menerima orang…
sekarang membiarkan Petra duduk di sampingnya.

Bahkan berbicara senormal itu.

Dan itu bukan hal kecil.

Karena sampai sekarang...

Belum pernah ada cowok yang benar-benar berani mendekati Hanin.

Sebagian takut pada Hanin sendiri.
Sebagian lagi takut pada empat kakaknya yang auranya seperti mafia sungguhan.

Ditambah Hanin memang selalu terlihat sulit disentuh.

Terlalu tenang.
Terlalu kuat.
Dan sedikit menakutkan.

Namun sekarang…

Untuk pertama kalinya…

Ada seseorang yang perlahan berhasil masuk ke ruang nyaman Hanin.

Dan Damian bisa melihat itu dengan jelas.

Petra duduk santai di samping Hanin sambil sesekali melihat ke arag lain di depan mereka.



Awalnya suasana terasa sedikit canggung.

Karena biasanya setiap kali mereka bertemu…
selalu ada keributan, tantangan, atau saling sindir.

Namun kali ini berbeda.

Jauh lebih tenang.

Petra akhirnya membuka obrolan ringan.

“Lo latihan gak terlalu barbar hari ini.”

Hanin meminum airnya pelan.
“Lagi hemat tenaga.”

“Tumben.”

“Minggu depan tournament.”

Petra mengangguk kecil.

Lalu beberapa menit berikutnya…
obrolan mereka berjalan surprisingly normal.

Petra mulai bercanda soal anak basket yang tadi jatuh sendiri saat latihan.
Tentang Reno yang salah passing sampai kena kepala pelatih.
Sampai cerita absurd Trouble Boy pagi tadi.

Dan anehnya…

Hanin menanggapi.

Bukan sekadar jawaban singkat.

Kadang membalas.
Kadang menyindir balik pelan.

Sampai akhirnya...

Sudut bibir Hanin perlahan naik kecil.

Senyum tipis.

Sangat tipis.


Tapi nyata.

Dan DETIK ITU JUGA...

“WOYYYYY HANIN SENYUM 😭😭😭

“PETRA APA YANG LO LAKUKAN?!”

“GUE MERINDING ANJIR.”

Satu area lapangan langsung kembali heboh luar biasa.

Beberapa anak basket bahkan sampai berdiri dari tribun karena tidak percaya melihatnya.

Karena Hanin memang jarang tersenyum di sekolah.

Apalagi saat sedang berdua santai seperti ini.

Petra sendiri sempat diam beberapa detik melihat senyum kecil itu.

Jujur saja…

Cowok itu hampir lupa cara bernapas.

Dan di sisi lain lapangan...

Damian yang sedari tadi memperhatikan dari jauh akhirnya menghela napas lega kecil.

Senyum tipis ikut muncul di wajahnya.

Temannya sampai melirik heran.

“Kenapa senyum sendiri?”

Damian tetap menatap Hanin dari jauh.

“Gapapa.”

Namun sebenarnya…

Ia lega.

Sangat lega.

Karena sejak kejadian Hanin pingsan kemarin…

Damian tahu adiknya diam-diam sedikit kelelahan secara mental.

Dan sekarang…

Melihat Hanin masih bisa tersenyum seperti itu membuatnya tenang.

Setidaknya Hanin benar-benar baik-baik saja.

Sementara di tribun...

Trouble Boy sudah hampir kehilangan akal.

Reno sampai mencengkram kepala sendiri dramatis.

“GUE GAK KUAT LIAT KETUA JADI MANUSIA NORMAL.”

“Dia tadi bikin Hanin senyum anjir…”

“Ini sejarah sekolah.”

Petra langsung melirik tajam ke arah mereka.

“Berisik banget sih.”

Namun justru itu membuat satu lapangan makin ribut.

Karena untuk pertama kalinya…

Petra terlihat benar-benar nyaman hanya duduk dan mengobrol dengan seseorang tanpa membuat masalah sedikit pun.

Langit sore perlahan berubah gelap.

Lampu-lampu lapangan basket mulai menyala satu per satu, menggantikan cahaya matahari yang memudar.

Area sekolah yang tadi ramai perlahan mulai sepi.

Beberapa siswa sudah pulang.
Anak-anak ekskul juga mulai membereskan barang masing-masing.

Namun obrolan tentang Hanin dan Petra masih belum berhenti.

Karena sampai detik terakhir…
banyak yang masih tidak percaya melihat Petra bisa duduk santai begitu lama tanpa membuat keributan.

Di bawah pohon dekat pinggir lapangan, Hanin akhirnya berdiri sambil mengambil tasnya.

“Pulang?”

Petra yang masih duduk di kursi panjang menoleh kecil.
“Hmm.”

Hanin merapikan hoodie tipisnya lalu berkata tenang,

“Duluan.”

Petra mengangguk kecil.

Dan lagi-lagi…
hal sederhana itu sukses membuat beberapa siswa yang masih ada di sekitar lapangan heboh sendiri.

“ANJIR DIA PAMIT.”

“ITU PAMIT KE PETRA 😭

“GUE MERASA LIAT DRAMA LIVE.”

Petra sampai menutup wajah sebentar karena berisiknya satu sekolah.

Sementara Hanin hanya terlihat biasa saja.

Sebelum pergi, gadis itu sempat menoleh sedikit lagi pada Petra.

“Jangan bikin masalah.”

Petra terkekeh kecil.

“Liat nanti.”

“Petra.”

“Iya iya.”

Hanin akhirnya berjalan meninggalkan area lapangan dengan langkah santai.

Dan entah kenapa…

Tatapan Petra terus mengikuti Hanin sampai gadis itu benar-benar jauh.

Di sisi lain, Damian yang baru selesai membereskan barang basket langsung menghampiri Hanin di area parkiran.

“Pulang bareng.”

Namun Hanin langsung menggeleng kecil.

“Aku bawa motor.”

“Capek gak?”

“Enggak.”

Damian masih terlihat ragu.

Karena setelah kejadian kemarin…
ia jadi jauh lebih waspada soal kondisi Hanin.

Namun Hanin hanya memasang helmnya sambil menatap kakaknya kecil.



“Aku gak selemah itu.”

Damian menghela napas kecil menyerah.

“Iya nona kuat.”

Hanin terkekeh samar.

Beberapa meter dari sana…

Petra yang baru keluar dari area lapangan otomatis berhenti melihat Hanin berdiri di samping motor  hitamnya.

Lampu parkiran memantul di bodi motor itu membuat suasananya terlihat seperti adegan film.

Hanin memasang helm fullface hitamnya pelan.

Lalu naik ke motornya dengan gerakan santai dan elegan.

Dan seperti biasa...

Satu area parkiran langsung kembali heboh.

“GILA KEREN BANGET.”

“CEWEK APA TOKOH UTAMA 😭

Petra hanya berdiri diam memperhatikan.

Lalu sudut bibirnya naik kecil sendiri.

Karena makin lama…

Hanin benar-benar terlihat seperti seseorang yang mustahil untuk tidak disukai.


Chapter 11


Malam mulai turun perlahan saat Hanin meninggalkan area sekolah dengan motor hitamnya.

Suara mesin motornya membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.

Namun seperti biasa…

Hanin tidak langsung pulang.

Gadis itu justru berhenti di sebuah toko kue premium yang cukup terkenal dekat pusat kota.

Tempat itu tidak terlalu ramai malam ini.
Suasananya hangat dan tenang.



Hanin melepas helmnya lalu masuk santai ke dalam toko.

Beberapa pegawai langsung mengenalinya karena Hanin memang cukup sering datang diam-diam hanya untuk membeli dessert favoritnya.

“Seperti biasa kak?”

Hanin mengangguk kecil.
“Red velvet satu.”

“Chewy Dubai juga?”

“Iya.”

Tak lama kemudian Hanin berjalan menuju kasir sambil membawa cake kecil favoritnya dan beberapa kotak Chewy Dubai.

Hari itu ia memang sedang ingin makan manis.

Mungkin untuk memperbaiki mood.
Mungkin juga karena tubuhnya memang lebih cepat lelah akhir-akhir ini.

Setelah selesai membayar…

Hanin baru saja menerima paper bag pesanannya ketika seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

“Hanin?”

Langkah Hanin langsung berhenti.

Gadis itu menoleh.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…
ekspresinya benar-benar terlihat kaget.



“…Axel?”

Seorang cowok tinggi dengan hoodie abu gelap berdiri beberapa langkah darinya sambil tersenyum tidak percaya.

Axel.



Sahabat Hanin dari sekolah lamanya.

Orang yang dulu selalu ada di masa-masa Hanin paling sibuk latihan dan sekolah.

Dan mungkin…

Satu-satunya cowok yang pernah benar-benar dekat dengan Hanin sebelum pindah sekolah.

Axel tertawa kecil masih tidak percaya.

“Gila…”

“Lo pindah tanpa pamit panjang.”

Hanin akhirnya tersenyum kecil samar.

“Dadakan.”

“Parah sih.”

Mereka akhirnya berdiri mengobrol santai dekat area depan toko kue. 

Membahas sekolah lama.
Teman-teman lama.
Dan kehidupan masing-masing setelah Hanin pindah.

Hanin terlihat jauh lebih santai karena Axel memang salah satu orang yang sudah mengenalnya cukup lama.

Namun berbeda dengan Hanin…

Axel diam-diam selalu menyimpan rasa lebih.

Sayangnya ia tidak pernah berani mengungkapkan itu.

Karena Axel terlalu takut kehilangan Hanin bahkan sebagai sahabat.

Jadi selama ini…
ia memilih tetap tinggal di posisi “teman terdekat.”

Dan tepat di saat itu...

Sebuah jeep hitam melintas di jalan depan toko.

Petra dan Trouble Boy.



Awalnya mereka hanya lewat biasa setelah nongkrong.

Namun Reno yang duduk di depan tiba-tiba melotot.

“WOY WOY WOY.”

Petra mengernyit.
“Apaan.”

“Itu Hanin gak sih?!”

Seketika Petra langsung menoleh ke arah toko kue.

Dan benar saja.

Di dalam toko yang terang…

Hanin sedang berdiri mengobrol santai dengan seorang cowok yang jelas bukan teman sekolah mereka.

Cowok itu bahkan terlihat terlalu nyaman berdiri dekat Hanin.

Dan yang paling parah...

Hanin tersenyum.

Petra langsung menginjak rem.

CIIIT.

Jeep hitam itu berhenti mendadak di pinggir jalan.

“Anjir,” gumam Reno pelan.

Karena aura Petra berubah dalam hitungan detik.

Tatapannya lurus ke arah Axel.

Dingin.

Sangat dingin.

Dari dalam jeep hitam, suasana mendadak berubah sunyi.

Tidak ada lagi suara Reno.
Tidak ada lagi candaan Trouble Boy.

Karena semua mata sekarang tertuju pada Hanin dan cowok asing itu.

Petra masih diam memperhatikan dari balik kaca mobil.

Tatapannya sulit dibaca.

Namun jelas…
ia tidak suka apa yang sedang dilihatnya.

Di depan toko kue, Hanin dan Axel masih mengobrol santai.

Sesekali tertawa kecil mengingat masa sekolah lama mereka.

Axel lalu mengeluarkan ponselnya.

“Nomor lo masih yang lama?”

Hanin menggeleng kecil.
“Udah ganti.”

“Pantes chat gue gak pernah masuk.”

Hanin akhirnya menyebutkan nomor barunya lalu Axel langsung menyimpannya cepat.

“Jangan ilang lagi kali ini,” ujar Axel sambil tersenyum kecil.

Hanin terkekeh samar.
“Lihat nanti.”

Obrolan mereka terasa sangat natural.

Terlalu natural.

Dan itu justru membuat Petra makin diam.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia melihat Hanin terlihat senyaman itu dengan cowok lain.

Tak lama kemudian Axel melihat jam di tangannya.

“Gue harus pergi.”

“Hm.”

Namun sebelum benar-benar pergi…

Axel membuka kedua tangannya sedikit.

Dan Hanin...
tanpa ragu...
membalas pelukan itu.



Singkat.
Hangat.
Seperti dua sahabat lama yang akhirnya bertemu lagi.

Namun dari dalam jeep

Petra langsung membeku.

“…Hah?”

Reno sampai refleks menutup mulut sendiri.

“ANJIR.”

“Dipeluk…”

“Haninnya ngebales…”

Satu mobil langsung tegang.

Karena mereka semua tahu...

Selama ini Hanin hampir tidak pernah membiarkan orang terlalu dekat secara fisik.

Dan sekarang…

Ia memeluk cowok lain dengan santai.

Petra bahkan sampai tidak sadar rahangnya menegang sendiri.

Tatapannya masih lurus pada Axel.

Dan keadaan makin parah ketika beberapa detik kemudian...

Sebuah SUV doff hitam besar menyala di parkiran depan toko.

Mobil itu terlihat mahal.
Gagah.
Dan auranya tidak kalah intimidating dibanding kendaraan keluarga Hanin.

Axel membuka pintu mobil itu lalu menoleh sekali lagi pada Hanin.

“Jangan ngilang lagi.”

Hanin mengangguk kecil.
“Hati-hati.”

Dan SUV itu akhirnya pergi meninggalkan area toko.

Namun Petra masih diam.

Tatapannya kosong beberapa detik.

Reno bahkan mulai takut bicara.

Karena untuk pertama kalinya…

Petra terlihat benar-benar tidak tenang.

Sementara itu Hanin terlihat santai saja.

Gadis itu malah memilih duduk di kursi kecil area depan toko sambil membuka paper bag pesanannya.

Ia mengambil satu Dubai Chewy Cookies lalu menggigitnya kecil.

Malam terasa cukup tenang.

Lampu jalan menyala hangat.
Angin malam bertiup pelan.

Dan Hanin sama sekali tidak sadar…

Ada satu jeep hitam di seberang jalan yang sekarang sedang dipenuhi aura cemburu tingkat tinggi.

 


Di dalam jeep hitam, suasana masih terasa tegang.

Petra terus memperhatikan Hanin yang duduk santai di depan toko kue sambil menikmati Dubai Chewy Cookies seolah tidak ada apa-apa.

Padahal barusan…

Ia baru saja bertukar nomor dan berpelukan dengan cowok lain.

Dan entah kenapa...

Pemandangan itu terus terulang di kepala Petra.

Rahangnya masih sedikit menegang.

Tangannya mengetuk setir pelan.

Sampai akhirnya...

CKLEK.

Petra membuka pintu mobil.

“WOY.”

Reno langsung refleks menarik lengan jaket Petra cepat.

“Mau ngapain lo?!”

Petra tetap menatap lurus ke arah Hanin.
“Nyamperin.”

“Dengan muka kayak gitu?!”

“Kenapa emang muka gue.”

“Kayak mau nyulik orang.”

Anak-anak Trouble Boy lain langsung mengangguk setuju.

“Iya ketua… aura lo serem banget sekarang.”

Petra mendecakkan lidah kecil.

Namun tetap mencoba turun dari mobil.

Dan Reno makin panik.

“PETRA STOP.”

“Apa sih.”

“Lo lagi cemburu.”

Petra langsung menoleh tajam.
“Enggak.”

“BOHONG.”

“Gue cuma pengen ngobrol.”

“Ngobrol apaan?!”

Reno menirukan ekspresi Petra dramatis.

“Halo Hanin siapa cowok tadi”
“Kenapa pelukan”
“Kenapa tukeran nomor”
“Aku siapa bagimu”

“DIEM LO.”

Petra langsung menyikut Reno keras sampai satu mobil ngakak menahan tawa.

Namun Reno masih belum melepas jaket Petra.

“Dengerin gue baik-baik.”

“Apa.”

“Kalau lo turun sekarang…”

“Lo bakal keliatan posesif.”

Petra diam.

Dan sialnya…

Ucapan Reno ada benarnya.

Karena sekarang emosinya memang sedang berantakan.

Ia sendiri bingung kenapa dadanya terasa sesak melihat Hanin sedekat itu dengan cowok lain.

Padahal Hanin bukan siapa-siapanya.

Belum.

Di luar sana…

Hanin masih duduk santai sambil menggigit cookies-nya kecil.

Lampu toko memantulkan cahaya hangat di wajahnya.

Dan Petra kembali diam memperhatikan itu.

Kesal.
Cemburu.
Penasaran.

Semuanya campur jadi satu.

Reno akhirnya menghela napas kecil lalu menepuk bahu ketuanya.

“Tenang dulu.”

“Besok juga ketemu lagi di sekolah.”

Petra bersandar kembali ke kursinya pelan.

Tatapannya masih belum lepas dari Hanin.

Lalu bergumam kecil,

“…Cowok tadi siapa sih.”

Dan untuk pertama kalinya…

Trouble Boy melihat Petra benar-benar terusik oleh seseorang.



Hanin menghabiskan gigitan terakhir Dubai Chewy Cookies-nya dengan santai.

Malam di depan toko kue terasa tenang.

Setelah itu gadis itu berdiri perlahan sambil membawa paper bag berisi cake dan sisa cookies miliknya.

Helm hitamnya kembali dipakai.

Lalu tanpa buru-buru Hanin berjalan menuju motor hitamnya yang terparkir tidak jauh dari sana.

Mesin motor menyala halus.

Dan beberapa detik kemudian...

BRUMM.

Hanin melaju meninggalkan toko kue membelah jalanan malam kota.

Di sisi lain jalan…

Tatapan Petra otomatis mengikuti motor itu pergi.

Dan tanpa banyak berpikir...

Tangannya langsung memutar setir.

Jeep hitam Trouble Boy mulai bergerak perlahan mengikuti arah Hanin.

Awalnya Reno masih santai.

Namun lima menit kemudian…

Cowok itu mulai menyadari sesuatu.

“Ketua.”

“Hm.”

“Kita mau ke mana?”

Petra tetap fokus melihat motor Hanin di kejauhan.

“Gatau.”

“…Hah?”

Anak-anak lain mulai saling pandang bingung.

Karena ini jelas bukan arah pulang Petra.

Bahkan mereka sekarang sudah melewati area tongkrongan biasa mereka.

Reno akhirnya menoleh curiga.

“Lo lagi…”

Namun kalimatnya langsung berhenti sendiri.

Karena sekarang semuanya sadar.

Petra sedang mengikuti Hanin.

Dan yang paling parah...

Petra bahkan tidak sadar sedang melakukannya.

Jeep hitam itu terus bergerak mengikuti Ducati Hanin dengan jarak cukup jauh.

Lampu-lampu kota memantul di jalan malam.

Hanin terlihat santai mengendarai motornya.
Tidak terburu-buru.
Tidak terlihat menyadari dirinya sedang diikuti.

Sementara di dalam jeep…

Trouble Boy sudah mulai kehilangan akal.

“Anjir ketua…”

“Lo sadar gak sih kita lagi ngikutin cewek?”

“Ini udah level bahaya.”

Petra masih diam.

Tatapannya lurus ke depan.

Entah kenapa ia hanya ingin memastikan Hanin sampai dengan aman.

Terutama setelah kejadian pingsan kemarin.

Dan juga…

Setelah cowok bernama Axel tadi muncul begitu saja.

Dadanya masih terasa tidak nyaman memikirkan itu.

Tak lama kemudian Ducati Hanin memasuki kawasan apartemen elite pusat kota.

Dan detik itu juga...

Satu mobil Trouble Boy langsung terdiam.

“…”

“…”

“…GILA.”

Bangunan apartemen mewah itu menjulang tinggi dengan area lobby yang terlihat sangat eksklusif.

Bodyguard berjaga.
Valet.
Dan sistem keamanan super ketat.

Reno sampai melotot.

“Dia tinggal di sini?!”

Petra pun sedikit terdiam.

Meski ia tahu keluarga Hanin kaya…

Tetap saja melihat langsung kehidupan Hanin terasa berbeda.

Sementara itu Hanin dengan santai memasukkan motornya ke area parkir private residence lalu menghilang masuk ke dalam gedung apartemen.

Dan jeep Petra masih berhenti cukup jauh di pinggir jalan.

Sunyi beberapa detik.

Lalu Reno perlahan menoleh ke arah Petra.

“Ketua.”

“Hm.”

“Lo fix udah jatuh cinta.”



Jeep hitam itu masih terparkir di pinggir jalan depan apartemen mewah Hanin.

Lampu kota memantul di kaca gedung tinggi yang menjulang megah di depan mereka.

Sementara motor Hanin sudah lama menghilang masuk ke area private parking.

Namun Petra masih belum pergi.

Cowok itu duduk diam sambil memandang lurus ke arah lobby apartemen.

Entah sedang berpikir.
Entah sedang melawan pikirannya sendiri.

Di dalam mobil suasana sunyi beberapa detik.

Sampai akhirnya Petra membuka suara pelan tanpa mengalihkan pandangan.

“…Menurut kalian gue perlu masuk gak?”

DETIK ITU JUGA...

“HAH?!”

Satu mobil langsung menoleh serempak ke arah Petra seperti baru mendengar kiamat diumumkan.

Reno sampai melotot tidak percaya.

“MASUK KE MANA?!”

“Ya apartemennya.”

“PETRA LO WARAS?!”

Anak-anak Trouble Boy langsung ribut bersamaan.

“Anjir ini udah gawat.”

“Ketua udah hilang arah.”

“Besok apa lagi?”
“Nganter sarapan?!”

Petra langsung mendecakkan lidah.

“Berisik.”

Namun justru itu membuat Reno makin heboh.

“LO MAU NGAPAIN MASUK?”

Petra akhirnya bersandar sambil mengacak rambutnya kasar.

“Gatau.”

Dan jawaban itu…

Malah terdengar jauh lebih berbahaya.

Karena artinya Petra benar-benar hanya mengikuti perasaannya sekarang.

Reno memegang dada dramatis.

“Ya Allah…”

“Ketua kita udah bucin.”

“Diam gak sih.”

Petra sebenarnya sendiri bingung.

Ia hanya merasa tidak tenang membiarkan Hanin pulang sendiri malam-malam setelah kejadian kemarin.

Ditambah munculnya Axel tadi sukses membuat pikirannya kacau.

Namun masuk ke apartemen Hanin jelas terdengar terlalu jauh.

Apalagi mereka bahkan belum sedekat itu.

Reno akhirnya menatap Petra lebih serius.

“Dengerin gue.”

“Apa.”

“Kalau lo masuk sekarang…”

“Lo bakal keliatan kayak stalker.”

Petra langsung terdiam.

Dan sialnya…

Itu memang benar.

Cowok itu menghela napas panjang sambil menatap kembali gedung apartemen Hanin.

Lampu-lampu lobby masih menyala terang.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

Petra benar-benar tidak tahu harus melakukan apa terhadap seseorang.

Beberapa detik kemudian Reno menepuk pundak Petra kecil.

“Pulang aja.”

“…”

“Besok ketemu lagi.”

Petra akhirnya bersandar pasrah di kursinya.

Tatapannya masih belum lepas dari apartemen itu.

Lalu bergumam pelan hampir tidak terdengar,

“…Gue cuma pengen dia aman.”

Dan satu mobil langsung hening.

Karena mereka tahu...

Petra sudah jatuh terlalu dalam.

 


Malam itu rumah Petra justru lebih ramai dari biasanya.

Jeep hitam Trouble Boy satu per satu masuk ke halaman rumah besar milik keluarga Petra.

Biasanya mereka nongkrong sampai larut sambil ribut sendiri.

Namun malam ini berbeda.

Mereka datang karena satu alasan penting:

Takut Petra jadi gila.

Begitu masuk rumah, Petra langsung menjatuhkan tubuh ke sofa ruang tengah sambil melempar ponselnya ke meja.

Reno memperhatikan curiga.

“Lo kenapa diem banget sih.”

Petra mengacak rambutnya frustrasi.

“Ganggu.”

“Apa yang ganggu?”

Petra tidak menjawab.

Namun semua orang di ruangan sudah tahu jawabannya.

Hanin.

Beberapa menit kemudian Petra kembali mengambil ponselnya.

Membuka kontak Hanin yang entah sejak kapan sudah tersimpan paling atas.

Lalu mulai mengetik.

"Udah sampai?"

Petra menatap layar beberapa detik.

Lalu…

DELETE.

Reno:
“…”

Petra mengetik lagi.

"Tadi cowok itu siapa?"

Hening.

DELETE lagi.

Reno mulai memijat pelipis.

“Ya Allah…”

Anak-anak Trouble Boy lain sudah mulai ngakak melihat ketuanya panik sendiri.

Namun Petra masih lanjut.

Ketik.

Hapus.

Ketik lagi.

"Jangan sering pulang malam sendirian."

Petra menatap tulisan itu cukup lama.

Jempolnya bahkan sempat hover di tombol kirim.

Namun beberapa detik kemudian...

DELETE lagi.

