Di Waktu yang Salah, Kita Pernah Saling Memiliki
Malam yang Bertanya tentang Cinta
Malam ini sunyi, tapi kepalaku riuh.
Di antara detik jam yang berdetak pelan, aku merasakan sesuatu yang seharusnya tak pernah aku harapkan. Sebuah keinginan sederhana, tapi terasa begitu mustahil: "bagaimana rasanya menjadi seorang wanita yang benar-benar dicintai seutuhnya?"
Tapi dicintai.
Wanita yang diperlakukan selayaknya wanita. Disayangi, dicukupi, dihargai. Bahkan… diratukan.
Aku tahu ini terdengar konyol. Terlalu berlebihan, mungkin. Tapi salahkah jika aku ingin merasakan bagaimana rasanya dipilih tanpa ragu? Diprioritaskan tanpa diminta? Diperjuangkan tanpa harus membuktikan diri berkali-kali?
Kamu tahu wanita yang begitu diratukan oleh pria yang dicintainya?
Aku pernah melihatnya. Dengan mataku sendiri.
Dan setiap kali melihat itu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri
Apakah cinta itu benar-benar ada?
Karena sejauh ini aku berusaha merasakannya. Aku mencoba. Berkali-kali. Meyakinkan diri bahwa ini cinta. Bahwa rasa sakit itu bagian dari cinta. Bahwa lelah itu wajar dalam cinta. Bahwa air mata itu bukti cinta.
Tapi mengapa yang kurasakan hanya kosong?
Katanya cinta itu pengorbanan.
Mengapa sederhana yang katanya mudah, terasa begitu rumit untuk dimengerti?
Aku mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Namun tetap saja kosong. Hampa. Seperti menunggu hujan di musim kemarau.
Aku harus bagaimana?
Takdir…
Aku selalu berusaha. Menerima. Meyakinkan diri sendiri bahwa aku bahagia. Bahwa aku mampu. Bahwa aku layak.
Tapi mengapa keyakinan itu tak pernah benar-benar menetap?
Katanya aku suka membandingkan hidupku dengan orang lain.
Salahkah?
Tapi bagaimana mungkin aku tidak membandingkan, ketika mataku pernah melihat bagaimana seorang wanita dicintai sepenuh hati?
Sedangkan yang sering kudengar hanya...
Dan ketika aku lelah
Kata-kata itu seperti hujan kecil yang turun setiap hari. Tidak deras. Tidak badai. Tapi cukup untuk membuat tanah di dalam hatiku becek dan dingin.
Aku mencoba memaafkan. Mencoba melupakan. Berkali-kali.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin bertanya apakah cinta itu ada.
Aku ingin bertanya...
Apakah aku cukup berani untuk mencintai diriku sendiri?
Mungkin selama ini aku mencari seseorang yang meratukanku, padahal aku sendiri belum pernah memposisikan diriku sebagai ratu dalam hidupku.
Bagaimana mungkin aku meminta dihargai, jika aku sendiri masih menerima perlakuan yang membuatku merasa kecil?
Bagaimana mungkin aku ingin dicintai sepenuhnya, jika aku masih menganggap diriku pantas menerima setengah-setengah?
Malam ini aku sadar, mungkin bukan cinta yang tidak nyata.
Mungkin aku hanya berada di tempat yang salah.
Mungkin aku belum menemukan seseorang yang melihatku bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai pembantu, bukan sebagai pelengkap...
Tapi sebagai rumah.
Dan jika takdir belum memberikannya sekarang, mungkin tugasku bukan menunggu.
Karena jika cinta itu benar ada, maka ia tidak akan membuatku merasa kosong.
Ia akan membuatku merasa pulang.
Dan untuk pertama kalinya malam ini, aku berhenti bertanya apakah aku pantas dicintai.
Aku mulai bertanya...
Apakah orang lain pantas mendapatkan hatiku?
“Kalau Ini Cinta, Kenapa Sakitnya Seperti Ini?”
"Aku capek!" Ucap Hanin
"Capek apalagi? Kamu kan cuma di rumah." Tanya Alendra
(suaraku mulai bergetar) “Cuma di rumah”? Itu yang kamu lihat?
"Loh salah apa lagi sekarang?" Tanya Alendra.
"Salahku mungkin berharap diperlakukan seperti wanita yang kamu cintai!" Jelas Hanin
"Kamu lebay."
"Aku kerja tiap hari buat kamu!"
Itu yang setiap hari aku dengar!" Jelas Hanin dengan nada emosi.
"Ya itu kan kewajiban kamu." Alendra dengan nada tinggi.
"Kamu terlalu banyak nonton kehidupan orang lain." Pandangan Alendra menintimidasi Hanin.
