Di Waktu yang Salah, Kita Pernah Saling Memiliki


 

Malam yang Bertanya tentang Cinta


Malam ini sunyi, tapi kepalaku riuh.

Di antara detik jam yang berdetak pelan, aku merasakan sesuatu yang seharusnya tak pernah aku harapkan. Sebuah keinginan sederhana, tapi terasa begitu mustahil: "bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang benar-benar dicintai seutuhnya?"

Bukan sekadar ditemani.
Bukan sekadar dibutuhkan.

Tapi dicintai.

Wanita yang diperlakukan selayaknya wanita. Disayangi, dicukupi, dihargai. Bahkan… diratukan.

Aku tahu ini terdengar konyol. Terlalu berlebihan, mungkin. Tapi salahkah jika aku ingin merasakan bagaimana rasanya dipilih tanpa ragu? Diprioritaskan tanpa diminta? Diperjuangkan tanpa harus membuktikan diri berkali-kali?

Kamu tahu wanita yang begitu diratukan oleh pria yang dicintainya?

Wanita yang matanya berbinar hanya karena satu pesan singkat.
Wanita yang tak perlu meminta perhatian, karena perhatian itu datang dengan sendirinya.
Wanita yang tidak perlu membandingkan, karena ia sudah merasa cukup.

Aku pernah melihatnya. Dengan mataku sendiri.

Aku melihat seorang wanita digandeng dengan bangga.
Aku melihat seorang wanita dipeluk saat ia lelah.
Aku melihat seorang wanita dibela saat ia disalahkan.

Dan setiap kali melihat itu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri

Apakah cinta itu benar-benar ada?

Karena sejauh ini aku berusaha merasakannya. Aku mencoba. Berkali-kali. Meyakinkan diri bahwa ini cinta. Bahwa rasa sakit itu bagian dari cinta. Bahwa lelah itu wajar dalam cinta. Bahwa air mata itu bukti cinta.

Tapi mengapa yang kurasakan hanya kosong?

Katanya cinta itu pengorbanan.

Tapi pengorbanan yang kurasakan hanya menyakitkan.
Jika cinta itu ketulusan, mengapa aku selalu dibandingkan?
Jika cinta itu saling memahami, mengapa harus ada isyarat yang tak pernah jelas?

Mengapa sederhana yang katanya mudah, terasa begitu rumit untuk dimengerti?

Aku sering bertanya, apakah aku terlalu banyak berharap?
Atau justru aku yang tidak bersyukur?

Mungkinkah hatiku terlalu dingin?
Terlalu lama membeku hingga tak lagi bisa merasakan hangat?

Aku mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Namun tetap saja kosong. Hampa. Seperti menunggu hujan di musim kemarau.

Aku harus bagaimana?

Katanya kita hanya perlu menerima.
Katanya waktu akan menjawab.
Katanya biarkan takdir bekerja.

Takdir…

Apakah kita bisa melawan takdir?
Ataukah memang sudah tertulis bahwa aku tak layak mendapatkan cinta yang sesungguhnya?

Aku selalu berusaha. Menerima. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku bahagia. Bahwa aku mampu. Bahwa aku layak.

Tapi mengapa keyakinan itu tak pernah benar-benar menetap?

Katanya aku suka membandingkan hidupku dengan orang lain.

Salahkah?

Mungkin salah.
Mungkin juga tidak ada yang perlu disalahkan.

Tapi bagaimana mungkin aku tidak membandingkan, ketika mataku pernah melihat bagaimana seorang wanita dicintai sepenuh hati?

Sedangkan yang sering kudengar hanya...

“Beresin.”
“Bersihin.”
“Cuciin.”
“Setrikain.”
“Jemurin.”
“Beliin.”
“Masakin.”

Dan ketika aku lelah

“Beli aja sendiri.”
“Pergi aja sendiri.”
“Gitu aja sakit.”
“Baru segitu udah cape.”
“Males banget.”
“Mager banget.”
“Gak rajin.”
“Males.”

Kata-kata itu seperti hujan kecil yang turun setiap hari. Tidak deras. Tidak badai. Tapi cukup untuk membuat tanah di dalam hatiku becek dan dingin.