“PETRAAAA.”

Reno akhirnya hampir frustrasi sendiri.

“LO TUH MAUNYA APA SIH?!”

Petra menjatuhkan kepala ke sandaran sofa dengan kesal.

“Gatau.”

“Ya kirim aja!”

“Nanti aneh.”

“YA EMANG LO DARI TADI UDAH ANEH.”

Satu ruangan langsung pecah ketawa.

Namun Petra benar-benar terlihat stres.

Karena seumur hidup…

Ia tidak pernah sepanik ini cuma untuk mengirim pesan ke seseorang.

Biasanya Petra tinggal chat.
Tinggal datang.
Tinggal ngomong.

Selesai.

Tapi kalau urusannya Hanin...

Semua terasa berbeda.

Ia takut terlalu berlebihan.
Takut Hanin risih.
Takut Hanin menjauh.

Dan itu baru pertama kali Petra rasakan.

Reno akhirnya duduk di sebelah Petra sambil merebut ponselnya.

“Sini gue aja yang kirim.”

Petra langsung merebut lagi cepat.
“Jangan sembarang.”

“NAH KAN.”

“Gue cuma…”

Kalimat Petra menggantung.

Lalu akhirnya bergumam pelan sambil melihat layar kontak Hanin.

“…Gue pengen chat dia.”

Reno langsung menunjuk Petra dramatis ke anak-anak lain.

“FIX.”

“Ketua kita tamat.”


Chapter 12


Suasana ruang tengah rumah Petra masih penuh kekacauan.

Reno dan anak-anak Trouble Boy masih sibuk mengolok Petra yang dari tadi tidak berani mengirim pesan ke Hanin.

Sementara Petra sendiri duduk sambil memegang ponsel dengan wajah frustasi.



Dan tepat di saat itu

TING.

Notifikasi Instagram muncul di layar ponselnya.

📸 hanin uploaded a story.

Refleks Petra langsung membuka.

Dan detik berikutnya…

Satu ruangan mendadak hening.

Di layar terlihat foto aesthetic khas Hanin.

Potongan red velvet cake dan Dubai Chewy Cookies di atas meja apartemennya.

Lampu hangat.
Sudut foto rapi.
Dan caption singkat:

🍰🤍

Cuma itu.

Tapi entah kenapa…
buat Petra rasanya mematikan.

“Anjir…” gumam Reno pelan sambil ikut mengintip.



Petra terus memperhatikan story itu tanpa berkedip.

Karena itu berarti...

Hanin sudah sampai rumah dengan aman.

Dan anehnya…
dadanya langsung terasa jauh lebih tenang.

Namun masalah baru muncul beberapa detik kemudian.

Petra membuka kolom reply story.

Jempolnya langsung diam di keyboard.

Reno yang melihat langsung panik lagi.

“NO.”

Petra mengetik.

"Enak?"

Reno:
“…”

“SERIUS CUMA GITU?!”

Petra melirik kesal.
“Kenapa emang.”

“YA KAYAK OM-OM.”

Anak-anak lain langsung ngakak brutal.

Petra menghapus lagi.

Lalu mengetik ulang.

"Cake favorit lo?"

Hening.

Petra membaca ulang.

DELETE lagi.

Reno sampai rebahan di lantai frustrasi.

“GUE YANG CAPEK.”

“Lo diem deh.”

Namun sebelum Petra sempat mengetik lagi...

Notifikasi story Hanin berikutnya muncul.

Video pendek.

Hanin sedang duduk santai di sofa apartemennya memakai hoodie hitam oversized sambil makan Dubai Chewy Cookies kecil-kecil.

TV menyala di background.
Suasana malam terasa tenang.

Dan tanpa sadar di video itu…

Hanin sedikit tersenyum tipis saat menggigit cookies-nya.

Petra langsung diam total.

Reno menoleh perlahan.

“…Wah.”

Karena ekspresi Petra sekarang benar-benar terlihat hopeless.

Cowok itu akhirnya menjatuhkan kepala ke sofa sambil menutup wajah dengan tangan.

Sementara satu rumah langsung pecah ketawa.

“UDAH FIX.”

“KETUA KITA HILANG.”



Ruang tengah rumah Petra yang tadi penuh tawa perlahan kembali tenang.

Namun ketenangan itu cuma bertahan beberapa detik.

Karena Petra yang masih memperhatikan postingan terbaru Hanin tiba-tiba menyipitkan mata.

“…”

Reno yang duduk di sampingnya langsung curiga.

“Kenapa lagi.”

Petra tidak menjawab.

Tatapannya lurus ke kolom komentar postingan Hanin.

Dan di sana…

Ada satu komentar baru.

Axel.

“Selera kue lo masih sama kayak dulu ternyata.”

Sunyi.

Satu ruangan langsung ikut membaca.

Lalu perlahan semua kepala menoleh ke Petra bersamaan.

Karena aura cowok itu berubah drastis.

Panas.

Sangat panas.

Rahangnya kembali menegang.

Tatapannya masih diam di nama Axel seolah sedang menghafal seluruh identitas cowok itu lewat layar.

Reno sampai refleks menjauh sedikit.

“Waduh.”

Anak-anak Trouble Boy lain mulai panik sendiri.

“Anjir ini bahaya.”

“Ketua udah overheat.”

Petra akhirnya membuka profil Axel.

Dan keadaan makin parah.

Karena feed cowok itu dipenuhi foto mobil SUV doff hitamnya, basket, gym, dan beberapa foto lama bersama teman-teman sekolah.

Termasuk...

Foto grup lama sekolah Hanin.

Meski Hanin tidak berdiri dekat Axel di foto itu…

Tetap saja cukup membuat Petra makin tidak tenang.

Reno mengintip pelan.

“Oh dia anak basket juga.”

Petra langsung menatap tajam.
“Lo kagum?”

“Enggak anjir.”

Petra kembali melihat komentar tadi.

“Selera kue lo masih sama kayak dulu ternyata.”

KALIMAT ITU YANG BIKIN PANAS.

Karena artinya Axel mengenal Hanin sejak lama.

Tahu kebiasaan Hanin.
Tahu makanan favorit Hanin.
Dan jelas pernah berada cukup dekat dengan hidup Hanin.

Hal-hal yang Petra bahkan baru mulai pelajari sekarang.

Petra akhirnya menjatuhkan ponselnya ke sofa dengan kesal.

“Ganggu banget.”

Reno mencoba menahan tawa.
“Si Axel?”

“Iya.”

“Lah emang salah dia apa.”

Petra terdiam.

Karena sebenarnya…
Axel tidak melakukan kesalahan apa pun.

Tapi justru itu masalahnya.

Cowok itu terlihat terlalu sempurna untuk dijadikan alasan dibenci.

Dan itu membuat Petra makin kesal sendiri.

Tak lama kemudian notifikasi baru muncul lagi.

Hanin membalas komentar Axel.

“HAHAHA masih dong 😭

DETIK ITU JUGA...

“WOOOOOO.”

Satu rumah langsung heboh brutal.

Petra menutup wajah dengan tangan sambil menghembuskan napas panjang.

Reno sampai ngakak hampir jatuh dari sofa.

“PETRA GUE MOHON BERTAHAN.”

“Diam.”

“Lo cemburu banget anjir 😭

Petra menatap layar sekali lagi.

Lalu bergumam kecil penuh kekesalan,

“…Kenapa dia pake emoji nangis ke dia.”



Petra masih duduk di sofa sambil menatap postingan Hanin dengan ekspresi penuh kekesalan terhadap Axel.

Sementara Trouble Boy sudah sibuk menertawakan ketuanya sendiri.

Namun beberapa detik kemudian...

TING.

DM Instagram masuk.

Nama akun yang muncul langsung membuat Petra membeku.

📩 @itshanin

Reno yang duduk paling dekat langsung melotot.

“WOY.”

“WOYYYY.”

Petra buru-buru membuka chat itu.

Dan di sana cuma ada satu pesan singkat.

"kepo tuh."

Sunyi.

Lalu satu rumah MELEDAK.

“ANJIRRRR.”

“HANIN DULUAN YANG CHAT?!”

“PETRA SELAMAT LO 😭

Reno sampai berdiri sambil memegang kepala sendiri.

Sementara Petra…

Masih diam menatap layar.

Untuk pertama kalinya malam itu...

Cowok itu terlihat benar-benar kehilangan sistem.

Karena ternyata…

Hanin sadar Petra melihat story-nya dari tadi.

Dan lebih parahnya lagi...

Hanin sengaja ngechat duluan.

Petra membaca ulang pesan itu berkali-kali.

"kepo tuh."

Pendek.
Santai.
Tapi sukses bikin jantungnya kacau.

Reno langsung duduk di sebelah Petra paksa.

“BALAS CEPET.”

Petra mulai mengetik.

"Enggak."

Reno:
“…”

“PETRA GOBLOK.”

Satu rumah langsung protes brutal.

“ITU JAWABAN APAAN.”

Petra langsung menghapus.

Ketik lagi.

"Iya dikit."

Petra menatap layar lama.

Dan untuk pertama kalinya…

Cowok paling barbar satu sekolah terlihat gugup cuma gara-gara satu DM dari Hanin.

Begitu Petra akhirnya mengirim balasan itu...

Iya dikit.

Satu rumah langsung pecah.

“HAHAHAHAHA.”

“DIKIT KATANYA 😭

“LO NGIKUTIN DIA SAMPE APARTEMEN WOY.”

Reno sampai ngakak brutal sambil mukul sofa.

Anak-anak Trouble Boy lain juga sudah hampir jatuh satu-satu karena terlalu tidak percaya melihat Petra jadi sejujur ini.

Petra langsung melempar bantal ke arah mereka.

“Berisik banget anjir.”

Namun mukanya sendiri mulai sedikit merah karena malu.

Dan itu justru membuat mereka makin heboh.

“ANJIR KETUA MALU 😭

“GUE REKAM YA.”

“MATI LO SEMUA.”

Sementara itu di apartemen…

Hanin sedang duduk santai di sofa ruang tengah apartemennya.

TV masih menyala pelan di background.
Cake red velvet favoritnya masih setengah habis di meja.

Dan di tangannya...
ponsel dengan chat Petra terbuka.

Begitu membaca balasan Petra:

"Iya dikit."

Sudut bibir Hanin perlahan naik kecil.

Senyum tipis.

Sangat tipis.

Namun kali ini lebih jelas dibanding biasanya.

Karena entah kenapa…

Membayangkan Petra yang terkenal paling barbar satu sekolah sekarang panik sendiri gara-gara dirinya terasa lucu.

Hanin bahkan bisa membayangkan wajah Petra saat mengetik balasan itu.

Dan lebih lucu lagi...

Pasti sekarang gengnya sedang menertawakan Petra habis-habisan.

Hanin akhirnya mengetik lagi santai.

"Dikitnya sampai ngeliatin tiap story?"

SEND.

Dan di rumah Petra

“WOYYYYY.”

“DIA NGEH 😭😭😭

Petra langsung membeku total melihat pesan baru itu.

Reno sampai rebahan di lantai sambil ngakak tanpa suara.

Karena sekarang…

Hanin jelas sedang menggoda Petra balik.



Petra masih menatap DM terakhir dari Hanin dengan ekspresi campur aduk.

"Dikitnya sampai ngeliatin tiap story?"

Dan sialnya…

Itu benar.

Reno yang dari tadi mengintip langsung hampir pingsan karena ngakak.

“GUE GAK KUAT 😭

“Ketua ketahuan stalking.”

Petra menutup wajah sebentar dengan tangan.

Namun kali ini…

Bukannya panik, sudut bibirnya justru sedikit naik.

Karena untuk pertama kalinya...
obrolannya dengan Hanin terasa ringan.

Santai.

Dan Hanin terlihat nyaman membalasnya.

Beberapa menit kemudian Petra menarik napas kecil.

Lalu membuka profil Instagram Hanin lagi.

Matanya berhenti pada bio akun @itshanin.

Nomor WhatsApp Hanin yang tadi diberikan ke Axel otomatis sudah tersimpan di kepala Petra sejak di toko kue.

Dan entah keberanian datang dari mana...

Petra akhirnya membuka WhatsApp.

Reno langsung menoleh cepat.

“WOY.”

Petra mulai mengetik.

“Lo mau ngapain.”

“Chat.”

“DI WA?!”

Anak-anak Trouble Boy langsung heboh lagi.

Karena pindah dari DM Instagram ke WhatsApp itu terasa jauh lebih personal.

Petra mengetik cukup lama.

Hapus.
Ketik lagi.
Hapus lagi.

Sampai akhirnya...

"Tidur jangan malam-malam."

Petra menatap layar beberapa detik.

Lalu…

SEND.

Centang satu.

Dan detik itu juga Petra langsung menjatuhkan ponselnya ke sofa seperti habis melempar bom.

“ANJIR.”

Reno langsung teriak brutal.

“PETRA CHAT DULUAN DI WA 😭

Satu rumah kembali chaos.

Sementara Petra sendiri pura-pura santai sambil mengambil minum.

Padahal jantungnya hampir copot menunggu balasan Hanin.

Di sisi lain…

Ponsel Hanin yang sedang tergeletak di meja sofa tiba-tiba menyala.

📩 Petra.

Hanin sedikit mengangkat alis.

Karena Petra benar-benar pindah chat ke WhatsApp.

Dan entah kenapa…

Itu membuat Hanin tersenyum kecil lagi sebelum akhirnya membuka pesannya.

Tak lama setelah pesan Petra terkirim…

Ponselnya akhirnya bergetar.

📩 Hanin.

Petra langsung refleks mengambil HP-nya terlalu cepat sampai hampir jatuh.

Reno yang melihat langsung menatap jijik dramatis.

“Najis cinta.”

Petra mengabaikannya dan membuka chat.

Iya ibu petra.

Petra langsung terkekeh kecil sendiri.

Dan itu sukses membuat satu rumah mendadak hening.

Karena…

Petra.
Tertawa.
Sendiri.
Karena chat.

Reno sampai menatap langit-langit rumah pasrah.

“Ya Allah… ketua gue gone.”

Percakapan mereka akhirnya berlanjut ringan.

Awalnya cuma saling bercanda kecil.

Tentang Petra yang ketahuan lihat story berkali-kali.
Tentang cake favorit Hanin.
Sampai bahasan random soal anak basket sekolah.

Dan anehnya…

Chat mereka nyambung.

Sangat nyambung.

Petra bahkan mulai lupa kalau beberapa menit lalu dia masih kesal gara-gara Axel.

Sekarang fokusnya cuma satu.

Balasan Hanin.

Sementara di ruang tengah…

Anak-anak Trouble Boy awalnya masih main game bareng.

Namun lama-lama mereka sadar sesuatu.

Petra tidak ikut main.

Padahal biasanya cowok itu paling barbar kalau mabar.

Reno akhirnya melirik.

Dan benar saja...

Petra duduk sendiri di sofa sambil terus mengetik chat dengan wajah yang jauh lebih hidup dibanding main game.

“ANJIR.”

“Dia milih chat Hanin daripada mabar 😭

Anak-anak lain langsung ikut melihat.

“Ketua udah berubah.”

“Cinta emang menakutkan.”

Petra melirik tajam.
“Ribut banget sih.”

Namun bahkan sambil ngomel…

Tangannya tetap lanjut balas chat Hanin.

Di apartemennya, Hanin pun terlihat jauh lebih santai malam ini.

Duduk selonjoran di sofa sambil sesekali membalas chat Petra.

Dan untuk pertama kalinya setelah pindah sekolah…

Hanin merasa nyaman mengobrol lama dengan seseorang selain keluarganya.

Sementara jauh di sisi lain kota…

Dua orang itu tidak sadar...

Mereka sama-sama sedang tersenyum kecil di depan layar masing-masing.



Malam itu suasana rumah Petra masih ramai.

Namun fokus Petra sekarang benar-benar cuma satu:

Chat Hanin.

Cowok itu bahkan sampai mengabaikan suara game dan keributan Trouble Boy yang biasanya paling dia nikmati.

Sampai akhirnya...

TING.

Notifikasi chat baru masuk.

Petra refleks membuka karena mengira itu Hanin lagi.

Namun senyum kecil di wajahnya langsung hilang begitu melihat nama di layar.

📩 Claudia.

Reno yang duduk di samping langsung menyipitkan mata.

“Si mantan?”

Petra langsung menghela napas kecil malas.

Claudia.

Mantan Petra.

Cewek cantik, populer, dan satu sekolah dengan mereka meski beda kelas.

Hubungan mereka dulu cukup lama.
Dan hampir semua orang mengira Petra benar-benar serius dengan Claudia.

Sampai akhirnya hubungan itu hancur karena Claudia selingkuh.

Sejak saat itu Petra berubah jauh lebih dingin.

Dan Claudia…

Tidak pernah benar-benar bisa move on.

Petra membuka chat itu singkat.

"Kamu lagi sama anak-anak?"

Petra membaca sekilas tanpa ekspresi.

Tak lama masuk lagi chat berikutnya.

"Aku tadi lihat kamu di sekolah."

Dan terakhir

"Sekarang dingin banget sama aku ya."

Sunyi.

Petra langsung mengunci layar ponselnya tanpa membalas.

Reno memperhatikan itu sambil makan keripik.

“Balas gak?”

“Ngapain.”

Jawabannya datar.

Sangat datar.

Dan itu berbeda jauh dibanding cara Petra membalas Hanin tadi.

Tidak ada gugup.
Tidak ada senyum.
Tidak ada ketertarikan sedikit pun.

Hanya dingin.

Sementara itu…

Di kamarnya sendiri, Claudia duduk sambil menatap layar ponselnya.

Ia sebenarnya sudah memperhatikan perubahan Petra sejak Hanin datang ke sekolah.

Tatapan Petra.
Cara Petra memperhatikan Hanin.
Sampai bagaimana Petra mulai kehilangan fokus kalau Hanin ada.

Dan itu membuat Claudia gelisah.

Karena dulu...

Tatapan itu pernah Petra berikan padanya.

Namun sekarang…
semuanya terasa berbeda.

Petra memang masih bersikap biasa di sekolah.

Tetap santai.
Tetap cuek.

Tapi Claudia cukup mengenal Petra untuk sadar...

Cowok itu perlahan berubah karena Hanin.

Dan hal itu membuatnya takut kehilangan Petra sepenuhnya.



Keesokan paginya sekolah kembali ramai seperti biasa.

Area parkiran sudah dipenuhi siswa yang baru datang.
Suara obrolan bercampur dengan bunyi motor dan mobil yang keluar masuk halaman sekolah.

Namun pagi ini…

Ada satu hal yang berbeda.

Petra datang lebih pagi dari biasanya.

Dan itu langsung membuat Trouble Boy curiga.

Reno sampai menatap ketuanya sambil menyipitkan mata.

“Lo nyari siapa?”

Petra turun dari jeep hitamnya sambil memasukkan tangan ke saku hoodie.

“Siapa emang.”

“Jangan pura-pura.”

Petra tidak menjawab.

Namun matanya beberapa kali otomatis melihat ke arah gerbang masuk sekolah.

Dan tentu saja…

Itu tidak lolos dari pengamatan gengnya.

“Anjir.”

“Dia nungguin Hanin 😭

Petra langsung melirik tajam.
“Berisik.”

Tak lama kemudian…

BMW hitam milik Damian masuk ke area parkiran.

Dan seketika perhatian siswa langsung teralihkan.

“Damian!”

“Hanin datang!”

Petra refleks menoleh.

Mobil berhenti dengan halus sebelum Damian turun lebih dulu sambil membawa kopi dingin di tangannya.

Lalu dari sisi lain pintu mobil…

Hanin keluar.

Seragam sekolah rapi.
Rambut diikat rendah.
Wajah masih setenang biasanya.

Namun pagi ini Hanin terlihat sedikit lebih fresh dibanding kemarin malam.

Dan tanpa sadar...

Sudut bibir Petra sedikit naik melihatnya.

Reno langsung menatap jijik.

“Najis.”

“Mulut lo pengen gue jahit?”

Hanin yang sedang berjalan bersama Damian tiba-tiba menangkap sosok Petra dari kejauhan.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Lalu…

Untuk pertama kalinya pagi itu...

Hanin sedikit mengangkat ponselnya kecil ke arah Petra.

Menunjukkan layar chat WhatsApp mereka semalam.

Isinya masih terbuka.

Dan Hanin tersenyum tipis jahil.

Petra langsung membeku.

Sementara satu geng di belakangnya mulai ribut brutal.

“WOYYYY.”

“DIPAMERIN CHAT 😭

“PETRA MENANG BANYAK.”

Damian yang melihat interaksi kecil itu hanya melirik Hanin sebentar.

Lalu terkekeh pelan.

Karena sekarang semuanya mulai terlihat jelas.

Adiknya…
perlahan mulai membuka diri pada seseorang.

Di tengah keramaian parkiran sekolah, suasana masih dipenuhi suara heboh siswa yang melihat interaksi kecil Hanin dan Petra.

Petra sendiri masih berdiri mematung setelah Hanin dengan santainya memamerkan layar chat mereka semalam.

Sementara Trouble Boy sudah ribut tidak jelas di belakangnya.

Namun di sisi lain parkiran…

Ada seseorang yang memperhatikan semuanya dalam diam.



Claudia.

Cewek itu berdiri dekat mobil sahabatnya sambil memegang tali tasnya pelan.

Tatapannya tertuju lurus pada Petra.

Lebih tepatnya...
pada cara Petra melihat Hanin.

Dan itu membuat dada Claudia terasa tidak nyaman.

Karena ia belum pernah melihat Petra seperti itu lagi sejak hubungan mereka berakhir.

Tatapan Petra yang biasanya dingin sekarang terlihat jauh lebih hidup saat Hanin ada.

Dan Claudia sadar itu.

Sangat sadar.

Namun tanpa Claudia ketahui…

Seseorang juga memperhatikannya.

Damian.

Cowok itu yang sedari tadi berjalan di samping Hanin perlahan menyadari ada tatapan yang terus mengarah ke mereka.

Atau lebih tepatnya…

Ke Petra dan Hanin.

Damian akhirnya melirik sekilas ke arah Claudia.

Tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik.

Dan Damian langsung bisa membaca situasinya cukup cepat.

“Hmm…”

Hanin yang mendengar gumaman kecil kakaknya menoleh.

“Kenapa?”

Damian hanya tersenyum tipis.
“Gapapa.”

Namun matanya kembali melirik Claudia sebentar.

Aura cewek itu terlihat rumit.

Bukan sekadar penasaran.

Ada rasa cemburu.
Tidak rela.
Dan sedikit terluka.

Dan Damian cukup pintar untuk memahami itu.

Di sisi lain…

Claudia perlahan mengalihkan pandangannya saat sadar Damian memperhatikannya.

Namun sebelum pergi…

Tatapannya sempat kembali pada Hanin.

Dan untuk pertama kalinya…

Claudia benar-benar merasa terancam oleh seseorang.

Karena Hanin bukan cuma cantik.

Bukan cuma pintar.
Atau populer.

Tapi Hanin berhasil membuat Petra berubah.

Dan itu yang paling membuat Claudia takut.


Chapter 13

Jam pelajaran pagi berjalan cukup normal.

Guru menjelaskan materi.
Suasana kelas tenang.
Dan seperti biasa Hanin tetap menjadi pusat perhatian tanpa perlu melakukan apa pun.

Sementara Petra…

Dari tadi sama sekali tidak fokus belajar.

Tatapannya beberapa kali otomatis mengarah ke Hanin.

Dan itu sukses membuat Reno hampir mati menahan tawa.

“Ketua…”

“Hm.”

“Lo kalau nengok Hanin lagi satu kali, sumpah gue foto.”

Petra langsung menyenggol meja Reno pelan.
“Belajar sana.”

Padahal dirinya sendiri bahkan tidak mendengar guru menjelaskan apa.

Tak lama kemudian…

TING TONGGG!!

Bel istirahat berbunyi.

Satu kelas langsung ramai.

Dan sebelum Petra sempat kehilangan keberanian…

Cowok itu akhirnya berdiri lalu berjalan menuju meja Hanin.

Detik itu juga satu kelas mulai ribut pelan.

“WOY.”

“Petra jalan ke Hanin.”

“Anjir tiap hari makin terang-terangan.”

Petra berhenti tepat di samping meja Hanin.

“Hanin.”

Gadis itu mendongak tenang.
“Hm?”

“Kantin?”

Singkat.
Padat.
Namun cukup membuat setengah kelas menahan napas.

Karena Petra…
mengajak seseorang ke kantin dengan cara normal.

Dan yang lebih mengejutkan...

Hanin mengangguk santai.

“Boleh.”

BOOM!!

Satu kelas langsung pecah heboh.