Kenapa aku nggak pernah merasakannya?!" Nada Hanin dengan sedikit emosi.
Itu cinta?" Tanya Hanin dengan mata berkaca kaca.
(Alendra diam sesaat)
"Kamu jadi orang kok gampang banget sakit hati."
"Aku nggak pernah maksud begitu." Suara Alendra merendah.
"Tapi kamu tetap melakukannya!"
(hening beberapa detik, napas berat terdengar)
"Jadi sekarang kamu anggap aku nggak cinta kamu?" Alendra mengerutkan dahinya.
"Kamu yang terlalu banyak berharap." Alendra mengabaikan perkataan Hanin.
(suasana makin panas, emosi tak terbendung)
Tapi kenapa rasanya seperti aku membohongi diri sendiri?"
(hening panjang)
"Jangan ngomong begitu." Alendra meraih tangan Hanin.
“Terlambat untuk Disadari”
"Aku kerja tiap hari! Kurang apa lagi?!" Alendra tersulut emosi.
"Kurang hatimu!" Tegas Hanin.
(ruangan hening. Kata-kata itu seperti tamparan.)
"Karena kamu nggak pernah mau dengar." Hanin terhuyung memeluk lututnya.
(hening panjang. Dia menatapku, untuk pertama kalinya benar-benar melihat.)
"Maaf nggak bisa menghapus semua malam yang aku lewati sendirian." Hanin masih terisak.
"Aku cinta kamu." Akhirnya kata-kata itu seketika terucap dari bibir Alendra.
(aku terdiam)
(kata itu membuatnya menunduk)
(sunyi. Napasku berat. Hati ini bergetar... karena ini pertama kalinya dia benar-benar menyesal.)
(hening. Tangis tertahan.)
"Kamu serius?" Alendra panik.
"Untuk pertama kalinya… aku ingin memilih diriku sendiri." Jelas Hanin dan berusaha menghempaskan genggaman Alendra.
(dia menggenggam tanganku erat)
"Aku nggak siap kehilangan kamu." Alendra memohon.
"Aku juga nggak siap kehilangan diriku sendiri lagi."
(aku melepaskan genggamannya perlahan.)
Hanya saja… mungkin bukan di sini." Menatap Alendra dingin.
(dia terdiam, wajahnya runtuh oleh penyesalan yang terlambat.)
Dan di belakangku, terdengar suara tangis yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tapi kali ini, aku tidak menoleh.
“Saat Kamu Akhirnya Belajar Mencintaiku”
Hujan turun malam itu.
Bukan deras, hanya rintik kecil yang jatuh pelan di kaca jendela, seperti perasaan yang lama dipendam, akhirnya menemukan jalan keluar.
Aku sudah berdiri di depan pintu dengan koper kecil di samping kaki.
Hanya lelah yang terlalu lama tinggal.
"Kamu… benar-benar mau pergi?" Alendra memastikan Hanin bisa berubah fikiran.
Aku tidak langsung menjawab. Suaraku terasa terlalu berat untuk keluar.
"Aku sudah terlalu lama tinggal… tanpa benar-benar ada." Jelas Hanin memunggungi Alendra.
"Aku bisa berubah." Alendra menjawab dengan keyakinan penuh.
Aku tersenyum tipis. Kalimat itu… akhirnya datang. Kalimat yang dulu begitu ingin kudengar. Tapi anehnya, sekarang tidak lagi terasa menyelamatkan.
Alendra berjalan cepat ke dapur, menunjukkan sesuatu.
Meja itu rapi. Piring sudah dicuci. Rumah bersih.
Hal-hal kecil yang dulu selalu menjadi tugasku.
Tangannya gemetar.
"Aku baru sadar… selama ini kamu melakukan semua ini sendirian." Alendra tertunduk.
Hatiku bergetar. Karena ini nyata. Karena akhirnya dia melihat.
Tapi…
Terlambat.
Dia terdiam. Air matanya jatuh.
"Aku bodoh… aku kira kamu akan selalu ada." Air mata deras membasahi pipi Alendra.
"Aku juga dulu berpikir aku akan selalu kuat." Hanin melangkah pergi menjauh dari Alendra.
(hening panjang)
Aku menatapnya lama. Wajah yang dulu selalu kucari perhatiannya.
"Karena perubahanmu datang… setelah hatiku selesai menunggu." Jelas Hanin.
Kalimat itu membuatnya runtuh. Ia duduk perlahan di lantai, seperti kehilangan pijakan.
Dia meraih tanganku, menggenggam erat seperti takut waktu benar-benar habis.