Aku mencoba memaafkan. Mencoba melupakan. Berkali-kali.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin bertanya apakah cinta itu ada.

Aku ingin bertanya...

Apakah aku cukup berani untuk mencintai diriku sendiri?

Mungkin selama ini aku mencari seseorang yang meratukanku, padahal aku sendiri belum pernah memposisikan diriku sebagai ratu dalam hidupku.

Bagaimana mungkin aku meminta dihargai, jika aku sendiri masih menerima perlakuan yang membuatku merasa kecil?

Bagaimana mungkin aku ingin dicintai sepenuhnya, jika aku masih menganggap diriku pantas menerima setengah-setengah?

Malam ini aku sadar, mungkin bukan cinta yang tidak nyata.

Mungkin aku hanya berada di tempat yang salah.

Mungkin aku belum menemukan seseorang yang melihatku bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai pembantu, bukan sebagai pelengkap...

Tapi sebagai rumah.

Dan jika takdir belum memberikannya sekarang, mungkin tugasku bukan menunggu.

Tugasku adalah menjaga hatiku tetap hangat.
Belajar mencintai diri sendiri tanpa syarat.
Berhenti menerima kata-kata yang melukai sebagai hal yang wajar.

Karena jika cinta itu benar ada, maka ia tidak akan membuatku merasa kosong.

Ia akan membuatku merasa pulang.

Dan untuk pertama kalinya malam ini, aku berhenti bertanya apakah aku pantas dicintai.

Aku mulai bertanya...

Apakah orang lain pantas mendapatkan hatiku?


“Kalau Ini Cinta, Kenapa Sakitnya Seperti Ini?”


"Aku capek!" Ucap Hanin

"Capek apalagi? Kamu kan cuma di rumah." Tanya Alendra

(suaraku mulai bergetar) “Cuma di rumah”? Itu yang kamu lihat?

"Loh salah apa lagi sekarang?" Tanya Alendra.

"Salahku mungkin berharap diperlakukan seperti wanita yang kamu cintai!" Jelas Hanin

"Kamu lebay."

( Aku meledak)
"Lebay?!
Aku cuma ingin dipeluk saat aku lelah!
Aku cuma ingin didengar tanpa dianggap mengeluh!"

"Aku kerja tiap hari buat kamu!"

"Dan aku apa? Robot?
“Beresin.”
“Bersihin.”
“Cuciin.”
“Setrikain.”
“Masakin.”

Itu yang setiap hari aku dengar!" Jelas Hanin dengan nada emosi.

"Ya itu kan kewajiban kamu." Alendra dengan nada tinggi.

( Mataku berkaca-kaca)
"Kewajiban?
Lalu aku ini siapa buat kamu?
Istri? Pasangan?
Atau cuma orang yang harus selalu siap tanpa boleh lelah?"

"Kamu terlalu banyak nonton kehidupan orang lain." Pandangan Alendra menintimidasi Hanin.

"Iya! Karena aku pernah lihat wanita dipeluk saat dia nangis!
Aku pernah lihat wanita dibela saat dia disalahkan!
Aku pernah lihat wanita dihargai!

Kenapa aku nggak pernah merasakannya?!" Nada Hanin dengan sedikit emosi.


"Kamu kurang bersyukur!" Alendra membentak Hanin

(Aku tertawa pahit)
"Bersyukur atas apa?
Atas “Gitu aja sakit?”
Atas “Baru segitu udah cape?”
Atas “Males banget sih kamu”?

Itu cinta?" Tanya Hanin dengan mata berkaca kaca.

(Alendra diam sesaat)

"Kamu jadi orang kok gampang banget sakit hati."

(Suaraku meninggi)
"Karena aku manusia! Aku punya hati!
Hati yang tiap hari kamu buat merasa kecil!"

"Aku nggak pernah maksud begitu." Suara Alendra merendah.

"Tapi kamu tetap melakukannya!"