“ANJIR DIA MAU 😭

“PETRA DITERIMA NEGARA.”

Petra langsung menatap sekelas datar.
“Ribut banget.”

Namun sudut bibirnya sedikit naik.

Sementara Hanin hanya berdiri santai sambil membawa ponselnya.

Mereka akhirnya berjalan berdampingan menuju kantin.

Dan seperti biasa…

Lorong sekolah langsung berubah heboh.

Siswa-siswi yang lewat otomatis menoleh.
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana.

Karena kombinasi Petra dan Hanin benar-benar terlalu mencolok.

Di tengah perjalanan…

Mereka sempat berpapasan dengan Claudia.

Cewek itu berhenti beberapa langkah sambil menatap Petra dan Hanin.

Hanin sendiri tidak terlalu memperhatikan.

Ia hanya lewat biasa saja.

Namun Petra menyadari keberadaan Claudia.

Tatapan mereka sempat bertemu singkat.

Dan seperti beberapa hari terakhir…

Petra tetap bersikap dingin.

Tidak ada senyum.
Tidak ada sapaan khusus.

Hanya sekilas pandangan lalu berjalan lagi bersama Hanin.

Itu membuat Claudia diam membeku beberapa detik.

Karena untuk pertama kalinya…
ia benar-benar merasa Petra sudah mulai pergi jauh darinya.

Namun Claudia akhirnya berjalan mengikuti arah mereka menuju kantin.

Bersama beberapa teman gengnya.

Dan tanpa Claudia sadari…

Ada seseorang yang memperhatikan dari belakang.

Damian.

Cowok itu berjalan santai bersama geng cowok kelas 3-nya sambil memegang kopi dingin.

Tatapannya sempat melihat Claudia yang mengikuti Hanin dan Petra cukup lama.

Lalu Damian melirik salah satu temannya kecil.

“Kayaknya bakal rame.”

Temannya langsung menoleh penasaran.
“Hah?”

Damian hanya tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai di belakang mereka semua.

Namun matanya tetap awas memperhatikan situasi.



Kantin sekolah siang itu kembali penuh.

Suara obrolan bercampur dengan keributan siswa yang masih diam-diam memperhatikan Petra dan Hanin duduk satu meja bersama.







Bahkan beberapa anak sampai sengaja membeli makanan lebih lama hanya untuk melihat mereka.

Sementara Hanin terlihat santai seperti biasa.

Sedangkan Petra…

Meski terlihat tenang, sebenarnya cukup menikmati suasana duduk berdua dengan Hanin seperti ini.

Namun beberapa meja dari sana…

Claudia dan gengnya juga duduk sambil terus memperhatikan ke arah mereka.



Tatapan Claudia sesekali jatuh pada Petra.

Dan itu tidak lolos dari pengamatan Damian.

Cowok itu yang tadi masuk kantin bersama geng kelas 3 akhirnya berhenti berjalan.

Tatapannya lurus ke arah meja Claudia.

Lalu tanpa banyak bicara…

Damian melangkah mendekat.

Teman-teman Claudia langsung saling pandang bingung saat Damian tiba-tiba berdiri di dekat meja mereka.

Karena aura cowok itu terlalu tenang.

Tapi justru terasa menekan.

“Damian?” ujar salah satu dari mereka pelan.

Damian tersenyum tipis sopan.

Namun matanya tetap dingin.

Lalu ia sedikit membungkuk mendekat ke arah Claudia dan berbisik pelan...



Cukup pelan supaya hanya meja itu yang mendengar.

“Gak usah macem-macem sama adek gue.”

Nada suaranya santai.

Sangat santai.

Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding.

Karena tidak terdengar seperti ancaman kosong.

Claudia langsung diam.

Tatapannya sedikit membeku menatap Damian.

Sementara teman-temannya juga ikut terdiam karena aura Damian berubah sangat berbeda dari biasanya.

Tidak lagi ramah seperti senior populer sekolah.

Melainkan…

Seseorang yang benar-benar protectif.

Di sisi lain kantin…

Hanin memperhatikan semua itu dari jauh.

Gadis itu langsung tahu.

Damian sedang masuk mode kakak overprotective.

Petra pun ikut memperhatikan Damian dengan sedikit bingung.

“Kakak lo serem juga ya.”

Hanin meminum airnya santai.
“Biasanya enggak.”

“Biasanya?”

“Kalau nyangkut aku, beda cerita.” Dengan santai Hanin sambil mengikat rambutnya setengah dan merapihkan dasinya.

Petra langsung diam beberapa detik.

Entah kenapa kalimat itu membuatnya sadar...

Seberapa besar keluarga Hanin menjaga gadis itu.

Tak lama kemudian Damian berjalan meninggalkan meja Claudia.

Ekspresinya langsung kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Cowok itu lalu menghampiri meja Hanin dan Petra sambil menarik kursi kosong.

“Ganggu gak?”

Petra menggeleng kecil.
“Duduk aja.”

Damian duduk santai di samping Hanin lalu menatap adiknya sebentar memastikan semuanya aman.


Dan Petra yang melihat itu akhirnya sadar satu hal :

Damian mungkin ramah.

Namun kalau urusannya Hanin…

Cowok itu bisa jadi sangat mengintimidasi.

Damian baru saja duduk santai di samping Hanin sambil meminum kopi dinginnya.

Aura dingin yang tadi sempat muncul di meja Claudia perlahan menghilang begitu saja.

Sekarang ekspresinya kembali santai seperti biasa.

Namun Hanin yang sedari tadi memperhatikan jelas tahu kakaknya baru melakukan sesuatu.

Gadis itu menyipitkan mata kecil.

“Kamu ngapain di meja sana?”

Damian langsung menoleh polos.
“Meja mana?”

Hanin menatap datar.
“Damian.”

Petra yang duduk di depan mereka langsung menahan senyum kecil karena tahu Damian ketahuan.

Sementara beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan lagi.

Karena kombinasi Hanin dan Damian memang selalu menarik perhatian.

Damian akhirnya terkekeh pelan sambil bersandar santai.

“Cuma ngobrol.”

“Ngobrol apa.”

“Biasa.”

Hanin langsung tahu itu bohong.

Tatapannya makin tajam sedikit.

“Kamu ngancem orang lagi?”

“Enggak lah.”

Petra hampir tersedak minumnya sendiri mendengar nada Damian yang terlalu santai.

Karena jelas-jelas cowok itu tadi mengintimidasi satu meja hanya dengan satu kalimat.

Damian akhirnya menghela napas kecil lalu menatap Hanin.

“Aku cuma gak suka ada yang ngeliatin kamu aneh-aneh.”

Nada suaranya tetap ringan.

Namun jelas terdengar protectif.

Hanin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil pasrah.

“Kebiasaan.”

Damian tersenyum kecil.
“Iya.”

Petra yang melihat interaksi kakak-adik itu tiba-tiba merasa lucu sendiri.

Karena Hanin yang dikenal dingin ternyata cukup berbeda saat bersama keluarganya.

Jauh lebih lembut.
Lebih santai.

Dan Damian…

Benar-benar memperlakukan Hanin seperti sesuatu yang harus dijaga sepenuhnya.

Tak lama kemudian Reno dan Trouble Boy datang membawa makanan mereka.

Namun baru beberapa langkah mendekat...

Reno langsung berbisik pelan ke Petra.

“Ketua.”

“Hm.”

“Gue takut sama kakaknya Hanin.”

Petra melirik Damian yang sedang ngobrol santai dengan Hanin.

Lalu menjawab pendek,

“…Gue juga dikit.”

Reno dan anak-anak Trouble Boy awalnya masih berdiri ragu sambil membawa nampan makanan mereka.

Karena meski Damian terlihat santai sekarang…

Mereka masih ingat aura mengintimidasi beberapa menit lalu di meja Claudia.

Dan jujur saja...
itu cukup bikin merinding.

Petra yang melihat gengnya bengong langsung mengernyit.

“Ngapain berdiri.”

“Takut salah duduk,” bisik Reno.

Petra hampir ketawa sendiri.

Namun sebelum mereka sempat memutuskan...

Damian justru menoleh ke arah mereka lebih dulu.

Cowok itu menyandarkan tubuh santai lalu mengangkat dagunya kecil ke kursi kosong di sekitar meja.

“Duduk aja.”

Satu geng langsung membeku.

“Hah?”

Damian terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.

“Masa gue seserem itu.”

Reno refleks menjawab jujur,
“Iya dikit kak.”

Petra langsung menendang kaki Reno pelan di bawah meja.

Namun justru Damian tertawa kecil.

“Parah.”

Suasana yang tadi sedikit tegang akhirnya mencair.

Dan beberapa detik kemudian…

Trouble Boy benar-benar duduk gabung di meja Hanin.

Sontak satu kantin kembali heboh.

“ANJIR.”

“FULL TEAM.”

“PETRA + HANIN + DAMIAN + TROUBLE BOY 😭

Beberapa siswa bahkan mulai merekam diam-diam karena pemandangan itu terasa terlalu langka.

Karena biasanya Trouble Boy identik dengan keributan.

Namun sekarang mereka malah duduk santai satu meja bersama Hanin.

Dan lebih aneh lagi...

Damian terlihat cukup nyambung dengan mereka.

Reno akhirnya mulai berani ngobrol.

“Kak Damian ternyata asik juga.”

Damian mengangguk kecil sambil minum.
“Kirain?”

“Kirain bakal dibunuh.”

“Mulut lo.” Sahut Damian.

Satu meja langsung ketawa.

Bahkan Hanin sampai sedikit menggeleng kecil melihat tingkah mereka.

Dan Petra…

Diam-diam memperhatikan Hanin yang terlihat jauh lebih nyaman sekarang.

Sesekali ikut tersenyum tipis.
Sesekali menimpali obrolan.

Suasana meja mereka terasa surprisingly hangat.

Namun di sisi lain kantin…

Claudia memperhatikan semuanya dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia merasa benar-benar berada di luar dunia Petra sekarang.

Sejak kejadian Hanin pingsan di UKS hari itu…

Ada banyak hal yang perlahan berubah.

Salah satunya adalah hubungan Damian dengan Petra dan Trouble Boy.

Awalnya Damian memang cukup menjaga jarak.

Namun karena Petra sudah mengetahui rahasia tentang kondisi Hanin...
dan memilih menjaga itu baik-baik.

Damian mulai percaya pada Petra.

Setidaknya…
lebih dibanding orang lain.

Dan anehnya…

Petra juga berubah cukup banyak sejak dekat dengan Hanin.

Cowok itu memang masih sama:
masih suka bikin onar,
masih brutal,
masih hobi balapan dan berantem.

Namun sekarang ada satu hal baru :

Ia jadi lebih sering menghilang dari tongkrongan hanya untuk chat Hanin.

Dan itu selalu jadi bahan bully satu geng.

Lama-lama hubungan dua geng itu juga makin dekat.

Geng Damian yang isinya anak-anak kelas 3 terkenal dan cukup disegani…
mulai sering nongkrong bareng Trouble Boy.

Kadang di cafe.
Kadang di rooftop rumah Petra.

Awalnya suasana cukup canggung.

Karena aura mereka sama-sama kuat.

Namun lama-lama malah nyambung.

Reno bahkan jadi cukup dekat dengan beberapa teman Damian.

Sementara Damian sendiri surprisingly cocok ngobrol dengan Petra.

Meski sering berakhir saling roasting.

Malam itu misalnya.

Mereka semua sedang nongkrong santai di rooftop rumah Petra.



Lampu kota terlihat indah dari atas.
Musik diputar pelan.
Makanan dan minuman berserakan di meja.

Hanin duduk santai di kursi sofa outdoor sambil memakai hoodie oversized hitam.

Sementara Petra duduk tidak jauh darinya.


Dan seperti biasa…

Mata Petra otomatis sering melihat Hanin.

Damian yang sadar itu akhirnya terkekeh kecil.

“Petra.”

“Hm.”

“Lo tuh halus dikit kalau liatin ade gue.”

Satu rooftop langsung pecah ketawa brutal.

Petra langsung tersedak minumnya sendiri.

“Apaan sih.”

Reno langsung menunjuk Petra.
“NAH KAN KETAHUAN.”

Hanin sendiri hanya melirik kecil ke arah Petra sebelum kembali santai meminum sodanya.

Namun sudut bibirnya terlihat sedikit naik.

Damian akhirnya bersandar santai sambil melihat Petra.

Dan untuk pertama kalinya…

Cowok itu benar-benar merasa tenang membiarkan Petra ada dekat Hanin.

Karena di balik semua sifat barbar Petra…

Damian tahu satu hal pasti :

Petra benar-benar menjaga Hanin dengan tulus.

Malam di rooftop rumah Petra masih ramai.



Angin malam berhembus pelan ditemani suara musik santai dan obrolan dua geng yang sekarang mulai akrab satu sama lain.

Reno dan beberapa anak lain masih sibuk bercanda.
Sementara Damian duduk santai sambil sesekali memperhatikan Hanin.

Dan saat melihat jam di ponselnya...

Damian langsung mengernyit kecil.

Baru jam 8 malam.

Namun bagi Damian…

Itu sudah cukup malam untuk Hanin berada di luar terlalu lama.

Apalagi kondisi Hanin akhir-akhir ini masih belum benar-benar stabil.

Cowok itu akhirnya bersandar sambil berkata santai,

“Pindah nongkrong aja yuk.”

Reno langsung menoleh.
“Ke mana?”

Damian menjawab ringan seolah bukan hal besar.

“Apart Hanin.”

SUNYI.

Satu rooftop langsung membeku.

“Hah?!”

“APARTEMEN HANIN?!”

“SERIUS?!”

Bahkan Petra yang biasanya paling santai pun ikut terdiam beberapa detik.

Karena itu berarti…

Masuk ke tempat pribadi Hanin.

Dan itu jelas bukan sesuatu yang biasa.

Damian lalu menoleh ke arah Hanin.

“Nin.”

“Hm?”

“Boleh gak?”

Semua mata langsung tertuju pada Hanin sekarang.

Karena keputusan sepenuhnya ada di tangan gadis itu.

Dan mengejutkannya...

Hanin terlihat santai saja.

“Boleh.”

BOOM.

Satu rooftop langsung chaos.

“ANJIRRRR.”

“GUE MASUK APART HANIN 😭

“INI LEVEL PERTEMANAN APA.”

Petra sendiri masih sedikit tidak percaya.

Karena selama ini Hanin selalu menjaga ruang pribadinya cukup ketat.

Dan sekarang…

Hanin mengizinkan mereka datang.

Hanin berdiri santai sambil mengambil helm motornya.

“Kalau berisik keluar.”

Reno langsung mengangguk cepat.
“Kami anak baik.”

“Pembohong.” Sahut Hanin.

Satu geng langsung ngakak.

Beberapa menit kemudian mereka semua akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.

Mobil Damian di depan.
Jeep Petra di belakang.
Beberapa motor ikut menyusul.

Dan sepanjang perjalanan…

Petra diam-diam masih memikirkan satu hal :

Hanin benar-benar mulai mempercayai mereka.

 

 

Area parkiran mulai ramai saat semuanya bersiap pindah menuju apartemen Hanin.

Suara mesin mobil dan motor mulai terdengar bergantian.

Hanin yang tadi berdiri santai akhirnya berjalan menuju motor hitamnya sambil memutar kunci motor di jarinya pelan.

Reno yang melihat motor itu langsung mendekat dengan mata berbinar.

“Motor impian gue banget…”

Hanin melirik kecil.
“Mau bawa?”

Reno langsung membeku.
“…Hah?”

Dan sebelum otaknya selesai mencerna...

Hanin benar-benar melempar kunci motornya ke arah Reno.

Refleks Reno menangkapnya cepat.

DETIK ITU JUGA!!

“WOYYYYYY.”

“RENO DIPERCAYA BAWA DUCATI HANIN 😭

“NAIK DERAJAT LO.”

Reno sampai menatap kunci motor itu seperti benda suci.

“Gue takut jatoh…”

Hanin malah santai memasukkan tangan ke hoodie-nya.

“Kalau lecet gue bunuh.”

“NAH KAN 😭

Satu geng langsung ngakak brutal.

Namun Reno tetap terlihat bangga setengah mati.

Karena jelas…
Hanin mulai nyaman dengan mereka.

Dan itu bukan hal kecil.

Sementara itu Damian sudah membuka pintu mobilnya.

“Nin.”

Hanin langsung berjalan santai menuju mobil kakaknya.

Petra yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mengernyit kecil.

“Lo gak naik motor?”

“Capek.”

Jawaban Hanin pendek seperti biasa.

Lalu tanpa banyak drama gadis itu masuk ke kursi penumpang depan mobil Damian.

Dan entah kenapa…

Petra sedikit merasa kosong melihat itu.

Karena biasanya Hanin selalu terlihat cocok dengan motornya.

Namun di sisi lain…

Ia juga lega Hanin memilih istirahat.

Reno yang masih memegang kunci motor langsung mendekat ke Petra sambil super excited.

“Ketua…”

“Hm.”

“Gue dipercaya Hanin.”

Petra melirik datar.
“Jangan jatoh.”

“LO IRI YA.”

Petra langsung mendorong kepala Reno pelan sampai satu geng kembali ketawa.

Tak lama kemudian rombongan mereka akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.

BMW Damian melaju di depan.
Jeep Petra mengikuti di belakang.
Sementara Reno membawa Ducati Hanin dengan ekspresi paling bangga sedunia.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya dua geng besar sekolah pergi nongkrong bersama menuju tempat paling private milik Hanin.


Chapter 14


Rombongan akhirnya sampai di kawasan apartemen Hanin.

Bangunan tinggi itu berdiri megah dengan lampu-lampu hangat yang menyala di setiap lantai, penjagaan ketat, dan suasana yang jauh lebih tenang dibanding luar.


Begitu mobil Damian berhenti di lobby private, Hanin turun lebih dulu.

Lalu diikuti Petra, Trouble Boy, dan geng Damian yang masih agak kagok melihat tempat itu.

“Anjir…” bisik Reno pelan sambil menatap sekitar.
“Ini apartemen apa hotel bintang lima?”

Petra juga sempat melirik bangunan itu sekilas.

Bukan pertama kali ia melihat tempat mewah, tapi ini berbeda.

Ini terasa… personal.

Milik Hanin.

Damian berjalan santai di samping Hanin.

“Masuk.”

Hanin hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju lift khusus resident.

Semua ikut menyusul.

Beberapa security sempat melirik, tapi langsung menunduk sopan saat melihat Damian dan Hanin.

Jelas mereka sudah familiar.

Di dalam lift, suasana sedikit sunyi.

Angka lantai naik pelan.

Reno masih memegang kunci motor Hanin dengan hati-hati seperti barang mahal negara.

Petra berdiri di sudut, bersandar santai tapi matanya sesekali melirik Hanin.

Hanin sendiri terlihat tenang seperti biasa, tidak terganggu dengan banyaknya orang di sekitarnya.

“Berapa lantai apart lo?” tanya salah satu teman Damian pelan.

“Cukup,” jawab Hanin santai.

Damian langsung terkekeh kecil.
“Jawaban paling Hanin banget.”

Hanin meliriknya sebentar.
“Kalau aku bilang tinggi kamu juga gak bakal ngerti.”

Satu lift langsung ketawa pelan.

DING!

Lift terbuka di lantai privat Hanin.

Begitu pintu terbuka...

Ruangannya langsung membuat semua orang diam sebentar.

Interior modern, hangat, luas, dengan jendela besar menghadap lampu kota.


“Gila…” Reno berbisik lagi.
“Ini bukan apartemen ini istana.”

Hanin langsung melepas hoodie-nya santai lalu masuk lebih dulu.

“Masuk aja.”

Semua mulai masuk pelan-pelan, masih kagum.

Damian berjalan ke arah dapur membuka kulkas seperti sudah biasa.

“Minum sendiri ambil.”

“Siap,” jawab gengnya langsung serempak.

Petra duduk di sofa tanpa banyak bicara, matanya mengamati sekitar.

Hanin berjalan ke area dapur, membuka beberapa lemari.

Sementara suasana mulai berubah jadi lebih santai.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Dua geng besar sekolah itu benar-benar berkumpul di satu tempat.

Bukan karena keributan.

Bukan karena masalah.

Tapi karena Hanin membiarkan mereka masuk ke dunianya.



Damian membantu Hanin dari dapur tanpa banyak bicara.

Satu per satu minuman dikeluarkan dari kulkas, lalu disusun di meja pantry panjang yang menyatu dengan ruang tengah.

Hanin berdiri di sebelahnya sambil membuka beberapa lemari lain.

“Seadanya ya, gak ada apa-apa,” ucap Hanin santai.

Damian langsung melirik sekilas ke arah meja, menatap stock makanan Hanin.

Dan beberapa detik kemudian…

“…Seadanya?” Damian tersenyum tipis.

Di atas meja sudah tertata rapi:

Minuman soda berbagai rasa, jus dingin, air mineral premium, snack, biskuit coklat, buah potong, permen, sampai makanan ringan impor yang bahkan Reno belum pernah lihat sebelumnya.


Reno yang kebetulan ikut mendekat langsung melotot.

“INI SEADANYA?!”

“GUE DI RUMAH GAK ADA BEGINI.”

Satu geng langsung heboh.

“Anjir Hanin stok snacknya kayak minimarket pribadi.”

Petra yang berdiri agak belakang hanya melirik sekilas, lalu menghela napas kecil.

“…Pantes aja kalem.”

Hanin berjalan ke arah meja sambil menunjuk satu sisi kecil di pojok dapur.

“Kalau mau makan ambil sendiri.”

Lalu ia menunjuk ke arah balkon besar dengan pintu kaca geser.



“Kalau mau ngerokok di luar. Jangan di dalam.”

Nada suaranya tetap tenang, tidak keras.

Tapi cukup jelas.

Reno langsung mengangguk.
“Siap.”

Beberapa teman geng langsung refleks:

“Siap bu bos 😭

Reno yang masih memegang kunci motor tiba-tiba melirik meja, lalu melirik balkon.

“Wah… ini apartemen plus aturan juga.”

Petra menimpali datar.
“Normal.”

Reno langsung menatap Petra.
“Normal apanya?”

“Dia yang punya apart.”

Hanin sendiri sudah duduk santai di sofa, mengambil minuman soda, lalu membuka ponselnya seperti tidak terlalu peduli dengan hebohnya semua orang di ruang itu.

Damian mengambil beberapa snack lalu duduk di sebelah Hanin.


“Capek gak?”

“Enggak.”

Damian mengangguk pelan, lalu tetap memperhatikan adiknya sebentar, memastikan Hanin benar-benar baik.

Sementara di belakang…

Trouble Boy sudah mulai menyerbu snack seperti tidak makan seminggu.

“GILA ENAK BANGET INI.”

“INI PERMEN APA SURGA?”

Petra hanya duduk sambil sesekali mengambil minum, matanya lebih sering mengarah ke Hanin yang terlihat paling tenang di ruangan itu.

Dan malam itu…

Apartemen Hanin benar-benar berubah jadi tempat paling santai, paling absurd, dan paling tidak terduga bagi dua geng sekolah yang biasanya penuh ribut.

 


Suasana apartemen Hanin benar-benar berubah jadi seperti basecamp dadakan.

Di ruang tengah, geng Damian dan Trouble Boy sudah heboh sendiri di depan TV besar.



“WOY PASS PASS!”

“DEFENSE GOBLOK, DEFENSE!”

“ANJIR GOL LU GAK MASUK AKAL!”

Satu geng langsung campur jadi satu tanpa sekat, yang penting kompetisi di layar PS.

Damian duduk santai di lantai dekat sofa sambil sesekali kasih arahan ringan, sementara Petra lebih banyak diam tapi fokus, tangannya cepat banget di stik.

Reno di sampingnya udah teriak-teriak dari tadi.

“INI CHEAT ATAU SKILL?!”

“SKILL.” jawab Petra singkat tanpa menoleh.

Langsung kena pelototan satu ruangan.

“BRUTAL.”

Di sisi lain ruang tamu…

Hanin justru terlihat paling tenang.

Gadis itu tiduran santai di sofa panjang, satu kaki ditekuk, hoodie sedikit menutupi tubuhnya.

Ponsel di tangan, scroll Instagram tanpa banyak ekspresi.

Kadang senyum kecil.
Kadang cuma diam.

Lampu ruangan yang hangat bikin suasana terasa jauh lebih nyaman.

Dari sudut sana, Damian sempat melirik sebentar.

Melihat Hanin yang benar-benar santai di tengah keramaian itu.

Dan itu cukup bikin dia tenang.

Petra juga sempat melirik sekilas ke arah sofa.

Hanin masih di sana, aman, tidak terganggu, bahkan terlihat nyaman dengan kehadiran mereka semua.