"Kasih aku satu kesempatan lagi… aku janji akan memelukmu setiap kamu lelah." Alendra Memohon.
Aku hampir goyah.
Hampir.
Karena itulah yang selalu kuimpikan. Namun di dalam dada, tidak ada lagi harapan yang dulu menyala. Hanya tenang… kosong… selesai.
"Aku percaya kamu akan jadi pria yang lebih baik." Ucap Hanin dengan nada lembut.
Aku menggeleng pelan.
"Tapi mungkin… bukan untukku."
Tangisnya pecah. Kali ini tanpa ditahan.
"Jangan tinggalkan aku di saat aku akhirnya mengerti caranya mencintaimu…" Nada Alendra memohon.
Aku menutup mata sebentar, menahan sesak yang hampir membuatku mundur.
Aku mengambil koperku.
Langkahku pelan menuju pintu.
Di belakangku, suaranya terdengar hancur.
"Aku akan menunggumu… sampai kapan pun." Alendra berbisik.
Aku berhenti sejenak.
Tanpa menoleh, aku berkata...
Pintu terbuka.
Udara dingin malam menyambutku.
Dan untuk pertama kalinya, aku menangis bukan karena disakiti...
tapi karena sebuah cinta akhirnya datang… tepat saat aku sudah tidak bisa lagi tinggal.
Di dalam rumah itu, seorang pria belajar mencintai.
Di luar rumah itu, seorang wanita akhirnya belajar melepaskan.
Dan keduanya sadar...
Cinta memang ada.
Hanya saja… waktu mereka tidak pernah sama.
“Di Waktu yang Salah, Kita Pernah Saling Memiliki”
Tujuh tahun berlalu.
Hidup membawaku ke kota lain. Ke rumah kecil yang hangat. Ke seseorang yang mencintaiku dengan cara yang dulu selalu kuimpikan... tenang, konsisten, tanpa membuatku merasa kecil.
Hari itu aku kembali ke kota lama, menghadiri pernikahan seorang teman.
Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya di sana.
Dia berdiri di sudut ruangan, mengenakan setelan rapi, wajahnya lebih dewasa, sorot matanya… berbeda.
Tenang.
Saat mata kami bertemu, waktu seperti menarik napas panjang.
Ia tersenyum lebih dulu.
Senyum yang dulu selalu kutunggu.
Suara itu masih sama. Hanya kini lebih lembut.
Ia mengangguk pelan, seperti sedang memastikan sesuatu dalam hatinya sendiri.
Aku mengangguk.
Ia tersenyum lagi. Kali ini senyum yang tulus… tapi ada sesuatu yang bergetar di ujungnya.
Dan untuk pertama kalinya… aku percaya dia benar-benar tulus mengatakan itu.
Kami duduk berhadapan di meja kecil. Tidak canggung. Tidak marah. Hanya dua orang dewasa yang membawa masa lalu di dalam dada masing-masing.
Aku terdiam.
Ia tertawa kecil, pahit.
Mataku mulai panas.
Hening sejenak.
Aku menatapnya.
Ia benar-benar berubah.
Bukan hanya kata-kata. Cara dia berbicara, cara dia mendengar, cara dia menatap semuanya seperti pria yang dulu selalu kubayangkan.
Pria yang dulu selalu kuharapkan muncul lebih cepat.
Ia tersenyum kecil.
Kalimat itu pelan. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut.
Hanya fakta.
Hatiku bergetar. Bukan karena ingin kembali. Tapi karena sadar...
Ia benar-benar melakukannya.
Hanya saja… bukan lagi untukku.
Aku menelan sesak.
Ia menunduk sebentar.
Aku mengangguk pelan.
Tidak ada tangis. Tidak ada drama. Hanya kenyataan yang diterima dengan dewasa.
Di kejauhan, suamiku melambaikan tangan, tersenyum hangat ke arahku.
Dia mengikuti arah pandangku.
Aku tersenyum. Hangat.
Hening lagi.
Lalu ia berkata pelan, nyaris seperti doa.
Mataku akhirnya basah.
Kami berdiri.
Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan yang berlebihan.
Hanya dua hati yang akhirnya berdamai.
Sebelum berbalik pergi, ia berkata...
Aku tersenyum, air mata jatuh tanpa suara.
Kami berjalan ke arah yang berbeda.
Dan untuk pertama kalinya, perpisahan itu tidak menyakitkan.
Karena akhirnya kami tahu...
Kami tidak gagal mencintai.
Kami hanya bertemu… di waktu yang salah.
Dan kadang, cinta terbesar bukan tentang memiliki.
Tapi tentang membiarkan seseorang tumbuh… meski tanpa kita di sisinya.

Komentar
Posting Komentar