(hening beberapa detik, napas berat terdengar)

(Nadaku lebih pelan tapi penuh amarah)
"Katanya cinta itu pengorbanan.
Kenapa pengorbananku cuma jadi kewajiban?
Katanya cinta itu ketulusan.
Kenapa semuanya selalu dibandingkan?
Katanya cinta itu saling memahami.
Kenapa aku harus terus memberi isyarat kalau aku lelah?"

"Jadi sekarang kamu anggap aku nggak cinta kamu?" Alendra mengerutkan dahinya.

(Air mataku jatuh)
"Aku nggak tahu!
Aku benar-benar nggak tahu!

Kalau ini cinta…
Kenapa aku merasa kosong?
Kenapa aku merasa sendirian bahkan saat kamu ada?"

"Kamu yang terlalu banyak berharap." Alendra mengabaikan perkataan Hanin.

"Salahkah aku berharap diratukan oleh pria yang aku cintai?
Salahkah aku ingin diperlakukan dengan lembut?
Salahkah aku ingin merasa cukup?"

(suasana makin panas, emosi tak terbendung)

( Aku menangis tapi tetap tegas)
"Aku sudah berusaha meyakinkan diri kalau aku bahagia.
Aku sudah berusaha menerima.
Aku sudah berusaha bersyukur.

Tapi kenapa rasanya seperti aku membohongi diri sendiri?"

( Suara Alendra lebih rendah):
"Kamu mau apa sebenarnya?"

( Aku menatapnya tajam)
"Aku mau dicintai.
Bukan dimanfaatkan.
Aku mau dihargai.
Bukan dianggap kewajiban.
Aku mau dipilih.
Bukan hanya ditahan karena sudah terbiasa."

(hening panjang)

( Suaraku hampir berbisik)
"Atau mungkin…
Memang aku yang nggak layak?"

"Jangan ngomong begitu." Alendra meraih tangan Hanin.

(Aku menangis terisak)
"Kalau aku layak…
Kenapa rasanya seperti ini?"


“Terlambat untuk Disadari”


( Aku teriak, suaraku pecah)
"Aku nggak minta kamu sempurna!
Aku cuma minta diperlakukan seperti seseorang yang kamu cintai!"

"Aku kerja tiap hari! Kurang apa lagi?!" Alendra tersulut emosi.

"Kurang hatimu!" Tegas Hanin.

(ruangan hening. Kata-kata itu seperti tamparan.)

( Aku menangis tanpa suara )
"Kamu tahu rasanya hidup berdampingan tapi merasa sendirian?
Kamu tahu rasanya setiap hari berusaha kuat, tapi yang didapat cuma “males banget sih kamu”?"

(Nada Alendra mulai goyah)
"Aku… nggak pernah sadar kamu sesakit ini."

"Karena kamu nggak pernah mau dengar." Hanin terhuyung memeluk lututnya.

(hening panjang. Dia menatapku, untuk pertama kalinya benar-benar melihat.)

( Suara Alendra pelan)
"Aku pikir kamu baik-baik saja.
Aku pikir kamu kuat."

( Akui tertawa pahit)
"Aku kuat karena nggak ada yang menopang."

( Alenda kemudian mendekat, suara pecah)
"Maaf…
Aku terlalu sibuk merasa lelah sendiri sampai lupa kamu juga manusia."

"Maaf nggak bisa menghapus semua malam yang aku lewati sendirian." Hanin masih terisak.

"Aku cinta kamu." Akhirnya kata-kata itu seketika terucap dari bibir Alendra.

(aku terdiam)

"Cinta?
Kalau itu cinta… kenapa aku lebih sering menangis daripada tersenyum?"

(Air mata Alendra terjatuh)
"Aku bodoh.
Aku pikir menyediakan itu cukup.
Aku lupa memelukmu.
Aku lupa memujimu.
Aku lupa membuatmu merasa dipilih."

"Bukan lupa.
Kamu terbiasa." Hanin dengan nada dingin.

(kata itu membuatnya menunduk)

"Kasih aku kesempatan.
Aku akan berubah.
Aku akan belajar." Alendra memohon dan meraih tangan Hanin.

(sunyi. Napasku berat. Hati ini bergetar... karena ini pertama kalinya dia benar-benar menyesal.)