Dan anehnya…

Petra jadi ikut tenang.

Tangannya yang tadi cepat di PS sedikit melambat, tapi fokusnya tetap kuat.

“Woy Petra jangan meleng!” teriak Reno.

“Diam.”

“NYAUR GUE NIH ORANG.”

Hanin menggeser posisi sedikit, lalu menggulir layar IG lagi.

Story, reels, lalu berhenti sebentar di postingan random kue.

Sudut bibirnya naik kecil.

Sederhana.

Tapi cukup buat bikin Damian yang tak sengaja melihatnya dari jauh tersenyum tipis juga.

Di ruangan itu, semuanya sibuk dengan dunia masing-masing.

Tapi entah kenapa…

Tetap terasa seperti satu tempat yang sama.

 

 


Hanin yang tadi masih tiduran di sofa akhirnya melirik jam di layar ponselnya.

22.00.

Ia duduk pelan lalu menguap kecil, kemudian menoleh ke arah ruang tengah yang masih ramai dengan teriakan PS.

“Damian.”

Suara Hanin tidak keras, tapi cukup membuat Damian langsung menoleh.

“Hm?”

Hanin berdiri santai, masih memegang ponselnya.

“Mau pada nginep atau pulang?”

Seketika suara PS mengecil.

Reno langsung menoleh panik kecil.

“NGINEP?!”

“DI APART HANIN?!”

Satu ruangan langsung heboh lagi.

Petra melirik sekilas ke Hanin, lalu ke Damian, tetap diam.

Damian memutar badan sedikit ke arah semua orang.

“Gimana? Kalian mau pulang atau nginep?”

Reno langsung angkat tangan.

“NGINEP!”

“100% NGINEP!”

“GUE GAK MAU PULANG KE DUNIA NYATA.”

Satu geng langsung setuju tanpa pikir panjang.

Geng Damian pun lebih santai.

“Kalau boleh ya nginep aja sih.”

“Lumayan.”

Damian lalu menoleh ke Hanin, ekspresinya sedikit lebih serius tapi tetap tenang.

“Nin.”

“Hm?”

“Boleh mereka nginep?”

Semua langsung menunggu jawaban Hanin.

Karena walaupun Damian yang nanya…

tetap saja ini apartemen Hanin.

Hanin menghela napas kecil, lalu melirik sekilas ke ruang tengah yang berantakan tapi hidup.

Diam beberapa detik…

lalu mengangguk santai.

“Boleh.”

BOOM!!

Reno langsung lompat kecil.

“YESSSSS.”

“GUE NGINEP DI ISTANA 😭

Petra hanya menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Damian sendiri terlihat lega.

“Thanks.”

Hanin hanya menjawab santai.

“Jangan berisik.”

“Siap.”

Satu ruangan langsung jawab bareng:

“SIAP BOSS HANIN.”


Malam itu akhirnya diputuskan.

Apartemen Hanin bukan cuma jadi tempat nongkrong…

tapi berubah jadi tempat nginep dadakan dua geng paling ribut satu sekolah.

 


Hanin yang masih duduk santai di sofa akhirnya menoleh ke arah Damian yang baru selesai mengecek kamar-kamar di apartemen.



“Damian.”

“Hm?”

Hanin berdiri pelan, lalu menunjuk ke arah lorong kamar.

“Kamar kosong, kalau gak cukup, gelar kasur lipat di ruang tengah.”

Reno langsung nyelutuk dari jauh.

“GUE SIH MAU TIDUR DI SOFA AJA, SERASA HOTEL 😭

Hanin melanjutkan santai tanpa peduli keributan.

“Kalau butuh baju ganti, di lemari ada.”

Seketika beberapa kepala langsung menoleh.

“HAH?”

Damian hanya tersenyum.

Hanin berjalan pelan ke salah satu lemari di dekat lorong kamar, lalu membukanya.

Dan benar saja

Di dalamnya sudah tersusun rapi beberapa pakaian baru, masih dalam plastik.

Kaos polos berbagai warna.
Celana pendek.
Semua terlihat baru dan belum dipakai.



“Stock jaga-jaga,” kata Hanin datar.
“Kalau kakak-kakak aku nginep gak bawa baju.”

Satu ruangan langsung hening sebentar.

Lalu…

“INI BUKAN APARTEMEN.”
“INI BASECAMP KELUARGA
😭

Reno sampai memegang kepala sendiri.

Petra yang sedari tadi diam akhirnya melirik sekilas ke lemari itu.

“…Lo emang selalu siap ya.”

Hanin mengangkat bahu kecil.

“Biasa.”

Damian hanya menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.

“Pantes rumah ini gak pernah chaos kalau kita nginep.”

Hanin langsung menatapnya datar.

“Chaos tetap ada. Kalian aja yang gak sadar.”

Satu geng langsung protes bareng.

“HEH?!”

Dan malam itu, apartemen Hanin resmi berubah jadi tempat nginep paling “siap tempur” yang pernah ada, lengkap dengan kamar, kasur lipat, dan lemari darurat untuk seluruh pasukan yang tiba-tiba jadi tamu tetap.

 


Setelah suasana agak mulai tenang dan semua orang sudah sibuk milih kamar atau ngatur tempat tidur di ruang tengah, Hanin berdiri pelan.

“Aku masuk kamar dulu.”

Semua langsung menoleh sekilas.

Reno masih setengah rebahan di sofa.
“SIAP BOSS.”

Petra cuma melirik sebentar, lalu kembali duduk santai.

Damian yang lagi duduk di dekat meja langsung mengangguk kecil.

Hanin berjalan ke arah lorong kamar sambil berhenti sebentar di tengah.

“Oh iya.”

Suara itu bikin semua kembali diam.

Hanin menunjuk pelan ke arah beberapa pintu kamar.

“Di tiap kamar ada kamar mandi sendiri. Terus di luar juga ada dua kamar mandi tambahan.”

Reno langsung angkat tangan.
“GUE CATAT LOKASI STRATEGIS.”

“Lo diem aja bisa gak sih,” sahut Petra datar.

Hanin lanjut santai, tanpa menghiraukan keributan kecil itu.

“Jangan rebutan.”

Lalu ia menoleh ke Damian.

“Damian.”

“Hm?”

Hanin menunjuk salah satu kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.

“Kamu mau tidur di kamar aku, atau di kamar lain?”

Seketika…

SUNYI.

Bukan sunyi biasa.

Ini sunyi tipe “semua orang langsung berhenti bergerak”.

Reno sampai hampir jatuh dari sofa.

“ANJIRR KAMAR HANIN?!”

“ITU KAKAKNYA TAPI KENAPA TERDENGAR BERAT 😭

Petra langsung menatap Damian, ekspresinya datar tapi jelas memperhatikan jawabannya.

Damian sendiri hanya terdiam sebentar.

Bukan karena canggung.

Tapi karena ini Hanin yang nanya langsung didepan teman-temannya, santai, tanpa beban.

Cowok itu lalu tersenyum tipis.

“Gue di kamar lain aja.”

Hanin mengangguk kecil.

“Oke.”

Selesai.

Se-simple itu.

Tapi entah kenapa…

Beberapa orang di ruangan itu baru sadar...

kedekatan Hanin dan Damian itu bukan sekadar kakak-adik biasa.

Tapi sudah seperti sistem yang sangat natural, sangat aman, dan sangat saling percaya.

Hanin lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.

Sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh lagi.

“Jangan ribut.”

Klik.

Pintu tertutup.

Dan dalam hitungan detik...

ruangan luar langsung pecah lagi.

“GUE GAK BISA HIDUP NORMAL DI SINI 😭

Damian sebenarnya sempat melirik kamar Hanin tadi.

Secara jujur, dia paling nyaman kalau dekat Hanin, itu sudah kebiasaan dari kecil.

Tapi kondisi sekarang beda.

Ada Petra.
Ada Trouble Boy.
Ada gengnya sendiri.

Dan kalau dia terlalu “kelihatan” clingy sama Hanin…

besok satu sekolah bisa bikin versi cerita yang lebih liar dari kenyataan.

Reno aja sudah cukup bahaya kalau mulai ngomong.

Damian menghela napas pelan, lalu menutup topik dengan santai.

“Gue kamar lain aja.”

Hanin mengangguk tanpa banyak reaksi.

“Oke.”

Selesai.

Natural banget.

Tapi di kepala Damian, justru itu yang bikin aman.

Beberapa menit kemudian, setelah Hanin benar-benar masuk kamar dan pintu tertutup, suasana ruang tengah kembali hidup.

Reno langsung rebahan di sofa.

“Gue masih shock dia nawarin kamar dia sendiri kayak nawarin snack.”

Damian melirik datar.
“Dia emang gitu.”

Lalu Damian duduk di kursi dekat meja, santai.

Tapi dalam hati…

dia sudah mulai mikir langkah kedua.

Kalau dia sekamar sama Petra...

setidaknya dia bisa kontrol situasi.

Terutama satu orang :

Petra.

Cowok itu kelihatan santai, tapi Damian tahu…

Petra punya kebiasaan “jalan sendiri” kalau lagi kepikiran Hanin.

Dan itu berbahaya kalau apartemen ini lagi full chaos.

Damian menoleh ke Petra.

“Pet.”

“Hm?”

“Kita satu kamar.”

Satu ruangan langsung hening sebentar.

“HAH?!” Reno langsung duduk tegak.

“ANJIR KOK MALAH KAMAR BERDUA?!”

Petra sendiri mengernyit.

“…Kenapa gue?”

Damian santai.

“Biar gak ada yang nyasar.”

“Nyasar apaan?”

Damian hanya melirik sekilas ke arah lorong kamar Hanin, lalu balik lagi.

“Lo ngerti.”

Petra diam beberapa detik.

Lalu akhirnya berdiri.

“…Oke.”

Reno langsung menunjuk mereka berdua.

“INI KENAPA SEMAKIN AJAIB MALAM INI 😭

Malam itu akhirnya terbagi rapi :

Hanin di kamar sendiri.

Damian dan Petra satu kamar (dengan alasan “strategis” versi Damian).

Dan geng lainnya tersebar di kamar kosong atau ruang tengah.

Tapi di balik semua itu…

Damian cuma punya satu pikiran santai tapi serius :

jaga rumah ini tetap aman…

dan pastikan Petra gak tiba-tiba muncul di kamar Hanin tengah malam.

 


Apartemen sudah benar-benar sunyi.

Lampu-lampu utama diredupkan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lorong dan dapur yang masih menyala tipis.

Di ruang tengah, Trouble Boy dan geng Damian sudah tergeletak acak, ada yang tidur di sofa, ada yang di kasur lipat, bahkan ada yang masih setengah posisi duduk tapi sudah ketiduran.


Damian dan Petra di kamar juga sudah tidak terdengar suara.


Hening.



Di dalam kamar Hanin, jam menunjukkan lewat tengah malam.

Hanin terbangun pelan.

Haus.

Gadis itu duduk sebentar di tepi kasur, lalu berdiri tanpa suara.

Hoodie tipis masih dipakai, rambut sedikit berantakan, dan langkahnya pelan menuju dapur.

Begitu sampai dapur, Hanin menyalakan lampu kecil di bawah kabinet.

Cahaya hangat langsung menyapu ruangan.

Ia membuka kulkas, mengambil botol air dingin, lalu menutupnya kembali pelan.

Tidak ada suara.

Hanya bunyi kecil air saat dituangkan ke gelas.

Namun saat Hanin meneguk airnya…

Dari arah lorong kamar, terdengar suara pintu kamar sedikit terbuka.

KREEK…

Hanin berhenti sebentar.

Matanya melirik ke arah sumber suara.

Langkah pelan terdengar.

Seseorang keluar dari kamar.

Dan beberapa detik kemudian...

Damian muncul dengan rambut sedikit acak-acakan, memakai kaos polos dan celana pendek.

Matanya masih setengah mengantuk.

“…Nin?”

Hanin menoleh.

“Kamu kenapa bangun?”

Damian berjalan pelan ke arah dapur, mengusap lehernya.

“Gue kebangun.”

Hanin mengangguk kecil lalu kembali minum.

Suasana kembali hening beberapa detik.

Damian bersandar di meja dapur, melirik adiknya.

“Kamu gak boleh sendirian tengah malam gini.”

Hanin melirik sekilas.

“Cuma minum.”

“Gue tau.”

Jawabannya datar, tapi tetap jelas...

itu bentuk kebiasaan protektif yang gak pernah hilang.

Beberapa detik kemudian Damian menatap ke arah lorong lagi, memastikan semua masih tidur.

Lalu pelan berkata,

“Petra tidur?”

Hanin mengangguk kecil.

“Harusnya.”

Damian menghela napas pelan, karena petra tidak ada dikamar bersamanya.

“Bagus.”

Hanin menatapnya sebentar.

“…Kamu overthinking.”

Damian langsung melirik.
“Gue realistis.”

Hanin tidak membantah, hanya menutup botol airnya.

Lalu berjalan kembali ke arah kamar.

Sebelum masuk, Hanin berhenti sebentar.

“Damian.”

“Hm?”

“Jangan jaga aku berlebihan.”

Damian diam.

Hanin lanjut pelan tapi tenang.

“Aku gak apa-apa.”

Lalu ia masuk kamar dan menutup pintu perlahan.

Klik.

Damian berdiri di dapur beberapa detik dalam sunyi.

Lalu hanya menghela napas pelan.

“…Gue tau.”

Tapi tetap aja...

dia tidak bergerak langsung ke kamar.

Berdiri sebentar di sana, memastikan rumah itu tetap aman.

Baru kemudian ia kembali berjalan pelan ke kamar, di tengah malam yang sudah benar-benar tenang.


Chapter 15


Sejak Hanin kembali ke kamar dan pintu tertutup rapat, Damian masih berdiri cukup lama di dapur.

Tangannya memegang meja pelan, tapi pikirannya sudah tidak lagi di situ.

Justru jauh ke belakang.

Ke satu kejadian yang tidak pernah benar-benar hilang.

Waktu itu Hanin masih lebih muda.

Dan semuanya terjadi terlalu cepat.

Penculikan itu bukan sekadar ancaman biasa.

Itu momen yang mengubah cara keluarga mereka memperlakukan Hanin sampai sekarang.

Damian masih ingat jelas...

bagaimana rumah utama berubah jadi kacau dalam hitungan menit.
Bagaimana kakak-kakaknya panik.
Bagaimana semua koneksi keluarga bergerak cepat.

Dan yang paling dia ingat…

Hanin ditemukan dalam keadaan tidak baik, dan efeknya tidak pernah benar-benar hilang dari keluarga mereka.

Sejak saat itu, keputusan besar diambil.

Hanin tidak lagi tinggal penuh di rumah utama.

Ia “dipindahkan” ke tempat yang lebih aman.

Apartemen ini.

Tertutup.
Terpantau.
Tenang.
Dan jauh dari sorotan langsung.

Bukan karena Hanin lemah.

Justru sebaliknya.

Karena Hanin terlalu berharga untuk dibiarkan terlalu terbuka.

Damian menghela napas pelan sambil menunduk sedikit.

“…”

Suara air di gelas tadi masih terasa di telinganya.

Kebiasaan sederhana Hanin, bangun tengah malam cuma buat minum...

selalu membuat Damian otomatis waspada.

Bukan karena Hanin tidak bisa menjaga diri.

Tapi karena trauma itu sudah terlalu dalam di kepalanya.

Ia berjalan pelan ke arah lorong kamar, berhenti sebentar di depan pintu kamar Hanin.

Tidak mengetuk.

Hanya berdiri beberapa detik.

Lalu berbisik pelan, hampir tidak terdengar.

“…Gue cuma gak mau kejadian itu keulang lagi.”

Setelah itu Damian berbalik.

Masuk ke kamarnya sendiri.

Di dalam kamar, Petra sudah kembali dan ntah darimana tadi.

Atau setidaknya terlihat tidur.

Tapi Damian tahu...

di dunia mereka sekarang, tidak ada yang bisa benar-benar tenang sepenuhnya.

Terutama kalau menyangkut Hanin.

 


Pagi datang lebih cepat di apartemen Hanin.

Jam masih menunjukkan sekitar 05.00, tapi Hanin sudah bangun lebih dulu seperti biasa.

Langkahnya pelan menuju dapur tanpa suara berlebihan, hoodie tipis masih menempel di tubuhnya.

Rutinitasnya tetap sama, tenang, rapi, tanpa banyak ekspresi.

Ia menyalakan kompor, membuka kulkas, lalu mulai menyiapkan sarapan.

Hari ini porsinya jauh lebih besar dari biasanya.

Roti panggang.
Omelet.
Kopi.
Plus beberapa buah yang sudah dipotong rapi.

Karena sekarang bukan cuma untuk dirinya.

Tapi untuk dua geng sekaligus, total hampir dua belas orang yang menginap di apartemennya.

Aroma masakan pelan-pelan memenuhi ruangan.

Dan satu per satu mulai ada yang bangun.

Reno pertama kali muncul dari ruang tengah sambil mengucek mata.

“…Gue mimpi apa dapur bau enak.”

Begitu lihat Hanin di dapur...

dia langsung terdiam.

“…”

“Ini real atau surga?”

Hanin melirik sekilas tanpa menoleh penuh.

“Real.”

Reno langsung jatuh terduduk di sofa lagi.

“Gue mau pindah sini.”

Tidak lama kemudian Petra keluar dari kamar, masih dengan wajah setengah sadar.

Matanya langsung menangkap Hanin di dapur.

“…Lo bangun jam segini?”

“Biasanya.”

Petra menghela napas kecil.
“Gak heran lo kayak robot.”

Hanin hanya menaruh piring satu per satu di meja makan.

“Biar gak telat.”

Damian menyusul setelahnya, lebih rapi dibanding yang lain.

Begitu melihat meja sudah penuh makanan, dia hanya mengangguk kecil.

“Lo masak lagi sebanyak ini?”

Hanin minum sedikit kopi.
“Biar cukup.”

Damian tersenyum tipis.

“Masih aja gak berubah.”

Satu per satu anggota geng lain ikut bangun, dan suasana apartemen yang tadinya sunyi berubah jadi ramai lagi.



“ANJIR INI ENAK BANGET.”

“INI BUAT KITA SEMUA?!”

“GUE MAU PINDAH KE SINI SELAMANYA.”

Hanin hanya duduk santai di kursi makan, memperhatikan mereka makan tanpa banyak komentar.


Di sela keramaian itu, Damian melirik Hanin sebentar.

Melihat adiknya yang duduk tenang di tengah semua orang yang berisik itu.

Dan seperti biasa...

Hanin tetap terlihat paling tenang di ruangan yang paling berisik.

 

 


Setelah sarapan selesai dan suasana apartemen kembali ramai oleh obrolan serta suara beres-beres, Hanin berdiri dari kursinya dengan tenang.

Ia merapikan ujung bajunya sedikit, lalu melirik ke arah semua orang yang masih sibuk sendiri-sendiri.

“Aku mandi dulu.”

Tidak ada tambahan penjelasan.

Seperti biasa, singkat, jelas.

Reno yang masih setengah kenyang langsung mengangkat tangan.

“SIAP BOSS HANIN.”

Petra hanya melirik sekilas, lalu kembali minum kopinya.

Damian mengangguk kecil dari meja.

“Jangan kelamaan.”

Hanin hanya menjawab pelan.

“Enggak.”


Gadis itu berjalan ke arah kamar, melewati lorong apartemen yang masih sedikit berantakan oleh barang-barang semalam.

Begitu sampai di kamar, ia menutup pintu pelan.

Klik.


Di luar, suasana kembali hidup.

Reno langsung rebahan lagi di sofa.

“Gue beneran gak mau pulang sih hari ini.”

“Lo diem aja di sini juga udah ganggu,” sahut Petra datar.

“EH?”

Damian hanya tersenyum kecil sambil membereskan gelas di meja.

Namun matanya sempat melirik ke arah lorong kamar Hanin sebentar.

Sebentar saja.

Lalu kembali fokus.


Di balik pintu kamar, Hanin mulai menyiapkan pakaian ganti.

Semuanya sudah rapi, seragam sekolah, handuk, dan perlengkapan sederhana.

Tidak ada yang terburu-buru.

Tidak ada yang berlebihan.

Hanya rutinitas pagi seperti biasa.

Namun di luar kamar itu…

hari sudah kembali dimulai dengan cara yang jauh dari “biasa” bagi semua orang di apartemen tersebut.

Suasana apartemen Hanin pelan-pelan berubah dari berantakan jadi rapi lagi.

Sisa sarapan sudah mulai dibereskan satu per satu tanpa perlu disuruh.

Reno yang paling berisik tadi justru sekarang yang pertama kali angkat piring.

“Gue cuci piring ya, biar gak dikutuk Hanin.”

“Lo emang udah dikutuk dari lahir,” sahut Petra datar sambil merapikan bantal sofa.

Reno langsung lempar tatapan.

“Anjir pedes.”


Di sisi lain, geng Damian juga ikut bergerak tanpa banyak drama.

Ada yang nyapu ruang tengah.
Ada yang ngepel lantai dapur.
Ada yang merapikan meja dan kursi.

Tidak ada yang benar-benar disuruh, tapi semua tahu aturan tidak tertulis di tempat ini:

kalau nginep di apartemen Hanin, harus beresin sebelum pergi.

Damian sendiri membantu mengecek area kecil, memastikan tidak ada yang tertinggal atau berantakan.

“Jangan ninggal sampah,” ucapnya santai.

“Siap ketua,” jawab salah satu temannya.


Beberapa menit kemudian, suasana apartemen sudah jauh lebih rapi.

Ruang TV kembali bersih.
Dapur tidak lagi penuh gelas.
Sofa ditata ulang seperti semula.

Dan di tengah semua itu, suasana tetap terasa santai, bukan seperti “kerja paksa”, tapi lebih seperti kebiasaan yang otomatis terjadi.


Sementara itu, Hanin masih di dalam kamar, bersiap mandi.

Di luar, Damian berdiri di dekat meja makan sambil melipat lengan.

Petra mendekat sambil mengikat ulang hoodie-nya.

“Gue mandi terakhir aja,” kata Petra pelan.

Damian melirik sekilas.
“Jangan lama.”

Petra mendengus kecil.
“Lo kira gue Hanin apa.”

Damian tidak menjawab, hanya tersenyum tipis.


Tak lama, satu per satu mulai bergantian menuju kamar mandi.

Ada yang membawa handuk.
Ada yang masih setengah mengantuk.
Ada yang masih ribut kecil di lorong.

Tapi semuanya bergerak ke arah yang sama:

bersiap untuk sekolah.


Dan di tengah semua itu…

apartemen Hanin kembali ke bentuk awalnya, rapi, tenang, seolah tidak pernah jadi markas ribut dua geng besar semalaman.

 

Setelah semua selesai mandi, ganti pakaian, dan merapikan diri, suasana apartemen Hanin kembali rapi seperti semula.

Tidak ada lagi piring di meja.
Tidak ada lagi kasur berantakan di ruang tengah.
Semuanya sudah kembali ke tempatnya.

Di dekat pintu keluar, satu per satu sudah siap dengan seragam sekolah.

Reno yang paling pertama berdiri langsung ngecek penampilan sendiri di kaca.

“Gue keliatan kayak murid teladan gak?”

Petra melirik sekilas.
“Kayak orang gak tidur.”

“BEDA SEDIKIT AJA ANJIR.”


Damian berdiri santai di dekat Hanin yang sudah siap lebih dulu, seragam rapi seperti biasa.

Ia memastikan semua sudah siap sebelum pergi.

“Udah semua?”

Satu per satu mengangguk.

“Udah.”

“Siap.”

“Berangkat aja.”


Hanin yang berdiri di dekat pintu memegang tasnya, lalu melirik sebentar ke semua orang.

“Jangan berantakan lagi.”

Reno langsung mengangkat tangan.
“SIAP BOS HANIN.”

Petra hanya menghela napas kecil.
“Lo bukan kapten kita.”

“DI SINI DIA KAPTEN.”


Damian terkekeh pelan, lalu menekan lift utama apartemen.

“Berangkat.”

Satu per satu mereka mulai keluar dari apartemen Hanin.

Rombongan kecil itu kembali jadi perhatian tersendiri saat turun ke lobby, lalu menuju kendaraan masing-masing.


Di depan lift, Hanin berdiri paling tenang di antara semuanya.

Damian di sampingnya.
Petra tidak jauh di belakang.
Dan geng lainnya berisik di sekitar.

Namun sebelum benar-benar pergi…

tidak ada yang sadar bahwa rutinitas sederhana itu sudah berubah jadi sesuatu yang baru bagi mereka semua :

kebiasaan pulang-pergi sekolah dari satu tempat yang sama.

Apartemen Hanin.

 

  


Rombongan menuju sekolah berjalan seperti biasa pagi itu.

Mobil Damian di depan, Hanin di kursi penumpang, diikuti jeep Petra, lalu beberapa mobil dan motor geng Damian juga Reno yang masih santai sambil nyanyi-nyanyi gak jelas didalam mobil Petra.

Jalanan masih cukup lengang.

Suasana juga tenang.

Sampai...

SKRRRT.

Dua mobil hitam tiba-tiba memotong laju di depan mobil Damian.

Ban berhenti mendadak tepat di tengah jalan.

Damian langsung menginjak rem.

“…”

Hanin yang duduk di samping hanya menoleh pelan ke depan.

Tidak kaget berlebihan.

Tapi matanya langsung lebih fokus.


Di belakang, jeep Petra hampir ikut berhenti mendadak.

Reno dari dalam mobil Petra langsung teriak.

“WOY APAAN ITU?!”

Beberapa motor ikut melambat, kebingungan.

Suasana yang tadi santai langsung berubah tegang.


Di mobil, Damian menghela napas pelan.

Tangannya tetap di setir, tapi tatapannya mengeras sedikit.

“…Bukan orang sekolah.”

Hanin melirik sekilas.

“Tau.”

Damian menatap ke depan lebih lama.

Dua mobil itu tidak bergerak.

Kaca gelap.

Tidak terlihat siapa di dalamnya.


Di belakang, Petra sudah turun dari jeepnya setengah badan.

“Damian.”

“Gue lihat.”

Damian belum keluar mobil, tapi aura santainya sudah berubah.

Lebih dingin.

Lebih waspada.


Beberapa detik kemudian…

pintu mobil di depan akhirnya terbuka perlahan.

Dan satu orang turun.

Diikuti satu lagi dari mobil sebelah.

Langkah mereka pelan, teratur.

Bukan orang sembarangan.


Hanin akhirnya bersuara pelan di dalam mobil.

“…Bukan anak sekolah kita.”

Damian mengangguk kecil.

“Gue tau.”

Tangannya sedikit mengencang di setir.

Bukan panik.

Tapi refleks.


Di belakang, geng Damian dan geng Petra sudah mulai turun dari kendaraan masing-masing.

Reno langsung berbisik.

“Ini siapa lagi anjir…”

Petra tidak menjawab.

Matanya sudah fokus ke depan.

Damian akhirnya membuka pintu mobilnya perlahan.



Dan saat kakinya menginjak aspal...

suasana di jalan itu langsung berubah jadi jauh lebih berat.

Karena semua orang di situ sekarang sadar:

ini bukan gangguan biasa.

Dan target mereka...

jelas bukan sembarangan.

 

  


Damian masih setengah keluar mobil saat suasana di depan benar-benar berubah tegang.

Dua mobil hitam itu kini sudah berhenti total, menutup jalan.

Beberapa orang turun.

Gerakannya rapi, terlatih.

Bukan preman jalanan.

Ini orang yang memang tahu apa yang mereka lakukan.

Hanin menatap ke depan dengan tenang, tapi sorot matanya sedikit mengeras.

Damian di sampingnya langsung paham satu hal...

ini bukan insiden biasa.

Ini sengaja.


Sebelum benar-benar membuka pintu mobil, Damian diam sepersekian detik.

Tangannya bergerak pelan ke ponsel.

Tanpa banyak gerakan mencolok, ia mengirim satu pesan cepat.

"SOS!"

Singkat.

Ke kontak khusus di rumah utama.

Ke kakak-kakaknya.
Ke tim keamanan keluarga.

Tanpa kata tambahan.

Karena mereka semua sudah tahu arti pesan itu.


Di belakang, Petra sudah turun dari jeep.

“Damian.”

“Aku tau.”

Jawabannya cepat, dingin.

Reno dan geng lain mulai turun juga, tapi kali ini tidak ada candaan sama sekali.


Hanin tetap duduk di dalam mobil.

Tenang.

Terlalu tenang.

Matanya hanya mengikuti gerakan orang-orang di depan.

Damian melirik sekilas ke arah adiknya.

“Jangan keluar dulu.”

Hanin tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.


Salah satu dari orang di depan akhirnya melangkah maju.

Suara langkah sepatu mereka terdengar jelas di jalan yang mulai sepi.

Dan saat itu Damian sudah turun sepenuhnya dari mobil.

Tatapannya langsung bertemu dengan orang di depan.


Hening beberapa detik.

Lalu Damian berbicara pelan, tapi jelas.

“…Rival lama kakek.”

Hanin menoleh sedikit dari dalam mobil.

“Dari jalur itu?”

Damian mengangguk kecil.

“Ya.”


Petra yang mendengar itu langsung mengernyit.

“Masalah lama?”

Damian tidak menjawab langsung.

Matanya tetap fokus ke depan.

Karena dia tahu...

kalau mereka sampai turun langsung ke sini…

itu artinya ini bukan sekadar peringatan.


Dari arah belakang, suara motor dan mobil lain mulai berhenti berurutan.

Dan di kejauhan, beberapa kendaraan lain terlihat mendekat cepat.

Damian menarik napas pelan.

Pesan SOS-nya sudah terkirim.

Sekarang tinggal menunggu

berapa cepat keluarga mereka sampai di lokasi.


Di dalam mobil, Hanin akhirnya membuka sabuk pengaman sedikit.

Damian langsung melirik tajam.

“Gue bilang jangan keluar.”

Hanin menatapnya datar.

“…Aku gak keluar.”

Tapi tangannya sudah siap.

Dan itu cukup untuk membuat Damian paham...

Hanin tidak akan diam kalau situasi ini makin maju.


Chapter 16


Satu orang dari kelompok itu akhirnya bergerak lebih dulu.

Cepat.

Langsung menargetkan Damian tanpa banyak basa-basi.

Damian sempat menghela napas kecil, bukan kaget, tapi seperti sudah mengantisipasi.

Begitu serangan masuk…

Tubuhnya langsung bergerak.

Langkah kecil ke samping, tangkisan cepat, lalu satu gerakan balik yang rapi dan terkontrol.

Tidak berlebihan.

Tapi jelas terlatih.

Orang itu terpental mundur beberapa langkah.

Satu sisi geng Petra dan geng Damian yang melihat langsung membeku.

“…Anjir,” bisik Reno pelan.

“Ketua kita bisa gitu?”

Namun lawan tidak berhenti.

Dua orang lain ikut maju bersamaan.

Situasi mulai tidak seimbang.

Damian masih bertahan, tapi jelas ini bukan pertarungan satu lawan satu lagi.

Dan saat salah satu serangan hampir masuk dari sisi blind spot

BRUK!

Damian berhasil menahan, tapi posisinya sedikit terdorong.


Di dalam mobil, Hanin yang dari tadi diam akhirnya membuka pintu.

Klik.

“Han...” Damian sempat menoleh cepat.

Tapi Hanin sudah turun.

Tatapannya langsung tajam ke arah situasi.

Bukan panik.

Lebih ke keputusan cepat.


“Berhenti.”

Suara Hanin tidak keras.

Tapi langsung membuat sebagian orang di sekitar refleks berhenti sejenak.

Hanin melangkah maju sedikit, berdiri di antara Damian dan gengnya.

Lalu tanpa menoleh, ia berkata pelan tapi tegas :

“Petra, dan kalian semua... Jangan ikut campur.”

Petra langsung mengernyit.
“Hanin...”

Hanin memotong cepat, kali ini lebih dingin.

“Kalau kalian ikut campur, nyawa taruhannya.”

Sunyi.

Bukan karena dramatis.

Tapi karena semua orang tahu...

Hanin tidak pernah bicara sembarangan soal hal seperti ini.


Reno langsung refleks melihat Petra.

“Ketua…”

Petra mengepalkan tangan, tapi tidak bergerak.

Matanya tetap ke depan.

Damian melirik ke arah Hanin.

“Balik ke mobil.”

Hanin tidak menoleh.

“…Aku gak bisa biarin kamu sendiri.”


Situasi makin menegang.

Orang-orang di depan juga berhenti sejenak, seperti menilai ulang.

Karena sekarang…

bukan cuma Damian yang jadi target.

Tapi Hanin juga sudah turun.

Dan itu mengubah semuanya.


Damian menarik napas pelan.

Lalu langkahnya sedikit maju ke depan, tetap menjaga jarak antara Hanin dan lawan.

Suaranya rendah, hanya untuk Hanin.

“…Lo harus tetap di belakang gue.”

Hanin menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya di situasi itu...

dia tidak langsung membantah.

Tapi juga tidak mundur.

Dan di tengah jalan yang mulai sepi itu…

ketegangan di antara dua pihak benar-benar mencapai titik paling tinggi.

Damian dan Hanin akhirnya bergerak bersamaan.

Tidak lagi sekadar bertahan.

Kali ini keduanya benar-benar masuk ke mode serius.

Orang-orang di depan mulai maju lagi, tapi kali ini ritmenya berbeda.

Lebih rapat.
Lebih terorganisir.


Damian bergerak duluan, menahan satu serangan dan langsung membalas dengan teknik yang lebih cepat dari sebelumnya.

Gerakannya bersih, terukur, tidak boros tenaga.

Satu orang berhasil ditahan, lalu didorong mundur.

Namun langsung disusul dua lainnya.

Situasi mulai menekan lagi.


Di sisi lain, Hanin akhirnya ikut masuk.

Gerakannya tidak kalah cepat.

Justru lebih ringan.

Langkahnya kecil tapi tepat, menghindari satu serangan lalu langsung memutus momentum lawan dengan teknik yang membuat mereka kehilangan keseimbangan.

Dalam beberapa detik saja...

dua orang sudah terdorong mundur tanpa Hanin terlihat “menghajar” berlebihan.

Tapi efeknya jelas.


Petra yang berdiri beberapa meter dari situ mengepalkan tangan.

Reno di belakangnya sudah tidak bisa diam.

“GUE MAU BANTU, TAPI KEPALA GUE KETAHAN PESAN HANIN 😭”

“Diam,” Petra berkata pelan, tapi tegang.

Mereka semua bisa lihat satu hal :

ini bukan pertarungan biasa.

Ini level yang berbeda.


Damian dan Hanin saling bergerak tanpa banyak komunikasi.

Tapi setiap posisi mereka saling menutup celah.

Damian menahan depan.

Hanin menutup sisi.

Seolah sudah terbiasa bekerja dalam satu ritme.

Salah satu lawan mencoba menerobos ke arah Hanin.

Damian langsung bergerak cepat menutup.

“Jangan sentuh dia.”

Nada suaranya turun.

Lebih dingin dari sebelumnya.


Hanin melirik sekilas ke Damian, lalu kembali fokus.

“…Fokus.”

Singkat.

Tapi cukup.


Di belakang, geng Petra dan geng Damian hanya bisa menahan diri.

Karena satu kalimat Hanin masih tertanam jelas :

“Kalau kalian ikut campur, nyawa taruhannya.”

Dan mereka tahu...

ini bukan ancaman kosong.


Situasi makin intens.

Lawan mulai mundur sedikit, bukan karena kalah, tapi karena menilai ulang situasi.

Dua orang ini, Damian dan Hanin...

tidak seperti target biasa.


Damian berdiri sedikit di depan Hanin, napasnya sedikit lebih berat.

Hanin juga berhenti sejenak, matanya tetap waspada.

Jalanan itu sunyi.

Hanya suara langkah dan napas yang tersisa.


Dan di tengah ketegangan itu…

mereka semua sadar satu hal :

ini baru awal.

Dan pihak lawan belum mengeluarkan semuanya.


Situasi di jalan itu sudah berubah jadi benar-benar tidak terkendali.

Dari dua mobil hitam tadi, total sekitar dua belas orang kini sudah turun dan mengepung area.

Damian dan Hanin masih bergerak, tapi jelas...

ini bukan lagi pertarungan yang seimbang.

Damian menahan satu serangan, lalu bergeser cepat untuk menutup celah di samping Hanin.

Hanin sendiri menghindar dengan cepat, tapi napasnya mulai lebih teratur dan fokusnya makin tajam.

Mereka masih bisa mengontrol situasi…

tapi mulai kewalahan.


“Gue bilang jangan remehin mereka…” gumam Damian pelan.

Hanin tidak menjawab, hanya mengatur posisi.

“…Tetap di samping aku.” Ucap Damian

“Udah.”

Singkat.

Tapi ritmenya masih sama, mereka saling back up.


Di belakang, geng Petra dan geng Damian hanya bisa berdiri di pinggir jalan.

Reno sudah hampir tidak bisa diam.

“Ini gila sih…”

Petra mengatupkan rahangnya.

Tapi dia tetap di tempat.

Karena pesan Hanin masih berlaku.


Dan tepat di saat tekanan makin berat…

dari kejauhan terdengar suara mesin mobil yang semakin dekat.



Banyak.

Cepat.

Satu per satu SUV hitam muncul dari ujung jalan.

Diikuti mobil lain dengan pelat yang sama.

Dan beberapa detik kemudian...

suara ban berhenti serentak memenuhi area.


Pintu mobil terbuka.

Orang-orang turun dengan cepat, terorganisir.

Aura mereka langsung berbeda.

Lebih terlatih.
Lebih dingin.
Lebih “siap”.

Dan di antara mereka...

terlihat sosok yang langsung dikenali oleh semua pihak di lokasi.

Kakak-kakak Hanin.

Prince, Leon, Bagas dan beberapa tim keamanan keluarga.


Seketika suasana berubah total.

Orang-orang yang tadi mengepung langsung mulai mundur beberapa langkah.

Bukan panik.

Tapi sadar...

backup yang datang bukan main-main.


Damian menurunkan sedikit posisinya, napasnya masih stabil tapi fokusnya berubah.

Hanin juga melirik ke arah kedatangan mereka.

“…Akhirnya,” gumamnya pelan.


Di pinggir jalan, geng Petra dan geng Damian langsung refleks mundur lebih jauh.

Reno sampai berbisik,

“Gue baru pertama kali ngerasa pengen jadi tembok.”

Petra tidak menjawab.

Tapi matanya jelas mengikuti situasi dengan serius.


Prince melangkah lebih dulu ke depan.

Tatapannya langsung menyapu area.

“Siapa yang mulai?”

Suara itu tenang.

Tapi cukup bikin tekanan di udara naik lagi.

Dan di saat itu...

posisi di jalan berubah sepenuhnya.

Bukan lagi Damian dan Hanin yang “terisolasi”.

Tapi dua belas orang itu yang sekarang mulai terhimpit.

Hanin akhirnya melangkah sedikit ke samping Damian.

“Udah.”

Damian menoleh.
“…Udah aman sekarang.”

Dan untuk pertama kalinya sejak awal kejadian...

ritme pertempuran itu mulai berhenti bergerak maju.


Prince melangkah ke depan tanpa tergesa.

Langkahnya stabil, tapi setiap jejak kakinya di aspal terasa berat, bukan karena panik, tapi karena tekanan situasi yang sudah berubah total.

Di belakangnya, Leon dan Bagas berdiri dengan posisi siap, bersama tim keamanan keluarga yang sudah mengepung area secara tak terlihat tapi rapat.

Prince menatap lurus ke arah dua belas orang di depan.

Tidak marah.

Tidak berteriak.

Tapi justru itu yang paling menekan.

“Cukup.”

Suara Prince terdengar tenang, tapi tajam.

Beberapa dari lawan yang tadi masih berdiri agresif mulai saling pandang.


Prince melangkah satu langkah lagi.

Matanya menyapu situasi Damian sedikit di depan Hanin, Hanin sendiri masih berdiri tenang tapi waspada.

Lalu pandangannya berhenti di Hanin sesaat.

“…Hanin.”

Nada suaranya lebih rendah sekarang.

Bukan perintah.

Lebih seperti memastikan.

Hanin hanya mengangguk kecil.

“Aku gak apa-apa.”


Prince menghela napas pelan, lalu kembali menatap ke depan.

Kali ini sorot matanya berubah dingin.

“Ini jalan umum. Bukan tempat kalian bikin kekacauan.”

Salah satu dari pihak lawan maju sedikit, tapi langsung berhenti saat dua orang dari tim Prince ikut bergerak setengah langkah maju.

Tekanannya langsung terasa.

Leon di belakang berbisik pelan ke salah satu tim.

“Amankan perimeter. Jangan ada yang lolos.”

Bagas hanya diam, tapi posisinya jelas menutup sisi lain jalan.


Prince akhirnya berhenti tepat di garis depan, tidak terlalu dekat tapi cukup untuk membuat semua orang fokus padanya.

“Terakhir gue bilang baik-baik.”

Hening.

“Siapa yang nyentuh keluarga gue di sini…”

Ia berhenti sebentar.

“…akan tanggung akibatnya.”

Nada suaranya tetap tenang.

Tapi kali ini tidak ada ruang untuk salah paham.


Beberapa dari dua belas orang itu mulai mundur perlahan.

Bukan karena kalah bertarung.

Tapi karena sadar...

mereka bukan lagi melawan dua orang.

Mereka berhadapan dengan satu sistem penuh.


Damian akhirnya sedikit menurunkan bahunya, napasnya mulai stabil.

Hanin tetap di sampingnya, tapi ekspresinya sudah jauh lebih tenang sekarang.

Petra dan gengnya di pinggir jalan hanya bisa diam melihat perubahan situasi yang begitu cepat.

Reno berbisik pelan.

“…Ini baru keluarga?”

Petra tidak menjawab.

Tapi matanya tidak lepas dari Hanin.


Prince melirik sekali lagi ke arah lawan yang tersisa.

“Pergi.”

Singkat.

Tegas.

Dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu dimulai...

tidak ada yang berani maju lagi.


Setelah tekanan di jalan benar-benar mereda, dua mobil hitam yang tadi menghadang akhirnya perlahan mundur.

Tidak ada lagi gerakan agresif.

Tidak ada lagi yang mencoba bertahan.

Lalu dalam beberapa detik, mereka pergi meninggalkan lokasi.

Sunyi.

Hanya suara mesin mobil yang menjauh.


Prince berdiri di tengah jalan, memastikan semuanya benar-benar aman sebelum akhirnya menoleh ke arah Hanin dan Damian.

Sorot matanya masih tegas, tapi sudah lebih stabil.

“Hanin. Damian.”

Keduanya menoleh.

“Pulang dulu ke rumah utama.”

Damian mengernyit kecil.
“Rapat darurat?”

Prince mengangguk singkat.

“Iya.”


Leon dan Bagas sudah mulai mengatur tim untuk memastikan area bersih.

Sementara Prince melangkah sedikit ke depan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Petra, Reno, dan seluruh geng yang masih berdiri di pinggir jalan.

Nada suaranya berubah lebih formal.

“Semua yang ada di sini.”

Hening.

“Gue minta ini gak keluar dari lingkaran kalian.”

Reno langsung refleks menelan ludah.

“…Siap.”

Petra mengangguk pelan tanpa banyak bicara.


Prince melanjutkan dengan nada tenang tapi jelas :

“Ini bukan urusan sekolah, bukan urusan kalian, lebih baik kalian pulang sekarang.”

Tidak terdengar mengusir.

Tapi sangat tegas.

Dan semua orang paham maksudnya.


Damian melirik ke arah Petra dan gengnya sebentar.

Lalu menghela napas pelan.

“Pulang aja.”

Petra menatap Damian beberapa detik.

“…Lo aman?”

Damian mengangguk kecil.

“Udah.”

Singkat.


Hanin berdiri di samping Damian, lalu menatap semua orang sebentar.

“Jangan banyak mikir.”

Kalimatnya sederhana.

Tapi cukup untuk membuat suasana sedikit lebih tenang.


Satu per satu kendaraan mulai bergerak lagi.

Petra masuk ke jeepnya.

Reno dan gengnya naik motor masing-masing.

Geng Damian juga mulai bergerak pulang sesuai instruksi.

Tidak ada yang banyak bicara.


Beberapa menit kemudian, jalan itu kembali kosong.

Tinggal SUV keluarga Hanin dan Damian yang masih standby.


Prince menoleh ke Hanin dan Damian.

“Masuk mobil. Kita pulang sekarang.”

Damian mengangguk.

Hanin hanya menjawab pelan.

“Oke.”

Dan tanpa banyak kata lagi...

mereka berdua kembali ke mobil, menuju rumah utama untuk rapat darurat yang sudah menunggu.


yang memperhatikan dari belakang.

Damian.

Cowok itu berjalan santai bersama geng cowok kelas 3-nya sambil memegang kopi dingin.

Tatapannya sempat melihat Claudia yang mengikuti Hanin dan Petra cukup lama.

Lalu Damian melirik salah satu temannya kecil.

“Kayaknya bakal rame.”

Temannya langsung menoleh penasaran.
“Hah?”

Damian hanya tersenyum tipis sambil tetap berjalan santai di belakang mereka semua.

Namun matanya tetap awas memperhatikan situasi.



Kantin sekolah siang itu kembali penuh.

Suara obrolan bercampur dengan keributan siswa yang masih diam-diam memperhatikan Petra dan Hanin duduk satu meja bersama.







Bahkan beberapa anak sampai sengaja membeli makanan lebih lama hanya untuk melihat mereka.

Sementara Hanin terlihat santai seperti biasa.

Sedangkan Petra…

Meski terlihat tenang, sebenarnya cukup menikmati suasana duduk berdua dengan Hanin seperti ini.

Namun beberapa meja dari sana…

Claudia dan gengnya juga duduk sambil terus memperhatikan ke arah mereka.



Tatapan Claudia sesekali jatuh pada Petra.

Dan itu tidak lolos dari pengamatan Damian.

Cowok itu yang tadi masuk kantin bersama geng kelas 3 akhirnya berhenti berjalan.

Tatapannya lurus ke arah meja Claudia.

Lalu tanpa banyak bicara…

Damian melangkah mendekat.

Teman-teman Claudia langsung saling pandang bingung saat Damian tiba-tiba berdiri di dekat meja mereka.

Karena aura cowok itu terlalu tenang.

Tapi justru terasa menekan.

“Damian?” ujar salah satu dari mereka pelan.

Damian tersenyum tipis sopan.

Namun matanya tetap dingin.

Lalu ia sedikit membungkuk mendekat ke arah Claudia dan berbisik pelan...



Cukup pelan supaya hanya meja itu yang mendengar.

“Gak usah macem-macem sama adek gue.”

Nada suaranya santai.

Sangat santai.

Namun justru itu yang membuat bulu kuduk merinding.

Karena tidak terdengar seperti ancaman kosong.

Claudia langsung diam.

Tatapannya sedikit membeku menatap Damian.

Sementara teman-temannya juga ikut terdiam karena aura Damian berubah sangat berbeda dari biasanya.

Tidak lagi ramah seperti senior populer sekolah.

Melainkan…

Seseorang yang benar-benar protectif.

Di sisi lain kantin…

Hanin memperhatikan semua itu dari jauh.

Gadis itu langsung tahu.

Damian sedang masuk mode kakak overprotective.

Petra pun ikut memperhatikan Damian dengan sedikit bingung.

“Kakak lo serem juga ya.”

Hanin meminum airnya santai.
“Biasanya enggak.”

“Biasanya?”

“Kalau nyangkut aku, beda cerita.” Dengan santai Hanin sambil mengikat rambutnya setengah dan merapihkan dasinya.

Petra langsung diam beberapa detik.

Entah kenapa kalimat itu membuatnya sadar...

Seberapa besar keluarga Hanin menjaga gadis itu.

Tak lama kemudian Damian berjalan meninggalkan meja Claudia.

Ekspresinya langsung kembali santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Cowok itu lalu menghampiri meja Hanin dan Petra sambil menarik kursi kosong.

“Ganggu gak?”

Petra menggeleng kecil.
“Duduk aja.”

Damian duduk santai di samping Hanin lalu menatap adiknya sebentar memastikan semuanya aman.


Dan Petra yang melihat itu akhirnya sadar satu hal :

Damian mungkin ramah.

Namun kalau urusannya Hanin…

Cowok itu bisa jadi sangat mengintimidasi.

Damian baru saja duduk santai di samping Hanin sambil meminum kopi dinginnya.

Aura dingin yang tadi sempat muncul di meja Claudia perlahan menghilang begitu saja.

Sekarang ekspresinya kembali santai seperti biasa.

Namun Hanin yang sedari tadi memperhatikan jelas tahu kakaknya baru melakukan sesuatu.

Gadis itu menyipitkan mata kecil.

“Kamu ngapain di meja sana?”

Damian langsung menoleh polos.
“Meja mana?”

Hanin menatap datar.
“Damian.”

Petra yang duduk di depan mereka langsung menahan senyum kecil karena tahu Damian ketahuan.

Sementara beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan lagi.