( Suara Hanin pelan, sangat pelan)
"Aku sudah memberi banyak kesempatan…
Sampai aku kehilangan diriku sendiri."

"Jangan pergi…
Aku bisa memperbaikinya." Alendra berlutut dan memohon.

( Aku menatapnya, air mata jatuh tanpa suara)
"Masalahnya bukan kamu nggak bisa berubah.
Masalahnya… aku sudah terlalu lelah untuk menunggu."

(hening. Tangis tertahan.)

"Kamu serius?" Alendra panik.

"Untuk pertama kalinya… aku ingin memilih diriku sendiri." Jelas Hanin dan berusaha menghempaskan genggaman Alendra.

(dia menggenggam tanganku erat)

"Aku nggak siap kehilangan kamu." Alendra memohon.

"Aku juga nggak siap kehilangan diriku sendiri lagi."

(aku melepaskan genggamannya perlahan.)

"Aku pernah bertanya apakah aku layak dicintai.
Sekarang aku tahu jawabannya.
Aku layak!!

Hanya saja… mungkin bukan di sini." Menatap Alendra dingin.

(dia terdiam, wajahnya runtuh oleh penyesalan yang terlambat.)

( Alendra berbisik suaranya pelan )
"Aku baru sadar betapa berharganya kamu… saat kamu memilih pergi."

(Air mata terakhirku jatuh)
"Dan aku baru sadar… betapa berharganya diriku… saat aku berani meninggalkan yang menyakitiku."

Aku melangkah pergi.
Bukan karena aku tidak cinta.
Tapi karena untuk pertama kalinya… aku mencintai diriku lebih dulu.

Dan di belakangku, terdengar suara tangis yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tapi kali ini, aku tidak menoleh.


“Saat Kamu Akhirnya Belajar Mencintaiku”


Hujan turun malam itu.

Bukan deras, hanya rintik kecil yang jatuh pelan di kaca jendela, seperti perasaan yang lama dipendam, akhirnya menemukan jalan keluar.

Aku sudah berdiri di depan pintu dengan koper kecil di samping kaki.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.

Hanya lelah yang terlalu lama tinggal.

"Kamu… benar-benar mau pergi?" Alendra memastikan Hanin bisa berubah fikiran.


Aku tidak langsung menjawab. Suaraku terasa terlalu berat untuk keluar.


"Aku sudah terlalu lama tinggal… tanpa benar-benar ada." Jelas Hanin memunggungi Alendra.

"Aku bisa berubah." Alendra menjawab dengan keyakinan penuh.

Aku tersenyum tipis. Kalimat itu… akhirnya datang. Kalimat yang dulu begitu ingin kudengar. Tapi anehnya, sekarang tidak lagi terasa menyelamatkan.


"Aku tahu." Jelas Hanin

( Alendra panik)
"Tidak, kali ini serius. Aku sadar semuanya. Aku sadar aku salah. Aku sadar aku terlalu sering menyuruh, terlalu jarang bertanya kamu capek atau tidak."

Alendra berjalan cepat ke dapur, menunjukkan sesuatu.

Meja itu rapi. Piring sudah dicuci. Rumah bersih.

Hal-hal kecil yang dulu selalu menjadi tugasku.


Alendra menarik tangan Hanin, "Lihat… aku belajar. Aku bangun pagi tadi, aku bereskan semuanya. Aku masak… walau rasanya mungkin aneh."

Tangannya gemetar.

"Aku baru sadar… selama ini kamu melakukan semua ini sendirian." Alendra tertunduk.

Hatiku bergetar. Karena ini nyata. Karena akhirnya dia melihat.

Tapi…

Terlambat.

( Suaraku pelan)
"Dulu aku tidak butuh rumah yang rapi.
Aku cuma butuh kamu berkata, “kamu capek ya?”."

Dia terdiam. Air matanya jatuh.

"Aku bodoh… aku kira kamu akan selalu ada." Air mata deras membasahi pipi Alendra.

"Aku juga dulu berpikir aku akan selalu kuat." Hanin melangkah pergi menjauh dari Alendra.