Karena kombinasi Hanin dan Damian memang selalu menarik perhatian.

Damian akhirnya terkekeh pelan sambil bersandar santai.

“Cuma ngobrol.”

“Ngobrol apa.”

“Biasa.”

Hanin langsung tahu itu bohong.

Tatapannya makin tajam sedikit.

“Kamu ngancem orang lagi?”

“Enggak lah.”

Petra hampir tersedak minumnya sendiri mendengar nada Damian yang terlalu santai.

Karena jelas-jelas cowok itu tadi mengintimidasi satu meja hanya dengan satu kalimat.

Damian akhirnya menghela napas kecil lalu menatap Hanin.

“Aku cuma gak suka ada yang ngeliatin kamu aneh-aneh.”

Nada suaranya tetap ringan.

Namun jelas terdengar protectif.

Hanin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas kecil pasrah.

“Kebiasaan.”

Damian tersenyum kecil.
“Iya.”

Petra yang melihat interaksi kakak-adik itu tiba-tiba merasa lucu sendiri.

Karena Hanin yang dikenal dingin ternyata cukup berbeda saat bersama keluarganya.

Jauh lebih lembut.
Lebih santai.

Dan Damian…

Benar-benar memperlakukan Hanin seperti sesuatu yang harus dijaga sepenuhnya.

Tak lama kemudian Reno dan Trouble Boy datang membawa makanan mereka.

Namun baru beberapa langkah mendekat...

Reno langsung berbisik pelan ke Petra.

“Ketua.”

“Hm.”

“Gue takut sama kakaknya Hanin.”

Petra melirik Damian yang sedang ngobrol santai dengan Hanin.

Lalu menjawab pendek,

“…Gue juga dikit.”

Reno dan anak-anak Trouble Boy awalnya masih berdiri ragu sambil membawa nampan makanan mereka.

Karena meski Damian terlihat santai sekarang…

Mereka masih ingat aura mengintimidasi beberapa menit lalu di meja Claudia.

Dan jujur saja...
itu cukup bikin merinding.

Petra yang melihat gengnya bengong langsung mengernyit.

“Ngapain berdiri.”

“Takut salah duduk,” bisik Reno.

Petra hampir ketawa sendiri.

Namun sebelum mereka sempat memutuskan...

Damian justru menoleh ke arah mereka lebih dulu.

Cowok itu menyandarkan tubuh santai lalu mengangkat dagunya kecil ke kursi kosong di sekitar meja.

“Duduk aja.”

Satu geng langsung membeku.

“Hah?”

Damian terkekeh kecil melihat ekspresi mereka.

“Masa gue seserem itu.”

Reno refleks menjawab jujur,
“Iya dikit kak.”

Petra langsung menendang kaki Reno pelan di bawah meja.

Namun justru Damian tertawa kecil.

“Parah.”

Suasana yang tadi sedikit tegang akhirnya mencair.

Dan beberapa detik kemudian…

Trouble Boy benar-benar duduk gabung di meja Hanin.

Sontak satu kantin kembali heboh.

“ANJIR.”

“FULL TEAM.”

“PETRA + HANIN + DAMIAN + TROUBLE BOY 😭

Beberapa siswa bahkan mulai merekam diam-diam karena pemandangan itu terasa terlalu langka.

Karena biasanya Trouble Boy identik dengan keributan.

Namun sekarang mereka malah duduk santai satu meja bersama Hanin.

Dan lebih aneh lagi...

Damian terlihat cukup nyambung dengan mereka.

Reno akhirnya mulai berani ngobrol.

“Kak Damian ternyata asik juga.”

Damian mengangguk kecil sambil minum.
“Kirain?”

“Kirain bakal dibunuh.”

“Mulut lo.” Sahut Damian.

Satu meja langsung ketawa.

Bahkan Hanin sampai sedikit menggeleng kecil melihat tingkah mereka.

Dan Petra…

Diam-diam memperhatikan Hanin yang terlihat jauh lebih nyaman sekarang.

Sesekali ikut tersenyum tipis.
Sesekali menimpali obrolan.

Suasana meja mereka terasa surprisingly hangat.

Namun di sisi lain kantin…

Claudia memperhatikan semuanya dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia merasa benar-benar berada di luar dunia Petra sekarang.

Sejak kejadian Hanin pingsan di UKS hari itu…

Ada banyak hal yang perlahan berubah.

Salah satunya adalah hubungan Damian dengan Petra dan Trouble Boy.

Awalnya Damian memang cukup menjaga jarak.

Namun karena Petra sudah mengetahui rahasia tentang kondisi Hanin...
dan memilih menjaga itu baik-baik.

Damian mulai percaya pada Petra.

Setidaknya…
lebih dibanding orang lain.

Dan anehnya…

Petra juga berubah cukup banyak sejak dekat dengan Hanin.

Cowok itu memang masih sama:
masih suka bikin onar,
masih brutal,
masih hobi balapan dan berantem.

Namun sekarang ada satu hal baru :

Ia jadi lebih sering menghilang dari tongkrongan hanya untuk chat Hanin.

Dan itu selalu jadi bahan bully satu geng.

Lama-lama hubungan dua geng itu juga makin dekat.

Geng Damian yang isinya anak-anak kelas 3 terkenal dan cukup disegani…
mulai sering nongkrong bareng Trouble Boy.

Kadang di cafe.
Kadang di rooftop rumah Petra.

Awalnya suasana cukup canggung.

Karena aura mereka sama-sama kuat.

Namun lama-lama malah nyambung.

Reno bahkan jadi cukup dekat dengan beberapa teman Damian.

Sementara Damian sendiri surprisingly cocok ngobrol dengan Petra.

Meski sering berakhir saling roasting.

Malam itu misalnya.

Mereka semua sedang nongkrong santai di rooftop rumah Petra.



Lampu kota terlihat indah dari atas.
Musik diputar pelan.
Makanan dan minuman berserakan di meja.

Hanin duduk santai di kursi sofa outdoor sambil memakai hoodie oversized hitam.

Sementara Petra duduk tidak jauh darinya.


Dan seperti biasa…

Mata Petra otomatis sering melihat Hanin.

Damian yang sadar itu akhirnya terkekeh kecil.

“Petra.”

“Hm.”

“Lo tuh halus dikit kalau liatin ade gue.”

Satu rooftop langsung pecah ketawa brutal.

Petra langsung tersedak minumnya sendiri.

“Apaan sih.”

Reno langsung menunjuk Petra.
“NAH KAN KETAHUAN.”

Hanin sendiri hanya melirik kecil ke arah Petra sebelum kembali santai meminum sodanya.

Namun sudut bibirnya terlihat sedikit naik.

Damian akhirnya bersandar santai sambil melihat Petra.

Dan untuk pertama kalinya…

Cowok itu benar-benar merasa tenang membiarkan Petra ada dekat Hanin.

Karena di balik semua sifat barbar Petra…

Damian tahu satu hal pasti :

Petra benar-benar menjaga Hanin dengan tulus.

Malam di rooftop rumah Petra masih ramai.



Angin malam berhembus pelan ditemani suara musik santai dan obrolan dua geng yang sekarang mulai akrab satu sama lain.

Reno dan beberapa anak lain masih sibuk bercanda.
Sementara Damian duduk santai sambil sesekali memperhatikan Hanin.

Dan saat melihat jam di ponselnya...

Damian langsung mengernyit kecil.

Baru jam 8 malam.

Namun bagi Damian…

Itu sudah cukup malam untuk Hanin berada di luar terlalu lama.

Apalagi kondisi Hanin akhir-akhir ini masih belum benar-benar stabil.

Cowok itu akhirnya bersandar sambil berkata santai,

“Pindah nongkrong aja yuk.”

Reno langsung menoleh.
“Ke mana?”

Damian menjawab ringan seolah bukan hal besar.

“Apart Hanin.”

SUNYI.

Satu rooftop langsung membeku.

“Hah?!”

“APARTEMEN HANIN?!”

“SERIUS?!”

Bahkan Petra yang biasanya paling santai pun ikut terdiam beberapa detik.

Karena itu berarti…

Masuk ke tempat pribadi Hanin.

Dan itu jelas bukan sesuatu yang biasa.

Damian lalu menoleh ke arah Hanin.

“Nin.”

“Hm?”

“Boleh gak?”

Semua mata langsung tertuju pada Hanin sekarang.

Karena keputusan sepenuhnya ada di tangan gadis itu.

Dan mengejutkannya...

Hanin terlihat santai saja.

“Boleh.”

BOOM.

Satu rooftop langsung chaos.

“ANJIRRRR.”

“GUE MASUK APART HANIN 😭

“INI LEVEL PERTEMANAN APA.”

Petra sendiri masih sedikit tidak percaya.

Karena selama ini Hanin selalu menjaga ruang pribadinya cukup ketat.

Dan sekarang…

Hanin mengizinkan mereka datang.

Hanin berdiri santai sambil mengambil helm motornya.

“Kalau berisik keluar.”

Reno langsung mengangguk cepat.
“Kami anak baik.”

“Pembohong.” Sahut Hanin.

Satu geng langsung ngakak.

Beberapa menit kemudian mereka semua akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.

Mobil Damian di depan.
Jeep Petra di belakang.
Beberapa motor ikut menyusul.

Dan sepanjang perjalanan…

Petra diam-diam masih memikirkan satu hal :

Hanin benar-benar mulai mempercayai mereka.

 

 

Area parkiran mulai ramai saat semuanya bersiap pindah menuju apartemen Hanin.

Suara mesin mobil dan motor mulai terdengar bergantian.

Hanin yang tadi berdiri santai akhirnya berjalan menuju motor hitamnya sambil memutar kunci motor di jarinya pelan.

Reno yang melihat motor itu langsung mendekat dengan mata berbinar.

“Motor impian gue banget…”

Hanin melirik kecil.
“Mau bawa?”

Reno langsung membeku.
“…Hah?”

Dan sebelum otaknya selesai mencerna...

Hanin benar-benar melempar kunci motornya ke arah Reno.

Refleks Reno menangkapnya cepat.

DETIK ITU JUGA!!

“WOYYYYYY.”

“RENO DIPERCAYA BAWA DUCATI HANIN 😭

“NAIK DERAJAT LO.”

Reno sampai menatap kunci motor itu seperti benda suci.

“Gue takut jatoh…”

Hanin malah santai memasukkan tangan ke hoodie-nya.

“Kalau lecet gue bunuh.”

“NAH KAN 😭

Satu geng langsung ngakak brutal.

Namun Reno tetap terlihat bangga setengah mati.

Karena jelas…
Hanin mulai nyaman dengan mereka.

Dan itu bukan hal kecil.

Sementara itu Damian sudah membuka pintu mobilnya.

“Nin.”

Hanin langsung berjalan santai menuju mobil kakaknya.

Petra yang sedari tadi memperhatikan akhirnya mengernyit kecil.

“Lo gak naik motor?”

“Capek.”

Jawaban Hanin pendek seperti biasa.

Lalu tanpa banyak drama gadis itu masuk ke kursi penumpang depan mobil Damian.

Dan entah kenapa…

Petra sedikit merasa kosong melihat itu.

Karena biasanya Hanin selalu terlihat cocok dengan motornya.

Namun di sisi lain…

Ia juga lega Hanin memilih istirahat.

Reno yang masih memegang kunci motor langsung mendekat ke Petra sambil super excited.

“Ketua…”

“Hm.”

“Gue dipercaya Hanin.”

Petra melirik datar.
“Jangan jatoh.”

“LO IRI YA.”

Petra langsung mendorong kepala Reno pelan sampai satu geng kembali ketawa.

Tak lama kemudian rombongan mereka akhirnya berangkat menuju apartemen Hanin.

BMW Damian melaju di depan.
Jeep Petra mengikuti di belakang.
Sementara Reno membawa Ducati Hanin dengan ekspresi paling bangga sedunia.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya dua geng besar sekolah pergi nongkrong bersama menuju tempat paling private milik Hanin.


Chapter 14


Rombongan akhirnya sampai di kawasan apartemen Hanin.

Bangunan tinggi itu berdiri megah dengan lampu-lampu hangat yang menyala di setiap lantai, penjagaan ketat, dan suasana yang jauh lebih tenang dibanding luar.


Begitu mobil Damian berhenti di lobby private, Hanin turun lebih dulu.

Lalu diikuti Petra, Trouble Boy, dan geng Damian yang masih agak kagok melihat tempat itu.

“Anjir…” bisik Reno pelan sambil menatap sekitar.
“Ini apartemen apa hotel bintang lima?”

Petra juga sempat melirik bangunan itu sekilas.

Bukan pertama kali ia melihat tempat mewah, tapi ini berbeda.

Ini terasa… personal.

Milik Hanin.

Damian berjalan santai di samping Hanin.

“Masuk.”

Hanin hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju lift khusus resident.

Semua ikut menyusul.

Beberapa security sempat melirik, tapi langsung menunduk sopan saat melihat Damian dan Hanin.

Jelas mereka sudah familiar.

Di dalam lift, suasana sedikit sunyi.

Angka lantai naik pelan.

Reno masih memegang kunci motor Hanin dengan hati-hati seperti barang mahal negara.

Petra berdiri di sudut, bersandar santai tapi matanya sesekali melirik Hanin.

Hanin sendiri terlihat tenang seperti biasa, tidak terganggu dengan banyaknya orang di sekitarnya.

“Berapa lantai apart lo?” tanya salah satu teman Damian pelan.

“Cukup,” jawab Hanin santai.

Damian langsung terkekeh kecil.
“Jawaban paling Hanin banget.”

Hanin meliriknya sebentar.
“Kalau aku bilang tinggi kamu juga gak bakal ngerti.”

Satu lift langsung ketawa pelan.

DING!

Lift terbuka di lantai privat Hanin.

Begitu pintu terbuka...

Ruangannya langsung membuat semua orang diam sebentar.

Interior modern, hangat, luas, dengan jendela besar menghadap lampu kota.


“Gila…” Reno berbisik lagi.
“Ini bukan apartemen ini istana.”

Hanin langsung melepas hoodie-nya santai lalu masuk lebih dulu.

“Masuk aja.”

Semua mulai masuk pelan-pelan, masih kagum.

Damian berjalan ke arah dapur membuka kulkas seperti sudah biasa.

“Minum sendiri ambil.”

“Siap,” jawab gengnya langsung serempak.

Petra duduk di sofa tanpa banyak bicara, matanya mengamati sekitar.

Hanin berjalan ke area dapur, membuka beberapa lemari.

Sementara suasana mulai berubah jadi lebih santai.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Dua geng besar sekolah itu benar-benar berkumpul di satu tempat.

Bukan karena keributan.

Bukan karena masalah.

Tapi karena Hanin membiarkan mereka masuk ke dunianya.



Damian membantu Hanin dari dapur tanpa banyak bicara.

Satu per satu minuman dikeluarkan dari kulkas, lalu disusun di meja pantry panjang yang menyatu dengan ruang tengah.

Hanin berdiri di sebelahnya sambil membuka beberapa lemari lain.

“Seadanya ya, gak ada apa-apa,” ucap Hanin santai.

Damian langsung melirik sekilas ke arah meja, menatap stock makanan Hanin.

Dan beberapa detik kemudian…

“…Seadanya?” Damian tersenyum tipis.

Di atas meja sudah tertata rapi:

Minuman soda berbagai rasa, jus dingin, air mineral premium, snack, biskuit coklat, buah potong, permen, sampai makanan ringan impor yang bahkan Reno belum pernah lihat sebelumnya.


Reno yang kebetulan ikut mendekat langsung melotot.

“INI SEADANYA?!”

“GUE DI RUMAH GAK ADA BEGINI.”

Satu geng langsung heboh.

“Anjir Hanin stok snacknya kayak minimarket pribadi.”

Petra yang berdiri agak belakang hanya melirik sekilas, lalu menghela napas kecil.

“…Pantes aja kalem.”

Hanin berjalan ke arah meja sambil menunjuk satu sisi kecil di pojok dapur.

“Kalau mau makan ambil sendiri.”

Lalu ia menunjuk ke arah balkon besar dengan pintu kaca geser.



“Kalau mau ngerokok di luar. Jangan di dalam.”

Nada suaranya tetap tenang, tidak keras.

Tapi cukup jelas.

Reno langsung mengangguk.
“Siap.”

Beberapa teman geng langsung refleks:

“Siap bu bos 😭

Reno yang masih memegang kunci motor tiba-tiba melirik meja, lalu melirik balkon.

“Wah… ini apartemen plus aturan juga.”

Petra menimpali datar.
“Normal.”

Reno langsung menatap Petra.
“Normal apanya?”

“Dia yang punya apart.”

Hanin sendiri sudah duduk santai di sofa, mengambil minuman soda, lalu membuka ponselnya seperti tidak terlalu peduli dengan hebohnya semua orang di ruang itu.

Damian mengambil beberapa snack lalu duduk di sebelah Hanin.


“Capek gak?”

“Enggak.”

Damian mengangguk pelan, lalu tetap memperhatikan adiknya sebentar, memastikan Hanin benar-benar baik.

Sementara di belakang…

Trouble Boy sudah mulai menyerbu snack seperti tidak makan seminggu.

“GILA ENAK BANGET INI.”

“INI PERMEN APA SURGA?”

Petra hanya duduk sambil sesekali mengambil minum, matanya lebih sering mengarah ke Hanin yang terlihat paling tenang di ruangan itu.

Dan malam itu…

Apartemen Hanin benar-benar berubah jadi tempat paling santai, paling absurd, dan paling tidak terduga bagi dua geng sekolah yang biasanya penuh ribut.

 


Suasana apartemen Hanin benar-benar berubah jadi seperti basecamp dadakan.

Di ruang tengah, geng Damian dan Trouble Boy sudah heboh sendiri di depan TV besar.



“WOY PASS PASS!”

“DEFENSE GOBLOK, DEFENSE!”

“ANJIR GOL LU GAK MASUK AKAL!”

Satu geng langsung campur jadi satu tanpa sekat, yang penting kompetisi di layar PS.

Damian duduk santai di lantai dekat sofa sambil sesekali kasih arahan ringan, sementara Petra lebih banyak diam tapi fokus, tangannya cepat banget di stik.

Reno di sampingnya udah teriak-teriak dari tadi.

“INI CHEAT ATAU SKILL?!”

“SKILL.” jawab Petra singkat tanpa menoleh.

Langsung kena pelototan satu ruangan.

“BRUTAL.”

Di sisi lain ruang tamu…

Hanin justru terlihat paling tenang.

Gadis itu tiduran santai di sofa panjang, satu kaki ditekuk, hoodie sedikit menutupi tubuhnya.

Ponsel di tangan, scroll Instagram tanpa banyak ekspresi.

Kadang senyum kecil.
Kadang cuma diam.

Lampu ruangan yang hangat bikin suasana terasa jauh lebih nyaman.

Dari sudut sana, Damian sempat melirik sebentar.

Melihat Hanin yang benar-benar santai di tengah keramaian itu.

Dan itu cukup bikin dia tenang.

Petra juga sempat melirik sekilas ke arah sofa.

Hanin masih di sana, aman, tidak terganggu, bahkan terlihat nyaman dengan kehadiran mereka semua.

Dan anehnya…

Petra jadi ikut tenang.

Tangannya yang tadi cepat di PS sedikit melambat, tapi fokusnya tetap kuat.

“Woy Petra jangan meleng!” teriak Reno.

“Diam.”

“NYAUR GUE NIH ORANG.”

Hanin menggeser posisi sedikit, lalu menggulir layar IG lagi.

Story, reels, lalu berhenti sebentar di postingan random kue.

Sudut bibirnya naik kecil.

Sederhana.

Tapi cukup buat bikin Damian yang tak sengaja melihatnya dari jauh tersenyum tipis juga.

Di ruangan itu, semuanya sibuk dengan dunia masing-masing.

Tapi entah kenapa…

Tetap terasa seperti satu tempat yang sama.

 

 


Hanin yang tadi masih tiduran di sofa akhirnya melirik jam di layar ponselnya.

22.00.

Ia duduk pelan lalu menguap kecil, kemudian menoleh ke arah ruang tengah yang masih ramai dengan teriakan PS.

“Damian.”

Suara Hanin tidak keras, tapi cukup membuat Damian langsung menoleh.

“Hm?”

Hanin berdiri santai, masih memegang ponselnya.

“Mau pada nginep atau pulang?”

Seketika suara PS mengecil.

Reno langsung menoleh panik kecil.

“NGINEP?!”

“DI APART HANIN?!”

Satu ruangan langsung heboh lagi.

Petra melirik sekilas ke Hanin, lalu ke Damian, tetap diam.

Damian memutar badan sedikit ke arah semua orang.

“Gimana? Kalian mau pulang atau nginep?”

Reno langsung angkat tangan.

“NGINEP!”

“100% NGINEP!”

“GUE GAK MAU PULANG KE DUNIA NYATA.”

Satu geng langsung setuju tanpa pikir panjang.

Geng Damian pun lebih santai.

“Kalau boleh ya nginep aja sih.”

“Lumayan.”

Damian lalu menoleh ke Hanin, ekspresinya sedikit lebih serius tapi tetap tenang.

“Nin.”

“Hm?”

“Boleh mereka nginep?”

Semua langsung menunggu jawaban Hanin.

Karena walaupun Damian yang nanya…

tetap saja ini apartemen Hanin.

Hanin menghela napas kecil, lalu melirik sekilas ke ruang tengah yang berantakan tapi hidup.

Diam beberapa detik…

lalu mengangguk santai.

“Boleh.”

BOOM!!

Reno langsung lompat kecil.

“YESSSSS.”

“GUE NGINEP DI ISTANA 😭

Petra hanya menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya naik sedikit.

Damian sendiri terlihat lega.

“Thanks.”

Hanin hanya menjawab santai.

“Jangan berisik.”

“Siap.”

Satu ruangan langsung jawab bareng:

“SIAP BOSS HANIN.”


Malam itu akhirnya diputuskan.

Apartemen Hanin bukan cuma jadi tempat nongkrong…

tapi berubah jadi tempat nginep dadakan dua geng paling ribut satu sekolah.

 


Hanin yang masih duduk santai di sofa akhirnya menoleh ke arah Damian yang baru selesai mengecek kamar-kamar di apartemen.



“Damian.”

“Hm?”

Hanin berdiri pelan, lalu menunjuk ke arah lorong kamar.

“Kamar kosong, kalau gak cukup, gelar kasur lipat di ruang tengah.”

Reno langsung nyelutuk dari jauh.

“GUE SIH MAU TIDUR DI SOFA AJA, SERASA HOTEL 😭

Hanin melanjutkan santai tanpa peduli keributan.

“Kalau butuh baju ganti, di lemari ada.”

Seketika beberapa kepala langsung menoleh.

“HAH?”

Damian hanya tersenyum.

Hanin berjalan pelan ke salah satu lemari di dekat lorong kamar, lalu membukanya.

Dan benar saja

Di dalamnya sudah tersusun rapi beberapa pakaian baru, masih dalam plastik.

Kaos polos berbagai warna.
Celana pendek.
Semua terlihat baru dan belum dipakai.



“Stock jaga-jaga,” kata Hanin datar.
“Kalau kakak-kakak aku nginep gak bawa baju.”

Satu ruangan langsung hening sebentar.

Lalu…

“INI BUKAN APARTEMEN.”
“INI BASECAMP KELUARGA 
😭

Reno sampai memegang kepala sendiri.

Petra yang sedari tadi diam akhirnya melirik sekilas ke lemari itu.

“…Lo emang selalu siap ya.”

Hanin mengangkat bahu kecil.

“Biasa.”

Damian hanya menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.

“Pantes rumah ini gak pernah chaos kalau kita nginep.”

Hanin langsung menatapnya datar.

“Chaos tetap ada. Kalian aja yang gak sadar.”

Satu geng langsung protes bareng.

“HEH?!”

Dan malam itu, apartemen Hanin resmi berubah jadi tempat nginep paling “siap tempur” yang pernah ada, lengkap dengan kamar, kasur lipat, dan lemari darurat untuk seluruh pasukan yang tiba-tiba jadi tamu tetap.

 


Setelah suasana agak mulai tenang dan semua orang sudah sibuk milih kamar atau ngatur tempat tidur di ruang tengah, Hanin berdiri pelan.

“Aku masuk kamar dulu.”

Semua langsung menoleh sekilas.

Reno masih setengah rebahan di sofa.
“SIAP BOSS.”

Petra cuma melirik sebentar, lalu kembali duduk santai.

Damian yang lagi duduk di dekat meja langsung mengangguk kecil.

Hanin berjalan ke arah lorong kamar sambil berhenti sebentar di tengah.

“Oh iya.”

Suara itu bikin semua kembali diam.

Hanin menunjuk pelan ke arah beberapa pintu kamar.

“Di tiap kamar ada kamar mandi sendiri. Terus di luar juga ada dua kamar mandi tambahan.”

Reno langsung angkat tangan.
“GUE CATAT LOKASI STRATEGIS.”

“Lo diem aja bisa gak sih,” sahut Petra datar.

Hanin lanjut santai, tanpa menghiraukan keributan kecil itu.

“Jangan rebutan.”

Lalu ia menoleh ke Damian.

“Damian.”

“Hm?”

Hanin menunjuk salah satu kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.

“Kamu mau tidur di kamar aku, atau di kamar lain?”

Seketika…

SUNYI.

Bukan sunyi biasa.

Ini sunyi tipe “semua orang langsung berhenti bergerak”.

Reno sampai hampir jatuh dari sofa.

“ANJIRR KAMAR HANIN?!”

“ITU KAKAKNYA TAPI KENAPA TERDENGAR BERAT 😭

Petra langsung menatap Damian, ekspresinya datar tapi jelas memperhatikan jawabannya.

Damian sendiri hanya terdiam sebentar.

Bukan karena canggung.

Tapi karena ini Hanin yang nanya langsung didepan teman-temannya, santai, tanpa beban.

Cowok itu lalu tersenyum tipis.

“Gue di kamar lain aja.”

Hanin mengangguk kecil.

“Oke.”

Selesai.

Se-simple itu.

Tapi entah kenapa…

Beberapa orang di ruangan itu baru sadar...

kedekatan Hanin dan Damian itu bukan sekadar kakak-adik biasa.

Tapi sudah seperti sistem yang sangat natural, sangat aman, dan sangat saling percaya.

Hanin lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamar.

Sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan tanpa menoleh lagi.

“Jangan ribut.”

Klik.

Pintu tertutup.

Dan dalam hitungan detik...

ruangan luar langsung pecah lagi.

“GUE GAK BISA HIDUP NORMAL DI SINI 😭

Damian sebenarnya sempat melirik kamar Hanin tadi.

Secara jujur, dia paling nyaman kalau dekat Hanin, itu sudah kebiasaan dari kecil.

Tapi kondisi sekarang beda.

Ada Petra.
Ada Trouble Boy.
Ada gengnya sendiri.

Dan kalau dia terlalu “kelihatan” clingy sama Hanin…

besok satu sekolah bisa bikin versi cerita yang lebih liar dari kenyataan.

Reno aja sudah cukup bahaya kalau mulai ngomong.

Damian menghela napas pelan, lalu menutup topik dengan santai.

“Gue kamar lain aja.”

Hanin mengangguk tanpa banyak reaksi.

“Oke.”

Selesai.

Natural banget.

Tapi di kepala Damian, justru itu yang bikin aman.

Beberapa menit kemudian, setelah Hanin benar-benar masuk kamar dan pintu tertutup, suasana ruang tengah kembali hidup.

Reno langsung rebahan di sofa.

“Gue masih shock dia nawarin kamar dia sendiri kayak nawarin snack.”

Damian melirik datar.
“Dia emang gitu.”

Lalu Damian duduk di kursi dekat meja, santai.

Tapi dalam hati…

dia sudah mulai mikir langkah kedua.

Kalau dia sekamar sama Petra...

setidaknya dia bisa kontrol situasi.

Terutama satu orang :

Petra.

Cowok itu kelihatan santai, tapi Damian tahu…

Petra punya kebiasaan “jalan sendiri” kalau lagi kepikiran Hanin.

Dan itu berbahaya kalau apartemen ini lagi full chaos.

Damian menoleh ke Petra.

“Pet.”

“Hm?”

“Kita satu kamar.”

Satu ruangan langsung hening sebentar.

“HAH?!” Reno langsung duduk tegak.

“ANJIR KOK MALAH KAMAR BERDUA?!”

Petra sendiri mengernyit.

“…Kenapa gue?”

Damian santai.

“Biar gak ada yang nyasar.”

“Nyasar apaan?”

Damian hanya melirik sekilas ke arah lorong kamar Hanin, lalu balik lagi.

“Lo ngerti.”

Petra diam beberapa detik.

Lalu akhirnya berdiri.

“…Oke.”

Reno langsung menunjuk mereka berdua.

“INI KENAPA SEMAKIN AJAIB MALAM INI 😭

Malam itu akhirnya terbagi rapi :

Hanin di kamar sendiri.

Damian dan Petra satu kamar (dengan alasan “strategis” versi Damian).

Dan geng lainnya tersebar di kamar kosong atau ruang tengah.

Tapi di balik semua itu…

Damian cuma punya satu pikiran santai tapi serius :

jaga rumah ini tetap aman…

dan pastikan Petra gak tiba-tiba muncul di kamar Hanin tengah malam.

 


Apartemen sudah benar-benar sunyi.

Lampu-lampu utama diredupkan, hanya menyisakan cahaya kecil dari lorong dan dapur yang masih menyala tipis.

Di ruang tengah, Trouble Boy dan geng Damian sudah tergeletak acak, ada yang tidur di sofa, ada yang di kasur lipat, bahkan ada yang masih setengah posisi duduk tapi sudah ketiduran.


Damian dan Petra di kamar juga sudah tidak terdengar suara.


Hening.



Di dalam kamar Hanin, jam menunjukkan lewat tengah malam.

Hanin terbangun pelan.

Haus.

Gadis itu duduk sebentar di tepi kasur, lalu berdiri tanpa suara.

Hoodie tipis masih dipakai, rambut sedikit berantakan, dan langkahnya pelan menuju dapur.

Begitu sampai dapur, Hanin menyalakan lampu kecil di bawah kabinet.

Cahaya hangat langsung menyapu ruangan.

Ia membuka kulkas, mengambil botol air dingin, lalu menutupnya kembali pelan.

Tidak ada suara.

Hanya bunyi kecil air saat dituangkan ke gelas.

Namun saat Hanin meneguk airnya…

Dari arah lorong kamar, terdengar suara pintu kamar sedikit terbuka.

KREEK…

Hanin berhenti sebentar.

Matanya melirik ke arah sumber suara.

Langkah pelan terdengar.

Seseorang keluar dari kamar.

Dan beberapa detik kemudian...

Damian muncul dengan rambut sedikit acak-acakan, memakai kaos polos dan celana pendek.

Matanya masih setengah mengantuk.

“…Nin?”

Hanin menoleh.

“Kamu kenapa bangun?”

Damian berjalan pelan ke arah dapur, mengusap lehernya.

“Gue kebangun.”

Hanin mengangguk kecil lalu kembali minum.

Suasana kembali hening beberapa detik.

Damian bersandar di meja dapur, melirik adiknya.

“Kamu gak boleh sendirian tengah malam gini.”

Hanin melirik sekilas.

“Cuma minum.”

“Gue tau.”

Jawabannya datar, tapi tetap jelas...

itu bentuk kebiasaan protektif yang gak pernah hilang.

Beberapa detik kemudian Damian menatap ke arah lorong lagi, memastikan semua masih tidur.

Lalu pelan berkata,

“Petra tidur?”

Hanin mengangguk kecil.

“Harusnya.”

Damian menghela napas pelan, karena petra tidak ada dikamar bersamanya.

“Bagus.”

Hanin menatapnya sebentar.

“…Kamu overthinking.”

Damian langsung melirik.
“Gue realistis.”

Hanin tidak membantah, hanya menutup botol airnya.

Lalu berjalan kembali ke arah kamar.

Sebelum masuk, Hanin berhenti sebentar.

“Damian.”

“Hm?”

“Jangan jaga aku berlebihan.”

Damian diam.

Hanin lanjut pelan tapi tenang.

“Aku gak apa-apa.”

Lalu ia masuk kamar dan menutup pintu perlahan.

Klik.

Damian berdiri di dapur beberapa detik dalam sunyi.

Lalu hanya menghela napas pelan.

“…Gue tau.”

Tapi tetap aja...

dia tidak bergerak langsung ke kamar.

Berdiri sebentar di sana, memastikan rumah itu tetap aman.

Baru kemudian ia kembali berjalan pelan ke kamar, di tengah malam yang sudah benar-benar tenang.


Chapter 17


Setibanya di rumah utama, suasana langsung berubah jadi jauh lebih serius dibanding sebelumnya.

Tidak ada lagi nada santai, tidak ada obrolan ringan.

Semua sudah menunggu.

Ruang rapat keluarga besar sudah terisi. Para paman, bibi, beberapa orang kepercayaan keluarga, tim keamanan, dan kakak-kakak Hanin dan Damian.

Begitu Hanin dan Damian masuk, semua perhatian langsung tertuju ke mereka.

Prince berdiri paling depan, lalu menutup pintu ruang rapat.

Klik.

Hening.


Hanin duduk di sisi Damian, tenang seperti biasa, tapi jelas terlihat kelelahan tipis dari perjalanan tadi.

Damian duduk tegak, matanya fokus ke meja.

Prince membuka rapat tanpa basa-basi.

“Insiden tadi pagi bukan kebetulan.”

Semua langsung diam.

Leon membuka layar di depan, menampilkan data singkat hasil analisis cepat tim.

“Identifikasi awal sudah masuk. Mereka dari jalur lama musuh kakek.”

Bagas menambahkan, suaranya datar tapi berat.

“Ini bukan peringatan. Ini uji coba.”


Suasana ruang rapat makin tegang.

Salah satu orang kepercayaan keluarga berbicara pelan.

“Targetnya siapa?”

Jawabannya sudah jelas di ruangan itu, tapi tetap harus diucapkan.

Prince menatap lurus.

“Hanin.”

Hening.

Lalu lanjut,

“Dan Damian sebagai akses terdekat.”


Hanin hanya menunduk sedikit, tidak bereaksi berlebihan.

Damian justru mengepalkan tangan pelan di bawah meja.

Prince melanjutkan dengan nada lebih dingin.

“Mulai sekarang, keamanan diperketat dua kali lipat.”

Leon mengangguk.

“Rute sekolah diubah. Pergerakan publik dibatasi.”

Bagas menatap Hanin dan Damian sekilas.

“Tidak ada pergi sendiri. Tidak ada keluar tanpa pengawalan.”


Salah satu paman keluarga menghela napas.

“Kalau mereka mulai bergerak lagi?”

Prince menjawab tanpa ragu.

“Mereka sudah salah langkah.”

Kalimat itu tidak panjang.

Tapi cukup untuk membuat semua orang paham arah keputusan keluarga ini.

Hanin akhirnya bersuara pelan.

“Aku masih sekolah.”

Semua langsung menoleh.

Prince menatapnya.

“Iya. Tapi dengan pengamanan penuh.”

Damian menambahkan singkat.

“Gue juga ikut.”

Prince mengangguk.

“Tidak ada perubahan sekolah.”

Lalu menatap semua orang lagi.

“Tapi semua pergerakan diawasi.”


Suasana ruang rapat tetap tegang, tapi sudah lebih terkontrol.

Tidak ada kepanikan.

Hanya keputusan.

Dan sistem yang langsung bergerak.

Di akhir rapat, Prince berdiri.

“Ini selesai sementara.”

Lalu menatap Hanin dan Damian.

“Mulai sekarang, kalian berdua jangan lengah.”

Hanin mengangguk kecil.

Damian hanya menjawab singkat.

“Siap.”

Rapat darurat keluarga besar itu pun berakhir.

tapi semua orang di ruangan itu tahu,

ini bukan akhir masalah.

Hanya awal dari sesuatu yang lebih besar.


Setelah rapat darurat itu, keputusan keluarga langsung diterapkan tanpa ditunda.

Hanin tetap tinggal di apartemen.

Tapi kali ini tidak lagi sendirian seperti sebelumnya.

Damian ikut tinggal bersamanya.

Dan dua pengawal keluarga ditugaskan bergantian menjaga apartemen 24 jam, tanpa mengganggu ruang pribadi, tapi selalu siap di titik pengawasan.

Apartemen yang biasanya terasa “bebas” sekarang punya ritme baru.

Lebih teratur.
Lebih terkontrol.

Namun tetap dibuat senormal mungkin agar Hanin tidak merasa seperti sedang diawasi berlebihan.

Damian sendiri tetap bersikap seperti biasa di dalam apartemen.

Hanya saja sekarang dia lebih sering memastikan pintu, jadwal, dan kondisi sekitar.

Pagi hari ke sekolah juga berubah.

Tidak ada lagi motor.

Tidak ada lagi konvoi kecil seperti sebelumnya.

Hanin dan Damian berangkat dengan SUV hitam keluarga, dikawal dua bodyguard.

Di dalam mobil, suasana tetap dibuat santai.

Hanin duduk di kursi penumpang, melihat ponselnya seperti biasa.

Damian di sebelahnya, lebih banyak diam tapi tetap waspada.


Di sekolah, perubahan itu juga langsung terasa.

SUV berhenti di parkiran khusus.

Dua bodyguard tetap berada di area parkir, tidak masuk ke lingkungan sekolah, tapi selalu standby.

Hanin dan Damian turun seperti biasa, tanpa drama.

Sebelumnya, Prince sudah mengurus langsung izin ke pihak sekolah.

Pihak sekolah akhirnya mengizinkan dengan alasan keamanan internal keluarga, dengan catatan tidak mengganggu kegiatan belajar.

Dan permintaan khusus juga disampaikan:

“jaga kerahasiaan situasi ini.”


Di ruang kepala sekolah, kepala sekolah hanya mengangguk serius.

“Kami akan menjaga privasi siswa.”

Tidak ada pertanyaan lebih jauh.

Tidak ada publikasi.

Semua dijaga tetap internal.


Di luar, kehidupan sekolah tetap berjalan seperti biasa.

Namun orang-orang yang dekat dengan Hanin dan Damian mulai menyadari perubahan itu.

Mobil berbeda.
Pengawalan berbeda.
Ritme kedatangan dan kepulangan berbeda.

Tapi tidak ada yang diberi penjelasan.


Di dalam sekolah, Hanin tetap bersikap normal.

Damian juga.

Seolah tidak ada yang berubah.

Namun Petra dan gengnya mulai menangkap pola baru itu, walau memilih tidak bertanya terlalu jauh.

Reno hanya berbisik pelan suatu hari.

“…Ini kayak levelnya naik ya.”

Petra menjawab singkat.

“Diam.”

Tapi matanya tetap memperhatikan Hanin dari kejauhan.


Dan di balik semua itu,

Hanin masih tetap Hanin.

Hanya saja sekarang dunia di sekelilingnya jauh lebih dijaga, 

lebih ketat,

lebih sunyi,

dan lebih berat dari sebelumnya.

 

Setelah sesi latihan basket selesai, lapangan mulai sepi satu per satu.

Suara sepatu yang tadi ramai di lantai kini berganti jadi angin sore yang pelan.

Hanin berjalan keluar dari lapangan dengan langkah santai, masih memakai jersey latihan, rambut sedikit basah oleh keringat tipis.

Tanpa banyak bicara, ia langsung menuju bangku panjang di pinggir lapangan.

Lalu duduk.

Dan beberapa detik kemudian...

Hanin merebahkan diri di kursi panjang itu, menatap langit yang mulai berubah warna.

Napasnya naik turun pelan.

Capek, tapi bukan kelelahan yang berlebihan.

Lebih ke “habis mengeluarkan energi tapi masih bisa tenang”.


Dari kejauhan, beberapa siswa masih melirik diam-diam.

Bukan karena hal aneh.

Tapi karena Hanin memang selalu jadi pusat perhatian tanpa usaha.


Petra yang baru selesai latihan ringan juga berjalan mendekat.

Ia berhenti beberapa langkah dari bangku itu.

“…Lo gak kelelahan?”

Hanin tidak langsung menjawab.

Matanya masih menatap langit.

“Sedikit.”

Singkat.


Petra duduk di ujung bangku, tidak terlalu dekat.

“Latihan lo gak pernah santai ya.”

Hanin mengangkat bahu kecil.

“Biasa aja.”


Tidak lama, Damian juga muncul dari arah lapangan lain.

Ia melihat Hanin yang sedang berbaring, lalu mendekat dengan ekspresi yang lebih tenang dibanding biasanya.

“Minum.”

Ia melempar botol air ke arah Hanin.

Hanin menangkapnya tanpa melihat.

“Thanks.”


Damian berdiri sebentar, lalu melirik ke arah Petra.

Petra juga balas tatapan singkat.

Tidak ada kata-kata.

Tapi ada pemahaman kecil di antara mereka, bahwa Hanin sekarang tidak boleh terlalu dipaksa, bahkan oleh dirinya sendiri.

Hanin akhirnya duduk sedikit, membuka botol air, lalu minum perlahan.

Angin sore lewat pelan.

Lapangan mulai kosong.

Dan untuk sesaat...

tidak ada ancaman, tidak ada tekanan, tidak ada keributan.

Hanya Hanin yang beristirahat di tengah dunia yang biasanya selalu bergerak terlalu cepat di sekelilingnya.

 

 

Suasana sekolah yang sebelumnya tenang langsung sedikit berubah ketika sebuah mobil hitam berhenti di area utama sekolah.

Beberapa guru yang melihat langsung refleks berdiri lebih rapi dari biasanya.

Pintu mobil terbuka.

Dan seorang pria turun dengan wibawa tenang, langkahnya teratur tanpa tergesa.

Itu adalah ayah Petra, pemilik yayasan sekolah.


Kedatangannya tidak diumumkan besar-besaran, tapi cukup untuk membuat staf sekolah langsung siaga.

Kepala sekolah bahkan segera keluar menyambut.

“Selamat siang, Pak.”

Ayah Petra hanya mengangguk singkat.

“Tidak perlu formalitas. Saya hanya ingin melihat kondisi sekolah.”


Di sisi lain lapangan, Hanin masih duduk di bangku panjang setelah latihan, sementara Damian dan Petra ada tidak jauh darinya.

Petra yang melihat sosok itu dari kejauhan langsung mengernyit kecil.

“…Bokap gue?”

Damian ikut menoleh.

“Dia jarang ke sini.”


Ayah Petra berjalan pelan menyusuri area sekolah, ditemani kepala sekolah dan beberapa staf.

Namun matanya beberapa kali tampak memperhatikan lingkungan sekitar, bukan sekadar inspeksi biasa, tapi seperti memastikan sesuatu.


Ketika pandangannya melewati lapangan basket…

ia berhenti sejenak.

Melihat Hanin.

Lalu juga melihat Damian di dekatnya.

Tatapannya tidak berubah banyak, tapi ada sedikit ketertarikan yang tersirat.


Petra berdiri dari bangku.

“Gue ke sana.”

Damian mengangguk kecil.

“Gue ikut.”


Hanin masih duduk santai, minum air, ketika Petra dan Damian mendekat.

Belum sempat mereka sampai, ayah Petra sudah lebih dulu berjalan ke arah mereka.

Langkahnya tenang, tapi jelas menuju satu titik.


Begitu sampai, ia berhenti beberapa meter dari Hanin, Damian, dan Petra.

“Petra.”

Suara itu datar, tapi tegas.

Petra langsung menjawab.

“Ya, Pak.”


Ayah Petra melirik sekilas ke Hanin dan Damian.

“Lingkungan sekolah belakangan ini cukup ramai.”

Kepala sekolah yang ikut di belakang terlihat sedikit tegang.


Petra hanya diam.

Damian juga tidak banyak bicara.

Hanin tetap duduk, memperhatikan dengan tenang.


Lalu ayah Petra melanjutkan, kali ini lebih pelan:

“Saya hanya ingin memastikan sekolah ini tetap aman untuk semua siswa.”

Pandangan itu berhenti sebentar di Hanin.

Bukan menilai.

Lebih seperti mengamati.


Hening sebentar.

Angin sore lewat di antara mereka.

Dan di tengah momen itu, semua orang di sekitar sadar...

kedatangan ayah Petra bukan sekadar kunjungan biasa,

tapi awal dari perhatian yang lebih besar terhadap apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolah itu.

 

Ayah Petra berdiri beberapa detik di depan mereka, pandangannya masih tenang tapi dalam, seolah sedang menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan.

Lalu ia menghela napas pelan.

“Petra.”

“Ya, Pak.”

Pria itu menoleh sedikit, lalu pandangannya bergeser ke Hanin dan Damian.

Dan untuk pertama kalinya, nada suaranya berubah lebih personal.

“…Kalian berdua tidak tahu ya.”

Hening.

Petra mengernyit kecil.

“Tidak tahu apa?”


Ayah Petra tidak langsung menjawab. Ia justru melirik ke arah kepala sekolah, lalu memberi isyarat kecil.

“Ini sudah saatnya dijelaskan secara internal saja.”

Kepala sekolah mengangguk dan memberi ruang.


Lalu pria itu kembali menatap Hanin.

Sorot matanya lebih lembut sekarang, tapi tetap serius.

“Hanin…”

Gadis itu menoleh, masih tenang.

“Iya?”


Ayah Petra akhirnya berkata:

“Kakekmu adalah kerabat lama kami.”

Kalimat itu membuat udara di sekitar terasa sedikit berubah.

Damian langsung menoleh.

Petra juga ikut menegang sedikit.


Ayah Petra melanjutkan, pelan tapi jelas.

“Dulu saat keluarga kami jatuh, keluarga besar kalian yang membantu kami bangkit.”

Pandangan itu tidak lepas dari Hanin.

“Dan sebagai bentuk kepercayaan… kamu dan Petra dititipkan ke sini untuk sementara waktu.”


Hening.

Bukan hening biasa.

Tapi hening yang menahan banyak hal sekaligus.


Hanin tidak langsung bereaksi besar.

Tapi matanya sedikit mengeras, seperti mencoba menyusun ulang informasi yang baru saja ia dengar.

“…Dititipkan?”

Damian ikut menatap ayah Petra.

“Selama ini?”


Ayah Petra mengangguk pelan.

“Ya. Dan kalian ditempatkan di sini karena sekolah ini adalah salah satu lingkungan paling aman yang bisa kami kontrol.”

Ia berhenti sebentar.

“Tanpa kalian sadari.”


Petra mengepalkan tangan kecil.

“…Gue gak pernah dikasih tahu.”

Ayahnya menatapnya sebentar.

“Karena waktu itu bukan informasi yang perlu kamu bebankan.”


Hanin akhirnya menatap Damian sekilas.

Ekspresinya masih tenang, tapi jelas ada perubahan kecil di dalamnya—bukan kaget berlebihan, lebih seperti baru mengerti potongan besar yang selama ini hilang.


Ayah Petra menutup penjelasannya dengan nada lebih tegas namun hangat:

“Sekarang situasinya berbeda. Kalian sudah cukup dewasa untuk tahu sebagian kebenarannya.”

“Dan karena itu, sekolah ini bukan hanya tempat kalian belajar.”

“Ini bagian dari perlindungan yang sudah lama disiapkan keluarga kalian.”


Angin sore kembali lewat.

Tapi kali ini...

semuanya terasa sedikit lebih berat, sedikit lebih jelas.

Dan Damian, Hanin, serta Petra akhirnya mulai menyadari satu hal:

hidup mereka dari awal memang tidak pernah benar-benar “kebetulan berada di sini”.


Hanin berdiri lebih dulu, lalu Damian mengikuti.

Tidak ada kata panjang.

Hanya gerakan kecil yang terasa lebih formal dari biasanya.

Ayah Petra menatap mereka berdua sebentar, lalu mengangguk pelan, seolah ada sesuatu yang akhirnya “kembali pada tempatnya”.

Hanin mengulurkan tangan.

“Terima kasih sudah menjaga kami selama ini.”

Suaranya tenang, tapi kali ini ada nada yang sedikit lebih hangat.

Ayah Petra menerima salaman itu.

“Sudah tugas kami.”


Damian kemudian ikut maju.

Tatapannya lebih serius, tapi tidak lagi tegang seperti sebelumnya.

“Terima kasih.”

Ayah Petra menatapnya sebentar, lalu menjawab singkat.

“Jangan hanya berterima kasih. Tetap jaga satu sama lain.”

Damian mengangguk.

“Siap.”


Saat tangan mereka terlepas, suasana yang tadinya berat perlahan melunak.

Bukan berubah jadi ringan sepenuhnya...

tapi lebih seperti ketegangan yang akhirnya menemukan bentuk yang bisa dipahami.


Petra yang berdiri tidak jauh hanya diam, memperhatikan semuanya.

Ada sesuatu di wajahnya yang sulit dijelaskan... Campuran antara baru tahu, lega, dan sedikit kesal karena “selama ini tidak diberi tahu”.

Tapi ia tidak memotong momen itu.


Di sekitar lapangan, siswa-siswa yang tadi hanya mengamati dari jauh mulai berbisik pelan.

Bukan gosip liar, lebih ke rasa penasaran yang tertahan.