(hening panjang)

(Suara Alendra pecah)
"Aku sudah berubah… kenapa kamu tetap pergi?"

Aku menatapnya lama. Wajah yang dulu selalu kucari perhatiannya.

"Karena perubahanmu datang… setelah hatiku selesai menunggu." Jelas Hanin.


Kalimat itu membuatnya runtuh. Ia duduk perlahan di lantai, seperti kehilangan pijakan.


"Aku baru belajar mencintaimu dengan benar…" Suara Alendra berbisik pelan.

(Air mataku jatuh)
"Dan aku baru belajar mencintai diriku sendiri."

Dia meraih tanganku, menggenggam erat seperti takut waktu benar-benar habis.

"Kasih aku satu kesempatan lagi… aku janji akan memelukmu setiap kamu lelah." Alendra Memohon.


Aku hampir goyah.

Hampir.

Karena itulah yang selalu kuimpikan. Namun di dalam dada, tidak ada lagi harapan yang dulu menyala. Hanya tenang… kosong… selesai.

"Aku percaya kamu akan jadi pria yang lebih baik." Ucap Hanin dengan nada lembut.

(Alendra berharap Hanin mengurungkan niatnya)
"Berarti kamu mau tinggal?"

Aku menggeleng pelan.

"Tapi mungkin… bukan untukku."

Tangisnya pecah. Kali ini tanpa ditahan.

"Jangan tinggalkan aku di saat aku akhirnya mengerti caranya mencintaimu…" Nada Alendra memohon.

Aku menutup mata sebentar, menahan sesak yang hampir membuatku mundur.

"Aku tidak meninggalkanmu.
Aku hanya berhenti menyakiti diriku sendiri." Nada Hanin pelan.


Aku mengambil koperku.

Langkahku pelan menuju pintu.

Di belakangku, suaranya terdengar hancur.


"Aku akan menunggumu… sampai kapan pun." Alendra berbisik.


Aku berhenti sejenak.

Tanpa menoleh, aku berkata...

"Semoga suatu hari nanti… kamu menemukan seseorang yang merasakan cinta darimu sejak awal.
Bukan setelah hatinya habis bertahan."

Pintu terbuka.

Udara dingin malam menyambutku.

Dan untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena disakiti...

tapi karena sebuah cinta akhirnya datang… tepat saat aku sudah tidak bisa lagi tinggal.

Di dalam rumah itu, seorang pria belajar mencintai.

Di luar rumah itu, seorang wanita akhirnya belajar melepaskan.

Dan keduanya sadar...

Cinta memang ada.

Hanya saja… waktu mereka tidak pernah sama.


“Di Waktu yang Salah, Kita Pernah Saling Memiliki”


Tujuh tahun berlalu.

Hidup membawaku ke kota lain. Ke rumah kecil yang hangat. Ke seseorang yang mencintaiku dengan cara yang dulu selalu kuimpikan... tenang, konsisten, tanpa membuatku merasa kecil.

Aku belajar lagi tertawa.
Belajar lagi dipeluk tanpa diminta.
Belajar bahwa cinta tidak seharusnya terasa seperti bertahan hidup.

Hari itu aku kembali ke kota lama, menghadiri pernikahan seorang teman.

Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya di sana.

Dia berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan rapi, wajahnya lebih dewasa, sorot matanya… berbeda.

Tenang.

Saat mata kami bertemu, waktu seperti menarik napas panjang.

Ia tersenyum lebih dulu.

Senyum yang dulu selalu kutunggu.


"Hai… kamu kelihatan bahagia." Sapa Alendra


Suara itu masih sama. Hanya kini lebih lembut.


( Aku tersenyum tipis)
"Aku baik."

Ia mengangguk pelan, seperti sedang memastikan sesuatu dalam hatinya sendiri.

"Aku dengar kamu sudah menikah."

Aku mengangguk.

"Iya."

Ia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang tulus… tapi ada sesuatu yang bergetar di ujungnya.


"Aku senang."

Dan untuk pertama kalinya… aku percaya dia benar-benar tulus mengatakan itu.