“Siapa itu sebenarnya…”
“Kenapa kepala sekolah juga ada di sana…”
“Kayaknya bukan orang biasa…”


Kepala sekolah berdiri sedikit di belakang, menjaga sikap formalnya, tapi jelas ikut mengamati interaksi itu dengan hati-hati.


Ayah Petra akhirnya melangkah sedikit mundur.

Sorot matanya kembali netral, tapi kali ini lebih tenang.

“Saya tidak akan mengganggu lagi. Lanjutkan kegiatan kalian.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatap Hanin dan Damian sekali lagi.

“Kalau ada apa-apa, kalian tahu harus ke mana.”


Setelah itu, ia berbalik.

Dan pergi seperti datangnya...

Tenang, tanpa banyak keributan.


Hanin perlahan menghela napas kecil.

Damian berdiri di sebelahnya, lalu menoleh.

“…Lo oke?”

Hanin mengangguk pelan.

“Lebih ngerti sekarang.”


Petra akhirnya berjalan mendekat.

“Gue masih kesel sih gak dikasih tahu dari dulu.”

Damian meliriknya sebentar.

“Tapi sekarang lo tahu.”

Petra mendengus kecil.

“…Iya.”

Tapi untuk pertama kalinya hari itu, ekspresinya sedikit lebih ringan.


Dan di bawah langit sore sekolah itu,

yang tersisa bukan lagi kebingungan...

tapi kesadaran baru bahwa hubungan mereka bertiga ternyata sudah ditata jauh sebelum mereka menyadarinya.

 

Petra tiba-tiba berbalik.

Langkahnya cepat.

Bukan panik, lebih ke keputusan yang sudah ia tahan sejak tadi dan akhirnya tidak bisa lagi disimpan.

“Bokap.”

Suaranya cukup keras untuk membuat ayahnya berhenti.

Ayah Petra menoleh perlahan.

Petra sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya, napasnya sedikit naik karena habis berlari kecil.

“…Saya mau bicara.”


Ayahnya menatapnya sebentar, lalu melirik ke arah kepala sekolah yang masih ada di dekat situ.

Kepala sekolah langsung paham dan memberi isyarat kecil.

“Ruang tamu khusus saja, Pak.”


Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke ruang khusus sekolah—ruangan yang biasa dipakai untuk pembicaraan internal yayasan.

Pintu tertutup.

Klik.


Di dalam, suasana langsung lebih sunyi.

Petra berdiri di depan meja, sementara ayahnya duduk dengan tenang di kursi seberang.

Tidak ada pembukaan panjang.

Petra langsung bicara.

“…Kenapa gue gak pernah dikasih tahu soal Hanin?”

Diam.


Ayahnya tidak langsung menjawab.

Ia menatap Petra cukup lama, seperti memastikan emosi anaknya sudah cukup stabil untuk menerima jawaban.

Lalu ia menghela napas pelan.

“Karena saat itu kamu masih terlalu muda untuk memikul informasi itu.”

Petra langsung menatap tajam.

“Gue bukan anak kecil lagi.”


Ayahnya mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Tapi nadanya tetap tenang.

“Dan justru karena itu sekarang kamu mulai dilibatkan.”


Petra mengepalkan tangan.

“…Jadi selama ini Hanin itu ditaruh di sekolah ini bukan cuma kebetulan?”

Ayahnya menggeleng.

“Bukan kebetulan.”

Ia berhenti sebentar.

“Ini bagian dari kesepakatan lama antara keluargamu dan keluarga Hanin.”


Petra terdiam.

Bukan karena tidak paham.

Tapi karena potongan-potongan yang selama ini terasa “aneh” mulai tersambung.


“Jadi… gue sama Hanin dari awal memang…”

Ayahnya menyela pelan.

“Bukan orang asing.”

Tegas, tapi tidak memaksa.


Petra menunduk sebentar, menarik napas.

“…Kenapa gak pernah bilang?”

Ayahnya menjawab lebih pelan kali ini.

“Karena kami ingin kalian tumbuh tanpa beban sejarah dulu.”

“Dan menilai satu sama lain sebagai manusia, bukan sebagai peran.”


Hening lagi.

Tapi kali ini berbeda.

Bukan hening tegang.

Lebih ke hening yang penuh pemahaman yang baru saja dipaksa lahir.


Petra akhirnya menghela napas panjang.

“…Gue gak suka caranya.”

Ayahnya mengangguk.

“Aku mengerti.”

Petra menatapnya lagi.

“…Tapi sekarang gue gak bisa pura-pura gak tahu lagi.”


Ayahnya berdiri perlahan.

“Dan itu memang tujuannya.”

Ia berjalan melewati Petra, lalu berhenti sebentar di sampingnya.

“Sekarang kamu sudah cukup besar untuk memutuskan sendiri posisi kamu.”


Setelah itu, ia membuka pintu dan keluar.

Meninggalkan Petra di ruang khusus itu sendirian...

dengan semua informasi baru yang baru saja mengubah cara dia melihat Hanin sepenuhnya.


Chapter 18


Ayah Petra berhenti di ambang pintu sebelum benar-benar keluar.

Tangannya masih menyentuh gagang pintu, lalu ia menoleh sedikit ke arah Petra.

Nada suaranya tetap rendah, tapi kali ini lebih serius dari sebelumnya.

Ayah Petra berbicara pelan:

“Dan satu hal lagi yang harus kamu pahami.”

Petra langsung menatap.

“Keluarga Hanin adalah keluarga terhormat.”

Ia berhenti sejenak.

“Di dunia mereka… mereka dikenal sebagai salah satu keluarga mafia terbesar yang disegani banyak orang penting.”

Ruangan itu langsung terasa lebih berat.

Petra tidak langsung bereaksi.

Tapi sorot matanya berubah—bukan kaget sepenuhnya, lebih ke konfirmasi atas hal yang sebenarnya sudah lama ia rasakan tapi tidak pernah diucapkan.

Ayahnya melanjutkan, kali ini lebih tegas:

“Tapi kamu juga harus tahu… semakin besar pengaruh sebuah keluarga, semakin banyak pula musuh yang mengikuti di belakangnya.”

Ia menatap Petra lebih lama.

“Dan Hanin berada di pusat itu sejak awal.”

Hening.

Tidak ada suara tambahan.

Hanya kata-kata itu yang menggantung di udara.

Petra mengepalkan tangannya pelan.

“…Jadi selama ini dia hidup di situasi kayak gitu?”

Ayahnya mengangguk singkat.

“Dan karena itu dia ditempatkan di sini. Untuk perlindungan.”

Petra menunduk sebentar.

Bukan takut.

Tapi seperti baru benar-benar memahami kenapa Hanin selalu terlihat tenang di tengah hal-hal yang tidak normal.

Ayahnya akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.

“Sekarang kamu sudah tahu cukup banyak.”

“Gunakan itu dengan bijak.”

Lalu ia pergi.

Langkahnya menghilang di koridor sekolah.

Dan Petra tetap berdiri di ruang itu, diam cukup lama—

dengan satu kesadaran baru yang tidak bisa ia tarik kembali:

Hanin bukan hanya seseorang yang “kuat”.

Tapi bagian dari dunia yang jauh lebih besar dan berbahaya dari yang ia bayangkan.

 

 

Petra keluar dari ruang khusus dengan langkah pelan.

Berbeda dari biasanya.

Tidak ada ekspresi sinis, tidak ada komentar sarkastik, tidak ada aura santai yang biasa ia bawa.

Hanya tatapan kosong.

Petra berjalan menyusuri koridor sekolah tanpa banyak arah.

Beberapa siswa yang melihatnya langsung merasa ada yang “berbeda”, tapi tidak ada yang berani bertanya.

Suasana koridor terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah semua orang tanpa sadar memberi ruang.

Tidak lama kemudian, geng Petra muncul dari arah belakang.

Reno yang paling duluan melihatnya langsung melambatkan langkah.

“…Ketua?”

Petra tidak langsung menjawab.

Gengnya berhenti beberapa langkah di belakang, saling pandang.

Biasanya Petra yang paling duluan bercanda atau menyuruh mereka berhenti ribut.

Tapi sekarang dia hanya terus berjalan.

Reno akhirnya mendekat sedikit.

“Lo kenapa? Tadi abis ketemu bokap lo kan?”

Masih tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya Petra berhenti.

Pelan.

Lalu menarik napas panjang.

“…Gue baru tau banyak hal.”

Suaranya datar.

Terlalu datar.

Gengnya langsung fokus.

Reno mengernyit.

“Hal apa?”

Petra tidak langsung menjawab.

Matanya sedikit menurun, seperti memproses ulang semua informasi yang baru saja ia terima.

“…Tentang Hanin.”

Nama itu membuat semua langsung diam.

Petra akhirnya menoleh sedikit ke arah mereka.

“Dia bukan cuma siswa biasa.”

Hening.

Reno menelan ludah pelan.

“…Terus?”

Petra menghela napas.

“…Dan kita selama ini cuma lihat permukaannya aja.”

Gengnya saling pandang lagi.

Tidak ada yang bercanda kali ini.

Petra melanjutkan, lebih pelan.

“Gue gak bisa cerita semuanya sekarang.”

“Tapi mulai sekarang… kita harus lebih paham situasi sekitar kita.”

Reno mengangguk kecil, meski masih bingung.

“Siap…”

Petra kembali berjalan.

Kali ini tidak lagi kosong sepenuhnya, tapi jelas—

pikirannya sudah jauh ke tempat lain.

Dan satu hal yang mulai berubah di dalam dirinya adalah cara dia melihat Hanin.

Bukan lagi sekadar teman sekolah.

Tapi seseorang yang berada di tengah dunia yang jauh lebih besar dari yang terlihat.

 

Langkah Petra akhirnya berhenti saat melewati koridor samping yang mengarah ke lapangan basket.

Dari kejauhan terdengar suara bola memantul pelan.

Duk.
Duk.
Duk.

Petra menoleh.

Dan di tengah lapangan yang mulai sepi sore itu—

ada Hanin.

Sendirian.

Hanin masih memakai jersey latihan hitam, rambut terikat seadanya.

Tidak ada teman tim.
Tidak ada pelatih.
Tidak ada keramaian.

Hanya dirinya dan bola basket.

Gerakannya tetap tenang.

Dribble.
Pivot.
Shoot.

Bola masuk bersih ke ring.

Swish.

Petra berdiri diam di pinggir lapangan.

Tatapannya mengikuti Hanin tanpa sadar.

Dan entah kenapa…

semua perkataan ayahnya tadi terus muncul di kepala.

“Keluarga mafia terbesar…”
“Musuhnya banyak…”
“Dia hidup di situasi itu sejak awal…”

Namun yang Petra lihat sekarang justru bukan sosok “menakutkan”.

Bukan juga seseorang yang hidup mewah atau penuh pengawal.

Yang ia lihat cuma Hanin—

cewek yang lagi latihan basket sendirian di sore hari dengan wajah setenang biasanya.

Hanin akhirnya menangkap keberadaan Petra dari sudut matanya.

Ia menghentikan dribble sebentar, lalu menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Dan seperti biasa—

Hanin tidak terlihat canggung.

“Ngapain diem di situ?”

Nada suaranya santai.

Petra melangkah masuk ke area lapangan perlahan.

“…Liatin lo.”

Jawabannya jujur banget sampai Hanin sedikit mengangkat alis.

Petra berhenti beberapa meter darinya.

Masih dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.

Lebih dalam.
Lebih banyak pikiran.

Hanin memegang bola di pinggangnya lalu menatap Petra beberapa detik.

“Kamu kenapa?”

Petra diam sebentar.

Lalu akhirnya menghela napas kecil.

“…Gue baru ngerti ternyata hidup lo ribet banget.”

Hanin tidak langsung menjawab.

Hanya memutar bola basket pelan di tangannya.

Angin sore lewat di antara mereka.

Lapangan kosong.
Langit mulai berubah jingga.

Dan untuk pertama kalinya…

Petra tidak melihat Hanin sebagai seseorang yang “sulit didekati”.

Tapi sebagai seseorang yang sudah terlalu lama menanggung banyak hal sendirian.

 

 

hanya diam beberapa detik setelah mendengar ucapan Petra.

Bola basket masih berputar pelan di ujung jarinya.

Lalu…

sudut bibirnya naik kecil.

Senyum tipis khas Hanin.

Bukan senyum lebar.

Tapi cukup hangat untuk membuat suasana sore itu terasa lebih ringan.

“Namanya juga hidup.”

Jawabannya santai banget.

Seolah semua hal besar yang baru Petra ketahui tadi hanyalah bagian biasa dari harinya.

Petra langsung mengernyit kecil.

“…Lo ngomongnya gampang banget.”

Hanin memantulkan bola sekali ke lantai.

Duk.

“Kalau dipikirin terus juga gak selesai.”

Petra menatap Hanin cukup lama.

Dan makin lama…

dia makin sadar kenapa Hanin selalu terlihat tenang dalam situasi apa pun.

Bukan karena hidupnya mudah.

Tapi mungkin karena dia sudah terlalu terbiasa menghadapi hal-hal berat.

Hanin akhirnya berjalan mendekat sedikit sambil membawa bola basketnya.

“Kamu terlalu banyak mikir.”

Petra terkekeh kecil tanpa sadar.

“…Gara-gara lo.”

“Bukan salah aku.”

Nada Hanin tetap santai.

Beberapa detik mereka hanya berdiri diam di tengah lapangan yang mulai kosong.

Lalu Hanin melempar bola pelan ke arah Petra.

“Nih.”

Petra refleks menangkapnya.

“Mau main?”

Dan entah kenapa…

kalimat sederhana itu langsung menghapus sebagian berat di kepala Petra.

Karena di tengah semua rahasia besar dan dunia rumit di belakang Hanin—

gadis itu tetap Hanin yang sama di depan dirinya sekarang.

 

 

Lapangan basket sore itu yang tadinya hampir kosong mendadak kembali hidup.

Bukan karena pertandingan besar.

Bukan juga karena latihan resmi.

Tapi karena dua orang yang sekarang ada di tengah lapangan:

Hanin dan Petra.

Awalnya cuma lempar-lempar bola santai.

Tapi lama-lama berubah jadi adu skill kecil.

Hanin bergerak cepat melewati Petra.
Petra balas blocking sambil ketawa kecil.
Sesekali mereka saling sindir ringan.

Dan untuk pertama kalinya…

Petra terlihat benar-benar menikmati sesuatu tanpa aura rusuh khasnya.

Di pinggir lapangan—

geng Petra sudah heboh luar biasa.

Reno sampai berdiri di tribun sambil memegang kepala.

“GUE MERASA LIAT DRAMA ROMANCE SPORTS 😭

“ANJIR MEREKA COCOK BANGET.”

“PETRA KETAWA MULU WOY.”

Satu tribun langsung ribut sendiri.

Petra yang dengar langsung menoleh tajam.

“DIEM GAK SIH LO SEMUA.”

Namun justru itu membuat mereka makin heboh.

Karena jelas banget—

mood Petra berubah drastis kalau lagi sama Hanin.

Di sisi lain lapangan, Damian datang bersama gengnya sambil membawa minuman dingin.

Cowok itu berhenti beberapa langkah lalu memperhatikan lapangan.

Dan beberapa detik kemudian…

ia terkekeh kecil sendiri.

Temannya langsung melirik.

“Kenapa?”

Damian mengangguk kecil ke arah lapangan.

“Liat tuh.”

Di tengah lapangan, Hanin baru saja berhasil merebut bola dari Petra lalu melakukan lay-up bersih.

Swish.

Petra langsung mendecakkan lidah kecil.

“Curang.”

Hanin tersenyum tipis.

“Kamu lambat.”

“Anjir.”

Damian hanya menggeleng kecil melihat itu.

Dan entah kenapa…

untuk pertama kalinya sejak semua masalah besar muncul,

ia bisa melihat Hanin terlihat benar-benar santai lagi.

Bukan Hanin yang dijaga.
Bukan Hanin yang jadi target.
Bukan Hanin yang harus waspada terus.

Cuma Hanin—

cewek yang lagi main basket sore bareng orang yang dia nyamanin.

Angin sore lewat pelan.

Langit mulai berubah jingga.

Dan di tengah lapangan itu…

semua keributan besar dunia mereka terasa sedikit menjauh untuk sementara waktu.

 

 

Langit sore perlahan berubah gelap.

Lampu lapangan basket mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di lantai lapangan yang mulai sepi.

Hanin dan Petra akhirnya berhenti bermain setelah hampir satu jam lebih menghabiskan waktu di lapangan.

Napas mereka sedikit berat, keringat tipis terlihat jelas, tapi suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

Petra memegang bola basket sambil menghela napas.

“…Lo stamina-nya gak manusiawi.”

Hanin mengambil handuk kecil dari bangku pinggir lapangan.

“Kamu aja yang kurang latihan.”

Petra langsung tertawa kecil.

“Mulai lagi.”

Di pinggir lapangan, geng Petra masih ribut sendiri membahas pertandingan kecil mereka tadi.

Sementara Damian sudah berdiri dekat bangku sambil membawa tas Hanin di satu tangan dan minuman dingin di tangan lain.

Begitu Hanin mendekat, Damian langsung menyerahkan botol minum.

“Minum dulu.”

Hanin menerimanya santai lalu minum beberapa teguk.

Damian memperhatikan wajah adiknya sebentar.

“Kecapekan gak?”

“Enggak.”

Jawabannya otomatis banget sampai Damian langsung menyipitkan mata.

“Hanin.”

Gadis itu menghela napas kecil pasrah.

“…Sedikit.”

“Nah.”

Damian membuka tas Hanin lalu mengeluarkan kotak obat kecil.

Gerakannya sudah terlalu terbiasa.

“Obat.”

Petra yang berdiri tidak jauh langsung diam memperhatikan.

Dan seperti biasa…

ia masih belum terbiasa melihat sisi rapuh Hanin yang hanya terlihat di depan keluarganya.

Hanin mengambil obat itu tanpa protes.

“Udah minum tadi siang belum?”

“Belum lupa.”

Damian langsung menatap datar.

“Hanin.”

“Aku minum sekarang ini.”

Geng Petra yang melihat interaksi itu langsung otomatis lebih diam.

Karena mereka semua tahu—

momen seperti ini bukan sesuatu yang main-main.

Setelah memastikan Hanin benar-benar minum obatnya, Damian akhirnya sedikit lebih tenang.

“Oke.”

Lalu ia menyerahkan tas Hanin.

“Pulang?”

Hanin mengangguk kecil.

Petra berdiri beberapa langkah dari mereka, memperhatikan Hanin yang kini terlihat jauh lebih tenang setelah duduk sebentar di bangku lapangan.

Dan di tengah suasana malam yang mulai turun itu…

Petra sadar satu hal:

di balik semua kekuatan Hanin,

ada Damian dan keluarganya yang selalu memastikan Hanin tetap baik-baik saja setiap hari.

 

 

Saat mereka semua berjalan menuju area parkiran sekolah, suasana sudah jauh lebih tenang.

Sebagian besar siswa sudah pulang.
Lampu taman sekolah mulai menyala.
Udara malam terasa lebih dingin.

Di kejauhan, SUV hitam pengawal Hanin dan Damian sudah terlihat terparkir seperti biasa.

Namun begitu mendekat…

Hanin langsung berhenti sebentar.

Lalu menatap datar ke arah pos satpam.

Di sana—

dua bodyguard mereka justru sedang duduk santai bersama satpam sekolah.

Main kartu.

Dan lebih parahnya lagi…

mereka terlihat terlalu serius.

“ANJIR TURUN KING 😭

“Eh eh jangan curang.”

“Mana curang orang gue jujur.”

Damian langsung menutup wajah sebentar sambil menghela napas panjang.

“…Ya Tuhan.”

Petra dan gengnya yang melihat langsung bengong.

“Hah?”

Salah satu satpam sekolah akhirnya sadar Hanin dan Damian sudah berdiri di depan pos.

Cowok paruh baya itu langsung terkekeh kecil sambil buru-buru menyimpan kartu.

“Eh non muda.”

Salah satu bodyguard ikut menoleh lalu langsung salah tingkah kecil.

“Ah… udah selesai sekolahnya?”

Hanin melipat tangan sambil menatap datar.

“Kalian kerja apa ronda gaple?”

Seketika satu pos satpam langsung ketawa.

Dan gongnya—

ternyata satpam sekolah itu dulunya memang berasal dari yayasan pengawalan yang sama dengan bodyguard keluarga Hanin.

Mereka pernah berada di organisasi pengamanan yang sama bertahun-tahun lalu.

Jadi begitu ketemu…

langsung akrab seperti reuni bapak-bapak veteran.

Damian sampai geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil.

“Pantes dari tadi gak keliatan.”

Bodyguard yang satu lagi langsung membela diri.

“Kami ngawasin kok.”

Satpam sekolah ikut nimbrung santai.

“Sekalian nostalgia dikit.”

Petra dan gengnya cuma bisa bengong melihat situasi absurd itu.

Reno bahkan sampai berbisik pelan,

“Gue kira bodyguard tuh selalu berdiri keren pake headset…”

Petra langsung nyengir kecil.

“…Ternyata main kartu.”

Hanin akhirnya menghela napas kecil pasrah.

Namun sudut bibirnya tetap naik tipis.

Karena jujur saja—

ini pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir dia melihat suasana pengawalan terasa normal dan lucu.

Damian membuka pintu SUV sambil masih terkekeh kecil.

“Ayo pulang sebelum mereka mulai taruhan motor.”

 

 

Ucapan Damian tadi langsung membuat kedua bodyguard dan satpam sekolah tertawa kecil.

“Taruhan motor katanya 😭

“Wah jangan, nanti kalah sama anak muda.”

Suasana di depan pos satpam sempat terasa sangat santai.

Namun begitu Hanin dan Damian mulai berjalan menuju SUV—

kedua bodyguard itu langsung otomatis berubah mode.

Satu berdiri lebih dulu membuka pintu mobil.
Satu lagi langsung menyapu area sekitar dengan tatapan tajam.

Perubahannya cepat sekali.

Dari bapak-bapak main kartu…

jadi sosok pengawal profesional dalam hitungan detik.

Petra yang memperhatikan dari jauh sampai menyipitkan mata kecil.

“…Cepet juga berubahnya.”

Damian mendengar itu lalu tersenyum tipis.

“Mereka emang begitu.”

Kedua bodyguard itu bukan orang baru dalam hidup keluarga Hanin.

Mereka sudah bekerja bersama keluarga itu sejak Hanin masih kecil.

Sudah melihat Hanin tumbuh.
Sudah menjaga rumah utama bertahun-tahun.
Dan sudah berkali-kali menghadapi situasi berbahaya bersama keluarga mereka.

Jadi meski suasananya santai…

hubungan mereka sudah lebih seperti keluarga sendiri.

Salah satu bodyguard bahkan sempat menepuk kepala Hanin pelan waktu dia kecil dulu.

Dan sampai sekarang masih sering memanggilnya:

“non muda.”

Namun di balik sikap santai itu…

semua orang yang benar-benar mengenal mereka tahu satu hal:

mereka sangat berbahaya kalau situasi berubah serius.

Mereka bukan sekadar pengawal biasa.

Setiap orang dalam tim keamanan keluarga Hanin punya kemampuan masing-masing.

Ada yang ahli strategi lapangan.
Ada yang spesialis senjata.
Ada yang fokus pengawalan jarak dekat.
Ada juga yang terkenal karena kemampuan bela dirinya yang brutal.

Dan semuanya punya satu tujuan yang sama:

melindungi keluarga Hanin apa pun yang terjadi.

Hanin masuk ke dalam mobil lebih dulu, diikuti Damian.

Sementara salah satu bodyguard menutup pintu lalu menoleh sebentar ke arah Petra dan gengnya.

“Pulang juga kalian. Jangan keluyuran.”

Reno langsung refleks jawab sopan.

“Siap om.”

Petra sampai melirik heran.

“Tumben sopan.”

“Takut gue.”

Satu geng langsung ketawa.

Mesin SUV akhirnya menyala.

Dan sebelum mobil bergerak, Hanin sempat membuka kaca sedikit lalu menoleh ke arah Petra.

“Hati-hati di jalan.”

Petra otomatis mengangguk kecil.

“…Lo juga.”

SUV hitam itu akhirnya pergi meninggalkan area sekolah.

Lampu belakangnya perlahan menghilang di jalan malam.

Dan Petra masih berdiri beberapa detik memperhatikan arah mobil itu pergi—

dengan perasaan yang makin sulit dijelaskan.

Chapter 18 berakhir

✦ ✧ ✦

To Be Continued...

✦✧✦
✦✧✦


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Waktu yang Salah, Kita Pernah Saling Memiliki

Langit untuk Hanin