Kami duduk berhadapan di meja kecil. Tidak canggung. Tidak marah. Hanya dua orang dewasa yang membawa masa lalu di dalam dada masing-masing.

"Aku banyak belajar setelah kamu pergi." Alendra tersenyum.

Aku terdiam.

(Suara Alendra pelan)
"Awalnya aku marah. Merasa ditinggalkan.
Tapi lama-lama aku sadar… kamu nggak pernah pergi tanpa alasan."

Ia tertawa kecil, pahit.

"Aku baca ulang pesan-pesan lama kamu.
Tentang kamu capek.
Tentang kamu ingin dipeluk.
Tentang kamu cuma ingin didengar."

Mataku mulai panas.

"Aku baru ngerti… betapa kerasnya kamu berusaha sebelum akhirnya memilih pergi." Jelas Alendra.

Hening sejenak.

(Suara Alendra hampir berbisik)
"Sekarang aku nggak pernah bilang “gitu aja capek”.
Aku nggak pernah lagi membiarkan seseorang merasa sendirian di sampingku."

Aku menatapnya.

Ia benar-benar berubah.

Bukan hanya kata-kata. Cara dia berbicara, cara dia mendengar, cara dia menatap semuanya seperti pria yang dulu selalu kubayangkan.

Pria yang dulu selalu kuharapkan muncul lebih cepat.


"Kamu terlihat… berbeda." Tatapan Hanin begitu tenang.

Ia tersenyum kecil.

"Aku jadi pria yang dulu kamu minta."

Kalimat itu pelan. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut.

Hanya fakta.

Hatiku bergetar. Bukan karena ingin kembali. Tapi karena sadar...

Ia benar-benar melakukannya.

Hanya saja… bukan lagi untukku.

"Aku sempat berharap… kalau suatu hari kita ketemu lagi, mungkin aku sudah cukup pantas untukmu." Alendra tersenyum getir.

Aku menelan sesak.

"Kamu pantas.
Kamu sudah jadi pria yang luar biasa."

Ia menunduk sebentar.

"Tapi waktunya sudah lewat, ya?" Alendra bertanya dan mencoba meyakinkan hatinya.

Aku mengangguk pelan.

Tidak ada tangis. Tidak ada drama. Hanya kenyataan yang diterima dengan dewasa.

Di kejauhan, suamiku melambaikan tangan, tersenyum hangat ke arahku.


Dia mengikuti arah pandangku.

"Dia terlihat sangat mencintaimu." Alendra melihat suami Hanin dari kejauhan.

Aku tersenyum. Hangat.

"Dia membuatku tidak perlu bertanya apakah aku layak dicintai." Jelas Hanin.

Hening lagi.


Lalu ia berkata pelan, nyaris seperti doa.

"Terima kasih sudah pernah mencintaiku… meski aku belum tahu caranya membalas dengan benar."


Mataku akhirnya basah.

"Terima kasih sudah belajar… walau bukan lagi bersamaku."

Kami berdiri.

Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan yang berlebihan.

Hanya dua hati yang akhirnya berdamai.


Sebelum berbalik pergi, ia berkata...

"Kalau waktu bisa diulang… aku akan memelukmu lebih cepat." Alendra tersenyum menatap Hanin sangat dalam.

Aku tersenyum, air mata jatuh tanpa suara.

"Kalau waktu bisa diulang… mungkin aku akan tetap pergi.
Supaya kamu bisa jadi pria seperti sekarang."

Kami berjalan ke arah yang berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, perpisahan itu tidak menyakitkan.

Karena akhirnya kami tahu...

Kami tidak gagal mencintai.

Kami hanya bertemu… di waktu yang salah.

Dan kadang, cinta terbesar bukan tentang memiliki.

Tapi tentang membiarkan seseorang tumbuh… meski tanpa kita di sisinya.


Dan malam itu aku sadar, ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, hanya untuk mengajarkan kita bagaimana rasanya ingin diperjuangkan… sebelum akhirnya kita belajar memperjuangkan diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TROUBLE BOY vs TAEKWONDO GIRL : love is the hardest fight

Langit untuk Hanin